Nama Saya Ridha

Menuju Le Bardo

Beberapa hari lalu (21/05), agenda kami adalah berkunjung  ke museum Le Bardo.

Menurut catatan Wikipedia, museum nasional sarat sejarah ini sudah ada sejak tahun 1882. Le Bardo diambil dari bahasa Spanyol yang artinya taman. Kata beberapa mahasiswa Indonesia yang kami tanyai, mereka tidak terlalu tahu di mana museum tua ini berada. Apalagi jarak apartemen kami ke Le Bardo, tak satupun yang tahu.

Untungnya Kang Dede Ahmad Permana berbaik hati menelepon temannya yang kerap keliling Tunis menggunakan bis. Akhirnya diketahui, bahwa Le Bardo tidak terlalu jauh dari kota. 🙂

Untuk menuju ke sana, kami disarankan naik bis dari halte dekat Perpustakaan Nasional Tunis, sejalur perempatan Universitas Tunis. Hanya beberapa meter dari toko buku mungil, Libraries Medical.

Karena cuaca masih dingin, kami keluar dari rumah agak siang. Berbekal coret-coretan peta digambar tangan karya Kang Dede, kami berjalan mengambil jalur terdekat, melewati beberapa warung pizza, piastre dan croissant. Penasaran dengan makanan khas Tunis, kami mampir dan membeli roti croissant dan malawi dekat kampus Universitas Zaitouna.

Berdasarkan informasi dari kawan mahasiswa, museum tutup jam 6 sore. Kami pun berjalan pelan, berfoto sana-sini, menikmati udara taman seputaran kampus. Makanan yang tadi dibeli pun kami santap di taman.

Kisah di Sebuah Halte

Usai makan dan perut terasa kenyang, kami kembali berjalan kaki sampai halte yang ditunjukkan Kang Dede. Pesan beliau, tradisi di sini, bus akan berhenti menaikkan atau menurunkan penumpang hanya di halte. Di luar halte, jangan harap bis akan berhenti.

Sesampai halte yang berdampingan dengan kios kuning tempat menjual tiket, kami celingak-celinguk mencari petugas. Kenapa tidak ada petugas di dalam kios ini? Kami ingin memastikan rute bis terlebih dahulu. Petugasnya ternyata sedang duduk dan mengobrol dengan anak muda si calon penumpang dekat kursi halte.

“Assalamu’alaikum.” Sembari kusodorkan tangan untuk bersalaman.

“Wa’alaikum salam.”

“Samihni, nahnu nuriidu an nadzhaba ila mathaf le bardo. Hal al-hafilah maujudah min huna?” Maaf, kami ingin pergi ke museum le bardo. Adakah bis dari sini?

Segera dia menjelaskan rute dan nomor bis dengan cepat. Tapi dengan bahasa Prancis. Entah kenapa, sapa dan obrolan pertama saat bertemu orang asing, orang Tunis kerap menggunakan bahasa Prancis. Bonjour! Oui!

Nu siga kitu tea lah… 🙂

“Intadzhir, mumkin billughatil ‘arabiyyah? Li anni lam astathi’ al-kalam bil-faransiyyah!”

Dia tertawa melihat wajah bingung kami. Anak muda di sampingnya ikut tersenyum. Mendengar mereka tertawa, pandangan calon penumpang lain yang berada dekat halte pun sontak tertuju pada kami.

“Irkab al-hafilah raqm mi’ah wa sittata ‘asyar, aw tsalatsah wa tsalatsiin, aw mi’ah wa arba’ah.

Aku mencatat nomor-nomor tersebut dengan angka arab di selembar kertas. 116, 33, dan 104. Lalu memperlihatkannya kepadanya. Dia tersenyum. Anak muda tadi pun ikut tersenyum dan berkomentar,

“Tepat sekali. Dia orang Indonesia sepertinya. Saya sering melihat beberapa mahasiswa mirip orang ini di dekat kampus. Mereka Indonesia.”

Rupaya dia mahasiswa Universitas Tunis. Kampusnya kan tidak jauh dari Zaitouna.

“Bikam tadzkirah?” Harga karcisnya berapa.

“Alf wa tsalatsu mi’ah milim li tadzkiratain.” 2 karcis, 1 dinar 300 milim.

Kami bertransaksi. Lalu karcisnya kupegang untuk kami foto. Bukan hanya memakai kamera digital, namun juga kamera hp. Aksi kami rupanya menarik perhatian orang. Pandangan banyak pasang mata calon penumpang pun tertuju kepada aksi kami ini. Namun kami cuek bebek. He he.

image

Sambil menunggu, aku ajak petugas itu ngobrol.

“Museumnya jauhkah dari sini?”

“Tidak terlalu jauh, jaraknya kurang lebih 5 km. Kalau sore begini, paling-paling sampai sana 20 menit-an.”

“Oh. Ok. Tapi, ngomong-ngomong, museum biasanya tutup jam berapa ya?”

“Jam 4 sore.”

“Iya, jam 4 sore sudah tutup,” timpal calon penumpang.

Kami melirik jam.
Hah? Sekarang sudah jam 15.40. Keburu enggak ya?
Kami saling pandang. Mencoba menghitung jarak dan waktu. Khawatir tidak kesampaian masuk museum. Percuma saja kalau datang ke sana sekadar melihat museum ditutup.

Petugas melihat kami berbincang cukup serius.

Saya mendekatinya.

“Hm, karcis ini berlaku hanya untuk hari ini atau bisa dipakai besok lusa? Soalnya kami berniat mengunjungi museum. Tapi kalau berangkat sekarang, sepertinya museum keburu tutup.”

“Karcis berlaku hanya untuk hari ini saja!”

Waduh, bagaimana ini. Karcis sudah kita beli, tapi tidak terpakai. Apa kita tetap berjalan saja. Kita ikuti arus bus saja. Kemana bus melaju, ke sana kita pergi. Tapi kalau berjalan tanpa tujuan, sayang waktu.

Kami saling pandang. Apakah karcisnya bisa ditukar kembali. Lama kami menebak dan berdiskusi antara bisa ditukar kembali atau tidak. Tiba-tiba petugas berujar,

“Mau di-cancel saja karcisnya? Kalau mau di-cancel, silahkan.” Tiba-tiba dia menyarankan.

Wah, ternyata bisa.

Dia meminta karcis kami. Sementara itu dia masuk mengambil uang di loket dan benar-benar mengembalikan uang kami.

Subhanallah! Petugas baik hati ini tidak basa-basi.

Alhamdulillah karcis kami bisa ditukar dengan uang. Berbeda sama sekali dengan petugas Mesir saat kami ingin menukar karcis untuk mengganti rute karena salah informasi. Padahal transaksi saat itu baru selesai beberapa menit. Si petugas Mesir dengan tegas menolak, “Tidak bisa ditukar!” Walaupun kami berkali-kali menjelaskan salah rute.

Tapi petugas di Tunis ini lain. Dia benar-benar baik.

Dia lalu bertanya, “Kamu shalat enggak?”

Mendengar pertanyaan tersebut, saya teringat paparan Kang Dede Ahmad Permana, bahwa sebelum revolusi Tunis 2 tahun silam, dia kerap ditanyai, ‘Anda muslim yang shalat atau tidak?’ Seakan-akan ada pengotakan antara muslim shalat dan muslim tak shalat. Saat ini pertanyaan yang Kang Dede paparkan itu ternyata masih berlaku dan saya rasakan sendiri.

Calon penumpang yang berusia kira-kira 65 tahunan mendekati kami dan menepis pertanyaan petugas itu.

“Indonesia itu berpenduduk muslim mayoritas, hingga 75% dari total penduduk. Dan mereka pasti menunaikan shalat, shaum, belajar Al-Quran, hadis, dan sebagainya. Tidak usah lagi bertanya shalat apa tidak.”

Setahu saya muslim Indonesia 85%. Saya bergumam.

“Bukan begitu. Maksud saya, saya hanya bertanya, mau shalat Ashar di mesjid atau tidak? Kalau mau, saya akan tunjukkan mesjid jami’ dekat sini. Sekalian saya pun akan shalat. Waktu Ashar hampir tiba.” Petugas itu meluruskan pertanyaannya.

Subhanallah. Kami kembali lirih bertasbih. Betapa ketaatannya menjalankan shalat berbuah manis pada kebaikan hatinya dalam interaksi dengan sesama. Terutama sikapnya sebagai petugas karcis yang humanis.

Saat temannya datang menggantikan shiftnya, dia pun pamit untuk berangkat ke mesjid. Sembari menjawab pertanyaanku soal nama, “Nama saya Ridha.”

Jazakallahu khairan ya Ridha!

image

Salam Romantis dari Tunis.
Rue Ras Darb – Tunis, 23 Mei 2013

Advertisements

7 thoughts on “Nama Saya Ridha

  1. haduuh..jadi pengen ke tunisia…smoga kapan2 terwujud eui mimpi kami, amiin. semoga selalu sehat ya ima..smoga masalah website yang di hack dapat cepat diselesaikan, amiin.

    • InsyaAllah akan sampai, Mbak 🙂 Dari Eropa ke Tunisia tidak jauh loh 🙂 Hanya saja, jika ingin backpack murah meriah seperti kami, sebaiknya belajar bahasa Arab / Perancis dahulu 🙂

      Lalu menginap di rumah salah satu mahasiswa di sini 🙂

      Hostel di sini -sangat sederhana saja- harganya 40 Dinar Tunis (kali 6 ribu perak). Buat kami yang hanya punya budget 1 juta untuk tinggal 2 minggu di Tunisia, ya jelas terasa mahal sekali 😀

      Apalagi sebelumnya budget untuk ‘hidup’ di Tunis justru kesedot untuk membayar visa sangat mahal (1.5 jt/orang) dan denda tiket pesawat sekitar 750 ribu per orang 🙂

      Makanya backpack kami di Tunis menjadi sangat ngirit, Mbak 🙂

  2. Pingback: Temu Bloggers Bandung: Copy Writing Bersama Tokopedia? | honeymoonbackpacker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s