Pintu Pertama: Kabar Baik dari KBRI Rabat

Angin bertiup kencang membawa ruap dan aroma laut atlantik.

Daun jendela kamar yang berat dan tebal terbanting berkali-kali. Dengan mudahnya diterjang angin berkesiut, mengabarkan musim dingin yang merapat di dermaga.

Saya terduduk karena kaget.

Saya putuskan beranjak memeriksa jendela.

Matahari di luar bersinar garang di pertengahan bulan Oktober yang mulai dingin. Suasana kontras yang menarik untuk saya lukiskan di halaman ini.

Sejak minggu lalu, kaus kaki tak pernah lepas dari telapak hingga tungkai kami berdua.

Usia tak kuasa menahan hembus keras bayu yang masuk melewati pori-pori kulit. Lebih baik dipakai jika tak hendak masuk angin. Apalagi persediaan antangin yang jauh-jauh dibawa dari tanah air sudah habis sejak dua bulan lalu.

Alhamdulillaah, meski angin menabuhkan orkestra alam menakutkan bersama debur ombak lautan atlantik di luar rumah susun kami, saya mengucap Alhamdulilah berulang kali untuk kabar baik yang saya terima kemarin sore.

Alhamdulillaah, semua semata kasih sayang Allah padamu suamiku sayang 🙂

Dimulai dari mudahnya mendapatkan ‘qabul mabdai’ dari Doktor Ahmad Filaly hingga tembusnya ‘qabul mabdai’ dari universitas terbaik di negeri Afrika Utara ini, yaitu Universitas Muhammad Khamis!

Saya terharu menyimak kisah yang diurai Aa.

Saya tatap matanya yang dipenuhi binar-binar bahagia.

“Aa pergi tadi siang tanpa membawa sekeranjang harapan. Aa berangkat dengan niat silaturahim pada Doktor Abder Razzak. Nothing to loose!

Tidak disangka-sangka. Perjumpaan pertama yang berbuah manis.”

Saya peluk Aa. Kami tunaikan sujud syukur pada Sang Perencana.

Jalan masih panjang, tetap semangat A!

Terima kasih untuk Pensosbud KBRI Rabat yang berkenan mengeluarkan surat pengantar untuk memasukkan berkas pendaftaran.

Setelah dari KBRI Rabat mengambil surat pengantar untuk ke AMCI (kedua kalinya) tadi siang, Aa akan menuju AMCI (lembaga yang dibentuk Kemenlu Maroko mengurusi mahasiswa asing).

Tujuannya untuk memasukkan berkas pendaftaran kuliah yang sudah dilengkapi dan diperiksa oleh petugas AMCI.

AMCI kemudian akan meneruskan ke Ta’lim ‘Ali (setara Dikti di tanah air).

Dikti Maroko akan meneruskan berkas (kembali) ke kampus yang telah mengeluarkan ‘ letter of acceptance’, dalam hal ini Muhammad Khamis University.

Dari universitas berkas akan diperiksa dan disetujui.

Lalu dikirim kembali ke dua lembaga pertama. Tentu saja diiringi langit doa dan lautan sabar.

Jangan bayangkan prosesnya semudah di tanah air apalagi di Eropa. Di sini dibutuhkan kesabaran berpuluh lipat dibandingkan kesabaran di tanah air.

Berkelana ke banyak negeri membuat kami menyadari, dalam hal administrasi Indonesia jauh lebih tangkas dan efektif dibandingkan negara-negara Arab!

Apalagi administrasi universitas ternama di tanah air, juara jika dibandingkan dengan di sini.

Tak usah membandingkan dengan administrasi pendaftaran kuliah di Eropa. Tidak apple to apple dan hanya akan membuatmu mengaduh iri!

Di Leeds University saja, Berdasar pengalaman saya kuliah rentang tahun 2004-2007, semua berkas pendaftaran yang saya kirimkan via email diproses sangat cepat, efektif dan efisien satu pintu, yaitu bagian administrasi kampus yang kita pilih.

Begitu keluar acceptance letter dari Leeds University, saya melenggang kangkung diuruskan visa oleh British Council di Jakarta dan siap terbang menuju Inggris.

Di Maroko sungguh berbeda!
Siapkan hati!
Siapkan materi!

Di sini kami harus rajin mendatangi masing-masing lembaga saban tiga-empat hari sekali, agar berkas tidak diam di tempat atau justeru tertimpa berkas calon mahasiswa lainnya.

Mungkin semua proses harus dijalani bilangan minggu. Sebagian bilangan bulan. Bahkan seorang dosen perempuan dari tanah air yang hendak mengambil S3 di Maroko menjalani proses dalam bilangan tahun. MasyaAllah!

Beberapa mahasiswa Indonesia menceritakan kasus ketelingsutnya berkas mereka di salah satu lembaga dan membuat hati kebat-kebit dikejar waktu yang terus melibas dan tahu-tahu sudah harus ujian di kampus.

Bukan main kalau diceritakan sabarnya mahasiswa Indonesia di Maroko dalam menghadapi birokrasi berbelit tipikal tanah Arab.

Kata-kata ‘bukrah’ dan ‘ghadan’ yang artinya besok adalah hal biasa di negeri Arab. 🙂

Panjang, masih panjang proses yang harus ditempuh Aa dalam tujuan menuntut ilmu di negeri ini.

Jika tak lurus niat ingin menuntut ilmu, tentu sudah putus harap dan menyerah kalah sebab panjangnya birokrasi sebelum terjun dalam lautan akademi.

25 Agustus kami tiba di negeri Maghrib dan catatan berjuang mendaftar kuliah di Maghrib akan terus saya tabalkan di halaman ini.

Mohon doa sahabat semua. Agar tuntas hajat suami saya. Amin.

“Man salaka thariqan yaltamisu fiihi ‘ilman sahhalal laahu thariqan ilal jannah.”

Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju surga.”

Advertisements

Menunggu Surat Cinta dari KBRI

Izinkan saya berbagi resah yang mendera.

Kali ini ingin membincang keberadaan KBRI di luar negeri, karena kami sedang mengajukan hajat pada salah satu KBRI.

Backpacker seperti kami sebetulnya enggan berdekatan dengan ‘kekuasaan’.
Kami sepasang pengantin kelana mandiri. Akan tetapi, ada kalanya kami mesti bersinggungan dengan KBRI di negara yang kami datangi.

Kalau kami akan ‘menetap’ minimal satu bulan di suatu negara, secara alami saya dan suami senang hati lapor diri ke KBRI setempat.

Rasanya lega jika sudah ‘kolunuwun’ ke perwakilan pemerintah Indonesia di negeri asing yang kami jejak.

Jika ada apa-apa di tengah perjalanan (na’udzubillaah), ke mana kami bisa minta bantuan kalau bukan ke KBRI?

Secara umum, kami selalu merasa nyaman dengan atmosfer kekeluargaan yang dibangun oleh petinggi KBRI di negara-negara yang pernah kami sambangi.

Meski untuk urusan administrasi nanti dulu, karena fakta di lapangan ternyata sangat beragam.

Berdasar pengamatan kami, tidak semua KBRI lincah membantu warga Indonesia di luar negeri yang sedang memerlukan ayoman dan uluran tangan.

Beberapa KBRI tampil birokratis dan kaku. Tampaknya dipengaruhi gaya kepemimpinan sang dubes yang dipilih presiden berkuasa.

Kesimpulan ini saya ambil setelah bersua dan berbincang dengan sekian dubes sepanjang pengembaraan sepuluh tahun terakhir.

Saya masih terkenang-kenang dengan kebaikan Doktor Marty Natalegawa sepanjang beliau menjadi dubes UK, terutama saat saya kuliah di sana.

Sikap tulus membantu pelajar dan mahasiswa seperti saya meninggalkan jejak indah di hati. Mengingat beliau adalah sekaligus melangitkan doa untuk kebaikan-kebaikan beliau sekeluarga. 🙂

Untuk Timur Tengah dan Afrika lain lagi ceritanya.

Sepanjang 2010 hingga 2013 saya pernah berurusan dengan dubes Mesir, dubes Jordan, dubes Tunisia dan dubes Maroko.

Alhamdulillaah semua dubes membantu segala hajat saya.

Yang paling mengesankan adalah silaturahim dengan dubes Mesir pada jelajah Mesir pertama kali di tahun 2010, yaitu Doktor Fachir (sekarang wakil Menlu). Beliau malah mengundang saya untuk dinner di rumah beliau dan membantu mewujudkan impian saya menjejakkan kaki hingga Jordania.

Bagaimana dengan pengembaraan kami tahun 2015 ini?

Sepanjang Ramadhan backpacking di Eropa tahun ini, kami tidak mampir ke KBRI manapun karena kebetulan Aa tidak diminta mengisi pengajian di lingkungan KBRI. Akan tetapi jejak kebaikan KBRI Belanda membuhul di benak kami.

Salah satu home staff KBRI Belanda membantu membuatkan invitation letter dan berbuah visa schengen multiple entry berlaku hingga 2017. Alhamdulillaah.

Menunggu Surat Pengantar dari KBRI Maroko

Sekarang kami kembali ke Maroko. Langsung terbang dari Belgia setelah Dakwah backpacking berakhir. Semata agar ngirit biaya dan waktu.

Seluruh pengeluaran direncanakan seapik mungkin, mengingat kami berdua sama-sama tidak bekerja dan beasiswa suami baru turun setelah mulai kuliah.

Dubes Maroko ternyata telah berganti.

Saya pernah bersua dengan dubes sebelumnya, yaitu Bapak Tosari Wijaya.
Beliau sosok yang hangat, kebapakan dan tidak mudah menghakimi seseorang.

Beliau ringan tangan mempermudah hajat orang banyak. Senang bergerak secara kultural dan merangkul seluruh lapisan.

Dubes sekarang saya masih mengamati. Alhamdulillaah sudah bersua beliau saat shalat Idul Adha di KBRI Maroko tanggal 24 September lalu.

Yang jelas, suami saya telah ke
KBRI Maroko pada tanggal 18 September untuk meminta surat pengantar ke Pensosbud KBRI Maroko.

Surat pengantar ini akan dibawa ke AMCI untuk menginisiasi proses pendaftaran sebagai calon mahasiswa di salah satu universitas di Maroko.

AMCI (lembaga yang mengurusi seluruh mahasiswa internasional di Maroko) mensyaratkan surat pengantar dari KBRI Maroko untuk melengkapi berkas pendaftaran mahasiswa mandiri seperti suami saya.

Untuk memastikan ini, Aa sudah mendatangi AMCI seorang diri pada hari Selasa lampau.

Sayangnya surat pengantar yang dibutuhkan suami saya belum dibuatkan KBRI Maroko hingga hari ini.

Entah berapa lama kami harus bersabar menunggu dibuatkannya selembar surat pengantar mendaftar kuliah di negeri ini?

Sangat banyak yang ingin saya ukir di sini, tapi saya harus menahan diri…

Kini, harapan kami tumpukan pada Allah sepenuhnya, semoga Ia permudah segala niat baik ini.

Amin.