Parade Asia Afrika Mencuri Hatiku!

Saya bukan orang yang menyukai keramaian!

Saya mencintai ketenangan. Jatuh hati pada udara sejuk, wangi bunga, pasir putih di tepi pantai, senja hening, merah saga matahari yang turun singgasana dan debur ombak raja suara. Jadi, jangan ajak saya menonton parade atau karnaval. Dengan tegas saya akan menolak seketika! πŸ™‚

Benar juga kata pepatah arab, “Jangan membenci sesuatu secara berlebihan, karena suatu saat engkau akan jatuh hati. Jangan mencintai sesuatu sangat berlebihan, karena suatu saat engkau akan membenci.”

Undangan Familiarization Trip yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Indonesia pada tanggal 24-27 April lalu mengubah sikap saya!

Setelah diajak menikmati permainan wahana Marvel Movie dan keliling-keliling seru di Trans Studio tanpa harus mengantri karena kami dibelikan gelang khusus oleh panitia, 12 blogger internasional dan 8 travel blogger Indonesia digiring menujuΒ Straits Kitchen Trans Studio Mall.

Wangi masakan yang dimasak di tempat seketika mengudara. Membangkitkan selera makan! Panitia bilang kami bebas memesan apa saja. Saya, Nisha dari India, Kak Anis dan Malaysia, Ju dari Korea dan seluruh travel blogger lainnya seketika menghambur melihat-lihat food stall yang berjejer apik.

Saya memutuskan tidak memilih masakan Indonesia. Karena ada Ju dari Korea, saya memutuskan mencicipi Kimbap dari Korea! πŸ™‚

Kimbap ala Straits Kitchen Trans Studio Mall

Kimbap ala Straits Kitchen Trans Studio Mall

Bagaimana rasa kimbap ala Straits Kitchen Trans Studio Mall? Saya review terpisah saja ya. Intinya mah enak pisan! I love it! πŸ™‚

Kimbap saya belum habis -karena saya memesan es buah juga- tapi salah satu panitia mengumumkan bahwa kami harus mengakhiri makan siang karena si Bandros (Bandung on Bus Tour) sudah menunggu kami di halaman Trans Luxury Hotel!

Es buah ala Straits Kitchen Trans Studio Mall

Es buah ala Straits Kitchen Trans Studio Mall

Saya seketika berdiri dan memutuskan membagi-bagikan kimbap pada peserta yang mau mencicipi. Ada 20 peserta dan yang mau lebih dari separuh. Seketika kimbap saya ludes tak berbekas. Alhamdulillah terbebas dari sikap mubazir! Sungguh lega.

Menikmati Bis Bandros

Seumur-umur tinggal di Bandung -kalau dihitung dengan seksama kurang lebih 4 tahun 2 bulan- saya belum sekalipun mencicipi double decker khas kota Bandung nan kece, yaitu Bandros!

Setelah naik ke lantai kedua, saya duduk manis bersama teman-teman blogger dan influencer yang diundang Kementerian Pariwisata. Senang sekali bisa menikmati Bandung yang cantik dan lebih leluasa menyaksikan kota Bandung dari lantai 2 Bandros.

Me at the top of double decker bus Bandros with Kounila from Myanmar and Aniroodh from India!

Me at the top of double decker bus Bandros with Kounila from Myanmar and Aniroodh from India!

 

Me with some Indonesian Bloggers: Mbak Ika and Fahmi catperku.com

Me with some Indonesian Bloggers: Mbak Ika and Fahmi catperku.com

“Awasss! Hati-hati kepala!”

“Watch out your head!”Β 

Dua kalimat di atas adalah peringatan yang berkali-kali terlontar dari mulut si Akang guide. Hihihi, dahan-dahan pohon di kota Bandung sungguh melambai manja hingga ke tengah-tengah jalan raya dan kami yang berada di ketinggian tentu saja harus merundukkan kepala berkali-kali setiap kali peringatan dilontarkan di udara. It was so fun anyway! πŸ™‚

Setelah meluncur sekian menit membelah kota Bandung, Bandros yang kami tumpangi berhenti tepat di depan Gedung Sate atau gedung gubernuran Jawa Barat.

21 blogger, influencer dan artis diabadikan bersama-sama oleh panitia. Terima kasih πŸ™‚

The member of Familiarization Trip by Tourism Ministry of Indonesia

The member of Familiarization Trip by Tourism Ministry of Indonesia

Selesai berfoto dan mengambil foto, kami diminta naik Bandros kembali. Tak lama berjalan, Bandros lagi-lagi dihentikan tepat di pintu samping hotel Panghegar. Saya sempat mengira akan ada ramah tamah di sana bersama pihak terkait, tapi ternyata kami disuruh turun untuk berganti moda transportasi.

Kali ini kami diminta naik bajaj warna putih biru yang disponsori oleh PGN (Pusat Gas Nasional) alias menggunakan bahan bakar gas! Wow! Asik loh naik bajaj PGN ini, karena tidak berisik seperti bajaj warna oranye yang dulu kerap dipakai orang tua saya kala ke pasar.

Ju from Korea and Velycia littlenomadid.com inside bajaj :)

Ju from Korea and Velycia littlenomadid.com inside bajaj πŸ™‚

Saya tentu saja tak melewatkan kesempatan menanyai si abang bajaj saat sudah duduk manis dalam bajaj, “Bang, ini bajaj yang akan dioperasikan di kota Bandung kah?”

Oh enggak Mbak! Kami didatangkan khusus dari Jakarta.”

“Serius, Bang?”

“Iya Mbak. Kami bertugas untuk antar jemput peserta konferensi Asia Afrika. Juga tamu seperti Mbak ini.”

“Wow, cool!” Jujur saya merasa tersanjung di ‘rumah’ saya sendiri.

Saya takjub pada keseriusan panitia KAA dalam menjamu peserta konferensi dengan menghadirkan Indonesia otentik lewat aneka ornamen khas Indonesia, termasuk bajaj yang sudah digusur di jalan raya.

Tak sampai 10 menit bajaj sudah berhenti di pintu samping Gedung Merdeka. Saya dan Mbak Ika turun dan para relawan KAA sigap mempersilahkan kami memasuki media center KAA yang disponsori oleh PNG.

Rasa haru seketika menyergap saat menduduki kursi yang disediakan dalam media center.

Tak pernah saya bayangkan, saya yang timbul tenggelam di lautan blogging sejak tahun 2005 dan memutuskan kembali rutin mengisi blog http://www.honeymoonbackpacker.com akhirnya ‘mengantar’ saya memasuki ruangan penuh kehormatan ini. Ruang yang disediakan panitia untuk ‘memuliakan’ para jurnalis. Β Dan ternyata blogger era kini ternyata sudah diperhitungkan sebagai jurnalis! Senangnya πŸ™‚

Sambutan dari Media Center KAA di Gedung Pusat Gas Nasional Braga.

Sambutan dari Media Center KAA di Gedung Pusat Gas Nasional Braga.

Setelah menyimak sambutan dari ketua Media Center dan ditunjukkan siapa saja relawan KAA yang akan menemani kami mengeksplorasi Parade Puncak Perayaan Konferensi Asia Afrika hari ini, kami semua digiring keluar menyusuri jalan Braga, menuju panggung utama di jalan Asia Afrika.

Sesaat setelah menjauh beberapa langkah dari Gedung Pusat Gas Nasional, mata saya menyaksikan warna-warni ekspresi warga Bandung, turis domestik dan turis mancanegara berbaur di sepanjang jalan.

Puluhan raut ceria tertangkap kamera pinjaman. Mohon dimaklumi jika alakadarnya karena si kamera Lumix GF3 sedang dibawa Aa ‘beribadah’Β ke tanah suci.

Ekspresi ceria warga Bandung mengabadikan momen larut dalam Parade KAA :)

Ekspresi ceria warga Bandung mengabadikan momen larut dalam Parade KAA πŸ™‚

 

Bergaya jadoel ala tokoh nasional :)

Bergaya jadoel ala tokoh nasional πŸ™‚

Adik-adik relawan KAA mengajak kami terus melangkah. Tujuan utama jelas panggung utama. Agar kami leluasa memotret sambutan, pertunjukan pembuka dan parade utama.

Akan tetapi lautan manusia serupa gelombang bergerak ritmis menikmati hentakan musik yang dibawakan pasukan ABRI di atas panggung utama. Saya dan seluruh bloggers terjepit di tengah gelombang manusia!

Manusia tumpah ruah memenuhi jalan Asia Afrika.

Manusia tumpah ruah memenuhi jalan Asia Afrika.

Saya memutuskan maju perlahan. Saat ada celah, saya memilih melangkah. Sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya berdiri di depan panggung utama. Tapi sayang saya tak berhasil melihat apapun saking cebolnya saya di tengah lautan manusia jangkung! Hahaha πŸ™‚

Spanduk sosok Nelson Mandela bersanding dengan Soekarno di depan Museum Asia Afrika.

Spanduk sosok Nelson Mandela bersanding dengan Soekarno di depan Museum Asia Afrika.

Saya sudah mengangkat kamera setinggi mungkin, tapi yang tertangkap hanya kepala lautan manusia. Luar biasa sambutan warga Bandung dan warga dunia atas perhelatan puncak Konferensi Asia Afrika hari itu!

Jujur saya merinding! Apalagi sempat melirik pada banner foto presiden pertama kita Soekarno yang bersanding dengan perdana menteri India Jawaharlal Nehru.

Betapa berwibawanya Indonesia di tahun 60-an!

Hari itu saya menjadi saksi puncak selebrasi perjuangan seorang walikota Bandung bernama Ridwan Kamil bersama warga Bandung. Bersama-sama ingin Β mengembalikan wibawa Indonesia salah satunya dengan menyelenggarakan peringatan Konferensi Asia Afrika yang melegenda itu.

Haru menyeruak dalam dada. Kerja keras Ridwan Kamil, panitia dan ribuan relawan terbukti disambut hangat seluruh warga Bandung dan warga dunia!

Saya yang biasanya enggan menjejalkan diri dalam kemacetan, kesumpekan dan keribetan lautan manusia, hari ini riang bergabung dan larut dalam euforia mengenang sejarah Indonesia yang luar biasa.

Pemandangan dari atas bandros :)

Pemandangan dari atas bandros πŸ™‚

Terima kasih Kang Emil,
terima kasih para relawan yang sudah bekerja keras menyukseskan KAA,
terima kasih Kemenpar yang sudah mengundang saya larut dalam Parade KAA.

Parade KAA mencuri hati saya!

Parade KAA yang tertib dan menjaga kebersihan jalanan karena adanya relawan kebersihan berhasil menerbitkan bangga saya sebagai warga Bandung.

Even dunia sekelas Parade Konferensi Asia Afrika membuktikan bahwa warga Bandung sanggup tertib. Warga Bandung sanggup kerjasama melakukan hal-hal luar biasa. Warga Bandung sanggup bahu-membahu dengan pemimpinnya yang bijaksana, yaitu Kang Emil!

So proud of KAA Parade. You succeeded stole my heart!

Advertisements

21 thoughts on “Parade Asia Afrika Mencuri Hatiku!

    • Iya, saya gak nyangka juga diajakin Kemenpar tuk meliput hore-hore, Mbak πŸ™‚

      Seneng banget rasanya. Soalnya sempat gak kepingin bergabung, karena kelelahan ngurusin Umrah Murah Kelana Cahaya Tour kami dua hari sebelumnya.

      Rasanya melayang-layang seberes melepas jamaah di bandara Soeta πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s