Pesan Jumat

Pesan Jum’at

Salah satu ‘keunikan’ Jumatan di Maroko adalah adzan dikumandangkan sampai tiga kali putaran, sambung-menyambung tanpa diselingi ritual apapun.

Kalau di Tunisia lain lagi, justru shalat jumat dibagi menjadi tiga waktu. Awal, tengah, atau akhir. Makanya ada mesjid yang menyelenggarakan shalat jumat awal waktu, ada yang tengah waktu, dan ada pula yang memilih akhir waktu menjelang Ashar tiba. Kabar-kabarnya, Mesjid Az-Zaitouna (731 M) di Kota Tunis dan Mesjid Kairouan (670 M) di Kota Kairouan memilih waktu terakhir.

Saya belum mempelajari detail alasannya secara mendalam. Mudah-mudahan ada yang bisa membantu. Namun jika ingin jawaban ringkas, demikianlah hasil ijtihad dalam madzhab Maliki. Seperti itu kira-kira.

Yang menarik, di beberapa mesjid Maroko yang saya hadiri, khutbahnya ringkas mirip kultum (kuliah tujuh menit) Kalau yang seperti ini saya pernah mendengar hadis, “Ciri khatib/imam Faqih adalah khutbahnya ringkas, shalatnya panjang.”

Kendati di mesjid terdekat yang kerap saya hadiri–mesjid Al-Itqan (didirikan tahun 1963)–bukan hanya khutbahnya yang ringkas, shalatnya pun turut ringkas dengan bacaan surat yang pendek-pendek seukuran surat An-nashr.

Mungkin karena masih awal-awal tahun baru hijriyyah 1435 H, tema yang diangkat khatib adalah masalah WAKTU. Surat yang disitir QS Al-‘Ashar.

Firman Allah, “Demi waktu! Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat kebenaran, dan saling berwasiat kesabaran.” 

Kita sama-sama mengerti, jika Allah bersumpah dengan sesuatu, sedemikian pentingnya ia. Karenanya, semestinya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bukan malah menyia-nyiakannya terbuang percuma. Kemudian mengisinya dengan ragam kebaikan, ibadah, kegiatan ilmu, dan segala hal bermanfaat.

Orang yang jalinan hari-harinya dihiasi dengan perbaikan diri dan amal, dipuji Nabi Saw. sebagai orang terbaik. “Sebaik-baik orang ialah yang usianya panjang dan amalnya baik.” (HR Tirmidzi)

Khatib kemudian menyitir dialog Nabi dengan para sahabat, bahwa setiap orang kelak akan menyesal, orang baik (muhsin) maupun orang jahat (musi’) Ada yang bertanya, orang jahat menyesal, kami memaklumi. Kalau orang baik menyesal, maksudnya bagaimana?

“Orang jahat menyesal, karena dahulu tidak menjadi orang baik. Orang baik menyesal, karena ia tidak berbuat kebaikan lebih banyak lagi dari yang sudah dia lakukan sebelumnya.”

Oleh karena itu, mari simak cuplikan doa Nabi Saw. nan indah,

“Ya Allah, jadikan hidup kami sebagai ajang menambah kebaikan.

Ya Rabb, jadikan kematian sebagai ajang istirahat dari berbuat keburukan.”

Aquulu qauli hadza wa astagfirullaha lii wa lakum
Wallahu a’lam bishshawab!

Catatan jumat lalu, Maroko.

08/11/2013

Advertisements

2 thoughts on “Pesan Jumat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s