Honeymoon Backpacking: Semarakkan Ramadhan!

Betapa Ajaibnya!

Entah kenapa, beberapa hari terakhir ini saya merasa kesulitan mengekspresikan perasaan dan menuangkannya ke dalam tulisan. Buncah bahagia dan rasa ajaib yang memenuhi dada menggelembung di ruang jiwa, hingga sesak mendesak rasa, namun tak jua mampu saya ungkap seketika.

Perjalanan Honeymoon Backpacking kali ini terasa luar biasa ajaibnya!

Mulai mendarat di Brussels International Airport saja dada saya sudah diliputi haru luar biasa, hingga akhirnya saling berpelukan dengan Kak L. Saya menyaksi tetes airmata yang menetes di sudut mata sipit beliau dan saya meraba dada saya sendiri, indahnya ukhuwah dalam iman dan Islam ini. Maha Suci Ia!

Alhamdulillah, pada akhirnya Allah izinkan saya kembali ke negara ini, setelah terakhir mengunjungi Belgia di tahun 2005 bersama seorang kawan baik yaitu dokter Eva Suarthana yang saat ini menetap di Canada, “Hai Mbak sayang, how’s life there?” πŸ™‚

Betapa…

Kehidupan di dunia -bagi orang yang beriman pada qadha dan qadar-nya tentu meyakini- bahwa semua peristiwa yang terjadi adalah serangkaian perjalanan takdir, berkelindan dengan kekuatan ikhtiar dan doa kita kepadaNya.

Setelah dua kali penolakan visa UK dan dua kali penolakan Schengen visa (Belanda dan Jerman) berturut-turut sepanjang 2007-2008-2009 saya memutuskan menunda menuntaskan mimpi (meneruskan studi ke jenjang yang lebih tinggi) dan memilih menerima takdirNya.

Saya memutuskan berdamai…

Saya memang sempat menangis beberapa masa, sempat curhat kepada beberapa kakak terbaik saya, sempat memprotes takdirNya, bahkan sempat terluka pada pahitnya kehidupan yang ditimpakan di pundak saya

Nyaris 6 tahun susah-payah saya membujuk hati yang luka, agar bisa menerima semua. Termasuk harus kehilangan masa depan (meneruskan ke jenjang S3 di UK karena professor saya sudah menunggu di sana), melepaskan beasiswa yang belum tuntas dan bahkan akhirnya menerima pil pahit kehidupan, jeram luka di sekujur hati atas pengkhianatan sebuah hati.

Betapa saat itu kehidupan adalah siksa untuk saya, jika kematian bukanlah kemurkaan di sisiNya, saya hendak berdoa, “Ya Allah, sudahi saja usia hamba di dunia.”

Betapa…
Betapa terbatasnya jangkauan akal manusia atas rencanaNya!

6 tahun berlalu dan drama kehidupan bergulir untuk saya.

2010 adalah tahun paling luka dan hina untuk saya.

Proses hukum yang melelahkan lahir batin harus saya hadiri demi sebuah ketenangan bernama akhir sebuah pertalian. Kisah detilnya bisa teman-teman baca di buku terbaru yang diterbitkan oleh Mozaik Publisher, berjudul My Wedding Story, di buku itu saya menjadi penulis tamu mereka.

My Wedding Story Cover

2011 seorang blogger tiba-tiba menyapa lewat penyeranta, “Assalaamu’alaikum Imazahra. Saya N, pembaca setia blogmu di http://www.imazahra.multiply.com -blog ini sudah almarhum, ditutup paksa oleh pemilik bisnis- dan ingin menawarimu hadiah.”

“Wa’alaikum salam, Mbak siapa? Mbak juga blogger di Multiply kah?”

“Iya, saya N, ID saya bla bla bla. Mbak Ima kenapa akhir-akhir ini terlihat sangat bersedih? Biasanya blog Mbak isinya penuh semangat, berbagi hal-hal bermanfaat atau diari renungan sarat hikmah. Tapi kenapa sekarang hanya berisi puisi-puisi sangat dark dan dipenuhi aura luka?”

“Terima kasih sudah membaca blog sederhana saya. Saya bukan siapa-siapa, terima kasih. Jujur saya sedang diuji dengan banyak musibah, mungkin maksud Allah agar saya naik kelas dalam kehidupan fana ini. Terima kasih sudah peduli pada saya, Mbak N.”

“Mbak Ima, jika Mbak berkenan, izinkan saya memberikan hadiah untuk Mbak.”

“Duh, saya tidak perlu diberi hadiah apapun, Mbak. Ujian adalah niscaya untuk manusia.”

“Menurut saya, hadiah ini akan membawa Mbak terbang ke rumahNya, berdoa langsung di rumahNya.”

Saya tercekat! Maksudnya?
Saya terdiam untuk jeda sangat lama…

“Mbak Ima, saya ingin mengajak Mbak Ima berumrah ke tanah suciNya. Saya dan ibu saya ingin mengenal Mbak Ima lebih jauh. Saya ingin Mbak berdoa langsung di rumahNya, mudahan Allah angkat segala kesedihan di hati Mbak Ima dan sepulang dari sana Mbak siap menjalani kehidupan yang baru dan lebih tegar.”

Seketika airmata saya bergulir tanpa bisa saya cegah!
Saya ini bukan siapa-siapa, akan tetapi Ia memutuskan memanggil saya ke rumahNya yang teramat mulia!

Labbaika Allahumma labbaik, labbaik kalaa syariika laka labbaik. Terima kasih Mbak, saya terima hadiah darimu InsyaAllah, jazakillah khairul jazaa…”

Sisanya adalah percakapan teknis di mana kami akan bertemu untuk pertama kali, pertanyaan seputar paspor dan hal-hal terkait persiapan umrah lainnya.

***
PanggilanNya

Hadiah berupa umrah telah ditunaikan di awal Maret 2010.

Saya berdoa sepuasnya di Multazam, Hijr Ismail, Maqom Ibrahim yang terletak di Masjidil Haram, tak lupa saya puaskan hati menyapa kekasihNya sepanjang masa, Nabi Muhammad SAW yang teramat mulia di Raudhah, dalam lingkungan Masjid Nabawi.

Sulit dilukiskan perasaan saya saat itu, haru dan bahagia berpagut menjadi satu. Sepuluh hari yang indah saya nikmati di rumahNya.

***

Salah Satu Doa DijawabNya!

Saya sempat berdoa di rumahNya, “Ya Allah, jika Engkau izinkan aku untuk menikah, jodohkan untukku seorang laki-laki lembut dan sholeh. Tangannya tidak pernah terangkat untuk menampar wajahku dan kakinya ringan melangkah untuk beribadah kepadaMu. Cukupkanlah rasa cintaNya kepadamu menjadi pengikat cinta yang abadi di antara kami berdua. Jika aku boleh meminta, izinkan aku bertemu dengan lelaki yang memiliki jiwa mengembara dan mencintai perjalanan di bumi luasMu sepertiku.”

Betapa…

Pada akhirnya airmata di masa lalu berganti dengan senyuman dan leganya dada di masa kini.

Saya dipertemukanNya melalui perjalanan solo backpack ke Mesir, Jordan dan Maroko di tahun 2010 (setelah backpack keliling Eropa di tahun 2005, backpack keliling Amerika di tahun 2006 dan backpack keliling Uni Emirates Arab di tahun yang sama) dengan belahan jiwa terbaik menurutNya.

Beliau paling sholeh di mata saya, paling santun dalam tutur katanya, paling welas asih terhadap istrinya, paling meneladani keindahan akhlak Nabinya, paling pandai menasehati istrinya, paling pandai merangkai kata-kata berisi kala berceramah maupun menuliskan isi pikirannya dan lembut hati mendukung pilihan-pilihan hidup saya. Dialah seorang suami tercinta, yang menjadi backpacking partner terbaik saya saat ini.

Apalagi yang ingin saya minta? πŸ™‚

Maha Suci Ia,
dengan segala rencana-rencana terbaikNya.

***

Ramadhan Kami di Belgia!

Tak terasa, saya dan Aa sudah lima hari tinggal di rumah tuan rumah sholeh dan baik hati yang biasa kami panggil Kak Tiar. Rumah beliau terletak di pinggiran propinsi Gent, 40 km dari kota Brussels, Ibukota Belgia.

Kota tempat kami tinggal bernama Bambrugge, Erpe Mere. Kota ini sangat hijau, tenang dan asri. Saya dan Aa sama-sama sepakat, “Yang, kita seperti menerima hadiah indah berupa Writing in Residence di sudut Eropa ya. Alhamdulillah…, artinya naskah Honeymoon Backpacking in Egypt harus tuntas ditulis di kota ini, A!” :p

Belgia adalah negara mungil yang berbatasan langsung dengan Belanda, Jerman dan Prancis, sehingga bahasa yang digunakan di negara ini gado-gado sedemikian rupa πŸ˜‰ Setiap hari -bahkan di rumah host kami sekalipun- saya dan Aa biasa menyimak bahasa Inggris, Prancis, Jerman dan Belanda mengudara bersamaan. Ya, anak-anaknya Kak Lely rata-rata fasih berbahasa Inggris sekaligus Belanda, masih ditambah celetukan Jerman dan sedikit Prancis di sana-sini, masyaAllah lenturnya kemampuan bahasa mereka πŸ˜‰

Aa sempat berujar, “Tinggal tiga bulan di sini sepertinya Aa pun akan bisa berbahasa Inggris.”

Ssst, suami saya memang fasih berbahasa Arab -yang super susah itu- tapi entah kenapa bahasa Inggris beliau masih pasif, hehehe…

Saat catatan ini dituliskan, hari ini adalah Ramadhan ke 13 sekaligus hari ke 5 kami ‘backpack‘ di benua Eropa πŸ˜‰

Backpack‘ kali ini terasa sangat mewah untuk kami.

Biasanya kami menumpang menginap di rumah sederhana di salah adik mahasiswa yang kami kenal baik, atau menginap di rumah penduduk lokal yang mungkin jatuh kasihan melihat kami menggendong ransel kesana kemari, hehe… Akan tetapi kali ini sangat berbeda.

Alhamdulillah kami dimuliakan begitu rupa πŸ™‚

Kak Tiar dan Kak Lely mengundang kami menginap di rumah indah mereka berdua. Kami diletakkan di lantai 2 yang nyaman. Kamar kami bersisian dengan kamar mandi mewah bak hotel bintang 5. Alhamdulillah.

Saking udiknya saya terhadap perabotan rumah tangga mereka, di hari pertama hingga hari ketiga saya harus berkali-kali memanggil Kak Lely, agar membantu saya menyalakan kompor induksi dari kaca yang ada di dapur mereka, hehehe…

Saya juga menikmati materi-materi ceramah yang disampaikan Aa. Banyak hal baru yang saya dapatkan dari tausiyah beliau. Saya merayu Aa sekuat daya agar menuliskan isi tausiyah-nya di blog ini, agar pembaca blog ini juga merasakan spirit merayakan Ramadhan kami πŸ™‚

Di hari Jum’at (19 Juli 2013) Aa duduk takzim di aula KBRI Tervuren dan dengan tenang menyampaikan materi, “Keutamaan al-Qur’an”, kemudian disusul materi tentang, “Adab Membaca al-Qur’an”.

Keesokan paginya, masih dalam forum ‘Pesantren Keluarga Ramadhan 1434 H‘ yang digagas Kak Andi Yudha -pencipta kucing MIO kesayangan adik-adik pembaca- Aa membedah materi, “Nabi sebagai Pribadi Qur’ani (Kajian Sirah Nabawiyyah).”

Santri Family KPMI BELGIA 2013

Siang hari Pesantren Keluarga ditutup dengan keriaan khas Kak Andi, berupa pembagian piagam penghargaan satu-persatu untuk seluruh keluarga Indonesia maupun keluarga campuran. Saya sempat berinteraksi dengan keluarga Muslim Belgia-Indonesia dan keluarga Muslim Singapura, they are totally adorable families!

Kak Tiar gegas memacu mobil kembali ke Bambrugge, agar kami semua bisa lelap cukup nyenyak beberapa jam, sebelum sore harinya kembali lagi ke KBRI di Brussels untuk buka puasa bersama.

Aa Alhamdulillah kembali berbagi di hadapan 150an audiens -ada wajah Indonesia, Singapura, Malaysia, Maroko, Belgia, Prancis dan lain-lain- membahas banyak ayat yang berfokus pada, “Urgensi Mengingat Kematian.”

Senja itu mata saya basah. Betapa dekat kematian akan tetapi di saat yang sama betapa sibuk kita mengejar dunia dan melupakan kehidupan akhirat yang kekal selamanya.

“Kullu nafsin dzaaiqatul mauut.” Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.

Menurut hemat saya, Aa pandai mengelaborasi kematian. Rupanya tema ini sudah beliau kuasai dengan baik. 60 menit mengurai tema ini, Aa tampak rileks dalam menyampaikan ayat-ayat dan hadis terkait. Aa bahkan sempat menyisipkan pengendur ketegangan yang relevan dan audiens tertawa karenanya πŸ˜‰

***

Ramadhan Kami Berjalan, Belajar dan Berbagi

Senin hingga Kamis insyaAllah kami di rumah Kak L saja.

Aa asik menghabiskan jam dengan membaca tafsir yang terdapat dalam Maktabah Syamilah, sedikit bermain musik -di kamar kami ada organ- dan mengulang hafalan beliau. Sedang saya menyicil membuat pempek yang dipesan untuk kelompok pengajian di kota Hessel, Alhamdulillah ada pesanan 35 buah kapal selam.Thanks a bunch to Kakak L :p

Sesuai tulisan saya terdahulu, saya memang berniat memproduksi pempek untuk menambah-nambah biaya hidup kami sehari-hari selama di Eropa. Kami juga baru membeli tiket pesawat one way Jakarta-Brussels saja (sesuai dana yang ada di tabungan pribadi kami) dan belum mampu membeli tiket pesawat kembali ke tanah air.

Jika Aa sedang belajar me-Muhammad-kan dirinya, membaktikan dirinya untuk agama, maka saya ingin meng-Khadijah-kan diri saya, mendukung suami di jalan dakwahNya, insyaAllah.

Mohon doakan sepasang pengantin kelana ini, menghidupkan Ramadhan sekuat daya upaya kami, agar berkah perjalanan ini. Amin ya Rabb!

***

See You This Friday!

Teman-teman perempuan dan adik-adik remaja putri yang tinggal di seputaran Belgia, perbatasan Perancis, Belanda dan Jerman, yuk kopi darat dan hidupkan majelis ilmu dengan mengaji bersama kami.

Ini poster acaranya ya:

Image

Advertisements

Akhirnya Dapat Visa Schengen Setelah Dua Kali Ditolak!

Perjalanan Panjang Pengajuan Visa Schengen

Senja ibukota diguyur hujan seluruh penjuru…
Kami berdua dibalut haru…

Jika mengingat semua yang sudah terjadi, masyaAllah, begitu banyak yang harus kami ‘korbankan’ dan begitu banyak waktu yang kami curahkan, demi mendapatkan selembar visa Schengen yang ditempelkan di paspor kami.

Setelah membatalkan niat nekad mengajukan visa di Konsulat Belgia di Casablanca, Maroko dan memutuskan kembali ke Indonesia demi mengajukan aplikasi visa di tanah air, sejak itu pula kami memeluk harap sekaligus cemas; akankah visa kami di-approved oleh kedutaan Belanda?

Paspor saya memiliki catatan kelam sepulang dari UK awal tahun 2007. Sepanjang 2007 hingga pertengahan 2009 saya mencatat empat ‘kegagalan’; 2 kali penolakan visa UK, 1 kali penolakan visa Schengen melalui pintu Belanda dan 1 kali penolakan visa Schengen melalui pintu Jerman.

Continue reading

[PhotoBlog] Arah Kompas Berubah…

image

Semula, rencana awal honeymoonbackpacker.com adalah terus berjalan ke utara Afrika, menyeberangi Selat Gibraltar, menjelajah Andalusia (Spanyol) lalu turun ke bawah mendatangi Turki, Iran, India dan kembali ke Indonesia.

Kemarin malam sepucuk surat elektronik dari Belgia menyapa kami.

Isinya adalah mengundang kami berjalan hingga Belgia dan berbagi sepanjang Ramadhan di bumi Eropa πŸ™‚

Kami tentu saja sangat berbahagia!

Setelah itu tersadar dengan beberapa planning yang telah dirancang, kami berpikir ulang dan membalas surat elektronik tersebut dengan hati bimbang.

Malam ini sholat istikharah harus ditegakkan,
untuk menepis bimbang di hati,
dan berharap kemurahan rizki dari Sang Maha Pemberi,
agar langkah kami dimudahkan,
menuju negeri-negeri jauh,
untuk berbagi,
tentang kesemestaan ilahi!

Ya Rabbi,
Sahhil umuuriy!

~catatan senja di masjid Zaitouna~

Selamat Jalan Handuk Pink!

Mencari Handuk Pink

Seharian kemarin saya uring-uringan.

Awalnya bersemangat ingin segera mandi. Tentu segar dan nyaman untuk memulai menulis sebuah naskah untuk majalah / koran yang menjadi target kami.Β Akan tetapi semangat saya lindap seketika, kala mencari si handuk pink kemana-mana akan tetapi tak kunjung berhasil ditemukan!

Saya sempat mencarinya di selasar lantai dua rumah ini. Berharap ia saya jemur di pagar di depan kamar adik-adik mahasiswa, kala kemarin lusa gegas siap-siap mengisi pelatihan menulis ‘Creative Non Fiction Writing Class’ untuk ibu-ibu DWP KBRI Tunis.

Saya juga sibuk membongkar lipatan pakaian di pojok kamar. Ya, kami tidak memiliki lemari di tempat ini. Ruangan yang kami tempati sebetulnya adalah common room adik-adik mahasiswa Zaitouna University πŸ™‚

Emosi Melambung

Saya mulai mengomel.
Kesal karena handuk pink mungil itu belum jua berhasil saya temukan.
Aa diam saja. Asik dengan bacaan atau tulisan atau entah apa, duduk mencangkung di depan laptop kami.

Saya makin kesal.
Aa kok santai sekali. Padahal saya ingin diperhatikan sekaligus dibantu!

Bagi saya, si handuk pink lenyap ini sama pentingnya dengan lenyapnya kepedulian negara-negara Arab tetangga pada Syria yang sedang terus-menerus diobok-obok media jahat USA, agar mereka berhasil memborbardir Syria seperti dahulu mereka membombardir Libya! Eh, persamaan yang ini terlalu lebay ya? πŸ™‚

Saya sempat bertanya, “Aa lihat si handuk pink?”

“Kemarin bukannya sekalian kamu cuci?”

“Iya, aku cuci! Tapi kan Aa yang bantu jemurin.”

“Nah kemarin kamu angkat handuk itu gak?”

“Enggak. Aku gak lihat handuk itu sama sekali, A!”

“Yah, hilang mungkin. Jatuh atau terbang…” Mata Aa tetap asik ke laptop kami. Hhhh!

Saya semakin merasa kesal. Jujur saya kurang senang berbagi handuk meski dengan pasangan. Bagi saya handuk adalah salah satu barang paling privat! Bagaimana ceritanya jika akhirnya kami harus terus-menerus berbagi handuk?

Lagian handuk-handuk kami berukuran kecil dan tipis. Kalau dipakai bersama-sama, artinya akan cepat basah dan sial bagi si pemakai kedua, handuknya akan basah kuyup bahkan sebelum dilap ke tubuh yang basah.

Ah, I don’t like this!
Saya tahu, wajah saya mulai cemberut.

Mengail Handuk!

Saya memutuskan naik ke atap kembali. Siapa tahu mata saya kurang awas. Siapa tahu cuma ketelingsut?

Rumah yang kami tempati tipikal rumah lama, bertingkat dua hingga tiga. Lantai teratas adalah atap datar dari semen, sekaligus dijadikan tempat untuk meletakkan jemuran dan parabola.

Deg!
Saya seketika merasa lemas kala sampai di atas.

Angin menampar-nampar tubuh. Jilbab saya berulang menutup wajah. Berkibar ke segala arah, padahal saya sedang mengenakan jilbab kaos cukup tebal dan berat.

Kemungkinan besar handuk itu lenyap ditiup angin kala kami menjemur sehari sebelumnya.
Bukankah tadi malam angin bertiup sangat kencang? Bahkan tubuh kami saja seperti didorong angin bahkan saat tidak melangkah. Angin di pesisir Mediterania memang bukan main kencangnya!

Saya mencoba melompat-lompat ke setiap sisi tembok. Berusaha menemukan si handuk, kemana ia diterbangkan oleh sang bayu?

Setelah melompat-lompat di beberapa sisi tembok dan si handuk tidak kunjung saya temukan, saya terdiam cukup lama. Merasa resah sekaligus heran, kenapa saya bisa sebegininya kehilangan selembar handuk tipis dan sudah berumur?

Cukup masuk akal kah saya bersikap seperti ini?

Saya terduduk…
Lemas rasanya…

Kenapa saya bisa sesedih ini kehilangan selembar handuk tipis sederhana?
Padahal kami bisa membelinya di sini, meski mungkin kami harus mengalah untuk tidak masuk restoran manapun setelahnya. Bagaimanapun, backpack kami sejak semula memang sangat hemat! Dana kami terbatas, sedang negara yang ingin kami kunjungi tak berbatas!

Sejak dari Indonesia, kami hanya membawa beberapa potong pakaian, agar kami tidak direpotkan dengan barang bawaan, ditambah postur mungil tubuh kami masing-masing, yang tentu saja akan kelelahan jika harus menggendong ransel berukuran besar.

Kenapa kami tidak membawa koper tarik saja? Muat lebih banyak dan praktis kan. Saya waktu itu merayu Aa untuk tidak membawanya, karena akan merepotkan saja, terutama kala harus berlari dan melompat masuk ke dalam tubuh kereta. Terbukti terjadi, kala kami harus menjemput sebagian koper teman-teman peserta “MB Egypt Trip” tempo hari. Ransel lebih mudah dilempar, tapi koper akan rusak kalau dilempar-lempar!

Tahu-tahu Aa sudah berdiri tegak di sisi saya.
Saya merasa speechless. Kehilangan kata-kata!

Saya akhirnya berucap lirih, entah Aa mendengar atau tidak.

“Aku sayang handuk itu, A. Dia menemani kita dua bulan terakhir ini. Barang kita tidak banyak. Aa hanya membawa 4 lembar kaos dan 2 celana, sedang aku hanya membawa 5 tunik dan 2 celana. Handuk pink dan kuning adalah penyempurna bawaan kita. Si pink baru saja aku cuci kemarin, sekarang dia sudah hilang entah kemana…”

Aa menyahut, “Handuknya jatuh ke rumah sebelah tuh!”

Eh, apa?
Berarti masih ada harapan untuk diambil?

“Di mana A?”

Santai Aa menunjuk ke arah tembok sebelah. Telunjuknya agak turun. Saya segera menuruni anak tangga, mengira si handuk jatuh ke lantai dua.

“Maksudnya di mana sih?” Saya mendongak dan berteriak tak sabar. Gusar.

Aa mengajakku naik ke lantai 3 kembali.

Mataku akhirnya menemukan handuk itu.
What a big relief!
Rupanya si handuk terjun bebas dari lantai 3 tempat kami menjemur pakaian ke atap rumah tetangga sebelah. Angin kemarin lusa luar biasa kencang. Rasanya menyesal tidak menjemur cucian di dalam ruangan tanpa pintu di sudut atap ini! 😦

Aku langsung ribut turun ke lantai bawah, meminjam hanger besi pada Ridho, salah satu adik mahasiswa. Aa mencari tali serupa tali kail, kemudian hanger besi diikatkan di ujungnya.

Handuk pink itu terlihat pasrah tergeletak di atas atap sebuah rumah tua tanpa penghuni.

Aa mulai beraksi, mencoba mengais-ais si handuk agar mendekat dan aku sibuk berdoa.

Handuk sempat mendekat, tapi angin tadi siang terlalu kencang! Handuk akhirnya justru semakin menjauh dari jangkauan dan…,Β tlek! Tahu-tahu si hanger besi juga lepas dari tali. 😦

Rasanya ada yang mencelos, lepas dari genggaman.
Entah kenapa saya bisa merasa sesedih ini.
Rupanya saya merasa begitu terikat pada barang-barang yang kami bawa, meski sesederhana apapun barang tersebut.

Ah, padahal saya pernah berujar di salah satu percakapan di socmed, “Kami adalah petualang yang belajar untuk berjalan tanpa berbagai kenyamanan.

Kami belajar melepaskan diri dari seluruh benda keduniawian.

Bukankah berjalan meninggalkan rumah secara fisik artinya belajar melepaskan kecintaan pada seluruh kebendaan?

Ketika berjalan, raga dan jiwalah yang akan tetap bersama kita. Rumah, kendaraan, perhiasaan dan seluruh benda-benda semuanya tidak akan kita bawa karena akan memberatkan ransel kita.

Bukankah jendela hati dan pikiran akan ringan terbuka kala kita kosongkan beban diri? Ibarat gelas, kosongkan ia, agar bisa menampung banyak airmata hikmah di sepanjang perjalanan nanti.

Bukankah semesta asing akan mudah kita serap, adaptasi dan cerna kala kita tidak banyak membawa dugaan, sterotype dan asumsi-asumsi?”

Ah Ima!
Rupanya kamu belum naik kelas dalam perjalanan ini.

Hanya karena masalah sangat sepele mood saya dropped. Saya akhirnya batal menulis naskah perjalanan untuk koran. Saya bahkan sempat marah pada Aa yang tidak gegas mengangkat jemuran (sebelum badai angin mengamuk tadi malam).

Selembar handuk tipis -seharga delapan belas ribu rupiah yang dibeli Aa di Alfamart Cipanas, nyaris setahun lalu- melayang ditiup angin Tunis yang sangat kencang dan berhasil menghilangkan kejernihan berpikirku!

***

Saat kisah ini saya tuliskan, saya sudah bisa berdamai dengan diri dan menertawakan sikap emosional saya tadi siang πŸ™‚

Hikmahnya saya bisa menulis sepanjang ini, lega rasanya.
Ini semacam solilokui untuk si handuk pink.

Sayonara pinky! πŸ™‚

Dua Hari di Tunis!

Menginap di Apartemen Mahasiswa Makalzaim

Setelah mendarat di Aeroport De Tunis Carthage pada tanggal 13 Mei 2013 pukul 22.55 waktu setempat, malamnya kami langsung diboyong ke salah satu apartemen sekelompok mahasiswa. Sedikit silaturahmi lalu dipersilahkan beristirahat di kamar yang sudah disediakan πŸ™‚

Ada satu kamar kosong diperuntukkan bagi kami.Β Kamarnya wangi, bersih dan ‘minimalis’ (Alhamdulillah ada kasur, bantal dan selimut). Nyaman untuk kami tempati, Alhamdulillah πŸ™‚ Lebih nyaman lagi, kamar ini disediakan gratis untuk kami, terima kasih banyak untuk Kang Dede dan Zulfikar yang telah mengusahakan yang terbaik untuk kami.

9

Allah Maha Membalas!
Jazakumullah khairul jazaa’!

Esok paginya, saat aku membuka mata, Aa menunjukkan tisu terciprat darah. Ternyata beliau sudah membunuh 4 ekor kepinding! Hahaha, tidak di Tunis tidak di Cairo, setiap menginap di rumah mahasiswa, entah kenapa selalu disapa kepinding untuk hari-hari pertama, sepertinya salam perkenalan dari penghuni termungil di rumah tersebut. πŸ˜€

Mulai Menjelajah!

Hari Selasa (14 Mei 2013) siang kami sudah menjelajah old town -di sini disebut Medina, luasnya kurang lebih 1 km persegi. Setelah jamuan makan siang nikmat khas Indonesia di rumah indah yang ditempati Kang Dede Ahmad Permana, beliau beserta Teh Beth dan ananda Keira menemani kami berkeliling old town. Setelah menyusuri sekian banyak landmark dan bangunan tua, berlima kami mampir menguluk salam dua buah masjid tua, salah satunya adalah masjid agung Zaituna, salah satu masjid tertua di Afrika. Masjid Zaituna dibangun tahun 732 M oleh gubernur bernama Ubaidillah bin al-Habhab, pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah.

Masjid Zaituna tampak anggun, dilapisi batu-batu bertonjolan berwarna coklat kemerahan, cantik dan klasik! Tiang-tiangnya saling melengkung, serupa pintu tanpa daun pintu. Suasana di dalam jauh lebih bercahaya, karena disinari ratusan lampu kristal yang dinyalakan bersama-sama.

10

Aura masjid ini tentu berbeda dengan masjid Al Azhar yang lebih tersohor dan diramaikan dengan aneka kuliah, ceramah dan halaqah-halaqah, masjid ini jauh lebih sepi. Akan tetapi masjid ini sama memesonanya dengan masjid Al Azhar, terutama jika kita kembali belajar sejarah dan timbul-tenggelamnya sosok masjid tua ini. Yang pasti, masjid ini telah menjadi saksi bisu kala presiden pertamaΒ Habib BourgibaΒ berkhotbah untuk sholat Jum’at sembari mengeluarkan statemen ‘peminggiran Islam dari ruang publik‘ dengan retorika sangat liar dan sekuler!

Saya merinding seketika kala Kang Dede dengan lancar menceritakan pasang surut dan kisah sedih ‘ditolaknya Islam’ justru di negeri dengan mayoritas muslim 99% dari jumlah penduduknya! Sepertinya saya membutuhkan satu bab khusus menuliskan sejarah panjang Zaituna dalam konstelasi politik penuh gelombang di negeri yang terus bergejolak ini!

Saya dan Aa memutuskan akan kembali ke masjid ini, mengingat lokasinya hanya berjarak kurang lebih 1.5 km dari apartemen mahasiswa tempat kami menginap, insyaAllah ingin menunaikan sholat di sana πŸ™‚

Sebelum sampai kawasan Medina dan masjid Zaituna, kami melintasi beberapa gedung pemerintahan.

11

Bisa dibilang, jejak-jejak Perancis dan Islam klasik menyentuh berbagai landmark ibukota Tunis ini. Memanjakan mata yang sudah 1.5 bulan tinggal di Nasr City -kawasan kelas menengah ke bawah di kota Cairo dan menurut hemat saya merupakan proyek pengembangan kota Cairo setengah hati, karena konon kabarnya Nasr City sempat digadang-gadang akan menjadi kota hijau, tapi faktanya justru kering kerontang, masiih kalah jauh dengan kawasan elit Ma’adi dan Zamalek 😦

Sudah Dua Kali ‘Berdansa’ di Dapur Mahasiswa

Kami berterima kasih karena diinapkan di rumah tua dan ‘nyeni’ yang dihuni oleh adik-adik mahasiswa Zaituna University.

Sebagai ucapan terima kasih, kemarin siang dan malam, saya memasak dua kali untuk menu lunch dan dinner adik-adik, yaitu gulai tahu (tahu yang langsung kami bawa dari Cairo, terima kasih pada Mbak Anis sekeluarga!), ayam terong, perkedel kentang dan sambal matah. Sepertinya adik-adik mahasiswa sangat menikmati menu tersebut πŸ™‚

Rasanya menyenangkan bisa makan bersama-sama. Guyub penuh kekeluargaan πŸ™‚

Setelah belanja ke pasar tradisional di sini -kemarin pagi hujan rintik-rintik, pasarnya agak becek, sama saja dengan di Indonesia- kami berdua menyimpulkan, biaya hidup di ibukota Tunis tidak berbeda jauh dengan biaya hidup di Jakarta.

pasar

Resep abadi hidup murah ala backpacker adalah, belanja di pasar dan masak sendiri, dijamin biayanya sama saja dengan biaya hidup di ibukota Jakarta!

Sebagai contoh;

1 ekor ayam berukuran sedang di pasar Tunis dihargai 5 Dinar (1 Dinar = 6000 rupiah)

1 ekor ayam berukuran sedang di pasar Ciganitri Bandung dihargai 32 ribu rupiah. Bahkan jatuhnya lebih murah 2000 perak kan! πŸ™‚

P1360853

Wisata Kuliner di Old Town

Kemarin sore -setelah berhasil menarik uang di salah satu ATM di lorong Medina- saya merayu meminta dibelikan es krim yang menurut feeling saya adalah gelato!

Gelato adalah es krim khas Italia. Pertama kali berkenalan dengan gelato kala saya mengunjungi Italia saat backpack menjelajah Eropa untuk yang kedua kalinya, tahun 2006 lampau πŸ™‚

Setelah dibelikan Aa -saya hanya meminta satu scoope saja dan dihargai 1300 milim (sama dengan 1.3 Dinar Tunis, atau setara 8000 perak) dan diserahkan ke tangan, saya gegas menjilat dan berdecak seketika!

“Benar kan A! Ini bukan es krim biasa. Es krim biasa itu persentase udara yang dimasukkan cukup tinggi, sehingga teksturnya ringan dan lembut di lidah, tapi entah kenapa aku lebih suka es krim ala gelato ini, teksturnya lebih padat dan ada rasa intens di lidah kala dikulum.”

Saya tersenyum lebar dan merasa puas, akhirnya menemukan ‘gelato’ di kawasan Medina πŸ˜€

CroissantΒ dan Malawi ala Tunis!

Selasa malam, kami ditraktir jajanan tradisional khas Tunisia, namanya Malawi.

Malawi ini sejenis roti canai di Malaysia, akan tetapi berbentuk segi empat. Kemudian si roti ini diolesi sejenis saus dua jenis (saya menduga campuran tomat, cabe, bubuk oregano / thyme dan minyak zaitun), kemudian keju ditipiskan di atas roti tersebut, disusul toping sesuai selera kita; telur dadar, telur rebus, salami, dll. Terakhir, roti ini digulung seperti menggulung roti tortilla ala KFC. Kemudian dibungkus kertas roti! Hangaaat di tangan πŸ™‚

Rasanya?
ENAKKK!
Asli enak! Sepertinya ini akan jadi salah satu menu favorit kami berdua selama di sini. πŸ™‚

Porsinya?
Raksasa untuk perut asia seperti kita, hehehe πŸ™‚

Saya dan Aa sama-sama dibelikan Malawi satu porsi komplit berisi keju, telur rebus, telur dadar dan daging salami, tapi akhirnya 1 porsi kami simpan dan kami hanya sanggup menghabiskan satu porsi saja πŸ˜€

Hari Rabu, kami berdua beriringan membelah lorong-lorong kota. Kami ingin berbelanja di pasar tradisional yang terletak tidak jauh dari rumah yang kami tumpangi. Faktanya langkah kaki terhenti kala mata saya tertumbuk pada toko ‘Patessirie – Croissant’ di pertigaan jalan πŸ™‚

Saya nyaris melonjak. Girang tentu saja! Rasa kangen saya pada roti khas Perancis bernama croissant akan segera terobati.

Satu buah croissant isi apa saja dihargai 300 milim!
Berarti hanya sekitar 1900 rupiah saja!
Murah ya πŸ™‚
Padahal ukuran croissant-nya cukup besar dan mengenyangkan untuk sekadar sarapan πŸ™‚

Ah, we’ll love Tunisian’s food! πŸ™‚

***

Salam romantis dari Tunis! πŸ™‚

Good Bye Egypt, Hello Tunis!

Meninggalkan Cairo Kala Senja

Kemarin siang, hujan debu kembali mengguyur Cairo, sama persis seperti 22 Maret 2013, kala kamiΒ landingΒ di kota Cairo. Kami seakan disambut sekaligus diantar pulang oleh kekuatan semesta! Perasaan dramatis seketika melingkupi kala saya saksikan langit Cairo berubah warna debu, coklat-orange-kemerahan! Luar biasa dramatis!

Setelah hujan debu berakhir dan udara kembali bersih, kami memutuskan berpamitan pada Adinda Eva. Menyalami dan memeluknya sembari mengucap doa, “Mudahan Allah pertemukan kita di lain kesempatan, InsyaAllah!”

Matahari semakin condong ke barat kala taksi yang kami tumpangi memasuki Cairo International Aiport. Bandara yang sanggup menampung jutaan penumpang mancanegara ini tampak lengang, sepertinya hujan debu yang cukup lama berlangsung tadi siang membuat orang-orang enggan keluar-masuk bandara.

Sinar matahari yang condong ke barat dan warna langit jingga menghadirkan rasa ngelangut dalam hati, rasa enggan menemukan wajah dramanya, dalam panggung senja!

Saya dan Aa bergantian saling jepret, lalu Aa menjauh mendatangi salah satu departure hallΒ untuk memastikan di mana check in Tunis Air berada, mengingat bandara ini cukup luas untuk membuat kita salah masuk departure hall.Β πŸ™‚

P1360400P1360402

P1360399

moment berdua kala senja di Cairo International Airport

Wajah sahabat-sahabat terbaik dan maha menolong tampil bergiliran dalam benak saya; Kang Cecep, Ahmad Kohla, Mahmud Siwi, Haji Umar (those are Egyptians), Bang Syamsu, Pipit, Mbak Elly, Mas Ismail, Adik Iqsas, Eva, Abang Rohmat, Shohib, Furqon, Linggha, Mush’ab, Dana, Mbak Anis, Mang Pian dan lain-lain.

Ah, mereka adalah harta terbaik kami selama di Mesir!
Sepertinya, kehadiran merekalah yang membuat kami feel at home dan berat hati meninggalkan Cairo πŸ™‚

We owe you, guys!

Jika orang lain menikmati perjalananΒ dengan mendatangi sebanyak-banyak tempat, maka kami tak sekadar menikmati destinasi, kami jauh lebih menikmati destinasi yang diperkaya interaksi!

Perjalanan kami selama 1.5 bulan di Mesir terasa begitu kaya sekaligus ‘sempurna’, karena dikelilingi teman lama dan baru yang berinteraksi dengan kami bagaikan saudara kandung mereka sendiri!

Terima kasih untuk kalian semua, terima kasih wahai Maha Perekat Hati, Engkaulah yang memungkinkan ini semua!

Jujur, saya dan Aa meninggalkan Cairo dengan hati bergelombang!

Bukan hanya karena terpautnya hati kami pada sahabat yang kami sebutkan di atas, akan tetapi memang terasa berat berpisah dengan kota sarat sejarah Mesir kuno dan Islam klasik ini.

Hati kami terbuhul pada seluruh paradoks di negeri berdebu ini.
Mesir adalah panggung anak cucu Fir’aun sekaligus Musa!
Mesir adalah rumah raksasa nan riuh yang kerap menimbulkan rasa kesal, sekaligus dirindukan kala kita pulang ke rumah kita sendiri.

Benci-benci rindu, rindu-rindu benci, ekspresi yang tepat rasanya disematkan untuk negeri ini πŸ™‚

Saya pribadi merasakan rindu dan sedikit benci menyublim dalam jiwa kala membincang paradoksal negeri ini, terutama saat teringat kelakuan para lelaki Mesir tak berpendidikan, yang kencing di sembarang tembok, seakan seluruh tembok yang ada di negeri ini adalah WC raksasa πŸ™‚

Masih banyak lagi hal paradoks yang biasa kami temui dan ajaibnya justru menyempurnakan ‘ketidaksempurnaan’ negeri tua ini! πŸ™‚

Aa bahkan sempat menulis status di Facebook seperti ini,

Alhamdulillah, setelah melewati lika-liku yang panjang; sempat disuruh datang lagi bukroh karena terlambat–padahal hari itu Kamis. Jadilah ba’da bukroh (lusa)–; sempat sakit radang tenggorokan plus demam beberapa hari hingga tidak bisa kembali ke mogamma segera, akhirnya perpanjangan visa mesir yang kami ajukan Ke Mogamma 2 Mei silam, kini telah selesai.

Rasanya campur aduk…

Senang, karena urusan birokrasi-administrasi (terutama visa sebagai legalitas izin tinggal) dengan Mesir telah usai.

Sedih, karena lagi-lagi nuansa keagamaan yang kental, kesederhanaan yang mengakar, sumber dan tradisi keilmuan yang semarak, dan keramahan sebagian besar penduduk lokal –terutama yang kami temui secara dekat– di Bumi Kinanah ini selalu memesona hati kami. Hingga seolah derap kaki ini enggan beranjak melangkah berpisah.

Terlebih jika sudah berjalan menyusuri lorong-lorong toko buku belakang Al-Azhar seperti yang saya lakukan siang tadi. Aura pesona buku-bukunya yang bergerak rutin dan dinamis membuat raga enggan berpindah.

Namun, di manapun berada, eksistensi kita (sejatinya) adalah fana, selama ada di kolong langit dunia, karena kita adalah pengembara (‘abirussabil) saja.

‘Kun fiddunya kaanaka ghariib, aw ‘abiru sabiil’.

Jadilah kamu di dunia ibarat orang asing atau pengembara. Jika kamu berada waktu pagi, sekali-kali jangan menunggu waktu sore. Jika berada waktu sore, jangan pula menunggu waktu pagi. Manfaatkanlah masa sehatmu untuk bekal masa sakitmu, dan masa hidupmu untuk bekal matimu.’ Demikian pesan Umar bin Khattab ra.

Berat meninggalkan Mesir, tapi kami harus terus melangkah, jika ingin terus belajar pada semesta!

Kami tidak boleh merasa terlalu nyaman di satu tempat, sehingga perjalanan kami terhenti. Honeymoon BackpackerΒ sejak semula memang direncanakan mendatangi 4-5 negara berdekatan (supaya lebih hemat).

Backpacking kami harus dilanjutkan, senyampang berdekatan. Backpack dengan cara merambat -tidak meloncat zigzag insyaAllah akan jauh lebih murah untuk kami, daripada hanya mendatangi Mesir saja dan kembali ke tanah air, kemudian di tahun berikutnya pergi lagi ke negara Middle East atau Afrika lainnya!

P1360483

pemandangan malam Kairo dari angkasa

Bagi kami, perjalanan ini tidak sekadar menyegarkan pernikahan, tapi sekaligus belajar (banyak hal) dan berbagi sembari berjalan.

For us, backpacking is learning from Universe!

***

Leaving Egypt for Tunis!

Pagi kemarin kami agak tergesa kembali ke Saqr Quraisy, karena sehari sebelumnya kami masih menginap di rumah Mbak Ellys, bidadari padang pasir nan baik hati πŸ™‚

Untungnya barang kami tidak banyak!
Nikmatnya membawa HANYA dua ransel berukuran kecil dan sedang adalah, kami tidak kerepotan dan membutuhkan banyak waktu mengepak barang-barang. πŸ™‚

Alhamdulillah tidak hanya baju – 9 atasan, 3 celana dan pakaian dalam secukupnya- yang berhasil kami masukkan dalam ransel, saya dan Aa juga bisa membawa tahu titipan oleh-oleh Mbak Anis dan suami untuk Kang Dede dan kawan-kawan mahasiswa di sini πŸ™‚

Jujur, saya sempat membongkar ransel beberapa kali, karena bingung di mana harus menjejalkan si tahu ini. πŸ˜€

Setelah suami Mbak Anis memberitahukan bahwa tempo hari ada yang berhasil membawa tahu ke kabin pesawat dan melewati pemeriksaan di bea cukai Tunisia, saya bernapas lega, karena kami benar-benar tidak dicegat dan diizinkan melenggang kangkung memasuki Tunisia bersama si tahu made in Mang Pian.

Sepertinya nanti malam menunya gulai tahu nih! πŸ™‚

Menyesal tidak membawa sedikit kelapa kering ala Mesir, kalau tidak bisa segera membuat gulai tahu! πŸ™‚

Di Tunis sini ada yang jual kelapa kering atau santan tidak ya?
Di Mesir soalnya tidak ada santan instan sejenis Kara! πŸ˜€

***

AEROPORT DE TUNIS CARTHAGE!

Akhirnya, setelah proses berliku dan berminggu-minggu, melibatkan teman-teman PPI Tunisia, beberapa rekan staf di KBRI Tunisia dan KBRI Cairo, berkah semesta mendukung memungkinkan kami menjejak negeri asing satu ini. Sepertinya Tunisia juga sangat jarang dikunjungi pelancong Indonesia!

Bagaimana tidak asing untuk kami, informasi pariwisatanya saja susah ditemukan kala di-googling! Bahkan, seorang adik berujar, “Mbak mau lihat apa di Tunisia, Gak ada apa-apa loh di sana itu!”

Selain itu, informasi harga visanya saja berbeda-beda. Saya dibuat pusing karenanya! πŸ™‚

Jika bukan karena sudah terlalu jauh melangkah -dengan membeli tiket Tunis Air sejak di tanah air- dan uluran bantuan dari pihak KBRI Tunisia dan KBRI Cairo, kami nyaris memutuskan tidak melanjutkan perjalanan ke Tunisia.

Makanya kami sempat syok kala mengetahui harga visa Tunis luar biasa mahal, mengalahkan visa Schengen! Satu buah visa Tunis dihargai 950 Le atau nyaris setara 150 US dollar! MasyaAllah, 2 harga visa Tunis semahal itu sebetulnya sebagiannya akan kami pergunakan untuk biaya backpack -beli bahan makanan, transportasi publik dan tiket masuk aneka destinasi- akan tetapi justru disedot habis untuk mendapatkan dua buah visa turis ke Tunisia, ckckck…

Terlanjur basah, kami memutuskan meneruskan perjuangan sampai titik darah penghabisan -si Ima mulai lebay- Alhamdulillah, tadi malam rupanya Allah memang menakdirkan kami untuk menjejakkan kaki di Aeroport Β De Tunis Carthage! πŸ™‚

***

Kesan Pertama Tentang Tunisia

Kala Tunis Air mendarat mulus, seluruh penumpang bertepuk tangan, riuh rendah! πŸ™‚ Seakan baru saja selesai menonton opera terbaik di akhir zaman πŸ™‚

Ya, rupanya tradisi bertepuk tangan saat pendaratan berjalan mulus ini memang selalu dilakukan penumpang dari Timur Tengah atau Afrika Utara, dan ini bukan yang pertama kalinya saya temui. Seperti itulah ekspresi tulus mereka menghargai pak pilot yang sudah bekerja keras mengemudikan pesawat! πŸ™‚

Ssst, kami akhirnya bisa membedakan penumpang asli Tunisia dengan penumpang bukan orang Tunisia -mungkin dari Mesir atau negara tetangga lainnya; perbedaan mencolok adalah fisik mereka!

Bentuk wajah orang Tunisia lebih tirus. Hidung mereka mancung dan bangir! Berbeda dengan hidung orang Mesir, cenderung besar. πŸ™‚

Tubuh para perempuan -tua sekalipun- cenderung ramping, langsing! Laki-lakinya juga berperut tidak gendut! Sedang para perempuan berusia senja tampak kokoh karena tidak kegemukan dan kepayahan, sangat berbeda dengan perempuan-perempuan Mesir yang sudah menikah, passtiii melebar kemana-mana, hehehe πŸ™‚

P1360509

Begitu kami keluar dari perut pesawat, kami mulai melihat perbedaan nyata bandara Tunis dengan bandara Cairo!

Jika di bandara Cairo, kita akan dirubung beberapa polisi dulu sebelum diizinkan melewati pintu pemeriksaan imigrasi dan keluar bandara, sedang tadi malam kami cukup mengisi kartu imigrasi dan menyelipkannya di dalam paspor berisi visa Tunisia. Hanya butuh beberapa menit pengecekan, kami diizinkan melewati pemeriksaan imigrasi. Sangat efisien, sebagaimana bandara-bandara negara maju lainnya πŸ™‚

Kami berjalan pelan-pelan.
Menikmati selimut keterasingan…

Perlahan, saya mulai menyaksikan sentuhan Eropa di sana sini. Arrival hall tampak simpel, modern, bersih. Bahkan lantai yang kami injak memantulkan cahaya lampu karena sangat mengkilat πŸ™‚

Saya memutuskan langsung ke kamar mandi. Ahai, kamar mandinya modern serba otomatis. Tidak ada ceceran sampah, apalagi bekas tinja, seperti yang biasa kita temui di toilet-toilet di Mesir. Intinya, kebersihan bandara secara umum di Mesir dan Tunisia berbeda 180 derajat!

P1360554

Membandingkan beberapa bandara internasional yang pernah saya kunjungi membuat saya menyimpulkan hal ini, tampaknya bandara utama setiap negara bisa dipakai untuk merepresentasikan karakter sebuah negara. πŸ™‚

Setelah melewati lorong bertuliskan ‘nothing to declare‘ karena kami memang tidak membawa benda-benda terlarang, kami melihat dua wajah khas Asia Tenggara! Meski saya tidak sedang menggunakan kacamata minus 2, saya bisa memastikan dua orang itu adalah teman-teman mahasiswa yang menjemput kami! πŸ™‚

“Aa, itu pasti Zulfikar dan Kang Dede!”

Kami berdua melambaikan tangan. Mereka menghampiri dan menguluk salam, “Assalaamu’alaikum. Selamat datang di Tunis, Mbak Ima dan Kang Risyan. Welcome to Tunis, Honeymoon Backpacker!

P1360556P1360564

***

Kopi Darat yang Hangat :)

Beberapa teman menanyakan, “Imazahra ada di mana, kok terakhir ‘cerita-cerita’ Kamis lalu, biasanya rajin posting atau nge-status di facebook!?”

Hehehe…
I could be anywhere πŸ™‚

Alhamdulillah, Allah itu Maha Baik, Ia perjalankan saya ke banyak tempat, bahkan melalui ‘pertemuan-pertemuan’ tak direncanakan sama sekali. πŸ™‚

Sejak menjejak Cairo 1.5 bulan lalu saya memancangkan niat, jika ke Cairo kembali saya ingin melihat ‘less famous pyramids’ dari Old Kingdom, yaitu piramid di Dashour -Red pyramid dan Bent pyramid- dan Saqqara pyramid di Saqqara.

Mimpi ini akhirnya terwujud dengan caraNya yang sangat manis dan tak terduga! πŸ˜‰

Setelah Kamis lalu menginap dan bercengkerama sepuasnya di rumah ‘saudari lama’ baik hatiΒ Pipit KartiniΒ di Dokki, juga menyempatkan bersilaturahmi dengan TehΒ Lulu SunmanΒ beserta keluarga, keesokan harinya saya dan AaΒ Risyan NurhakimΒ dijemput MbakΒ Ellys PurwandariΒ beserta suami beliau Mas @Ismail untuk menjelajah piramid-piramid yang saya sebut di atas!

Bahkan kopi darat pertama kami berbonus kunjungan ke Memphis, menyaksikan si Ramses II ‘tertidur’ di sisi saya, hehehe πŸ˜‰

Hmmm, banyak sekali yang ingin saya tuangkan di sini, tentang betapa luar biasanya rencana Allah (melampaui) rencana manusia, tapi nanti saja ya, mungkin akan ditulis kisah detilnya di buku yang akan datang πŸ™‚

Andai visa Tunisia saya di-approved sebelum 21 April lalu -saat tiket pesawat menuju Tunisia belum dibatalkan- maka sejak kemarin tidak akan pernah ada cerita kami menginap di ‘Rumah Ceria’ Mbak Elly πŸ˜‰

Andai visa Tunisia saya di-approved sebelum 21 April lalu, maka hari ini tidak akan pernah ada cerita saya memasak pempek kapal selam, kulit, lenjer dan tekwan di dapur apik beliau πŸ˜‰

Andai visa Tunisia saya di-approved sebelum 21 April lalu, maka saya belum akan sampai ke Dashour dan Memphis! πŸ˜‰

Maha Suci Ia!
***

Thanks to someone who already became ‘our mediator’ so we befriended from now on πŸ˜‰