Kereta Kehidupan

Kereta Kehidupan

Bangun tidur pagi ini seluruh badan terasa remuk redam, hehehe… Tidak menyangka, perjalanan menggunakan Quer-durchs-Land-Ticket selama 8 jam-an kemarin meninggalkan lelah berlapis 🙂

Bagaimana tidak, sejak awal itinerary rencana kepulangan kami ke Belgia terus berubah karena banyak hal, akhirnya kami memutuskan go show saja setelah Aa menunaikan kesempatan berceramah di Hamburg sebanyak dua kali, Sabtu sore dan Ahad sore lalu (21-22 September 2013.

Walhasil alternatif transportasi paling murah meriah jika mendadak adalah “Quer-durchs-Land-Ticket” yang sudah pernah kami pakai pada tanggal 😀

Ya sudah, mari memanfaatkan tiket terusan seluruh wilayah Jerman itu lagi. 🙂

***

Rupanya, karena sudah sekali memakai “Quer-durchs-Land-Ticket” dari Nurenberg menuju Hamburg, excitement-nya tidak terasa lagi, hehehe, betapa cepat bosannya manusia dan betapa fananya ‘kesenangan di dunia’! 🙂

Apalagi kereta yang kami naiki berkali-kali tidak sebagus kereta-kereta di hari Sabtu. Jarak tempuhnya juga tidak selama hari Sabtu. Yang terasa adalah, “Kok sebentar-sebentar turun naik kereta ya?!”

Mulai pukul 11. 54 kami turun naik Metronom sebanyak dua kali, S1 sekali, RE tiga kali, Eurogio Bahn sekali, dan diajak naik bis dalam kota dua kali.

Artinya -setelah naik ferry menyeberangi sungai Elbe yang dalam dan luas itu- kami bergonta-ganti moda transportasi sebanyak 9 kali, dengan waktu transfer terpendek hanya 4 menit –saya masih sempat ngeprint jadual perjalanan yang kami pilih menuju Aachen dan membeli tiketnya sekaligus!

Rasanya takjub pada keteraturan dan sinkronisasi jadual kereta api yang ada di Jerman dan Eropa pada umumnya 😉

Di sisi lain, salah satu kereta kami (jurusan Hannover – Minden menggunakan train S1) terlambat 3 menit! Padahal waktu transfer kami hanya lima menit dan harus turun naik tangga (tidak ada lift dan eskalator sama sekali) yang rata-rata menghabiskan 2 menit!

Karena si S1 telat tiba dan mengorupsi waktu transfer kami sebanyak 3 menit lamanya, sedang kereta jurusan Minden – Hamm pergi tepat waktu, 2 menit sisa yang kami miliki akhirnya tidak cukup untuk berlari turun dan naik tangga karena harus berpindah peron lalu gegas masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm tersebut.

Mau tidak mau kami ditinggal si train RE 10626 tersebut, karena waktu transfer kami hanya 2 menit saja dan jelas tidak keburu.

Untung kami tidak sedang akan naik pesawat atau mengejar sebuah janji teramat penting dan harus tepat waktu, seperti Sabtu lalu!

Saat itu saya dan Aa saling berpandangan menyaksikan fenomena ‘mengesankan’ ini.

Betapa waktu di negeri Eropa dihitung dari menit ke menit sedemikian rigid.

Telat 2-3 menit saja artinya siap ketinggalan transportasi berikutnya, mengeluarkan uang lebih banyak atau kehilangan kesempatan meeting ‘raksasa’. Mungkin saja, karena Aa sempat menyaksi dua orang bule yang saling bertangisan kala mereka juga tidak bisa masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm.

Dalam kereta saya sempat terpekur…

“Bukankah kehidupan di dunia ini sama seperti naik kereta api?

Jurusan yang kita pilih menentukan kebahagiaan yang akan kita kejar atau mau kita raih. Kadang kita harus berganti-ganti kereta api, atau malah mencobanya satu demi satu, karena kekurang-pahaman kita akan tujuan hidup yang ingin kita raih.

Lalu ada saatnya kita harus terhenti beberapa saat karena ketinggalan ‘kereta tujuan hidup’ akibat kurang fokusnya kita.

Tak apa, perjalanan kehidupan memang selalu jatuh-bangun. Akan tetapi ada baiknya segera fokus kembali, untuk mengejar ‘kereta tujuan berikutnya’, agar tak terus-menerus naik ‘kereta’ dan energi habis untuk berpindah-pindah tujuan perjalanan.

Dan sadarkah kita, tujuan hidup kita kerap disetir penghambaan berlebih pada dunia?

Kita kerap naik ‘kereta materialistik’ terus-menerus tanpa henti, dan lupa bahwa kebahagiaan hakiki kerap tak bisa kita kejar dengan menaiki ‘kereta materialistik’ karena bahagia hakiki sejatinya terletak dalam hati, bukan pada benda duniawi.

Saya tertegun berkali-kali, sudahkah saya memilih ‘kereta terbaik’ saya untuk menuju surgaNya yang tidak murah itu?

Sudahkah saya memilih ‘jurusan terbaik’ menuju ridhaNya?”

Advertisements

Apa itu “Schönes-Wochenende-Ticket”?

Apa Itu “Schönes-Wochenende-Ticket”?

Pyuuuh!

Boleh tarik napas dulu ya, soalnya saya deg-degan dan memutuskan tidak tidur lagi setelah terbangun pukul 3 dinihari tadi.

Kemarin siang kami gagal meluncur menuju Hamburg Hbf gara-gara keteledoran perhitungan waktu ala Imazahra -jangan ditiru!

Walhasil kami tidak keburu mengejar kereta (sambung-menyambung menuju Hamburg Hbf). Semestinya kami sudah tiba di Hamburg kemarin malam, karena Sabtu (21 September) sore ini Aa Risyan Nurhakim, Lc. harus mengisi ceramah Ibu-Ibu Hamburg di salah satu masjid di kota Hamburg.

Padahal kemarin siang kami sudah berpamitan pada host di Nurenberg dan akhirnya dengan malu hati meminta izin mengetuk pintu rumah mereka kembali, hiks…

Mudahan Allah memberikan rahmat, ampunan, rizki yang halal dan berkah untuk keluarga baik hati ini 🙂

***

Setelah sekian banyak usulan, rencana dan ide yang dipikirkan dan didengar dari beberapa pihak yang lebih berpengalaman terkait urusan pertransportasian di negara Jerman…,

termasuk sempat terpikir ikut ‘Mit Fahr‘ (menumpang mobil orang Jerman), sayang jadual yang tersedia di website tidak ada yang pas untuk kami…,

juga menimbang tidak bisa digunakannya kartu kredit Indonesia (bank Mandiri) d website yang menawarkan ‘Deustchland mit der Bahn entdecken‘ yaitu penawaran tiket kereta cepat ICE seharga 26 euro -ini murah banget menurut ukuran transportasi Jerman- untuk jarak tempuh hanya 4 jam Nurenberg -> Jerman (sayang sekali sebetulnya kami tidak bisa membeli tiket ini secara online karena keterbatasan kartu kredit Indonesia!),

Bismillah,
insyaAllah hari ini kami memutuskan meluncur menggunakan weekend travel ticket, di Jerman biasa disebut “Schönes-Wochenende-Ticket.”

(dalam iklan di website Deustchland Bahn disebut seperti ini: Travel all over Germany for just EUR 42.00!

Tiket di atas sebetulnya berlaku maksimal untuk 5 orang, loh!
Asik sekali ya 🙂
Sangat ideal untuk para student backpackers yang kepingin jalan-jalan menjelajah Jerman kala weekend 😉

Bismillah,
Perjalanan kali ini total akan menempuh 9 jam turun naik kereta api sebanyak 4 kali.

Kata si Aa lebih nyaman naik kereta estafet daripada harus menumpang di mobil orang Jerman saat dinihari dengan segala situasi tak terduga!  Bisa saja si driver ini mabuk, nyetir ugal-ugalan dstnya, hehehe.

Maklum, kami belum pernah mencoba bepergian dengan menumpang mobil ala ‘Mit Fahr’ ini 😀
Ada yang sudah pengalaman?
Share di sini dong! ;D

Kami sudah pernah menggunakan weekend ticket ala Jerman ini dan jatuh hati. Menurut ukuran bule Jerman kereta yang dipakai kelas ekonomi, tapi menurut kami yang biasa naik kereta api kelas ‘kambing’ di Mesir atau di Indonesia, ini mah eksekutif pisan! Toilet super bersih, ada colokan listrik, gerbong luas dan nyaman. 😀

Ini rincian jam keberangkatan kereta dan platform-nya:

– Nürnberg Hbf to Jena Paradies dep 06:42 4

– Jena Paradies to Naumburg(Saale)Hbf dep 10:10 2

– Naumburg(Saale)Hbf to Halle(Saale)Hbf dep 10:54 1

– Halle(Saale)Hbf to Uelzen dep 11:44 8

– Uelzen Hamburg Hbf dep 15:01 103

Pyuuuh!
Lima kali transfer dan ada satu kali transfer dengan waktu transfer kereta hanya 11 menit saja, yaitu rute sta. Jena Paradies ke Naumburg Hbf!
Kami harus hati-hati sekali untuk rute kedua ini!

Teman, doakan niat baik Aa untuk berbagi ilmu agama dan keislaman selama dua hari di Hamburg berjalan lancar ya 🙂

Saya selalu yakin, doa tulus teman-teman memudahkan perjalanan kami selama 6 bulan terakhir dan sudah sejauh ini 🙂

Salam sayang dari Nurenberg! 🙂

Cerah Ceria di Praha

Alhamdulillah, we’ve just arrived safely in Nurenberg, after one day fun-trip to beautiful Prague!

6 jam kami selama di Praha beraktifitas apa saja?

– Versi kami artinya seru membaca peta,

– lari-lari karena kaki yang pendek, hahaha,

– bertanya beberapa kali,

– terpana-pana pada cantiknya Praha,

– jepret-jepret,

– jalan cepat,

– ketemu orang Mesir yang menjadi owner sebuah moneychanger 0% commission, lalu sempat kenalan dan akhirnya kami PD menukar uang 10 euro saja dan menghasilkan 257 Kroner Cez, yeay! Tentu saja sepasang backpackers ini senang! Soalnya sempat tanya-tanya mau nukar di sebuah kantor cabang sebuah bank dan ditolak mentah-mentah jika kurang dari 20 euro.

– Asik menemukan sekaligus mengamati ‘fenomena’ orang Mesir yang bekerja / memiliki money changer! Fakta ini kami temukan setelah kami sempat intip-intip banyak money changer lainnya di seantero old town, hehehe… Tampaknya imigran Mesir di Prague kaya-kaya ya 😀

Alhamdulillah Praha bersinar cerah menyambut kami, bukan main nikmatnya berjemur di bawah sinar matahari!

Puas tak puas rasanya menjelajah kota cantik di Eropa Timur ini. 

Puas karena banyak yang dilihat, tapi tak puas karena 6 jam terasa sebentar, padahal matahari bersinar, setelah 9 hari jarang melihat matahari di Jerman sini 😀

Alhamdulillah, Republik Ceko menjadi negara ke 31 yang akhirnya bisa saya kunjungi tahun ini. 

Terima kasih kami haturkan pada Allah dan supporter kami kali ini, yaitu Teh Dewi Firyani Ringgana dan Mas Sis baik hati 

Jazakumullah khairul jazaa! 

~saatnya tetirah, setelah 4 jam + 4 jam naik bis IC DB PP Nurenberg-Prague

‘Officially’ Ambruk di Nürenberg!

Hari ini fisik saya officially ambruk!
Tapi insyaAllah tidak dengan spirit dan mental backpack saya! 😀

Hari ini pula tepat dua bulan kami berkelana;
Hanya berdua,
mengukuhkan rasa,
mengeratkan sepasang jiwa,
dalam suka duka perjalanan sederhana,
‘menantang’ materialistik dan kapitalisnya bumi Eropa,
sekaligus memunguti kearifan-kearifan lokal yang kami jumpai di sepanjang perjalanan ini.

Berjalan ke banyak tempat, belajar dengan menyaksikan langsung dan berbagi, terutama mendampingi suami berceramah ke berbagai negara yang sudah kami datangi, menimbulkan kesan mendalam untuk diri dhaif ini.

Hari ini,
di atas kasur yang disediakan host kami,
saya memutuskan merefleksi, sementara Aa menunaikan Magrib di Islamische Gemeinde Nürenberg, sekitar 10 menit saja dari rumah host kami 🙂

***

Memanfaatkan Quer-durchs-Land-Ticket

Setelah berhari-hari dihajar dingin, hujan rintik-rintik dan angin kencang di kota Düren, dan masih terus didampingi rintik kala menjelajahi kota wisata cantik bernama Würzburg kemarin sore, tubuh saya menyerah! 🙂

Ya, kami sekadar mampir sebentar mumpung ada tiket terusan seluruh wilayah Jerman bernama, Quer-durchs-Land-Ticket untuk dua orang seharga 50 euro. Tiket sakti ini bisa digunakan sepuasnya mulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 03.00 dinihari.

Mau mendatangi wilayah Jerman Utara (misalnya Hamburg) lalu mampir-mampir dan meneruskan naik kereta hingga ke Jerman Selatan pun bisa, hanya saja tampaknya fisik dan waktu akan menjadi kendala. Jerman tidak semungil Belgia atau Belanda! 🙂

Sebagai backpackers yang tak lagi belia, kami tetap berupaya memanfaatkan semaksimal mungkin tiket terusan yang kami beli tersebut 🙂

Setelah turun naik kereta api kelas 2 -jujur menurut saya jauh lebih nyaman, bersih dan mewah dibandingkan kereta eksekutif di Indonesia!- kami memutuskan melihat-lihat kota Würzburg dari dekat.

Ide mampir ke kota ini muncul sejak beberapa hari lalu, saat saya, Aa, Mas Sis dan Mbak Irawati Prillia membincang rute kami.

Saya sempat bertanya,

“Mbak, adakah kota wisata cantik dan bersejarah yang bisa kami mampiri sepanjang rute turun naik kereta menuju Nurenberg.”

Mbak I seketika menjawab, “Tentu saja ada. Mampir saja ke Würzburg. Old town-nya tidak terlalu jauh dari stasiun Würzburg!”

Saat di Würzburg, ternyata kami hanya sanggup mendatangi Residenz Platz -itupun dari luar saja- karena 30 menit lagi istana megah yang dilindungi UNESCO dan dinobatkan sebagai salah satu world heritage sejak 2012 ini sudah akan ditutup, tentu tanggung membayar 7.5 euro / orang tapi tidak bisa maksimal menikmati alias terburu-buru.

Kami sempat berkeinginan kuat menembus angin dan rintik hujan setelah berteduh di halte ATM -supaya dapat kehangatan heater!- tapi rencana ini tidak diizinkan Allah. Hujan justru turun semakin deras, mengguyur kota jelita ini.

Sudahlah…
Belum saatnya.

Kami banyak habiskan waktu -sembari menunggu kereta pukul 18:42 menuju Nürenberg -dengan keluar masuk supermarket ALDI dan beberapa toko sepatu.

Yup, Aa akhirnya memutuskan menyerah kalah backpack hanya memakai sandal gunung Eiger miliknya. Maaf sebut merek, kuat soalnya dan ini bukan iklan berbayar loh! 🙂

Sejak di Bandung saya sudah meminta beliau untuk membawa sepatu kets miliknya supaya hangat di musim hujan dan autumn yang mulai menyapa Eropa, tapi Aa keukeuh mau membawa satu alas kaki saja.

Kemarin kami menemukan sepatu kulit nan gagah seharga 15 euro saja, awal mulanya seharga 94.99 euro, kemudian sale beberapa kali, nampak dari tempelan harga berlapis-lapis hingga harga terakhir itu 🙂

Berkat si sepatu ini baru ini (dan izin Allah tentu saja) si Aa masih bertahan dan tidak menyusul ambruk seperti saya.

Berabe nantinya, tiket one day trip to Praha sudah dibelikan host segala! 🙂

***

Doakan Saya Sembuh Secepatnya Ya! 🙂

Sejak tadi pagi kerjaan saya hanya tiduran saja, sarapan dan kemudian berjuang untuk tidur, bangun untuk makan siang diteruskan minum obat penahan radang tenggorokan (untung saya membawa, sebab dokter di sini susah sekali memberikan resep!) dan tidur kembali.

Sampai malu hati karena tidak membantu host sama sekali kala memasak makan siang :p

Jujur saya akui, lasagna dan sup sapi buatan beliau enak dan menghangatkan tubuh ringkih ini.

“Terima kasih banyak Teh Dewi sayang, Allah yang membalas ya!” 😀

Mohon doakan saya segera dipulihkanNya kembali.

Esok kami berencana menjelajah Nürenberg, kota tua yang dikelilingi benteng perkasa dan jika ada kondisi saya fit sempurna, Aa nampaknya ingin sekali ke München Arena, katanya berkereta hanya 1.5 jam saja.

Mudahan saya sehat kembali.

“Ayo Ima, kembali ke kasur. Jangan menulis terus!” 😀

Diminta Bicara di Frankfurt International Book Fair?

Saya harus menarik napas dalam.
Berpikir berulang kali.
Apakah akan menuliskan bagian ini?

Setelah saya timbang-timbang, rasanya peristiwa yang baru saja terjadi kemarin sangat patut dimasukkan dalam blog ini, mengingat betapa ‘ajaib’nya apa yang sudah terjadi.

Bukankah dramatisnya sebuah peristiwa layak dicatat dalam sejarah kehidupan kita?
Bismillah, saya memutuskan menuliskan ringkasannya di sini 🙂

Tiga hari lalu saya mendadak dihubungi salah satu penerbit raksasa di tanah air.

Panjang lebar mereka menjelaskan, intinya saya diminta menjadi narasumber di Frankfurt International Book Fair, karena tahun ini penerbit tersebut akan mewakili Indonesia membuka stand di sana.

Saya sendiri diminta berbagi tentang trend ‘travel writing’ dan ‘travel books’ yang menjamur dan laku keras di tanah air, sekaligus sedikit bercerita tentang perjalanan panjang www.honeymoonbackpacker.wordpress.com.

Asumsi penerbit ini adalah, kami akan bersedia menyerahkan naskah #HoneymoonBackpackers kepada mereka, karena kami sudah diundang di forum internasional nan cool itu.

Jangan tanya lagi perasaan kami, tentu bungah hati ini 🙂
Kami hanyalah sepasang pengelana biasa, tapi ternyata diminta mewakili mereka -karena saat ini sedang berada di Eropa.

Tentu saja saya dan Aa menyambut gembira tawaran mereka. 

Berhari-hari hujan dan angin kencang menari di kota Duren dimana kami tinggal saat ini, namun kelabunya Duren tak mampu menggelapi hati kami yang berbunga. 

Setelah dua kali dikirimi message dan negosiasi dana transportasi -tentu saja tidak besar yang kami minta, hanya meminta diganti uang kereta api pulang pergi Brussels -> Frankfut sebesar 200 euro saja- eh kemarin perwakilan penerbit besar tersebut menyatakan membatalkan meminta kami menjadi pembicara mewakili mereka.

Hehehe…
Tidak apa.
Artinya belum rizki kami tampil sebagai pembicara di Frankfurt International Book Fair yang bergengsi itu.

Toh, sudah lama saya tidak menyerahkan naskah baru ke penerbit mayor tersebut, terakhir saya menyerahkan naskah adalah tahun 2010. 

Ada beberapa hal yang masih kami timbang dan timang kenapa belum memutuskan menyerahkan naskah #HoneymoonBackpackers ke penerbit tersebut, tidak perlu saya jelaskan di sini, karena bagaimanapun, dua buku saya pernah mereka terbitkan berturut-turut. 🙂

Kecewa tentu saja menyala.
Sakit hati insyaAllah diupayakan untuk tidak berkobar.
Mudahan Allah mengganti dengan yang lebih baik, insyaAllah!

“Bismillah, one day we will speak in front of international book forum ya, A. That time will come InsyaAllah!”

Jum’atan di Eropa

Berikut sedikit cuplikan catatan harian saya. Sisa cerita yang lebih unik dan menarik, insya Allah akan banyak diungkap di buku kami. Amin

1. Amsterdam

Mesjid terdekat dengan host kami saat itu adalah mesjid Pakistan. Mesjidnya cukup megah. Dua menaranya tinggi menjulang. Bentuk bangunannya sangat mencolok sebagai mesjid. Lokasinya cukup dekat dengan stasiun kereta (setelah diemen stasiun, saya lupa namanya). Tidak lebih dari 5 stasiun jika ditempuh dari stasiun Arena Ajax Amsterdam.

Saat jumatan menjelang, saya gegas berjalan menuju mesjid. Azan jumat diperkirakan lima belas menit lagi. Tidak tahu kenapa, saya ingin merasakan nuansa ibadah di mesjid tersebut.

Saat masuk pintu masuk lantai bawah mesjid, jamaah ternyata belum terlalu banyak. Terlihat dari jejeran sandal-sepatu yang masih lengang. Demikian pula pas masuk ruang wudhu, al-mutawadhdhi’un masih terhitung jari.

Usai berwudhu, saya naik ke lantai dua. Ruang shalat ada di lantai 2 dan 3. Saya beranjak masuk ke lantai 2 yang belum penuh. Jamaah masih duduk bertebaran. Saya perhatikan, baru tersusun 4 shaf rapi. Jamaah yang lain, ada yang bersandar memenuhi dinding pinggir dan tiang-tiang. Sementara orangtua dan para jompo, mereka duduk di kursi paling belakang.

Saya tunaikan shalat sunnah dua rakaat tahiyyatul masjid terlebih dahulu. Usai shalat, saya coba memandang imam yang tengah berdiri di atas mimbar. Khatibnya adalah Syaikh Pakistan berjenggot tebal dan bersorban rapi. Subhanallah. Aura syaikh-nya terasa sampai sini. Pakaiannya rapi dan bersih. Senyumnya tulus dan sorot matanya tajam.

Ceramahnya pasti menarik. Tebak saya.

Awalnya saya mendengar petikan ayat Quran dan hadis. Alhamdulillah, subhanallah. Fasih sekali. Namun setelah itu pembicaraan yang kudengar sepertinya hanya rangkaian kalimat Urdu. Kereheh teteteh deserkede “(&$=&)(&)(&)( untung bukan meregehese cap jahe tea geuning. he he..

Hm, saya nikmati saja fenomena keragamanan bahasa di dunia ini. Subhanallah. Sembari mencoba merangkai sendiri arah pembicaraan beliau dari sejumlah ayat dan hadis yang beliau sitir. Termasuk nama-nama tempat bersejarah di Mekkah atau Madinah.

Beliau membawakan ayat, wa innaka la’ala khuluqin azhim. (sesungguhnya engkau Muhammad ada di atas akhlaq yang mulia) (QS Al-Qalam: 4) Lalu hadis, kana khuluquhul quran (akhlaq Nabi adalah Al-Quran)

Disitir juga kisah beliau saat masuk berdakwah ke negeri Thaif lalu diusir dan dilempari penduduk setempat. Nabi malah menjawab, ighfir lahum fainnahum qaumun la ya’lamun (ampuni mereka, karena mereka belum tahu risalah yang kubawa ini)

Alhamdulillah, saya terbantu memahami arah materi beliau.

2. Düren, Germany.

Lain di Amsterdam, lain di salah satu kota Jerman wilayah Barat ini. Jumatan tadi saya diajak ke Mesjid Turki. Jaraknya tidak jauh dari Stockheim. Tepatnya di dekat sekolah St. Johannes kalau tidak salah. Nama jalannya saya lupa. Biasanya untuk mengingat itu, saya potret pake hp atau saya catat di memo 😦

Berharap saya bisa mengikuti arah tema sang khatib dari ayat-ayat atau hadis yang khatib baca, kali ini tidak berhasil kecuali berusaha meneruskan bahasan khatib yang berbahasa Turki itu ke pikiran saya. He he.

Khatib memulai khutbah dengan menyitir ayat 11 dalam surat Al-Baqarah. Wa idza qiila lahum la tufsidu fil ardhi qalu innama nahnu mushlihun…(Dan jika dikatakan kepada mereka (orang munafik), jangan berbuat kerusakan di muka bumi ini. Mereka menyangkal, kami ini adalah orang yang berbuat perbaikan)

Hm, cukup susah meneruskan arah tema ini, mengingat dari awal sampai akhir, belum ada ayat atau hadis arabic yang beliau sitir lagi. Kecuali di pertengahan, barakallahu li walakum. Dan di akhir,…innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsani…dst.

Fuuih!

Rupanya hal ini menjadi PR buat saya, juga buat para khatib, untuk lebih banyak menguasai banyak bahasa di dunia ini. Salah satu tujuannya adalah supaya inti ajaran Islam lebih merata difahami dengan baik oleh segenap masyarakat dunia. Tapi, jangan lupa sisipkan selalu ayat-ayat atau hadis dalam teks arabicnya, agar dalam kondisi seperti dua kejadian saya, orang seperti saya bisa mengikuti pesan-pesan taushiah jumat-nya.

3. Brussel, Belgia

Berbekal pengalaman tersebut, saya mengambil pelajaran berharga, bahwa kendati mayoritas jamaah jumat-nya berbahasa Indonesia, saya tetap menyelipkan bacaan teks asli Al-Quran, hadis, atau ungkapan-ungkapan Arabic lainnya saat menyampaikan pesan ilahi dalam khutbah saya di Brussel. Sebab mungkin saja ada satu dua orang makmum asal maroko-tunis-atau tamu negara lain yang mengalami kejadian yang mirip dengan kasus saya. he he

Wallahu A’lam 

‘Declare Experience’ di Skavsta Airport!

Alhamdulillah…

Kami sudah menikmati semalam di Stockholm, di apartemen nyaman salah satu member Muslimah Backpacker yang sedang mendampingi suaminya post-doctoral fellow di Karolinska Institute, Stockholm.

Mereka sekeluarga sangat baik dan hangat dalam menerima pengantin pengelana ini 🙂

Sekali lagi terima kasih pada Kak L yang sudah memediasi silaturahmi ini.

***

Selama enam bulan backpack, kami sangat menghindari salah masuk pintu ‘declare’, pintu ‘nothing do declare’ adalah pintu pertama menuju dunia luar dan menjejak negara baru yang kami datangi!

Akan tetapi, mendarat di bandara Skavsta menjadi pengalaman pertama seumur hidup saya dan Aa, dipanggil (nyaris dengan ekspresi memaksa) untuk masuk ke dalam ruangan ‘declare’!

Kronologinya bermula seperti ini, saat keluar dari pesawat ryanair, saya dan Aa langsung menuju toilet, sudah tidak tahan ingin menunaikan hajat pribadi dan rupanya kami sudah menjadi ‘interview target’ si Pak polisi. 🙂

Dua polisi rupanya sudah berdiri sekian lama menunggu kami -saya sempat memerhatikan gesture mereka saat mencuri liat ke arah saya, kala saya menunggui ransel-ransel kami- dan segera menanyai kami, “Where do you come from?”

“We’re from Indonesia.”

“Please enter this room, we need to check you.”

Saya sempat ingin bertanya, “Ada apa dan kenapa kami harus memasuki ruang ‘declare’?” Akan tetapi insting saya menuntun secara alami untuk tidak membantah.

Bapak polisi berkumis dan tampak paling senior menanyakan beberapa hal, yang paling saya ingat adalah pertanyaan di bawah ini,

“How long you’ll be here?”

“Only a week. We’re invited by our friend who is working in Karolinska Intitute to spend holiday in your country.”

“Can I see your visa?”

“Ya, we have our visa to enter your country. Let me show you.”

Si Bapak nampak kesulitan menemukan visa Schengen karena paspor kami mulai dipenuhi stempel visa aneka negara yang sudah kami kunjungi selama enam bulan terakhir 🙂

“Aha, you traveled alot.”

Jantung saya berdetak kencang dan saya memutuskan mulai nyerocos.

“Yup, we need to travel alot, since we’re asked by one big publisher in Indonesia to write several books about several countries, including your country. It’s kind of travel book!

Young people in Indonesia now love to travel to other countries.

Besides, my husband was invited by Indonesian Embassy in Belgium to give some speechs during holy Ramadhan and after that we decided to backpack to several european countries.”

Saya berupaya tetap tersenyum meski mulai merasa gugup, hehehe…

Si bapak dengan seksama membuka-buka visa Mesir, Tunisia dan Maroko!

Oh my, itu semua adalah daftar negara yang sekarang berada dalam situasi politik tak menentu, Arab Spring yang mulai kelabu.

Bisa-bisa kami dikira demonstran garis keras yang berniat kabur ke negara Swedia, hehehe…

“Can I borrow your passport? I need to check it further.”

“Of course!”

Si Bapak membawa paspor kami dan masuk ke ruangan komputer. Sepertinya dia akan mengecek secara online.

Aduh!
Ketegangan terasa semakin memuncak!
Di saat yang sama, waktu terasa melambat!

Untuk membunuh senyap, saya ingin memotret suasana dan beberapa tulisan di ruangan ini, tapi Aa justru menahan saya untuk tidak menyalakan kamera.

“Gak apa-apa A, candid saja, diam-diam. Aku cuma mau memotret tulisan di tembok di depan kita ini kok!”

“Gak usah, nanti urusan bisa panjang!”

Di saat kami berdebat pelan-pelan, si Bapak muncul dengan senyum ramahnya.

“Here you’re, thank you for being cooperative with us. We’re really sorry for this inconvenience, let me accompany you to get out from here”, sembari menyunggingkan senyum dan menyerahkan paspor kami.

Saya menyesal tidak nekad mengambil foto kala peristiwa interogasi terjadi, padahal saya tidak selalu dikawal polisi lain.

Ada tiga polisi di ruangan ‘declare’ dan mereka semua sedang sibuk membongkar tas beberapa penumpang kulit hitam yang juga mendarat bersama kami.

Alhamdulillah tas kami tidak diminta untuk mereka bongkar, padahal saya menyaksikan bagaimana telitinya mereka membongkar masing-masing koper dua penumpang lainnya.

Si Bapak polisi paling senior mempersilahkan kami untuk keluar. Beliau menemani kami hingga mencapai area ‘Arrival Hall’ dan berujar,

“Enjoy your holiday in our country.”

Saya memutuskan bertanya, “May I ask you something?”

“Of course, you can!”

“Mmm, why you chosed us to be eximined and interrogated?” Saya menyunggingkan senyuman juga, mencoba sesopan mungkin.

“We really sorry for this, we have to do this randomly because Mr. Obama is coming.”

“Oh (what?!)  Ok, I see…” dan saya menyimpan pertanyaan lanjutan karena tidak ingin memperpanjang persoalan.

Saya memutuskan meneruskan pertanyaan lanjutan dalam hati, “Why moslem, why Muslimah like me?”

***

Senyum lega saya kala akhirnya diizinkan keluar dari bandara Skavsta!
Sungguh tidak lucu jika akhirnya kami disuruh kembali ke Indonesia hanya gara-gara Mr. Obama berkunjung ke Swedia kan 🙂

P1490542