Kopi Darat yang Hangat :)

Beberapa teman menanyakan, “Imazahra ada di mana, kok terakhir ‘cerita-cerita’ Kamis lalu, biasanya rajin posting atau nge-status di facebook!?”

Hehehe…
I could be anywhere 🙂

Alhamdulillah, Allah itu Maha Baik, Ia perjalankan saya ke banyak tempat, bahkan melalui ‘pertemuan-pertemuan’ tak direncanakan sama sekali. 🙂

Sejak menjejak Cairo 1.5 bulan lalu saya memancangkan niat, jika ke Cairo kembali saya ingin melihat ‘less famous pyramids’ dari Old Kingdom, yaitu piramid di Dashour -Red pyramid dan Bent pyramid- dan Saqqara pyramid di Saqqara.

Mimpi ini akhirnya terwujud dengan caraNya yang sangat manis dan tak terduga! 😉

Setelah Kamis lalu menginap dan bercengkerama sepuasnya di rumah ‘saudari lama’ baik hati Pipit Kartini di Dokki, juga menyempatkan bersilaturahmi dengan Teh Lulu Sunman beserta keluarga, keesokan harinya saya dan Aa Risyan Nurhakim dijemput Mbak Ellys Purwandari beserta suami beliau Mas @Ismail untuk menjelajah piramid-piramid yang saya sebut di atas!

Bahkan kopi darat pertama kami berbonus kunjungan ke Memphis, menyaksikan si Ramses II ‘tertidur’ di sisi saya, hehehe 😉

Hmmm, banyak sekali yang ingin saya tuangkan di sini, tentang betapa luar biasanya rencana Allah (melampaui) rencana manusia, tapi nanti saja ya, mungkin akan ditulis kisah detilnya di buku yang akan datang 🙂

Andai visa Tunisia saya di-approved sebelum 21 April lalu -saat tiket pesawat menuju Tunisia belum dibatalkan- maka sejak kemarin tidak akan pernah ada cerita kami menginap di ‘Rumah Ceria’ Mbak Elly 😉

Andai visa Tunisia saya di-approved sebelum 21 April lalu, maka hari ini tidak akan pernah ada cerita saya memasak pempek kapal selam, kulit, lenjer dan tekwan di dapur apik beliau 😉

Andai visa Tunisia saya di-approved sebelum 21 April lalu, maka saya belum akan sampai ke Dashour dan Memphis! 😉

Maha Suci Ia!
***

Thanks to someone who already became ‘our mediator’ so we befriended from now on 😉

[PhotoBlog] Silaturahmi ke el-Buhuts

image

Kali ini mengaku salah, kami berangkat menuju ‘mogamma’ kesiangan, meski sudah terburu-buru mengejar waktu, tetap saja ditolak untuk memproses ‘taslim’ (bagian dari aplikasi perpanjangan visa Mesir kami).

Sudahlah, kembali lagi saja Sabtu esok lusa 🙂

Sekarang mari kunjungi teman lama kala aku di Inggris dahulu. Dia sekarang hidup berbahagia dengan suaminya yang sholeh di el Buhuts 🙂

Aku berpose di petunjuk stop-an metro; Anwar Sadat sta – Opera – Dokki – lalu sampai ke tujuan kami.

Satu perhentian lagi, yuuk 🙂

Kata-Kata Cinta di Pantai Matrouh Ageeba

Image

SIWA MATROUH IN LOVE!
Jabal Dakrur-Siwa,
Hanya berdua,
Tiada bunyi, tiada gema,
Selain belahan jiwa
Membisik cinta…

Angin tak sekadar terasa,
bahkan berkesiut suara
membisiki telinga
tentang anugrah cinta
akan selalu ada
jika dipelihara
segenap rasa

RN
17 April 2013

***

Image

Kata-Kata Cinta di Pantai Matrouh Ageeba

Pantai Ageeba sungguh ajaib sesuai namanya. Sepi, senyap, kosong tak berpenghuni.

Sepanjang musim dingin keindahan pantai ini ternyata tak berhasil menarik minat turis lokal dan mancanegara untuk bertandang. Berbeda kala musim panas memanggang bumi Mesir, Ageeba beach tumpah-ruah dikerumuni, laksana sepotong gula merah dikerubungi semut-semut kelaparan.

Saat kami tiba di sana (18 April 2013), angin siang itu bergulung kencang. Menyelusup masuk hingga seluruh sendi terasa linu. Gerimis yang mengiringi sejak pagi hari di Marsa Matrouh terus merintik-menetes, semakin mengusir selera dan rencana Aa, meloncat ke dalam turqoise-nya warna laut yang bening mengundang.

Supir angkot yang membawa kami dari Matrouh  menuju Ageeba beach bercerita, “Sepanjang Januari hingga April tahun ini, di sini sepi tak ada kehidupan, ibarat kota mati saja, makanya saya tidak membawa angkot sampai ke sini. Hari ini khusus untuk kalian berdua saja. Keadaan seperti ini sangat berbeda 180 derajat jika dibandingkan dengan musim panas. Ribuan manusia datang ke sini saban hari,” ujarnya bersemangat sambil mengurai senyum hangat.

Kami saling berpandangan. Saling melempar senyuman.

Betapa baiknya supir asli Matrouh ini.
Betapa bersekongkolnya penghuni langit, memberikan kita kesempatan, menikmati pantai Ageeba seakan pantai indah ini hanya milik kita pribadi.
Resort ‘pribadi’ hadiah dariNya.

Sungguh, semesta merestui ‘honeymoon backpacking’ kita ya, A. 🙂

Sang supir angkot menurunkan kami di tepi gerbang menuju Ageeba beach, kami menyepakati janji, akan dijemput setengah jam lagi.

Saat deru mobil semakin menjauh, kita saling mengaitkan jemari, melangkah perlahan menuju keindahan yang membentang.

Di depan kami, sejauh mata memandang, horison biru bertemu langit biru muda. Mereka berdansa begitu sempurna! Sedang biru turquise-nya pantai Ageeba menyaksi kemesraan mereka. Subhanallah, indahnya lukisan Sang Maha Cinta!

Sesekali, udara tak bersahabat menyapa, meniupkan dingin menggigit, aku kerap menciut dalam balutan jaket hitam tebalku, di pertengahan April yang masih sangat gigil.

Kala kita hanya berdua, aku yang gemeletuk di antara demam sisa semalam engkau hangatkan dalam pelukan. Engkau mengajakku menikmati suasana bening, hening dan sesekali memecahnya dengan canda, mengundang sungging di bibirku 🙂

“Aa, ada tripod mungil kita kan?”

“Iya yah, kenapa tak kita abadikan saja?”

Aku tersenyum melihat engkau meloncat-loncat riang, serupa anak kijang kala berlomba mendahului kecepatan cahaya, agar sempat diabadikan oleh kamera mungil kita 🙂

“Aa, I love you, more and more, insyaAllah for the rest of our life!”

“Me too my dear,” sahutmu lembut.

Dan genggaman tangan kita, diabadikan cahaya!

Biru dan anggunnya pantai Ageeba-Matrouh, menjadi saksi perasaan terdalam kita. Mudahan abadi hingga surga!

***

IZ, 24 April 2013

Naik Taksi di Mesir, Supir adalah Raja!

Naik Taksi di Mesir, Supir adalah Raja!

Ini cerita kecil tentang kemarin. Tepat sebelum saya dan Aa berangkat menuju masjid Hussein, meeting point yang kami sepakati untuk bertemu para peserta pelatihan ‘Tips and Tricks to be A Travel Writer’ sekaligus Bengkel Karya,  follow up kegiatan Gamajatim yang telah dilaksanakan dua hari sebelumnya dan mengundang saya sebagai pembicara, berbagi sedikit yang saya punya.

Sekitar pukul 9 pagi kami sudah keluar rumah. Gegas saya dan Aa menuruni tangga flat yang kami huni di daerah Saqr Quraisy.

“A, kita harus naik taksi nih, tidak enak dengan teman-teman peserta yang barangkali sudah sampai duluan di masjid Hussein sedang kita justru datang belakangan, padahal aku sudah menulis di status facebook-ku 2 hari lalu, don’t be late!”

“Ok, naik taksi saja supaya keburu, cari yang pakai argo.”

Aa mulai menyetop taksi, menjelaskan tujuan kami dan supir taksi berlalu meninggalkan kami 🙂

Aa kembali menyetop sebuah taksi, menjelaskan rute kembali dan supir taksi inipun melengos, kembali menjauh.

Supir taksi di Mesir ‘sombong-sombong’ ya. 😀

Oh iya, selama backpack (atau menetap di Mesir sekalipun) please jangan lupa rumus ‘hidup’ di Mesir (sekaligus anekdot Masisir -Masyarakat Indonesia di Mesir- yang ditujukan pada para pelaku bisnis di Mesir) supaya kita tidak sakit hati sepanjang hidup di sini, “Penjual adalah raja!”

Jangan mengingat pepatah tua kita, “Pembeli adalah raja”, karena kamu akan berkali-kali kecewa, hehehe.

Siapkan diri, jangan lupa anekdot,”Penjual adalah raja” jika kamu berniat backpack-an ke Mesir ya!  😀

Aa kembali menyetop taksi -jika yang ketiga ini menolak juga mengantarkan kami ke masjid Hussein, kami memutuskan naik el-trumco saja berkali-kali, supaya bisa menghemat waktu!- dan akhirnya yang ketiga ini berkenan mengantar kami ke mesjid Hussein!

PYUUUH! 😀

***
Taksi Di Mesir Ada ‘Rutenya’!

Unpredictable Egypt Things yang harus siap kamu hadapi adalah, taksi-taksi yang bersilewaran di daerah ‘Asyir hingga Sabi’ kerap enggan membawa penumpang jika tidak sejalur ‘rute’ mereka.

Heh?
Sejak kapan taksi pakai rute?

Ya sejak di Mesir sini 😀

Jadi jangan heran ya, ‘menemukan’ taksi yang satu arah dengan rute perjalanan kita juga bukan perkara mudah, hehehe 🙂

Sehari sebelumnya, pada tanggal 11 April pagi, kami juga sangat membutuhkan taksi secepatnya, supaya segera meluncur ke Kedutaan Tunisia di Zamalek sepagi mungkin, karena Kedutaan Tunis hanya menerima aplikasi visa sampai pukul 11 siang. Pada akhirnya, kami harus berkali-kali menyetop taksi, menjelaskan rute kami, ditolak supir taksi dengan alasan jauhnya Zamalek, rute tidak searah tujuan mereka -entah mau kemana- dan melakukan hal yang sama hingga taksi kesekian kali!

Di sisi lain, saya menyukai kejujuran para supir taksi di Mesir sini, tidak semua bermental ‘scammer‘!

Mereka jujur mengatakan, bahwa daerah Zamalek itu jauh dan mereka mengakui tidak tahu rute menuju ke sana. 🙂

Apa karena kami menggunakan bahasa Arab ‘Ammiyah (bahasa Arab dialek lokal), sehingga para supir itu yakin bahwa kami memang sudah lama tinggal di Cairo dan tidak mungkin ditipu?
Wallahu a’laam! 😀

Tentu anda bisa bayangkan, bagaimana jadinya jika backpack sendirian, tidak bisa bahasa Arab (dan sangaaat jarang supir taksi bisa bahasa Inggris -kecuali di daerah touristic area semacam Giza, Zamalek dan sekitarnya), saya jamin perjalanan backpack anda akan banyak terhambat (termasuk habis waktu untuk urusan beginian, dan ini diakui oleh Mas Ale -salah satu teman dekat saya yang pernah nekad backpack seorang diri, satu minggu di Mesir akhirnya hanya berhasil menjelajah Cairo dan Alexandria saja), makanya saya sangat tidak menyarankan para backpackers (apalagi perempuan) backpack ke Mesir seorang diri (tanpa didampingi salah satu guide / mahasiswa Al Azhar yang fasih berbahasa Arab ‘Ammiyah!).

Masalah taksi hanya satu ‘masalah kecil’, belum urusan lainnya (terkait scammer di berbagai obyek wisata, memesan hostel, sewa mobil, dstnya), apalagi jika masa backpack di Mesir sangat pendek (kurang dari sebulan) dan yang ingin dijelajahi sangat banyak, saya sangat menganjurkan anda untuk mengenal salah satu mahasiswa Al Azhar terlebih dahulu (dan memintanya menjadi guide anda -tentu harus dibayar ya!) sebelum anda menjejak kaki ke Mesir. 🙂

Selamat menjelajah Mesir (minimal) berdua dengan guide anda, jika anda belum bisa bahasa Arab (terutama ‘ammiyah)!

Atau, kalau anda perempuan, tidak mau direpotkan dengan urusan semacam yang saya ceritakan di atas, yuk ikut saja Muslimah Backpacker’s Egypt Trip tahun depan, insyaAllah akan diadakan kembali jika calon peserta terkumpul minimal 10 orang.

Welcome to unpredictable Egypt things, guys! 🙂

PS.
Photo salah satu supir taksi baik hati yang membawa kami meluncur ke Kedutaan Tunis menyusul ya 🙂

Bahasa (Asing)mu, Kompas Duniamu!

Ingatkah anda pepatah lama, “Mulutmu, harimaumu!”

Pepatah ini dipakai teman-teman panitia seminar bahasa untuk memantik ide sebuah tema acara. Lahirlah seminar bahasa berjudul, “Bahasa (Asing)mu, Kompas Duniamu!”

***

Kami Dikawinkan Lagi!

Saya pernah ke Mesir tahun 2010. Masih benderang dalam ingatan, aktifis mahasiswa berduyun menghubungi ‘manajer pribadi’ saya selama di Mesir, yaitu saudara Rashid Satari 🙂

Rashid kemudian mengatur berbagai tema dan kegiatan yang bisa saya isi, di sela-sela backpack kami menjelajah Mesir sebulan lamanya.

Kali ini saya tidak datang seorang diri, saya backpack bersama suami tercinta. InsyaAllah diniatkan sebagai ‘Honeymoon Backpacker’.

Alhamdulillah profesi kami beririsan, saya senang menulis, memotivasi dan berbagi, Aa senang mengajar bahasa Arab, menerjemah kitab dan berbagi.

Sang ketua panitia seminar bahasa terpikir ‘mengawinkan’ kami berdua, agar tandem menjadi pembicara pengantin untuk diskusi, “Bahasa (Asing)mu, Kompas Duniamu!”

Dua tahun kami menikah, namun ini pertama kalinya kami dikawinkan dalam sebuah forum diskusi.

Jangan tanya perasaan kami berdua, terharuuu. 🙂

Sejak menikah, saya terbiasa menyiapkan baju Aa untuk mengisi ceramah, mendengarkan ia latihan menyampaikan materi khutbah nikah atau mempertanyakan ulang logika bahan ceramah yang sudah ditulisnya 🙂

Aa sendiri terbiasa menerima telepon permintaan sebuah kepanitiaan -ya, beliau manajer pribadi saya- lalu memijit punggung saya kala saya duduk berjam-jam mengetik sebuah naskah di depan komputer, atau menyeduhkan teh hangat dengan sedikit gula (I don’t like sweet tea) atau bahkan mencuci pakaian kotor yang menggunung dalam keranjang cucian, sementara saya heboh mengejar deadline sebuah tulisan. 🙂

Kami terbiasa saling mendukung pekerjaan dan karir kami. Saling membantu, saling memudahkan, tapi belum sekalipun kami ‘dikawinkan’ alias diundang bersama untuk mengisi sebuah acara 🙂

For us, the invitation from PII (Pelajar Islam Indonesia) Mesir to share our knowledge together was a romantic moment, it’s really engaged with the honeymoon backpacker’s spirit, syukran!

 

Bahasamu, Kompas duniamu

Candid shot by DulZon

***

“Bahasa (Asing)Mu, Kompas Duniamu!

Saya membuka materi menggunakan bahasa Inggris. Bukan sok canggih berbahasa asing, hanya ingin mengetahui, seberapa dalam kemampuan bahasa Inggris adik-adik mahasiswa/i, siapa tahu jauh lebih mumpuni dibandingkan saya 🙂

Sebagian mahasiswa memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik, sebagian lagi masih harus belajar lebih gigih.

Saya kemudian berbagi kisah hidup saya pribadi.

Imazahra kecil (usia 13 tahun) sangat benci bahasa Inggris (sekaligus jatuh cinta pada bahasa Arab). Saking bencinya, ia lulus dengan nilai bahasa Inggris memalukan untuk ujian akhir nasional tingkat SMA. Nilainya hanya tiga koma sekian. Memalukan dan jangan ditiru ya! 🙂

Menjelang lulus pendidikan S1, Imazahra berpikir untuk mencari beasiswa ke luar negeri. Ia berharap bisa kuliah S2 gratis, mengingat ia adalah anak pertama dari 8 bersaudara. Ekonomi keluarga yang sedang morat-marit dihantam badai krisis moneter dan keinginan untuk terus merantau (karena alasan sangat personal) membuat ia menggila kala hunting beasiswa.

Saban malam Imazahra menjelajah dunia maya.
Pada masa itu, belum ada website beasiswa berbahasa Indonesia seperti sekarang. Segala informasi tentang studi ke luar negeri (terutama Eropa dan Amerika) selalu ditulis dalam bahasa Inggris.

Sejak saat itu, kesadaran diri akan pentingnya kemampuan bahasa asing (termasuk Inggris) mencuat. Dengan kamus berwarna pink fuchia, Imazahra terbata-bata menerjemah kata demi kata -saat itu juga belum ada google translate! 🙂

Imazahra belajar bahasa Inggris secara otodidak. Banyak meminjam aneka buku tata bahasa Inggris dari perpustakaan IAIN Sunan Kalijaga, membeli kamus mungil agar mudah ditenteng kemana-mana dan rajin chatting dengan bule di Mirc dan Yahoo messanger 🙂

Setahun kemudian, Imazahra terbang menuntut ilmu ke negeri Ratu Elizabeth, gratis!
Bahasa (asing) terbukti memutar kompas hidup seorang Imazahra!

Kemampuan berbahasa Inggris yang dimiliki Imazahra membuka karir baru untuknya; interpreter, translator, world backpacker, travel writer and community developer!

Saya menutup sesi dengan sedikit tips belajar bahasa Inggris ala Imazahra 🙂

3.pii-mabes

Imazahra in action 🙂

5.pii.Penyerahan

Penyerahan piagam penghargaanoleh ketua PII, Solihin Ma’ruf

***

Bahasa (Arab)mu, Pundi Rizkimu!

Setelah saya, giliran Aa yang berbagi.

Untuk pertama kalinya, saya akhirnya melihat Aa ‘nyerocos’ dalam bahasa Arab yang sangat fasih, mulai sejak memulai sesi hingga sesi berakhir, nyaris terus-menerus menggunakan bahasa Arab fasih (sesuai grammar dan tata bahasa)! Jujur saya terkagum-kagum. I’m so proud of him!

Selama ini, Aa menjadi dosen bahasa Arab di Ma’had al Imarat, Bandung, tapi belum sekalipun saya melihat beliau mengajar, karena Ma’had al Imarat, Bandung di Jl Inhofthank dikhususkan untuk mahasiswa laki-laki. Istri tentu tidak boleh menyelundup menjadi mahasiswi, hehehe 🙂

Titik tekan materi yang disampaikan Aa adalah pentingnya penguasaan bahasa Arab bagi mahasiswa Al Azhar yang sedang kuliah di Mesir. Amat disayangkan jika mahasiswa Al Azhar asyik bergaul dengan ribuan mahasiswa Indonesia lainnya selama di Mesir, tapi lupa mengasah bahasa Arab fusha dengan aktif di aneka talaqqi (mengaji), dirasah (menghadiri aneka kuliah berbahasa Arab) dan bergiat di Arabic language club!

Setelah kembali ke Indonesia di akhir tahun 2010, Aa menyadari, bahasa Arab semakin diminati penduduk Indonesia di tanah air.

Banyak peluang karir yang terbuka bagi ahli bahasa Arab, mulai menjadi penerjemah kitab-kitab berbahasa Arab -jangan tanya penghasilan mereka, bisa belasan juta per bulan jika tekun menerjemahkan kitab-kitab orderan penerbit, menjadi interpreter di forum-forum internasional, menjadi penerjemah (penyiar) siaran-siaran berbahasa Arab (salah satunya di TV One), menjadi guru / dosen bahasa Arab, ahli filologi dan seterusnya.

***

Pengalaman adalah Guru Terbaik

Aa kemudian bercerita perjalanan karirnya yang dipandu kompas bahasa Arab.

Aa mulai menawarkan naskah / kitab berbahasa Arab ke penerbit di tahun 2006, waktu itu beliau mahasiswa Al Azhar University di Cairo, tingkat 2.

Awal memulai pekerjaan di antara waktu kuliah pun terbilang alami.

Aa senang mendatangi maktabah-maktabah (toko buku) yang ada di Cairo. Beliau menikmati membaca sinopsis di sampul belakang buku (yang mejeng manis di rak-rak toko buku), Aa mencatatnya tanpa membelinya -maklum beasiswa saat itu sangat kecil, hanya 90 LE / bulan. Sampai di kamar asrama, Aa akan menerjemahkan sinopsisnya, lalu iseng menawarkan terjemahan sinopsis tersebut ke salah satu penerbit.

Dari sana, beberapa penerbit tertarik ‘mempekerjakannya’, Aa dikirimi uang untuk membeli beberapa buku lalu diminta menerjemahkan. Sebagian diterbitkan, sebagian lagi tidak karena pertimbangan pasar 🙂

Sejak saat itu, Aa rutin menerjemah ketika liburan musim panas, atau setelah ujian termin 1. Tanpa merasa terbebani, Aa bahkan sanggup mengirim sedikit uang ke tanah air, untuk orang tua dan saudara yang membutuhkan.

Terakhir, Aa berbagi kunci penguasaan penerjemahan kitab-kitab berbahasa Arab:

– Kuasai tata bahasa arab (minimal hal mendasar seperti nahwu dan sharaf).
– Tuliskan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar hingga kita dan pembaca memahami maksudnya.
– Siapkan catatan untuk kata-kata baru (asing), karena biasanya kata-kata tersebut akan muncul lagi di halaman berikutnya.
– Sering-seringlah membaca koran bahasa arab.
– Rajinlah menonton tv arab.

– Kuasai gaya bahasa Indonesia terkini, dengan rajin membaca buku-buku bertema sejenis dengan kitab yang sedang kita terjemahkan. Keluwesan bahasa Indonesia akan memperhalus terjemahan kita.

Di akhir sesi, Aa membagikan lembar latihan bagi adik-adik mahasiswa. Semua diminta menerjemahkan teks berbahasa Arab ke bahasa Indonesia, lalu beberapa didiskusikan bersama-sama.

4.pii.Sesi Aa

 

Aa in action 🙂

8.mengerjakan tugas

Peserta tekun mengerjakan tugas terjemah yang naskahnya diambil dari muqarrar tingkat dua, tentang definisi qashash al-quran

1.pii.Aa piaam

Penyerahan piagam penghargaan untuk Aa dari Ketua PII, Solihin Ma’ruf

***

Latihlah Kompas Duniamu!

Pada akhirnya, seminar, diskusi atau teori-teori yang telah dibagi akan tinggal menjadi sebuah teori / wacana, jika kita tidak mulai mempraktikkannya.

Kami berdua sangat berharap, dari sesi berbagi kami tersebut, adik-adik mahasiswa terinspirasi menguasai salah satu bahasa secara mendalam untuk membuka kompas dunia mereka masing-masing!

“Al qudroh ala lughah takuunu bil mumaarasah.”
Bisa berbahasa (asing) karena biasa!

7.pii.mabes.pii

Foto bersama dengan seluruh mahasiswa peserta diskusi 🙂

Pengantin Kelana Berbagi

Tiga hari yang lalu kami diminta oleh Furqan, aktifis PII Cabang Kairo untuk mengisi acara mereka dengan tema pentingnya penguasaan bahasa asing.

Setelah berdiskusi dengan istri, kami sepakat memasukkan unsur penerjemahan buku (salah satu profesi saya) dan pentingnya bahasa Arab dan Inggris untuk mempermudah backpack keliling dunia (sesuai spirit honeymoon backpacker saat ini: sharing, contemplating, enriching people)

Kalau kamu ada di seputaran Kairo, see you at:

Vanue: Sekretariat PII Kairo, Gami Station.

Time: 14.00 CLT

Theme: Bahasamu, Kompas Duniamu.

Speaker: Risyan Nurhakim, Lc. dan Fatimah Chairi, M. Phil.

***

Curhat Asmara Si Mahmud

Curhat di Cafe Husein

Pagi itu adalah kali pertama aku duduk  dan minum syai bi ni’na’  bersama belahan jiwa di salah sebuah café. Persis di samping pelataran mesjid Husein, Darrasah. Sembari menunggu teman-teman Muslimah Backpacker yang asyik berbelanja di pasar Khan Khalili, kami berdua mau menyantap nasi uduk bekal sarapan kami yang tertunda.

Melihat sejumlah kursi yang masih kosong melompong, kami pun merapat ke kursi salah satu café dan memesan minuman hangat. Karena harga satu gelas teh menurut dompet backpacker seperti kami sangat tinggi, yaitu 15 Le., maka kami memutuskan memesan satu gelas saja untuk berdua. Tak apalah, sesekali. Itung-itung menyewa tempat dan membeli suasana.

‘Gembolan’ makanan segera kami buka dan tumpahkan ke atas meja. Hehehe. Dua kotak nasi uduk, sebotol air minum, dan sisa pizza el-rayek menu makan malam kemarin.

nenk cantik

Sang pramusaji mendekat.

“Welcome,” sapanya.

Segera kujawab dengan bahasa Arab, ‘Shabaahul ful, ya rayyis…, Izzayyak hadhratak?” Selamat pagi wahai tuan, apa kabarmu?

Dengan ekspresi wajah berubah ramah dia menjawab, “Shabaahan nuur, kuwaisy… Selamat pagi bercahaya, kabarku baik.”

Setelah kupesan segelas teh, dia mendekat dan duduk di kursi yang tak jauh dari meja kami. Ternyata teh yang kami terima bukan satu gelas. Tapi satu teko. Ukuran teko cukup untuk dua buah gelas besar. Pantas saja dihargai 15 Le. Sambil menyesap teh, kami mulai menyapa. Menanyakan nama dan asal daerahnya. Ternyata tidak jauh dari café, yaitu di Jamaliyyah. Setau saya, untuk menuju tempat tersebut dari terminal darrasah cuma satu kali naik angkot khas Mesir, el-trumco.

Kisah Asmara Mahmud

Agak sungkan dia menanyakan perempuan manis yang duduk bersamaku. Aku tersenyum dan menjelaskan statusnya. Ya, she’s my lovely wife dan sudah dua tahun aku menikahinya. Dia tersenyum. Namun setelah dia kutanya balik, raut wajahnya berubah. Dia sudah melamar calonnya, namun akhirnya gagal melanjutkan ke jenjang pernikahan, karena keluarganya yang tidak setuju. Salah satu alasannya adalah kondisi ekonomi dan status sosial dia. Dia bercerita bahwa mereka sudah sama-sama mencintai apa adanya.

Saat kami mau melanjutkan obrolan, pemilik café lewat dan terlihat tidak suka dengan keakraban kami. Kami faham. Dia segera kupersilahkan kembali bekerja melayani pembeli lainnya.

Setelah tugas dia tunaikan, dia kembali mendekat dan melanjutkan pertanyaan, “Kamu menikahi dia dengan mahar apa? Emas ya?”

“Ya. Sama saja dengan di sini.”

“Berapa modal mahar kamu?”

’Ya standar saja, 5 atau 10 gram emas juga sudah bisa akad kok. Dan akadnya akan sah jika sarat dan rukunnya lengkap.”

“Itulah masalah saya di sini. Biayanya besar sekali. Bukan calon saya yang matre, tapi desakan keluarganya. Minta emas sekian gram, rumah, alat-alat rumah tangga dan sebagainya. Akhirnya kami harus berpisah.”

‘Kenapa cinta harus dikorbankan hanya dengan hitungan emas yang tidak sesuai standar keluarga?

Pertama kali menikah, saya belum punya pekerjaan tetap, rumah masih ngontrak, kendaraan belum punya. Tapi kami yakin dengan langkah kami.

Kami datangi kedua orangtua dan meyakinkan mereka, bahwa tekad kami sudah bulat. Cukuplah restu dan doa keberkahan rumah tangga yang kami pinta dari mereka.

Layaknya hidup yang semestinya dijalani secara bertahap, rumah tangga pun demikian. Ikatannya akan menguat dan membesar bertahap. Al-‘Aisyu syai’an fa syai’an, syuwaiyah syuwaiyah.”

“Itu dia yang aku pengin dari keluarga calonku.’ Jawabnya. ‘Tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu.”

Ia pun menjauh untuk kembali menunaikan tugas. Menyapa pelanggan dan mempersilahkan mereka duduk di café bosnya.

Aku tak ingin melewatkan momen duduk minum teh di café ini. Kamera kukeluarkan dan kuambil gambar istriku yang tengah duduk di kursi ukir yang unik. Sesekali berpindah duduk dengan background lampu fanus khas Mesir yang bergelantungan dan jejeran alat hisap syisya.

curhat mahmud-cafe husein ima fanous

[foto1: Mahmud melirik-lirik kami. fato2: Ima di antara perabot khas Mesir]

Melihat kami sedang asik memotret, Mahmud mendekat dan menawarkan diri memotret kami berdua. Rupanya dia sudah terbiasa memotret para pelanggan yang ingin difoto di café tersebut.

jepretan ala mahmud

[foto, hasil foto Mahmud]

Hari kian menyala. Kami harus kembali mencari makan siang untuk 18 orang peserta Muslimah Backpacker’s Egypt Trip yang kami kelola.

Saat mau pamit, Mahmud bertanya, “sudah punya momongan belum?”

Kami tersenyum sembari menggelengkan kepala. “Allahu yarza’kum athfal. Semoga Allah segera memberi anugerah keturunan buat kalian.”

“Ingat ya, nanti anakmu dikasih nama yang bagus, namaku ini dikasih orangtua karena mereka bilang nama ini paling bagus. Mahmud, Ahmad, Muhammad, Hamdan, dan nama-nama bagus lain.”

He he, Mahmud Mahmud…, sudah berapa belas Mahmud yang aku ajak mengobrol selama sembilan hari ini, belum termasuk Mahmud yang ini.

Kami beranjak dari café. Mesjid Husein menjadi saksi percakapan kami, doa, dan curhat asmara Mahmud.

Allahumma istajib du’ana wa da’watal muslimin jami’an…amin.

Semoga dengan banyak mendoakan dan didoakan banyak orang, kami benar-benar segera diberikan momongan. Sebab kita tidak pernah tahu, dari mulut mana doa orang-orang yang akan Allah kabulkan!

Saqr Quraisy, 03 April 2013