Impian Tertulis: Umrahkan Mama

Sekitar tahun lalu saya menulis impian di facebook (kurang lebih) isinya seperti ini,

“Saya ingin mengumrahkan Mama. Beliau guru mengaji luar biasa. Perempuan shalihah bersahaja. Tak mengapa dibayar tak seberapa (bahkan tak cukup untuk sekadar pengganti transportasi). Beliau hanya mengharap surgaNya. Jika saya membuat umrah budget Kelana Cahaya Tour, kira-kira ada yang tertarik kah? Sapa saya di message ya?”

Saat menuliskan itu, saya belum tahu penyelenggaraan umrah trip itu seperti apa. Ke mana harus membeli tiket pesawat untuk grup, apalagi mengurus visa -yang konon dari mulut ke mulut tersiar kabar sangat rumit njelimet- dan belum tahu jamaah akan diinapkan di mana.

Kalau umrah Alhamdulillah sudah pernah. Saya mendapat umrah gratis dari salah seorang pembaca blog saya. Pengalaman ruhani yang luar biasa! Saya diberangkatkan beliau tahun 2010. Karenanya saya terinspirasi beliau untuk memberangkatkan Mama (mertua). Menduplikasi kalau orang MLM bilang! πŸ™‚

Kenapa Mama mertua?

Karena orang tua saya sudah haji dan (berkali-kali) umrah saat menetap di Mekkah beberapa tahun lamanya. Adik kedua saya juga baru memberangkatkan orang tua untuk umrah (kembali) pada tahun 2012.

Kenapa Mama mertua?

Karena Mama sudah manasik belasan kali. Mengitari ka’bah miniatur ratusan kali di halaman pesantren dekat rumah kami.

Kenapa Mama mertua?

Karena Mama guru mengaji sangat baik hati. Tak pernah berpikir untung rugi duniawi. Bagi Mama, asal muridnya pandai mengaji, beliau sudah merasa cukup rezeki.

Mama pernah berujar saat saya protes kenapa Mama terima saja dibayar sangat murah. Bahkan tak cukup untuk sekadar pengganti bensin, “Biarlah. Mamah sudah senang kalau anak-anak yang belum bisa mengaji sama sekali jadi lancar membaca al Qur’an. Mamah berharap surgaNya.”

Singkat cerita, saya memutuskan menulis di timeline facebook saya agar banyak yang mengaminkan harapan saya. Semoga Allah permudah jalan saya dalam mewujudkan impian meng-umrah-kan Mama dengan cara membuat ‘Umrah Budget’ ala Kelana Cahaya Tour.

Meski jujur saya belum tahu jalan menuju impian tertulis tersebut! πŸ™‚

Jalan Impian Itu Terjal!

Minggu terakhir Desember 2014 Aa dipercaya salah satu travel terbesar (dan mahal) di kota Bandung untuk menjadi ustadz pembimbing dan mengawal 30 jamaah.

Rizki Aa diberangkatkan umrah gratis, naik pesawat Etihad PP dan merasakan menginap berhari-hari di hotel Hilton Suites Mekkah, Movenpick di Madinah, Marriot di Jeddah dan Golden Tulip di Dubai. Wow banget ya! πŸ™‚

Saat tiba di tanah air, Aa saya bombardir dengan banyak pertanyaan seputar dunia travel di tanah suci.

Aa hanya menggeleng, “Aa capek sekali, Yang. Boro-boro menanyai resepsionis hotel (tetangga) yang lebih murah. Jamaah ‘kelas atas’ ternyata rewel dan banyak permintaannya, Yang. Tiga puluh orang yang Aa dampingi.”

Saya terdiam. Menahan kecewa. Sambil menasehati diri sendiri, “Belum saatnya, Ima. Sabar. Allah suka orang-orang yang sabar.”

Hari-hari berlalu.
Saya tetap semangat promosi Umrah Murah bersama Kelana Cahaya Tour. Meski jujur juga belum tahu akan bekerjasama dengan travel Saudi yang mana.

Saya terus hunting informasi online. Berjam-jam dihabiskan untuk searching, browsing dan membangun network dengan para penyelenggara umrah, penjual hotel dan tiket pesawat, meski tak satupun akhirnya cocok untuk di-follow up.

Kendala saya jelas. Umrah budget yang ingin saya jual jauh di bawah 2000 USD. Sementara para penyelenggara umrah mapan mematok harga lebih dari itu. Bagaimana saya bisa memberangkatkan Ustadz Risyan Nurhakim, Lc sebagai pembimbing jika margin ‘keuntungan’ kami sangat tipis nyaris tidak ada?

Bulan Januari berlalu. Bulan Februari juga berlalu. Saya makin deg-degan. Calon jamaah mulai bermunculan. Sepasang dari Jakarta. Sepasang dari Bandung. Sepasang dari Yogyakarta. Dan tentu saja Aa dan Mama (mertua) jika dananya ada.

Bulan Maret datang!
Bagaimana ini?
Saya tidak ingin impian membahagiakan Mama bubar jalan begitu saja!

Tiba-tiba saya teringat pada seorang teman online yang pernah menyapa dan mengajak bekerjasama. Message saya layangkan. Menanyakan apakah dia menyelenggarakan umrah juga?

Saya pikir ini ilham dari Allah!
Saat saya benar-benar hopeless dan tidak tahu harus memulai dari mana, Allah munculkan ide untuk menghubungi beliau.

Alhamdulillah gayung bersambut, “Ayo kita kerjasama, Mbak Ima. Saya juga membutuhkan tambahan jamaah. Supaya beban sewa bis dkknya bisa ditekan karena lebih banyak jumlah jamaah. Saya akan break dan buka seluruh budgetting. Apa adanya. Tidak ada yang ditutupi. Win win solution.”

Setelah berdoa dan shalat istikharah, saya memutuskan memercayai beliau meski belum pernah bertemu sekalipun.
Nekad?
Bismillah! Tawakkaltu ‘alal Laah!

Berkas paspor mulai dikumpulkan. Tiket pesawat dipesan. 18 paspor jamaah disatukan dan dikirim ke Jakarta. Proses pengajuan visa dimulai. Alhamdulillah lancar. Dua hari selesai.

Saat proses visa di Jakarta telah selesai, tahu-tahu telepon Aa berdering, “Ustadz free tidak tanggal 8 hingga 18 Mei nanti?”

“InsyaAllah saya free. Kenapa ustadz?”

“Kami meminta ustadz untuk siap-siap jadi ustadz pembimbing pada tanggal itu. Bisa kan, Ustadz?”

“InsyaAllah saya bisa. Terima kasih sudah menghubungi saya.”

Aa menatap saya dengan binar bahagia, “Telepon dari travel Kh, Yang!”

Mata saya membulat.
MasyaAllah!
Pucuk dicinta ulampun tiba.

Jika fee membawa jamaah dari travel tersebut digabungkan dengan tabungan satu-satunya milik kami (plus tipping dari jamaah kelas atas), insyaAllah kami bisa memberangkatkan Mama!

Gegas Mama kami kabari saat itu juga untuk suntik meningitis. Paspor dan berkas Mama langsung kami kirimkan pada travel partner di Jakarta.

Tentu saja Mama kami ingatkan selalu, “Mah, ini belum pasti Mamah berangkat ya. Soalnya semua disusulkan. Kami belum tahu kekejar apa tidak. Mamah terus berdoa.”

Travel partner menghitung pelayanan pengajuan visa, tiket pesawat serba ekspres dan dikenai lebih mahal dibandingkan 18 jamaah lainnya. Tidak apa-apa. Rezeki bisa dicari, tapi kesempatan (kerap) tak datang dua kali!

Mama mulai merenda bunga dalam hatinya.
Sementara saya dan Aa cemas berdoa.

Mama Batal Umrah?

Jamaah langsung kami datangi satu-persatu untuk manasik. Aa meluncur seorang diri ke Jakarta untuk melakukan manasik di Jakarta. Disusul manasik di Bandung dan terakhir manasik di Yogyakarta pada tanggal 16 April 2015. Persis sehari sebelum Muslimah Backpacker Trip diselenggarakan di Gunung Kidul, Kulonprogo, Imogiri Bantul dan Yogyakarta.

Hingga MB Yogya Trip selesai diselenggarakan, saya dan Aa belum berani mengabarkan apapun pada Mama, karena kami juga belum dapat kabar lanjutan.

Tanggal 20 April siang saya menerima telepon, “Assalaamu’alaikum Ustads Risyan, kami dari travel Kh.”

“Oh, maaf! Suami saya sudah kembali ke losmen. Ini saya istrinya. Ada apa ya?”

“Mohon maaf, Ibu. Kami ingin menanyakan, paspor ustadz ada di mana saat ini?”

“Saat ini ada di muassasah di Jakarta. InsyaAllah akan berangkat membawa jamaah tanggal 22 April dan kembali 1 Mei nanti.”

“Wah! Kami tidak berani, Bu. Batas akhir kami menyetorkan berkas dan paspor tanggal 21 April besok. Jika paspor tidak di tangan ustadz, lebih baik kami mencari ustadz pengganti.”

“Tidak bisa diusahakan ustadz? Bukannya pengurusan visa di travel yang ditunjuk KBSA bisa diselesaikan dalam waktu 2 X 24 jam?”

“Mohon maaf tidak bisa, Ibu. Untuk kami terlalu riskan. Kami tidak berani mengambil resiko. Assalaamu’alaikum.”

Saya lemas.
Airmata saya hampir luruh.
Hati saya seketika keruh!

Seorang pramuniaga mengejutkan saya, “Bu, jadinya mau baju umrah putih yang seperti apa?”

“Eh? Err, mohon maaf. Saya harus menyusul suami saya, Mbak. Permisi.”

Saya gegas menyusuri jalanan dengan hati meremang dalam sedih.

Harapan kami untuk memberangkatkan Mama terhalang kemampuan finansial kami yang terbatas! Harapan satu-satunya untuk mendapatkan uang tambahan lenyap dari genggaman.

Sampai di kamar losmen saya ceritakan ulang telepon dari travel Kh. Aa tercenung seketika. Udara Yogya yang sangat panas menambah sesak dada.

“Aa, kenapa niat baik kita sulit dan terjal untuk diwujudkan? Kita harus bilang apa sama Mama jika batal berangkat? Mama kemarin sudah bahagia sekali saat kita minta suntik meningitis dan mengumpulkan berkas.”

“Aa belum tahu, Yang. Kita berdoa saja. Belum ada yang bisa kita lakukan selain berdoa.”

“Aa, aku tidak ingin mengecewakan Mama. Bagaimana kalau kita berhutang saja? Barangkali ada yang mau menghutangi kita?”

“Ah Yang. Hutang kita sudah banyak. Jangan ditambahi lagi dengan yang baru. Allah Maha Kaya. Akan ada jalan keluar.”

Aa mendekat dan mengelus kepala saya. Saya memeluk Aa dan menyudahi tangis dalam dada.

***

Bersambung ke sini: Impian Umrahkan Mama Terwujud!

 

Advertisements

6 thoughts on “Impian Tertulis: Umrahkan Mama

  1. Pingback: Impian Umrahkan Mama Terwujud! | honeymoonbackpacker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s