[PhotoBlog] Jum’atan di Masjid sekaligus Makam Sahabat Nabi

image

image

image

image

image

Batu prasasti yang ditempelkan di tembok yang mengeliling masjid menjelaskan bahwa salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW (sekaligus pencukur rambut beliau) bernama Abi Zam’ar dimakamkan di masjid ini.

Saya terharu membaca catatan ringkas ini.

Lebih terharu lagi kala memasuki masjid.
Masjid yang tua, sarat sejarah dan dipenuhi saudara-saudara muslim saya yang khusyu’ mendengarkan khutbah siang ini.

Saya memoto Aa sebentar dan berpisah.

Saya harus ke ruangan perempuan. Aa meminta saya mengikuti perempuan berjilbab di depan saya.

Saya sempat berhenti sebentar, tahu-tahu perempuan yang saya ikuti ini lenyap begitu saja.
Ke mana ia?

Seorang laki-laki yang duduk mendengarkan khutbah berdiri kala melihat ekspresi kebingungan dan salting saya, kala berdiri di belakang para lelaki yang khusyu’ mendengarkan khutbah. Ia kemudian menunjukkan lokasi untuk perempuan.

Ternyata ruang perempuan ‘tersembunyi’ di sudut salah satu mesjid. Ditutupi sebuah pintu coklat.

Saya segera mendorong pintu dan menyaksikan ratusan perempuan berjilbab khusyu’ mendengarkan khutbah.

Beberapa bahkan meneteskan airmata, kala sang khatib mengingatkan, “Sebagai muslim yang baik, kita harus peduli pada muslim di Syria. Mereka di sana diobok-obok Amerika melalui media dan antek-antek mereka. Di mana letak kepedulian kita sebagai sesama muslim?”

“Muslim sekarang lemah karena banyak menyembah berhala dunia… Kita harusnya menjadi sepemberani Musa AS. yang berani melawan ketakaburran dan kesesatan ayah angkatnya, Fir’aun!”

Ah, khutbah yang sangat berapi-api. Bahasa Arab fusha yang puitik dan penuh gelora, masjid anggun berarsitektur indah, dinding-dinding masjid yang menyejarah, melampaui abad dan generasi yang mulai melupakan kisah dan sejarah.

Khatib kemudian mengutip beberapa ayat dan beberapa perempuan makin terisak.

Saya semakin dibalut haru.
Sesak memenuhi jiwa.

Rasanya luar biasa dianugerahi kesempatan berjalan sejauh ini, sarat kontemplasi dan persahabatan dengan al-Qur’an yang dibacakan.

Rasanya ajaib!
Akhirnya kami bisa merasakan Jum’at yang khusyu’ di Africa Utara.
Di dekat makam salah satu sahabat Nabi SAW.

“Allah, ampuni hari-hari kami yang telah berlalu dalam dosa dan alpa.

Ya Allah, kuatkan hati seluruh umat muslim yang ditindas oleh thaghout dan tirani.

Engkau Maha Pembalas dan Hakim paling adil!”

Advertisements

Selamat Jalan Handuk Pink!

Mencari Handuk Pink

Seharian kemarin saya uring-uringan.

Awalnya bersemangat ingin segera mandi. Tentu segar dan nyaman untuk memulai menulis sebuah naskah untuk majalah / koran yang menjadi target kami. Akan tetapi semangat saya lindap seketika, kala mencari si handuk pink kemana-mana akan tetapi tak kunjung berhasil ditemukan!

Saya sempat mencarinya di selasar lantai dua rumah ini. Berharap ia saya jemur di pagar di depan kamar adik-adik mahasiswa, kala kemarin lusa gegas siap-siap mengisi pelatihan menulis ‘Creative Non Fiction Writing Class’ untuk ibu-ibu DWP KBRI Tunis.

Saya juga sibuk membongkar lipatan pakaian di pojok kamar. Ya, kami tidak memiliki lemari di tempat ini. Ruangan yang kami tempati sebetulnya adalah common room adik-adik mahasiswa Zaitouna University 🙂

Emosi Melambung

Saya mulai mengomel.
Kesal karena handuk pink mungil itu belum jua berhasil saya temukan.
Aa diam saja. Asik dengan bacaan atau tulisan atau entah apa, duduk mencangkung di depan laptop kami.

Saya makin kesal.
Aa kok santai sekali. Padahal saya ingin diperhatikan sekaligus dibantu!

Bagi saya, si handuk pink lenyap ini sama pentingnya dengan lenyapnya kepedulian negara-negara Arab tetangga pada Syria yang sedang terus-menerus diobok-obok media jahat USA, agar mereka berhasil memborbardir Syria seperti dahulu mereka membombardir Libya! Eh, persamaan yang ini terlalu lebay ya? 🙂

Saya sempat bertanya, “Aa lihat si handuk pink?”

“Kemarin bukannya sekalian kamu cuci?”

“Iya, aku cuci! Tapi kan Aa yang bantu jemurin.”

“Nah kemarin kamu angkat handuk itu gak?”

“Enggak. Aku gak lihat handuk itu sama sekali, A!”

“Yah, hilang mungkin. Jatuh atau terbang…” Mata Aa tetap asik ke laptop kami. Hhhh!

Saya semakin merasa kesal. Jujur saya kurang senang berbagi handuk meski dengan pasangan. Bagi saya handuk adalah salah satu barang paling privat! Bagaimana ceritanya jika akhirnya kami harus terus-menerus berbagi handuk?

Lagian handuk-handuk kami berukuran kecil dan tipis. Kalau dipakai bersama-sama, artinya akan cepat basah dan sial bagi si pemakai kedua, handuknya akan basah kuyup bahkan sebelum dilap ke tubuh yang basah.

Ah, I don’t like this!
Saya tahu, wajah saya mulai cemberut.

Mengail Handuk!

Saya memutuskan naik ke atap kembali. Siapa tahu mata saya kurang awas. Siapa tahu cuma ketelingsut?

Rumah yang kami tempati tipikal rumah lama, bertingkat dua hingga tiga. Lantai teratas adalah atap datar dari semen, sekaligus dijadikan tempat untuk meletakkan jemuran dan parabola.

Deg!
Saya seketika merasa lemas kala sampai di atas.

Angin menampar-nampar tubuh. Jilbab saya berulang menutup wajah. Berkibar ke segala arah, padahal saya sedang mengenakan jilbab kaos cukup tebal dan berat.

Kemungkinan besar handuk itu lenyap ditiup angin kala kami menjemur sehari sebelumnya.
Bukankah tadi malam angin bertiup sangat kencang? Bahkan tubuh kami saja seperti didorong angin bahkan saat tidak melangkah. Angin di pesisir Mediterania memang bukan main kencangnya!

Saya mencoba melompat-lompat ke setiap sisi tembok. Berusaha menemukan si handuk, kemana ia diterbangkan oleh sang bayu?

Setelah melompat-lompat di beberapa sisi tembok dan si handuk tidak kunjung saya temukan, saya terdiam cukup lama. Merasa resah sekaligus heran, kenapa saya bisa sebegininya kehilangan selembar handuk tipis dan sudah berumur?

Cukup masuk akal kah saya bersikap seperti ini?

Saya terduduk…
Lemas rasanya…

Kenapa saya bisa sesedih ini kehilangan selembar handuk tipis sederhana?
Padahal kami bisa membelinya di sini, meski mungkin kami harus mengalah untuk tidak masuk restoran manapun setelahnya. Bagaimanapun, backpack kami sejak semula memang sangat hemat! Dana kami terbatas, sedang negara yang ingin kami kunjungi tak berbatas!

Sejak dari Indonesia, kami hanya membawa beberapa potong pakaian, agar kami tidak direpotkan dengan barang bawaan, ditambah postur mungil tubuh kami masing-masing, yang tentu saja akan kelelahan jika harus menggendong ransel berukuran besar.

Kenapa kami tidak membawa koper tarik saja? Muat lebih banyak dan praktis kan. Saya waktu itu merayu Aa untuk tidak membawanya, karena akan merepotkan saja, terutama kala harus berlari dan melompat masuk ke dalam tubuh kereta. Terbukti terjadi, kala kami harus menjemput sebagian koper teman-teman peserta “MB Egypt Trip” tempo hari. Ransel lebih mudah dilempar, tapi koper akan rusak kalau dilempar-lempar!

Tahu-tahu Aa sudah berdiri tegak di sisi saya.
Saya merasa speechless. Kehilangan kata-kata!

Saya akhirnya berucap lirih, entah Aa mendengar atau tidak.

“Aku sayang handuk itu, A. Dia menemani kita dua bulan terakhir ini. Barang kita tidak banyak. Aa hanya membawa 4 lembar kaos dan 2 celana, sedang aku hanya membawa 5 tunik dan 2 celana. Handuk pink dan kuning adalah penyempurna bawaan kita. Si pink baru saja aku cuci kemarin, sekarang dia sudah hilang entah kemana…”

Aa menyahut, “Handuknya jatuh ke rumah sebelah tuh!”

Eh, apa?
Berarti masih ada harapan untuk diambil?

“Di mana A?”

Santai Aa menunjuk ke arah tembok sebelah. Telunjuknya agak turun. Saya segera menuruni anak tangga, mengira si handuk jatuh ke lantai dua.

“Maksudnya di mana sih?” Saya mendongak dan berteriak tak sabar. Gusar.

Aa mengajakku naik ke lantai 3 kembali.

Mataku akhirnya menemukan handuk itu.
What a big relief!
Rupanya si handuk terjun bebas dari lantai 3 tempat kami menjemur pakaian ke atap rumah tetangga sebelah. Angin kemarin lusa luar biasa kencang. Rasanya menyesal tidak menjemur cucian di dalam ruangan tanpa pintu di sudut atap ini! 😦

Aku langsung ribut turun ke lantai bawah, meminjam hanger besi pada Ridho, salah satu adik mahasiswa. Aa mencari tali serupa tali kail, kemudian hanger besi diikatkan di ujungnya.

Handuk pink itu terlihat pasrah tergeletak di atas atap sebuah rumah tua tanpa penghuni.

Aa mulai beraksi, mencoba mengais-ais si handuk agar mendekat dan aku sibuk berdoa.

Handuk sempat mendekat, tapi angin tadi siang terlalu kencang! Handuk akhirnya justru semakin menjauh dari jangkauan dan…, tlek! Tahu-tahu si hanger besi juga lepas dari tali. 😦

Rasanya ada yang mencelos, lepas dari genggaman.
Entah kenapa saya bisa merasa sesedih ini.
Rupanya saya merasa begitu terikat pada barang-barang yang kami bawa, meski sesederhana apapun barang tersebut.

Ah, padahal saya pernah berujar di salah satu percakapan di socmed, “Kami adalah petualang yang belajar untuk berjalan tanpa berbagai kenyamanan.

Kami belajar melepaskan diri dari seluruh benda keduniawian.

Bukankah berjalan meninggalkan rumah secara fisik artinya belajar melepaskan kecintaan pada seluruh kebendaan?

Ketika berjalan, raga dan jiwalah yang akan tetap bersama kita. Rumah, kendaraan, perhiasaan dan seluruh benda-benda semuanya tidak akan kita bawa karena akan memberatkan ransel kita.

Bukankah jendela hati dan pikiran akan ringan terbuka kala kita kosongkan beban diri? Ibarat gelas, kosongkan ia, agar bisa menampung banyak airmata hikmah di sepanjang perjalanan nanti.

Bukankah semesta asing akan mudah kita serap, adaptasi dan cerna kala kita tidak banyak membawa dugaan, sterotype dan asumsi-asumsi?”

Ah Ima!
Rupanya kamu belum naik kelas dalam perjalanan ini.

Hanya karena masalah sangat sepele mood saya dropped. Saya akhirnya batal menulis naskah perjalanan untuk koran. Saya bahkan sempat marah pada Aa yang tidak gegas mengangkat jemuran (sebelum badai angin mengamuk tadi malam).

Selembar handuk tipis -seharga delapan belas ribu rupiah yang dibeli Aa di Alfamart Cipanas, nyaris setahun lalu- melayang ditiup angin Tunis yang sangat kencang dan berhasil menghilangkan kejernihan berpikirku!

***

Saat kisah ini saya tuliskan, saya sudah bisa berdamai dengan diri dan menertawakan sikap emosional saya tadi siang 🙂

Hikmahnya saya bisa menulis sepanjang ini, lega rasanya.
Ini semacam solilokui untuk si handuk pink.

Sayonara pinky! 🙂

Nama Saya Ridha

Menuju Le Bardo

Beberapa hari lalu (21/05), agenda kami adalah berkunjung  ke museum Le Bardo.

Menurut catatan Wikipedia, museum nasional sarat sejarah ini sudah ada sejak tahun 1882. Le Bardo diambil dari bahasa Spanyol yang artinya taman. Kata beberapa mahasiswa Indonesia yang kami tanyai, mereka tidak terlalu tahu di mana museum tua ini berada. Apalagi jarak apartemen kami ke Le Bardo, tak satupun yang tahu.

Untungnya Kang Dede Ahmad Permana berbaik hati menelepon temannya yang kerap keliling Tunis menggunakan bis. Akhirnya diketahui, bahwa Le Bardo tidak terlalu jauh dari kota. 🙂

Untuk menuju ke sana, kami disarankan naik bis dari halte dekat Perpustakaan Nasional Tunis, sejalur perempatan Universitas Tunis. Hanya beberapa meter dari toko buku mungil, Libraries Medical.

Karena cuaca masih dingin, kami keluar dari rumah agak siang. Berbekal coret-coretan peta digambar tangan karya Kang Dede, kami berjalan mengambil jalur terdekat, melewati beberapa warung pizza, piastre dan croissant. Penasaran dengan makanan khas Tunis, kami mampir dan membeli roti croissant dan malawi dekat kampus Universitas Zaitouna.

Berdasarkan informasi dari kawan mahasiswa, museum tutup jam 6 sore. Kami pun berjalan pelan, berfoto sana-sini, menikmati udara taman seputaran kampus. Makanan yang tadi dibeli pun kami santap di taman.

Kisah di Sebuah Halte

Usai makan dan perut terasa kenyang, kami kembali berjalan kaki sampai halte yang ditunjukkan Kang Dede. Pesan beliau, tradisi di sini, bus akan berhenti menaikkan atau menurunkan penumpang hanya di halte. Di luar halte, jangan harap bis akan berhenti.

Sesampai halte yang berdampingan dengan kios kuning tempat menjual tiket, kami celingak-celinguk mencari petugas. Kenapa tidak ada petugas di dalam kios ini? Kami ingin memastikan rute bis terlebih dahulu. Petugasnya ternyata sedang duduk dan mengobrol dengan anak muda si calon penumpang dekat kursi halte.

“Assalamu’alaikum.” Sembari kusodorkan tangan untuk bersalaman.

“Wa’alaikum salam.”

“Samihni, nahnu nuriidu an nadzhaba ila mathaf le bardo. Hal al-hafilah maujudah min huna?” Maaf, kami ingin pergi ke museum le bardo. Adakah bis dari sini?

Segera dia menjelaskan rute dan nomor bis dengan cepat. Tapi dengan bahasa Prancis. Entah kenapa, sapa dan obrolan pertama saat bertemu orang asing, orang Tunis kerap menggunakan bahasa Prancis. Bonjour! Oui!

Nu siga kitu tea lah… 🙂

“Intadzhir, mumkin billughatil ‘arabiyyah? Li anni lam astathi’ al-kalam bil-faransiyyah!”

Dia tertawa melihat wajah bingung kami. Anak muda di sampingnya ikut tersenyum. Mendengar mereka tertawa, pandangan calon penumpang lain yang berada dekat halte pun sontak tertuju pada kami.

“Irkab al-hafilah raqm mi’ah wa sittata ‘asyar, aw tsalatsah wa tsalatsiin, aw mi’ah wa arba’ah.

Aku mencatat nomor-nomor tersebut dengan angka arab di selembar kertas. 116, 33, dan 104. Lalu memperlihatkannya kepadanya. Dia tersenyum. Anak muda tadi pun ikut tersenyum dan berkomentar,

“Tepat sekali. Dia orang Indonesia sepertinya. Saya sering melihat beberapa mahasiswa mirip orang ini di dekat kampus. Mereka Indonesia.”

Rupaya dia mahasiswa Universitas Tunis. Kampusnya kan tidak jauh dari Zaitouna.

“Bikam tadzkirah?” Harga karcisnya berapa.

“Alf wa tsalatsu mi’ah milim li tadzkiratain.” 2 karcis, 1 dinar 300 milim.

Kami bertransaksi. Lalu karcisnya kupegang untuk kami foto. Bukan hanya memakai kamera digital, namun juga kamera hp. Aksi kami rupanya menarik perhatian orang. Pandangan banyak pasang mata calon penumpang pun tertuju kepada aksi kami ini. Namun kami cuek bebek. He he.

image

Sambil menunggu, aku ajak petugas itu ngobrol.

“Museumnya jauhkah dari sini?”

“Tidak terlalu jauh, jaraknya kurang lebih 5 km. Kalau sore begini, paling-paling sampai sana 20 menit-an.”

“Oh. Ok. Tapi, ngomong-ngomong, museum biasanya tutup jam berapa ya?”

“Jam 4 sore.”

“Iya, jam 4 sore sudah tutup,” timpal calon penumpang.

Kami melirik jam.
Hah? Sekarang sudah jam 15.40. Keburu enggak ya?
Kami saling pandang. Mencoba menghitung jarak dan waktu. Khawatir tidak kesampaian masuk museum. Percuma saja kalau datang ke sana sekadar melihat museum ditutup.

Petugas melihat kami berbincang cukup serius.

Saya mendekatinya.

“Hm, karcis ini berlaku hanya untuk hari ini atau bisa dipakai besok lusa? Soalnya kami berniat mengunjungi museum. Tapi kalau berangkat sekarang, sepertinya museum keburu tutup.”

“Karcis berlaku hanya untuk hari ini saja!”

Waduh, bagaimana ini. Karcis sudah kita beli, tapi tidak terpakai. Apa kita tetap berjalan saja. Kita ikuti arus bus saja. Kemana bus melaju, ke sana kita pergi. Tapi kalau berjalan tanpa tujuan, sayang waktu.

Kami saling pandang. Apakah karcisnya bisa ditukar kembali. Lama kami menebak dan berdiskusi antara bisa ditukar kembali atau tidak. Tiba-tiba petugas berujar,

“Mau di-cancel saja karcisnya? Kalau mau di-cancel, silahkan.” Tiba-tiba dia menyarankan.

Wah, ternyata bisa.

Dia meminta karcis kami. Sementara itu dia masuk mengambil uang di loket dan benar-benar mengembalikan uang kami.

Subhanallah! Petugas baik hati ini tidak basa-basi.

Alhamdulillah karcis kami bisa ditukar dengan uang. Berbeda sama sekali dengan petugas Mesir saat kami ingin menukar karcis untuk mengganti rute karena salah informasi. Padahal transaksi saat itu baru selesai beberapa menit. Si petugas Mesir dengan tegas menolak, “Tidak bisa ditukar!” Walaupun kami berkali-kali menjelaskan salah rute.

Tapi petugas di Tunis ini lain. Dia benar-benar baik.

Dia lalu bertanya, “Kamu shalat enggak?”

Mendengar pertanyaan tersebut, saya teringat paparan Kang Dede Ahmad Permana, bahwa sebelum revolusi Tunis 2 tahun silam, dia kerap ditanyai, ‘Anda muslim yang shalat atau tidak?’ Seakan-akan ada pengotakan antara muslim shalat dan muslim tak shalat. Saat ini pertanyaan yang Kang Dede paparkan itu ternyata masih berlaku dan saya rasakan sendiri.

Calon penumpang yang berusia kira-kira 65 tahunan mendekati kami dan menepis pertanyaan petugas itu.

“Indonesia itu berpenduduk muslim mayoritas, hingga 75% dari total penduduk. Dan mereka pasti menunaikan shalat, shaum, belajar Al-Quran, hadis, dan sebagainya. Tidak usah lagi bertanya shalat apa tidak.”

Setahu saya muslim Indonesia 85%. Saya bergumam.

“Bukan begitu. Maksud saya, saya hanya bertanya, mau shalat Ashar di mesjid atau tidak? Kalau mau, saya akan tunjukkan mesjid jami’ dekat sini. Sekalian saya pun akan shalat. Waktu Ashar hampir tiba.” Petugas itu meluruskan pertanyaannya.

Subhanallah. Kami kembali lirih bertasbih. Betapa ketaatannya menjalankan shalat berbuah manis pada kebaikan hatinya dalam interaksi dengan sesama. Terutama sikapnya sebagai petugas karcis yang humanis.

Saat temannya datang menggantikan shiftnya, dia pun pamit untuk berangkat ke mesjid. Sembari menjawab pertanyaanku soal nama, “Nama saya Ridha.”

Jazakallahu khairan ya Ridha!

image

Salam Romantis dari Tunis.
Rue Ras Darb – Tunis, 23 Mei 2013

[PhotoBlog] Honeymoon di Sidi Bou Said

image

SIDI BOU SAID

Alhamdulilah, akhirnya ‘HoneymoonBackpackers’ bisa berpose di lokasi yang sama seperti foto Kang Dede yang pernah saya komentari! :p

Ya, awal sapa saya dengan Kang Dede salah satunya dimulai dari obrolan soal lokasi foto ini 🙂

“Kang, ini di mana? Mirip salah satu lokasi di Yunani, loh…!”

“Oh, ini Sidi Bou Said. Hanya setengah jam dari Tunis menggunakan kereta api.”

“Waaah, kepingin ke sana juga ah!” 😀

Percakapan kami kurang lebih seperti itu dan akhirnya 16 Mei lalu kami sampai di sini dan berpose di tempat yang sama seperti Kang Dede dan ditemani beliau langsung! 🙂

Sidi Bou Said is very recommended by HoneymoonBackpacker for ‘honeymoon backpacking’, it’s not only beautiful, but also very calm and peaceful! 🙂

Moral of the story;

“Hati-hati dengan ucapanmu, begitu mudah Allah mewujudkan ucapanmu. Jadi ucapkanlah yang baik-baik saja.”

Sekarang kami dalam kereta api menuju Carthage, ingin melihat dari dekat reruntuhan istana klasik peninggalan Romawi kuno yang ada di sana 🙂

[PhotoBlog] Uniknya Naik Taksi di Tunis :)

image

Setelah  4 hari di Tunis kami akhirnya mencicipi naik taksi di sini. 🙂

Pengalaman naik taksi di Tunis jelas berbeda jauh dengan di Cairo. Menarik membandingkan dua pengalaman kami ini.

Beberapa perbedaan yang bisa saya catat:

~ Aa tidak perlu bertanya pada supir, apakah rute dia sama dengan rute kami, juga menanyakan pakai argo atau tidak 🙂

Memang aneh supir taksi di Mesir 🙂
Mereka kerap tidak mau mengangkut kita jika rute kita berbeda dengan rute (kepulangan) atau kepergian dia -yang entah mau ke mana. Dimana-mana, penumpang adalah raja, tapi di Mesir justeru sebaliknya, “Driver is a king!” Hahaha, aneh tapi nyata! 😀

~ Taksi di Tunis rata-rata  mulus kinclong. Tidak penyok dan berdebu seperti taksi-taksi di Mesir.

Jangan kaget kala berkelana di Mesir, terutama jika anda menggunakan taksi! Ya, taksi-taksi di Mesir tidak sama seperti kondisi taksi di Indonesia yang cukup terawat, wangi dan bersih. Lebih mudahnya dan supaya tidak shock kala menaiki taksi di Mesir, bayangkan saja Indonesia tahun 60-an, jalanan berdebu dan taksi-taksi tua keluaran tahun 80 hingga tahun 60-an dalam kondisi penyok dan kotor siliweran menyapu pandangan mata 🙂

~ Di Mesir biaya naik taksi ditentukan dengan dua cara. Ada yang lebih senang menggunakan argo, tapi kebanyakan lebih suka tanpa argo. Alias tawar-menawar. Hati-hati dengan karakter fir’aun orang Mesir! Sementara di Tunis, kata mahasiswa yang kuliah di sini, semua taksi sudah menggunakan argo. Dijamin tidak ada tarif kuda dan membuat pingsan kantong kita. Tanyakan saja perkiraan biaya, lalu putuskan jadi menggunakan taksi atau tidak.

~ Perbedaan paling mencolok lainnya adalah apa yang mereka dengarkan di radio!

Jika orang Mesir mendengarkan murottal al Qur’an dari channel radio al-Qur’an dan lagu-lagu pop Mesir, maka dalam taksi di Tunis yang diputar adalah lagu-lagu berbahasa Inggris. 🙂

Uniknya, toko-toko souvenir sepanjang lokasi wisata Sidi Bou Said yang terletak tepat di tepi laut Miditerania  malah memutar lagu-lagu Ummi Kulsum, penyanyi tersohor dari Mesir 🙂

***

Dalam foto yang saya upload ini, jarak tempuh kami sekitar 20 km dan dikenai biaya sebesar 5.6 dinar. Setara dengan 37 ribu rupiah. Tidak mahal lah ya 🙂

Entah pengalaman naik taksi lainnya ya, kami memilih untuk tidak naik taksi kala backpacking, hanya menggunakan taksi kala kepepet atau dibayarin, hahaha. Terus-terusan naik taksi akan membuat sepasang pengelana ini cepat jatuh miskin, hehe!

Dua Hari di Tunis!

Menginap di Apartemen Mahasiswa Makalzaim

Setelah mendarat di Aeroport De Tunis Carthage pada tanggal 13 Mei 2013 pukul 22.55 waktu setempat, malamnya kami langsung diboyong ke salah satu apartemen sekelompok mahasiswa. Sedikit silaturahmi lalu dipersilahkan beristirahat di kamar yang sudah disediakan 🙂

Ada satu kamar kosong diperuntukkan bagi kami. Kamarnya wangi, bersih dan ‘minimalis’ (Alhamdulillah ada kasur, bantal dan selimut). Nyaman untuk kami tempati, Alhamdulillah 🙂 Lebih nyaman lagi, kamar ini disediakan gratis untuk kami, terima kasih banyak untuk Kang Dede dan Zulfikar yang telah mengusahakan yang terbaik untuk kami.

9

Allah Maha Membalas!
Jazakumullah khairul jazaa’!

Esok paginya, saat aku membuka mata, Aa menunjukkan tisu terciprat darah. Ternyata beliau sudah membunuh 4 ekor kepinding! Hahaha, tidak di Tunis tidak di Cairo, setiap menginap di rumah mahasiswa, entah kenapa selalu disapa kepinding untuk hari-hari pertama, sepertinya salam perkenalan dari penghuni termungil di rumah tersebut. 😀

Mulai Menjelajah!

Hari Selasa (14 Mei 2013) siang kami sudah menjelajah old town -di sini disebut Medina, luasnya kurang lebih 1 km persegi. Setelah jamuan makan siang nikmat khas Indonesia di rumah indah yang ditempati Kang Dede Ahmad Permana, beliau beserta Teh Beth dan ananda Keira menemani kami berkeliling old town. Setelah menyusuri sekian banyak landmark dan bangunan tua, berlima kami mampir menguluk salam dua buah masjid tua, salah satunya adalah masjid agung Zaituna, salah satu masjid tertua di Afrika. Masjid Zaituna dibangun tahun 732 M oleh gubernur bernama Ubaidillah bin al-Habhab, pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah.

Masjid Zaituna tampak anggun, dilapisi batu-batu bertonjolan berwarna coklat kemerahan, cantik dan klasik! Tiang-tiangnya saling melengkung, serupa pintu tanpa daun pintu. Suasana di dalam jauh lebih bercahaya, karena disinari ratusan lampu kristal yang dinyalakan bersama-sama.

10

Aura masjid ini tentu berbeda dengan masjid Al Azhar yang lebih tersohor dan diramaikan dengan aneka kuliah, ceramah dan halaqah-halaqah, masjid ini jauh lebih sepi. Akan tetapi masjid ini sama memesonanya dengan masjid Al Azhar, terutama jika kita kembali belajar sejarah dan timbul-tenggelamnya sosok masjid tua ini. Yang pasti, masjid ini telah menjadi saksi bisu kala presiden pertama Habib Bourgiba berkhotbah untuk sholat Jum’at sembari mengeluarkan statemen ‘peminggiran Islam dari ruang publik‘ dengan retorika sangat liar dan sekuler!

Saya merinding seketika kala Kang Dede dengan lancar menceritakan pasang surut dan kisah sedih ‘ditolaknya Islam’ justru di negeri dengan mayoritas muslim 99% dari jumlah penduduknya! Sepertinya saya membutuhkan satu bab khusus menuliskan sejarah panjang Zaituna dalam konstelasi politik penuh gelombang di negeri yang terus bergejolak ini!

Saya dan Aa memutuskan akan kembali ke masjid ini, mengingat lokasinya hanya berjarak kurang lebih 1.5 km dari apartemen mahasiswa tempat kami menginap, insyaAllah ingin menunaikan sholat di sana 🙂

Sebelum sampai kawasan Medina dan masjid Zaituna, kami melintasi beberapa gedung pemerintahan.

11

Bisa dibilang, jejak-jejak Perancis dan Islam klasik menyentuh berbagai landmark ibukota Tunis ini. Memanjakan mata yang sudah 1.5 bulan tinggal di Nasr City -kawasan kelas menengah ke bawah di kota Cairo dan menurut hemat saya merupakan proyek pengembangan kota Cairo setengah hati, karena konon kabarnya Nasr City sempat digadang-gadang akan menjadi kota hijau, tapi faktanya justru kering kerontang, masiih kalah jauh dengan kawasan elit Ma’adi dan Zamalek 😦

Sudah Dua Kali ‘Berdansa’ di Dapur Mahasiswa

Kami berterima kasih karena diinapkan di rumah tua dan ‘nyeni’ yang dihuni oleh adik-adik mahasiswa Zaituna University.

Sebagai ucapan terima kasih, kemarin siang dan malam, saya memasak dua kali untuk menu lunch dan dinner adik-adik, yaitu gulai tahu (tahu yang langsung kami bawa dari Cairo, terima kasih pada Mbak Anis sekeluarga!), ayam terong, perkedel kentang dan sambal matah. Sepertinya adik-adik mahasiswa sangat menikmati menu tersebut 🙂

Rasanya menyenangkan bisa makan bersama-sama. Guyub penuh kekeluargaan 🙂

Setelah belanja ke pasar tradisional di sini -kemarin pagi hujan rintik-rintik, pasarnya agak becek, sama saja dengan di Indonesia- kami berdua menyimpulkan, biaya hidup di ibukota Tunis tidak berbeda jauh dengan biaya hidup di Jakarta.

pasar

Resep abadi hidup murah ala backpacker adalah, belanja di pasar dan masak sendiri, dijamin biayanya sama saja dengan biaya hidup di ibukota Jakarta!

Sebagai contoh;

1 ekor ayam berukuran sedang di pasar Tunis dihargai 5 Dinar (1 Dinar = 6000 rupiah)

1 ekor ayam berukuran sedang di pasar Ciganitri Bandung dihargai 32 ribu rupiah. Bahkan jatuhnya lebih murah 2000 perak kan! 🙂

P1360853

Wisata Kuliner di Old Town

Kemarin sore -setelah berhasil menarik uang di salah satu ATM di lorong Medina- saya merayu meminta dibelikan es krim yang menurut feeling saya adalah gelato!

Gelato adalah es krim khas Italia. Pertama kali berkenalan dengan gelato kala saya mengunjungi Italia saat backpack menjelajah Eropa untuk yang kedua kalinya, tahun 2006 lampau 🙂

Setelah dibelikan Aa -saya hanya meminta satu scoope saja dan dihargai 1300 milim (sama dengan 1.3 Dinar Tunis, atau setara 8000 perak) dan diserahkan ke tangan, saya gegas menjilat dan berdecak seketika!

“Benar kan A! Ini bukan es krim biasa. Es krim biasa itu persentase udara yang dimasukkan cukup tinggi, sehingga teksturnya ringan dan lembut di lidah, tapi entah kenapa aku lebih suka es krim ala gelato ini, teksturnya lebih padat dan ada rasa intens di lidah kala dikulum.”

Saya tersenyum lebar dan merasa puas, akhirnya menemukan ‘gelato’ di kawasan Medina 😀

Croissant dan Malawi ala Tunis!

Selasa malam, kami ditraktir jajanan tradisional khas Tunisia, namanya Malawi.

Malawi ini sejenis roti canai di Malaysia, akan tetapi berbentuk segi empat. Kemudian si roti ini diolesi sejenis saus dua jenis (saya menduga campuran tomat, cabe, bubuk oregano / thyme dan minyak zaitun), kemudian keju ditipiskan di atas roti tersebut, disusul toping sesuai selera kita; telur dadar, telur rebus, salami, dll. Terakhir, roti ini digulung seperti menggulung roti tortilla ala KFC. Kemudian dibungkus kertas roti! Hangaaat di tangan 🙂

Rasanya?
ENAKKK!
Asli enak! Sepertinya ini akan jadi salah satu menu favorit kami berdua selama di sini. 🙂

Porsinya?
Raksasa untuk perut asia seperti kita, hehehe 🙂

Saya dan Aa sama-sama dibelikan Malawi satu porsi komplit berisi keju, telur rebus, telur dadar dan daging salami, tapi akhirnya 1 porsi kami simpan dan kami hanya sanggup menghabiskan satu porsi saja 😀

Hari Rabu, kami berdua beriringan membelah lorong-lorong kota. Kami ingin berbelanja di pasar tradisional yang terletak tidak jauh dari rumah yang kami tumpangi. Faktanya langkah kaki terhenti kala mata saya tertumbuk pada toko ‘Patessirie – Croissant’ di pertigaan jalan 🙂

Saya nyaris melonjak. Girang tentu saja! Rasa kangen saya pada roti khas Perancis bernama croissant akan segera terobati.

Satu buah croissant isi apa saja dihargai 300 milim!
Berarti hanya sekitar 1900 rupiah saja!
Murah ya 🙂
Padahal ukuran croissant-nya cukup besar dan mengenyangkan untuk sekadar sarapan 🙂

Ah, we’ll love Tunisian’s food! 🙂

***

Salam romantis dari Tunis! 🙂

Good Bye Egypt, Hello Tunis!

Meninggalkan Cairo Kala Senja

Kemarin siang, hujan debu kembali mengguyur Cairo, sama persis seperti 22 Maret 2013, kala kami landing di kota Cairo. Kami seakan disambut sekaligus diantar pulang oleh kekuatan semesta! Perasaan dramatis seketika melingkupi kala saya saksikan langit Cairo berubah warna debu, coklat-orange-kemerahan! Luar biasa dramatis!

Setelah hujan debu berakhir dan udara kembali bersih, kami memutuskan berpamitan pada Adinda Eva. Menyalami dan memeluknya sembari mengucap doa, “Mudahan Allah pertemukan kita di lain kesempatan, InsyaAllah!”

Matahari semakin condong ke barat kala taksi yang kami tumpangi memasuki Cairo International Aiport. Bandara yang sanggup menampung jutaan penumpang mancanegara ini tampak lengang, sepertinya hujan debu yang cukup lama berlangsung tadi siang membuat orang-orang enggan keluar-masuk bandara.

Sinar matahari yang condong ke barat dan warna langit jingga menghadirkan rasa ngelangut dalam hati, rasa enggan menemukan wajah dramanya, dalam panggung senja!

Saya dan Aa bergantian saling jepret, lalu Aa menjauh mendatangi salah satu departure hall untuk memastikan di mana check in Tunis Air berada, mengingat bandara ini cukup luas untuk membuat kita salah masuk departure hall. 🙂

P1360400P1360402

P1360399

moment berdua kala senja di Cairo International Airport

Wajah sahabat-sahabat terbaik dan maha menolong tampil bergiliran dalam benak saya; Kang Cecep, Ahmad Kohla, Mahmud Siwi, Haji Umar (those are Egyptians), Bang Syamsu, Pipit, Mbak Elly, Mas Ismail, Adik Iqsas, Eva, Abang Rohmat, Shohib, Furqon, Linggha, Mush’ab, Dana, Mbak Anis, Mang Pian dan lain-lain.

Ah, mereka adalah harta terbaik kami selama di Mesir!
Sepertinya, kehadiran merekalah yang membuat kami feel at home dan berat hati meninggalkan Cairo 🙂

We owe you, guys!

Jika orang lain menikmati perjalanan dengan mendatangi sebanyak-banyak tempat, maka kami tak sekadar menikmati destinasi, kami jauh lebih menikmati destinasi yang diperkaya interaksi!

Perjalanan kami selama 1.5 bulan di Mesir terasa begitu kaya sekaligus ‘sempurna’, karena dikelilingi teman lama dan baru yang berinteraksi dengan kami bagaikan saudara kandung mereka sendiri!

Terima kasih untuk kalian semua, terima kasih wahai Maha Perekat Hati, Engkaulah yang memungkinkan ini semua!

Jujur, saya dan Aa meninggalkan Cairo dengan hati bergelombang!

Bukan hanya karena terpautnya hati kami pada sahabat yang kami sebutkan di atas, akan tetapi memang terasa berat berpisah dengan kota sarat sejarah Mesir kuno dan Islam klasik ini.

Hati kami terbuhul pada seluruh paradoks di negeri berdebu ini.
Mesir adalah panggung anak cucu Fir’aun sekaligus Musa!
Mesir adalah rumah raksasa nan riuh yang kerap menimbulkan rasa kesal, sekaligus dirindukan kala kita pulang ke rumah kita sendiri.

Benci-benci rindu, rindu-rindu benci, ekspresi yang tepat rasanya disematkan untuk negeri ini 🙂

Saya pribadi merasakan rindu dan sedikit benci menyublim dalam jiwa kala membincang paradoksal negeri ini, terutama saat teringat kelakuan para lelaki Mesir tak berpendidikan, yang kencing di sembarang tembok, seakan seluruh tembok yang ada di negeri ini adalah WC raksasa 🙂

Masih banyak lagi hal paradoks yang biasa kami temui dan ajaibnya justru menyempurnakan ‘ketidaksempurnaan’ negeri tua ini! 🙂

Aa bahkan sempat menulis status di Facebook seperti ini,

Alhamdulillah, setelah melewati lika-liku yang panjang; sempat disuruh datang lagi bukroh karena terlambat–padahal hari itu Kamis. Jadilah ba’da bukroh (lusa)–; sempat sakit radang tenggorokan plus demam beberapa hari hingga tidak bisa kembali ke mogamma segera, akhirnya perpanjangan visa mesir yang kami ajukan Ke Mogamma 2 Mei silam, kini telah selesai.

Rasanya campur aduk…

Senang, karena urusan birokrasi-administrasi (terutama visa sebagai legalitas izin tinggal) dengan Mesir telah usai.

Sedih, karena lagi-lagi nuansa keagamaan yang kental, kesederhanaan yang mengakar, sumber dan tradisi keilmuan yang semarak, dan keramahan sebagian besar penduduk lokal –terutama yang kami temui secara dekat– di Bumi Kinanah ini selalu memesona hati kami. Hingga seolah derap kaki ini enggan beranjak melangkah berpisah.

Terlebih jika sudah berjalan menyusuri lorong-lorong toko buku belakang Al-Azhar seperti yang saya lakukan siang tadi. Aura pesona buku-bukunya yang bergerak rutin dan dinamis membuat raga enggan berpindah.

Namun, di manapun berada, eksistensi kita (sejatinya) adalah fana, selama ada di kolong langit dunia, karena kita adalah pengembara (‘abirussabil) saja.

‘Kun fiddunya kaanaka ghariib, aw ‘abiru sabiil’.

Jadilah kamu di dunia ibarat orang asing atau pengembara. Jika kamu berada waktu pagi, sekali-kali jangan menunggu waktu sore. Jika berada waktu sore, jangan pula menunggu waktu pagi. Manfaatkanlah masa sehatmu untuk bekal masa sakitmu, dan masa hidupmu untuk bekal matimu.’ Demikian pesan Umar bin Khattab ra.

Berat meninggalkan Mesir, tapi kami harus terus melangkah, jika ingin terus belajar pada semesta!

Kami tidak boleh merasa terlalu nyaman di satu tempat, sehingga perjalanan kami terhenti. Honeymoon Backpacker sejak semula memang direncanakan mendatangi 4-5 negara berdekatan (supaya lebih hemat).

Backpacking kami harus dilanjutkan, senyampang berdekatan. Backpack dengan cara merambat -tidak meloncat zigzag insyaAllah akan jauh lebih murah untuk kami, daripada hanya mendatangi Mesir saja dan kembali ke tanah air, kemudian di tahun berikutnya pergi lagi ke negara Middle East atau Afrika lainnya!

P1360483

pemandangan malam Kairo dari angkasa

Bagi kami, perjalanan ini tidak sekadar menyegarkan pernikahan, tapi sekaligus belajar (banyak hal) dan berbagi sembari berjalan.

For us, backpacking is learning from Universe!

***

Leaving Egypt for Tunis!

Pagi kemarin kami agak tergesa kembali ke Saqr Quraisy, karena sehari sebelumnya kami masih menginap di rumah Mbak Ellys, bidadari padang pasir nan baik hati 🙂

Untungnya barang kami tidak banyak!
Nikmatnya membawa HANYA dua ransel berukuran kecil dan sedang adalah, kami tidak kerepotan dan membutuhkan banyak waktu mengepak barang-barang. 🙂

Alhamdulillah tidak hanya baju – 9 atasan, 3 celana dan pakaian dalam secukupnya- yang berhasil kami masukkan dalam ransel, saya dan Aa juga bisa membawa tahu titipan oleh-oleh Mbak Anis dan suami untuk Kang Dede dan kawan-kawan mahasiswa di sini 🙂

Jujur, saya sempat membongkar ransel beberapa kali, karena bingung di mana harus menjejalkan si tahu ini. 😀

Setelah suami Mbak Anis memberitahukan bahwa tempo hari ada yang berhasil membawa tahu ke kabin pesawat dan melewati pemeriksaan di bea cukai Tunisia, saya bernapas lega, karena kami benar-benar tidak dicegat dan diizinkan melenggang kangkung memasuki Tunisia bersama si tahu made in Mang Pian.

Sepertinya nanti malam menunya gulai tahu nih! 🙂

Menyesal tidak membawa sedikit kelapa kering ala Mesir, kalau tidak bisa segera membuat gulai tahu! 🙂

Di Tunis sini ada yang jual kelapa kering atau santan tidak ya?
Di Mesir soalnya tidak ada santan instan sejenis Kara! 😀

***

AEROPORT DE TUNIS CARTHAGE!

Akhirnya, setelah proses berliku dan berminggu-minggu, melibatkan teman-teman PPI Tunisia, beberapa rekan staf di KBRI Tunisia dan KBRI Cairo, berkah semesta mendukung memungkinkan kami menjejak negeri asing satu ini. Sepertinya Tunisia juga sangat jarang dikunjungi pelancong Indonesia!

Bagaimana tidak asing untuk kami, informasi pariwisatanya saja susah ditemukan kala di-googling! Bahkan, seorang adik berujar, “Mbak mau lihat apa di Tunisia, Gak ada apa-apa loh di sana itu!”

Selain itu, informasi harga visanya saja berbeda-beda. Saya dibuat pusing karenanya! 🙂

Jika bukan karena sudah terlalu jauh melangkah -dengan membeli tiket Tunis Air sejak di tanah air- dan uluran bantuan dari pihak KBRI Tunisia dan KBRI Cairo, kami nyaris memutuskan tidak melanjutkan perjalanan ke Tunisia.

Makanya kami sempat syok kala mengetahui harga visa Tunis luar biasa mahal, mengalahkan visa Schengen! Satu buah visa Tunis dihargai 950 Le atau nyaris setara 150 US dollar! MasyaAllah, 2 harga visa Tunis semahal itu sebetulnya sebagiannya akan kami pergunakan untuk biaya backpack -beli bahan makanan, transportasi publik dan tiket masuk aneka destinasi- akan tetapi justru disedot habis untuk mendapatkan dua buah visa turis ke Tunisia, ckckck…

Terlanjur basah, kami memutuskan meneruskan perjuangan sampai titik darah penghabisan -si Ima mulai lebay- Alhamdulillah, tadi malam rupanya Allah memang menakdirkan kami untuk menjejakkan kaki di Aeroport  De Tunis Carthage! 🙂

***

Kesan Pertama Tentang Tunisia

Kala Tunis Air mendarat mulus, seluruh penumpang bertepuk tangan, riuh rendah! 🙂 Seakan baru saja selesai menonton opera terbaik di akhir zaman 🙂

Ya, rupanya tradisi bertepuk tangan saat pendaratan berjalan mulus ini memang selalu dilakukan penumpang dari Timur Tengah atau Afrika Utara, dan ini bukan yang pertama kalinya saya temui. Seperti itulah ekspresi tulus mereka menghargai pak pilot yang sudah bekerja keras mengemudikan pesawat! 🙂

Ssst, kami akhirnya bisa membedakan penumpang asli Tunisia dengan penumpang bukan orang Tunisia -mungkin dari Mesir atau negara tetangga lainnya; perbedaan mencolok adalah fisik mereka!

Bentuk wajah orang Tunisia lebih tirus. Hidung mereka mancung dan bangir! Berbeda dengan hidung orang Mesir, cenderung besar. 🙂

Tubuh para perempuan -tua sekalipun- cenderung ramping, langsing! Laki-lakinya juga berperut tidak gendut! Sedang para perempuan berusia senja tampak kokoh karena tidak kegemukan dan kepayahan, sangat berbeda dengan perempuan-perempuan Mesir yang sudah menikah, passtiii melebar kemana-mana, hehehe 🙂

P1360509

Begitu kami keluar dari perut pesawat, kami mulai melihat perbedaan nyata bandara Tunis dengan bandara Cairo!

Jika di bandara Cairo, kita akan dirubung beberapa polisi dulu sebelum diizinkan melewati pintu pemeriksaan imigrasi dan keluar bandara, sedang tadi malam kami cukup mengisi kartu imigrasi dan menyelipkannya di dalam paspor berisi visa Tunisia. Hanya butuh beberapa menit pengecekan, kami diizinkan melewati pemeriksaan imigrasi. Sangat efisien, sebagaimana bandara-bandara negara maju lainnya 🙂

Kami berjalan pelan-pelan.
Menikmati selimut keterasingan…

Perlahan, saya mulai menyaksikan sentuhan Eropa di sana sini. Arrival hall tampak simpel, modern, bersih. Bahkan lantai yang kami injak memantulkan cahaya lampu karena sangat mengkilat 🙂

Saya memutuskan langsung ke kamar mandi. Ahai, kamar mandinya modern serba otomatis. Tidak ada ceceran sampah, apalagi bekas tinja, seperti yang biasa kita temui di toilet-toilet di Mesir. Intinya, kebersihan bandara secara umum di Mesir dan Tunisia berbeda 180 derajat!

P1360554

Membandingkan beberapa bandara internasional yang pernah saya kunjungi membuat saya menyimpulkan hal ini, tampaknya bandara utama setiap negara bisa dipakai untuk merepresentasikan karakter sebuah negara. 🙂

Setelah melewati lorong bertuliskan ‘nothing to declare‘ karena kami memang tidak membawa benda-benda terlarang, kami melihat dua wajah khas Asia Tenggara! Meski saya tidak sedang menggunakan kacamata minus 2, saya bisa memastikan dua orang itu adalah teman-teman mahasiswa yang menjemput kami! 🙂

“Aa, itu pasti Zulfikar dan Kang Dede!”

Kami berdua melambaikan tangan. Mereka menghampiri dan menguluk salam, “Assalaamu’alaikum. Selamat datang di Tunis, Mbak Ima dan Kang Risyan. Welcome to Tunis, Honeymoon Backpacker!

P1360556P1360564

***