Our Passion

image

Kelana Cahaya Tour di Sevilla, Spanyol

Dua tahun terakhir saya mengamati timeline seorang kakak yang menetap di jantung kota Paris bersama suami dan seorang anak.

Beliau bukan perempuan biasa di mata saya.

Beliau salah satu perempuan berkarakter kuat dan tahu apa yang dia inginkan dan tahu langkah apa saja yang harus beliau ambil untuk mewujudkan mimpi.

Sepanjang dua tahun terakhir saya membaca dan melihat foto-foto perjalanan beliau dalam memburu ‘passion‘ dan kecintaannya pada kuliner dan keindahan alam Indonesia.

Dari foto-foto yang dibagi dan diberikan sedikit pengantar, disusul komentar yang bertebaran di kolom reply, saya tahu persis beliau sabar dan kuat menjalani proses bata demi bata impian, yaitu membangun boutique hotel di ketinggian Lombok, tak jauh dari pantai Selong Belanak yang surgawi.

InsyaAllah Juni nanti boutique hotel beliau akan grand opening. Saya sungguh amat berbahagia untuk pencapaian dan kerja keras beliau.

MasyaAllah…
Dari timeline beliau yang kerap di-update tersebut saya merasa disemangati.

Bahwa memburu, bekerja melakukan sesuatu yang sangat kita sukai, membutuhkan proses panjang, diiringi kesabaran dan keuletan nyaris tanpa akhir!

Hingga berhasil!

APA SIH PASSION SAYA?

Butuh puluhan tahun bagi saya untuk menemukan ‘passion‘ (gairah terhadap sesuatu yang tiada putus) yang benar-benar saya gilai. Benar-benar saya sukai.

Tak ada nilai materi di sana pun tak mengapa. Tapi saya bahagia melakukannya.

Sejak usia remaja, berganti-ganti kesukaan saya. Mulai public speaking, lalu writing, kemudian organizing hingga cooking.

Tapi selalu ada rasa bosan dan jenuh di tengah atau ujung perjalanan.

Tahu-tahu saya mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tentu saja setelah melamar ke banyak lembaga pemberi beasiswa. Saya mulai kuliah kembali di Inggris sana pada pertengahan 2004.

Setiap summer berlangsung, para mahasiswa menggendong ransel tinggi besar dalam gegas dan langkah-langkah panjang,

“Where are you going?”

“I’m going to Spain.”

“Wait, Spain is really far from here. How could? We’re students with limited scholarship!”

“I’m going there by backpacking.”

Yang bersangkutan berlalu dan saya gegas menuntun sepeda merah ke perpustakaan dan langsung googling.

image

Saat Aa menyandang backpack, menuju kapal cruise Silja Line yang akan berlayar ke Helsinki, Finlandia

Apa itu backpacking?

Gaya hidup atau apa?

Atau sejenis alat transportasi?

Apaan sih?

Bukannya backpack itu ransel yang selalu saya sandang di punggung saban berangkat kuliah dan mengayuh sepeda ke supermarket kala belanja kebutuhan sehari-hari?

Setahun kemudian, summer 2005 saya mulai backpacking pertama menjelajah Eropa daratan seorang diri saja!

Tiga minggu saya tak merasa lelah mendatangi delapan negara dan menyambangi puluhan kota menggunakan kereta api.

Saat itu usia saya menjelang 24 tahun. Karenanya berhak membeli tiket kereta terusan Eurorail dengan harga di bawah 200 โ‚ฌ! Puas turun naik kereta api ke mana saja saya hendak menuju sampai bosan atau pingsan kelelahan! ๐Ÿ™‚

Sejak itu, tak terasa sudah 35 negara saya datangi dengan gaya backpacking murah meriah seru. Backpacking semacam anggur memabukkan bagi saya.

Mendatangi tempat asing sungguh memantik api jiwa.

Mengembara, terlebih bersama pasangan jiwa sungguh membuat saya kaya.

image

Keindahan pegunungan dan danau di Swiss

Sebelas tahun berlalu dan saya masih mencintai aktifitas backpacking hingga detik ini.

Belakangan, saya bahkan mendirikan komunitas ‘Muslimah Backpacker’.

Dengan niat mengajak lebih banyak anak muda belajar kehidupan melalui aktifitas yang menyehatkan fisik karena banyak berjalan dan menyehatkan jiwa karena membuka wawasan.

Tak pernah saya duga. Saya pun bertemu suami yang menyenangi aktifitas alam.

Basic Aa adalah kecintaan pada aktifitas sporty dan mendaki gunung.

Dari gunung turun ke lautan hati saya. Hihihi. Bisa ajah si Ima! ๐Ÿ™‚

Sebelas tahun berlalu dan kami sampai di titik ini.

http://www.honeymoonbackpacker.com yang bertumbuh kemudian melahirkan #kelanacahayatour dan rutin membuat aneka budget trip. Dalam dan luar negeri. Minimal setahun sekali.

Sepanjang 2013 terhitung 6 kali trip diselenggarakan.

Yang paling banyak mendapat sorotan media bahkan beberapa kali diliput media nasional adalah Jelajah 53 anggota Muslimah Backpacker ke Bromo, Malang dan Batu Jawa Timur.

Lalu disusul pengelanaan terjauh ala backpacker ke Mesir selama 11 hari.

Mendatangi Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria hingga mendaki puncak Gunung Sinai. Perjalanan bersama komunitas yang sangat membanggakan!

Setelahnya perlahan tapi pasti fokus kami beralih ke bisnis mengorganisasi perjalanan grup kecil-kecilan. Dimulai dengan modal nol sama sekali. Hanya bermodal kepercayaan klien saja.

Kata banyak pengusaha senior, bisnis yang tumbuh mengakar dan menghunjam kuat adalah bisnis sesuatu yang kamu cintai. Dan kini dengan lantang saya akui, saya mencintai dunia perjalanan sepenuh hati.

Tak terasa, sudah tiga tahun saya dan suami bahu-membahu menumbuhkan lini bisnis #kelanacahayatour di antara jadual kuliah Aa yang berkejaran.

Kami berbagi tugas. Saya melakukan kerja marketing, finance dan management.

Aa sepenuhnya menjadi guide atau tour leader yang bekerja sepenuh hati. Kalem, tulus dan sangat amanah menjaga para tamu sepanjang perjalanan. Memenangkan hati klien dan tamu kami. Alhamdulillaah.

Tiga tahun yang menguji kesabaran, keteguhan dan keikhlasan hati.
Jatuh bangun kami lalui.

Jangan tanya soal menghadapi keinginan klien yang beraneka ragam.
Apalagi yang sekadar tanya-tanya itinerary dan land arrangement, lalu setelah dapat itinerarysays good bye‘.

Sudah biasa. Namanya juga bisnis jasa.
Harus berhati seluas samudera.

Awal-awal memulai, kami bahkan tak untung sama sekali.

Sekarang kami belajar menghargai diri dan kerja keras berbulan-bulan menyiapkan sebuah trip, terutama trip ke luar Indonesia. Termasuk di dalamnya proses promosi yang menghabiskan pulsa internet, ratusan jam proses marketing, lalu closing klien hingga sabar mengingatkan tagihan cicilan biaya trip.

Ya, selain menyelenggarakan budget trip (trip dengan biaya ringan) kami juga mengizinkan klien kami menyicil biaya trip hingga jelang keberangkatan. Boleh dibilang nekad. Tapi inilah tantangannya.

Kenapa jalan susah yang kami ambil? Karena #kelanacahayatour adalah bayi di galaksi bisnis perjalanan tanah air.

Ya, dalam bisnis travel and tour ini, kami adalah ‘pemain liliput’ di antara pemilik modal raksasa dan korporasi gurita.

Tapi kami tak gentar. Karena kami mencintai proses ini. Dan kami berbisnis melibatkan hati. Mengutamakan empati.

Demi empati dan mengutamakan studi yang sedang ditempuh si Aa, kadang kala kami harus mati suri sejenak, seperti bunga liar yang hibernasi di musim dingin, kemudian mekar menyala secantik matahari di musim panas.

Ada keindahan dalam kesabaran.

Ada keyakinan dalam proses belajar.

Dan saya makin menyadari. Saya telah menemukan hasrat terdalam diri ini. Yaitu kecintaan pada aktifitas pengembaraan dan membagikan spirit ini melalui beragam paket perjalanan yang kami tawarkan bersama Kelana Cahaya Tour.

Sehingga kata bekerja menjadi lenyap. Berganti kata, cinta!

***

Ps.

Open Trip yang saat ini dibuka adalah Maroko Trip pada tanggal 3-11 November 2016.

Saat ini budget open trip ada di posisi 16 juta all in. (tergantung ketersediaan dan harga tiket pesawat)

Tertarik?

Please contact us here, +62 819 5290 4075.

Cinta dan Perjalanan

Cinta dan Perjalanan.

2014 sudah dua hari berjalan.

Tak ada perayaan, karena tak diajarkan pula oleh baginda Rasulullah tercinta untuk mengkhidmati awal tahun masehi. Cukup mengingat saja, bahwa dunia sudah semakin renta. Artinya harus kembali bertanya kepada jiwa, apa yang sudah kita sumbangkan untuk kebaikan anak cucu di alam fana?

Saya memutuskan kontemplasi, apa saja yang sudah saya lalui sepanjang 2013, apakah penuh manfaat atau justru penuh madharat?

***

Alhamdulillah, beberapa milestone dicapai pasangan Honeymoon Backpacker:

1. EGYPT TRIP bersama @MozBackpackTrip, pada tanggal 21 sampai 31 Maret 2013

Di akhir Februari 2012, satu tahun pernikahan kami, saya sempat berujar pada Aa, “Aa, awal menikah kita mulai semuanya dari nol. Benar-benar dari nol, tidak punya apa-apa. Rumah saja harus ngontrak, sudah jalan satu tahun. Tapi…, Aa tahu aku kan. Muslimah petualang, yang senang berkelana hingga jauuuh.

Sayang, aku ingin sekali kita bisa berkelana berdua. Sejauh yang kita bisa, menapaki sejarah Islam klasik. Kembali ke Mesir… Mengunjungi Tunisia, mendatangi Maroko, lalu menyeberang ke Spanyol!

Tidak apa-apa belum bisa pergi sekarang, tapi insyaAllah kita akan sampai ke sana ya, A?

Continue reading

Berkelana!

Berkelana!

Saya pernah terluka…
Sangat nganga, terpuruk, terhina.

Saya sempat tidak keluar kamar berhari-hari,
enggan bertemu orang banyak,
dan menganggap dunia sudah berakhir.

Saya menangis,
hingga sembab, hingga bengkak,
saya putuskan menghabiskan seluruh rasa,
yang mengalir melalui kedua mata,
agar tak bersisa,
rasa sakit yang mendera…

Setelah berminggu-minggu,
saya ingin keluar kamar,
berjalan-jalan,
menghirup udara yang berbeda,
bersua kenalan baru,
menyapa kawan lama,
meraih energi positif yang melimpahi mayapada.

Sebulan,
dunia begitu muram di mata saya…

dua bulan,
dunia tak ramah pada saya…

tiga bulan,
dunia bukan tempat tinggal yang nyaman untuk saya!

Saya memutuskan pergi,
meninggalkan Indonesia,
nekad menghabiskan seluruh tabungan yang ada,
membeli tiket pesawat ke negeri yang jauh,
setengah tak bersemangat,
hanya ingin pergi sejauh mungkin,
dan berharap ribuan langkah berjalan,
akan menghapus jejak-jejak luka,
agar lupa sakit yang bersarang di dada.

Saat itu saya tak berharap banyak,
hanya ingin mengembara seorang diri,
menjelajah tiga negeri…

Pada akhirnya…,
tiga bulan berkelana seorang diri di tanah asing mengajarkan saya banyak hal;

Bahwa berkelana mengobati luka,

bahwa berkelana mengembalikan percaya,

bahwa berkelana menumbuhkan rasa berharga,

bahwa berkelana melahirkan ribuan kata,

bahwa berkelana pertemukan kita dengan keindahan semestaNya,

bahwa berkelana membuka pintu-pintu bahagia,

dan berkelana, di ujung cerita,
mempertemukanku dengan belahan jiwa!

Usah luka terlalu lama,
berjalanlah,
sembari merenung,
hitung nikmat-nikmat kecil,
keajaiban sehari-hari,
dan limpahan kasihNya,
dan akan engkau sadari,
perjalanan mengutuhkan kembali keping-keping dirimu dengan sempurna.

Berkelana itu melahirkan dirimu kembali!
***

PS.
Berkelana di sini benar-benar berjalan dengan gaya sederhana, ala musafir!

Bukan berjalan ala turis ya, kemana-mana sudah ada yang mengatur, tidur di hotel berbintang dan seterusnya.

Dan berkelana ini butuh waktu pengembaraan yang tidak bisa sebentar ya, minimal dua minggu lah, supaya ada ruang dan waktu untuk banyak merenung dan berpikir mendalam.

Coba deh! ๐Ÿ™‚

Kereta Kehidupan

Kereta Kehidupan

Bangun tidur pagi ini seluruh badan terasa remuk redam, hehehe… Tidak menyangka, perjalanan menggunakanย Quer-durchs-Land-Ticket selama 8 jam-an kemarin meninggalkan lelah berlapis ๐Ÿ™‚

Bagaimana tidak, sejak awal itineraryย rencana kepulangan kami ke Belgia terus berubah karena banyak hal, akhirnya kami memutuskan go show saja setelah Aa menunaikan kesempatan berceramah di Hamburg sebanyak dua kali, Sabtu sore dan Ahad sore lalu (21-22 September 2013.

Walhasil alternatif transportasi paling murah meriah jika mendadak adalah “Quer-durchs-Land-Ticket” yang sudah pernah kami pakai pada tanggal ๐Ÿ˜€

Ya sudah, mari memanfaatkan tiket terusan seluruh wilayah Jerman itu lagi. ๐Ÿ™‚

***

Rupanya, karena sudah sekali memakai “Quer-durchs-Land-Ticket” dari Nurenberg menuju Hamburg, excitement-nya tidak terasa lagi, hehehe, betapa cepat bosannya manusia dan betapa fananya ‘kesenangan di dunia’! ๐Ÿ™‚

Apalagi kereta yang kami naiki berkali-kali tidak sebagus kereta-kereta di hari Sabtu. Jarak tempuhnya juga tidak selama hari Sabtu. Yang terasa adalah, “Kok sebentar-sebentar turun naik kereta ya?!”

Mulai pukul 11. 54 kami turun naik Metronom sebanyak dua kali, S1 sekali, RE tiga kali, Eurogio Bahn sekali, dan diajak naik bis dalam kota dua kali.

Artinya -setelah naik ferry menyeberangi sungai Elbe yang dalam dan luas itu- kami bergonta-ganti moda transportasi sebanyak 9 kali, dengan waktu transfer terpendek hanya 4 menit –saya masih sempat ngeprint jadual perjalanan yang kami pilih menuju Aachen dan membeli tiketnya sekaligus!

Rasanya takjub pada keteraturan dan sinkronisasi jadual kereta api yang ada di Jerman dan Eropa pada umumnya ๐Ÿ˜‰

Di sisi lain, salah satu kereta kami (jurusan Hannover – Minden menggunakan train S1) terlambat 3 menit! Padahal waktu transfer kami hanya lima menit dan harus turun naik tangga (tidak ada lift dan eskalator sama sekali) yang rata-rata menghabiskan 2 menit!

Karena si S1 telat tiba dan mengorupsi waktu transfer kami sebanyak 3 menit lamanya, sedang kereta jurusan Minden – Hamm pergi tepat waktu, 2 menit sisa yang kami miliki akhirnya tidak cukup untuk berlari turun dan naik tangga karena harus berpindah peron lalu gegas masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm tersebut.

Mau tidak mau kami ditinggal si train RE 10626 tersebut, karena waktu transfer kami hanya 2 menit saja dan jelas tidak keburu.

Untung kami tidak sedang akan naik pesawat atau mengejar sebuah janji teramat penting dan harus tepat waktu, seperti Sabtu lalu!

Saat itu saya dan Aa saling berpandangan menyaksikan fenomena ‘mengesankan’ ini.

Betapa waktu di negeri Eropa dihitung dari menit ke menit sedemikian rigid.

Telat 2-3 menit saja artinya siap ketinggalan transportasi berikutnya, mengeluarkan uang lebih banyak atau kehilangan kesempatan meeting ‘raksasa’. Mungkin saja, karena Aa sempat menyaksi dua orang bule yang saling bertangisan kala mereka juga tidak bisa masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm.

Dalam kereta saya sempat terpekur…

“Bukankah kehidupan di dunia ini sama seperti naik kereta api?

Jurusan yang kita pilih menentukan kebahagiaan yang akan kita kejar atau mau kita raih. Kadang kita harus berganti-ganti kereta api, atau malah mencobanya satu demi satu, karena kekurang-pahaman kita akan tujuan hidup yang ingin kita raih.

Lalu ada saatnya kita harus terhenti beberapa saat karena ketinggalan ‘kereta tujuan hidup’ akibat kurang fokusnya kita.

Tak apa, perjalanan kehidupan memang selalu jatuh-bangun. Akan tetapi ada baiknya segera fokus kembali, untuk mengejar ‘kereta tujuan berikutnya’, agar tak terus-menerus naik ‘kereta’ dan energi habis untuk berpindah-pindah tujuan perjalanan.

Dan sadarkah kita, tujuan hidup kita kerap disetir penghambaan berlebih pada dunia?

Kita kerap naik ‘kereta materialistik’ terus-menerus tanpa henti, dan lupa bahwa kebahagiaan hakiki kerap tak bisa kita kejar dengan menaiki ‘kereta materialistik’ karena bahagia hakiki sejatinya terletak dalam hati, bukan pada benda duniawi.

Saya tertegun berkali-kali, sudahkah saya memilih ‘kereta terbaik’ saya untuk menuju surgaNya yang tidak murah itu?

Sudahkah saya memilih ‘jurusan terbaik’ menuju ridhaNya?”

Smart Backpacking: Thinking Out of The Box!

Belakangan, banyak sekali orang yang meng-add facebook saya, lalu mengirimi message semacam di bawah ini:

“Mbak Ima kaya banget ya? Kok kerjaannya backpacking melulu? Duitnya berapa banyak? Kerja apa sih, Mbak?”

Dstnya, dstnya dan biasanya saya jawab singkat, seperlunya.

Misal, “Wah, kamu bakalan kaget kalau mengetahui penghasilan bulanan kami berdua. Kecil loh! Lagian, backpack ke Eropa ini kami sempat meminjam uang teman segala, sebagai ‘modal’ membeli tiket pesawat one way!”

Lama-lama tidak saya jawab lagi, sekadar saya intip saja ๐Ÿ™‚

Bukan tidak mau menjawab, akan tetapiย pertanyaan mereka adalah pertanyaan sangat ‘standar’, padahal saya dan suami bisa backpack keliling dunia dengan cara sangat tidak ‘standar’.

Image

Setelah sekian lama merenung, saya memutuskan untuk berbagi hal-hal tidak ‘standar’ dalam upaya kami mewujudkan perjalanan menjelajah Mesir, Tunisia, Maroko dan sekarang berada di bumi Eropa. Total, sudah hampir 6 bulan kami berkelana menjelajah dunia. ๐Ÿ™‚

Baiklah, pertanyaan sejenis di atas akan saya jawab saat ini.

Pertama, berpikirlah ‘out of the box‘!

Bahwa bisa keliling dunia tidak mesti harus menunggu kaya dulu, atau punya tabungan sekian puluh juta dulu, atau menunggu sudah punya rumah dan mobil dahulu, dstnya dstnya!

Kalau menunggu sangat kaya dahulu dan atau punya tabungan sekian puluh juta dulu, umur kita biasanya keburu terlalu tua untuk ‘backpacking‘! Ingat ya, definisi kata backpacking sangat berbeda jauh dengan definisi kata traveling sejauh yang saya pahami selama ini.

Traveling mengandaikan kenyamanan paripurna (sebanyak uang yang kita punyai dan mau kita belanjakan), sedang backpacking justru berjalan sejauh mungkin dengan biaya sehemat mungkin -tentu saja mengurangi beberapa kenyamanan. Kalau sudah terlalu tua, tentu fisik kita sendiri sudah tidak sanggup backpacking dengan cara menghemat sangat ekstrim, misalnya tidur di stasiun lalu dikunci petugas dari luar stasiun, seperti yang kami alami di stasiun Soussa, Tunisia ๐Ÿ™‚

Image

Ini foto kala stasiun dibuka kembali, sekitar pukul 3 dinihari.
Saya bisa tidur sekitar 2.5 jam, menunggu semua lampu dimatikan ๐Ÿ™‚

Kok bisa keliling dunia dengan biaya sehemat mungkin?
Bukankah tiket pesawat ke luar negeri itu mahal?
Bukankah mata uang rupiah itu ‘nyungsep’ jika dikurs ke mata uang euro atau dolar bahkan poundsterling?

Bukankah backpacking ke luar negeri hanyalah aktifitas si orang kaya?

Waah waaah!
Ini dia yang membuat kamu tidak bisa berjalan lebih jauh!
Pikiran negatifmu memenjara kreatifitasmu!
Akhirnya momen thinking out of the box tidak terbit dari batok kepalamu!
Jadi begini ya, menurut hemat saya betapa tidak fairย hidup di dunia ini jika backpacking ke luar negeri hanya mampu dilakukan orang kaya saja! ๐Ÿ™‚

Backpacking ke manapun (hingga ujung kutub utara sekalipun, bisa kok dilakukan siapapun asal mau berusaha)!

Ya, kamu bisa!
*aku menunjuk ke dirimu kok!* ๐Ÿ™‚

Caranya?

Ada banyak cara.
Ada ribuan cara!
Ada milyaran cara, sebanyak milyaran otak yang ย berada dalam batok kepala penduduk bumi ini! ๐Ÿ™‚

Bukankah dahulu banyak sekali sahabat Nabi SAW yang backpacking (safar) berjalan sangat jauh melintasi gurun sahara untuk menemukan sepotong hadis!?

Bukankah banyak sekali penjelajah ternama yang bepergian sangat jauh hingga berbulan-bulan bahkan bertahun lamanya untuk menemukan benua baru?

Kenapa mereka bisa bepergian begitu lama dan sangat jauh, padahal pesawat terbang saja belum ditemukan?

Para musafir berabad lampau kerap hanya membawa barang alakadarnya, belum ada kompas, mobile phone, wifi, apalagi google maps, loh! :p

Kenapa mereka bisa bertahan dalam perjalanan yang lama, berat, berbahaya sekaligus bersahaja?

Saya duga karena mereka memburu mimpi mereka!

Mereka melakukan itu semua karena mimpi ingin menemukan kebaikan dan kebaruan di negara asing yang mereka tuju!

Mereka memutuskan tidak membeku dalam situasi stagnan, rutinitas dan jumud!
Mereka ingin terus berjalan, belajar dan jika memungkinkan berbagi!

Barangkali kamu akan menjawab, “Aaah! Itu kan orang-orang jaman dulu! Kita kan hidup di masa kini. Apply visa saja mahal dan susahnya minta ampun! Belum lagi kalau ditolak!”

Oh ya…?
Belum apa-apa engkau tidak mau berpikir positif dan berusaha! ๐Ÿ™‚
Soal Schengen visa yang menurutmu susah, silahkan baca kisah kami memperjuangkan untuk mendapatkannyaย di sini ya. ๐Ÿ™‚

Kalau kamu butuh contoh penjelajah tangguh masa kini, seketika saya bisa memberikan contoh nyata!

Apa yang beliau lakukan saat itu sangat murah dan bisa dilakukan siapa saja! Di masa mudanya, Mas Gola Gong pernahย backpacking keliling Asia Tenggara dengan bersepeda! ๐Ÿ™‚

Saat membaca buku Mas Gola Gong yang berjudul ‘From Jakarta to Himalaya‘ di awal-awal kuliah S1 di sudut kota Jogjakarta, saya tersulut bara seketika.

“One day, I’ll follow his idea to travel cheap with my own style!”

Bara itu menyala sejak bertahun-tahun lalu dan terwujud perlahan kala saya mendapatkan beasiswa S2 di Leeds University di rentang tahun 2004-2007.

Tahap awal, otak sederhana saya hanya memikirkan satu hal, fokus mengejar beasiswa!

Setelah beberapa kali apply beasiswa, akhirnya saya berhasil memeroleh beasiswa Ford Foundation dan terbang gratis menuju Inggris. Sejak liburan summer pertama di Inggris, saya belajar apa itu backpacking dan bagaimana menyiasati perjalanan murah meriah bahkan gratisan. Sepanjang rentang di Inggris pula, saya berhasil menjejak 20 negara. ๐Ÿ™‚

Kisah detil bagaimana saya berjuang mendapatkan beasiswa S2 ke Inggris, bisa teman-teman baca di buku antologi yang saya susun dengan judul, “Kuliah Gratis ke Luar Negeri 2, Mau?” diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House. Ebook-nya sudah bisa teman-teman beli online di website MIZAN.

Tahun 2007 Inggris saya tinggalkan dan saya masih menyimpan bara yang sama di dalam dada. Suatu hari nanti saya akan kembali ke Eropa bersama belahan jiwa, bagaimanapun ajaib caranya! ๐Ÿ™‚

***

Berpikir out of the box ini tidak susah kok, asal kita mau banyak ‘membaca’! Tidak sekadar membaca buku, tapi juga membaca kesempatan dan peluang.

Seperti yang sudah saya tulis di jurnal terdahulu, saya dan Aa menangkap bola yang dilempar Kak L!

Beliau menawari Aa menjadi da’i selama bulan Ramadhan di Eropa!

Bola itu kami sambut dengan sama-sama mengirimkan CV sefokus dan sebagus mungkin, bahwa komunitas Muslim Indonesia di Belgia tidaklah akan merugi jika mengundang kami ke sana. Aa biasa menjadi khatib, penceramah berbagai acara sekaligus menjadi imam dan guru tahsin al Qur’an yang baik.

Saya bisa berbagi ilmu kepenulisan yang saya miliki atau bahkan berjualan makanan! Sehingga insyaAllah tidak akan terlalu menjadi beban host karena kami bisa mencari uang untuk biaya transportasi kami sehari-hari.

Alhamdulillah CV kami berdua diterima dengan baik dan invitation letter dari KBRI Belgia masuk ke dalam email kami.

Dengan modal nekad dan keberanian terbang ke Eropa tanpa uang euro selembar pun, setelah visa Schengen kami dapatkan dari kedutaan Belanda, kami memutuskan berangkat secepatnya, tepatnya 17 Juli 2013 lalu.

Karena kami tidak memiliki uang yang cukup, kami berdua nekad terbang hanya dengan one way ticket alias tiket pesawat untuk masuk Eropa saja.

Beberapa suara sumbang muncul kala saya menulis status terkait one way ticket ini, akan tetapi doa -yang saya harapkan muncul setelah menulis status minta didoakan agar bisa masuk Eropa dengan one way ticket– dari banyak pihak akhirnya memuluskan kami memasuki bumi Belgia nyaris tanpa masalah, setelah sebelumnya diinterogasi pihak imigrasi Belgia berbelas menit lamanya.

Kisah diinterogasi pihak imigrasi Belgia ini bisa menjadi satu judul tersendiri karena situasinya menegangkan dan memacu adrenalin. Kami harus siap mental jika akhirnya dideportasi kembali ke Indonesia tanpa pernah berhasil keluar dari bandara Brussels Intl. Airport, which is not funny at all!

Sesampai di Eropa -dan tentu saja berhasil melewati pintu imigrasi Belgia- hanya istirahat satu hari saja, Kak L langsung mengajak saya membeli bahan pempek di Aldi Supermarket.

Waktu itu kami mencoba ikan Pangasius -murni karena alasan harga yang murah, sekitar 3 euro sekian- dan segera saya sadari, ikan ini tidak cocok untuk membuat pempek karena rasa ikannya tidak muncul sama sekali. Pempek perdana saya buat dari 700 gram ikan pangasius dan menghasilkan 35 buah kapal selam yang tidak memuaskan hati saya akan tetapi justru ludes seketika disantap ke empat anak Kak L ๐Ÿ™‚

They said, “Your pempek is delicious, Tante Ima!”

Perburuan bahan pempek yang mendekati rasa ideal menurut ukuran saya belum berakhir.

Saya dan Kak L meluncur ke Makro, salah satu supermarket terbesar di Belgia. Saya disarankan Kak L untuk membeli ikan Roodbars frozen.

Saya menyetujui dan membeli ikan tersebut.

‘Ada harga-ada rasa’ tetap berlaku dimanapun jua. ๐Ÿ™‚

Produksi pempek kedua ini sudah jauh lebih terasa ikannya, akan tetapi jangan pernah membandingkannya dengan si ikan tenggiri atau belida ya, those are resulting an amazing pempek’s taste! ๐Ÿ™‚

Singkat cerita, saya masih hunting rasa ikan terbaik dan paling cocok dijadikan bahan pempek.

Setelah perburuan berakhir, pempek made in Imazahra perlahan mulai didengungkan Kak L kemana-mana ๐Ÿ™‚ Termasuk ‘diiklankan’ di kalangan ibu-ibu yang mengikuti pengajian mingguan yang diampu Ustadz Risyan Nurhakim Lc. ๐Ÿ™‚

Alhamdulillah, lembaran 5 euro perlahan mulai kami kumpulkan dan puncaknya adalah 17 Agustus lalu.

Kak L memiliki ide gila sejak pertama kali kami landed di Brussels International Airport, “Ima ikutan bazaar 17 Agustusan ya!”

“Eh, kalau tidak laku bagaimana, Kak?”

“Ah, pasti laku. Pempek Ima dan masakan lainnya enak-enak kan? Bismillah saja.”

“Tapi kami tidak punya uang euro sama sekali, Kak!”

“Nanti Kakak yang bayar!”

Saya dan Aa saling pandang.
Mata kami mengandung masygul dan kekhawatiran, bagaimana jika pempek kami tidak laku? Bagaimana jika jualan kami tak satupun dilirik pembeli? Bagaimana jika ini dan jika itu!

Kak L sungguh perempuan baik hati sekaligus futuristik. Beliau mendukung saya sejak ย mulai berjualan pertama kali dan membantu promosi pempek made in Imazahra dari mulut ke mulut.

Kekuatan rasa dan mouth to mouth advertisement ini rupanya iklan sangat ampuh yang berhasil meludeskan jualan pempek, siomay dan otak-otak ikan roodbars kami kala 17 Agustus lalu!

Sekelar jualan dan tiba di rumah Kak L, saya dan Aa tenggelam dalam sujud syukur sangat panjang, Alhamdulillah!

Ini sedikit catatan kecil yang sempat saya bubuhkan di FB saya:

Kata pertama yang ingin kami ungkap adalah syukur Alhamdulillah, jualan kami sebanyak 85 buah pempek kapal selam, 40-an lenjer (sudah tidak dihitung detil karena sangat mengantuk, dinihari Sabtu pembuatannya), 120-an buah siomay dan 40-an buah otak-otak ikan tenggiri dibalut daun pisang ludes tak bersisa!

Laris manis tanjung kimpul!

InsyaAllah sepasang Honeymoon Backpackers jadi deh main ke Italia dan Spanyol! ๐Ÿ˜€

Berjualan pempek di negeri Eropa menyisakan banyak catatan dan peristiwa yang patut ditulis dan diabadikan melalui sebuah buku!

Ada kejadian sangat lucu dan pertama kali dalam hidup saya (sebagai penjual pempek) terjadi di arena bazaar, hehehe, nanti saja saya tulis di blog saja ya ๐Ÿ™‚

Kami mengucapkan banyak terima kasih pada seluruh pembeli yang membeli pempek, siomay dan otak-otak produksi kami.

Terima kasih pula untuk seluruh kontak saya di facebook yang sudah mendoakan agar dagangan kami habis sekaligus menemani saya *secara online dan jarak jauh* kala saya benar-benar deg-degan mengolah semua bahan makanan, hanya dengan dua tangan dan waktu yang saling berkejaran. FYI, saya baru memproduksi semuanya mulai Kamis malam dan harus menjualnya di Sabtu pagi!

Terima kasih tak terhingga atas ide kreatif Kak L sebagai host utama kami ๐Ÿ™‚

Beliau memercayai kemampuan saya padahal belum pernah mencicipi pempek saya, hanya percaya berdasarkan testimoni yang berdatangan di fanspageย Pempek & Bolu Kukusย kami.ย 

Terima kasih atas seluruh support moril dan materiil -beliau yang membayarkan sewa tenda kami dan sungguh tidak murah!- yang sudah diberikan kepada kami. Karena beliaulah, kami sempat nekad meminjam sebagian uang pada salah satu teman untuk terbang all the way ke negeri Belgia ini.

What a journey after all!ย 

Sangat layak untuk kami kenang seumur hidup kami dan mudahan bisa direkam dalam buku kami. ย ๐Ÿ™‚

Sekali lagi, terima kasih tak terhingga untuk semua yang sudah mendukung ide Honeymoon Backpackers mencari dana backpacking melalui jualan pempek, at the end, it worked nicely.

Segala puji milik Allah!

Kedua, bangun jaringan silaturahmi internasional!

Saya menjadi blogger dimulai di tahun 2005, di sebuah fasilitas blog dengan konsep berjejaring, namanya Multiply dan sudah ‘tewas’ sejak awal tahun ini.

Di Multiply ini saya rutin mengisi blog. Awal mulanya sekedar ingin membaca tulisan-tulisan Mbak Helvy Tiana Rosa, lama-kelamaan terbawa ingin berbagi kehidupan di Inggris -kaya saya menempuh pendidikan S2- hingga akhirnya saya memberanikan diri alih profesi menjadi penulis amatir sekaligus backpacker ๐Ÿ™‚

Di Multiply saya bertemu dengan banyak perempuan smart, sholehah sekaligus senang bersilaturahim.

Pertengahan 2005 saya melempar ide ingin Solo Backpackย -untuk pertama kalinya menjelajah Eropa- di blog Multiply saya, satu persatu teman-teman Multiply di Eropa menawarkan diri menjadi host saya, alias berkenan menyediakan ruang tamu atau salah satu kamar mereka menjadi rumah sementara saya untuk beberapa hari. ๐Ÿ™‚

Dari solo backpack 2005 tersebut saya menyadari, backpacking nyaman bisa diusahakan, sepanjang jejaring silaturahmi kita kuat dan sosok kita dipercaya sebagai pribadi yang amanah, mampu menjaga kebersihan dan siap membantu-bantu tuan / nyonya rumah jika diperlukan. ๐Ÿ™‚

Justru dari aksi ‘tumpang-menumpang’ di rumah host inilah saya menemukan banyak sekali kakak ketemu gedhe! Rasanya bahagia sekali, mengingat saya adalah anak pertama dan memiliki 7 adik. Jika akhirnya dianggap adik oleh seseorang, rasanya senang luar biasa. It’s a priceless honour for me! ๐Ÿ™‚

Sudah dulu ya, nanti di kesempatan lain saya akan menulis kembali, tips trick smart backpacking ala honeymoon backpackers! ๐Ÿ™‚