Tunanetra Berhati Surga

Tunanetra Berhati Surga

Awal Perkenalan

Kedekatan saya dengan penghafal Al-Quran berdarah asli Sale-Rabat ini bermula tak sengaja. Ketika itu ia berdiri mematung di dekat meja resepsionis sebuah acara seminar sehari tentang hari Bahasa Arab se-dunia (18/12) Sementara ratusan peserta—mayoritas mahasiswa Jurusan Studi Islam Fakultas Adab dan Humaniora dari jenjang s1 hingga s3—berseliweran dan bergantian mengisi daftar hadir.  Acara ini dihitung kuliah umum wajib.

“Assalamu’alaikum, ya akhi Muhammad.” Saya menyapanya terlebih dahulu. Mendekatkan suara pada telinganya.

“Wa’alaikum salam. Ahlan wa marhaban bik ya akhi.” Jawabnya ramah dan tegas.

“Labaas..?

“Labaas, alhamdulillah.”

“Man hadza. Siapa ini?” Tanyanya kemudian. Pertanyaan yang kerap saya dengar jika bertemu orang baru atau belum lama dikenalnya. Memang sejak lebih dari sepuluh tahun, dia hanya mengandalkan pendengaran.

Dia satu kelas dengan saya, namun tidak pernah mengobrol. Bertemu hanya saat sama-sama mendengarkan kuliah atau shalat berjamaah di mushalla.

“Ana Risyan Nurhakim, Anduuniisi.”

“Kenapa masih berdiri di sini?” Tanya saya.

“Teman-temanku tidak kembali menjemputku. Mereka bilang mau mengisi daftar hadir dan ke toilet. Tapi sudah 10 menit belum balik-balik.” Ujarnya.

“Mereka jahat sekali padaku. Huh! Habis membubuhkan tanda tangan di daftar hadir, satu persatu mereka meninggalkanku.” Lanjutnya dengan nada setengah bercanda, setengah tertawa.    

“Ha ha ha…” Saya ikut tertawa.

“Mari ikut saya kalau begitu. Kita masuk ke aula.” Saya menggandeng tangannya sembari tertawa renyah.

Aula Al-Idrissy

Depan Aula Al-Idriisiy

Fakultas Adab dan Humaniora Muhammad V ini memiliki beberapa aula. Ada aula Ibnu Khaldun untuk kuliah umum bagi Mahasiswa. Aula Hajji untuk sidang tesis atau disertasi. Aula ‘Abid Al-Jabiri untuk pertemuan para dosen dan dekanat. Sementara aula Al-Idriisy, aula antik dan besar ini khusus untuk acara seminar besar. Seperti seminar bahasa Arab waktu itu.

“Tunggu.” Cegah dia.

“Ada apa?”

“Kamu jangan pegang aku seperti itu. Cukup kamu berjalan di depanku saja namun agak samping. Nanti satu tanganku memegang pundakmu.” Paparnya menjelaskan cara menuntun tunanetra yang benar.

Aula sudah penuh dengan peserta. Bahkan banyak yang berdiri berdesakan di pintu masuk. Sementara di jejeran kursi terdepan masih tampak beberapa yang kosong. Namun sudah booked untuk para dosen dan pejabat kampus, kata panitia. Saya memutar pandangan sampai mentok di pojok kanan. Di situ ada dua kursi tambahan.

“Cari tempat duduk paling depan saja.” Pintanya.

Shaafii. Baiklah.”

Saya melangkah perlahan menerobos ke dalam aula. Hampir semua pandangan mata peserta yang tengah duduk tertuju pada Muhammad ini. Saya yang menuntunnya pun jadi objek sorot mata mereka. Mirip bintang yang berjalan di atas karpet merah dan disaksikan ratusan pasang mata. Tap tap tap…!

“Hati-hati ya, jalannya menurun dengan beberapa tangga pendek di depan kita.” Pesan saya.

“Saya tahu.” Ia menanggapi sambil senyum.

“Hah, tahu darimana?” Tanya saya penasaran.

“Dari pundakmu yang saya pegang. Ketika saya merasakan badanmu sedikit turun, berarti kamu melangkah turun menapaki tangga.” Urainya.

“O ya ya, ini ilmu baru bagi saya.” Gumam saya dalam hati.

Berdasarkan data statistik tahun 2011, dari 39 juta jiwa tunanetra dunia ini (www.npbc.org.sa/numbers.htm), 90% di antaranya adalah warga negara berkembang (www.skynewsarabia.com/web/article/312318). 12% dari mereka penduduk timur tengah dan Maroko.

Kala jalan-jalan ke pusat kota (Medina), beberapa kali saya menemukan banyak tunanetra mengemis. Walau masih muda, mereka duduk mematung dan menengadahkan tangan memegang kardus atau plastik sumbangan. Terutama di dekat Bank Magrib yang sampai kini masih renovasi. Tak jauh dari bunderan Rue Soekarno-Rabat Mereka duduk terpencar hampir tiap seratus meter. Bahkan Rabu silam (6/1) saat berlari ke Medina, sekitar seratusan tunanetra berkumpul untuk berdemo di depan Gedung Parlemen Maroko. Entah apa yang mereka suarakan kepada pemerintah. Saya tidak begitu memperhatikan dengan baik, karena sedang ada misi pengejaran copet bis kota.

Jika mereka mengemis, teman saya ini sama sekali tidak.

***

Alhamdulillah, meski di pojok, akhirnya kami duduk berdampingan di jejeran kursi terdepan. Beberapa dosen jurusan Islamic Studies duduk di samping kami.

Karena acara belum dimulai, saya mulai mengobrol dengan Muhammad El-Wadhdhah. Kalau di kampungnya biasa dipanggil Al-Habib.

“Aina taskunu ya Nour Hakim?”

“Saya tinggal di Nahdha 2th. Wa inta?”

“Saya di Sale (baca: Sela) kamu tahu Sela?

“Ya, terakhir kami ke Sale-Rabat Airport, awal Desember lalu. Rumahmu dekat dari situ?”

“Dekat atuh (kalau kata, atuh, itu dari saya ya he he). Kurang lebih 2-3 km.”

“Dari Medina ke rumah saya naik Tram line-2.” Dia melanjutkan.

“Caranya, dari Bab Rewah Station dekat kampus ini naik tram Line-1 sampai Bab Joulan Station, turun di situ. Lalu pindah ke Bab Joulan 2, naik Tram line-2. Atau turun di La Marisa, lalu pindah ke Tram Line-2. Pokoknya kata kuncinya, Line-2 Tramway, turun di station terakhir. Pergantian line tidak perlu bayar lagi kok.”

“Kalau kamu mau ke bandara lagi, naik tram Line-2 itu saja. Nanti turun di station paling akhir (Hassan II). Dari situ kontak saya, nanti teman saya akan mengantarkan sampai bandara pakai mobil.”

Hah? baru saja ngobrol sebentar sudah menawarkan segala rupa. Saya tidak begitu menanggapi terlalu serius, karena beberapa kali saya berinteraksi dan mendapat tawaran baik dari orang Maroko, tapi rupanya hanya basa-basi.

Teringat di awal menemukan rumah kontrakan di Nahdha 2, teman Umar (anak tuan rumah) berjanji mengantar kami ke Taqaddum (nama pasar besar tradisional terdekat) untuk belanja kebutuhan kamar, seperti kasur, dan lain-lain. Kami saling tukar nomor hp, bersepakat berangkat sama-sama ke taqaddum jam 10 pagi besoknya. Start dari depan rumah tuan rumah kami.

“Kamu harus bareng dia, lalu biarkan dia yang beli dan menawar. Karena kalau pedagang tahu orang asing yang beli, harganya akan dinaikin.” Terang Umar.

Apa yang terjadi besoknya? Boro-boro jam sepuluh. Bahkan jam sebelas siang kami telpon, berkali-kali tidak diangkatnya. Baru diangkat setelah tiga kali kami bolak-balik telpon.

Hisyam? Kaifa haluk? Aina anta?

“Hm…hoam. Ana fil gurfah. Kalian mau jalan?”

La haula wa la quwwata illa billah!

Ternyata dia baru bangun. Padahal kami sudah siap segala rupa. Kami lupa, bahwa kini kami ada di tanah Arab. Secara umum, ngaret adalah hal lumrah.

Itu pengalaman pertama setelah dua bulan cukup terbiasa (atau terpaksa) hidup di Eropa yang strict dengan masalah waktu.

***

“Sudah menikah?” Tanya Muhammad melanjutkan obrolan menjelang dimulai acara.

“Alhamdulillah, lima tahun silam.”

“Wah sudah lama. Sudah punya anak?”

Ah, pertanyaannya kok privasi banget.

“Belum ditakdirkan. Saya mohon doanya ya. Mudahan segera dipercaya oleh Allah. ”

Kalau menjawab pertanyaan demikian, saya selalu sekalian memohon doa. Kita tidak tahu dari mulut orang saleh mana doa terkabul.

“Oh, sama. Saya juga belum punya anak. Bahkan saya sudah tujuh tahun menikah belum dikaruniai keturunan.”

O ow. Saya perhatikan wajah dia lebih serius, lalu melanjutkan obrolan. Apa saja yang diobrolkan? Sssst. Ini urusan laki-laki ya ha, ha, ha.

Dia menyarankan minum madu, habbah sauda (jinten hitam), terapi sengat lebah, bekam, dan sejumlah terapi alternatif lain. Saya balik menyarankan dia menerapkan foodcombining dan olahraga rutin biar segala hormon normal. Sebenarnya lucu, di acara seminar ini kami malah mengobrolkan masalah terapi alternatif. Lucunya lagi, masing-masing dari kami menawarkan terapi yang sudah dijalani.

Paparan berikutnya ini yang membuat saya tercenung haru.

“Tapi saya punya Kuttab Qurani (Sekolah Al-Quran) Muridnya sekarang 120 anak didik. Beberapa generasi sudah ada yang hafal Al-Quran. Bukan mesjid, tapi rumah yang saya jadikan langgar Al-Quran. Sudah lebih dari sepuluh tahun berdiri. Tiap jam 2 sore anak-anak datang sampai magrib. Gelombang kedua, dari magrib sampai kira-kira jam 9 atau jam 10. Pada setiap pertemuan, mereka harus menghafal satu halaman ayat yang mereka tulis sendiri di lauhah (kayu tulis khusus). Ini metode tradisional ala Maroko dalam menghafal Al-Quran.”

Dia menjelaskan panjang lebar tentang langgarnya.

“Kapan kamu ada waktu untuk berkunjung ke langgar saya? Tentukan saja harinya. Sabtu, Ahad, atau Senin, pas tidak ada jadual kuliah. Biar kamu lihat aktifitas kami.”

Saya yang terpesona dengan paparan dia langsung terperanjat mendengar ajakannya. Ini ajakan orang saleh. Berkali-kali dia mengajak.

“Kalau hari Sabtu ba’da magrib, ada Syaikh yang menyampaikan pelajaran kaidah tajwid.”

“Bawa istri kamu sekalian. Dia bisa bahasa Arab ‘kan?”

“Bisa.”

“Nah, biarkan dia nanti ngobrol sama istri saya.” Tegasnya.

Tadinya berburuk sangka (astagfirullah), sekarang tidak. Dari ceritanya saya merasakan kejernihan dan ketulusan hatinya. Benar kata Umar bin Abdul Aziz bahwa ucapan yang terungkap dari hati akan meresap sampai ke hati.

Jika satu dari 4 lantai rumah dia wakafkan untuk langgar anak-anak menghafal Al-Quran dengan tanpa bayaran, apalagi langgar itu didirikan di lingkungan yang katanya dikenal zona hitam, maka dia bukan orang biasa-biasa di mata para penghuni langit. Dia berhati surga walau tunanetra.

“Saya ingin mengubah kampung ini dengan cahaya Al-Quran.” Ucapnya ketika kami berkunjung ke sana. (Ceritanya akan ada di seri berikut) 

Terharu rasanya.

Ceritanya itu menguatkan kembali cita-cita kami berdua sepulang merantau nanti, yaitu mendirikan Rumah PINTAR (pusat belajar Al-Quran, baca gratis, kelas bahasa asing, homestay musafir, dan sebagainya)

Mendengar untaian kata yang mencerminkan ketulusan hati, kebersihan niat, dan kebeningan nuraninya, saya teringat sosok Abdullah bin Umi Maktum. Seorang tunanetra sahabat Nabi Saw. yang diangkat menjadi salah seorang muadzdzin (petugas adzan) Rasulullah Saw.

Dia semangat mencari ilmu, mengais nasehat, dan menyerap petuah beliau Saw. Saking semangatnya, Abdullah bin Umi Maktum datang kepada Rasulullah Saw. dan memohon nasehat beliau ketika sedang mendakwahi pembesar-pembesar Quraisy. Pantas saja oleh Nabi Saw. diabaikan. Tapi beliau Saw. ditegur oleh Allah lewat surat Abasa (QS Abasa [80]: 1-10)

1. “He frowned and turned away,”
2. “Because there came to him the blind man.”
3. “And what would make you know that he might (spiritually) purify himself,”
4 “Or become reminded so that the reminder might profit him?”
5. “As to one who regards himself self‑sufficient,”
6. “To him do you address yourself!”
7. “Though it is no blame on you if he would not (spiritually) purify himself.”
8. “But as to him who comes to you striving hard,”
9. “And he fears (Allah in his heart),”
10. “Of him wast thou unmindful.”

Ya Rabb, bersihkan niat kami, kabulkan cita-cita kami mewujudkan rumah Pintar untuk mencetak generasi Qurani. Restui langkah kami seperti langkah sosok tunanetra berhati Surga ini.

Amin ya mujibassa’ilin.

Rabat, 29 Rabi’ul Awwal 1437 H/10 Januari 2016

Advertisements

Copet Dalam Bis Kota

COPET BIS KOTA

Pada akhirnya, tiap yang ada di kolong langit ini fana. Lenyap, hancur, rusak, sirna, raib, hilang, tiada. Harta, jabatan, bahkan jiwa.

Tak seperti biasa, bis 57 muncul secepat itu saat saya berdiri membelakangi halte Jami’ Badr-Agdal. Usai pulang cek berkas di Ta’lim ‘Aly dengan jawaban yang sama dengan 3 minggu silam, Usbu’ muqbil “Silahkan kembali minggu depan!”

Saya langsung pulang setelah menunaikan shalat Ashar di mesjid Badr.

Saya loncat secepat kilat membuntuti 5 penumpang lain. Tanpa sadar memasukkan si putih mungil ke saku celana depan.

“Assalamu’alaikum. Tafadhdhal, wahid!”

Hanya beberapa detik setelah naik dan bayar tiket, saya bergeser dan berdiri di tempat kosong di belakang kursi kondektur. Setau saya sepanjang turun naik bis, tempat aman di bis adalah dekat kondektur atau lorong bagian belakang yang jarang dilalui orang turun naik. Khusus bis 57 jurusan rumah di nahdha, saya kerap mencari tempat paling belakang. Karena saya turun di halte terakhir.

Niat men-cek hp, saya merogoh saku satu persatu.

Hah? Hp tidak ada. Padahal sebelum naik saya masih membaca beberapa obrolan di WA. Saya ulangi mengecek semua saku seiring rasa panik yang mulai naik.

Astaghfirullah. Saya mengulang – ngulang Istigfar.

Saya bergerak beberapa langkah dan bertanya pada ibu-ibu yang sedang duduk, apa mereka melihat hp putih saya jatuh. Mereka berdua geleng kepala. Lalu saling membicarakan kehilangan hp saya.

Saya mendekati kondektur dan mengadu. Tapi tak digubrisnya karena masih asik menelepon. Belum selesai saya berjalan ke tengah, bus keburu berhenti di halte. Saya berpikir cepat, bahwa saya harus turun di halte ini, karena kalaupun dicopet, copetnya pasti turun di sini. Mereka tidak akan berlama – lama di bis setelah berhasil menggondol hp.

Cepat saya menerobos beberapa penumpang yang berdesakan. Sambil mengarahkan pandangan pada satu orang tinggi besar. Dia dua kali berpapasan mata dengan saya saat sadar hp hilang. Meski saya belum yakin dia pelakunya, karena dari awal dia berada di depan saya. Tapi biar lah. Yang penting saya harus dapat satu orang yang saya duga, daripada tidak sama sekali. Rupanya rasa takut saya hilang sama sekali. Kalah sama bayangan data di memori si putih mungil.

Ketika turun, saya langsung mengejar pria besar yang sudah menyebrang. Saya dekati dan langsung menodongnya. Mana hp putih saya. Dia pasrah. Tidak tahu apa-apa. Dia membuka-buka jaketnya. Lalu saya disuruh menggeledahnya. Hm. Saya cek sebentar. Dari tadi sih orang ini memang berdiri terhalang 3 orang di depan saya. Dan sejak di bis raut wajahnya menatap ke luar dengan tatatapan kosong.

Sesuai dugaan, saya salah orang.

Segera saya tinggalkan dia menuju halte, mencari wajah lain yang saya lihat tadi turun dari bis. Tapi telat. Sudah tidak ada.

Saya benar – benar panik dan bingung ketika itu. Ditambah kalau mengingat data penting di dalamnya. File catatan kuliah, rekaman ceramah di kelas, kontak-kontak penting, dan foto-rekaman moment berkesan sepanjang perjalanan setahun terakhir lebih.

Sekarang saya harus memikirkan cara mengontak 2 nomor di hp itu. Tapi malangnya, saya belum hafal. Kalau hafal lain cerita. Saya optimis akan ada orang menolong menelponkan.

Yang terpikir kemudian adalah saya mengejar kembali bis yang saya tumpangi tadi. Saya sudah tidak peduli orang sekitar. Saya terus berlari sampai kecapekan sendiri di halte pertama sebelum bunderan dekat forest Ibn Sina.  Antara sadar dan tidak, saya naik taksi sampai mini park karena uang tidak cukup. Dari situ hanya bisa nyambung naik bis kembali sampai rumah.

Di rumah saya langsung ambil hp istri dan berlari ke tukang pulsa untuk mengisi pulsa 10 dh. Sekadar cukup untuk menelpon si putih mungil. Tapi terlambat. Mailbox terus pertanda dua kartu sudah dibuangnya.

Lemas sudah. Berjalan menuju rumah seraya melayang. Hanya zikir dan istigfar yang terus saya ulang-ulang. Data-data penting tak terperi terus terbayang-bayang. Semua kini hilang.

Astaghfirullah. La haula wala quwwata illa billah.

Istriku bilang nyesek. Sangat. Tapi mau gimana lagi.

Yang membuat nyesek bukan fisik hp-nya yang dibeli 2 tahun lalu. Harganya tidak sebanding dengan apa yang ada di dalamnya, jasanya menemani kebersamaan kami, membantu banyak merekam moment, memfasilitasi saya belajar, mengatur waktu jadual ceramah, menyimpan resume ceramah para ulama yang  saya temui, dan lainnya. Pergaulan kami sedekat itulah yang menorehkan kesan mendalam di hati.

Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’un.

Pada akhirnya apa yang ada di dunia ini semua fana. Hancur, rusak, hilang, lenyap, berubah melemah, dan menuju pada tiada.

 

Misi pengejaran

Esoknya saya berlari dari rumah menuju pasar Medina. Saya niatkan berlari supaya fisik siap dengan segala resiko. Beeeuh! Saya masuk pasar hp dekat mesjid Sidi Gondour. Tak jauh dari Bab Elhad. Ribuan hp bekas maupun baru terpajang di sana. Mata saya fokus mencari si putih mungil LG. Dua balikan saya menyisiri semua lorong, si putih tidak saya temui. Entah belum sampai ke penadah. Atau memang dipakai sama si pelaku.

Akhirnya saya menyerahkan semua pada Allah.

Allahumma ajirni fi mushibati wakhluf liy khairan minha.

 

Mudahan si putih itu dapat memutihkan hati dan pikiran si copet. Murattal Al-Baqarah Syaikh Syuraim favorit saya—yang selalu setia menemani kala muraja’ah atau jelang istirahat—mampu menggetarkan hatinya untuk taubat. Surat Ibrahim bacaan Syaikh Shalah Budair bisa menyadarkan keburukan perilakunya. Video rekaman syaikh yang mengajarkan wudhu yang benar dengan  menggunakan air hanya satu gelas itu menjadikannya pandai berwudhu dan rajin shalat. Cuplikan ceramah  Imam dan Khatib mesjid Quba–yang menyatakan bahwa jika Allah mencintai hamba-Nya, akan diwafatkan dalam keadaan muslim–mengetuk hatinya untuk kembali pada jalan yang lurus sebelum dia wafat. Untaian pesan ceramah Dr. Jamal Sa’idi–yang di antaranya menyatakan bahwa kita diinjak-injak seenaknya oleh bangsa lain bukan karena mereka kuat, tapi karena kita sendiri yang meremehkan darah dan kehormatan kita. Kita sendiri yang tidak memiliki izzah (kemuliaan) di harapan mereka–meluluhkan hatinya.

 

Semoga data-data yang ada di dalamnya bisa mengantarkan si copet pada jalan hidayah, dan tidak ada yang disalahgunakan.

 

Wallahu Al-Muwaffiq ila Aqwami At-Thariq

 

Catatan:

– Copet tidak sendirian. Minimal berdua dan mereka biasanya beraksi dekat pintu masuk. Kata madam kondektur bis, saksi saat kejadian.

– Biasanya berdiri dekat pintu naik. Waspada dan perhatikan wajah dan gerak-geriknya.

– Saat berhasil mencopet, mereka dipastikan turun di halte berikutnya.

 

Tips dari saya:

– Berteriak Syaffar saat merasa dicopet.

– Jika berani, minta supir menghentikan bis tanpa membuka pintu, menggeledah sebisanya, minimal penumpang yang berdiri dekat pintu.

– Pastikan menyadari letak dan keberadaan hp.

– Jika sadar hp hilang, perhatikan para penumpang yang turun di halte berikutnya. Salah satu dari mereka pasti copetnya.

 

Daftar Kuliah di Maroko

Pintu Kedua: Tiga Belas Kali ke AMCI

Ini masih kisah perjuangan si Aa mendaftar kuliah di Maroko. Jangan bosan membaca tentang ini dan terus doakan kami ya.

Jika sebelumnya saya mengisahkan kisah ‘Pintu Pertama’ birokrasi berbelit-belit untuk mendapatkan selembar surat pengantar dari KBRI Rabat, maka sekarang saya akan menceritakan ujung perjuangan pintu birokrasi kedua, yaitu perjuangan memasukkan berkas pendaftaran kuliah Aa ke AMCI (lembaga resmi yang mengurusi internasional untuk mendaftar kuliah).

Setelah melewati 100 hari menetap di Rabat Maroko dan berpanas-panas naik bis dikombinasi berjalan kaki bolak-balik sebanyak tiga belas kali mendatangi AMCI, dari mulai sangat bersemangat hingga loyo, dari sabar hingga nyaris patah hati, hari ini Allah takdirkan babak baru dimulai!

Tetiba suami menelepon via whatsapp. Sayangnya saya hanya mendengar suara salam. Setelah itu hening.

Bad connection.

Aa langsung mengetik. Typing…

Menceritakan kalau sekarang ini beliau baru saja sampai di AMCI.

Buru-buru ke AMCI karena mendadak ditelepon Mona, tapi tidak bisa mengangkat telepon karena tadi sedang mengikuti kuliah.

Kelar kuliah Aa menceritakan bagaimana ia gegas ke AMCI menaiki bis sambil berhitung dengan waktu karena jam 4 sore akan masuk kelas lagi.

“Aa sekarang duduk menunggu Mona yang sedang melayani dua orang lagi sebelum Aa.”

“Jadi ini Aa mengetik saat menunggu antrian?”

“Iya, Yang. Aku deg-degan.”

“Ya Allah. Mudahan yang terbaik, A.”

Waktu berjalan lambat.
Saya turut menunggu di whatsapp.
Lamanya.
Saya melantun zikir. Fikir. Zikir.

Aa mengetik kembali.
Typing…

“Kenapa lama mengetiknya?
Apa kata Mona?”

Ketikan Aa terkirim.



“Kamu yang bernama Risyan?

Ya, maaf Mona. Tadi saya tidak sempat angkat telponmu. Lagi masuk kelas.

Tidak apa apa.

Ada kabar apakah?

Apa ada berkas saya yang bermasalah lagi?

Berkas baru dari KBRI (red. Yang keenam kali) masih ada yang perlu direvisi?

Berkasmu dan temanmu… MAQBUULLL!

Berkas kalian sudah dikirimkan ke Majelis Aliy (red. Dikti Maroko). Bla bla bla…”

Then the rest was history for us 🙂

***

Alhamdulilah…
Seketika saya sujud syukur di kamar sahaja ini.

Perjalanan masih panjang untuk terdaftar resmi dan memiliki KTP penduduk Maroko. Tapi pintu pertama (KBRI Rabat) dan pintu kedua utama (AMCI) telah ditembus.

Setelah perjuangan panjang 3 bulan satu minggu berada di Maroko!

Tugas Aa tinggal ‘mengawal’ berkas yang sudah di-acc AMCI menuju Majelis Aliy, lalu ke Rektorat kemudian ke Fakultas dan dikawal lagi menuju Rektorat, Majelis Aliy dan kembali ke AMCI.

Kenapa harus dikawal?
Karena sudah banyak kejadian dan cerita disampaikan pada kami, berkas bisa lenyap di tengah jalan tanpa ada kejelasan siapa yang patut dimintai pertanggung jawaban.

Welcome to the Arabian administrative style!

Mohon doakan Aa ya. Bisa sabar dan ikhlas menjalani proses selanjutnya.

Masih panjang, tapi setidaknya Aa sudah ‘legal’ dan diterima oleh AMCI untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Maroko.

Kisah detil kita tunggu saja dari Aa ya 🙂

I’ll insist him to write his long journey to pass the AMCI’s door 13 times in three months.

Sebagai istri, Alhamdulilah saya bisa menarik napas lega.

Babak baru akan kami mulai di negeri yang super lelet, ribet dan gak jelas jika terkait urusan administrasi, hehe.

Terima kasih untuk semua yang sudah berkenan mendoakan kami. Berkat teman-teman dan keluarga, kami bisa sabar menjalani ini semua. Dan sampai di titik ini.

Alhamdulillaah…
*sujud syukur*

Bismillah…
Bersiap menarik napas lebih panjang untuk proses selanjutnya.

Semoga dipermudahNya.

*terharu*

Jalan Rejeki

image

Assalaamu’alaikum pembaca setia,

Sudah dua minggu tak menulis di sini, karena kami berdua disibukkan persiapan menerima enam backpacker dari utara Belanda, tepatnya rombongan mahasiswa master dari kota Groningen.

Kesibukan suami juga bertambah. Beliau mulai kuliah sejak minggu lalu.

Ketua jurusan meminta Aa mulai kuliah meskipun berkas pendaftaran kuliah Aa masih tertahan di AMCI.

Semoga dengan semangat kuliah serius yang ditunjukkan Aa meluluhkan hati pihak AMCI.

Sampai hari ini Aa sudah tujuh kali bolak-balik ke AMCI dan dihapal oleh satpam dan beberapa karyawan terkait.
Tanggal 6 Nopember lalu Aa menuju Fez, sementara saya sibuk membersihkan kamar kami satu-satunya untuk mereka tempati selama dua malam.

image

Dapur juga saya sabuni dan sikat bersih-bersih. Rencananya dijadikan kamar sementara kami setelah beres mencuci piring makan malam.

image

Alhamdulillaah, setelah 4 hari 3 malam kami temani menjelajah jantung keindahan di negeri Maghribi, 9 Nopember jelang senja rombongan backpacker Groningen ini terbang kembali menuju rumah mereka di Belanda dengan menggunakan pesawat Ryanair yang lepas landas di Fez Sais Airport.

Sebelum teman-teman Groningen meninggalkan Maroko, saya sempat meminta kesan-kesan mereka berjalan didampingi pasangan #honeymoonbackpacker selama 4 hari. Seru-seru celoteh dan komennya. Khas anak muda 🙂

Ingin segera diupload di sini, tapi sayang kuota internet saya di hape sungguh terbatas, hehe.

Kami harus mencari cafe yang ada wifi-nya. Mungkin harus ke area kelas menengah atas di Agdal 🙂

Sayangnya si Aa mulai Rabu minggu lalu selalu masuk kuliah sejak pagi sampai Maghrib! Belum bisa segera ngafe!

Yup, kuliah di sini jadualnya ajib. Bisa sambung-menyambung sejak pagi hingga matahari terbenam bahkan sampai Isya.

Mau shalat pun harus izin dengan dosen yang sedang mengajar. Entah karena perbedaan mazhab, di sini dosen mengajar ‘santai’ saja memberikan kuliah dan tidak berhenti kala masuk waktu shalat. Nanti saya tanyakan Aa alasan dosen tersebut ya.

Besok Jum’at Aa juga kuliah sampai Maghrib. Pokoknya full mulai Rabu-Jum’at dan kosong mulai Sabtu-Selasa. Seakan-akan diatur Allah supaya kami bisa leluasa mendampingi tamu mulai Sabtu-Ahad-Senin hingga Selasa.

Sementara proses di AMCI masih jalan di tempat 😦

Otomatis beasiswa suami juga belum cair sama sekali.

Alhamdulillaah, Allah memberikan jalan lain untuk membiayai perjalanan memburu cahaya ilmu agama di negeri Senja dengan cara yang ‘kami banget’, yaitu menjual jasa sebagai ‘arsitek perjalanan’ bagi yang membutuhkan. Agar efektif karena tak nyasar-nyasar. Agar nyaman karena guide bisa berbahasa Arab fusha dan darijah, agar mendapatkan spot terbaik untuk dijelajahi, agar jatuh hati karena masuk ke jantung peradaban penduduk lokal.

Betapa cantiknya Allah mengatur jalan rizki kami 🙂

InsyaAllah, kami akan terus bersabar menunggu takdir terbaik untuk Aa.

Meski tadi malam Aa sempat berujar,  “Kuliah di Muhammad Khamis University adalah impian Aa. Tapi proses jalan di tempat dari AMCI membuat hati ink tak tenang.

Kita terus ikhtiar mengupayakan agar Aa bisa kuliah resmi di Muhammad Khamis University, tapi kita juga harus siap menerima takdir apapun dari Allah, Yang.”

Saya tercenung.
Saya yang telah jatuh hati pada kota Rabat mendadak merasa gamang.

Enggan jika harus meninggalkan ibu kota yang nyaman ini. Baru sejenak pengembaraan kami di kota cantik ini.

Mudahan Allah berikan takdir terbaik untuk kami.

Sebagaimana Ia bukakan jalan rizki melalui passion kami.

Ya Rabb!

Pintu Pertama: Kabar Baik dari KBRI Rabat

Angin bertiup kencang membawa ruap dan aroma laut atlantik.

Daun jendela kamar yang berat dan tebal terbanting berkali-kali. Dengan mudahnya diterjang angin berkesiut, mengabarkan musim dingin yang merapat di dermaga.

Saya terduduk karena kaget.

Saya putuskan beranjak memeriksa jendela.

Matahari di luar bersinar garang di pertengahan bulan Oktober yang mulai dingin. Suasana kontras yang menarik untuk saya lukiskan di halaman ini.

Sejak minggu lalu, kaus kaki tak pernah lepas dari telapak hingga tungkai kami berdua.

Usia tak kuasa menahan hembus keras bayu yang masuk melewati pori-pori kulit. Lebih baik dipakai jika tak hendak masuk angin. Apalagi persediaan antangin yang jauh-jauh dibawa dari tanah air sudah habis sejak dua bulan lalu.

Alhamdulillaah, meski angin menabuhkan orkestra alam menakutkan bersama debur ombak lautan atlantik di luar rumah susun kami, saya mengucap Alhamdulilah berulang kali untuk kabar baik yang saya terima kemarin sore.

Alhamdulillaah, semua semata kasih sayang Allah padamu suamiku sayang 🙂

Dimulai dari mudahnya mendapatkan ‘qabul mabdai’ dari Doktor Ahmad Filaly hingga tembusnya ‘qabul mabdai’ dari universitas terbaik di negeri Afrika Utara ini, yaitu Universitas Muhammad Khamis!

Saya terharu menyimak kisah yang diurai Aa.

Saya tatap matanya yang dipenuhi binar-binar bahagia.

“Aa pergi tadi siang tanpa membawa sekeranjang harapan. Aa berangkat dengan niat silaturahim pada Doktor Abder Razzak. Nothing to loose!

Tidak disangka-sangka. Perjumpaan pertama yang berbuah manis.”

Saya peluk Aa. Kami tunaikan sujud syukur pada Sang Perencana.

Jalan masih panjang, tetap semangat A!

Terima kasih untuk Pensosbud KBRI Rabat yang berkenan mengeluarkan surat pengantar untuk memasukkan berkas pendaftaran.

Setelah dari KBRI Rabat mengambil surat pengantar untuk ke AMCI (kedua kalinya) tadi siang, Aa akan menuju AMCI (lembaga yang dibentuk Kemenlu Maroko mengurusi mahasiswa asing).

Tujuannya untuk memasukkan berkas pendaftaran kuliah yang sudah dilengkapi dan diperiksa oleh petugas AMCI.

AMCI kemudian akan meneruskan ke Ta’lim ‘Ali (setara Dikti di tanah air).

Dikti Maroko akan meneruskan berkas (kembali) ke kampus yang telah mengeluarkan ‘ letter of acceptance’, dalam hal ini Muhammad Khamis University.

Dari universitas berkas akan diperiksa dan disetujui.

Lalu dikirim kembali ke dua lembaga pertama. Tentu saja diiringi langit doa dan lautan sabar.

Jangan bayangkan prosesnya semudah di tanah air apalagi di Eropa. Di sini dibutuhkan kesabaran berpuluh lipat dibandingkan kesabaran di tanah air.

Berkelana ke banyak negeri membuat kami menyadari, dalam hal administrasi Indonesia jauh lebih tangkas dan efektif dibandingkan negara-negara Arab!

Apalagi administrasi universitas ternama di tanah air, juara jika dibandingkan dengan di sini.

Tak usah membandingkan dengan administrasi pendaftaran kuliah di Eropa. Tidak apple to apple dan hanya akan membuatmu mengaduh iri!

Di Leeds University saja, Berdasar pengalaman saya kuliah rentang tahun 2004-2007, semua berkas pendaftaran yang saya kirimkan via email diproses sangat cepat, efektif dan efisien satu pintu, yaitu bagian administrasi kampus yang kita pilih.

Begitu keluar acceptance letter dari Leeds University, saya melenggang kangkung diuruskan visa oleh British Council di Jakarta dan siap terbang menuju Inggris.

Di Maroko sungguh berbeda!
Siapkan hati!
Siapkan materi!

Di sini kami harus rajin mendatangi masing-masing lembaga saban tiga-empat hari sekali, agar berkas tidak diam di tempat atau justeru tertimpa berkas calon mahasiswa lainnya.

Mungkin semua proses harus dijalani bilangan minggu. Sebagian bilangan bulan. Bahkan seorang dosen perempuan dari tanah air yang hendak mengambil S3 di Maroko menjalani proses dalam bilangan tahun. MasyaAllah!

Beberapa mahasiswa Indonesia menceritakan kasus ketelingsutnya berkas mereka di salah satu lembaga dan membuat hati kebat-kebit dikejar waktu yang terus melibas dan tahu-tahu sudah harus ujian di kampus.

Bukan main kalau diceritakan sabarnya mahasiswa Indonesia di Maroko dalam menghadapi birokrasi berbelit tipikal tanah Arab.

Kata-kata ‘bukrah’ dan ‘ghadan’ yang artinya besok adalah hal biasa di negeri Arab. 🙂

Panjang, masih panjang proses yang harus ditempuh Aa dalam tujuan menuntut ilmu di negeri ini.

Jika tak lurus niat ingin menuntut ilmu, tentu sudah putus harap dan menyerah kalah sebab panjangnya birokrasi sebelum terjun dalam lautan akademi.

25 Agustus kami tiba di negeri Maghrib dan catatan berjuang mendaftar kuliah di Maghrib akan terus saya tabalkan di halaman ini.

Mohon doa sahabat semua. Agar tuntas hajat suami saya. Amin.

“Man salaka thariqan yaltamisu fiihi ‘ilman sahhalal laahu thariqan ilal jannah.”

Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju surga.”

Menunggu Surat Cinta dari KBRI

Izinkan saya berbagi resah yang mendera.

Kali ini ingin membincang keberadaan KBRI di luar negeri, karena kami sedang mengajukan hajat pada salah satu KBRI.

Backpacker seperti kami sebetulnya enggan berdekatan dengan ‘kekuasaan’.
Kami sepasang pengantin kelana mandiri. Akan tetapi, ada kalanya kami mesti bersinggungan dengan KBRI di negara yang kami datangi.

Kalau kami akan ‘menetap’ minimal satu bulan di suatu negara, secara alami saya dan suami senang hati lapor diri ke KBRI setempat.

Rasanya lega jika sudah ‘kolunuwun’ ke perwakilan pemerintah Indonesia di negeri asing yang kami jejak.

Jika ada apa-apa di tengah perjalanan (na’udzubillaah), ke mana kami bisa minta bantuan kalau bukan ke KBRI?

Secara umum, kami selalu merasa nyaman dengan atmosfer kekeluargaan yang dibangun oleh petinggi KBRI di negara-negara yang pernah kami sambangi.

Meski untuk urusan administrasi nanti dulu, karena fakta di lapangan ternyata sangat beragam.

Berdasar pengamatan kami, tidak semua KBRI lincah membantu warga Indonesia di luar negeri yang sedang memerlukan ayoman dan uluran tangan.

Beberapa KBRI tampil birokratis dan kaku. Tampaknya dipengaruhi gaya kepemimpinan sang dubes yang dipilih presiden berkuasa.

Kesimpulan ini saya ambil setelah bersua dan berbincang dengan sekian dubes sepanjang pengembaraan sepuluh tahun terakhir.

Saya masih terkenang-kenang dengan kebaikan Doktor Marty Natalegawa sepanjang beliau menjadi dubes UK, terutama saat saya kuliah di sana.

Sikap tulus membantu pelajar dan mahasiswa seperti saya meninggalkan jejak indah di hati. Mengingat beliau adalah sekaligus melangitkan doa untuk kebaikan-kebaikan beliau sekeluarga. 🙂

Untuk Timur Tengah dan Afrika lain lagi ceritanya.

Sepanjang 2010 hingga 2013 saya pernah berurusan dengan dubes Mesir, dubes Jordan, dubes Tunisia dan dubes Maroko.

Alhamdulillaah semua dubes membantu segala hajat saya.

Yang paling mengesankan adalah silaturahim dengan dubes Mesir pada jelajah Mesir pertama kali di tahun 2010, yaitu Doktor Fachir (sekarang wakil Menlu). Beliau malah mengundang saya untuk dinner di rumah beliau dan membantu mewujudkan impian saya menjejakkan kaki hingga Jordania.

Bagaimana dengan pengembaraan kami tahun 2015 ini?

Sepanjang Ramadhan backpacking di Eropa tahun ini, kami tidak mampir ke KBRI manapun karena kebetulan Aa tidak diminta mengisi pengajian di lingkungan KBRI. Akan tetapi jejak kebaikan KBRI Belanda membuhul di benak kami.

Salah satu home staff KBRI Belanda membantu membuatkan invitation letter dan berbuah visa schengen multiple entry berlaku hingga 2017. Alhamdulillaah.

Menunggu Surat Pengantar dari KBRI Maroko

Sekarang kami kembali ke Maroko. Langsung terbang dari Belgia setelah Dakwah backpacking berakhir. Semata agar ngirit biaya dan waktu.

Seluruh pengeluaran direncanakan seapik mungkin, mengingat kami berdua sama-sama tidak bekerja dan beasiswa suami baru turun setelah mulai kuliah.

Dubes Maroko ternyata telah berganti.

Saya pernah bersua dengan dubes sebelumnya, yaitu Bapak Tosari Wijaya.
Beliau sosok yang hangat, kebapakan dan tidak mudah menghakimi seseorang.

Beliau ringan tangan mempermudah hajat orang banyak. Senang bergerak secara kultural dan merangkul seluruh lapisan.

Dubes sekarang saya masih mengamati. Alhamdulillaah sudah bersua beliau saat shalat Idul Adha di KBRI Maroko tanggal 24 September lalu.

Yang jelas, suami saya telah ke
KBRI Maroko pada tanggal 18 September untuk meminta surat pengantar ke Pensosbud KBRI Maroko.

Surat pengantar ini akan dibawa ke AMCI untuk menginisiasi proses pendaftaran sebagai calon mahasiswa di salah satu universitas di Maroko.

AMCI (lembaga yang mengurusi seluruh mahasiswa internasional di Maroko) mensyaratkan surat pengantar dari KBRI Maroko untuk melengkapi berkas pendaftaran mahasiswa mandiri seperti suami saya.

Untuk memastikan ini, Aa sudah mendatangi AMCI seorang diri pada hari Selasa lampau.

Sayangnya surat pengantar yang dibutuhkan suami saya belum dibuatkan KBRI Maroko hingga hari ini.

Entah berapa lama kami harus bersabar menunggu dibuatkannya selembar surat pengantar mendaftar kuliah di negeri ini?

Sangat banyak yang ingin saya ukir di sini, tapi saya harus menahan diri…

Kini, harapan kami tumpukan pada Allah sepenuhnya, semoga Ia permudah segala niat baik ini.

Amin.