Akhirnya Dapat Visa Schengen Setelah Dua Kali Ditolak!

Perjalanan Panjang Pengajuan Visa Schengen

Senja ibukota diguyur hujan seluruh penjuru…
Kami berdua dibalut haru…

Jika mengingat semua yang sudah terjadi, masyaAllah, begitu banyak yang harus kami ‘korbankan’ dan begitu banyak waktu yang kami curahkan, demi mendapatkan selembar visa Schengen yang ditempelkan di paspor kami.

Setelah membatalkan niat nekad mengajukan visa di Konsulat Belgia di Casablanca, Maroko dan memutuskan kembali ke Indonesia demi mengajukan aplikasi visa di tanah air, sejak itu pula kami memeluk harap sekaligus cemas; akankah visa kami di-approved oleh kedutaan Belanda?

Paspor saya memiliki catatan kelam sepulang dari UK awal tahun 2007. Sepanjang 2007 hingga pertengahan 2009 saya mencatat empat ‘kegagalan’; 2 kali penolakan visa UK, 1 kali penolakan visa Schengen melalui pintu Belanda dan 1 kali penolakan visa Schengen melalui pintu Jerman.

Continue reading

Advertisements

Jejak Kebaikan

Siang itu (09/06) saya berjalan sendiri tanpa ditemani istri. Sengaja saya biarkan beristirahat di penginapan, agar kesehatannya tidak drop. Bagaimanapun, kesehatan dan kondisi tubuh jauh lebih penting saat menjelajah. Apalagi perjalanan backpack kami masih panjang.

Topi eiger kesayangan segera saya pasang. Lumayan mengurangi sengatan matahari.

Pelan-pelan saya susuri satu persatu objek menarik terutama sekitar Mesjid Al-Koutubiyya. Mesjid yang didirikan selama rentang waktu sepuluh tahun (1147-1157 M) oleh Arsitek Ya’qub Al-Manshour itu memiliki menara tinggi menjulang sepanjang 80-an meter.

marakesh-kotobiya-alone

Selesai menikmati kemegahannya, saya berjalan menuju Garden El-Koutubiyya. Menghirup segarnya udara di antara pepohonan hijau yang ada di taman. Lalu terus berjalan menuju taman lain di seberang mesjid. Saya susuri terus taman tersebut, hingga ratusan meter, sepertinya  bahkan lebih dari satu kilometer. Menara mesjid tetap terlihat indah dari kejauhan. Terutama dari pintu utama taman dekat hotel Maimona.

marrakesh-(Jejak kebaikan di hati Abd

marrakesh-(jejak kebaikan..)

Saya terus berjalan sembari memotret keindahan beragam objek. Pepohonan hijau yang ditanam rapi, jejeran kursi taman nan klasik, putaran roda andong tua di jalanan, kegagahan kuda Maroko, peta petunjuk kota, hingga onta kepanasan yang di parkir di seberang tenda besar dekat bundaran jalan Bou Rashid.

unta di tengah kota

unta di tengah kota

Setelah berjalan cukup jauh, badan pun tidak kuat lagi menahan teriknya panas matahari yang kian menyengat. Biasanya tubuh selalu memberi isyarat jika sudah tidak kuat. Saya kelelahan, nafas mulai tidak stabil dan pandangan agak kabur saking teriknya siang. Saya memutuskan untuk kembali ke penginapan.

marrakesh-plang alone

Setelah hampir 15 menit berjalan, saya sampai di area Mesjid Al-Koutubiyya kembali. Alhamdulillah. Berarti penginapan sudah dekat. Saya duduk istirahat sejenak. Usai rehat, kaki kembali saya langkahkan. Tak lama setelah itu, dari arah belakang terdengar orang menyapa,

“Assalamu’alaikum. Min jakarta?”

Jujur saya cukup kaget, pertama kali disapa sepanjang backpack kami di Marrakesh.

“Wa’alaikum salam. Bukan. Saya dari Bandung, ibu kota Jawa Barat.”

Dia berperawakan cukup tinggi dibanding saya. Kulitnya putih. Wajahnya terlihat masih sangat muda. Bergamis dan menggendong tas. Bersandal biasa.

“Hal anta thalib huna. Kamu mahasiswa di sini ya?” Dia langsung menodongku dengan satu pertanyaan. Darimana dia menyimpulkan saya mahasiswa ya. Dari wajahkah? Atau gelagat saya?

La, ana min ar-rahhalah. Bukan, saya backpacker. Tapi saya pernah kuliah di Al-Azhar Mesir. Saat ini saya bersama istri sedang backpack, sekalian survey untuk mencari kampus untuk kelanjutan kuliah s2 saya.”

“Kenapa kamu tadi langsung menodongku dengan pertanyaan tentang Jakarta, darimana kamu tahu Jakarta?” Saya penasaran.

“Dulu aku dekat dengan salah satu mahasiswa Indonesia di sini. Ardan namanya. Dia berasal dari Jakarta. Kami sama-sama kuliah di Universitas Qadhi Iyadh. Dia kakak kelasku. Dia pintar sekali. Rajin. Hafalan Al-Qurannya bagus. Saya sama-sama belajar ke Syaikh bareng dia. Kami sering hadir di majlis ilmu.”

Dia mulai menjelaskan pertemanannya dengan Ardan. Rupanya dia begitu terkesan dengan pribadi Ardan.

“Kamu tahu Thifan Pokhan?”

“Hah, kamu tahu beladiri itu juga?” Saya terkaget-kaget, dia sampai tahu jenis beladiri yang populer di kalangan santri sebagian pesantren di Indonesia.

“Ya, saya tahu darinya. Dia mengajariku beberapa latihan pemanasan dan jurus. Beladiri khusus untuk muslim. Dulunya warisan bangsawan Mongol kan? ”

“Ya, betul. Saya dulu juga hampir empat tahun berlatih Thifan Pokhan di Pondok, sering kali sang guru bercerita sejarah, konsep, fungsi gerakan, dan macam jenis beladiri ini.”

Lalu kami saling berkenalan. Keakraban mulai terasa. Menghangatkan hati.

Ana Hakeem. Saya Hakim.”

Nama yang sering saya gunakan saat pertama kali berkenalan dengan orang Arab, sejak saya masih di Mesir  dulu. Tujuannya hanya untuk memudahkannya menyebut dan mengingat saya. Sebab sering kali saya menyebutkan nama depan saya dalam perkenalan pertama dengan orang Arab, perlu beberapa kali mengulangi penyebutannya. Persis belajar mengeja. Parahnya, setelah benar mengeja nama Risyan, selang beberapa saat, dia kesusahan mengingatnya kembali.

Ana Abdurrahman.

Dia tercatat sebagai Mahasiswa s1 tahun pertama di Universitas Qadhi Iyadh, Marrakesh. Kendati masih tahun pertama, dia mengaku sudah hafal Al-Quran dengan tiga ragam Qira’at (cara baca); riwayat Hafsh dari Ashim, Qalun dari Nafi’, dan Warsy dari Nafi’.

Subhanallah.
Saya berdecak kagum.

Masih muda sudah hafal Al-Quran dengan tiga Qiraat.

Saya bisa menebak seperti apa baiknya  pribadi Ardan. Toh teman baiknya saja Hafizh (penghafal al-Qur’an) dan ramah seperti ini.

Selaras dengan pepatah Arab yang intinya menjelaskan, untuk mengetahui pribadi orang, lihat dan selami saja pribadi teman dekatnya (lingkungan). Sebab orang cenderung dekat dan nyaman dengan pribadi serupa.

Kami juga membincang banyak hal, mulai matan tajwid Al-Jazari, matan Ushul fiqh, Alfiyah Ibnu Malik, perbukuan di Mesir, letak perbedaan bacaan hamzah dalam Qira’at Hafsh dan Warsy atau Qalun, ragam madzhab Fiqih di dunia Islam, dan sebagainya. Dipungkas dengan bertukar nomor telepon, saling mencatat kontak di dunia maya dan tentu saja berfoto.

marrakesh-(Jejak kebaikan di hati Abdurrahman)

“Sekarang Ardan kuliah di Universitas Ummul Qura Mekkah. Dia diterima tahun ajaran lalu. Saya merasa kehilangan, namun sekaligus senang karena dia memperoleh anugrah besar itu. Saya yakin dia bisa belajar lebih banyak dan memanfaatkan kesempatan tersebut di sana.”

Saya lihat sorot matanya menerawang, seakan mengenang kebaikan-kebaikan Ardan. Rupanya pribadi Ardan benar-benar menorehkan kesan mendalam di hati Abdurrahman.

Dia telah menanam jejak kebaikan di Marrakesh. Sekaligus menjadi duta bagi Indonesia, bahwa orang Indonesia sholeh dan baik peranggainya.

Sosok Ardan -yang belum pernah saya jumpai ini telah berhasil menancapkan memori indah di hati siapapun yang mengenalnya. Termasuk Abdurrahman Al-Maghribi (!)

Rabat, 15 Juni 2013

Leaving Tunis for Casablanca!

image

image

Beberapa foto ini menggambarkan kamar tamu yang disulap menjadi kamar tidur kami, juga sesekali menjadi ruang makan bersama dan yang terakhir adalah wujud kamar kami dari luar selama di Tunis 🙂

Sebelum tiba di Tunisia, melalui komunikasi via sms dan message di Facebook, saya dan Aa ditawari menginap di rumah beberapa mahasiswa.

Kami tentu saja sangat senang.
Alhamdulilah!
Artinya kami bisa menghemat budget backpack selama di Tunisia, minimal kala berada di kota Tunis.

Sejak awal, kami tidak pernah berharap terlalu banyak. Bagaimanapun Kang Dede sudah menjelaskan, rumah yang akan kami huni adalah rumah tua. Rumah yang dibangun di ‘old medina’ atau kota tua.

“Don’t expect to much” adalah salah satu pengingat terbaik kami kala backpack ‘menggelandang’ seperti ini 🙂

Ingin gratisan?

Jangan berharap disediakan kamar yang mewah, kasur yang empuk dan wangi, kamar mandi yang harum dan alat-alat rumah tangga yang lengkap!

Ingat Ima, kalian tidak tidur beratap langit beralas sleeping bag seperti backpacker-backpacker bule ‘gendheng’ itu saja sudah sangat patut disyukuri!

Don’t expect too much itu obat meringankan hati!

Setelah sampai di rumah ‘tua’ ini, kami khususnya saya, takjub!

Rumah ini tidak setua yang saya bayangkan!

Kamar tidur kami adalah kamar tamu luas dan bersih yang disulap; ada kasur empuk besar cukup untuk guling-gulingan, ada dua bantal di kamar yang wangi plus heater untuk menghangatkan diri. Meski akhirnya hanya kami nyalakan dua hari saja, karena gas heaternya habis, hehe 😀

Ah, ini lebih dari cukup!

Kami merasa terharu, diberi kamar tidur yang luas dan nyaman. Terima kasih adik-adik mahasiswa S1 Zaituna University.

Kamar mandi -meski sharing untuk 7 orang- juga bersih dan dilengkapi air panas. Saya memang sempat menggigil kedinginan kala mandi pagi di suatu masa, tapi adik-adik langsung memanggil tukang gas dan memperbaiki kerusakan aliran air panasnya.

Dapurnya apalagi, jangan tanya!
Saya langsung riang berkarya!
Pempek, batagor, nasi Hadramaut dan donat sudah tercipta di dapur ini 🙂

Jangan tanya pelangi kebersamaan yang tercipta di antara kami 🙂

Hari demi hari saya mengenal sosok Zulfikar, Ridho, Deden, Irham, Taufiq, Cece, Hasan, Syihab, Zain dan Faiz.

Masing-masing sholeh dan memiliki keunikan karakter, membuat saya belajar. Ya, kami belajar pada keguyuban mereka;
– Memasak bergiliran,
– Belanja bergiliran,
– Makan dalam satu nampan besar, biasanya dibagi per 3 atau 4 orang,

Saya mengenal Ridho dan Taufiq yang jago membuat tauge, tahu dan tempe!

Bahkan mereka senang mengerubungi saya, membantu mencuci alat memasak, atau sekadar memotong sayur-mayur.

Belum lagi sosok Syihab yang ceria nyaris ceriwis, membuat dapur meriah di antara wangi bumbu berlimpah! 🙂

Saya juga mengagumi penghafal al-Qur’an bernama Zain, adik satu ini santun sekali kala membantu saya di dapur, rendah hati dan bertutur penuh cahaya! 🙂

Saya juga sempat berbincang tentang kehidupan dengan Cece. Kamu hebat, Dik!
Aku belajar banyak pada keteguhanmu menjaga diri dari barang-barang haram kala peer group-mu sebegitu bengalnya menikmati!

Ah, belasan hari di rumah Makalzaim yang hangat membuat saya belajar arti persaudaraan, kelapangan hati dan ketulusan!

Harta yang teramat mahal di Indonesia saat ini, kutemukan di Makalzaim yang riang bercahaya.

Saya dan Aa sangat yakin, kami akan merindukan Makalzaim, bahkan saat jurnal ini dituliskan, saya ingin menangis mengingat kebaikan adik-adik semua 😦

We love you all! 🙂