Jum’atan di Eropa

Berikut sedikit cuplikan catatan harian saya. Sisa cerita yang lebih unik dan menarik, insya Allah akan banyak diungkap di buku kami. Amin

1. Amsterdam

Mesjid terdekat dengan host kami saat itu adalah mesjid Pakistan. Mesjidnya cukup megah. Dua menaranya tinggi menjulang. Bentuk bangunannya sangat mencolok sebagai mesjid. Lokasinya cukup dekat dengan stasiun kereta (setelah diemen stasiun, saya lupa namanya). Tidak lebih dari 5 stasiun jika ditempuh dari stasiun Arena Ajax Amsterdam.

Saat jumatan menjelang, saya gegas berjalan menuju mesjid. Azan jumat diperkirakan lima belas menit lagi. Tidak tahu kenapa, saya ingin merasakan nuansa ibadah di mesjid tersebut.

Saat masuk pintu masuk lantai bawah mesjid, jamaah ternyata belum terlalu banyak. Terlihat dari jejeran sandal-sepatu yang masih lengang. Demikian pula pas masuk ruang wudhu, al-mutawadhdhi’un masih terhitung jari.

Usai berwudhu, saya naik ke lantai dua. Ruang shalat ada di lantai 2 dan 3. Saya beranjak masuk ke lantai 2 yang belum penuh. Jamaah masih duduk bertebaran. Saya perhatikan, baru tersusun 4 shaf rapi. Jamaah yang lain, ada yang bersandar memenuhi dinding pinggir dan tiang-tiang. Sementara orangtua dan para jompo, mereka duduk di kursi paling belakang.

Saya tunaikan shalat sunnah dua rakaat tahiyyatul masjid terlebih dahulu. Usai shalat, saya coba memandang imam yang tengah berdiri di atas mimbar. Khatibnya adalah Syaikh Pakistan berjenggot tebal dan bersorban rapi. Subhanallah. Aura syaikh-nya terasa sampai sini. Pakaiannya rapi dan bersih. Senyumnya tulus dan sorot matanya tajam.

Ceramahnya pasti menarik. Tebak saya.

Awalnya saya mendengar petikan ayat Quran dan hadis. Alhamdulillah, subhanallah. Fasih sekali. Namun setelah itu pembicaraan yang kudengar sepertinya hanya rangkaian kalimat Urdu. Kereheh teteteh deserkede “(&$=&)(&)(&)( untung bukan meregehese cap jahe tea geuning. he he..

Hm, saya nikmati saja fenomena keragamanan bahasa di dunia ini. Subhanallah. Sembari mencoba merangkai sendiri arah pembicaraan beliau dari sejumlah ayat dan hadis yang beliau sitir. Termasuk nama-nama tempat bersejarah di Mekkah atau Madinah.

Beliau membawakan ayat, wa innaka la’ala khuluqin azhim. (sesungguhnya engkau Muhammad ada di atas akhlaq yang mulia) (QS Al-Qalam: 4) Lalu hadis, kana khuluquhul quran (akhlaq Nabi adalah Al-Quran)

Disitir juga kisah beliau saat masuk berdakwah ke negeri Thaif lalu diusir dan dilempari penduduk setempat. Nabi malah menjawab, ighfir lahum fainnahum qaumun la ya’lamun (ampuni mereka, karena mereka belum tahu risalah yang kubawa ini)

Alhamdulillah, saya terbantu memahami arah materi beliau.

2. Düren, Germany.

Lain di Amsterdam, lain di salah satu kota Jerman wilayah Barat ini. Jumatan tadi saya diajak ke Mesjid Turki. Jaraknya tidak jauh dari Stockheim. Tepatnya di dekat sekolah St. Johannes kalau tidak salah. Nama jalannya saya lupa. Biasanya untuk mengingat itu, saya potret pake hp atau saya catat di memo 😦

Berharap saya bisa mengikuti arah tema sang khatib dari ayat-ayat atau hadis yang khatib baca, kali ini tidak berhasil kecuali berusaha meneruskan bahasan khatib yang berbahasa Turki itu ke pikiran saya. He he.

Khatib memulai khutbah dengan menyitir ayat 11 dalam surat Al-Baqarah. Wa idza qiila lahum la tufsidu fil ardhi qalu innama nahnu mushlihun…(Dan jika dikatakan kepada mereka (orang munafik), jangan berbuat kerusakan di muka bumi ini. Mereka menyangkal, kami ini adalah orang yang berbuat perbaikan)

Hm, cukup susah meneruskan arah tema ini, mengingat dari awal sampai akhir, belum ada ayat atau hadis arabic yang beliau sitir lagi. Kecuali di pertengahan, barakallahu li walakum. Dan di akhir,…innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsani…dst.

Fuuih!

Rupanya hal ini menjadi PR buat saya, juga buat para khatib, untuk lebih banyak menguasai banyak bahasa di dunia ini. Salah satu tujuannya adalah supaya inti ajaran Islam lebih merata difahami dengan baik oleh segenap masyarakat dunia. Tapi, jangan lupa sisipkan selalu ayat-ayat atau hadis dalam teks arabicnya, agar dalam kondisi seperti dua kejadian saya, orang seperti saya bisa mengikuti pesan-pesan taushiah jumat-nya.

3. Brussel, Belgia

Berbekal pengalaman tersebut, saya mengambil pelajaran berharga, bahwa kendati mayoritas jamaah jumat-nya berbahasa Indonesia, saya tetap menyelipkan bacaan teks asli Al-Quran, hadis, atau ungkapan-ungkapan Arabic lainnya saat menyampaikan pesan ilahi dalam khutbah saya di Brussel. Sebab mungkin saja ada satu dua orang makmum asal maroko-tunis-atau tamu negara lain yang mengalami kejadian yang mirip dengan kasus saya. he he

Wallahu A’lam 

Advertisements

2 thoughts on “Jum’atan di Eropa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s