Honeymoon Backpacking: Semarakkan Ramadhan!

Betapa Ajaibnya!

Entah kenapa, beberapa hari terakhir ini saya merasa kesulitan mengekspresikan perasaan dan menuangkannya ke dalam tulisan. Buncah bahagia dan rasa ajaib yang memenuhi dada menggelembung di ruang jiwa, hingga sesak mendesak rasa, namun tak jua mampu saya ungkap seketika.

Perjalanan Honeymoon Backpacking kali ini terasa luar biasa ajaibnya!

Mulai mendarat di Brussels International Airport saja dada saya sudah diliputi haru luar biasa, hingga akhirnya saling berpelukan dengan Kak L. Saya menyaksi tetes airmata yang menetes di sudut mata sipit beliau dan saya meraba dada saya sendiri, indahnya ukhuwah dalam iman dan Islam ini. Maha Suci Ia!

Alhamdulillah, pada akhirnya Allah izinkan saya kembali ke negara ini, setelah terakhir mengunjungi Belgia di tahun 2005 bersama seorang kawan baik yaitu dokter Eva Suarthana yang saat ini menetap di Canada, “Hai Mbak sayang, how’s life there?” 🙂

Betapa…

Kehidupan di dunia -bagi orang yang beriman pada qadha dan qadar-nya tentu meyakini- bahwa semua peristiwa yang terjadi adalah serangkaian perjalanan takdir, berkelindan dengan kekuatan ikhtiar dan doa kita kepadaNya.

Setelah dua kali penolakan visa UK dan dua kali penolakan Schengen visa (Belanda dan Jerman) berturut-turut sepanjang 2007-2008-2009 saya memutuskan menunda menuntaskan mimpi (meneruskan studi ke jenjang yang lebih tinggi) dan memilih menerima takdirNya.

Saya memutuskan berdamai…

Saya memang sempat menangis beberapa masa, sempat curhat kepada beberapa kakak terbaik saya, sempat memprotes takdirNya, bahkan sempat terluka pada pahitnya kehidupan yang ditimpakan di pundak saya

Nyaris 6 tahun susah-payah saya membujuk hati yang luka, agar bisa menerima semua. Termasuk harus kehilangan masa depan (meneruskan ke jenjang S3 di UK karena professor saya sudah menunggu di sana), melepaskan beasiswa yang belum tuntas dan bahkan akhirnya menerima pil pahit kehidupan, jeram luka di sekujur hati atas pengkhianatan sebuah hati.

Betapa saat itu kehidupan adalah siksa untuk saya, jika kematian bukanlah kemurkaan di sisiNya, saya hendak berdoa, “Ya Allah, sudahi saja usia hamba di dunia.”

Betapa…
Betapa terbatasnya jangkauan akal manusia atas rencanaNya!

6 tahun berlalu dan drama kehidupan bergulir untuk saya.

2010 adalah tahun paling luka dan hina untuk saya.

Proses hukum yang melelahkan lahir batin harus saya hadiri demi sebuah ketenangan bernama akhir sebuah pertalian. Kisah detilnya bisa teman-teman baca di buku terbaru yang diterbitkan oleh Mozaik Publisher, berjudul My Wedding Story, di buku itu saya menjadi penulis tamu mereka.

My Wedding Story Cover

2011 seorang blogger tiba-tiba menyapa lewat penyeranta, “Assalaamu’alaikum Imazahra. Saya N, pembaca setia blogmu di http://www.imazahra.multiply.com -blog ini sudah almarhum, ditutup paksa oleh pemilik bisnis- dan ingin menawarimu hadiah.”

“Wa’alaikum salam, Mbak siapa? Mbak juga blogger di Multiply kah?”

“Iya, saya N, ID saya bla bla bla. Mbak Ima kenapa akhir-akhir ini terlihat sangat bersedih? Biasanya blog Mbak isinya penuh semangat, berbagi hal-hal bermanfaat atau diari renungan sarat hikmah. Tapi kenapa sekarang hanya berisi puisi-puisi sangat dark dan dipenuhi aura luka?”

“Terima kasih sudah membaca blog sederhana saya. Saya bukan siapa-siapa, terima kasih. Jujur saya sedang diuji dengan banyak musibah, mungkin maksud Allah agar saya naik kelas dalam kehidupan fana ini. Terima kasih sudah peduli pada saya, Mbak N.”

“Mbak Ima, jika Mbak berkenan, izinkan saya memberikan hadiah untuk Mbak.”

“Duh, saya tidak perlu diberi hadiah apapun, Mbak. Ujian adalah niscaya untuk manusia.”

“Menurut saya, hadiah ini akan membawa Mbak terbang ke rumahNya, berdoa langsung di rumahNya.”

Saya tercekat! Maksudnya?
Saya terdiam untuk jeda sangat lama…

“Mbak Ima, saya ingin mengajak Mbak Ima berumrah ke tanah suciNya. Saya dan ibu saya ingin mengenal Mbak Ima lebih jauh. Saya ingin Mbak berdoa langsung di rumahNya, mudahan Allah angkat segala kesedihan di hati Mbak Ima dan sepulang dari sana Mbak siap menjalani kehidupan yang baru dan lebih tegar.”

Seketika airmata saya bergulir tanpa bisa saya cegah!
Saya ini bukan siapa-siapa, akan tetapi Ia memutuskan memanggil saya ke rumahNya yang teramat mulia!

Labbaika Allahumma labbaik, labbaik kalaa syariika laka labbaik. Terima kasih Mbak, saya terima hadiah darimu InsyaAllah, jazakillah khairul jazaa…”

Sisanya adalah percakapan teknis di mana kami akan bertemu untuk pertama kali, pertanyaan seputar paspor dan hal-hal terkait persiapan umrah lainnya.

***
PanggilanNya

Hadiah berupa umrah telah ditunaikan di awal Maret 2010.

Saya berdoa sepuasnya di Multazam, Hijr Ismail, Maqom Ibrahim yang terletak di Masjidil Haram, tak lupa saya puaskan hati menyapa kekasihNya sepanjang masa, Nabi Muhammad SAW yang teramat mulia di Raudhah, dalam lingkungan Masjid Nabawi.

Sulit dilukiskan perasaan saya saat itu, haru dan bahagia berpagut menjadi satu. Sepuluh hari yang indah saya nikmati di rumahNya.

***

Salah Satu Doa DijawabNya!

Saya sempat berdoa di rumahNya, “Ya Allah, jika Engkau izinkan aku untuk menikah, jodohkan untukku seorang laki-laki lembut dan sholeh. Tangannya tidak pernah terangkat untuk menampar wajahku dan kakinya ringan melangkah untuk beribadah kepadaMu. Cukupkanlah rasa cintaNya kepadamu menjadi pengikat cinta yang abadi di antara kami berdua. Jika aku boleh meminta, izinkan aku bertemu dengan lelaki yang memiliki jiwa mengembara dan mencintai perjalanan di bumi luasMu sepertiku.”

Betapa…

Pada akhirnya airmata di masa lalu berganti dengan senyuman dan leganya dada di masa kini.

Saya dipertemukanNya melalui perjalanan solo backpack ke Mesir, Jordan dan Maroko di tahun 2010 (setelah backpack keliling Eropa di tahun 2005, backpack keliling Amerika di tahun 2006 dan backpack keliling Uni Emirates Arab di tahun yang sama) dengan belahan jiwa terbaik menurutNya.

Beliau paling sholeh di mata saya, paling santun dalam tutur katanya, paling welas asih terhadap istrinya, paling meneladani keindahan akhlak Nabinya, paling pandai menasehati istrinya, paling pandai merangkai kata-kata berisi kala berceramah maupun menuliskan isi pikirannya dan lembut hati mendukung pilihan-pilihan hidup saya. Dialah seorang suami tercinta, yang menjadi backpacking partner terbaik saya saat ini.

Apalagi yang ingin saya minta? 🙂

Maha Suci Ia,
dengan segala rencana-rencana terbaikNya.

***

Ramadhan Kami di Belgia!

Tak terasa, saya dan Aa sudah lima hari tinggal di rumah tuan rumah sholeh dan baik hati yang biasa kami panggil Kak Tiar. Rumah beliau terletak di pinggiran propinsi Gent, 40 km dari kota Brussels, Ibukota Belgia.

Kota tempat kami tinggal bernama Bambrugge, Erpe Mere. Kota ini sangat hijau, tenang dan asri. Saya dan Aa sama-sama sepakat, “Yang, kita seperti menerima hadiah indah berupa Writing in Residence di sudut Eropa ya. Alhamdulillah…, artinya naskah Honeymoon Backpacking in Egypt harus tuntas ditulis di kota ini, A!” :p

Belgia adalah negara mungil yang berbatasan langsung dengan Belanda, Jerman dan Prancis, sehingga bahasa yang digunakan di negara ini gado-gado sedemikian rupa 😉 Setiap hari -bahkan di rumah host kami sekalipun- saya dan Aa biasa menyimak bahasa Inggris, Prancis, Jerman dan Belanda mengudara bersamaan. Ya, anak-anaknya Kak Lely rata-rata fasih berbahasa Inggris sekaligus Belanda, masih ditambah celetukan Jerman dan sedikit Prancis di sana-sini, masyaAllah lenturnya kemampuan bahasa mereka 😉

Aa sempat berujar, “Tinggal tiga bulan di sini sepertinya Aa pun akan bisa berbahasa Inggris.”

Ssst, suami saya memang fasih berbahasa Arab -yang super susah itu- tapi entah kenapa bahasa Inggris beliau masih pasif, hehehe…

Saat catatan ini dituliskan, hari ini adalah Ramadhan ke 13 sekaligus hari ke 5 kami ‘backpack‘ di benua Eropa 😉

Backpack‘ kali ini terasa sangat mewah untuk kami.

Biasanya kami menumpang menginap di rumah sederhana di salah adik mahasiswa yang kami kenal baik, atau menginap di rumah penduduk lokal yang mungkin jatuh kasihan melihat kami menggendong ransel kesana kemari, hehe… Akan tetapi kali ini sangat berbeda.

Alhamdulillah kami dimuliakan begitu rupa 🙂

Kak Tiar dan Kak Lely mengundang kami menginap di rumah indah mereka berdua. Kami diletakkan di lantai 2 yang nyaman. Kamar kami bersisian dengan kamar mandi mewah bak hotel bintang 5. Alhamdulillah.

Saking udiknya saya terhadap perabotan rumah tangga mereka, di hari pertama hingga hari ketiga saya harus berkali-kali memanggil Kak Lely, agar membantu saya menyalakan kompor induksi dari kaca yang ada di dapur mereka, hehehe…

Saya juga menikmati materi-materi ceramah yang disampaikan Aa. Banyak hal baru yang saya dapatkan dari tausiyah beliau. Saya merayu Aa sekuat daya agar menuliskan isi tausiyah-nya di blog ini, agar pembaca blog ini juga merasakan spirit merayakan Ramadhan kami 🙂

Di hari Jum’at (19 Juli 2013) Aa duduk takzim di aula KBRI Tervuren dan dengan tenang menyampaikan materi, “Keutamaan al-Qur’an”, kemudian disusul materi tentang, “Adab Membaca al-Qur’an”.

Keesokan paginya, masih dalam forum ‘Pesantren Keluarga Ramadhan 1434 H‘ yang digagas Kak Andi Yudha -pencipta kucing MIO kesayangan adik-adik pembaca- Aa membedah materi, “Nabi sebagai Pribadi Qur’ani (Kajian Sirah Nabawiyyah).”

Santri Family KPMI BELGIA 2013

Siang hari Pesantren Keluarga ditutup dengan keriaan khas Kak Andi, berupa pembagian piagam penghargaan satu-persatu untuk seluruh keluarga Indonesia maupun keluarga campuran. Saya sempat berinteraksi dengan keluarga Muslim Belgia-Indonesia dan keluarga Muslim Singapura, they are totally adorable families!

Kak Tiar gegas memacu mobil kembali ke Bambrugge, agar kami semua bisa lelap cukup nyenyak beberapa jam, sebelum sore harinya kembali lagi ke KBRI di Brussels untuk buka puasa bersama.

Aa Alhamdulillah kembali berbagi di hadapan 150an audiens -ada wajah Indonesia, Singapura, Malaysia, Maroko, Belgia, Prancis dan lain-lain- membahas banyak ayat yang berfokus pada, “Urgensi Mengingat Kematian.”

Senja itu mata saya basah. Betapa dekat kematian akan tetapi di saat yang sama betapa sibuk kita mengejar dunia dan melupakan kehidupan akhirat yang kekal selamanya.

“Kullu nafsin dzaaiqatul mauut.” Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.

Menurut hemat saya, Aa pandai mengelaborasi kematian. Rupanya tema ini sudah beliau kuasai dengan baik. 60 menit mengurai tema ini, Aa tampak rileks dalam menyampaikan ayat-ayat dan hadis terkait. Aa bahkan sempat menyisipkan pengendur ketegangan yang relevan dan audiens tertawa karenanya 😉

***

Ramadhan Kami Berjalan, Belajar dan Berbagi

Senin hingga Kamis insyaAllah kami di rumah Kak L saja.

Aa asik menghabiskan jam dengan membaca tafsir yang terdapat dalam Maktabah Syamilah, sedikit bermain musik -di kamar kami ada organ- dan mengulang hafalan beliau. Sedang saya menyicil membuat pempek yang dipesan untuk kelompok pengajian di kota Hessel, Alhamdulillah ada pesanan 35 buah kapal selam.Thanks a bunch to Kakak L :p

Sesuai tulisan saya terdahulu, saya memang berniat memproduksi pempek untuk menambah-nambah biaya hidup kami sehari-hari selama di Eropa. Kami juga baru membeli tiket pesawat one way Jakarta-Brussels saja (sesuai dana yang ada di tabungan pribadi kami) dan belum mampu membeli tiket pesawat kembali ke tanah air.

Jika Aa sedang belajar me-Muhammad-kan dirinya, membaktikan dirinya untuk agama, maka saya ingin meng-Khadijah-kan diri saya, mendukung suami di jalan dakwahNya, insyaAllah.

Mohon doakan sepasang pengantin kelana ini, menghidupkan Ramadhan sekuat daya upaya kami, agar berkah perjalanan ini. Amin ya Rabb!

***

See You This Friday!

Teman-teman perempuan dan adik-adik remaja putri yang tinggal di seputaran Belgia, perbatasan Perancis, Belanda dan Jerman, yuk kopi darat dan hidupkan majelis ilmu dengan mengaji bersama kami.

Ini poster acaranya ya:

Image