Kebun Mini Menyayangi Bumi

Berkebun, 28 Jan 2015

Saya penikmat keindahan semesta. Menginjak kepala tiga, Alhamdulillaah sudah 32 belahan bumi saya jelajahi dengan cara-cara ajaibNya.

Beragam cara saya mencumbu bumi. Saya pernah berasik-asik snorkeling di Gili Kedis NTB, lalu bamboo rafting di aliran deras sungai Amandit, pegunungan Meratus Kalimantan Selatan. Saat ke Mesir, saya hiking ke gunung Sinai setinggi 2458 mdpl. Saya bahkan jauh-jauh mendatangi Niagara Falls di perbatasan Amerika dan Canada. Saya juga sudah merasakan keseruan mengendarai unta lalu bermalam di tenda suku Barbar, menatap ribuan bintang di gurun pasir Merzouga. Dan saya tidak akan pernah lupa pengalaman mencelupkan kaki di Laut Mati, Jordan. Sayang tidak membawa baju ganti, batal mengapung di laut mati.

Allah anugerahi manusia bumi maha luas, hutan hijau yang menyegarkan rongga dada, kelokan anak sungai yang memesona dan puncak-puncak gunung yang memanjakan mata. Sepatutnya kita jaga untuk anak cucu kita!

Saya dan suami memupuk mimpi. Kami ingin mengunjungi Taman Nasional Komodo NTT, merasakan dingin Kutub Utara, menyusuri hutan hujan Amazon, atau berendam air hangat bertingkat Pamukkale, Turki.

Keajaiban alam yang ingin kami kunjungi ini bisa musnah karena tangan manusia. Bumi  renta lebih cepat jika terus-menerus diperdaya manusia.

Manusia mempercepat penuaan bumi dengan membuang sampah sembarangan. Semena-mena menggunduli hutan membuka lahan. Boros mengonsumsi minyak bumi karena memiliki kendaraan lebih dari satu. Tidak mematikan lampu saat tidak diperlukan. Masih panjang lagi daftar proses penuaan bumi yang dilakukan manusia. Memprihatinkan!

Jauh sebelum isu global warming dan deforestasi (kerusakan hutan) mencuat, Tuhan sudah mengingatkan 14 abad lampau. Termaktub dalam Qur’an, surat Ar-Ruum 41,

                                                                              ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

 

Sayangnya manusia amat bebal saat diingatkan. Angkuh tak peduli. Sampai kemudian bencana alam berdatangan karena konservasi tidak diupayakan.

Dalam website The Nature Conservancy Program Indonesia diungkap,

“Setiap tahun, sekitar 13 juta hektar hutan hilang akibat deforestasi. Sebagian besar akibat pembalakan liar. 

Hutan yang tersisa terfragmentasi sehingga kemampuannya sebagai penopang kehidupan liar dan penyedia air bersih bagi manusia berkurang. Deforestasi menyumbang 20 hingga 25 persen dari seluruh polusi karbon yang menyebabkan perubahan iklim global…”

Jangan sampai kita terjerumus dalam proses perusakan lingkungan dan deforestasi. Apalagi cuek berpangku tangan.

Seyogyanya setiap orang memiliki kesadaran pribadi untuk menjaga bumi dengan langkah-langkah kecil. Kecil tapi konsisten. Kecil tapi bermakna. Kecil dan akan menjadi bola salju kebaikan!

Menggagas Kebun Mini

Kesadaran mencuat setelah saya diopname dua kali. Pengalaman sakit yang ‘memanusiakan’ saya.

Saya berpikir ulang. Apa yang sudah saya makan selama ini sehingga ambruk berkali-kali?

Sikap serakah apa yang sublim dalam kelakukan sehari-hari  sehingga ‘diganjar’ operasi batu ginjal?

Saya tersadarkan setelah membaca literatur kesehatan. Saya kerap memasukkan ‘sampah’ dalam tubuh. Juga jarang mengonsumsi sayur-sayuran mentah segar!

Saya memutuskan mengubah pola makan di ujung 2012. Jika sebelumnya selalu sarapan nasi lauk-pauk lengkap di pagi hari, sekarang saya ganti dengan konsumsi eksklusif buah-buahan segar. Atau membuat raw juice dari sayur-sayuran segar. Pelaku food combining juga dianjurkan mengonsumsi buah dan sayuran bebas campur tangan pestisida.

Jamak diketahui, buah dan sayur-sayuran organik mahal harganya. Setelah menimbang banyak hal, bismillah, saya dan suami sepakat  mulai berkebun.  Kami berharap bisa memetik sebagian sayur segar organik dari kebun sendiri, karena ditanam tanpa pupuk kimia dan semprotan pestisida.

Ditanam Di Mana?

Rumah kami terletak di ujung jalan desa Ciganitri. Bersisian dengan sawah seluas mata memandang. Akan tetapi, rumah kontrakan nyaris tidak memiliki halaman. Hanya tersisa tanah berbentuk segitiga memanjang kurang dari 1 meter persegi.

Suami akhirnya mensiasati media tanam dengan membuat aneka rak sederhana dari kayu bekas. Berkebun vertikultur! Saya izin meminta kayu tak terpakai pada tetangga yang merenovasi rumah.  Alhamdulillah dihadiahi banyak kayu bekas.

Sebagian bibit ditanam dalam pot. Sisanya disemai dalam kantung plastik bekas minyak goreng 2 liter dan botol air minum kemasan 1.5 liter. Dengan menggunakan pot dari bahan-bahan bekas, kami menyayangi bumi dalam aksi nyata. 🙂

Aneka bibit berumur 10 - 15 hari. Cukup ditanam dalam pot plastik dan botol bekas air minum kemasan.

Aneka bibit berumur 15 hari.

 

Pohon cabai usia 2 bulan. Sudah berbunga, rontok dan keluar bakal cabainya.

Pohon cabai usia dua bulan

 

Saya bertugas menyiangi rumput liar dan menyirami bibit. Sesudahnya saya betah jongkok berlama-lama. Mengamati pertumbuhan aneka bibit dari dekat. Tampak mungil menggemaskan. Tinggi bibit kurang dari 10 cm tapi sudah tumbuh daun kecil-kecil. Saya terpana!

Berkebun sepenuh hati adalah hiburan jiwa. Murah meriah dan meremajakan bumi secara mikro.

Meriahnya Kebun Mini

Setelah telaten merawat bibit sayur-sayuran kurang lebih 3 bulan, kami mulai memetik hasil.

Saban mengonsumsi sayur-sayuran bebas pestisida dari kebun mini, saya diliputi bahagia. Betapa pemurahnya bumi. Sudah sepatutnya saya berterima kasih dengan aneka cara. Termasuk menerapkan prinsip 3R dalam kehidupan berumah tangga, reduce, reuse dan recycle sebisa kami.

Foto sayur-sayuran kebun mini:

1. Sawi siap panen.

Pestisida alami saya buat dari ulekan bawang putih dan secangkir rendaman tembakau, lalu dicampur dengan air 17 liter, disemprotkan di daun sawi. Jelas tidak membahayakan tubuh.

 

Sawi segar!

 

2. Tak sabar menunggu si tomat merah merona! 🙂

 

Berkebun, 28 Jan 2015_7

Tomat kami!

 

3. Yang paling menakjubkan adalah pohon cabai. Saya menanam biji cabai merah hampir busuk yang masuk dalam satu ons cabai rawit (yang dibeli di pasar tradisional). Tak saya sangka tumbuh kuat dan berbunga sangat banyak.

Cabai hijau ini sering saya petik untuk bumbu karedok. Segar pedas! 🙂

 

Cabai siap panen!

 

4. Pare kesayangan suami. Menggantung menggoda! 🙂

 

Pare menunggu dipetik!

 

5. Setiap kali menemukan strawberry merah menyala, saya menjerit bahagia! Gegas saya petik, cuci, lalu dimasukkan ke mulut. 🙂

 

Strawberry menggoda!

Strawberry menggoda!

 

6. Daun bawang siap panen. Bahan penyedap alami dalam pembuatan siomay dan bala-bala!

 

Daun bawang siap dipanen.

Daun bawang kami!

 

***

Resolusi Hijau 2015 Kebun Mini

Sudah dua tahun terakhir saya memisahkan sampah organik dan non organik. Sampah organik ditanam suami dalam salah satu lubang kompos di samping pohon mangga. Hasilnya pohon mangga Mama makin subur dan berbuah manis.

Yang paling membahagiakan, Mama dan Bapak mertua akhirnya tergerak meniru kami. Sudah setengah tahun beliau berdua mengolah tanah pekarangan di depan rumah mereka.

Awal 2015 ini, saya ingin mengajak lebih banyak orang menyayangi bumi dari rumah. Memanfaatkan lahan sekecil apapun. Salah satunya dengan berkebun vertikultural.

Percayalah, kepuasan memetik buah dan sayuran dari kebun sendiri tak dapat dinilai dengan uang!

 

Bayam dan labu siam segar baru dipetik, rencananya akan ditumis :)

Bayam dan labu siam baru dipetik, mau ditumis 🙂

***

Tulisan ini diikutsertakan pada lomba blog #ResolusiHijau2015 The Nature Conservancy Program Indonesia

 

Advertisements

34 thoughts on “Kebun Mini Menyayangi Bumi

    • Weleh, jagoan juara sudah mampir di mari. Bahasanya itu looh 🙂

      Eh tapi, ini lebih dari 1000 kata, lebih sekitar 87 kata, hiks.
      Bingung saya 😀

      Apa dipangkas lagi? Tapi sayang euy! 🙂
      Ini juga sudah diedit belasan kali, hihihi…

  1. Waow…tulisannya keren sekali mbak. Foto sayur2annya jg menggoda iman..hehe…aku jg pgn bgt punya kebun di belakang rumah gitu. Tahun ini insyaAllah bs terwujud punya secret garden gitu..hehe

    • Uhuy, dipuji jawara lomba-lomba blog rasanya gimana gitu ya, mudahan jadi doa tulisan ini bisa memikat para juri 🙂

      Nuhun sudah mampir ke sini Mbak Wulan 🙂

      Eh, ini di depan halaman rumah kok, bukan di belakang 🙂

      Dimulai dari sekarang saja, Mbak, dari kaleng2 bekas dan plastik bekas 😀

  2. Suka banget. Sebelumnya nyoba bercocok tanam sayuran gagal. Kyknya krn diblkg rumah, kurang dpt cahaya matahari scr tembok tetangga tinggi bgt. Hihihi. Sudah berencana buat di dpn rumah Mak…doain sukses juga ya….:-)

    • Makasih sudah mampir Mbak Putri. Tersanjung sama komennya. Mudahan jadi doa ya 🙂

      Wah, iya 🙂
      Tanaman butuh sinar matahari yang cukup 🙂
      Sebetulnya mudah kok berkebun itu, asal rajin menyiram dan mengusir hama pengganggu, dijamin subur ijo royo-royo.

      Didoakan kebun depan rumahnya cepat terealisasi dan bisa dipanen 🙂

  3. Aah suka banget tulisan ini. Inspiratif banget mbak Ima. Kenapa bisa bertenaga tulisan ini buat saya ya. Karena saya ikuti tulisan2 mbak Ima di facebook tentang banyak hal termasuk berkebun di lahan terbatas ini.
    Saluut mbak Ima sayang, semoga tambah banyak lagi yg terinspirasi. Good luck

    • Aaaah, ada Mbak Winny yang mampir. Makasiiih 🙂

      Baca komen Mbak Winny saya makin terharu biru. Huhuhu.

      Kapan bisa ketemuan langsung denganmu ya, Mbak? 😀

      Soal tulisan ini, jujur saya edit belasan kali, karena dibatasi maksimal 1000 kata 😀

      Aslinya lebih detil, karena tulisan awal mencapai 1500-an kata 😀

      Hampir seharian mengedit, hihihi 🙂
      Mudahan menarik hati dewan juri juga ya, Mbak 😀

  4. wuihhh keren mbak…tanamannya organik ya? saya ga telaten berkebun,mana gagal terus hihi..saya go greennya yg lain aja deh 🙂 nice post btw!

    • Hehehe, padahal biasanya kalau tinggal di Eropa pada senang berkebun 🙂

      Iya, organik Mbak. Pupuknya diambil dari kompos akar dan batang2 sayuran dan kulit buah-buahan 😀

      Makasih sudah main ke sini lagi Mbak Dede 🙂

  5. Ah, Mak. Saya juga sempat berpikiran untuk berkebun. Mengingat keluarga saya sangat suka dengan lalapan! Dan, kebetulan Bapak saya suka memelihara lele di sawah. Tapi, eh, tapi saya bingung mau di tanam di mana. Mungkin nanti saya akan niru juga 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s