Mulai dari Keluarga!

Ini salah satu kesan dan pengalaman kami selama backpacking di Belgia.

Pertama kali saya dan istri tinggal di keluarga baru kami di rumah Kak L, saya terharu dan dibuat takjub saat mereka menerapkan salah satu ajaran Rasulullah Saw. yang paling sederhana, yaitu adab bersin. Pada saat sebagian orang lupa, atau bahkan belum mengetahui cara menyukuri nikmat bersin ini, mereka mempraktikkan ajaran Nabi dengan sangat baik 🙂

Kala itu, si kecil Ali (6 th) mendadak bersin. Spontan ia mengucapkan, alhamdulillah, dengan cukup keras hingga terdengar yang lain. Kakak-kakaknya yang mendengarkan ucapan hamdalah segera menyahut, yarhamukallah. Si kecil kembali membalas, yahdikumullah.

Image

Saya berpose di depan Islamic Centre Brussels
bersama istri, Ali dan Athif.

Di saat yang lain, kakaknya Ali bersin, pun ia mengucapkan alhamdulillah pertanda syukur. Yang mendengar seraya menyahut, yarhamukallah. Dia kembali menjawab, yahdikumullah.

Subhanallah. Murah bersyukur, murah berbalas doa. Indah sekali kan?!

Saya yakin doa-mendoakan tersebut sudah menjadi tradisi di keluarga ini. Sebab beberapa hari hingga sebulan kami tinggal bersama mereka, sunnah tersebut terus dijalankan secara spontan. Alhamdulillah.

Jika hal yang (seolah-olah) ringan ini bisa dibiasakan, insya Allah hal lain yang lebih ‘berat’ akan mudah dipraktekkan.

Memang, diantara cara efektif  menanamkan nilai atau ajaran Islam, menghidupkan sunnah Rasulullah Saw. dan menyuburkan kebaikan, adalah mulai menerapkan perlahan dari ruang lingkup terkecil dan terdekat. Mulai dari diri sendiri, lalu keluarga. Terutama istri/suami dan anak-anak tercinta.

Hal ini selaras dengan salah satu ungkapan Arab yang menyebutkan, ‘Ibda’ binafsika!”

“Mulailah (melakukan kebaikan) dari diri kamu sendiri.”

Atau ungkapan lain, “Ashlih nafsaka, yushlih lakannasu.”

“Perbaiki dirimu, niscaya orang akan ikut memperbaiki diri (dengan mengikuti caramu).”

***

Ingin mengetahui hakikat nikmat bersin ini, berikut kutipan tulisan lama saya di Republika terkait dengan bersin; nikmat yang kerap terlupa.

Anas bin Malik RA bercerita, ada dua orang bersin di dekat Nabi Muhammad SAW. Beliau mendoakan (tasymit) salah seorang dari keduanya, namun tidak mendoakan seorang yang lain. Ditanyakan alasannya, Rasul menjawab, “Sebab, orang yang satu mengucapkan ‘alhamdulillah’, sedangkan yang satu lagi tidak membacanya.” (HR Bukhari).

Jadi, orang yang bersin dan tidak membaca alhamdulillah, tidak layak didoakan karena tidak syukur nikmat. Padahal, bersin termasuk salah satu nikmat dari Allah SWT yang manfaatnya sangat besar. Menurut Ibnul Qayyim, bersin dapat mengeluarkan uap dari dalam otak yang jika dibiarkan akan berbahaya. (Zadul Ma’ad 2: 438).

Bersin merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah masuknya zat asing ke dalam tubuh. Ketika bersin, udara kotor keluar dengan keras melalui hidung dan mulut berkecepatan sekitar 161 km/jam.

Bahkan, Dr Michael Roizen, wellness officer Cleveland clinics menegaskan, bersin merupakan kegiatan yang positif karena berfungsi membersihkan faring (rongga antara hidung, mulut, dan tenggorakan). Dalam Syarh Riyadhus Shalihin, Syekh Utsaimin mengutarakan, bersin dapat menggiatkan otak dan meringankan tubuh.

Untuk itulah, setelah bersin, sejatinya membaca hamdalah sebagai bukti syukur kepada Allah SWT. Rasul bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bersin, ucapkan ‘alhamdulillah’ (segala pujian bagi Allah). Dan hendaklah orang yang mendengarnya mendoakan dengan ucapan yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Dan orang yang bersih tadi membaca doa yahdikumullahu wa yushlihu balakum (semoga Allah memberikan hidayah dan memperbaiki keadaanmu).” (HR Bukhari).

Hamdalah merupakan doa paling utama. (Lihat hadis riwayat Tirmidzi). Imam Al-Sindi menyatakan, hamdalah mengandung pengertian dua jenis (fungsi) doa, yaitu menyanjung (tsana`) dan mengingat Allah SWT (zikir); serta mengajukan permohonan (thalab) agar nikmat ditambah.

Padahal, dengan berzikir saja, Allah menjamin akan memberikan lebih dari yang diminta. “Siapa orang yang lebih sibuk mengingat-Ku (berzikir) daripada meminta sesuatu kepada-Ku, ia akan Aku berikan sesuatu melebihi yang orang-orang mohon.” (Hadis Qudsi).

Lain bersin, lain pula menguap (tatsâ`ub berarti layu dan malas). Menguap terjadi karena minimnya oksigen dalam tubuh. Biasanya, orang menguap saat kondisi tubuh lelah, malas, bosan, atau mengantuk. Karenanya, Nabi SAW bersabda, “Menguap itu dari setan. Oleh karenanya, jika menguap, tahanlah sebisa mungkin. Sebab, jika orang menguap hingga terucap ‘ha’, setan tertawa menyaksikannya.” (HR Bukhari).

Setan tertawa gembira karena menyukai kemalasan. Sedangkan Islam sangat anti dengan kemalasan dan menganjurkan umatnya untuk giat beramal. Nabi SAW pun selalu berlindung dari sifat malas (kasal). Wallahu a’lam.

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/06/29/122135-nikmat-yang-kerap-terlupakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s