Berkelana Berdua, Menuju Ceuta

image[/caption

KAPAN TERAKHIR TRAVELING BERDUA?

Sejak datang ke Maroko di akhir Agustus 2015 – MasyaAllah tak terasa sudah 9 bulan berlalu – belum sekalipun kami jalan santai berduaan saja.

Memang sudah pergi ke kota tua Fez, Casablanca, Chafchaouen dkk, tapi konteksnya bekerja. Professional traveling. Menyambut tamu di bandara lalu menemani mereka berkelana.

Sepanjang 24 jam X sekian hari bersama tamu, otak terus berputar. Memikirkan transportasi paling efektif yang akan digunakan, menimbang second plan atau third plan jika rencana pertama gagal karena satu dan lain hal, menata hati dan emosi kala ada bentrokan rasa dengan tamu dstnya.

Intinya, otak terus berpikir, hati terus merasa dan tangan kaki terus bekerja. 🙂

Saat bersama tamu, kami harus menjaga sikap dan perkataan. Buat Aa yang pendiam – jika tak sedang ceramah – tentu perkara mudah.

Buat saya yang berkarakter ramai dan senang mengobrol, jelas bukan perkara mudah, hihi.

9 bulan berlalu tanpa menjelajah – berduaan saja – dan InsyaAllah sepulang kuliah Aa siang nanti (mudahan cepat sampai rumah) kami berencana berkelana. Short travel of course! Selasa siang si Aa kuliah lagi.

Oh ya, kenapa susah traveling berduaan akhir-akhir ini jelas bukan karena kebanjiran tamu seperti teman mahasiswa lainnya, tapi semata karena jadual kuliah semester dua si Aa makin ajaib saja 😦

Hari Selasa full kuliah (sampai jelang Maghrib), Rabu setiap dua minggu sekali, Kamis full kuliah, Jum’at kadang ada kuliah dadakan, Sabtu full juga, tersisa kosong 2 hari saja yaitu Ahad dan Senin!

Jadilah Ahad dan Senin dua hari istirahat sekaligus mengerjakan tugas kuliah buat si Aa.

Tak ada waktu untuk berkelana. Tujuan kami ke Maroko kali ini adalah menimba ilmu kan!

Kalau ada tamu seperti apa?

‘Untungnya’ (atau buntungnya ya?) tamu kami masih jarang.

Oktober hanya sekali, November hanya sekali, lalu Desember –  Februari kami tidak dapat tamu. Maret April dapat tamu justru 39 orang untuk didampingi jelajah Eropa Timur, dan terakhir dapat tamu tanggal 9-11 Mei tadi.

Kuliah tetap menjadi prioritas utama. Tamu sekadar bonus saja. Bagaimana pun tugas utama Aa adalah kuliah. Yang belajar bisnis adalah saya istrinya. Tak etis kalau semua saya bebankan pada Aa yang sedang menuntut ilmu agama.

Jika ada tamu bagaimana?

Kami bahu-membahu mengatur jadual. Saat Aa kuliah, saya harus siap full 100% dampingi tamu sendirian. Saat Aa beres kuliah, kembali bergabung dengan tamu.

Lebih enak atur jadual semester satu lalu. Jadual kuliah si Aa dipadatkan pada hari Rabu-Kamis-Jum’at saja. Jadi Sabtu-Selasa kami enak nyambi memandu tamu atau jalan-jalan.

Selain jadual kuliah Aa yang ajaib, ada penghalang utama yang mencegah kami berkelana, beasiswa Aa belum keluar sama sekali, karena urusan pendaftaran kuliah di Maroko juga belum tuntas.

Jelas kami tidak berani keluar Rabat. Artinya akan ada biaya transportasi antar kota. Biaya penginapan. Biaya makan di luar yang tidak sedikit dan tidak mungkin diambil dananya dari tabungan kami.

Traveling berarti menyiapkan sejumlah dana. Sedang tabungan untuk bertahan hidup di Maroko semakin menipis karena sudah menetap 6 bulan di Rabat tanpa beasiswa apapun.

MasyaAllah, jangankan untuk berkelana, untuk mencukupi sewa rumah dan makan sehari-hari saja kami harus mengeluarkan uang secermat mungkin. Makanya muncul ide bekerja sebagai guide! 🙂

Contoh hidup hemat ala kami tercermin salah satunya dalam urusan beli sayur. Karena kami penggila sayur-sayuran. Maklum si Aa Sunda pisan.

Kami tidak akan membeli sayur mayur saat harganya masih 5-10 dirham ke atas.

Kami akan membeli sayur hanya hari tertentu, yaitu hari Kamis dan Jum’at.

Kenapa dua hari itu?

Karena kondisi sayur makin berdebu dan tampak layu. (Jelas saja berdebu wong sayuran diletakkan di tanah, haha).

Ditambah hari Sabtu sayur baru akan didrop besar-besaran menggunakan beberapa truk. Sehingga para pedagang sayur akan membanting harga sayur menjadi 2-3 dirham / kilo, bahkan bisa dijual hanya 1 dirham / kilo.

Saat harga diskon berlaku, ketika itulah kami memborong sayur-sayuran tahan lama semacam wortel, kentang, timun, tomat dkk.

Sayur semacam selada selalu beli mendadak. Karena makin segar makin sempurna kandungan vitamin dan mineralnya kan!

Kenapa kami tahu sedetil ini?

Karena kami menyewa rumah tak jauh dari pasar. Akhirnya learning by experiencing 🙂

Loh? Kenapa jadi melantur ke sayur-sayuran?

Saking saya ingin menggambarkan cara bertahan kami saat beasiswa si Aa belum turun sama sekali. Banyak trik berhemat sebetulnya, tapi itu salah satu caranya.

Hahaha, inilah enaknya menulis di blog sendiri. Bebas menulis apa saja. Tanpa aturan kaku dan njelimet kayak menulis di koran atau media online milik perusahaan.

Back to traveling issue, kalau dipikir-pikir, sayang sekali jika kami hanya berdiam di Rabat saja tanpa mengekplorasi kota-kota lain.

Bagaimana pun, kesempatan yang kami miliki – sesempit apapun itu – adalah harta karun.

Kapan lagi bisa puas menjelajah sebuah negara, mengenal kebudayaan mereka dalam jarak begitu dekat dan intens kalau bukan saat kita menetap di negara tersebut?

Setelah diskusi dengan Aa, kami sepakat menyisihkan waktu minimal 3 hari 2 malam – saat tidak ada tamu – untuk berkelana menjelajah Maroko. Minimal sekali dalam sebulan!

InsyaAllah start from today!
Yay, can’t be happier than this!
Alhamdulillaah…

Kemana kami akan berkelana?

Ke Utara Afrika dan sssst, rencananya kami akan masuk ke wilayah Spanyol yang terletak di tanah Maroko.

Aneh ya.
Tapi faktanya seperti itu.

Nama wilayah Spanyol tersebut adalah Ceuta atau disebut Sebta dalam bahasa Arab.

Seperti apa suasananya?
Bagaimana cara menuju Ceuta?
Naik apa?
Susah atau tidak masuk ke sana?

Saya belum tahu, hihi. Makanya hari ini kami berencana menuju Tetouan lalu akan memasuki gerbang imigrasi Ceuta, Spanyol yang terletak di ujung tanah Maroko.

Fakta super unik ya 🙂

Saatnya memanfaatkan Visa Schengen multiple entry kami sebaik mungkin.

Menurut kabar dan cerita adik-adik mahasiswa, Ceuta harus dimasuki dengan Visa Schengen meski terletak di dataran Maroko.

Salah satu dinda mahasiswi, mendorong kami untuk mengunjungi Ceuta.

Kabarnya banyak barang dari Eropa dijual murah meriah di sana!

Jelas makin penasaran setelah dikirimi foto suasana jalanan di Tetouan, rapi sekali!

Foto diambil dari Google tentu saja. Kalau sudah ke sana akan saya upload foto saya sendiri.

image

Selfie setelah mengantar tamu menyeberang ke Spanyol yaitu Tarifa Port menggunakan ferry express

Suasananya persis Eropa.

Kami ingin membuktikan secepatnya, Bismillah hari ini.

Doakan perjalanan kami ke ujung Utara Afrika berjalan lancar ya, honeymoonbackpacker’s readers! 🙂

Tunggu oleh-oleh kisah dari kami. Bisa di sini atau di Instagram saya, @imazahraa atau si Aa @aarisyan

Ps.

MAROKO OPEN TRIP (9D8N) by #kelanacahayatour masih available sedikit lagi ya!

Siapa cepat dia dapat. Pembayaran tentu saja boleh dicicil, yang penting amankan seat-mu dengan DP!

Detil kontak kami via whatsapp: +62819 5290 4075

Ditunggu!

Advertisements

4 thoughts on “Berkelana Berdua, Menuju Ceuta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s