Tips Packing: Sedikit Baju Banyak Pelajaran

Hanya tujuh lembar tunik panjang

Hanya 6 lembar baju!

 

Tips Packing: Sedikit Baju Banyak Pelajaran.    Ini adalah foto 6 potong tunik (atasan panjang) yang akan saya masukkan dalam ransel ukuran 7 liter, menjelang backpack menuju Mesir awal tahun 2013. Saya kemudian menambahkan 1 baju tidur, 2 buah celana longgar berbahan campuran katun dan nylon sangat kuat, 4 lembar jilbab berwarna terang dan underwear tentu saja.

Dengan baju sesedikit itu, ransel saya masih cukup untuk dimasuki laptop berukuran 10 inch, tas berisi alat mandi, selembar mukena dan sepasang sandal jepit.

Sementara bekal makanan kering dan aneka bahan membuat pempek, akan kami letakkan dalam tas lipat kesayangan.

Dari Mesir, saya dan Aa bermimpi meneruskan perjalanan selama dan sejauh mungkin. Destinasi selanjutnya adalah Tunisia, Maroko, menyeberangi Selat Gibraltar menuju Spanyol dan menjelajah Eropa sepuasnya.

Cukupkah enam potong atasan ini menemani perjalanan panjang saya?

Terbukti cukup!

Bagaimana caranya?

Mudah saja. Sederhanakan hasrat ingin narsis dengan aneka model (pakaian)!

Kenapa kita harus direpotkan dengan banyaknya pakaian yang dibawa kala backpacking? 🙂

Saya dan Aa seiya sekata. Lebih baik sedikit bawaan. Tidak memberatkan punggung dan menyibukkan tangan dengan tarikan koper. Mari nikmati keindahan bumiNya dengan hati yang luas, punggung ringan dan tangan bebas.

Lebih baik mengosongkan ransel saat hendak memulai backpacking, agar sepanjang backpacking kami bisa menyerap banyak hal. Kemudian ‘mengisi’ ransel otak dan hati dengan pelajaran sepanjang perjalanan.

Dengan prinsip di atas, saya memutuskan beberapa kali menghadiahkan baju yang saya bawa. Pertama kali menghadiahkan baju saat berada di Tunisia, untuk salah satu isteri host yang menawari kami makan siang di rumah mereka. Saya kembali ‘mengeluarkan’ sebuah baju kala menerima kebaikan hati seorang Ayah di Casablanca, Maroko.

Ini keindahan perjumpaan di perempatan jalan Casablanca. Tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Seorang lelaki bersahaja yang kami tanyai cara menuju Masjid Hassan Tsani -belakangan kami ketahui namanya adalah Baba Agoud– menawari kami minum teh di rumahnya, sebelum mengantarkan kami ke Masjid Hasan Tsani.

Keajaiban pertemuan terus berlanjut. Belum sempat meninggalkan masjid terbesar di Maroko tersebut, Mama Malika dan Baba Agoud menawari kembali untuk menginap di rumahnya. Subhanallah…

Setelah menginap tiga tiga malam di rumah beliau dan berpamitan, saya memutuskan menghadiahkan sepotong baju bercorak etnik khas Lombok untuk putri cantik beliau, Sara. Baju bergradasi warna ungu ini memang baru saya beli dan kebetulan belum pernah dipakai selama 1.5 bulan di Mesir.

Baru tiba di Maroko, 6 lembar baju berkurang. Sisa 4 atasan saja! Masih cukupkah untuk sisa perjalanan? Alhamdulillah lebih dari cukup!

Prinsipnya tetap sama. Jika baju bersih dalam ransel tersisa 1 buah saja, ini saatnya mencuci. Tidak perlu menggunakan mesin cuci segala. Cukup direndam dengan sabun cuci beberapa saat, lalu kucek dengan tangan. Bilas dan jemur seketika di tempat terbuka. InsyaAllah, esok siang 3 lembar pakaian siap dipakai kembali.

Ransel yang ringan, ‘meringankan’ langkah kami menjelajah bumiNya! 🙂

***

TIPS PRAKTIS:

~ Meski hanya membawa sedikit baju, penampilan saya di album foto tidak buruk-buruk amat. Beberapa teman malah bilang, “Colorful!”
Kuncinya? Bawalah pakaian berwarna cerah. Padu padankan sekreatif mungkin dengan koleksi jilbab yang ada. Pasang dan tumpuk jilbab juga akan menghasilkan gaya berbeda. Be creative!

~ Jika mendadak ada halangan untuk mencuci atau baju tidak kunjung kering, beli satu buah baju di pasar lokal. Harga insyaAllah jauh lebih murah daripada beli di touristic area! Baju ini akan menjadi kenang-kenangan saat kembali ke Indonesia!

Advertisements

39 thoughts on “Tips Packing: Sedikit Baju Banyak Pelajaran

  1. Untuk yang nggak narsis kayak aku, sedikit pakaian juga (sepertinya) cukup. *akan dibuktikan di perjalanan nanti hihihi* kayaknya lebih banyak bawa printilannya ini, macam obat-obatan, souvenir Indonesia buat dibagikan ke host atau teman seperjalanan. Hmm, apa lagi ya? *belom punya backpack, nanti mau aku coba packing ^_^ * makasih tulisannya mbak Ima 🙂

    • Untuk printilan, bawa yang ukuran kecil dan jenisnya ringan-ringan saja Dik 🙂

      Nah, untuk souvenir, aku suka bawa syal batik sutra, tipis melayang dan ringan disukai bule-bule.

      Suka bawa batu-batu khas Kalimantan juga. Orang Arab suka sekali loh 🙂

      Makasih sudah BW ke sini, Dinda 🙂

    • Wow, 1 minggu hanya 2 baju?
      Super sekali!

      Saya belum pernah sih sampai segitu, hihihi.

      Justru kalau perjalanan dalam negeri, terutama mudik, malah agak banyak bawa karena biasanya kudu ‘dendong’ untuk kondangan, hihihi 😀

      Makasih kunjungannya Mbak Maya sayang 🙂

      Mau BW ke rumah Mbak aaaah 😀

  2. ulun masih termasuk yang ribet kalau bawa baju pas jalan-jalan. jalan tiga hari bajunya jua 3. belum lagi nggak bisa nyusun di tas jadilah bawaan lumayan banyak pas jalan-jalan 😀

    • Errr, seorang teman di Jerman sudah punya anak 2, laki dan perempuan usia 6 tahun dan 12 tahun kalau tidak salah.

      Masing-masing anak beliau disuruh membawa ransel sendiri, baju seperlunya, alat menggambar, 1-2 buku cerita dan 1 buah mainan 🙂

      Kata ibunya, mengajarkan anak-anak untuk mandiri dalam perjalanan 🙂

      Selamat mencoba dan kalau sudah dicoba ceritakan ke saya ya Mak Putri 😀

      Nuhun sudah komen di sini, insyaAllah saya akan kunjungan balik 🙂

  3. saya juga sebenernya pingin ringkes begitu ya…
    tapi kadang kepikiran: “ntar pas difoto masak bajunya sama terus…” =))
    baiklah, mulai hari ini saya akan lebih meneguhkan hati soal ini! 😀

  4. Yang penting juga gak malas untuk mencuci baju ya Mak ^^ Plus bajunya yang nggak gampang kusut ya?
    Super sekali perjalanannya, masih bisa memberi baju ke penduduk lokal pula. Takjub & kagum!

    • Betul, rumusnya itu saja 🙂

      Iya, pilih baju yang tidak mudah kusut, semacam sifon, nylon, dkknya Mbak Nana 🙂

      Soal memberi, itu karena dorongan ingin memberikan kenang-kenangan saja. Bingung mau ngasih apa, soalnya gelang-gelang khas Kalimantan sudah habis, jadi ya udah ngasih baju saja 😀

  5. Setelah ditimbang ranselnya beratnya berapa kilo mbak?
    Aku jg bawa baju sedikit tiap traveling, tapi tetep aja keberatan gendong ransel krn kebanyakan printilannya

    • Rata-rata tidak lebih dari 7 kilo, Mbak 🙂

      Saya kan kerap naik low budget carrier, jadi harus pinter-pinter memilih dan memilah mana yang benar-benar perlu dibawa.

      Usahakan semua dalam ukuran mini. Nanti kan sampai di negara tujuan, kalau misal sabun mandi habis, saya akan membeli di pasar lokal atau supermarket murah yang ada di kota yang saya singgahi 😀

      Er, kapan-kapan saya foto kali ya isi ransel saya sesungguhnya? 😀

  6. Hai, mak Ima 🙂
    Saya suka sama tipsnya. Amat sangat berguna dan bermanfaat sekali untuk next trip saya (kebiasaan bawa koper hehe)

    Ransel ga bisa muat banyak soalnya, mak 🙂

  7. aduh,,,baca ini jadi kangen gendong ransel lagi…
    kalo aku tiap travelling kepengennya sih irit bawaan tapi terlalu parno sama kalo perlu kalo perlu terus, ujung-ujungnya ya jadi banyak juga bawannya -_-

    • Eh ada Zita mampir ke sini 🙂

      Nuhun Say 🙂

      Ayo gendong ransel, Zit. Seru dan menyegarkan pikiran kan 🙂

      Yaaah, jangan parno-an ah 🙂
      Jangan buat fisik kita lelah karena bawa kebanyakan barang 🙂

      • Jangan silent reader atuuh. Kan jadi gak dapat backlink ke blogmu, Say 😀

        Nah kan, akhirnya gak kepakai. Hihihi.

        Kalau aku, prinsipnya sederhana, makin lama backpack, baju bawaanku harus makin sedikit.

        Kalau sobek, ya dijahit. Kalau gak bisa dijahit tangan, ya beli di sana.

        Di Eropa banyak banget baju murah meriah cuma 1 euro masih bagus banget 😀

  8. Mba Ima..ternyata dulu aku suka main ke multipy Mba Ima lho..tadi liat liat FB nya KEB berasa kenal :p
    eh ternyata bener..salam kenal lagi ya Mba, salut dengan cerita honeymoon backpackernya

    • Waaah! Ada eks MPer mampir di sini 🙂

      Senangnya kedatangan tamu alumni Multiply, hihihi 🙂

      Nuhun sudah baca2 blog kami 🙂 Silahkan dibaca2 semuanya 😀

      Boleh tau nama panggilan Mbak siapa? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s