Honeymoon Diaries: Ban Bocor

Hari Sabtu yang menyenangkan, meski diwarnai kisah ban bocor sebanyak dua kali.

Yang pertama di Buah Batu (lalu ditambal). Yang kedua -untungnya- di Balaikota Bandung dan cuek saja diparkirkan karena mempertimbangkan acara yang sudah dimulai. Kami lalu ngacir ke GAPURA, powered by Google.

Materi dibagi beberapa sesi. Materinya seru-seru. Tinggal mengaplikasikan ilmu yang didapat. Mudahan sebagian materi yang mengesankan juga bisa saya tulis di sini. πŸ™‚

Jam 5 sore acara Google kelar. Tentu saja foto-foto heboh dulu dengan teman-teman blogger Bandung.

I love you, girls! πŸ™‚

“Pulang yuk,” kata si Aa setelah beres memotret istri dan teman-temannya.

Kami melangkah beriringan. Saat tiba di parkiran seketika tersadar. Ban kami kan bocor lagi! Hahaha.

Tanya-tanya satpam. Ternyata harus didorong kurang lebih 700 meter. Kasian si Aa πŸ™‚

Sampai di tukang tambal ban kita berdua masih happy.

Begitu tukang tambal ban berujar, “Kang, ban dalam harus diganti.”

Heh?
Kami saling menatap gemas.

Nasiiib…

“Ya sudah, Pak. Tolong ditambal.” Aa mengatakan tentu saja dalam bahasa Sunda halus.

Si bapak mulai bekerja. Tampaknya cukup lama. Kami memutuskan melangkah ke masjid. Aa belum menunaikan ashar.

Saya menunggu. Duduk tenang dan merenungi hari ini.

Ah…
Kalau dipikir-pikir, hidup manusia mirip ban bocor. Misalnya sakit, ya harus diobati.

Kalau ban sudah expired karena tambal sana-sini sudah tak mempan, manusia juga punya masa expired, yaitu kematian. Tapi apa kita bisa beli nyawa lagi, seperti beli ban baru?

Sayangnya tidak.
Sama sekali tidak ada!
Karenanya muslim yang baik adalah muslim yang beramal sholeh sebanyak-banyaknya dan fokus bekerja.

Aa pernah mengingatkan saya, “Muslim terbaik adalah muslim yang selamat tangan (dan mulutnya) dari menyakiti sesama.”

Aa juga sempat berujar, “Muslim terbaik adalah muslim yang diamnya adalah istighfar, bicaranya adalah hikmah dan perbuatannya adalah manfaat.”

Ah, betapa jauhnya saya dari kategori itu.

Sungguh, saya tidak ingin jadi ban bocor. Bolak-balik ditambal amalan baik, tapi tetap kempes karena terlalu berat menanggung dosa-dosa kecil yang ditimbun dan menggunung.

Betapa meruginya saya!

“Yang, ambil motor yuk.” Bergenggam tangan kami menuju tukang tambal ban.

Alhamdulillah ban baru telah dipasang.

Sambil menuju jalan pulang, kami banyak berbincang di atas motor adik ipar. Sampai di Buah Batu, motor batuk-batuk, lalu berhenti sama sekali.

Loh kok?

Bensin motor habis!

Hahaha… Dan Aa mendorong kembali πŸ™‚

ps.

Terima kasih, Aa.
Sabar menemaniku belajar ilmu kehidupan. πŸ™‚

Advertisements

4 thoughts on “Honeymoon Diaries: Ban Bocor

  1. Ah ya, terima kasih sudah berbagi juga, ya, Mbak Ima :).
    Kebetulan tadi pagi ban motor bocor juga hehehe… Pagi diisi angin saja, ternyata sampai kantor kempes lagi. Mungkin bisa dibilang semacam pertolongan pertama yang tidak bertahan lama ya.

    • Waaah, Leila main ke sini lagi. Apa kabar Sayang?

      Lamanya kita gak say hello ya πŸ™‚

      Gak kayak di rumah Multiply dulu. Saban menit bisa saling kunjung, hihihi πŸ˜€

      Iya, betul. Semacam pertolongan pertama saja. Harus disyukuri juga πŸ˜€

  2. Kalau sudah bocor berkali – kali, memang lebih baik diganti, biasanya bakal sering bocor soalnya πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s