Berbakti Tak Harus Terhenti

Berbakti Tak Harus Terhenti.

Senin pagi saya terkaget-kaget saat istri setengah berteriak dari depan layar computer,

“Aa, ayahnya Mbak Andri meninggal dunia.”

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Timpalku spontan.

“Kapan?”

“Tadi malam.”

Kami berpandangan, lalu sama-sama berdoa.

Sejenak larut dalam sedih. Sembari merenungi misteri kematian yang datang menjemput manusia tanpa pandang bulu.

Terkadang kita sendiri seolah tidak percaya saat kematian datang kepada orang yang kita cintai. Sama kasusnya seperti yang pernah dialami Umar bin Khattab di hari wafatnya Nabi Muhammad Saw., sang Rasul panutan tercinta.

“Siapa yang mengatakan Muhammad telah wafat, aku penggal lehernya.” Ancam Umar saat itu.

“Muhammad tidak akan mati.” Lanjutnya antara sadar dan tidak.

Lalu Abu Bakar sosok nan lembut datang menenangkan, “Siapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya beliau telah meninggal dunia. Namun siapa yang menyembah Allah, Dia Swt. mahahidup dan tidak pernah mati.”

Saya beranjak ke toilet untuk siap-siap.

“Mari kita ikut berta’ziyyah. Siapkan wudlu, mudah-mudahan kita masih sempat ikut shalat jenazah sebagai bukti menunaikan hak sesama muslim.”

***

Kami segera berangkat menuju Holis, tempat mbak Andri. Motor kami paksa menembus macetnya kota Bandung. Setengah jam kemudian, kami sampai di Jl. Holis.

Bendera kuning tertancap di salah satu tiang. Persis di depan jalan masuk menuju rumah Mbak Andrie. Rumahnya sudah sepi. Hanya beberapa orang yang tengah mengobrol bersama putra bungsu almarhum. Tepat di depan pekarangan rumah duka.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam…”

“Jenazahnya masih belum dikebumikan?”

“Sudah, tadi jam sembilan pagi  berangkat ke pemakaman belakang Caringin.”

Hm, akhirnya kami masuk menemui Mbak Andri dan keluarga untuk menyampaikan ta’ziyyah. Suasana duka dirasakan keluarga besar Almarhum yang meninggalkan empat orang anak. Kesemua anaknya kini sukses mandiri.

Istri berbincang lama dengan mbak Andri. Hingga tiba waktunya kami harus pulang.

Mbak Andrie sempat berujar, “Saya belum merasa menjadi anak sholehah. Rasanya masih kurang kesholehan saya.”

Istri menyahut, “Justru perasaan seperti itu bisa dijadikan cambuk, Mbak. Supaya kita bisa lebih sholehah lagi.”

“Insya Allah Mbak bisa sabar ya. Kita pun tetap bisa berbakti pada beliau kendati sudah meninggal dunia. Berbakti memang tak harus terhenti.”

Saya teringat sabda Nabi Saw., riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban. Rasulullah Saw. menjawab pertanyaan seorang lelaki dari Bani Salamah tentang apakah sesudah orangtuanya meninggal dunia, dia masih bisa berbakti (birrul walidain).

Ringkasnya, setidaknya ada empat cara berbakti kepada orangtua yang telah meninggal dunia. Insya Allah, nilai baktinya pun tidak akan kalah dengan nilai bakti kepada mereka yang masih hidup;

Pertama, selalu mendoakan kebaikan untuk beliau. Rinciannya bisa berupa memohon agar selalu dibalut rahmat-Nya, dilapangkan alam kuburnya, dimudahkan segala urusannya di alam barzakh, dijadikan alam kuburnya sebagai raudhatun min riyadhil jannah (miniatur surga yang kelak Allah hadiahkan), dan kebaikan-kebaikan lain.

Kedua, memohonkan ampunan kepada Allah atas segala dosa mereka. Bahkan, pesan Nabi pertama kali saat jenazah usai dikuburkan, “Istaghfiruu li akhiikum wa is’alu lahu at-tatsbiit, fa innahu al-ana yus’alu.” Mohonlah ampunan dan ketetapan untuk si mayit yang selesai dikubur ini, karena saat itu pula mereka mulai ditanyai Malaikat.

Tidak semestinya kita bosan berdoa, ya Allah, ampuni segenap dosa orangtua kami, minimal di dalam atau usai kita shalat. Sebab doa yang terus menerus dipanjatkan tanpa bosan dan lelah dapat segera menguras dosa mereka.

Ketiga; menunaikan janji atau merealisasikan cita-cita kebaikan beliau. Jika saat hidup, ada cita-cita mulia mereka yang hingga kini belum tercapai, realisasikanlah oleh kita. Sebab jika kita wujudkan, akan menjadi pahala jariyah yang selalu mengalir untuk beliau.

Keempat, memelihara hubungan silaturahim dan memuliakan sahabat-sahabat beliau semasa hidupnya. Jangan pernah enggan bertamu lalu memberi hadiah kepada rekan dan sahabat baik mereka semasa hidup. Karena saat sahabat baik tersebut tahu bahwa kita adalah anak dari yang ditinggalkan, yakinlah doa untuk orangtua kita pun akan turut mengalir dari lisannya.

Jika empat hal itu dilakukan, akan berwujud amal jariyah bagi orangtua yang telah wafat. Amal jariyah adalah amal yang pahalanya terus mengalir kepada seseorang walaupun ia telah wafat.

Fffhh…

Kami berpamitan.

***

Jika Senin lalu saya kaget mendengar kabar duka dari istri. Sehari kemudian, saya lebih terkejut lagi saat membuka media sosial.

“Telah meninggal dunia, H. Faruk Jamil, Lc. Selasa, pukul 00.20 Wib. Setelah sebelumnya koma dan dirawat di RS Eka Hospital Tangerang, akibat kecelakaan motor saat dia berangkat ke tempat dia mengajar ngaji dan bahasa Arab.”

Innalillahi, salah seorang Alumnus Al-Azhar University. Dia yang selalu bersemangat mencari ilmu, ramah kepada siapapun, seakan-akan tidak pernah ditimpa masalah sedikitpun dalam hidupnya. Kini dia telah menghadap ke hadirat Allah Swt. di usia 33 tahun.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu

Betapa kematian adalah misteri ilahi. Dia akan datang menjemput siapapun tanpa kenal waktu, usia, maupun tempat. Bisa menjemput orangtua, juga tak mustahil anak muda yang penuh semangat hidup sekalipun.

Mudah-mudahan sahabat Faruk Jamil menyandang predikat syahid dan husnul khatimah, sebab kala itu engkau sedang menuju tugas mengajar ngaji putra-putri generasi masa depan. Semoga hal tersebut menjadi bakti jariyah yang pahalanya tidak akan terhenti. Amin!

Kamis, 13 Maret 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s