Kalimantan Selatan: Memacu Adrenalin dengan Bamboo Rafting di Sungai Amandit

ADRENALIN ALA BAMBOO RAFTING!

Suatu petang, sebuah perbincangan membentang.

“Sayang, sudah lama tak menjenguk Nini ya. Nini pasti kaganangan wan aku, cucu pertama sidin.[1]
“Ya, kenapa kita tidak menjenguk beliau, sekalian menikmati Honeymoon di Kalimantan?” Suami menyambut ideku.

Malam itu juga kami memutuskan membeli tiket pesawat untuk mudik ke kampung halaman. Keberangkatan insyaAllah minggu depan.
Syamsuddin Noor

Ada rasa khas yang menyelusup dada, kala pesawat mendarat di bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin. Tak bisa diungkap dengan kata-kata. Perasaan nyaman yang sublim. Perasaan kembali pulang.

Setelah menguluk salam pada Abah Mama, kuutarakan maksud hati, ingin mengunjungi Nini di Batang Kulur Kanan, kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tanpa banyak kata, Abah mengizinkan dan berujar setengah memerintah, “Honeymoon kali ini harus berhasil memberikan cucu untuk saya ya!” Saya dan Aa hanya tersenyum dikulum.

Meminjam Motor

“Nini, Niniii! Cucu pian datang, Ni!” Tak sabar saya menghambur membuka pintu rumah setua usiaku. Airmata berlinang kala kedua lengan ini memeluk erat ringkih tubuh Nini. Ah, Nini yang dimakan usia tapi aliran sayangnya tetap memagut mesra.

“Nini, kami umpat bamalam wadah Nini ya. Handak maulah anak, Ni ai.[2]” Saya terbahak meminta izin pada Nini dan beliau terkekeh lembut, memperlihatkan gigi putihnya yang rapi berjajar sempurna tak dimakan usia.

“Amun ikam handak bajalanan, pakai ja motor Acil di hulu. Ayuha Nini kawani mainjamakan.[3]

“Hulu kan jauh, Ni. Gimana cara ambil motornya?”
“Nini kan punya dua sepeda. Suamimu dan Nini ke hulu saja naik sepeda.”

Ah Nini sayang, kebaikan hatimu tidak pernah berubah. Meski senja telah meringkihkan jasadmu, tapi ketulusan dan sayangmu semakin kokoh membatu.

Kutatap punggung dua orang yang kusayangi. Perlahan Aa mengayuh sepeda beriringan dengan Nini, menjauh meninggalkan jemuran padi hasil panen tahun ini. Saya duduk mencangkung. Menjaga padi agar tak dipatuk ayam dan burung.

 

Sebuah Ide Gila!

Saya mengangkat kepala, saat mendengar suara motor memasuki halaman rumah Nini.

Aa tersenyum saat masih di atas motor, “Sayang, akan ke mana kita? Adakah sebuah tempat menarik yang belum pernah kamu datangi? Ayok ke sana!”

“Wah, yang belum kudatangi ya? Rasanya seluruh obyek wisata di Hulu Sungai Selatan sudah kudatangi. Tapi kebanyakan saat masih kecil sih, A.”

“Er…, kalau tidak salah bamboo rafting bukannya khas daerah sini?”

“Wow, kalau itu saya belum pernah A! Sama sekali belum pernah!” Aliran darah seketika mengalir cepat memenuhi rongga dadaku. Excitement is in the air!

“Nah, kenapa kita tidak ke sana? Di mana lokasinya?”

“Duh, jauh sekali dari sini, A! Lokasinya di dalam hutan Loksado. Di pegunungan Meratus. Sekitar tiga jam menggunakan mobil! Kita hanya punya motor tua ini. Bagaimana?”
“Kenapa tidak? Kamu ini tukang jalan. Sudah banyak tempat di Indonesia yang kamu datangi, bahkan kamu bilang sudah ke NTT dan NTB, tapi kenapa kampungmu sendiri tidak kau jelajahi?”

Saya tersenyum malu.

“Aa siap nih memboncengku tiga jam? Medannya naik turun pegunungan, kadang-kadang sangat curam. Kita akan membelah pegunungan Meratus. Masih hutan perawan. Banyak urang utan, bahkan binatang buas. Aa tidak takut?”

“Kenapa harus takut, Sayang? Kita berangkat besok saja. Pagi-pagi sekali! Bagaimana?”

Senyumku semakin merekah, “Kenapa tidak? Jika orang lain menghabiskan honeymoon mereka dengan menikmati indahnya Bali, kita berbeda ya, A. Menikmati bulan madu kesekian kita dengan berakit-rakit ke hilir sungai Pegunungan Meratus! Aaaah, pasti unik dan seru. Senangnya!”

 

Jelajah Pegunungan Meratus!

Matahari baru beranjak dari peraduan malam. Aa membangunkanku lembut, “Yang, yuk siap-siap!”

Saya melonjak kaget dan segera teringat rencana semalam. Kami gegas menyiapkan segala keperluan sepanjang perjalanan nanti. Lagi-lagi Nini menjadi pahlawan kami. Beliau sudah menyiapkan sarapan nasi pundut[4] dan lamang telur asin[5]. Kuliner khas Kandangan, amboi sedapnya!

 

Setelah mencium tangan dan pipi Nini, kami berpamitan dan membelah jalanan lapang dan wangi rerumputan disiram hujan semalam. Permulaan pagi yang sempurna.

Siap mengobarkan adrenalin di belantara pegunungan Meratus sambil memeluk pinggang belahan jiwa adalah sesuatu yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya!

Biasanya penduduk lokal bahkan petualang dari mancanegara sekalipun memutuskan menyewa mobil atau naik angkutan umum. Sayangnya angkutan umum hanya ada dua kali dalam seminggu. Sedang kami nekad mengendarai motor tua. Sungguh keputusan pemompa adrenalin utama! Bagaimana jika kami kehabisan bensin? Bagaimana jika mogok di tengah jalan? Bagaimana jika…? Beribu tanya dan khawatir menggantung di benak saya.
Jangan tanya perasaan saya, berdebar dan anehnya sekaligus senang luar biasa! 🙂

Kami bersiap mendatangi salah satu puncak Adrenalin!

Setelah bertanya puluhan kali, memotret dan menyapa satwa liar yang kami temui di jalanan, akhirnya sampai jua di kampung Loksado, kaki pegunungan Meratus, tepat pukul sembilan pagi.

Seorang anak muda berpenampilan sederhana menyapa sopan, “Mau bamboo rafting ya, Kak?”

“Eh, iya! Berapa biayanya, Dik? Saya orang Banjar asli, tapi seumur hidup belum pernah mencoba bamboo rafting. Perlu menabung beberapa lama. Jangan mahal-mahal ya?”

“Gak mahal kok, Kak. Yang mahal itu bambunya. Bambu yang digunakan khusus, harus yang tahan banting dan benturan batu tajam.”

“Adik ini pandai berdiplomasi ya.” Saya menggodanya dan ia tersenyum bersahaja.

“Kakak siap basah kan?”

“Tentu, Dik. Saya bawa baju ganti kok.”

Setelah transaksi kami sepakati, aku dan Aa dituntun menaiki bilah-bilah bambu panjang yang dirakit dengan tali dari kulit bambu. Tampak sangat sederhana dan alakadarnya.

Bagaimana jika bamboo ini menghantam batu raksasa?
Bagaimana jika bamboo ini menenggelamkanku? Aku kan tidak jago berenang?

Bagaimana jika…?

Duh, sejuta khawatir kembali menyergap saya!

Jujur rasa takut mulai menggerayangi hati. Rupanya rona wajahku terbaca!

“Gak usah khawatir, Kak. Saya juru mudi bambu professional kok. InsyaAllah aman.” Adik juru mudi kami menarikku dari gelembung rasa.

Wah, kecutnya hati ini terbaca!

Bismillah ya, Dik. Eh, kamu orang dayak asli?”

“Saya asli dayak, Kak. Selamat datang di kampung saya.

Kakak tidak usah takut. Saya mulai belajar menjadi juru mudi sejak usia enam belas tahun.

Sudah ratusan rakit bambu saya kemudikan dan baru sekali kecelakaan. Itu pun karena penumpangnya banyak gerak.”

“Waduh! Seram sekali, Dik. Kamu cerita itu malah membuat saya makin ketakutan.”

“Loh Kak, ini kita sudah mengalir dan baik-baik saja kan?” Dia terbahak menertawakan saya.

“Ah iya! Aku kok gak nyadar sih, Dik? Kapan ini benturan dengan arus deras dan batu-batuannya?”

“Sabar Kak, sebentar lagi ketemu dan pegangan yang kuat ya!” Ia menunjukkan dudukan kursi dari bambu yang dipasang di tengah rakit.

BUKKK!
Tahu-tahu rakit kami membentur batu hitam. Sangat besar. Jantung saya hampir lepas dari raga! Kaget bukan main! Jangan tanya baju saya, basah semua! 🙂

Aa bagaimana?
Aa menjerit-jerit gembira, “Woi, ini seru sekali woooi!!! Adrenalin Aa naik kala rakit membentur batu-batu. Airnya juga jernih sekali ya, Yang. Kita bisa melihat sampai dasar, Yang! Udara segar bukan main. MasyaAllah nikmatnya hidup di dalam hutan Loksado ya!” Aa tampak larut menikmati petualangan membelah sungai Amandit ini. Sedang juru kemudi tetap fokus mengendalikan rakit bambu.

Belakangan saya ketahui nama juri mudi kami, Arli!

Kelincahannya dalam mengemudikan bambu-bambu yang disatukan hanya dengan tali temali sederhana dari bambu muda, sungguh patut diacungi jempol.
Mengagumkan!

Saya sempat bertanya pada Arli, “Li, ikam sudah barapa lawas jadi tukang kemudi bamboo rafting ini?[6]

“Ulun sudah lima tahun kerja ini, Kak.”

“Kamu gak sekolah lagi?”

“Kada. Ulun sudah kada sakolah imbah lulus SD.[7]

“Oooh…”

“Kalau pas gak dapat penumpang, kamu kerja apa, Li?”

“Ulun menoreh karet di hutan…[8]

Arli ternyata hanyalah lulusan SD dan tidak pernah keluar dari rimbunnya hutan Loksado. Jarak terjauh yang pernah ditempuhnya adalah kota Kandangan dan sekitarnya, tapi Arli masih nyambung kuajak mengobrol berbagai hal meski jawabannya adalah kalimat-kalimat sederhana.

Arli yang baru menginjak usia 21 tahun ini, ternyata sudah memiliki istri dan dikaruniai satu orang anak! Kalah deh kami. 🙂

Dengan kekayaan alam Loksado yang berlimpah, Arli tetap bisa hidup layak menurut ukuran kampungnya. Namun Arli sempat berujar di ujung obrolan kami,

“Ulun handak anak ulun bisa sekolah setinggi-tingginya, supaya hidupnya lebih baik dari ulun. Bagawi sebagai juru mudi ini lapah dan kada kawa berlangsung salawasan.[9]

Kami terdiam. Mengangguk-angguk tanda setuju.
Lalu mengaminkan harapannya di langit hati.

Mudahan suatu ketika kami bisa membawa teman-teman dari luar Kalimantan Selatan berkunjung ke hutan Loksado dan menemui Arli si pekerja keras ini.

Arli ternyata juru mudi yang lincah. Meski harus menjaga keseimbangan, mengayuh dan sesekali harus turun ke dasar sungai Amandit berarus deras, dia tampak santai dan menikmati pekerjaannya.

Suamiku tercinta sudah basah-basahan sejak tadi.

Aa sangat menikmati permainan gelombang dan arus deras sungai Amandit. Sesekali Aa mencemburkan diri. Terutama saat melihat anak ikan gabus berenang santai di beningnya air sungai. Aa mengikuti si ikan dan berusaha menangkapnya dengan tangan. Serupa anak kecil mendapatkan mainan! 🙂

Ya, beningnya sungai Amandit merayu Aa yang senang berenang. Apalagi anak-anak pedalaman Loksado banyak yang berenang mengikuti rakit kami. Menyapa dan bertanya beberapa hal. Mereka ramah dan menyenangkan.

Tumbukan, hentakan, tikungan arus, bahkan tenggelamnya rakit bambu kami dalam sungai meledakkan jeritan ketegangan sekaligus memompa adrenalin ke puncak tertinggi. Namun tak satupun makhluk hidup merasa terganggu, karena kami menjerit riang di lebarnya sungai Amandit, di tengah rimbunnya hutan Loksado. Berlian tersembunyi di balik pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan.

InsyaAllah, kami akan kembali lagi!

***

[1] Nenek pasti kangen denganku, cucu pertamanya ini. Dialog dalam bahasa Banjar.

[2] Nek, kami minta izin menginap di rumah Nenek ya, mau bikin anak, Nek.”

[3] Kalau kamu mau pinjam motor Tante untuk jalan-jalan, ayuk Nenek temani pinjam motor ke rumah Tante di hulu.

[4] Nasi bungkus. Serupa nasi kuning, akan tetapi lauknya khas Kandangan, yaitu ikan gabus dibakar lalu dimasak sambal cabe kering dalam kuali yang dimasak menggunakan kayu bakar.

[5] Nasi ketan yang dimasak dalam bambu dengan cara dibakar. Dimakan dengan telur asin bebek.

[6] “Kamu sudah berapa lama jadi juru kemudi rakit bambu ini?”

[7] “Saya sudah tidak sekolah sejak lulus SD.”

[8] “Saya menoreh karet di hutan.”

[9] “Saya kepingin anak saya bisa sekolah setinggi-tingginya. Supaya hidupnya nanti lebih baik dari saya. Kerja sebagai juru mudi ini lelah dan tidak bisa selamanya.”

Advertisements

3 thoughts on “Kalimantan Selatan: Memacu Adrenalin dengan Bamboo Rafting di Sungai Amandit

  1. Pingback: Lomba Blog Pegipegi Antarkan Saya Menemui Orang Utan di Tanjung Puting | honeymoonbackpacker

  2. nah klo jalan di pegunungan meratus ingat waktu zaman sma kami ngebolang dari Loksado tembus ke Batu Licin.

    waktu malam pegi kami naik motor laju laju beiringan 5 motor, waktu balik paling berani 30km/h coz baru sadar klo jalan kami malamnya itu kiri kanannya jurang dalam

    hahaha

    • Umay umay, nekadnya ikam Ding 🙂

      BTW, bantu share untuk klik tulisanku nang Jepang pang Ding, ikhtiar hari terakhir nah sebelum diumumkan 30 besar paling banyak dibaca / dikunjungi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s