Curhat Asmara Si Mahmud

Curhat di Cafe Husein

Pagi itu adalah kali pertama aku duduk  dan minum syai bi ni’na’  bersama belahan jiwa di salah sebuah café. Persis di samping pelataran mesjid Husein, Darrasah. Sembari menunggu teman-teman Muslimah Backpacker yang asyik berbelanja di pasar Khan Khalili, kami berdua mau menyantap nasi uduk bekal sarapan kami yang tertunda.

Melihat sejumlah kursi yang masih kosong melompong, kami pun merapat ke kursi salah satu café dan memesan minuman hangat. Karena harga satu gelas teh menurut dompet backpacker seperti kami sangat tinggi, yaitu 15 Le., maka kami memutuskan memesan satu gelas saja untuk berdua. Tak apalah, sesekali. Itung-itung menyewa tempat dan membeli suasana.

‘Gembolan’ makanan segera kami buka dan tumpahkan ke atas meja. Hehehe. Dua kotak nasi uduk, sebotol air minum, dan sisa pizza el-rayek menu makan malam kemarin.

nenk cantik

Sang pramusaji mendekat.

“Welcome,” sapanya.

Segera kujawab dengan bahasa Arab, ‘Shabaahul ful, ya rayyis…, Izzayyak hadhratak?” Selamat pagi wahai tuan, apa kabarmu?

Dengan ekspresi wajah berubah ramah dia menjawab, “Shabaahan nuur, kuwaisy… Selamat pagi bercahaya, kabarku baik.”

Setelah kupesan segelas teh, dia mendekat dan duduk di kursi yang tak jauh dari meja kami. Ternyata teh yang kami terima bukan satu gelas. Tapi satu teko. Ukuran teko cukup untuk dua buah gelas besar. Pantas saja dihargai 15 Le. Sambil menyesap teh, kami mulai menyapa. Menanyakan nama dan asal daerahnya. Ternyata tidak jauh dari café, yaitu di Jamaliyyah. Setau saya, untuk menuju tempat tersebut dari terminal darrasah cuma satu kali naik angkot khas Mesir, el-trumco.

Kisah Asmara Mahmud

Agak sungkan dia menanyakan perempuan manis yang duduk bersamaku. Aku tersenyum dan menjelaskan statusnya. Ya, she’s my lovely wife dan sudah dua tahun aku menikahinya. Dia tersenyum. Namun setelah dia kutanya balik, raut wajahnya berubah. Dia sudah melamar calonnya, namun akhirnya gagal melanjutkan ke jenjang pernikahan, karena keluarganya yang tidak setuju. Salah satu alasannya adalah kondisi ekonomi dan status sosial dia. Dia bercerita bahwa mereka sudah sama-sama mencintai apa adanya.

Saat kami mau melanjutkan obrolan, pemilik café lewat dan terlihat tidak suka dengan keakraban kami. Kami faham. Dia segera kupersilahkan kembali bekerja melayani pembeli lainnya.

Setelah tugas dia tunaikan, dia kembali mendekat dan melanjutkan pertanyaan, “Kamu menikahi dia dengan mahar apa? Emas ya?”

“Ya. Sama saja dengan di sini.”

“Berapa modal mahar kamu?”

’Ya standar saja, 5 atau 10 gram emas juga sudah bisa akad kok. Dan akadnya akan sah jika sarat dan rukunnya lengkap.”

“Itulah masalah saya di sini. Biayanya besar sekali. Bukan calon saya yang matre, tapi desakan keluarganya. Minta emas sekian gram, rumah, alat-alat rumah tangga dan sebagainya. Akhirnya kami harus berpisah.”

‘Kenapa cinta harus dikorbankan hanya dengan hitungan emas yang tidak sesuai standar keluarga?

Pertama kali menikah, saya belum punya pekerjaan tetap, rumah masih ngontrak, kendaraan belum punya. Tapi kami yakin dengan langkah kami.

Kami datangi kedua orangtua dan meyakinkan mereka, bahwa tekad kami sudah bulat. Cukuplah restu dan doa keberkahan rumah tangga yang kami pinta dari mereka.

Layaknya hidup yang semestinya dijalani secara bertahap, rumah tangga pun demikian. Ikatannya akan menguat dan membesar bertahap. Al-‘Aisyu syai’an fa syai’an, syuwaiyah syuwaiyah.”

“Itu dia yang aku pengin dari keluarga calonku.’ Jawabnya. ‘Tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu.”

Ia pun menjauh untuk kembali menunaikan tugas. Menyapa pelanggan dan mempersilahkan mereka duduk di café bosnya.

Aku tak ingin melewatkan momen duduk minum teh di café ini. Kamera kukeluarkan dan kuambil gambar istriku yang tengah duduk di kursi ukir yang unik. Sesekali berpindah duduk dengan background lampu fanus khas Mesir yang bergelantungan dan jejeran alat hisap syisya.

curhat mahmud-cafe husein ima fanous

[foto1: Mahmud melirik-lirik kami. fato2: Ima di antara perabot khas Mesir]

Melihat kami sedang asik memotret, Mahmud mendekat dan menawarkan diri memotret kami berdua. Rupanya dia sudah terbiasa memotret para pelanggan yang ingin difoto di café tersebut.

jepretan ala mahmud

[foto, hasil foto Mahmud]

Hari kian menyala. Kami harus kembali mencari makan siang untuk 18 orang peserta Muslimah Backpacker’s Egypt Trip yang kami kelola.

Saat mau pamit, Mahmud bertanya, “sudah punya momongan belum?”

Kami tersenyum sembari menggelengkan kepala. “Allahu yarza’kum athfal. Semoga Allah segera memberi anugerah keturunan buat kalian.”

“Ingat ya, nanti anakmu dikasih nama yang bagus, namaku ini dikasih orangtua karena mereka bilang nama ini paling bagus. Mahmud, Ahmad, Muhammad, Hamdan, dan nama-nama bagus lain.”

He he, Mahmud Mahmud…, sudah berapa belas Mahmud yang aku ajak mengobrol selama sembilan hari ini, belum termasuk Mahmud yang ini.

Kami beranjak dari café. Mesjid Husein menjadi saksi percakapan kami, doa, dan curhat asmara Mahmud.

Allahumma istajib du’ana wa da’watal muslimin jami’an…amin.

Semoga dengan banyak mendoakan dan didoakan banyak orang, kami benar-benar segera diberikan momongan. Sebab kita tidak pernah tahu, dari mulut mana doa orang-orang yang akan Allah kabulkan!

Saqr Quraisy, 03 April 2013

Advertisements

45 thoughts on “Curhat Asmara Si Mahmud

  1. karena settingnya d mesir, kisah ini terasa lebih romantis deh..hehe..
    rupanya tradisi mesir sama kayak di iran ya, kalau mau nikah minta maharnya besar (tapi boleh ngutang sih), tapi yg harus menyediakan perabotan rumah tangga pihak istri (jadi sama2 “berat”)

  2. samaaaaaa…. dulu kami menikah juga belum punya apa2. masih sama2 mahasiswa pula. Alhamdulillah Allah mencukupkan rejeki kami sekeluarga…:)

    • Eh, reply Mbak Ira juga ternyata belum kubalas ya? Aduh, maafkan saya 😦

      Toss kalau gitu, Mbak.
      Lebih ‘nikmat’ mulai dari nol ya, Mbak.
      Ikatan suami istri rasanya jadi jauh lebih kuat, karena kalau ada apa-apa, inget dulu mulai sama-sama dari nol sekali 🙂

  3. Ya, teh pi2n (kaka kelas di bentar) juga seneng bacanya…dtgg kisahnya yang lain, tau istri risyan pas baca di jawa pos (kbtln teteh kerja di Radar Bogor). Salam kenal ya sama ima syan…met honeymoon lagi

    • Hatur nuhun sudah mampir ke sini, Teh Pipin.

      Aduh, saya jadi malu dibaca segala profile-nya 🙂
      Terus baca dan ikuti kisah-kisah kami di blog ini ya, Teteh 🙂

      Maaf nih baru liat reply lama ini 😀

    • Justeru, salah satu alasan aku jatuh hati sama dia ya karena kepandaiannya menulis, Yanaaa 🙂

      Dulu si Aa kerap menulis kolom Hikmah untuk Republika. Sayangnya sekarang dia gak ngirim2 tulisan lagi.
      Kita semangati lagi yuk Yan 😀

  4. Ya, Aa dibalik ketenangannya, punya sense of humor yang bagus. Belum lagi ditambah kefasihannya berbahasa Arab, kian kayalah tulisan ini dan saya yakin tulisan-tulisan berikutnya.
    Ditunggu! 🙂

    • Apanya yang keren, Mbak?
      Kasian si Mahmud ya 😦

      Salam kenal sudah disampaikan, nanti insyaAllah kami ke Turki, boleh kan menginap di rumahmu, Mbak?

      Kita obrolin japri di FB aja ya? 😀

    • Hayuk jalan-jalan dengan komunitas Muslimah Backpacker, Mak 🙂
      Saya founder komunitas asik ini 🙂

      Salam kenal juga dari saya.

      Iya, mahar di Indonesia lebih sesuai dengan ajaran Rasulullah dibandingkan adat mahar di negara2 Timur Tengah.

    • Hihihi, hampir kecele ya, Mbak Maya 🙂

      Iya, bagus banget ya, Mbak. Sayangnya si Aa susah banget diminta nulis. Ini lagi kurayu-rayu mencicil menulis bareng perjalanan backpacking kami di Mesir dulu, Mbak 🙂

  5. Sejak pertama kali ‘nemu’blog ini
    selalu takjub dengan cara ‘ajaub’ Mbak Ima menuliskan pengalamannya
    Jadi suka kunjung ke sini
    Tak disangka, Aa juga pintar merangkai kata ya Mbak…:-)

    Salam persaudaraan dari Pekanbaru Mbak Ima….:-)

    • Aduuuh, sebuah sanjungan untuk kami Mbak Putri 🙂

      Iya, Aa jago nulis sebenarnya, hanya sayang jarang mau nulisnya, hihihi. Kudu disemangati habis-habisan baru nulis deh 😀

      Salam persaudaraan juga dari kami berdua, Mbak.
      Suatu ketika kepingin backpacking ke Pekanbaru. Nanti kita silaturahmi kopi darat ya, Mbak 😀

    • Cafe2 di Kairo kebanyakan sederhana. Ada juga sih kayak yang di Jakarta, mewah2 ber AC, tapi gak seramai cafe rakyat begini 🙂

      Makasih sudah mampir Mbak Uniek 🙂

      Amin amin untuk doa buat Mahmud 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s