Our Passion

image

Kelana Cahaya Tour di Sevilla, Spanyol

Dua tahun terakhir saya mengamati timeline seorang kakak yang menetap di jantung kota Paris bersama suami dan seorang anak.

Beliau bukan perempuan biasa di mata saya.

Beliau salah satu perempuan berkarakter kuat dan tahu apa yang dia inginkan dan tahu langkah apa saja yang harus beliau ambil untuk mewujudkan mimpi.

Sepanjang dua tahun terakhir saya membaca dan melihat foto-foto perjalanan beliau dalam memburu ‘passion‘ dan kecintaannya pada kuliner dan keindahan alam Indonesia.

Dari foto-foto yang dibagi dan diberikan sedikit pengantar, disusul komentar yang bertebaran di kolom reply, saya tahu persis beliau sabar dan kuat menjalani proses bata demi bata impian, yaitu membangun boutique hotel di ketinggian Lombok, tak jauh dari pantai Selong Belanak yang surgawi.

InsyaAllah Juni nanti boutique hotel beliau akan grand opening. Saya sungguh amat berbahagia untuk pencapaian dan kerja keras beliau.

MasyaAllah…
Dari timeline beliau yang kerap di-update tersebut saya merasa disemangati.

Bahwa memburu, bekerja melakukan sesuatu yang sangat kita sukai, membutuhkan proses panjang, diiringi kesabaran dan keuletan nyaris tanpa akhir!

Hingga berhasil!

APA SIH PASSION SAYA?

Butuh puluhan tahun bagi saya untuk menemukan ‘passion‘ (gairah terhadap sesuatu yang tiada putus) yang benar-benar saya gilai. Benar-benar saya sukai.

Tak ada nilai materi di sana pun tak mengapa. Tapi saya bahagia melakukannya.

Sejak usia remaja, berganti-ganti kesukaan saya. Mulai public speaking, lalu writing, kemudian organizing hingga cooking.

Tapi selalu ada rasa bosan dan jenuh di tengah atau ujung perjalanan.

Tahu-tahu saya mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tentu saja setelah melamar ke banyak lembaga pemberi beasiswa. Saya mulai kuliah kembali di Inggris sana pada pertengahan 2004.

Setiap summer berlangsung, para mahasiswa menggendong ransel tinggi besar dalam gegas dan langkah-langkah panjang,

“Where are you going?”

“I’m going to Spain.”

“Wait, Spain is really far from here. How could? We’re students with limited scholarship!”

“I’m going there by backpacking.”

Yang bersangkutan berlalu dan saya gegas menuntun sepeda merah ke perpustakaan dan langsung googling.

image

Saat Aa menyandang backpack, menuju kapal cruise Silja Line yang akan berlayar ke Helsinki, Finlandia

Apa itu backpacking?

Gaya hidup atau apa?

Atau sejenis alat transportasi?

Apaan sih?

Bukannya backpack itu ransel yang selalu saya sandang di punggung saban berangkat kuliah dan mengayuh sepeda ke supermarket kala belanja kebutuhan sehari-hari?

Setahun kemudian, summer 2005 saya mulai backpacking pertama menjelajah Eropa daratan seorang diri saja!

Tiga minggu saya tak merasa lelah mendatangi delapan negara dan menyambangi puluhan kota menggunakan kereta api.

Saat itu usia saya menjelang 24 tahun. Karenanya berhak membeli tiket kereta terusan Eurorail dengan harga di bawah 200 €! Puas turun naik kereta api ke mana saja saya hendak menuju sampai bosan atau pingsan kelelahan! 🙂

Sejak itu, tak terasa sudah 35 negara saya datangi dengan gaya backpacking murah meriah seru. Backpacking semacam anggur memabukkan bagi saya.

Mendatangi tempat asing sungguh memantik api jiwa.

Mengembara, terlebih bersama pasangan jiwa sungguh membuat saya kaya.

image

Keindahan pegunungan dan danau di Swiss

Sebelas tahun berlalu dan saya masih mencintai aktifitas backpacking hingga detik ini.

Belakangan, saya bahkan mendirikan komunitas ‘Muslimah Backpacker’.

Dengan niat mengajak lebih banyak anak muda belajar kehidupan melalui aktifitas yang menyehatkan fisik karena banyak berjalan dan menyehatkan jiwa karena membuka wawasan.

Tak pernah saya duga. Saya pun bertemu suami yang menyenangi aktifitas alam.

Basic Aa adalah kecintaan pada aktifitas sporty dan mendaki gunung.

Dari gunung turun ke lautan hati saya. Hihihi. Bisa ajah si Ima! 🙂

Sebelas tahun berlalu dan kami sampai di titik ini.

http://www.honeymoonbackpacker.com yang bertumbuh kemudian melahirkan #kelanacahayatour dan rutin membuat aneka budget trip. Dalam dan luar negeri. Minimal setahun sekali.

Sepanjang 2013 terhitung 6 kali trip diselenggarakan.

Yang paling banyak mendapat sorotan media bahkan beberapa kali diliput media nasional adalah Jelajah 53 anggota Muslimah Backpacker ke Bromo, Malang dan Batu Jawa Timur.

Lalu disusul pengelanaan terjauh ala backpacker ke Mesir selama 11 hari.

Mendatangi Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria hingga mendaki puncak Gunung Sinai. Perjalanan bersama komunitas yang sangat membanggakan!

Setelahnya perlahan tapi pasti fokus kami beralih ke bisnis mengorganisasi perjalanan grup kecil-kecilan. Dimulai dengan modal nol sama sekali. Hanya bermodal kepercayaan klien saja.

Kata banyak pengusaha senior, bisnis yang tumbuh mengakar dan menghunjam kuat adalah bisnis sesuatu yang kamu cintai. Dan kini dengan lantang saya akui, saya mencintai dunia perjalanan sepenuh hati.

Tak terasa, sudah tiga tahun saya dan suami bahu-membahu menumbuhkan lini bisnis #kelanacahayatour di antara jadual kuliah Aa yang berkejaran.

Kami berbagi tugas. Saya melakukan kerja marketing, finance dan management.

Aa sepenuhnya menjadi guide atau tour leader yang bekerja sepenuh hati. Kalem, tulus dan sangat amanah menjaga para tamu sepanjang perjalanan. Memenangkan hati klien dan tamu kami. Alhamdulillaah.

Tiga tahun yang menguji kesabaran, keteguhan dan keikhlasan hati.
Jatuh bangun kami lalui.

Jangan tanya soal menghadapi keinginan klien yang beraneka ragam.
Apalagi yang sekadar tanya-tanya itinerary dan land arrangement, lalu setelah dapat itinerarysays good bye‘.

Sudah biasa. Namanya juga bisnis jasa.
Harus berhati seluas samudera.

Awal-awal memulai, kami bahkan tak untung sama sekali.

Sekarang kami belajar menghargai diri dan kerja keras berbulan-bulan menyiapkan sebuah trip, terutama trip ke luar Indonesia. Termasuk di dalamnya proses promosi yang menghabiskan pulsa internet, ratusan jam proses marketing, lalu closing klien hingga sabar mengingatkan tagihan cicilan biaya trip.

Ya, selain menyelenggarakan budget trip (trip dengan biaya ringan) kami juga mengizinkan klien kami menyicil biaya trip hingga jelang keberangkatan. Boleh dibilang nekad. Tapi inilah tantangannya.

Kenapa jalan susah yang kami ambil? Karena #kelanacahayatour adalah bayi di galaksi bisnis perjalanan tanah air.

Ya, dalam bisnis travel and tour ini, kami adalah ‘pemain liliput’ di antara pemilik modal raksasa dan korporasi gurita.

Tapi kami tak gentar. Karena kami mencintai proses ini. Dan kami berbisnis melibatkan hati. Mengutamakan empati.

Demi empati dan mengutamakan studi yang sedang ditempuh si Aa, kadang kala kami harus mati suri sejenak, seperti bunga liar yang hibernasi di musim dingin, kemudian mekar menyala secantik matahari di musim panas.

Ada keindahan dalam kesabaran.

Ada keyakinan dalam proses belajar.

Dan saya makin menyadari. Saya telah menemukan hasrat terdalam diri ini. Yaitu kecintaan pada aktifitas pengembaraan dan membagikan spirit ini melalui beragam paket perjalanan yang kami tawarkan bersama Kelana Cahaya Tour.

Sehingga kata bekerja menjadi lenyap. Berganti kata, cinta!

***

Ps.

Open Trip yang saat ini dibuka adalah Maroko Trip pada tanggal 3-11 November 2016.

Saat ini budget open trip ada di posisi 16 juta all in. (tergantung ketersediaan dan harga tiket pesawat)

Tertarik?

Please contact us here, +62 819 5290 4075.

Wefie: Rayakan Sembuh di Brugge

 

Wefie rayakan sembuh di Brugge! :)

Wefie rayakan sembuh di Brugge! Saking susah foto dengan tangan sendiri, si Aa nyengir kuda! 🙂

Rayakan Sehat di Brugge!

Tak pernah terbayangkan, jika #DakwahBackpacking dan #HoneymoonBackpacking di tahun 2014 dipenuhi sederet ‘drama’ dan musibah.

Salah satunya adalah ambruknya saya sampai akhirnya dilarikan ke Luisen Hospital di Aachen, Jerman.

Penyebabnya?

Continue reading

Liburan Seru Dengan Sepeda Impian Ala Honeymoon Backpacker

Liburan Seru Honeymoon Backpacker Dengan Sepeda Impian

Jika diingat-ingat kembali, liburan paling seru yang kami alami selalu berhubungan dengan sepeda! Tidak hanya kala backpack di Eropa, tapi juga saat liburan tanah air dan negara tetangga. 

Sejak kapan kami jatuh hati pada aktifitas bersepeda?

Saya mengingat-ngingat. Jawabannya sangat mudah! Sejak kami mencicipi naik sepeda keliling kota Stockholm tahun 2013 lampau.

Saya dan suami dipinjami dua sepeda milik Mbak Mieke dan Mas Tio, host kami saat itu. Alasannya sederhana, local transport semacam bis umum sangat mahal untuk kantung backpacker seperti kami. Sekali naik bis harus bayar sekitar 100 SEK (Swedish Krona) untuk berdua. Kurang lebih setara 150 ribu rupiah! Kebayang bangkrut kalau kemana-mana naik bis atau taksi kan!

Awalnya saya kagok karena harus membawa sepeda di sebelah kanan. Berkali-kali menjerit karena nyaris mengambil jalur kiri saat harus membelok, padahal mesti tetap meluncur di sisi kanan tubuh. Rasanya gugup sekaligus excited!

Setelah beberapa saat menyesuaikan diri, feeling dan irama kaki makin serasi mengayuh pedal sepeda! Selanjutnya ketagihan!

Hembusan udara musim panas yang hampir berakhir menyelusup lembut ke dalam jilbab dan meninggalkan rasa sejuk dalam kepala. Kayuhan sepeda yang meluncur sempurna di jalanan beraspal memacu keluarnya hormon endorphin! Saya merasa bahagia di atas sepeda!

liburan dengan sepeda di stockholm 5-9-2013

 

Wah, backpack menggunakan sepeda di Eropa ternyata bukan main seru! 🙂

Continue reading

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

 

Our Steps in Alhambra :)

Jejak kaki kami berdua di Alhambra

 

Alhamdulillah…

One of my dreams finally came true yesterday, I’ve finally stepped Alhambra  in Granada with my beloved one!

Thank you my dear husband, Risyan Nurhakim, for accompanying me realizing my dream to see Granada after our second years of marriage life 🙂

 

***

Kemarin, pagi-pagi sekali kami berjuang untuk bangun, setelah sehari sebelumnya tiba di Granada bus station sekitar pukul 17:30 waktu setempat.

Khawatir kemalaman, Aa gegas membaca peta yang kami dapatkan gratis di salah satu tour operator dalam terminal bus, untuk segera ‘membaca’ kota Granada 🙂

Sesuai petunjuk Polaroid Siesta Hostel yang dikirimkan via email, kami harus naik bis no 3 atau 33 (jika mau mengirit budget) persis setelah keluar terminal bus.

Kami langkahkan kaki keluar dan halte yang dimaksud segera kami temukan. Rupanya backpackers lainnya sudah siap-siap menaiki bis 33.

Saat bersiap membayar uang tiket, sang supir berujar, “One twenty!”

Wow, murah sekali transportasi publik di Granada dan Malaga -dua kota yang sudah kami kunjungi di Spanyol Selatan ini, dibandingkan dengan harga bis di kota-kota turis lainnya di daratan Eropa, Padahal bisnya bagus, nyaman dan bersih 🙂

Sebagai perbandingan lebih jauh, bis ATVO dari Venice Mestre ke Ryanair Airport di Venice Treviso yang berjarak hanya 30 menitan saja (jika tidak macet) kami harus membayar 10 E / orang.

Sedang bis bandara Malaga Airport ke Malaga Alameda (City Centre) dengan jarak tempuh tidak jauh berbeda, hanya menarik biaya 3 E / orang.

Hmmm, dari sisi budgetting, jelas kami jatuh hati pada Spanyol Selatan ketimbang Italia bagian utara 🙂

Dari sisi orang-orangnya apalagi.

Sejak awal tiba di Italia, saya sadar sepenuhnya, orang-orang Italia di area wisata tidak terlalu ramah pada turis, apalagi mungkin karena saya menggunakan jilbab? Entahlah…

Kami mengalami kejadian menyebalkan dengan seorang masinis kereta api di Florence yang saya tegur karena kereta tak jua kunjung berangkat padahal sudah delayed 30 menitan. Sikap masinis tak bertanggung jawab itu semakin menyublimkan citra Italia yang berantakan di mata kami berdua.

Sedang di Spanyol Selatan (sejauh ini Malaga dan Granada) kami menikmati keramahan dan kehangatan hati orang-orang Spanyol.

Mulai dari penduduk lokal, supir bis, masinis kereta api, petugas di Metro hingga resepsionis di hostel (alias para pelaku bisnis jasa) semuanya ramah-ramah 😉

Entah karena orang-orang Spanyol memutuskan bersikap ramah karena sadar pariwisata atau memang karakter asli orang Spanyol Selatan memang seperti itu?

Kami kurang tahu, yang jelas kami merasa betah menjelajah di Spanyol Selatan ini 🙂

Sikap positif penduduk Spanyol Selatan ini melahirkan sikap positif pada turis-turis mancanegara 🙂

Semenjak mini tripod kami ‘tewas’ salah satu kakinya dan tidak bisa digunakan lagi, lalu saya dan Aa berjuang memotret kami berdua dengan salah satu tangan, banyak sekali orang Amerika, Australia bahkan Inggris menawarkan memfotokan kami.

Meski hasil jepretan mereka kadang tak sebagus kerja tripod, hati kami sungguh tersentuh 🙂

Rupanya keanggunan Nasrid Palace di kota tua Alhambra dan sikap positif orang-orang Spanyol Selatan melahirkan kebaikan berantai 🙂

***

Banyak kejadian menarik yang kami temui sepanjang 10 jam berada di “The Monumental Complex of The Alhambra and The General Life”.

Sebuah bangunan pertama kali dibuat di Alhambra (dalam bahasa Arab disebut Alhamra, (artinya istana merah) pada tahun 1237 masehi oleh kekhalifahan Nasrid. Pembangunannya berlanjut hingga 250 tahun kemudian.
Muhammad I Al-Ahmar hingga selesai dibangun oleh Muhammad XII / Boabdil (1429).

Alhambra adalah salah satu simbol jejak kekuasaan kekhalifahan muslim Andalusia terakhir, sebelum direbut pasukan Ferdinand dan Isabella of Castile pada tahun 1492 dan layak diapresiasi jika berkesempatan ke Spanyol!

Saat memasuki pintu pemeriksaan tiket, mata kami langsung dimanjakan oleh hijaunya taman yang melingkupi Alhambra.

Indah dan menyejukkan mata.

Saat waktu kami tiba untuk memasuki Nasrid Palaces (ada 3 istana semuanya), saya dan Aa berkali-kali memegang dada dan berkaca-kaca.

300 tahun lamanya Islam memerintah di kota Granada dan memajukan kota ini dengan cahaya iman, islam dan ilmu pengetahuan.

Sedang sekarang, di luar suasana Alhambra yang agung, kami menyaksikan rusaknya dampak modernisasi di kota turis ini, perempuan Spanyol Selatan senang memerkan tubuh seksi mereka dan merokok tiada henti. 😦

Kami mengantri kala akan memasuki Nasrid Palaces dan mulai terpana-pana kala berada di dalam.

Di setiap dinding Nasrid Palaces terukir keindahan kalimat-kalimat ‘tayyibah’, menggambarkan halusnya akhlak dan sholehnya penguasa kekhalifahan Nasrid kala itu.

Kami hikmati perlahan-lahan indahnya arsitektur istana, air mancur mengalir di setiap ruang istana dan bergulirnya sejarah panjang kejayaan peradaban Islam yang terukir nyaris di setiap dinding Nasrid Palace!

Aa bilang, “Kaligrafi yang mereka ukir adalah kaligrafi tingkat tinggi. Betapa telatennya mereka mengukir dinding istana ini.”

Sebagai misal, kata-kata, “Laa ghaliba illal Llaah” tertatah di setiap penjuru dinding, artinya, “Tiada yang mengalahkan (apapun) kecuali Allah”.

Kata Aa, potongan kalimat di atas terinspirasi dari ayat Al-Qur’an, “Laa ghaaliba lahu illa huwa.”

Tatahan ‘Laa ghaliba illal Llaah’ mengajak kami berdua untuk selalu berzikir, mengingat lemahnya diri ini di hadapanNya yang perkasa.

Tatahan ayat, kalimah tayyibah dan puisi-puisi indah bertaburan di seluruh penjuru istana.

Jatah setiap pengunjung sebetulnya hanya 30 menit saja, tapi saking terpesonanya, saya dan Aa sibuk memotret semua ukiran huruf Arab tersebut dan kami berniat membacanya satu demi satu di kala senggang dan mudahan bisa menuliskannya kembali.

***

Sementara kami sibuk memotret kaligrafi di setiap dinding, di sisi lain, pengunjung mancanegara (terutama dari Cina) banyak yang heboh berfoto di setiap sudut istana dengan pakaian sangat minim, seksi dan seronok. Sambil sesekali berciuman dan berpagut penuh gairah dengan pasangan backpack mereka.

Ada satu pasangan yang bolak-balik melintas tak jauh dari kami, sepertinya mereka pasangan beda negara, berkali-kali berpagut mesra di hadapan pengunjung lainnya.

Sungguh tak tahu diri, “Have a room guys!”

Kecamuk rasa mengalir dalam dada.

Setelah 300 tahun kejayaan pemerintahan Islam, istana agung ini ternyata dinikmati dengan beragam cara oleh para pengunjung.

Kami salut pada pasangan kakek nenek dari Amerika, yang sibuk membaca buku sejarah sambil sesekali mencocokkannya dengan sudut istana yang sedang mereka datangi 🙂

Kakek ini pula yang menawarkan diri untuk memotret kami berdua, kala beliau melihat Aa beberapa kali hanya mengambil gambar saya saja 🙂

Kami akhirnya berkenalan dan memutuskan ‘keep in touch’ sekembali ke negara masing-masing 🙂

***

Ah, tak cukup sehalaman dua halaman untuk mengisahkan jejak sejarah yang ditinggalkan oleh kekhalifahan Nasrid ini.

Sebuah buku sepertinya patut dihasilkan dari kunjungan mengesankan ini, sebagaimana Irving Washington menulis sebuah buku berjudul, “Tales of the Alhambra” pada tahun 1829, saking luar biasa indahnya jejak sejarah yang diwariskan Alhambra pada dunia!

Image

Kereta Kehidupan

Kereta Kehidupan

Bangun tidur pagi ini seluruh badan terasa remuk redam, hehehe… Tidak menyangka, perjalanan menggunakan Quer-durchs-Land-Ticket selama 8 jam-an kemarin meninggalkan lelah berlapis 🙂

Bagaimana tidak, sejak awal itinerary rencana kepulangan kami ke Belgia terus berubah karena banyak hal, akhirnya kami memutuskan go show saja setelah Aa menunaikan kesempatan berceramah di Hamburg sebanyak dua kali, Sabtu sore dan Ahad sore lalu (21-22 September 2013.

Walhasil alternatif transportasi paling murah meriah jika mendadak adalah “Quer-durchs-Land-Ticket” yang sudah pernah kami pakai pada tanggal 😀

Ya sudah, mari memanfaatkan tiket terusan seluruh wilayah Jerman itu lagi. 🙂

***

Rupanya, karena sudah sekali memakai “Quer-durchs-Land-Ticket” dari Nurenberg menuju Hamburg, excitement-nya tidak terasa lagi, hehehe, betapa cepat bosannya manusia dan betapa fananya ‘kesenangan di dunia’! 🙂

Apalagi kereta yang kami naiki berkali-kali tidak sebagus kereta-kereta di hari Sabtu. Jarak tempuhnya juga tidak selama hari Sabtu. Yang terasa adalah, “Kok sebentar-sebentar turun naik kereta ya?!”

Mulai pukul 11. 54 kami turun naik Metronom sebanyak dua kali, S1 sekali, RE tiga kali, Eurogio Bahn sekali, dan diajak naik bis dalam kota dua kali.

Artinya -setelah naik ferry menyeberangi sungai Elbe yang dalam dan luas itu- kami bergonta-ganti moda transportasi sebanyak 9 kali, dengan waktu transfer terpendek hanya 4 menit –saya masih sempat ngeprint jadual perjalanan yang kami pilih menuju Aachen dan membeli tiketnya sekaligus!

Rasanya takjub pada keteraturan dan sinkronisasi jadual kereta api yang ada di Jerman dan Eropa pada umumnya 😉

Di sisi lain, salah satu kereta kami (jurusan Hannover – Minden menggunakan train S1) terlambat 3 menit! Padahal waktu transfer kami hanya lima menit dan harus turun naik tangga (tidak ada lift dan eskalator sama sekali) yang rata-rata menghabiskan 2 menit!

Karena si S1 telat tiba dan mengorupsi waktu transfer kami sebanyak 3 menit lamanya, sedang kereta jurusan Minden – Hamm pergi tepat waktu, 2 menit sisa yang kami miliki akhirnya tidak cukup untuk berlari turun dan naik tangga karena harus berpindah peron lalu gegas masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm tersebut.

Mau tidak mau kami ditinggal si train RE 10626 tersebut, karena waktu transfer kami hanya 2 menit saja dan jelas tidak keburu.

Untung kami tidak sedang akan naik pesawat atau mengejar sebuah janji teramat penting dan harus tepat waktu, seperti Sabtu lalu!

Saat itu saya dan Aa saling berpandangan menyaksikan fenomena ‘mengesankan’ ini.

Betapa waktu di negeri Eropa dihitung dari menit ke menit sedemikian rigid.

Telat 2-3 menit saja artinya siap ketinggalan transportasi berikutnya, mengeluarkan uang lebih banyak atau kehilangan kesempatan meeting ‘raksasa’. Mungkin saja, karena Aa sempat menyaksi dua orang bule yang saling bertangisan kala mereka juga tidak bisa masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm.

Dalam kereta saya sempat terpekur…

“Bukankah kehidupan di dunia ini sama seperti naik kereta api?

Jurusan yang kita pilih menentukan kebahagiaan yang akan kita kejar atau mau kita raih. Kadang kita harus berganti-ganti kereta api, atau malah mencobanya satu demi satu, karena kekurang-pahaman kita akan tujuan hidup yang ingin kita raih.

Lalu ada saatnya kita harus terhenti beberapa saat karena ketinggalan ‘kereta tujuan hidup’ akibat kurang fokusnya kita.

Tak apa, perjalanan kehidupan memang selalu jatuh-bangun. Akan tetapi ada baiknya segera fokus kembali, untuk mengejar ‘kereta tujuan berikutnya’, agar tak terus-menerus naik ‘kereta’ dan energi habis untuk berpindah-pindah tujuan perjalanan.

Dan sadarkah kita, tujuan hidup kita kerap disetir penghambaan berlebih pada dunia?

Kita kerap naik ‘kereta materialistik’ terus-menerus tanpa henti, dan lupa bahwa kebahagiaan hakiki kerap tak bisa kita kejar dengan menaiki ‘kereta materialistik’ karena bahagia hakiki sejatinya terletak dalam hati, bukan pada benda duniawi.

Saya tertegun berkali-kali, sudahkah saya memilih ‘kereta terbaik’ saya untuk menuju surgaNya yang tidak murah itu?

Sudahkah saya memilih ‘jurusan terbaik’ menuju ridhaNya?”

‘Officially’ Ambruk di Nürenberg!

Hari ini fisik saya officially ambruk!
Tapi insyaAllah tidak dengan spirit dan mental backpack saya! 😀

Hari ini pula tepat dua bulan kami berkelana;
Hanya berdua,
mengukuhkan rasa,
mengeratkan sepasang jiwa,
dalam suka duka perjalanan sederhana,
‘menantang’ materialistik dan kapitalisnya bumi Eropa,
sekaligus memunguti kearifan-kearifan lokal yang kami jumpai di sepanjang perjalanan ini.

Berjalan ke banyak tempat, belajar dengan menyaksikan langsung dan berbagi, terutama mendampingi suami berceramah ke berbagai negara yang sudah kami datangi, menimbulkan kesan mendalam untuk diri dhaif ini.

Hari ini,
di atas kasur yang disediakan host kami,
saya memutuskan merefleksi, sementara Aa menunaikan Magrib di Islamische Gemeinde Nürenberg, sekitar 10 menit saja dari rumah host kami 🙂

***

Memanfaatkan Quer-durchs-Land-Ticket

Setelah berhari-hari dihajar dingin, hujan rintik-rintik dan angin kencang di kota Düren, dan masih terus didampingi rintik kala menjelajahi kota wisata cantik bernama Würzburg kemarin sore, tubuh saya menyerah! 🙂

Ya, kami sekadar mampir sebentar mumpung ada tiket terusan seluruh wilayah Jerman bernama, Quer-durchs-Land-Ticket untuk dua orang seharga 50 euro. Tiket sakti ini bisa digunakan sepuasnya mulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 03.00 dinihari.

Mau mendatangi wilayah Jerman Utara (misalnya Hamburg) lalu mampir-mampir dan meneruskan naik kereta hingga ke Jerman Selatan pun bisa, hanya saja tampaknya fisik dan waktu akan menjadi kendala. Jerman tidak semungil Belgia atau Belanda! 🙂

Sebagai backpackers yang tak lagi belia, kami tetap berupaya memanfaatkan semaksimal mungkin tiket terusan yang kami beli tersebut 🙂

Setelah turun naik kereta api kelas 2 -jujur menurut saya jauh lebih nyaman, bersih dan mewah dibandingkan kereta eksekutif di Indonesia!- kami memutuskan melihat-lihat kota Würzburg dari dekat.

Ide mampir ke kota ini muncul sejak beberapa hari lalu, saat saya, Aa, Mas Sis dan Mbak Irawati Prillia membincang rute kami.

Saya sempat bertanya,

“Mbak, adakah kota wisata cantik dan bersejarah yang bisa kami mampiri sepanjang rute turun naik kereta menuju Nurenberg.”

Mbak I seketika menjawab, “Tentu saja ada. Mampir saja ke Würzburg. Old town-nya tidak terlalu jauh dari stasiun Würzburg!”

Saat di Würzburg, ternyata kami hanya sanggup mendatangi Residenz Platz -itupun dari luar saja- karena 30 menit lagi istana megah yang dilindungi UNESCO dan dinobatkan sebagai salah satu world heritage sejak 2012 ini sudah akan ditutup, tentu tanggung membayar 7.5 euro / orang tapi tidak bisa maksimal menikmati alias terburu-buru.

Kami sempat berkeinginan kuat menembus angin dan rintik hujan setelah berteduh di halte ATM -supaya dapat kehangatan heater!- tapi rencana ini tidak diizinkan Allah. Hujan justru turun semakin deras, mengguyur kota jelita ini.

Sudahlah…
Belum saatnya.

Kami banyak habiskan waktu -sembari menunggu kereta pukul 18:42 menuju Nürenberg -dengan keluar masuk supermarket ALDI dan beberapa toko sepatu.

Yup, Aa akhirnya memutuskan menyerah kalah backpack hanya memakai sandal gunung Eiger miliknya. Maaf sebut merek, kuat soalnya dan ini bukan iklan berbayar loh! 🙂

Sejak di Bandung saya sudah meminta beliau untuk membawa sepatu kets miliknya supaya hangat di musim hujan dan autumn yang mulai menyapa Eropa, tapi Aa keukeuh mau membawa satu alas kaki saja.

Kemarin kami menemukan sepatu kulit nan gagah seharga 15 euro saja, awal mulanya seharga 94.99 euro, kemudian sale beberapa kali, nampak dari tempelan harga berlapis-lapis hingga harga terakhir itu 🙂

Berkat si sepatu ini baru ini (dan izin Allah tentu saja) si Aa masih bertahan dan tidak menyusul ambruk seperti saya.

Berabe nantinya, tiket one day trip to Praha sudah dibelikan host segala! 🙂

***

Doakan Saya Sembuh Secepatnya Ya! 🙂

Sejak tadi pagi kerjaan saya hanya tiduran saja, sarapan dan kemudian berjuang untuk tidur, bangun untuk makan siang diteruskan minum obat penahan radang tenggorokan (untung saya membawa, sebab dokter di sini susah sekali memberikan resep!) dan tidur kembali.

Sampai malu hati karena tidak membantu host sama sekali kala memasak makan siang :p

Jujur saya akui, lasagna dan sup sapi buatan beliau enak dan menghangatkan tubuh ringkih ini.

“Terima kasih banyak Teh Dewi sayang, Allah yang membalas ya!” 😀

Mohon doakan saya segera dipulihkanNya kembali.

Esok kami berencana menjelajah Nürenberg, kota tua yang dikelilingi benteng perkasa dan jika ada kondisi saya fit sempurna, Aa nampaknya ingin sekali ke München Arena, katanya berkereta hanya 1.5 jam saja.

Mudahan saya sehat kembali.

“Ayo Ima, kembali ke kasur. Jangan menulis terus!” 😀

Jum’atan di Eropa

Berikut sedikit cuplikan catatan harian saya. Sisa cerita yang lebih unik dan menarik, insya Allah akan banyak diungkap di buku kami. Amin

1. Amsterdam

Mesjid terdekat dengan host kami saat itu adalah mesjid Pakistan. Mesjidnya cukup megah. Dua menaranya tinggi menjulang. Bentuk bangunannya sangat mencolok sebagai mesjid. Lokasinya cukup dekat dengan stasiun kereta (setelah diemen stasiun, saya lupa namanya). Tidak lebih dari 5 stasiun jika ditempuh dari stasiun Arena Ajax Amsterdam.

Saat jumatan menjelang, saya gegas berjalan menuju mesjid. Azan jumat diperkirakan lima belas menit lagi. Tidak tahu kenapa, saya ingin merasakan nuansa ibadah di mesjid tersebut.

Saat masuk pintu masuk lantai bawah mesjid, jamaah ternyata belum terlalu banyak. Terlihat dari jejeran sandal-sepatu yang masih lengang. Demikian pula pas masuk ruang wudhu, al-mutawadhdhi’un masih terhitung jari.

Usai berwudhu, saya naik ke lantai dua. Ruang shalat ada di lantai 2 dan 3. Saya beranjak masuk ke lantai 2 yang belum penuh. Jamaah masih duduk bertebaran. Saya perhatikan, baru tersusun 4 shaf rapi. Jamaah yang lain, ada yang bersandar memenuhi dinding pinggir dan tiang-tiang. Sementara orangtua dan para jompo, mereka duduk di kursi paling belakang.

Saya tunaikan shalat sunnah dua rakaat tahiyyatul masjid terlebih dahulu. Usai shalat, saya coba memandang imam yang tengah berdiri di atas mimbar. Khatibnya adalah Syaikh Pakistan berjenggot tebal dan bersorban rapi. Subhanallah. Aura syaikh-nya terasa sampai sini. Pakaiannya rapi dan bersih. Senyumnya tulus dan sorot matanya tajam.

Ceramahnya pasti menarik. Tebak saya.

Awalnya saya mendengar petikan ayat Quran dan hadis. Alhamdulillah, subhanallah. Fasih sekali. Namun setelah itu pembicaraan yang kudengar sepertinya hanya rangkaian kalimat Urdu. Kereheh teteteh deserkede “(&$=&)(&)(&)( untung bukan meregehese cap jahe tea geuning. he he..

Hm, saya nikmati saja fenomena keragamanan bahasa di dunia ini. Subhanallah. Sembari mencoba merangkai sendiri arah pembicaraan beliau dari sejumlah ayat dan hadis yang beliau sitir. Termasuk nama-nama tempat bersejarah di Mekkah atau Madinah.

Beliau membawakan ayat, wa innaka la’ala khuluqin azhim. (sesungguhnya engkau Muhammad ada di atas akhlaq yang mulia) (QS Al-Qalam: 4) Lalu hadis, kana khuluquhul quran (akhlaq Nabi adalah Al-Quran)

Disitir juga kisah beliau saat masuk berdakwah ke negeri Thaif lalu diusir dan dilempari penduduk setempat. Nabi malah menjawab, ighfir lahum fainnahum qaumun la ya’lamun (ampuni mereka, karena mereka belum tahu risalah yang kubawa ini)

Alhamdulillah, saya terbantu memahami arah materi beliau.

2. Düren, Germany.

Lain di Amsterdam, lain di salah satu kota Jerman wilayah Barat ini. Jumatan tadi saya diajak ke Mesjid Turki. Jaraknya tidak jauh dari Stockheim. Tepatnya di dekat sekolah St. Johannes kalau tidak salah. Nama jalannya saya lupa. Biasanya untuk mengingat itu, saya potret pake hp atau saya catat di memo 😦

Berharap saya bisa mengikuti arah tema sang khatib dari ayat-ayat atau hadis yang khatib baca, kali ini tidak berhasil kecuali berusaha meneruskan bahasan khatib yang berbahasa Turki itu ke pikiran saya. He he.

Khatib memulai khutbah dengan menyitir ayat 11 dalam surat Al-Baqarah. Wa idza qiila lahum la tufsidu fil ardhi qalu innama nahnu mushlihun…(Dan jika dikatakan kepada mereka (orang munafik), jangan berbuat kerusakan di muka bumi ini. Mereka menyangkal, kami ini adalah orang yang berbuat perbaikan)

Hm, cukup susah meneruskan arah tema ini, mengingat dari awal sampai akhir, belum ada ayat atau hadis arabic yang beliau sitir lagi. Kecuali di pertengahan, barakallahu li walakum. Dan di akhir,…innallaha ya’muru bil ‘adli wal ihsani…dst.

Fuuih!

Rupanya hal ini menjadi PR buat saya, juga buat para khatib, untuk lebih banyak menguasai banyak bahasa di dunia ini. Salah satu tujuannya adalah supaya inti ajaran Islam lebih merata difahami dengan baik oleh segenap masyarakat dunia. Tapi, jangan lupa sisipkan selalu ayat-ayat atau hadis dalam teks arabicnya, agar dalam kondisi seperti dua kejadian saya, orang seperti saya bisa mengikuti pesan-pesan taushiah jumat-nya.

3. Brussel, Belgia

Berbekal pengalaman tersebut, saya mengambil pelajaran berharga, bahwa kendati mayoritas jamaah jumat-nya berbahasa Indonesia, saya tetap menyelipkan bacaan teks asli Al-Quran, hadis, atau ungkapan-ungkapan Arabic lainnya saat menyampaikan pesan ilahi dalam khutbah saya di Brussel. Sebab mungkin saja ada satu dua orang makmum asal maroko-tunis-atau tamu negara lain yang mengalami kejadian yang mirip dengan kasus saya. he he

Wallahu A’lam