[PhotoBlog] Subhanallah, Enaknya Kurma Tunisia!

image

Seumur hidup si Imazahra, inilah pertama kalinya dia merasakan kurma Tunisia, masyaAllah enaknya! 😀

Jujur, saban berbuka kala Ramadhan, makanan yang paling saya hindari adalah kurma!

Meski memakan kurma kala mengawali berbuka adalah sunnah Nabi SAW, hiks, lidah saya tetap tidak cocok dengan rasa sangat manis kurma (yang sudah diberi pengawet berupa gula!)

Akan tetapi, pengalaman menggigit kurma Tunisia yang masih ada batangnya ini sungguh berbeda!

MasyaAllah!
Kurmanya ternyata tidak terlalu manis!
Dagingnya lembut dan empuk!

Wuah, satu biji kurma Tunisia tak cukup untuk saya! Sejauh ini sudah menghabiskan 15 biji kurma dalam sekali duduk, enaaak 🙂

Hihihi, bisa dibilang saya dan Aa berebut mengunyah, padahal yang ngasih hadiah ini berpesan, “Silahkan dinikmati selama berada di Tunisia.”

Terima kasih, Kang Dede baik hati! 🙂

[PhotoBlog] Arah Kompas Berubah…

image

Semula, rencana awal honeymoonbackpacker.com adalah terus berjalan ke utara Afrika, menyeberangi Selat Gibraltar, menjelajah Andalusia (Spanyol) lalu turun ke bawah mendatangi Turki, Iran, India dan kembali ke Indonesia.

Kemarin malam sepucuk surat elektronik dari Belgia menyapa kami.

Isinya adalah mengundang kami berjalan hingga Belgia dan berbagi sepanjang Ramadhan di bumi Eropa 🙂

Kami tentu saja sangat berbahagia!

Setelah itu tersadar dengan beberapa planning yang telah dirancang, kami berpikir ulang dan membalas surat elektronik tersebut dengan hati bimbang.

Malam ini sholat istikharah harus ditegakkan,
untuk menepis bimbang di hati,
dan berharap kemurahan rizki dari Sang Maha Pemberi,
agar langkah kami dimudahkan,
menuju negeri-negeri jauh,
untuk berbagi,
tentang kesemestaan ilahi!

Ya Rabbi,
Sahhil umuuriy!

~catatan senja di masjid Zaitouna~

[PhotoBlog] Jum’atan di Masjid sekaligus Makam Sahabat Nabi

image

image

image

image

image

Batu prasasti yang ditempelkan di tembok yang mengeliling masjid menjelaskan bahwa salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW (sekaligus pencukur rambut beliau) bernama Abi Zam’ar dimakamkan di masjid ini.

Saya terharu membaca catatan ringkas ini.

Lebih terharu lagi kala memasuki masjid.
Masjid yang tua, sarat sejarah dan dipenuhi saudara-saudara muslim saya yang khusyu’ mendengarkan khutbah siang ini.

Saya memoto Aa sebentar dan berpisah.

Saya harus ke ruangan perempuan. Aa meminta saya mengikuti perempuan berjilbab di depan saya.

Saya sempat berhenti sebentar, tahu-tahu perempuan yang saya ikuti ini lenyap begitu saja.
Ke mana ia?

Seorang laki-laki yang duduk mendengarkan khutbah berdiri kala melihat ekspresi kebingungan dan salting saya, kala berdiri di belakang para lelaki yang khusyu’ mendengarkan khutbah. Ia kemudian menunjukkan lokasi untuk perempuan.

Ternyata ruang perempuan ‘tersembunyi’ di sudut salah satu mesjid. Ditutupi sebuah pintu coklat.

Saya segera mendorong pintu dan menyaksikan ratusan perempuan berjilbab khusyu’ mendengarkan khutbah.

Beberapa bahkan meneteskan airmata, kala sang khatib mengingatkan, “Sebagai muslim yang baik, kita harus peduli pada muslim di Syria. Mereka di sana diobok-obok Amerika melalui media dan antek-antek mereka. Di mana letak kepedulian kita sebagai sesama muslim?”

“Muslim sekarang lemah karena banyak menyembah berhala dunia… Kita harusnya menjadi sepemberani Musa AS. yang berani melawan ketakaburran dan kesesatan ayah angkatnya, Fir’aun!”

Ah, khutbah yang sangat berapi-api. Bahasa Arab fusha yang puitik dan penuh gelora, masjid anggun berarsitektur indah, dinding-dinding masjid yang menyejarah, melampaui abad dan generasi yang mulai melupakan kisah dan sejarah.

Khatib kemudian mengutip beberapa ayat dan beberapa perempuan makin terisak.

Saya semakin dibalut haru.
Sesak memenuhi jiwa.

Rasanya luar biasa dianugerahi kesempatan berjalan sejauh ini, sarat kontemplasi dan persahabatan dengan al-Qur’an yang dibacakan.

Rasanya ajaib!
Akhirnya kami bisa merasakan Jum’at yang khusyu’ di Africa Utara.
Di dekat makam salah satu sahabat Nabi SAW.

“Allah, ampuni hari-hari kami yang telah berlalu dalam dosa dan alpa.

Ya Allah, kuatkan hati seluruh umat muslim yang ditindas oleh thaghout dan tirani.

Engkau Maha Pembalas dan Hakim paling adil!”

[PhotoBlog] Teman Seperjalanan; Naseer

image

Setelah membeli tiket dan diajak masuk mobil, kami memutuskan duduk di kursi paling belakang. Di tengah sudah terisi dua orang sedang 1 baris kursi hanya untuk 3 orang.

Sembari masuk ke dalam mobil, saya dan Aa mengucapkan salam dan menyunggingkan senyum.

Laki-laki di kursi belakang menyahut salam dan membalas dengan senyuman yang hangat.

Seperti biasa, kami mulai berkenalan 🙂

[PhotoBlog] Terminal ‘Luage’ Moncef Baiy

image

image

image

Waaah, dalamnya ternyata seru! Orang lalu-lalang menuju destinasi masing-masing 🙂

Perempuan di depanku khusyu’ menggeret koper besarnya dan sempat tersenyum padaku.

Ah, penduduk Tunisia ramah-ramah 🙂
Apa karena kami terlihat sangat asing di mata mereka?

Setelah membiasakan diri dalam terminal ini, kami menyadari, sepertinya kamilah satu-satunya pasangan pelancong asing! 🙂

Kami mengedarkan pandang ke beberapa penjuru. Ternyata banyak jurusannya, salah satunya ke Kayrouan 🙂
Horeey, we’re leaving for Kayrouan!

Saya sempat bertanya pada seorang supir, “Kayrouan, Pak?”

“Iya, tapi kamu harus beli tiket dulu di sana!”

Ia menunjuk ke loket yang berjejer.
Aha!
Bagus juga, otomatis tidak ada calo dan harga akan sama, meski untuk backpacker asing seperti kami ini 🙂

Harga tiket cukup bersahabat untuk jarak tempuh sekitar 165 KM, peronang dikenai biaya sebesar 10 dinar 150 milim. 😀

[PhotoBlog] Loh, Terminalnya dalam Kandang :)

image

Akhirnya kami sampai juga di terminal ‘luage’ setelah berjalan sekitar 1 km mulai rumah kami 🙂

Setelah mengamati mobil-mobil yang diparkir menunggu penumpang dan mendengarkan teriakan supir, kami menyadari terminal ini tidak menawarkan perjalanan ke Kayrouan 😦

Akhirnya Aa bertanya pada seorang supir yang sedang bersantai, “Luage menuju Kayrouan di mana ya, Pak?”

“Oh, tidak di sini. Mari saya tunjukkan.”

Dengan bahasa Arab dialek Prancis, dia menjelaskan bahwa kami harus berjalan lagi ke kiri, menyeberangi jembatan, melewati kantor polisi, lurus melewati berbagai pabrik dan si terminal akan kami temukan di sisi kiri.

Wow, jauh juga sepertinya.
Padahal kami sudah berjalan 1 kilo lebih, hehehe. Tidak apa-apa, olahragaaa! 😀

Setelah mengikuti petunjuk si Bapak dan sempat bertanya dua kali lagi dengan seorang polisi dan orang yang sedang menikmati sarapannya, kami akhirnya melihat terminal ini!

Loh, terminalnya seperti kandang ayam, hihi.

Yuk masuuuk! 😀