Menunggu dari Cairo!

Alhamdulillah, sebagian Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria, gunung Sinai, Siwa dan Matrouh telah kami jelajahi. Akan tetapi, Allah memberi kami begitu banyak waktu di negeri ini. Di satu sisi, saya dan Aa begitu senang diberi tambahan waktu ‘illegal‘, namun di sisi lain, hati menjadi tak tenang!

Ketenangan hati adalah salah satu kunci utama keberhasilan perjalanan ‘honeymoon backpacker‘ ini 🙂

Saat ini kami masih memupuk harap, visa Tunis kami segera keluar, di rentang masa menunggu dalam ketidakpastian. Kami mengajukan aplikasi 11 April lalu, sampai blog ini ditulis, terhitung sudah 15 hari kami menunggu dalam ketidakpastian! 😦

Menunggu dan serba tidak pasti itu adalah sepasang kata sifat yang sangat tidak menyenangkan untuk disandingkan bersama-sama, kemudian dikudap dalam waktu yang tidak ditentukan!

Apalagi visa Mesir kami telah berakhir sejak 23 April lalu. Dengan bumbu rasa khawatir, kami mengecek ke KBRI, Alhamdulillah ternyata ada masa tenggang 1 bulan tanpa visa, tapi kami akan dikenai denda di bandara sebesar 150 LE/orang.

Barangkali ada yang bertanya, kenapa tidak memperpanjang visa?

Kami sangat ingin memperpanjang visa Mesir kami di ‘mogamma’ (bagian imigrasi Mesir), akan tetapi paspor kami masih ‘tertahan’ di kedutaan Tunisia, tentu perpanjangan visa kami juga tidak bisa diproses tanpa paspor. Ahad nanti kami akan ke kedutaan Tunis kembali, untuk mengambil sebuah keputusan!

Mona -salah satu petugas konsuler di kedutaan Tunis rajin berujar, “Come back on Thursday, we will see…”

Faktanya sungguh mengesalkan. Hari kamis kemarin adalah hari pembebasan Sinai (dari cengkeraman tentara Israel), tentu saja tanggal Merah di negeri ini! Arrgh! Jum’at Sabtu adalah weekend di sini, serupa Sabtu Ahad di Indonesia! Duh, we have no choice, we have to back not on last Thursday, but Monday or Sunday! 😦

Di sisi lain, saat ini Aa terbaring sakit (sepertinya ketularan virus dari saya). Semula hanya jerawat kecil di atas bibir, lama-kelamaan bibir bagian atas ‘mengembang’, hingga maju sekian senti, Aa bilang, “Sudah kayak Suneo saja, Shizuka masih mencintai Suneo inikah?”

Ah Aa, sedang sakit saja masih bisa bercanda 😀

Kasihan Aa, suhu tubuh kerap meninggi diiringi feeling guilty beliau, “Sakitku memaksa kita menghentikan backpack untuk sementara waktu. Maafkan aku ya, Sayang.”

“Aa gak boleh bicara seperti itu. Kemarin aku sakit mulai 17 April lalu, hampir seminggu kemudian baru sembuh. Aa telaten dan sabar merawatku, hiks… Sekarang ‘giliran’ Aa yang sakit, insyaAllah Aa akan segera sembuh, asal minum obat teratur, istirahat yang cukup dan tidak memikirkan hal-hal negatif segala rupa!” Aa kupeluk.

Kami saling memeluk.
Jauh di negeri orang, diuji beberapa hal sekaligus dan bergantian sakit, sungguh mendekatkan kami sedekat-dekatnya. Honeymoon backpacking ini terasa begitu komplit dan ‘sempurna’ dalam ketidaksempurnaan.

Bukankah ketulusan dan cinta sejati bisa dirasakan dalam situasi paling tidak menyenangkan bagi sepasang jiwa?

Begitu banyak yang Aa korbankan hingga kami bisa memulai ‘Honeymoon Backpacker‘ ini. Alangkah naifnya jika hanya karena sakit beberapa masa dan masalah visa Tunis yang tak jelas kapan selesainya ini kemudian membuat semangat kami berdua melemah dan terbetik pikiran untuk menyerah, kembali ke tanah air saja?

Aku kasihan melihat Aa yang lemah.
Saat ini berbaring tak berdaya.
Kerap kuusap kepalanya, sekadar meringankan rasa pusing yang membebat kepala.
Biasanya Aa paling suka kupijat, namun kali ini menjerit kesakitan dengan pijatan selembut apapun 😦

Berharap Allah segera menyembuhkan beliau -selain royal jelly, madu, antibiotik dan parasetamol yang terus diminum untuk meringankan rasa sakit.

Bagaimanapun, kami harus segera mengambil sikap tegas dan kembali berjalan -setelah Aa sembuh tentu saja- meski visa Tunis tidak berhasil kami dapatkan.

Buat kami, masih banyak negara lain yang juga layak dieskplorasi selain Tunisia, yang terkesan jual mahal saat ini. Bayangkan, surat sakti bernama ‘diplomatic calling visa‘ yang dibuatkan untuk kami berdua (oleh Indonesian Embassy in Tunis) bisa mereka abaikan! Hubungan diplomatik macam apa yang sebetulnya ingin dibangun kedutaan Tunisia di Cairo dengan Indonesian Embassy di Tunisia?

Di sisi lain, kami sangat berterima kasih atas bantuan Abang Zulfikar, Kang Dede dan istri serta staf KBRI Tunisia yang sudah bahu-membahu terlibat dalam ‘melahirkan surat sakti’ untuk kami.

Jujur kami sangat terharu, mengingat kami bukan siapa-siapa. Hanya sepasang musafir kelana yang ingin melihat lebih banyak, belajar lebih banyak dan berbagi lebih banyak.

Teman-teman di Tunisia, mohon maafkan kami jika akhirnya nanti kami harus memutar haluan tidak jadi ke Tunis 😦
Kami tidak mungkin bertahan terus-menerus dalam situasi penuh ketidakpastian ini 😦

Saya dan Aa sudah memutuskan, kami akan menunggu visa Tunis sampai hari Senin besok, jika kedutaan Tunis tetap tidak bisa memberikan jawaban (dengan alasan Waaziratud dukhuul belum memberikan jawaban atas aplikasi visa kami), kami akan mundur dan terbang menuju negara lain saja.

Pada akhirnya, kami tidak nyaman tinggal di Mesir berlama-lama tanpa visa. Kami harus kembali bergerak, melanjutkan perjalanan ini, meski harus kehilangan tiket pesawat Cairo-Tunis-Casablanca (termasuk sejumlah denda di Cairo Intl Airport nanti).

Welcome to this unpredictable country, Ima!

Anyway, we’re honeymoon backpackers!
We wont ruin our own honeymoon, whatever happened in front of us, we will continue our honeymoon journey!

Bismillah, insyaAllah…!

Advertisements

Kata-Kata Cinta di Pantai Matrouh Ageeba

Image

SIWA MATROUH IN LOVE!
Jabal Dakrur-Siwa,
Hanya berdua,
Tiada bunyi, tiada gema,
Selain belahan jiwa
Membisik cinta…

Angin tak sekadar terasa,
bahkan berkesiut suara
membisiki telinga
tentang anugrah cinta
akan selalu ada
jika dipelihara
segenap rasa

RN
17 April 2013

***

Image

Kata-Kata Cinta di Pantai Matrouh Ageeba

Pantai Ageeba sungguh ajaib sesuai namanya. Sepi, senyap, kosong tak berpenghuni.

Sepanjang musim dingin keindahan pantai ini ternyata tak berhasil menarik minat turis lokal dan mancanegara untuk bertandang. Berbeda kala musim panas memanggang bumi Mesir, Ageeba beach tumpah-ruah dikerumuni, laksana sepotong gula merah dikerubungi semut-semut kelaparan.

Saat kami tiba di sana (18 April 2013), angin siang itu bergulung kencang. Menyelusup masuk hingga seluruh sendi terasa linu. Gerimis yang mengiringi sejak pagi hari di Marsa Matrouh terus merintik-menetes, semakin mengusir selera dan rencana Aa, meloncat ke dalam turqoise-nya warna laut yang bening mengundang.

Supir angkot yang membawa kami dari Matrouh  menuju Ageeba beach bercerita, “Sepanjang Januari hingga April tahun ini, di sini sepi tak ada kehidupan, ibarat kota mati saja, makanya saya tidak membawa angkot sampai ke sini. Hari ini khusus untuk kalian berdua saja. Keadaan seperti ini sangat berbeda 180 derajat jika dibandingkan dengan musim panas. Ribuan manusia datang ke sini saban hari,” ujarnya bersemangat sambil mengurai senyum hangat.

Kami saling berpandangan. Saling melempar senyuman.

Betapa baiknya supir asli Matrouh ini.
Betapa bersekongkolnya penghuni langit, memberikan kita kesempatan, menikmati pantai Ageeba seakan pantai indah ini hanya milik kita pribadi.
Resort ‘pribadi’ hadiah dariNya.

Sungguh, semesta merestui ‘honeymoon backpacking’ kita ya, A. 🙂

Sang supir angkot menurunkan kami di tepi gerbang menuju Ageeba beach, kami menyepakati janji, akan dijemput setengah jam lagi.

Saat deru mobil semakin menjauh, kita saling mengaitkan jemari, melangkah perlahan menuju keindahan yang membentang.

Di depan kami, sejauh mata memandang, horison biru bertemu langit biru muda. Mereka berdansa begitu sempurna! Sedang biru turquise-nya pantai Ageeba menyaksi kemesraan mereka. Subhanallah, indahnya lukisan Sang Maha Cinta!

Sesekali, udara tak bersahabat menyapa, meniupkan dingin menggigit, aku kerap menciut dalam balutan jaket hitam tebalku, di pertengahan April yang masih sangat gigil.

Kala kita hanya berdua, aku yang gemeletuk di antara demam sisa semalam engkau hangatkan dalam pelukan. Engkau mengajakku menikmati suasana bening, hening dan sesekali memecahnya dengan canda, mengundang sungging di bibirku 🙂

“Aa, ada tripod mungil kita kan?”

“Iya yah, kenapa tak kita abadikan saja?”

Aku tersenyum melihat engkau meloncat-loncat riang, serupa anak kijang kala berlomba mendahului kecepatan cahaya, agar sempat diabadikan oleh kamera mungil kita 🙂

“Aa, I love you, more and more, insyaAllah for the rest of our life!”

“Me too my dear,” sahutmu lembut.

Dan genggaman tangan kita, diabadikan cahaya!

Biru dan anggunnya pantai Ageeba-Matrouh, menjadi saksi perasaan terdalam kita. Mudahan abadi hingga surga!

***

IZ, 24 April 2013

Oase Siwa, Oase Hati di Gurun Sahara

Oase Siwa, Oase Hati di Gurun Sahara

Kota kuno bernama Siwa ini menjadi highlight 1.5 bulan pengembaraan pengantin kelana di Mesir. Kami terpesona dengan keheningan gurun pasir keemasan yang terbentang sejauh mata memandang. Kami juga terkagum-kagum dengan keramahan penduduknya.

Rencananya, kami akan menceritakan beragam kisah perjumpaan dengan penduduk lokal di Siwa. Sebuah kota kecil yang dibangun 12 abad lampau, berbatasan langsung dengan negara Libya.

Untuk kisah pertama, kami akan menceritakan sosok tukang rumput bernama Mahmud.

Mahmud Siwi; Tukang Rumput Soleh

(17/4/2013) Dia kami temui kala sinar matahari laksana permadani membentang di atas kepala. Saat itu kami menuruni lereng Gunung Dakrur yang terbakar matahari dan asik berfoto di atasnya. Dakrur adalah nama salah satu gunung mati (serupa dengan Jabal Mauta) yang terletak beberapa kilometer dari terminal utama bis antar-kota, Siwa—salah satu wilayah terjauh dan berbatasan dengan Libya, sekaligus merupakan bagian dari Propinsi Mathruh. Jaraknya 592 km dari Alexandria.

berdua di jabal dakrur

Tiada kehidupan sama sekali di gunung Dakrur. Kendati banyak rumah dibangun di sekitar gunung tersebut, namun hanya ramai dihuni 3 hari selama satu tahun. Tepatnya bulan Oktober, saat penduduk Siwa merayakan perdamaian antar kabilah. Gunung ini menjadi saksi bisu sejarah pertumpahan darah antar kabilah di Siwa bertahun-tahun lamanya hingga dibuatnya kesepakatan perdamaian. Di luar hari perayaan perdamaian tersebut, Dakrur sepi tak berpenghuni. Gunung mati!

dakrur-death

alone

from up

Ketika suara motor terdengar menggerung dari kejauhan, kami gegas menghambur ke pinggir jalan. Menunggu pengendara ini lewat di hadapan kami. Kami hanya ingin menumpang sampai pasar. Tempat kami pertama kali datang dari Kairo.

Sembari menunggu dia mendekat, kami menyiapkan uang. Menurut perhitungan kami, sepuluh pond cukup untuk jarak tempuh yang telah kami lalui saat datang ke Dakrur ini.

Deru motor kian nyaring dan mendekat.

Waduh. Sepertinya motor roda tiga. Supirnya bergamis abu-abu. Terlihat sangat lusuh. Perawakannya kurus. Wajahnya mengukir gurat kelelahan. Yang paling mengejutkan, bak motor belakangnya dipenuhi tumpukan rumput sejenis alang-alang. Tumpukannya tinggi menjulang. Ini sayuran khas Siwa kah?

‘Assalamu’alaikum.” Saya menyapa setengah berteriak.

‘Wa’alaikum salam warahmatullah.”

Bapak yang akhirnya kuketahui bernama Mahmud Siwi (35 th, beranak empat) mengiringi salam dengan senyuman tulus. Dia menyetop motornya. Menyambut sapaan kami dengan sangat ramah. Laiknya semua penduduk asli Siwa yang kutemui selama perjalanan di kota kecil tersebut.

Setelah mengobrol sedikit, saya langsung ‘nodong’,

“Lau samahta, mumkin narkab ma’ak?” Bolehkah kami menumpang?

“Kemana?”

Kemana ya? Ha ha. Kami juga tidak tahu tempatnya dimana dan arahnya kemana. Saya terdiam beberapa jenak. 

“Hadhratak tamsyi fen?” Memangnya Tuan mau kemana?

“Saya mau ke pasar, jual rumput ini.”

“Hm, dekat terminal gak?”

“Lumayan.”

“Ya sudah, kami nebeng ke pasar aja bareng Tuan.”

Heu heu heu.  Benar-benar kami sedang berada di tempat antah berantah dan tidak tahu mau ke antah berantah yang mana lagi J

Ia mengangguk dan tetap menyunggingkan senyuman. Kemudian turun dari motornya. Ekspresi wajahnya tampak kebingungan, mau disimpan di mana kami berdua ini. Bak sudah penuh. Di depan hanya ada satu jok, yaitu tempat dia duduk itu.

“Ihna wa’qifin wara bas. Mafisy  masyakil. Kida.”Kami berdiri begini saja di belakang, tidak apa-apa!

“La la…” Jangan!

Dilarang berdiri, atau dilarang ikut ya? Saya mulai khawatir kami tidak diangkut 🙂

Pas saya mencoba berdiri di belakang bak, ternyata hal itu tidak mungkin dilakukan.

Di sela kebingungan kami, dia menyodorkan karpet biru kecil. Cukup untuk dua orang. Jadi, kami diizinkan menumpang nih?!

Alhamdulillah.

motor

Meski kami harus duduk di atas tumpukan rumput menjulang, tidak apa… Wuih! Tentu menegangkan, tapi daripada jalan kaki berkilo-kilo jauhnya di bawah sengatan matahari pukul 12 siang, mending kami ikut saja.

Anggap saja sedang syuting film pengantin India sedang honeymoon di desa, hahaha 😀

“Yalla, irkab.” Yok, naik!

Gimana caranya? Apa kami nanti akan terjungkal? He he, si petualang mulai mencemaskan diri sendiri.

“Aa naik duluan, nanti tarik aku. Percaya saja sama dia, pasti dia sudah memperhitungkan keamanannya.” Ujar istri saya meyakinkan.

“Siap!” Jawab saya kian mantap.

Segera saya injakkan kaki ke beberapa rangkaian besi motor. Tiga langkah saja saya sudah berada di atas tumpukan rumput menjulang yang kini dilapisi karpet kain kecil milik Mahmud Siwi.

Hap hap hap!
Kini giliran sang istri saya tarik perlahan. Cukup berat, karena meski menumpuk, beban rumput terlalu ringan dan tidak padat.

Yes…, akhirnya kami berhasil duduk manis di atas bak penuh tumpukan rumput.

“Musta’id?” Siap?

“Yalla, ihna musta’iddun.” Yuk, kami sudah siap.

Motor pun menggerung dan siap melaju.

“Bismillah.”

Yiihaaaaah. Setengah berteriak, saya membuka kantong kamera. Bersiap merekam jejak berkesan ini. Kendati akhirnya saya tidak maksimal memotret, karena goncangan keras kerap terjadi.

mahmud s

Teriakan kami kian seru. Campur aduk antara takut terpelanting karena beberapa kali melewati jalan bergelombang—maklum bukan jalan aspal—namun senang karena mengalami kejadian tak terduga dan tak  terbayangkan sebelumnya. Seperti saat ini.

Sesekali saya tatap wajah istri. Wajahnya bersinar-sinar, memancarkan raut senang 🙂

Backpack seperti inilah yang aku inginkan, A. Merasakan sendiri hal-hal unik di sepanjang perjalanan, mengalami hal-hal tak terduga, dan menikmati kehidupan penduduk lokal dari dekat. Perjalanan kita menjadi tak biasa dan sangat hidup! Live up our life!

Sepakat!
Saya mengangguk-angguk! 🙂

***

Obrolan Di Atas Guncangan

Meski motor bergoncang tanpa henti, namun saya tetap menanyakan sejumlah hal ke Mahmud. Tentu dengan sedikit berteriak, karena suara kami bercampur dengan gerungan suara motor besar merk Cina! Ya, barang-barang Cina juga menyerbu hingga pelosok Siwa.

Posisi Mahmud sebagai pengemudi berada di depan. Tepat di bawah kaki kami yang menjuntai. ‘Kelakuan’ kami tidak sopan sekali ya. Sudah dikasih tumpangan, tapi kaki-kaki kami menjuntai tepat di atas kepala Mahmud. Maafkan kami! Soalnya untuk menjaga keseimbangan kami yang terguncang-guncang ini, khawatir terjungkal! He he he 🙂

love in siwa

Mahmud mulai membuka diri, “Ana kuntu fi Su’udiyyah, sanatain. Alasyan Syughl.” Saya pernah bekerja di Saudi, selama dua tahun.

Hm, iseng saya bertanya, bekerja apa.

“Ya, serabutan aja. Kalau enggak mengemudi, buruh. Tapi saya senang, karena saya bisa menunaikan dua kali ibadah haji selama dua tahun itu. Umroh pun beberapa kali. Dua hal itu sudah cukup menyenangkan bagi saya. Saya pun bisa sedikit menabung untuk kebutuhan hidup keluarga.”

Alhamdulillah. Saya dan istri saling pandang. Kami senang mendengar uraiannya saat menjelaskan dirinya bisa menunaikan ibadah dengan baik, tapi tidak lupa mencukupi kebutuhan keluarganya. Mencukupi kebutuhan keluarga juga termasuk ibadah yang tidak pantas diabaikan.

Obrolan kami sesekali terhenti saat melewati beberapa orang yang tengah duduk di beranda rumah penduduk dan Mahmud Siwi menyapa mereka. Kami tak ketinggalan melambaikan tangan, melempar senyuman, dan setengah berteriak, “Assalamu’alaikum!”

Rupanya Mahmud ini sudah cukup dikenal. Atau karena penduduk Siwa sangat sedikit ya? 🙂

Beberapa orang sempat mengobrol singkat dengannya, menanyakan pesanan rumput, bahkan beberapa orang lagi bergurau, apa kami ini dijual juga? Alamak! Hahaha 😀

Sembari menjawab salam kami, senyuman orang-orang pun kian melebar. Entah, apa karena merasa lucu melihat sepasang makhluk aneh didudukkan di atas tumpukan rumput, seakan-akan mau dijual bersama rumput di pasar, atau memang senang karena disapa dengan sapaan khas Islam. Ah kami tidak peduli. Yang penting kami senang.

Kami sempat membayangkan bagaimana Nabi Yusuf kecil dijajakan untuk dijual di Mesir setelah ditemukan di salah satu sumur oleh penjual. Apakah adegannya seperti kami ini? 🙂

Di atas motor, kami mengobrol beberapa hal; tentang pohon kurma yang banyak tumbuh di daerah padang pasir seperti Siwa dan akan berbuah di bulan Agustus-an; keadaan cuaca Indonesia yang selalu sejuk karena sering hujan dan tidak ada musim dingin atau panas; tentang Siwa yang terberkahi meski tidak dilewati aliran sungai Nil, namun produksi air mineral yang bersih justru banyak dikemas dari Siwa, di sini ditemukan banyak sumber mata air oase (wahah).

kebun kurma

bukan nil

Ciittt!

Mahmud menghentikan motornya.

“Nanzil huna?” turun di sini?” Saya spontan bertanya.

“Jangan, tetap di tempat. Saya mau melayani pelanggan yang beli rumput saya dulu.”

Dia menarik satu ikat rumput dari bagian tumpukan belakang. Dudukan kami ikut bergoyang seolah akan melorot ke belakang. Tapi dia lagi-lagi menenangkan kami.

“Tenang, cuma satu ikat yang ditarik.” Satu ikat, tapi besar! Pikir saya cemas!

Mahmud kembali menjalankan motornya.

“Inta tigi hina alasyan leh? Syughl wala siyahah?” Kalian datang kesini untuk apa? Bekerja atau berkunjung?

Dia mulai menyelidiki tujuan kami datang ke Mesir. Mulailah saya bercerita,

“Ana Kuntu Thalib fil Azhar fil qahirah qabla tsalats tsanawat. Dulu saya mahasiswa Al-Azhar.”

Begitu mendengar kata Al-Azhar, dia terlihat sangat menyambut dan senang. Persis seperti ekspresi H. Umar, kuncen Mesjid Tsabah yang terletak di belakang Ma’had Al-Azhar  saat kami mengatakan hal sama ketika hendak shalat zuhur di mesjid itu. [cerita serunya diundang jamuan makan siang dengan Hajj Umar, menyusul ya]

“Saya ke sini berkunjung, sekaligus mau bulan madu dengan menjelajah kota yang belum pernah kami datangi. Istri saya hobi menjelajah.”

Istri saya menyahut, “Ka mitsli Ibnu Batutah!”

“Aaa, Ibnu Batutah!” Mahmud mengangguk-angguk tanda mengerti 🙂

Sepertinya mendukung pilihan perjalanan ala kami, hehehe, saya merasa PD menduga seperti itu 🙂

 Kami sempat menjelaskan bergantian, kami kagum sekaligus terinspirasi oleh semangat sejumlah ulama besar yang tidak pernah lama menetap di satu tempat, sepanjang hidup mereka berkelana untuk mencari pengalaman, ilmu, maupun hadis-hadis dari manapun—Meskipun kami baru bisa meniru berjalan dan memetik secuil ilmu dari perjalanan saja.

“Bukankah Imam Syafi’i gemar mencari ilmu kemana-mana. Beliau bahkan pernah bersyair, “Ma fil Muqaami lidzi ilmin fa dzi adabin min raahatin, fa da’ al-authana waghtaribi.  Wa safir fa saufa tajid iwadhan amman tufariquhu.” Bagi yang memiliki budaya luhur dan ilmu tinggi, berdiam diri itu tidak nyaman. Tinggalkan sejenak negeri dan berkelanalah. Merantaulah, engkau akan memperoleh ganti dari apa yang engkau tinggalkan.

Aku melanjutkan, “Imam Syafi’i di Mesir masyhur ya?”

“Sangat.” Jawab dia tegas.

“Madzhabnya menjadi satu madzhab yang dipelajari di Al-Azhar.” Tambahnya.

Tak terasa kami berhenti untuk kedua kalinya.

“Turun di sini?” Tanya kami.

“Jangan. Tunggu sebentar.” Dia agak berlari meninggalkan kami. Masuk ke lorong rumah-rumah tua dari tanah dan batu.

***

“Maaf, tadi saya ganti baju dulu. Ini baju khusus untuk ke pasar. Baju tadi khusus untuk ke kebun.”

Pantas saja tampak lusuh dan kotor. Penampilan keduanya ini terlihat meyakinkan. Gamis putih ditemani sorban merah khas Saudi dililitkan di kepalanya.

“Hayya namsyi!” Mari kita teruskan perjalanan.

Sejenak kemudian saya langsung iseng bertanya,

“Hafizhtal Quran?” Kamu hafal Al-Quran?

 “Alhamdulillah.

“Semua? 30 Juz? “ Tambahku penasaran.

“Iya, semuanya.”

Wow!

“Sejak kapan mulai menghafal Al-Quran?”

“Sejak usia saya 20 tahun, saya mulai fokus menghafal. Alhamdulillah, di usia saya sekarang, 30 juz sudah berhasil saya hafal.”

Saya dan istri saling pandang. Kagum.

“Wa Anta hafizhtal Quran?”

Jreng. Pertanyaan mulai menohok batin saya 🙂

“Alhamdulillah.”

Dia langsung menyahut, “Masya Allah.”

“Tapi belum semua,” Segera kususul jawabanku tadi.

Tawa kami menghambur di udara.

Istriku menyahut dan membaca ayat andalannya, “Saya hafal ayat ini, Ya ayyuhannasu inna khalaqnaakum min dzakarin wa untsaa wa ja’alnaakum syu’uuban wa qabaa’ila li ta’aarafuu. Inna akramakum ‘indallahi atqaakum…(QS Al-Hujurat [49]: 13)

“Benar sekali. Yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling takwa. Tanpa peduli apa dia orang Arab, non Arab, kabilah terpandang ataupun tidak. Semua sama, kecuali dengan takwa.”

Rupanya dia benar-benar menghayati ayat tersebut. Kami diliputi haru, bertemu Mahmud si Siwi sekaligus penghafal al-Qur’an.

***

“Aha, hadzal huwal makan alladzi nanthaliqu minhu.” Nah, ini tempat kami pertama berangkat tadi, Mahmud! Berarti kita sudah sampai! Seketika saya berucap kala mengenali lokasi saat kami pertama kali sampai di kota kecil ini.

“Mau saya antar sampai terminal?”

“Ga usah, saya mau shalat zuhur dulu.”

“Waktu Zuhur belum tiba.” Tukasnya.

“Enggak apa-apa, kami ingin wudlu, istirahat sejenak, dan shalat di mesjid.”

Kami diantarkan ke mesjid Al-Faruq. Kami lihat bagian depannya hitam pekat karena terbakar. Saya pikir karena pernah dibakar massa. Ternyata  katanya mesjid tersebut terbakar karena berseberangan dengan pom bensin yang pernah meledak.

Ooo.

“Mesjidnya masih tutup. Kita cari mesjid lain aja ya?”

“Masyi.” Oke.

Menara mesjid yang lain mulai terlihat. Aku merasa makin mengenali tempat sekitarnya. Ma’had Al-Azhar tingkat SD-SMP-SMA. Ya, ini dia tempat yang sempat saya lihat pas tiba pertama kali di Siwa. Berarti udah dekat terminal juga. Hi hi. Kecil juga ya kota Siwa ini. Mungkin bisa dikelilingi hanya dalam setengah hari.

“Khalash, washalna.” Sudah sampai, teriakku.

Mahmud menghentikan motornya.

“Kami akan shalat di mesjid itu saja.” Tangan saya menunjuk masjid yang saya kenali sejak sampai di kota ini.

Saya turun duluan, ingin segera meloncat dan memotret! Di awal, saya belum sempat memotret seperti apa ‘penampakan’ kami kala berada di atas tumpukan rumput ini. Saya sempat ingin meminta tolong Mahmud memotretkan kami, tapi masih merasa sungkan. Biar saya sajalah memotret wujud istri di atas gunungan rumput.

Saya segera memotret istri. Dan inilah hasilnya. [foto1]

Istri akhirnya mengusulkan agar Mahmud memotret kami berdua, meskipun saya sudah turun dari gunungan rumput 🙂

Inilah hasilnya. [foto2]

Setiap pertemuan, selalu berujung pada perpisahan. Meski masih enggan untuk berpisah dan masih ingin menggali banyak hal pada sosok Mahmud yang santun, kami memutuskan untuk berpamitan. Khawatir nanti Mahmud merasa direpotkan dengan kehadiran kami yang ‘menginthil’ ini, hehehe…

Saya rogoh saku celana dan menyodorkan uang 10 pound untuknya. Mudah-mudahan jumlahnya dianggap tidak terlalu kecil.

“Tafadhdhal.” Silahkan.

Tangan Mahmud gegas menolak.

Saya kaget, kenapa dia menolak dengan tegas?
Sikap Mahmud adalah kebalikan sikap orang-orang Mesir di Cairo, hampir semua tidak pernah menolak pemberian, bahkan cenderung materialistik.

Saya memutuskan memaksa. Saya masukkan uang itu ke saku bajunya. Dia mengeluarkan lagi dan mengembalikannya kepada saya. Saya pun memasukkannya lagi ke sakunya. Begitu seterusnya, berulang-ulang sambil saling merayu, hehehe 🙂

Akhirnya dia menerima uang tersebut.
Saya lega.
Eh, ternyata lagi-lagi Mahmud memasukkan uang itu ke dalam tas istriku yang berada tepat di sampingnya.  

Hm, susah juga nih.  Apa artinya Mahmud benar-benar tidak mau menerima uang dari kami? Apa berarti dia murni menolong?!

“Ini buat anakmu.” Aku paksa untuk terakhir kali.

“Tidak!”

Akhirnya kami tidak kuasa memaksa lagi.

Rupanya, penduduk di sini rata-rata ramah, penolong dan menganggap kami sebagai tamu agung bagi tanahnya. Apalagi kami selalu lebih dahulu menyapa dengan sapaan Islam, berbincang soal Al-Quran dan Hadis. Dua kali kami naik motor bak, dua kali naik mobil omprengan bersama Ahmad Kohla di pagi hari dan H. Umar di siang hari juga sama sekali tidak ditagih ongkos.

Kesan Hati

Kami berpamitan dan saling bertukar nomor HP. Berkali-kali kami mengucapkan terima kasih kepadanya. Terucap doa, Jazakallahu khairal jaza’ atas keramahan dan kehangatannya.

Hati kami mencatat kesan mendalam atas akhlak Mahmud Siwi, tukang rumput yang soleh dan hafal Quran. Dia bukan hanya hafal Al-Quran, tapi juga menghayati dan mengaplikasikan spirit Al-Quran dalam hidupnya. Dia menjaga shalat, mengagungkan tamu, menebar salam, bekerja keras untuk menghidupi keluarga, ramah, dan benar-benar ikhlas membantu dan berbagi.

Barakallahu fik wa fi Ahlik wa auladik! Semoga Allah selalu memberkahi kehidupanmu beserta keluarga dan anak-anakmu.

Shaqr Quraisy, jelang Magrib 19 April 2013

de sky

de up

Naik Taksi di Mesir, Supir adalah Raja!

Naik Taksi di Mesir, Supir adalah Raja!

Ini cerita kecil tentang kemarin. Tepat sebelum saya dan Aa berangkat menuju masjid Hussein, meeting point yang kami sepakati untuk bertemu para peserta pelatihan ‘Tips and Tricks to be A Travel Writer’ sekaligus Bengkel Karya,  follow up kegiatan Gamajatim yang telah dilaksanakan dua hari sebelumnya dan mengundang saya sebagai pembicara, berbagi sedikit yang saya punya.

Sekitar pukul 9 pagi kami sudah keluar rumah. Gegas saya dan Aa menuruni tangga flat yang kami huni di daerah Saqr Quraisy.

“A, kita harus naik taksi nih, tidak enak dengan teman-teman peserta yang barangkali sudah sampai duluan di masjid Hussein sedang kita justru datang belakangan, padahal aku sudah menulis di status facebook-ku 2 hari lalu, don’t be late!”

“Ok, naik taksi saja supaya keburu, cari yang pakai argo.”

Aa mulai menyetop taksi, menjelaskan tujuan kami dan supir taksi berlalu meninggalkan kami 🙂

Aa kembali menyetop sebuah taksi, menjelaskan rute kembali dan supir taksi inipun melengos, kembali menjauh.

Supir taksi di Mesir ‘sombong-sombong’ ya. 😀

Oh iya, selama backpack (atau menetap di Mesir sekalipun) please jangan lupa rumus ‘hidup’ di Mesir (sekaligus anekdot Masisir -Masyarakat Indonesia di Mesir- yang ditujukan pada para pelaku bisnis di Mesir) supaya kita tidak sakit hati sepanjang hidup di sini, “Penjual adalah raja!”

Jangan mengingat pepatah tua kita, “Pembeli adalah raja”, karena kamu akan berkali-kali kecewa, hehehe.

Siapkan diri, jangan lupa anekdot,”Penjual adalah raja” jika kamu berniat backpack-an ke Mesir ya!  😀

Aa kembali menyetop taksi -jika yang ketiga ini menolak juga mengantarkan kami ke masjid Hussein, kami memutuskan naik el-trumco saja berkali-kali, supaya bisa menghemat waktu!- dan akhirnya yang ketiga ini berkenan mengantar kami ke mesjid Hussein!

PYUUUH! 😀

***
Taksi Di Mesir Ada ‘Rutenya’!

Unpredictable Egypt Things yang harus siap kamu hadapi adalah, taksi-taksi yang bersilewaran di daerah ‘Asyir hingga Sabi’ kerap enggan membawa penumpang jika tidak sejalur ‘rute’ mereka.

Heh?
Sejak kapan taksi pakai rute?

Ya sejak di Mesir sini 😀

Jadi jangan heran ya, ‘menemukan’ taksi yang satu arah dengan rute perjalanan kita juga bukan perkara mudah, hehehe 🙂

Sehari sebelumnya, pada tanggal 11 April pagi, kami juga sangat membutuhkan taksi secepatnya, supaya segera meluncur ke Kedutaan Tunisia di Zamalek sepagi mungkin, karena Kedutaan Tunis hanya menerima aplikasi visa sampai pukul 11 siang. Pada akhirnya, kami harus berkali-kali menyetop taksi, menjelaskan rute kami, ditolak supir taksi dengan alasan jauhnya Zamalek, rute tidak searah tujuan mereka -entah mau kemana- dan melakukan hal yang sama hingga taksi kesekian kali!

Di sisi lain, saya menyukai kejujuran para supir taksi di Mesir sini, tidak semua bermental ‘scammer‘!

Mereka jujur mengatakan, bahwa daerah Zamalek itu jauh dan mereka mengakui tidak tahu rute menuju ke sana. 🙂

Apa karena kami menggunakan bahasa Arab ‘Ammiyah (bahasa Arab dialek lokal), sehingga para supir itu yakin bahwa kami memang sudah lama tinggal di Cairo dan tidak mungkin ditipu?
Wallahu a’laam! 😀

Tentu anda bisa bayangkan, bagaimana jadinya jika backpack sendirian, tidak bisa bahasa Arab (dan sangaaat jarang supir taksi bisa bahasa Inggris -kecuali di daerah touristic area semacam Giza, Zamalek dan sekitarnya), saya jamin perjalanan backpack anda akan banyak terhambat (termasuk habis waktu untuk urusan beginian, dan ini diakui oleh Mas Ale -salah satu teman dekat saya yang pernah nekad backpack seorang diri, satu minggu di Mesir akhirnya hanya berhasil menjelajah Cairo dan Alexandria saja), makanya saya sangat tidak menyarankan para backpackers (apalagi perempuan) backpack ke Mesir seorang diri (tanpa didampingi salah satu guide / mahasiswa Al Azhar yang fasih berbahasa Arab ‘Ammiyah!).

Masalah taksi hanya satu ‘masalah kecil’, belum urusan lainnya (terkait scammer di berbagai obyek wisata, memesan hostel, sewa mobil, dstnya), apalagi jika masa backpack di Mesir sangat pendek (kurang dari sebulan) dan yang ingin dijelajahi sangat banyak, saya sangat menganjurkan anda untuk mengenal salah satu mahasiswa Al Azhar terlebih dahulu (dan memintanya menjadi guide anda -tentu harus dibayar ya!) sebelum anda menjejak kaki ke Mesir. 🙂

Selamat menjelajah Mesir (minimal) berdua dengan guide anda, jika anda belum bisa bahasa Arab (terutama ‘ammiyah)!

Atau, kalau anda perempuan, tidak mau direpotkan dengan urusan semacam yang saya ceritakan di atas, yuk ikut saja Muslimah Backpacker’s Egypt Trip tahun depan, insyaAllah akan diadakan kembali jika calon peserta terkumpul minimal 10 orang.

Welcome to unpredictable Egypt things, guys! 🙂

PS.
Photo salah satu supir taksi baik hati yang membawa kami meluncur ke Kedutaan Tunis menyusul ya 🙂

Egypt Trip by Muslimah Backpacker: Mission Possible!

Egypt Trip Muslimah Backpacker: Mission Possible? 

Mulanya, saya tertegun mengintip jadual perjalanan Egypt Trip ala Muslimah Backpacker yang dirancang istri saya beberapa bulan silam. Masya Allah. Rute perjalanannya sangat panjang. Bayangkan saja, Cairo-Luxor-Aswan-Abu Simbel-Aleksandria-Cairo-Sinai dan terakhir kembali ke Kairo direncanakan akan dijelajah hanya dalam 9 hari efektif!

Betapa tidak, jarak dari Kairo-Luxor saja sekitar 648 km (9 jam-an), lalu Luxor-Aswan kurang lebih 222 km (3 jam), dilanjutkan Aswan-Abu Simbel 289 km (5 jam-an), dan yang paling lama, Abu Simbel-Aleksandria 1.356 km (19 jam-an). Belum ditambah perjalanan Cairo-Sinai 441 km. Jika ditotal, kurang lebih 50 jam. Tak ayal, bak digerogoti angin sahara, usia perlahan berkurang di jalanan selama 2 hari 2 jam 16 menit.

Setelah menyimak sejumlah penjelasan dari sang istri, khususnya soal keterbatasan cuti dan hasrat anggota trip ingin menjelajah Mesir sebanyak-banyaknya,, saya memaklumi. Insya Allah bisa! Dengan catatan, persiapkan fisik dan mental (keyakinan) ditanam ke lubuk sanubari sejak dini. Karena perjalanan sejauh itu–dengan kondisi pergantian musim– tentu akan banyak menguras stamina, fikiran, emosi, dan sebagainya.

***

Mission Possible!

Akhirnya, setelah mendampingi istri mengawal MB Egypt Trip mulai 21-31 Maret lalu, saya menyimpulkan, rute panjang dengan waktu sangat singkat menyisakan pelajaran yang sangat berarti.

Betapa perjalanan sejauh apapun, akan terasa dekat. Selama apapun akan terasa singkat. Setinggi apapun, akan terasa rendah. Sedalam apapun, akan terasa dangkal. Sesulit apapun akan terasa mudah. Seberat apapun akan terasa ringan. Syaratnya sederhana (mudah diucap, berat dilakoni); tempuh perlahan, tekun, yakin, dan hadapi ragam kenyataan perjalanan dengan lapang dada. Laiknya kita menghabiskan kepingan jatah usia kita di dunia.

kereta dr luxor

Fa idza ‘azamta fa tawakkal ‘alallah. Jika sudah bertekad kuat (tempuhlah, lalu) pasrahkan segalanya kepada Allah. Insya Allah, tujuan itu akan tercapai jua akhirnya.

Wallahu A’lam bishshawab

Bahasa (Asing)mu, Kompas Duniamu!

Ingatkah anda pepatah lama, “Mulutmu, harimaumu!”

Pepatah ini dipakai teman-teman panitia seminar bahasa untuk memantik ide sebuah tema acara. Lahirlah seminar bahasa berjudul, “Bahasa (Asing)mu, Kompas Duniamu!”

***

Kami Dikawinkan Lagi!

Saya pernah ke Mesir tahun 2010. Masih benderang dalam ingatan, aktifis mahasiswa berduyun menghubungi ‘manajer pribadi’ saya selama di Mesir, yaitu saudara Rashid Satari 🙂

Rashid kemudian mengatur berbagai tema dan kegiatan yang bisa saya isi, di sela-sela backpack kami menjelajah Mesir sebulan lamanya.

Kali ini saya tidak datang seorang diri, saya backpack bersama suami tercinta. InsyaAllah diniatkan sebagai ‘Honeymoon Backpacker’.

Alhamdulillah profesi kami beririsan, saya senang menulis, memotivasi dan berbagi, Aa senang mengajar bahasa Arab, menerjemah kitab dan berbagi.

Sang ketua panitia seminar bahasa terpikir ‘mengawinkan’ kami berdua, agar tandem menjadi pembicara pengantin untuk diskusi, “Bahasa (Asing)mu, Kompas Duniamu!”

Dua tahun kami menikah, namun ini pertama kalinya kami dikawinkan dalam sebuah forum diskusi.

Jangan tanya perasaan kami berdua, terharuuu. 🙂

Sejak menikah, saya terbiasa menyiapkan baju Aa untuk mengisi ceramah, mendengarkan ia latihan menyampaikan materi khutbah nikah atau mempertanyakan ulang logika bahan ceramah yang sudah ditulisnya 🙂

Aa sendiri terbiasa menerima telepon permintaan sebuah kepanitiaan -ya, beliau manajer pribadi saya- lalu memijit punggung saya kala saya duduk berjam-jam mengetik sebuah naskah di depan komputer, atau menyeduhkan teh hangat dengan sedikit gula (I don’t like sweet tea) atau bahkan mencuci pakaian kotor yang menggunung dalam keranjang cucian, sementara saya heboh mengejar deadline sebuah tulisan. 🙂

Kami terbiasa saling mendukung pekerjaan dan karir kami. Saling membantu, saling memudahkan, tapi belum sekalipun kami ‘dikawinkan’ alias diundang bersama untuk mengisi sebuah acara 🙂

For us, the invitation from PII (Pelajar Islam Indonesia) Mesir to share our knowledge together was a romantic moment, it’s really engaged with the honeymoon backpacker’s spirit, syukran!

 

Bahasamu, Kompas duniamu

Candid shot by DulZon

***

“Bahasa (Asing)Mu, Kompas Duniamu!

Saya membuka materi menggunakan bahasa Inggris. Bukan sok canggih berbahasa asing, hanya ingin mengetahui, seberapa dalam kemampuan bahasa Inggris adik-adik mahasiswa/i, siapa tahu jauh lebih mumpuni dibandingkan saya 🙂

Sebagian mahasiswa memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik, sebagian lagi masih harus belajar lebih gigih.

Saya kemudian berbagi kisah hidup saya pribadi.

Imazahra kecil (usia 13 tahun) sangat benci bahasa Inggris (sekaligus jatuh cinta pada bahasa Arab). Saking bencinya, ia lulus dengan nilai bahasa Inggris memalukan untuk ujian akhir nasional tingkat SMA. Nilainya hanya tiga koma sekian. Memalukan dan jangan ditiru ya! 🙂

Menjelang lulus pendidikan S1, Imazahra berpikir untuk mencari beasiswa ke luar negeri. Ia berharap bisa kuliah S2 gratis, mengingat ia adalah anak pertama dari 8 bersaudara. Ekonomi keluarga yang sedang morat-marit dihantam badai krisis moneter dan keinginan untuk terus merantau (karena alasan sangat personal) membuat ia menggila kala hunting beasiswa.

Saban malam Imazahra menjelajah dunia maya.
Pada masa itu, belum ada website beasiswa berbahasa Indonesia seperti sekarang. Segala informasi tentang studi ke luar negeri (terutama Eropa dan Amerika) selalu ditulis dalam bahasa Inggris.

Sejak saat itu, kesadaran diri akan pentingnya kemampuan bahasa asing (termasuk Inggris) mencuat. Dengan kamus berwarna pink fuchia, Imazahra terbata-bata menerjemah kata demi kata -saat itu juga belum ada google translate! 🙂

Imazahra belajar bahasa Inggris secara otodidak. Banyak meminjam aneka buku tata bahasa Inggris dari perpustakaan IAIN Sunan Kalijaga, membeli kamus mungil agar mudah ditenteng kemana-mana dan rajin chatting dengan bule di Mirc dan Yahoo messanger 🙂

Setahun kemudian, Imazahra terbang menuntut ilmu ke negeri Ratu Elizabeth, gratis!
Bahasa (asing) terbukti memutar kompas hidup seorang Imazahra!

Kemampuan berbahasa Inggris yang dimiliki Imazahra membuka karir baru untuknya; interpreter, translator, world backpacker, travel writer and community developer!

Saya menutup sesi dengan sedikit tips belajar bahasa Inggris ala Imazahra 🙂

3.pii-mabes

Imazahra in action 🙂

5.pii.Penyerahan

Penyerahan piagam penghargaanoleh ketua PII, Solihin Ma’ruf

***

Bahasa (Arab)mu, Pundi Rizkimu!

Setelah saya, giliran Aa yang berbagi.

Untuk pertama kalinya, saya akhirnya melihat Aa ‘nyerocos’ dalam bahasa Arab yang sangat fasih, mulai sejak memulai sesi hingga sesi berakhir, nyaris terus-menerus menggunakan bahasa Arab fasih (sesuai grammar dan tata bahasa)! Jujur saya terkagum-kagum. I’m so proud of him!

Selama ini, Aa menjadi dosen bahasa Arab di Ma’had al Imarat, Bandung, tapi belum sekalipun saya melihat beliau mengajar, karena Ma’had al Imarat, Bandung di Jl Inhofthank dikhususkan untuk mahasiswa laki-laki. Istri tentu tidak boleh menyelundup menjadi mahasiswi, hehehe 🙂

Titik tekan materi yang disampaikan Aa adalah pentingnya penguasaan bahasa Arab bagi mahasiswa Al Azhar yang sedang kuliah di Mesir. Amat disayangkan jika mahasiswa Al Azhar asyik bergaul dengan ribuan mahasiswa Indonesia lainnya selama di Mesir, tapi lupa mengasah bahasa Arab fusha dengan aktif di aneka talaqqi (mengaji), dirasah (menghadiri aneka kuliah berbahasa Arab) dan bergiat di Arabic language club!

Setelah kembali ke Indonesia di akhir tahun 2010, Aa menyadari, bahasa Arab semakin diminati penduduk Indonesia di tanah air.

Banyak peluang karir yang terbuka bagi ahli bahasa Arab, mulai menjadi penerjemah kitab-kitab berbahasa Arab -jangan tanya penghasilan mereka, bisa belasan juta per bulan jika tekun menerjemahkan kitab-kitab orderan penerbit, menjadi interpreter di forum-forum internasional, menjadi penerjemah (penyiar) siaran-siaran berbahasa Arab (salah satunya di TV One), menjadi guru / dosen bahasa Arab, ahli filologi dan seterusnya.

***

Pengalaman adalah Guru Terbaik

Aa kemudian bercerita perjalanan karirnya yang dipandu kompas bahasa Arab.

Aa mulai menawarkan naskah / kitab berbahasa Arab ke penerbit di tahun 2006, waktu itu beliau mahasiswa Al Azhar University di Cairo, tingkat 2.

Awal memulai pekerjaan di antara waktu kuliah pun terbilang alami.

Aa senang mendatangi maktabah-maktabah (toko buku) yang ada di Cairo. Beliau menikmati membaca sinopsis di sampul belakang buku (yang mejeng manis di rak-rak toko buku), Aa mencatatnya tanpa membelinya -maklum beasiswa saat itu sangat kecil, hanya 90 LE / bulan. Sampai di kamar asrama, Aa akan menerjemahkan sinopsisnya, lalu iseng menawarkan terjemahan sinopsis tersebut ke salah satu penerbit.

Dari sana, beberapa penerbit tertarik ‘mempekerjakannya’, Aa dikirimi uang untuk membeli beberapa buku lalu diminta menerjemahkan. Sebagian diterbitkan, sebagian lagi tidak karena pertimbangan pasar 🙂

Sejak saat itu, Aa rutin menerjemah ketika liburan musim panas, atau setelah ujian termin 1. Tanpa merasa terbebani, Aa bahkan sanggup mengirim sedikit uang ke tanah air, untuk orang tua dan saudara yang membutuhkan.

Terakhir, Aa berbagi kunci penguasaan penerjemahan kitab-kitab berbahasa Arab:

– Kuasai tata bahasa arab (minimal hal mendasar seperti nahwu dan sharaf).
– Tuliskan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar hingga kita dan pembaca memahami maksudnya.
– Siapkan catatan untuk kata-kata baru (asing), karena biasanya kata-kata tersebut akan muncul lagi di halaman berikutnya.
– Sering-seringlah membaca koran bahasa arab.
– Rajinlah menonton tv arab.

– Kuasai gaya bahasa Indonesia terkini, dengan rajin membaca buku-buku bertema sejenis dengan kitab yang sedang kita terjemahkan. Keluwesan bahasa Indonesia akan memperhalus terjemahan kita.

Di akhir sesi, Aa membagikan lembar latihan bagi adik-adik mahasiswa. Semua diminta menerjemahkan teks berbahasa Arab ke bahasa Indonesia, lalu beberapa didiskusikan bersama-sama.

4.pii.Sesi Aa

 

Aa in action 🙂

8.mengerjakan tugas

Peserta tekun mengerjakan tugas terjemah yang naskahnya diambil dari muqarrar tingkat dua, tentang definisi qashash al-quran

1.pii.Aa piaam

Penyerahan piagam penghargaan untuk Aa dari Ketua PII, Solihin Ma’ruf

***

Latihlah Kompas Duniamu!

Pada akhirnya, seminar, diskusi atau teori-teori yang telah dibagi akan tinggal menjadi sebuah teori / wacana, jika kita tidak mulai mempraktikkannya.

Kami berdua sangat berharap, dari sesi berbagi kami tersebut, adik-adik mahasiswa terinspirasi menguasai salah satu bahasa secara mendalam untuk membuka kompas dunia mereka masing-masing!

“Al qudroh ala lughah takuunu bil mumaarasah.”
Bisa berbahasa (asing) karena biasa!

7.pii.mabes.pii

Foto bersama dengan seluruh mahasiswa peserta diskusi 🙂

Pengantin Kelana Berbagi

Tiga hari yang lalu kami diminta oleh Furqan, aktifis PII Cabang Kairo untuk mengisi acara mereka dengan tema pentingnya penguasaan bahasa asing.

Setelah berdiskusi dengan istri, kami sepakat memasukkan unsur penerjemahan buku (salah satu profesi saya) dan pentingnya bahasa Arab dan Inggris untuk mempermudah backpack keliling dunia (sesuai spirit honeymoon backpacker saat ini: sharing, contemplating, enriching people)

Kalau kamu ada di seputaran Kairo, see you at:

Vanue: Sekretariat PII Kairo, Gami Station.

Time: 14.00 CLT

Theme: Bahasamu, Kompas Duniamu.

Speaker: Risyan Nurhakim, Lc. dan Fatimah Chairi, M. Phil.

***