Serba-Serbi Tukang Panci

Ingin tahu cara termudah mengenali karakter masyarakat lokal sebuah negara? Kunjungi saja pasar tradisional mereka. Di sana akan kita temukan seribu cerita ragam warna πŸ™‚

Sore itu kami berjalan kaki menuju pasar bernama ‘Madrasah’. Terletak di wilayah 10th District, Nasr City. Tujuan kami adalah membeli beberapa perlengkapan dapur.

Tukang Panci 1
“assalamu’alaikum, ‘indak shuhun? Ada piring?”

“wa’alaikum salam. Maugud, syuf guwwah. Ada, silahkan lihat di dalam.”

Sementara dia duduk asik memencet-mencet kalkulator, kami beringsut masuk ke dalam dan melihat-lihat. Cukup lama kami menyisir isi toko, rupanya barang yang kami cari tidak ada.

“musy ‘indak shuhun mi zugaag? Tidak punya piring kaca ya?”

La, enggak ada, semua dari plastik dan aluminium.”

Waduh. Kami masuk lagi ke dalam, mencari alat lain. Panci. Tapi yang kami inginkan tidak kunjung kami temukan. Kami menyerah.

Lau samahta, tahu toko yang jual piring dari kaca yang dekat sini gak?

Tak kami sangka, ia bangkit dan benar-benar menunjukkan tokonya dari jauh.

“Coba lihat di toko situ, di samping tukang ikan bakar.”

Subhanallah, terharu. Dia tak berat menunjukkan toko lain. Betapa lapang dan mulia hatinya membuka jalan rezeki orang. Saya jadi teringat ucapan Imam Hasan Al-Bashri, bahwa beliau tidak pernah merasa khawatir rezekinya disambar orang lain, karena rezeki masing-masing orang telah ditetapkan oleh Allah dan tidak akan pernah tertukar.

“Syukran. Terima kasih kami berpamitan.

Tukang Panci 2
Saat masuk ke tokonya, kami langsung melihat piring kaca. Warnanya coklat muda, ada strip coklat tua melingkari ujungnya.

“Kok mirip piring mamah di Banjar? Jangan-jangan made in Indonesia.” istriku menduga.

Kami mendekat dan membalikkan piring itu. Bener juga. Piring Indonesia bisa sampai sini juga ya.

“wahdah bi kam. Berapa satunya?”

“khamsa geneh. 5 le.”

Kemahalan.

“wahid bi itsnain wa nush mumkin? alasyan dah min baladina. Satu buah 2,5 le aja ya, kan ini produk negara kami.”

Dia mengambil kalkulator. Cukup lama menghitung, lalu dia menjawab,

“La. Khamsah geneh wahid.”

“Ma fisy khashm? Ga ada diskon?”

“ayiz kam wahid? Mau beli berapa buah?”

“ayiz asyrah. Kami mau ambil sepuluh.”

Dia kembali memainkan kalkulatornya. Setelah beberapa saat, dia berujar,

“masyi, arba’ah. Okelah, 4 le per buah.”

Wah, turunnya masih belum signifikan.

Asyrah bi tsalatsin, masyi? 30 Le aj ya, 10 buah.”

Dia berpikir. Lalu melihat kalkulator seperti menghitung-hitung. Entah Bagaimana cara dia menghitung, karena tiba-tiba dia bertanya,

“Hm, kalau 30 le, berarti satu buahnya berapa?”

Glek. Hi hi. Kami tertawa kecil sambil saling pandang. Ternyata dia memikirkan itu. Kami pikir dia bisa menghitung.

Sambil senyum aku paparkan, “30 aja dibagi sepuluh, jadi berapa?”

Wajahnya menyiratkan ekspresi kebingungan. Kami heran. Belum lancar berhitung tapi kok berani berdagang. Urusannya kan hitung-hitungan.

Saat tahu ditawar 3 le, dia menolak. Namun kami tetap bersikukuh pada harga tawaran dari kami. Karena 3 Le menurut kami adalah harga yang wajar. Dia pun bertahan di angka 4 le. Tak ada titik temu, kami pun perlahan beranjak meninggalkan toko sembari menawar. Kalau dia mau, pasti dia akan kembali memanggil kami.

Ta’al. Sini.”

Tuh ‘kan. Baru saja beberapa meter kami melangkah, siΒ  AmuΒ  sudah memanggil. Yes!

Kami kembali ke toko dan memilih-milih sepuluh piring terbaik, hahaha. πŸ™‚ Beres memilih, tak sengaja kami melihat panci besar yang kami inginkan.

Bi kam. Berapa harganya yang ini?”

“55 Le.”

Kami berdiskusi sejenak.

“60 Le aja dengan piring tadi ya?” Kami mulai menawar.

Disodori tawaran kami dia kembali bete dengan hitungan. Ha ha. Gegas mengambil kalkulator lagi dan seperti biasa, wajahnya mengekspresikan kebingungan. Setelah cukup lama menghitung, akhirnya dia menyodorkan hasil hitungannya di kalkulator. Tanpa kata-kata.

“Hah? semua 95 Le?” Kok jadi tambah mahal. Mana piring tadi jadi tak ada diskon sama sekali.

Melihat gelagatnya yang sudah ‘tidak bersahabat’ tidak sudi ditawar, kami sudahi saja transaksi kami dengan membeli piring tanpa panci. Beli pancinya nanti saja di toko lain.

Tukang Panci 3

Dia tidak memiliki toko. Panci yang dia tawarkan hanya diletakkan di emperan. Tapi modelnya bagus, seperti di toko panci sebelumnya, bahkan lebih besar ukurannya.

“Berapa harganya?”

“60 Le.”

“40 aja ya?”

“Gak bisa. Ini model baru.”

Kami menego harga. Hingga akhirnya mentok di 45 Le. Tidak apa-apa, kami pikir. Ukurannya lebih besar dibanding toko kedua tadi. Tapi di tengah transaksi, kami dikagetkan oleh tutup panci yang tidak berbaut. Dia mencarinya kesana kemari namun tetap tidak menemukannya.

“Kamu beli sendiri aja ya bautnya. Tuh di toko listrik sana. Dekat kok. Bilang aja baut untuk tutup panci ini.”

Lha, ini yang jual dia, kok kami yang disuruh beli baut sendiri.

“Kamu aja beli dulu, biar kami tunggu di sini.” Pinta kami.

“Gak bisa. Ini barang daganganku gimana?’

“Biar kami tunggu barangmu di sini, sampai kamu kembali.”

“Kamu saja yang beli. Dekat situ kok.”

Lha kalau dekat, kenapa tidak dia saja yang beli. Wah. Mulai nampak gelagat tidak beres. Siapa yang mau beli barang cacat. Kami juga tidak dapat memastikan apakah baut yang nanti kami beli itu cocok dengan lubang tutup panci ini atau tidak.

Cukup lama kami ‘berdebat’, akhirnya dia nyeletuk sambil meletakkan pancinya. Agak sewot.

“Kalian ini memang gak niat mau beli ya?”

“Lha, kami mau beli, makanya kami nawar.”

“Ya sudah, kamu ambil ini, nanti bautnya beli sendiri di toko.”

Agak kesal, kami bilang, “Kami mau beli panci ini, asal lengkap dengan bautnya. Kalau belum lengkap, kami gak mau beli.”

“khalash, ma’assalamah! Sudahlah kalau begitu, selamat tinggal Pungkas dia ketus.

Masya Allah! Aneh sekali penjual ini.

Istri ikutan kesal, “Amit-amit deh itu penjual. Enak aja beli panci ‘rusak’! Apa susahnya sih dia beli dan mencari baut yang pas!”

Kami menjauh sambil ikutan misuh-misuh, haha πŸ™‚

Tukang Panci 4

Sejumlah toko peralatan dapur sudah kami datangi. Namun panci belum juga kami temukan. Kami sempat berpikir, apa kami kembali saja ke tukang panci ke 2, walaupun harga pancinya agak mahal. Namun agaknya tidak mungkin kembali lagi, karena Kami sudah berjalan terlalu jauh.

Kami sempat putus asa dan memilih untuk pulang saja. Namun kami penasaran dengan lorong pasar sebelah timur. Kami susuri lorong tersebut hingga terhenti di satu toko peralatan dapur yang menarik.

Kami masuk dan melihat barang-barang yang cukup bagus. Petugasnya juga rapi, berjenggot tebal, berjubah, berkacamata, dan terlihat terpelajar. Sepertinya orang ini baik. Tutur katanya lembut dan menyapa kami dengan sopan. Bahasanya fusha. Seperti yang sering saya temui di halaqah majlis ilmu.

Ternyata dia orang asli Luxor, sudah lama membuka toko itu. Anaknya empat. Saat pertama kali diajak mengobrol, dia spontan bercerita soal teman-temannya yang orang Indonesia, Malaysia dan Thailand dan sering bertemu ngaji di mesjid Al-Fatah.

“Hum thayyibun. Mereka orang-orang baik.” Komentar dia soal teman-teman Melayunya.

Yang asik, dia benar-benar mengajak kami mengobrol dengan bahasa Arab fusha. Istriku pun senang, karena ikut memahami obrolan kami.

“Bikam hadza assikkin. Pisau ini berapa harganya?” Si istri mulai bertanya.

“Bi itsanain junaih wannishf. 2,5 le.”

Wah, murah. Made in Japan dan Stainless pula. Si istri langsung beli. Bukan hanya itu, kami membeli beberapa peralatan tambahan lain.

Hal ‘inddaka hallah. jual panci kah?” Kami menjelaskan bentuk dan jenis panci yang kami inginkan. Tapi jawabannya cukup mengecewakan.

“Kalau modelnya seperti itu, ada. Tapi baru datang hari Kamis.”

Wah, dua hari lagi. Hm. Kami berdiskusi dan memutuskan untuk kembali lagi dua hari kemudian.

Alhamdulillah. Kami pun berpamitan sembari mencatat memori tentang si tukang panci yang berhasil memikat konsumen dengan harga miring, kualitasΒ  bagus, dan pelayanan ramah. Akhirnya, di toko inilah pepatah “Pembeli adalah raja” kami rasakan πŸ™‚

Toko dan jenis barang yang dijajakan boleh sama, tapi keterampilan memikat pembeli dengan sikap dan keramahan penjual, tergantung pada tingkat pendidikan dan pergaulan di masyarakat.(!)

Kairo, senja April 2013

Advertisements

7 thoughts on “Serba-Serbi Tukang Panci

  1. ceritanya seruuu;.. salut deh, cerita ttg panci bisa dibuat semenarik ini πŸ™‚
    uni setuju, cara termudah mengenali karakter masyarakat lokal adalah dg datang ke pasar tradisional
    tlsn uni yg lolos audisi buku Love Jurney-nya Fatah kan ttg pasar tradisional di malang, hehe

    • Asiiik, ide tulisan kami disetujui Uniii πŸ™‚

      Masa sih seru Ni?
      Pan cuma tulisan sederhana kok πŸ™‚
      Hanya menceritakan ulanG dan tidak sastrawi, hehehe πŸ˜€

      YanG utama adalah, semua peristiwa menarik terdokumentasikan dulu, nulis ulanG di Indonesia saja nantinya.

    • Iya ya?
      Padahal kami tidak merasa sama loh πŸ˜€

      Eh, tidak kok, kami beli supaya hemat, banyak masak daripada jajan di KFC melulu, laGian jatuhnya lebih sehat πŸ™‚

      Kalau makanan ala Mesir banyak Gak cocoknya sama selera dan lidah Indonesia-ku πŸ˜€

      • Jika saja di tulisan ini tidak ada kata-kata “Istriku pun senang, karena ikut memahami obrolan kami….……” maka aku gak bisa nebak yang nulis siapa ^^

    • Bagaimana rasanya ya?

      Hihihi, seru sih, terutama kalau salah satu malas menuliskan, padahal sudah gilirannya, hehehe *lirik si Aa*.

      Tapi juga bangga pada beliau, karena tulisannya telaten dan bagus-bagus πŸ™‚

      Ajak dulu keliling Indonesia, insyaAllah pelan-pelan bakal suka, bukahjah saling menyenangkan pasangan itu ajaran Nabi kita? πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s