Sangkuriang dan Koper

Proyek sangkuriang akhirnya mulai dikerjakan pukul 00.30.

Kenapa saya katakan sangkuriang?
Karena biasanya proyek kasih sayang melalui perut ini dilakukan bersama si Aa 🙂

Sempat enggan mengerjakan karena tak ada partner yang akan memotong-motong si ikan fillet menjadi ukuran kecil sebelum dimasukkan food processor.

Tapi ternyata Mbak Erni berkenan membantu memotong.

Dan saat saya mulai start menghaluskan dilanjutkan membentuk pempek, Kak L berkenan jadi asisten.

Alhamdulilah, si pempek berhasil tuntas diproduksi pukul 04.30 pagi setelah diselingi istirahat sambil sahur smoothie karya Kak L dan menikmati pempek goreng crunchy di luar lembut di dalam!
Alhamdulilah bisa makan pempek kesayangan saat sahur.

Habis shalat Subuh tidur sejenak
Kurang lebih 3.5 jam.

Masih mengantuk, tapi entah kenapa hati merasa kurang nyaman.

Rasanya ada yang salah dengan tidak membawa bagasi kali ini.
Sudah berkali-kali saya timbang, koper kecil beratnya kurang lebih 10 kg.
Ransel besar pinjaman Kak Lely rasanya terisi barang kurang lebih 5 kg.
Tapi masalahnya ada hand bag mungil si Eiger women series kesayangan dan 1 tas tipis berisi laptop.
Sementara peraturan Ryanair hanya boleh membawa 1 koper kabin dan 1 tas tangan for free.
Kalau ada 3 tentengan begini rasanya kok meragukan ya?

Kalau nanti ransel besar yang saya panggul minta ditimbang oleh mereka, sungguh berabe jadinya. Meski selama ini belum pernah kejadian, karena saya selalu haqqul yaqin dengan packing yang compact. Namun sayangnya kali ini saya lupa tidak membawa tas lipat polkadot kesayangan yang pas diletakkan di atas koper kabin. Sementara ukuran besar si ransel yang dipinjami Kak L ukurannya cukup besar tuk ukuran tubuh saya. Tampak kurang proporsional saat saya pakai. Bisa-bisa tidak akan dianggap hand bag oleh mereka.
Hem…
Tampaknya saya harus konsultasi dengan Kak L.

Hati sungguh meragu kali ini. Apalagi tak ada si Aa sebagai partner diskusi.

“Kak, tampaknya saya beli bagasi saja. Supaya tenang hati. 3 tas rasanya unacceptable by the rule.

Saya sudah coba browsing dari hape. Tapi entah kenapa sedang tak bisa diakses melalui mobile phone.

Kalau koper dan ransel dianggap over baggage, maka saya harus membayar 50€. Sungguh angka tak sedikit untuk saya, Kak.
Lebih baik saya beli sekarang saja, Bismillah.

Bisa tolong dibantu sekalian dibelikan bagasi, Kak?”

“Ok. Langsung saja kita beli.”

Kak L dan Kak T langsung turun tangan. Duduk depan laptop dan mulai menjelajah website Ryanair.

Saya deg-degan.
Alhamdulilah, setelah 10 menitan berlalu, bagasi ditambahkan. 15 kg saja.

Pyuh, lebih dari lega.

Tahu-tahu Kak L langsung mengusulkan bongkar barang.
Eh?
“Ima Kan sudah nambah bagasi 15 kg. Pindah semua yang berat ke koper 15 kg. Nanti Kakak ambilkan koper di gudang.

Lalu, tahu dkk yang kamu tinggal di kulkas bawa saja semua. Pokoknya kita maksimalkan.

Do it quick!”

Kak Lely langsung ke attic mengambil koper ukuran lebih besar dari milik saya.

Lalu mengambil beberapa kotak tahu. Juga mengambil keju dkknya.

Saya gugup packing. Mengingat schedule berangkat kami dari rumah jam 11 siang.
Yang akan berangkat terbang naik pesawat tidak hanya saya. Mbak Erni dan suaminya juga akan menuju Iceland. Meski pesawat mereka masih nanti malam, tapi mereka sudah membeli tiket kereta Thalys menuju Paris pukul 15.13 nanti.
Tanpa diminta, Mbak Erni tamu dari Canada ikut turun tangan membantu.

Setelah selesai, Kak T langsung menimbang koper lebih besar. Disisakan 1 kg free untuk jaga-jaga.

Koper kecil segera ditimbang juga. Ternyata masih ada space 4-5 kg.

Kak Lely langsung memasukkan bahan makanan tambahan. Beliau berhitung sangat cepat.

Everything is set in only 10 minutes. Amazing!

Beriringan kami menuju mobil.
Kurang lebih 1 jam perjalanan menuju Charleroi Airport.
Saya terus menggumamkan, “Allahumma yassir wa la tu’assir.”

Berharap dipermudah segala urusan oleh Allah azza wa jalla.

Saat tiba di Charleroi Airport, antrian mengular di arriving hall. Merintangi jalan kami menuju Departing hall.

Kak L yang semula memutuskan hanya drop berubah pikiran. Beliau memutuskan ikut masuk. Meski penjagaan sangat ketat, tapi pengantar boleh masuk. Alhamdulillaah.

Saat koper bagasi ditimbang, pas 15 kg. Pyuh!
Saat cabin baggage ditimbang, tepat 10 kg juga.
MasyaAllah!
Dan ajaibnya, sang petugas check in menanyakan apakah saya mau kalau koper kabin saya dimasukkan bagasi sekalian for free?

Eh?

“OK. We take it!” Kak Lely manyahut.

Enak kan Ima, bisa melenggang kangkung tanpa koper satu pun. Rizki Ramadhan-mu.

Alhamdulilah.

Saya speechless. Terharu. Langsung memeluk Kak L. Berkali-kali.

“Sudah ya, masih ada yang harus Kakak antar ke stasiun Brussels.”

“Iya, Kak. Jazakallah khairan katsira. Uhibbuki fil Laah.”

Bismillah, finally going home, home is where your heart is.

Aa, your wife is coming! 🙂