Jumat Wada’ di Brussels

Jumat Wada’ di Brussels

Rangkaian perjalanan sepuluh hari silam bagi kami tentu sarat cerita dan kesan.

Sebut saja di Itali, kami mendapat delayed beruntun. Pasalnya, masinis kereta lokal terlambat datang. Akibatnya, semua jadual kereta harus mundur satu jam. Ditambah delayed bis ke bandara Treviso 1 jam. Sehingga kami nyaris ketinggalan pesawat.

Lain Itali lain Malaga. Di Malaga kami justru ‘dimanjakan’ di bandara. ‘Menumpang tidur gratis’ di salah satu restoran yang sudah tutup, terletak tak jauh dari gate-gate keberangkatan dalam Malaga Airport. Ada fasilitas kursi panjang empuk milik restoran. Tak hanya itu, kami dijamu air panas gratis, dan tentu saja toilet yang nyaman.

Di Granada lain cerita, kami menghabiskan waktu jelajah Al-Hambra seharian penuh. Lupa masih ada satu obyek belum kami datangi. Saat mau masuk istana ‘General Life’, kami ditolak petugas karena tternyata validitas tiket masuk istana ‘General Life’ telah habis. Kami sungguh tidak menyadari batasan waktu tersebut, saking terpesona pada keindahan dan keanggunan Nasrid Palaces!

Terutama di Alhambra, hati kami sempat bergemuruh menyaksikan kalimat tauhid tertempel kuat di segenap dinding istana peninggalan Dinasti Nasried yang memerintah selama kurang lebih 300-an tahun. Kami pun diliput haru kala menilik dan membaca, Al-Qudratu lillah (Kekuasaan hanya milik Allah), Al-Izzatu Lillah (Kejayaan hanya milik Allah), La Ghaliba illallah (Tiada penakluk selain Allah) Wa ma bikum min ni’matin faminallah (Nikmat kalian apa saja, semua dari Allah), Alhamdulillah ‘ala ni’matil Islam (Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam), dan sebagainya. La haula wa la quwwata illa billah. Memang tiada daya dan upaya melainkan hanya dari Allah Swt.

Belum lagi cerita di Cordoba, Madrid, dan Paris.

***

Setelah perjalanan usai, Jumat pagi ini lelah tubuh belum pulih. Rasa capek masih bersisa. Namun agaknya jadual khutbah jumat (wada’) di KBRI Brussel harus tetap saya penuhi.

“Supaya menjadi kesempatan berpamitan dengan jama’ah, khususnya jama’ah KPMI Belgia.” Dorong istri.

Bismillah.
Saya ditemani Atif kecil berangkat berkereta menuju Brussels.

Saya tak ragu membawakan tema seputar petikan hikmah dari Haji dan ibadah Qurban. Sebab kurang lebih 2 hari lagi, jamaah haji di Mekkah akan memulai tarwiyah, berwukuf di Arafah, kemudian manasik haji yang lain. Bagi mereka, rangkaian manasik adalah kesempatan emas untuk menghambakan diri kepada Allah sepenuh hati, jiwa, dan raga. Saudara-saudara kita, para hujjaj di sana akan berupaya meraup taburan kasih sayang dan ampunan Allah Swt.

Betapa Maha Rahman Maha Rahim Allah, sehingga Dia membuka banyak kesempatan untuk menyucikan diri dari alpa, lupa, dan dosa.

Dua bulan lalu, kita dianugerahi bulan ramadhan nan penuh berkah. Disusul bulan syawal dengan shaum 6 hari. Dilanjut bulan Dzulqa’dah (seperti bulan-bulan lain) dengan shaum sunnah Senin Kamis atau Ayyamul Bidh-nya. Lalu disusul bulan Dzulhijjah, bulan haji.

Semua pintu kesempatan untuk menebus lumuran noda jiwa, Allah hamparkan tanpa henti.

Para hujjaj yang mabrur, dijanjikan Nabi akan diberikan surga Allah. Sementara kita yang tidak sedang berhaji, diberikan kabar gembira akan diampuni dosa selama dua tahun, dengan cara menunaikan shaum sunnah Arafah 9 Dzulhijjah. Saat para hujjaj berwukuf di sana.

Jika sudah demikian Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Ia, pantaskah kita menyia-nyiakannya?! Atau malah kita tidak peduli dengan kekotoran hati kita. Na’udzu billah.

Ibadah haji dan Qurban adalah simbol pengorbanan. Ia adalah upaya membuktikan pengakuan cinta dan loyalitas kepada Allah dan Rasul.

Usai jumatan, saya berpamitan kepada jamaah KPMI terkhusus Pak Iman, staf KBRI sekaligus ketua KPMI. Seraya memohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan selama saya dan istri menunaikan amanah di sini. Tiada gading yang tak retak. Demikian pepatah masyhur menyebutkan. Kami pun bersalaman, bermaafan, berpelukan, dan saling mendoakan kebaikan bagi segala rencana dan cita-cita kejayaan Islam dan Umatnya.

Saya semakin terharu, saat Pak Iman mengantar saya dan athif langsung ke Metro Roodebek untuk kembali ke rumah di Bambrugge.

Sepanjang kaki saya menapaki pedestrian, saya merasa tanah Brussels seakan menatap sembari melambai, mengucap perpisahan untuk kembali berjumpa di waktu yang hanya Allah yang Mahatahu.

Dinginnya udara Brussels memeluk erat, semakin menguarkan rasa ngelangut dalam dada, karena saya akan meninggalkan kehangatan persaudaraan Islam di ibukota Belgia ini.

Hingga sampailah saya di loket penjualan tiket metro.

Seorang pelayan loket berwajah ramah dan bercahaya menyunggingkan senyum. Wajahnya campuran Arab-Eropa Muslim. Saya pun tidak ragu menyampaikan salam.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah” Dia menjawab lebih fasih dariku.

Wah, agaknya akan lebih asyik mengobrol. Setelah menanyakan kabar layaknya tradisi bersapa di tanah Maroko sana, saya berujar,

“Uriidu tadzkirah li rihlah waahidah (one voyage). Kam Ats-tsaman?” Saya ingin membeli satu tiket untuk satu perjalanan. Berapa harganya?”

“Thayyib, maktub fi lauhah, itsnan euro.” Baiklah, seperti tertulis di papan, 2 euro/ one voyage”

Tertulis pula di situ, untuk pembelian 2 euro, minimal uang pembelian adalah 5 euro.

Segera saya menjelaskan kondisi saya.

“Masyi, lakin lil asaf asy-syadid, ‘indi khamsun euro laisat fakkah. Tafadhhal.” Baik, tapi maaf sekali, saya ada 50 euro bukan pecahan. Silahkan.

“Wah, kamu tidak punya uang pas saja?”

“Hm, saya tidak punya.”

Mudah-mudahan di sini tidak sekejam di Madrid dan Paris. Gumam hati saya.

Di dua negara tersebut kami sempat harus merelakan perjalanan tertunda bahkan hingga 3 jam, hanya gara-gara petugas tidak mau melayani transaksi pembelian tiket kereta, hanya karena kami tidak memakai uang pas. Malah menyuruh kami keliling membeli sesuatu di toko mana saja untuk mencari uang pecahan. Dan menemukan toko yang mau memberi uang recehan juga tidak mudah menjelang midnight dan semua toko sudah tutup.

“Khalash, laisa fihi musykilah.” Ya sudah, tidak apa-apa.

Alhamdulillah.

Sambil transaksi, saya sempatkan mengobrol.

Nama petugas itu Abdurrahim.

Setelah menanyakan nama saya, dia berujar, “Nahnu Ikhwah. Al-Muslimun Kulluhum Kal Wahid.” Kita ini saudara. Seluruh umat Islam ibarat satu (tubuh). Seraya membacakan ragam doa untuk saya. Apalagi setelah dia tahu saya mau melanjutkan studi di Tunis.

Terlontar dari bibir beliau, barakallahu fik, wa zadakallahu ‘ilman nafi’an, wa wassa’allahu laka rizqak. Semoga Allah memberkahimu, menambahkan ilmu yang bermanfaat, dan meluaskan rezekimu.

Saya jawab, “Wa iyyak ya akhil kariim” Demikian pula untukmu, saudaraku.

Tak terasa transaksi usai dan antrian mulai memanjang. Saya pun berpamitan.

“Syukran ya Akhi Abdurrahim, barakallahu fi syughlik wa wassa’allahu rizqak. Ilalliqa” Terima kasih, saudaraku. Semoga pekerjaanmu diberkahi dan rezekimu pun diluaskan-Nya. Sampai ketemu lagi.

Alhamdulillah, petugas loket karcis di Metro Roodebek berusia kira-kira 50 tahunan baik hati itu menutup rangkaian perjalanan kami selama kami di Eropa. Setelah sebelumnya berkali-kali bertemu sosok petugas berwajah bengis, sinis, bahkan bau bir saat melayani kami, yang kami temui kala 10 hari menjelajah eropa mulai Jerman, Swedia, Finlandia, Belanda, Ceko, Italia, Spanyol dan Perancis.

Alhamdulillah, semoga engkau mampu menampilkan wajah Islam yang ramah. Ilalliqa’ ya Abdurrahim!

Ilalliqa ya Brussels! Ilalliqa’ ya Uruba!

Sampai jumpa Brussels! sampai jumpa lagi Eropa!

Bambrugge, Jumat senja, 11 Oktober 2013

 

 

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

 

Our Steps in Alhambra :)

Jejak kaki kami berdua di Alhambra

 

Alhamdulillah…

One of my dreams finally came true yesterday, I’ve finally stepped Alhambra  in Granada with my beloved one!

Thank you my dear husband, Risyan Nurhakim, for accompanying me realizing my dream to see Granada after our second years of marriage life 🙂

 

***

Kemarin, pagi-pagi sekali kami berjuang untuk bangun, setelah sehari sebelumnya tiba di Granada bus station sekitar pukul 17:30 waktu setempat.

Khawatir kemalaman, Aa gegas membaca peta yang kami dapatkan gratis di salah satu tour operator dalam terminal bus, untuk segera ‘membaca’ kota Granada 🙂

Sesuai petunjuk Polaroid Siesta Hostel yang dikirimkan via email, kami harus naik bis no 3 atau 33 (jika mau mengirit budget) persis setelah keluar terminal bus.

Kami langkahkan kaki keluar dan halte yang dimaksud segera kami temukan. Rupanya backpackers lainnya sudah siap-siap menaiki bis 33.

Saat bersiap membayar uang tiket, sang supir berujar, “One twenty!”

Wow, murah sekali transportasi publik di Granada dan Malaga -dua kota yang sudah kami kunjungi di Spanyol Selatan ini, dibandingkan dengan harga bis di kota-kota turis lainnya di daratan Eropa, Padahal bisnya bagus, nyaman dan bersih 🙂

Sebagai perbandingan lebih jauh, bis ATVO dari Venice Mestre ke Ryanair Airport di Venice Treviso yang berjarak hanya 30 menitan saja (jika tidak macet) kami harus membayar 10 E / orang.

Sedang bis bandara Malaga Airport ke Malaga Alameda (City Centre) dengan jarak tempuh tidak jauh berbeda, hanya menarik biaya 3 E / orang.

Hmmm, dari sisi budgetting, jelas kami jatuh hati pada Spanyol Selatan ketimbang Italia bagian utara 🙂

Dari sisi orang-orangnya apalagi.

Sejak awal tiba di Italia, saya sadar sepenuhnya, orang-orang Italia di area wisata tidak terlalu ramah pada turis, apalagi mungkin karena saya menggunakan jilbab? Entahlah…

Kami mengalami kejadian menyebalkan dengan seorang masinis kereta api di Florence yang saya tegur karena kereta tak jua kunjung berangkat padahal sudah delayed 30 menitan. Sikap masinis tak bertanggung jawab itu semakin menyublimkan citra Italia yang berantakan di mata kami berdua.

Sedang di Spanyol Selatan (sejauh ini Malaga dan Granada) kami menikmati keramahan dan kehangatan hati orang-orang Spanyol.

Mulai dari penduduk lokal, supir bis, masinis kereta api, petugas di Metro hingga resepsionis di hostel (alias para pelaku bisnis jasa) semuanya ramah-ramah 😉

Entah karena orang-orang Spanyol memutuskan bersikap ramah karena sadar pariwisata atau memang karakter asli orang Spanyol Selatan memang seperti itu?

Kami kurang tahu, yang jelas kami merasa betah menjelajah di Spanyol Selatan ini 🙂

Sikap positif penduduk Spanyol Selatan ini melahirkan sikap positif pada turis-turis mancanegara 🙂

Semenjak mini tripod kami ‘tewas’ salah satu kakinya dan tidak bisa digunakan lagi, lalu saya dan Aa berjuang memotret kami berdua dengan salah satu tangan, banyak sekali orang Amerika, Australia bahkan Inggris menawarkan memfotokan kami.

Meski hasil jepretan mereka kadang tak sebagus kerja tripod, hati kami sungguh tersentuh 🙂

Rupanya keanggunan Nasrid Palace di kota tua Alhambra dan sikap positif orang-orang Spanyol Selatan melahirkan kebaikan berantai 🙂

***

Banyak kejadian menarik yang kami temui sepanjang 10 jam berada di “The Monumental Complex of The Alhambra and The General Life”.

Sebuah bangunan pertama kali dibuat di Alhambra (dalam bahasa Arab disebut Alhamra, (artinya istana merah) pada tahun 1237 masehi oleh kekhalifahan Nasrid. Pembangunannya berlanjut hingga 250 tahun kemudian.
Muhammad I Al-Ahmar hingga selesai dibangun oleh Muhammad XII / Boabdil (1429).

Alhambra adalah salah satu simbol jejak kekuasaan kekhalifahan muslim Andalusia terakhir, sebelum direbut pasukan Ferdinand dan Isabella of Castile pada tahun 1492 dan layak diapresiasi jika berkesempatan ke Spanyol!

Saat memasuki pintu pemeriksaan tiket, mata kami langsung dimanjakan oleh hijaunya taman yang melingkupi Alhambra.

Indah dan menyejukkan mata.

Saat waktu kami tiba untuk memasuki Nasrid Palaces (ada 3 istana semuanya), saya dan Aa berkali-kali memegang dada dan berkaca-kaca.

300 tahun lamanya Islam memerintah di kota Granada dan memajukan kota ini dengan cahaya iman, islam dan ilmu pengetahuan.

Sedang sekarang, di luar suasana Alhambra yang agung, kami menyaksikan rusaknya dampak modernisasi di kota turis ini, perempuan Spanyol Selatan senang memerkan tubuh seksi mereka dan merokok tiada henti. 😦

Kami mengantri kala akan memasuki Nasrid Palaces dan mulai terpana-pana kala berada di dalam.

Di setiap dinding Nasrid Palaces terukir keindahan kalimat-kalimat ‘tayyibah’, menggambarkan halusnya akhlak dan sholehnya penguasa kekhalifahan Nasrid kala itu.

Kami hikmati perlahan-lahan indahnya arsitektur istana, air mancur mengalir di setiap ruang istana dan bergulirnya sejarah panjang kejayaan peradaban Islam yang terukir nyaris di setiap dinding Nasrid Palace!

Aa bilang, “Kaligrafi yang mereka ukir adalah kaligrafi tingkat tinggi. Betapa telatennya mereka mengukir dinding istana ini.”

Sebagai misal, kata-kata, “Laa ghaliba illal Llaah” tertatah di setiap penjuru dinding, artinya, “Tiada yang mengalahkan (apapun) kecuali Allah”.

Kata Aa, potongan kalimat di atas terinspirasi dari ayat Al-Qur’an, “Laa ghaaliba lahu illa huwa.”

Tatahan ‘Laa ghaliba illal Llaah’ mengajak kami berdua untuk selalu berzikir, mengingat lemahnya diri ini di hadapanNya yang perkasa.

Tatahan ayat, kalimah tayyibah dan puisi-puisi indah bertaburan di seluruh penjuru istana.

Jatah setiap pengunjung sebetulnya hanya 30 menit saja, tapi saking terpesonanya, saya dan Aa sibuk memotret semua ukiran huruf Arab tersebut dan kami berniat membacanya satu demi satu di kala senggang dan mudahan bisa menuliskannya kembali.

***

Sementara kami sibuk memotret kaligrafi di setiap dinding, di sisi lain, pengunjung mancanegara (terutama dari Cina) banyak yang heboh berfoto di setiap sudut istana dengan pakaian sangat minim, seksi dan seronok. Sambil sesekali berciuman dan berpagut penuh gairah dengan pasangan backpack mereka.

Ada satu pasangan yang bolak-balik melintas tak jauh dari kami, sepertinya mereka pasangan beda negara, berkali-kali berpagut mesra di hadapan pengunjung lainnya.

Sungguh tak tahu diri, “Have a room guys!”

Kecamuk rasa mengalir dalam dada.

Setelah 300 tahun kejayaan pemerintahan Islam, istana agung ini ternyata dinikmati dengan beragam cara oleh para pengunjung.

Kami salut pada pasangan kakek nenek dari Amerika, yang sibuk membaca buku sejarah sambil sesekali mencocokkannya dengan sudut istana yang sedang mereka datangi 🙂

Kakek ini pula yang menawarkan diri untuk memotret kami berdua, kala beliau melihat Aa beberapa kali hanya mengambil gambar saya saja 🙂

Kami akhirnya berkenalan dan memutuskan ‘keep in touch’ sekembali ke negara masing-masing 🙂

***

Ah, tak cukup sehalaman dua halaman untuk mengisahkan jejak sejarah yang ditinggalkan oleh kekhalifahan Nasrid ini.

Sebuah buku sepertinya patut dihasilkan dari kunjungan mengesankan ini, sebagaimana Irving Washington menulis sebuah buku berjudul, “Tales of the Alhambra” pada tahun 1829, saking luar biasa indahnya jejak sejarah yang diwariskan Alhambra pada dunia!

Image