Keutamaan Al-Quran

Keutamaan Al-Quran

Sehabis mengecek berkas di rektorat (riyasah), saya jumatan di Mesjid Asrama Kampus (Hayy Jami’i) Soussi Rabat untuk kedua kalinya selama tinggal di sini. Setelah sebulan lamanya mengendap di Ta’lim Aly, Alhamdulillah berkas sampai di rektorat dengan lengkap. Beberapa teman mengalami peristiwa sebagian berkas hilang, sampai harus dikirim ulang sisanya. La haula wa la quwwata illa billah.

Beberapa minggu lalu, saat menyimak ceramah sang khatib untuk pertama kali, saya langsung terpukau. Isinya berbobot dan menyentuh. Bahasa Arabnya fasih. Intonasinya tepat. Yang terpenting, beliau mampu menerjemahkan pesan-pesan Al-Quran dan hadis Rasulullah Saw. ke dalam fenomena sosial masa kini. Pantas saja, beliau adalah Dr. Jamal Saidi, ketua jurusan studi Islam di Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Mohamed V.

Dulu ceramah beliau bertema kemerdekaan. Sebab berdekatan dengan peringatan hari kemerdekaan Maroko. Intinya, beliau menegaskan bahwa adakalanya musuh menjajah bukan karena mereka kuat, melainkan karena kita sendiri menyia-nyiakan kekuatan dan harga diri kita.

Sementara ceramah beliau kemarin bertema Al-Quran. Ujarnya, Allah Swt. memuliakan Rasulullah Saw. dan umat Islam dengan Al-Quran. Melalui Al-Quran, umat Islam diangkat derajatnya. Untuk itu, selayaknya kemuliaan tersebut dipelihara dengan baik.

Caranya adalah dengan membaca (tilawah), menyimak (istima’), menelaah (tadabbur), memahami (fahm) dan mengamalkan isinya.

Jika belum bisa membaca dengan baik, minimal sering-sering mendengar dan menyimak lantunan ayat-ayat-Nya saat dibacakan.

Fenomena yang tampak di sebagian kita justru sebaliknya. Menyimaknya saja cenderung enggan, acuh, cuek, abai, malas, mengantuk, takut dicap konservatif, dan sebagainya. Terlebih di beberapa tempat, Al-Quran hanya dibaca pada acara-acara seremonial. Sedangkan Al-Quran bukan pembuka seremonial belaka. Ia mesti dibaca di saat senang-sedih, suka-duka, dan segala suasana. Ia selayaknya disemarakkan di dalam mobil, rumah, café. Dilantunkan lewat hp, radio, televisi, dan sebagainya. Bukan justru dijejali alunan yang melenakan.

Sepanjang pengalaman kami #honeymoonbackpacker di Maroko, dari dalam taksi kerap terdengar lantunan ayat-ayat Al-Quran dari radio Al-Quran yang disetel supir taksi. Terutama di waktu dhuha.

Di wilayah tempat tinggal, saya pernah menyaksikan bapak paruh baya menggumamkan akhir surat Az-Zumar saat berjalan menuju halte bus, kala berangkat ke tempat kerja di pagi buta. MasyaAllah

Dari kejauhan, saya kira orang mabok, astagfirullah. Su’uzhan.

Agaknya mereka terinspirasi hadis yang menyatakan bahwa Al-Quran akan menjadi penolong (syafi’an) bagi ashhabul Quran (orang yang membaca, menyimak, hafal, dsb)

عن أبي أمامة الباهلي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعاً لأصحابه

حديث صحيح رواه مسلم 

Dari Abu Umamah Al-Bahili ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Bacalah Al-Quran, sebab kelak ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong bagi orang yang membacanya.” (HSR Muslim)

Bagaimana Al-Quran akan mengulurkan pertolongannya kelak, kalau kita sendiri saat ini tak betah bermesraan dengannya. Sepertinya demikian yang muncul di benak kita.

Di dunia saja, tiada manusia yang dapat lepas dari pertolongan sesamanya. Kendati tak semua orang mau menolong sesama.

Tidak berinteraksi dengan Al-Quran menyebabkan manusia lalai, lengah, dan lupa pada Allah dan kehidupan akhirat. Berjibaku dengan urusan dunia tanpa merasa puas. Tangannya menggenggam gemerlap dunia, tapi jiwanya kosong, hampa, rapuh tak mengenal hakikat bahagia karena jauh dari Al-Quran. Sementara bahagia bermula dari Al-Quran.

Orang yang di rongga dadanya tiada secuil pun Al-Quran, ibarat rumah kosong tak berpenghuni. Rumah tak berpenghuni cenderung rusak. Udara tidak lagi segar. Suram. Kotor. Tak terawat. Sejumlah binatang sejenis rayap pun betah berkerumun di sana. Itulah gambaran jiwa yang kosong dari Al-Quran. Na’udzubillah

Laiknya istigfar, Al-Quran akan menjadi dzikir pengingat diri. Orang baik bukan yang tak pernah jatuh pada lembah kesalahan, namun yang segera sadar lalu beristigfar dan cepat kembali pada jalan yang benar. Jangan pernah meninggalkan istigfar jika segenap kesalahan kita ingin diampuni.

Rasulullah Saw. manusia yang gemar istigfar, kendati dosanya telah Allah Swt. ampuni. Ironisnya, kita berharap besar Allah mencurahkan ampunan-Nya pada kita. Namun menggerakkan bibir untuk mengucap istigfar saja kita enggan dan merasa berat.

Orang yang gemar berkumpul untuk tilawah dan mengkaji Al-Quran, namanya akan disebut-sebut di kalangan penghuni langit, walau di dunia tak dikenal banyak orang.

Menyimak paparan khatib tentang Al-Quran tersebut, sekonyong-konyong diri ini merasa kecil. Sembari hati bertanya, sudah sejauh mana interaksi kita dengan Al-Quran?! Saya hela nafas, lalu memanjatkan harap.

Rabb, jadikan Al-Quran sebagai penolong kami. Dunia dan akhirat kami. Bimbing kami menuju ahlul Quran wa ashhabuh. Amin

Dari pojok Rumah Kelana

Rabat, 19 Rabi’ At-Tsani 1437 H/ 30 Januari 2016

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Keutamaan Al-Quran

    • Alhamdulillaah jika bermanfaat dan ada hikmahnya.

      Kalau ini tulisan suami saya Mbak Vinny.

      Terima kasih sudah berkenan mampir ke rumah sahaja kami 🙂

      Salam silaturahim dari kami berdua 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s