Leaving Tunis for Casablanca!

image

image

Beberapa foto ini menggambarkan kamar tamu yang disulap menjadi kamar tidur kami, juga sesekali menjadi ruang makan bersama dan yang terakhir adalah wujud kamar kami dari luar selama di Tunis 🙂

Sebelum tiba di Tunisia, melalui komunikasi via sms dan message di Facebook, saya dan Aa ditawari menginap di rumah beberapa mahasiswa.

Kami tentu saja sangat senang.
Alhamdulilah!
Artinya kami bisa menghemat budget backpack selama di Tunisia, minimal kala berada di kota Tunis.

Sejak awal, kami tidak pernah berharap terlalu banyak. Bagaimanapun Kang Dede sudah menjelaskan, rumah yang akan kami huni adalah rumah tua. Rumah yang dibangun di ‘old medina’ atau kota tua.

“Don’t expect to much” adalah salah satu pengingat terbaik kami kala backpack ‘menggelandang’ seperti ini 🙂

Ingin gratisan?

Jangan berharap disediakan kamar yang mewah, kasur yang empuk dan wangi, kamar mandi yang harum dan alat-alat rumah tangga yang lengkap!

Ingat Ima, kalian tidak tidur beratap langit beralas sleeping bag seperti backpacker-backpacker bule ‘gendheng’ itu saja sudah sangat patut disyukuri!

Don’t expect too much itu obat meringankan hati!

Setelah sampai di rumah ‘tua’ ini, kami khususnya saya, takjub!

Rumah ini tidak setua yang saya bayangkan!

Kamar tidur kami adalah kamar tamu luas dan bersih yang disulap; ada kasur empuk besar cukup untuk guling-gulingan, ada dua bantal di kamar yang wangi plus heater untuk menghangatkan diri. Meski akhirnya hanya kami nyalakan dua hari saja, karena gas heaternya habis, hehe 😀

Ah, ini lebih dari cukup!

Kami merasa terharu, diberi kamar tidur yang luas dan nyaman. Terima kasih adik-adik mahasiswa S1 Zaituna University.

Kamar mandi -meski sharing untuk 7 orang- juga bersih dan dilengkapi air panas. Saya memang sempat menggigil kedinginan kala mandi pagi di suatu masa, tapi adik-adik langsung memanggil tukang gas dan memperbaiki kerusakan aliran air panasnya.

Dapurnya apalagi, jangan tanya!
Saya langsung riang berkarya!
Pempek, batagor, nasi Hadramaut dan donat sudah tercipta di dapur ini 🙂

Jangan tanya pelangi kebersamaan yang tercipta di antara kami 🙂

Hari demi hari saya mengenal sosok Zulfikar, Ridho, Deden, Irham, Taufiq, Cece, Hasan, Syihab, Zain dan Faiz.

Masing-masing sholeh dan memiliki keunikan karakter, membuat saya belajar. Ya, kami belajar pada keguyuban mereka;
– Memasak bergiliran,
– Belanja bergiliran,
– Makan dalam satu nampan besar, biasanya dibagi per 3 atau 4 orang,

Saya mengenal Ridho dan Taufiq yang jago membuat tauge, tahu dan tempe!

Bahkan mereka senang mengerubungi saya, membantu mencuci alat memasak, atau sekadar memotong sayur-mayur.

Belum lagi sosok Syihab yang ceria nyaris ceriwis, membuat dapur meriah di antara wangi bumbu berlimpah! 🙂

Saya juga mengagumi penghafal al-Qur’an bernama Zain, adik satu ini santun sekali kala membantu saya di dapur, rendah hati dan bertutur penuh cahaya! 🙂

Saya juga sempat berbincang tentang kehidupan dengan Cece. Kamu hebat, Dik!
Aku belajar banyak pada keteguhanmu menjaga diri dari barang-barang haram kala peer group-mu sebegitu bengalnya menikmati!

Ah, belasan hari di rumah Makalzaim yang hangat membuat saya belajar arti persaudaraan, kelapangan hati dan ketulusan!

Harta yang teramat mahal di Indonesia saat ini, kutemukan di Makalzaim yang riang bercahaya.

Saya dan Aa sangat yakin, kami akan merindukan Makalzaim, bahkan saat jurnal ini dituliskan, saya ingin menangis mengingat kebaikan adik-adik semua 😦

We love you all! 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Leaving Tunis for Casablanca!

  1. Slamat jalan teh ima dan aa risyan. Maaf gak ikut ke bandara. Smg Allah mmudahkan jln kalian dn mmberi kekuatan lahir batin.
    Ilalliqaaa… Fii amaanillaah

  2. Ah, Teh Ima memang jagonya kalo bertutur kata, memuji-muji kami, para mahasiswa Indonesia di Tunis.

    Tentang apa yang Teh Ima sebut sebagai “kebaikan”, sebenarnya itu adalah kewajiban kami, bahkan telah menjadi tradisi kami di Tunis, secara turun temurun. Tradisi utk selalu menghormati dan memuliakan siapapun warga satu negeri yang datang bertandang ke negeri ini.

    Tradisi itu telah “diajarkan’ oleh para senior kami di sini, termasuk Bpk/Ibu yg terhormat : keluarga besar KBRI Tunis.

    Aa Risyan yang semalem menghadiri acara pengajian WNI di KBRI, tentu telah menyaksikan sendiri, bagaimana keakraban dan harmoni itu terbentuk begitu kuat di antara kami. Keluarga besar KBRI – termasuk Bpk Dubes, para staf dan keluarga, duduk bersama kami, selama lebih 2 jam mengikuti pengajian, dilanjutkan ramah tamah penuh persahabatan.

    Ukhuwwah Islamiyyah, Basyariyah dan Wathaniyah, amat kami rasakan di negeri kecil ini !

    Maka, berterima kasihlah kepada Allah yang telah menganugerahkan semua itu. Salam manis dari Tunis

  3. Pingback: 21 Srikandi: Lolos Seleksi Administrasi | honeymoonbackpacker

  4. Pingback: 21 Srikandi: Mencoba Hal Baru | honeymoonbackpacker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s