Sepotong Rindu di Pembaringan

Suatu malam, saya berbisik-bisik dengan Aa di pembaringan.

Ya, setiap akan membincangkan sesuatu yang serius, kami merasa harus mengecilkan suara karena kamar tamu ini minim barang, suara akan menggema dan terdengar ke kamar adik-adik mahasiswa di sebelah. πŸ™‚

“Aa, sudah kangen tanah air kah? Semalam aku bermimpi keluarga di Indonesia. Rupanya aku mulai kangen semua yang ada di Indonesia.”

“Iya, Aa juga kangen…”

“Tapi baru dua negara kita jelajahi, bukankah kita ingin menulis buku Honeymoon Backpacker’s Series? Selain itu, aku ingin melihat banyak negara baru bersamamu, A!”

Aa menggenggam tanganku…

“Kamu tahu apa yang sudah kita korbankan untuk semua mimpi ini. Ayo terus berjalan. Habisi semua negara yang ingin kita datangi. Aa juga akan mengejar mimpi meneruskan kuliah di universitas berkualitas dan cepat lulus. Salah satu tujuan backpack kita kan mencari kampus untuk Aa.”

“Iya ya, kita tidak boleh surut. Rindu adalah candu sekaligus cambuk yang dahsyat untuk berbuat yang terbaik bagi kerabat yang kita tinggalkan di tanah air.”

Kami saling merapatkan diri. Memeluk harapan dan mimpi.

Allah…
Tak terasa sudah dua bulan kami menjelajah negara-negaraΒ less famous and less touristsΒ terutama di kalangan anak muda Indonesia.

Tidak ada sponsor, kecuali uluran keramahan dari sahabat-sahabat yang kerap kami temukan di perjalanan atau di socmed. Mereka tulus menawari menginap di rumah mereka. Gratis merebahkan tubuh di kasur mereka, menggunakan air hangat untuk mandi, listrik untuk menyalakan laptop dan kompor gas untuk memasak pengganjal perut kami.

Boleh dibilang kami sudah seperti orang gipsi.
Jika mereka berpindah-pindah hutan, lembah dan desa, maka kami berpindah-pindah kota dan negara sambil menggembol ransel kami.

Sebelum memejamkan mata saya merapal doa dan meneguhkan mimpi, mudahan perjalanan panjang kami melahirkan ribuan inspirasi dan hikmah bagi semesta, ya Rabb!

Advertisements

8 thoughts on “Sepotong Rindu di Pembaringan

  1. Amiiin ya Allaaah…
    Terharu. Sampe berkaca-kaca bacanya.
    Smg Allah mmberi kekuatan lahir dan batin utk teteh dan suami, memudahkan perjalanan, hingga tercapai mimpi dan cita-cita.

    • Amin amin ya Rabb πŸ™‚

      Terima kasih banyak ya Neng, sudah membantu banyak hal untuk kami, sehingga musafir kelana ini bisa berjalan ke banyak tempat dengan biaya sangat minim dan insyaAllah akan memanjangkan langkah kami ke banyak negeri πŸ™‚

    • InsyaAllah sudah ketemu. Kami ingin Aa kuliah di Zaitouna University πŸ™‚ Kampusnya sudah kami kunjungi, kecil dan tenang, nyaman untuk menyelesaikan S2. Berkas a/dimasukkan sekarang, pengumuman keterimanya insyaAllah September πŸ™‚

  2. amiin..amiin..smoga aa nya diterima di universitas impiannya ya ima, amiin. semoga lancar perjalanan lanjutannya ya ima, amiin.

  3. Semoga mimpi dan harapan Ima dan Aa diwujudkanNya. Amiiinn..
    Kalau Aa Risyan jadi kuliah di Zaitouna, paling enggak aku bisa flashpacking ke sana bareng 3 krucil dan 1 bodyguardku hihihi…

    • InsyaAllah jadi ya, Mbak πŸ™‚

      Aku dan Aa sudah memutuskan, Aa melamar kuliah di sini -meski harus biaya sendiri- karena ternyata yang dapat beasiswa DEPAG adalah dosen pegawai negeri (IAIN / STAIN) sedang Aa hanya dosen D2 Swasta.

      Bismillah!
      Bukankah Allah selalu menjamin rizki para penuntut ilmu?

      Mohon doanya ya, Mbak sayang πŸ™‚

      Syukur-syukur jika ada info beasiswa dari swasta atau orang kaya kelebihan rizki, kami sangat tertarik untuk melamar beasiswa tersebut insyaAllah! πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s