Menunggu Surat Cinta dari KBRI

Izinkan saya berbagi resah yang mendera.

Kali ini ingin membincang keberadaan KBRI di luar negeri, karena kami sedang mengajukan hajat pada salah satu KBRI.

Backpacker seperti kami sebetulnya enggan berdekatan dengan ‘kekuasaan’.
Kami sepasang pengantin kelana mandiri. Akan tetapi, ada kalanya kami mesti bersinggungan dengan KBRI di negara yang kami datangi.

Kalau kami akan ‘menetap’ minimal satu bulan di suatu negara, secara alami saya dan suami senang hati lapor diri ke KBRI setempat.

Rasanya lega jika sudah ‘kolunuwun’ ke perwakilan pemerintah Indonesia di negeri asing yang kami jejak.

Jika ada apa-apa di tengah perjalanan (na’udzubillaah), ke mana kami bisa minta bantuan kalau bukan ke KBRI?

Secara umum, kami selalu merasa nyaman dengan atmosfer kekeluargaan yang dibangun oleh petinggi KBRI di negara-negara yang pernah kami sambangi.

Meski untuk urusan administrasi nanti dulu, karena fakta di lapangan ternyata sangat beragam.

Berdasar pengamatan kami, tidak semua KBRI lincah membantu warga Indonesia di luar negeri yang sedang memerlukan ayoman dan uluran tangan.

Beberapa KBRI tampil birokratis dan kaku. Tampaknya dipengaruhi gaya kepemimpinan sang dubes yang dipilih presiden berkuasa.

Kesimpulan ini saya ambil setelah bersua dan berbincang dengan sekian dubes sepanjang pengembaraan sepuluh tahun terakhir.

Saya masih terkenang-kenang dengan kebaikan Doktor Marty Natalegawa sepanjang beliau menjadi dubes UK, terutama saat saya kuliah di sana.

Sikap tulus membantu pelajar dan mahasiswa seperti saya meninggalkan jejak indah di hati. Mengingat beliau adalah sekaligus melangitkan doa untuk kebaikan-kebaikan beliau sekeluarga. πŸ™‚

Untuk Timur Tengah dan Afrika lain lagi ceritanya.

Sepanjang 2010 hingga 2013 saya pernah berurusan dengan dubes Mesir, dubes Jordan, dubes Tunisia dan dubes Maroko.

Alhamdulillaah semua dubes membantu segala hajat saya.

Yang paling mengesankan adalah silaturahim dengan dubes Mesir pada jelajah Mesir pertama kali di tahun 2010, yaitu Doktor Fachir (sekarang wakil Menlu). Beliau malah mengundang saya untuk dinner di rumah beliau dan membantu mewujudkan impian saya menjejakkan kaki hingga Jordania.

Bagaimana dengan pengembaraan kami tahun 2015 ini?

Sepanjang Ramadhan backpacking di Eropa tahun ini, kami tidak mampir ke KBRI manapun karena kebetulan Aa tidak diminta mengisi pengajian di lingkungan KBRI. Akan tetapi jejak kebaikan KBRI Belanda membuhul di benak kami.

Salah satu home staff KBRI Belanda membantu membuatkan invitation letter dan berbuah visa schengen multiple entry berlaku hingga 2017. Alhamdulillaah.

Menunggu Surat Pengantar dari KBRI Maroko

Sekarang kami kembali ke Maroko. Langsung terbang dari Belgia setelah Dakwah backpacking berakhir. Semata agar ngirit biaya dan waktu.

Seluruh pengeluaran direncanakan seapik mungkin, mengingat kami berdua sama-sama tidak bekerja dan beasiswa suami baru turun setelah mulai kuliah.

Dubes Maroko ternyata telah berganti.

Saya pernah bersua dengan dubes sebelumnya, yaitu Bapak Tosari Wijaya.
Beliau sosok yang hangat, kebapakan dan tidak mudah menghakimi seseorang.

Beliau ringan tangan mempermudah hajat orang banyak. Senang bergerak secara kultural dan merangkul seluruh lapisan.

Dubes sekarang saya masih mengamati. Alhamdulillaah sudah bersua beliau saat shalat Idul Adha di KBRI Maroko tanggal 24 September lalu.

Yang jelas, suami saya telah ke
KBRI Maroko pada tanggal 18 September untuk meminta surat pengantar ke Pensosbud KBRI Maroko.

Surat pengantar ini akan dibawa ke AMCI untuk menginisiasi proses pendaftaran sebagai calon mahasiswa di salah satu universitas di Maroko.

AMCI (lembaga yang mengurusi seluruh mahasiswa internasional di Maroko) mensyaratkan surat pengantar dari KBRI Maroko untuk melengkapi berkas pendaftaran mahasiswa mandiri seperti suami saya.

Untuk memastikan ini, Aa sudah mendatangi AMCI seorang diri pada hari Selasa lampau.

Sayangnya surat pengantar yang dibutuhkan suami saya belum dibuatkan KBRI Maroko hingga hari ini.

Entah berapa lama kami harus bersabar menunggu dibuatkannya selembar surat pengantar mendaftar kuliah di negeri ini?

Sangat banyak yang ingin saya ukir di sini, tapi saya harus menahan diri…

Kini, harapan kami tumpukan pada Allah sepenuhnya, semoga Ia permudah segala niat baik ini.

Amin.

Advertisements

10 thoughts on “Menunggu Surat Cinta dari KBRI

  1. Semoga Allah Swt senantiasa memudahkan ya mbak Ima-Aa. Semoga juga ada pihak-pihak berwenang yang membaca tulisan ini dan aware bahwa ada hal penting yang sedang ditunggu mbak Ima dan Aa. Amin. Ditunggu cerita-cerita lainnya mbak Ima πŸ™‚

    • Amin amin. KBRI lain sangat sigap membantu Uniek. Entah kenapa yang ini terkesan mempersulit, padahal niat kami baik mau menuntut ilmu dan sudah dapat full beasiswa dari pemerintah Indonesia.

      Mudahan ada pihak yang terkait tergerak membantu kami ya, Uniek πŸ™‚

    • Alhamdulillaah surat dari KBRI sudah keluar Dik, persis sehari setelah menuliskan ini, pihak pensosbud KBRI Rabat menelepon kami πŸ™‚

      Hamdulillah, the power of writing πŸ™‚

      Makasih sudah mampir ke rumahku, Dik Tarie πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s