Sewa Rumah di Rabat

Akhirnya sampai pada titik harus segera meninggalkan kamar kos di sudut ibukota Maroko.

Besok InsyaAllah, atap pertama kami yang jadi saksi sepanjang memancangkan niat dan ikhtiar mendaftar kuliah si Aa di negeri senja akan ditinggalkan.

Seharian tadi kami semangat mencuci rumah (seperti adat orang Maroko dalam bersih-bersih rumah).

Sejenak terlintas haru saat menatap kamar kos. Kamar yang telah merekam semangat, rinai doa di sepertiga malam, keputusasaan, kesedihan, kebahagiaan kecil, turbulensi rasa, lonjakan harapan, tetes airmata, romansa sepasang jiwa hingga drama bertetangga dalam satu apartemen. Pengalaman pertama yang lengkap!

Masa sewa kamar luas dan panjang berukuran 3.5 X 6.5 meter yang telah kami huni sejak 28 Agustus 2015 ini berakhir besok.

Kami sengaja bayar bulanan, agar mudah angkat kaki jika memang situasi menuntut seperti itu.

Sejak awal memutuskan berjuang mendaftarkan kuliah si Aa, kami sudah diperingatkan beberapa orang tentang panjangnya proses pendaftaran kuliah di Maroko.

Jangan bayangkan proses pendaftaran kuliah program master dan doktoral sesederhana proses mendaftar di Eropa atau Amerika ya.

Berdasar pengalaman saya mendaftar kuliah master di Inggris pada tahun 2004, saya cukup mengirimkan beberapa email ke univeritas target yang saya inginkan, berkomunikasi dengan professor untuk membimbing tesis saya nantinya dan bersamaan dengan itu memulai proses pendaftaran online.

Yup! Dua belas tahun lalu di bumi Eropa sudah bisa mendaftar kuliah secara online. Semua berkas cukup discan lalu dikirimkan by email. Jika diterima, kampus akan mengeluarkan ‘Letter of Acceptance’ dari departemen / fakultas yang kita tuju.

LoA ini adalah surat sakti yang bisa digunakan untuk apply visa sekaligus. Jika visa granted, maka mahasiswa dipersilahkan menuju kampus yang dituju. Hassle-free!

Simpel, ringkas, mudah dan tidak membuang biaya belasan hingga puluhan juta. (Pesawat, sewa rumah atau kamar, biaya hidup selama proses mendaftar dan seterusnya!)

Jangan harapkan kenyamanan serupa di negara-negara Arab. Meski Maroko secara geografis letaknya di ujung Afrika Utara dan sudah sangat dekat dengan Eropa Selatan, attitude mereka tetaplah ‘Arab’!

Bersiaplah untuk sabar bolak-balik mengurus surat pengantar ke KBRI Rabat.

Setelahnya hunjamkan kembali rasa sabar mengecek berkas di AMCI (Aa sendiri menjalani 16 kali bolak-balik). Belum selesai!

Panjangkan lagi sabarmu mengecek berkas ke Ta’lim Aliy (Dikti Maroko) untuk memastikan berkas tidak lenyap di tengah jalan(Aa bolak-balik 7 kali hingga dipastikan berkas sudah terkirim ke kampus yang dituju).

Sudah selesai?

Belum. Terus lah bersabar mengawal berkas ke rektorat kampus tujuan, kawal terus berkas saat berjalan ke kepala dekan, ketua jurusan lalu kembali ke Rektorat.

Sudah?

Belum. Sabar, sabaaar! 🙂

Tambahkan kembali si sabar saat berkas masuk lagi ke Ta’lim Aliy.

Terus pupuk sabar hingga akhirnya keluar surat sakti bernama Rukhshah dari AMCI (lembaga bentukan Kemlu Maroko khusus mengurusi mahasiswa asing). Dengan rukhshah inilah si Aa nantinya membawa ke kampus untuk meminta diterbitkannya nomor registrasi mahasiswa ‘paling’ resmi!

Sudah kah Aa dapat rukhshah?
Belum juga dear pembaca.

Doakan ya supaya rukhshah si Aa secepatnya keluar karena musim ujian telah menjelang!

Sebelum hidup di Maroko dengan tujuan menuntut ilmu, kami tak pernah menyangka jika urusan mendaftar saja memakan waktu berbulan-bulan. Dua kali menjejak Maroko kami bahagia. Pasalnya kami adalah backpacker yang tak berurusan dengan birokrasi. Kami sekadar menikmati keindahan warisan budaya Islam klasik dan artefak sejarah padang pasir. Selebihnya kami miskin pengalaman hidup di Maroko!

Beberapa kasus pendahulu kami yang berburu ilmu, mereka malah menjalani proses setahun lebih. Datang ke Maroko, terlunta-lunta dalam birokrasi yang tak ramah hingga dipaksa keadaan pulang ke tanah air lalu kembali lagi setelah mendapatkan kuota departemen agama di Indonesia. Kapan-kapan si Aa ceritakan ya.

Jika proses pendaftaran kuliah di Maroko belum tuntas, kenapa kami pindah?

Kami bukan pasangan yang mudah bosan. Kami terbiasa prihatin, menekan rasa dan bertenggang hati dengan tetangga kamar. Buat kami prihatin wajib dalam masa mendaftar dan beasiswa juga belum turun.

Kami hanya sanggup sewa satu kamar di ibukota Rabat karena saking mahalnya sewa rumah di Rabat!

Sepanjang hasil penelusuran kami berkali-kali hunting rumah di area tak jauh dari kampus Muhammad V University (seputar Agdal, Madinah dan sekitarnya) sewa rumah di Rabat dimulai dari 6500 dirham hingga 18000 dirham per bulan. Bukan per tahun ya!

Kalikan 1500 rupiah. Kisaran 9.750.000 – 27.000.000 rupiah! MasyaAllah, bukan main mahalnya sewa rumah di Rabat ya. 😦

Sungguh angka sewa rumah bulanan yang fantastis bukan!

Pertama tiba di sini kami juga shock bukan main. Akhirnya kami putuskan tinggal di pinggiran ibukota. Agar sanggup membayar bulanan sewa kamar. Sekali lagi bukan sewa satu buah rumah utuh ya! 🙂

Dengan kondisi beasiswa Aa yang belum turun sama sekali, kami hanya mampu sewa satu kamar di pinggiran kota Rabat. Uang sewa lima bulan terakhir kami dapatkan dari ‘tabungan’ – lebih tepatnya hasil jualan pempek di Eropa sepanjang Ramadhan-Dakwah backpacking 2015- yang tersisa.

Tentu saja kami harus hidup sangat sangat sederhana, kalau tidak dikatakan ala kadarnya.

Sungguh kami berhemat sebisa mungkin.

Juga menahan keinginan tuk berkelana ke kota-kota lain, karena itu akan menyedot tabungan kami yang juga tak seberapa.

image

Kamar kos di Rabat

Alhamdulillaah kami cukup puas dengan satu kamar dan dapur mungil berjendela.

Yang utama, kami diliputi syukur karena tetangga kamar adalah satpam yang tidur sepanjang siang lalu pergi jelang Maghrib hingga esok pagi.

Sampai kemudian awal bulan lalu landlady protes pada penggunaan listrik kami. Kata Aisha bayar listrik bulan Desember meroket! “Ghaaliy bidz zhoof!”

Kami tersentak. Rasanya pemakaian listrik kamar kami paling hemat dibandingkan pemilik rumah dan adik si pemilik rumah.

Mereka menyalakan TV nyaris 12 jam sehari, kulkas 24 jam, laptop, dkknya kali dua rumah dengan empat titik lampu.

Sementara kami hanya menyalakan laptop saat dibutuhkan, pemanas air saat ingin minum air panas dua buah titik lampu (satu di kamar dan satu di dapur) saat malam hari saja.

Bahkan ruang tengah yang kosong berbatasan dengan kami dibiarkan gulita tak diberi lampu. Juga tangga ke lantai dua tak pernah dinyalakan jika sedang tidak melintasi.

Rasanya muntab mendengar kata-kata, “Ghaaliy bidz zhoof” tersebut sementara kami menjaga pemakaian listrik.

Kami memang sempat menyalakan heater (pemanas ruangan) yang dipinjamkan seorang Kakak di Belgia. Tapi hanya kami pakai sesekali terutama saat temperature udara sangat rendah dan tak kuat menahan dingin.

Di sisi lain, kami pernah meninggalkan kamar menuju Belgia untuk perbaharui free visa selama dua minggu lebih. Artinya biaya heater yang kami nyalakan bisa dimasukkan ke situ.

Kami pikir Aisha sudah bersikap berlebihan, sementara kami pernah mengintip surat tagihan listrik dan air. Hanya 300-an dirham untuk empat lantai dan tiga kamar kos di basement.

Saya pribadi juga sudah bersabar rutin mendengar teriakan kasar Umar pada istrinya, bersabar atas sikap Aisha yang selalu mengecek penggunaan listrik khususnya perebus air elektrik milik kami, bersabar atas larangan berisik – seakan kami sepasang anak kecil- karena akan membangunkan Pak satpam (tapi 5 bulan bertetangga Pak satpam tak pernah protes pada kami) dan bersabar menemukan ‘harta karun’ Pak satpam di toilet bersama. Duuuuh!

Ini seperti tanda-tanda semesta, agar kami mengakhiri kos di sini.

***

Pucuk Dicinta Ulampun Tiba kah?

Saat mengantarkan risoles untuk Vera dan Mas Syamsul tetangga kami beberapa blok pada tanggal 19 Januari, akhirnya terlontar curahan hati tentang landlady kami. “Sepertinya kami sudah saatnya pindah, Mas…”

“Wah iya, Mbak. Kalau kayak gitu pindah saja. Kebetulan Mas W sudah selesai sewa rumah dekat pasar, Mbak. Apa Mbak tertarik lihat rumahnya?”

“Mau banget, Mas. Kapan bisa antar kami?”

Singkat cerita, di hari yang sama kami memutuskan melihat rumah itu ditemani beliau.

More than excited. Deg-degan. Apalagi Mas Syamsul bilang rumahnya bagus dan terawat.

Saat tiba di pintu rumah itu rasanya biasa saja. Tampilan luar sangat biasa cenderung kurang bagus. But don’t judge a book by its cover!

Begitu gerbang masuk utama dibuka, saya takjub pada bersihnya rumah yang akan disewakan!

Secara keseluruhan rumahnya sederhana. Standar kelas menengah ibukota Rabat.

Yang istimewa adalah kamar mandinya. Tak sekadar full keramik, tapi komplit dengan wastafel, toilet duduk dan shower!

image

Toilet bersih apik

Setelah lima bulan hanya menggunakan toilet jongkok sekaligus sebagai kamar mandi sempit (menggunakan ember milik sendiri) toilet seapik itu menjebol hati.

Dapur juga luas dengan jendela lebar.

Belum ruang jemur tepat di sebelah dapur. Spacious and bright! 🙂

image

Sewa rumah di Rabat

Felt in love suddenly!

Kami saling pandang. Aa menganggukkan kepala.

Mas Syamsul membantu nego harga. Alhamdulillaah masuk budget kami meski tentu saja hampir dua kali lipat kamar kos kami.

Saatnya menyampaikan keinginan.

Mas Syamsul melobi dengan bahasa darijah. Beberapa jenak kemudian menoleh ke saya, “Mbak, rumah ini ternyata mau dilihat orang Maroko juga. Nanti agak sore katanya. Kalau si Maroko tidak jadi, maka rumah ini akan disewakan ke Mbak.”

Aiiiih, kenapa jadi menggemaskan begini!

Kami meninggalkan rumah impian dengan gregetan.

Akan kah rumah mungil bersih apik sahaja ini berjodoh dengan kami?

Aa istikharah. Saya mengikuti. Dua puluh empat jam terasa sangat lamaaa!

Esoknya saya whatsapp Mas S.
“Gimana Mas?”
“Alhamdulillaah Mbak, rumah itu bisa Mbak sewa.”

Seketika sujud sukur. Rebah ke bumi.

Terima kasih, Allah.
Karena kebaikanMu melalui Mas Syamsul kami tak perlu repot hunting rumah di seantero Rabat atau mendatangi makelar rumah.

Kami juga tak perlu kedinginan turun naik bis dengan ancaman dicopet.

Kami tak perlu berlelah-lelah. Manisnya kejutan dariMu, Allah.

Bismillah, we’re moving tomorrow! 🙂

Ingin B3 dengan Sepetang Bersama Blogger 2015

Dua minggu lalu, Dik Anazkia menulis ‘pengumuman’ di status facebook miliknya. Isinya mengajak teman-teman blogger mengikuti give away terbaru yang akan dia adakan. Anaz menyebut-nyebut gratis tiket pesawat dan kesempatan hadiri international blogger event yang diselenggarakan oleh Yeo’s di Putrajaya, Malaysia!

Saya tertarik seketika!

Di blognya Anazkia menuturkan lebih jauh, bahwa dia diundang oleh Encik Amir si pemilik blog untuk menjadi salah satu panelis di forum sharing session Sepetang Bersama Blogger 2015 pada pertengahan Juni nanti.

Sepetang Bersama Blogger 2014 (Sumber foto: www.anazkia.com)

Sepetang Bersama Blogger 2014 (Sumber foto: http://www.anazkia.com)

 

Banner Sepetang Bersama Blogger 2015 & Yeo's

Banner Sepetang Bersama Blogger 2015 & Yeo’s

Subhanallah!
Adik yang saya kenal sejak era Multiply -sebuah blogging platform yang saya gunakan mulai tahun 2005 dan telah mempertemukan saya dengan banyak blogger hebat- tak hanya berhenti pada pencapaian diri sebagai Perempuan Inspiratif Tabloid Nova 2014, tapi kini dia dilirik negeri tetangga untuk menjadi salah satu sumber ilmu.

So proud of you, Dik Anaz! Betapa hebatnya Anaz dalam berjejaring!

Lalu kenapa pemilik http://www.honeymoonbackpacker.com patut dipertimbangkan untuk dipilih sebagai pendamping Dinda Anaz?

Jawabannya sangat mudah. Karena tagline, spirit dan alasan lahirnya blog ini sejalan dengan visi misi Sepetang Bersama Blogger 2015.

Alhamdulillah, blog ini lahir semata-mata karena saya dan suami jatuh cinta pada aktifitas B3. Yaitu kesenangan berjalan, belajar dan berbagi.

Izinkan saya mengurai masing-masing bagian dari tagline blog ini.

Alasan pertama, blog ini lahir karena minat saya yang tinggi untuk ‘berjalan‘. Mengembara. Berkelana.

Blog ini awalnya terlahir dengan niatan merekam jejak pengembaraan saya bersama suami sejak tahun 2013. Alhamdulillah sudah puluhan negara kami jelajahi bersama dalam suka duka. Dalam kesahajaan, bahkan nekad menjual motor satu-satunya di tahun 2013 lampau untuk memulai pengembaraan.

Kesempatan berbagi di Radio PPI Dunia saat mengembara di Tunisia, Mei 2013

Kesempatan berbagi di Radio PPI Dunia saat mengembara di Tunisia, Mei 2013

Tapi saya belum tahu rasanya menjelajah salah satu negara bersama seorang blogger atau beberapa blogger sekaligus.

Alangkah menyenangkan jika saya dipilih mendampingi Dik Anazkia menghadiri acara Sepetang Bersama Blogger 2015 di Putrajaya, pusat administrasi Malaysia yang belum pernah saya jelajahi sama sekali!

Selain itu, saya memang ingin sesekali merasakan berjalan bersama Anaz. Adik yang saya kenal di Multiply dahulu rupanya bertumbuh mengagumkan. Kami baru bertemu sekali, di forum Temu Blogger 2010 di Jakarta. Sesudah itu saya belum pernah bersua kembali. Jika saya terpilih, amboi sukanya! Akan puas berbincang dengan dinda Anaz.

Di mata saya, Anaz ibarat kepompong kala di Multiply, bertahun-tahun tekun menulis sepenuh hati. Dan kini jelma kupu-kupu, terbang berbagi ilmu. Ibarat kupu-kupu yang membantu penyerbukan ribuan bunga di seluruh penjuru nusantara.

Sejauh yang saya ketahui, Anaz tak hanya meraih penghargaan sebagai perempuan inspiratif Tabloid Nova 2014, tapi juga terpilih sebagai Srikandi Terfavorit 2013 oleh Kumpulan Emak-Emak Blogger, masih ditambah aktif sebagai koordinator Blogger Hibah Sejuta Buku, membagikan buku untuk adik-adik yang membutuhkan di pelosok negeri. Subhanallah. Amal saleh yang mengagumkan dan ingin saya tiru.

Jika saya terpilih sebagai salah satu blogger Indonesia untuk hadiri Sepetang Bersama Blogger 2015, niscaya akan saya reguk cucuran ilmu milik Dik Anaz untuk kemaslahatan yang lebih besar, mengingat saya juga founder Komunitas Muslimah Backpacker dengan anggota ribuan orang. Tentu berjalan bersama Anaz akan membuka cakrawala baru dan menyegarkan untuk saya.

Alasan kedua, blog ini lahir karena kesenangan saya dalam belajar. Terutama belajar dalam perjalanan. Bertemu banyak orang asing. Mereguk kebudayaan baru. Mengenalkan diri dengan santun dan membuka hati dan batok kepala untuk menerima ilmu dari mana saja. Hatta di negeri nun jauh di utara Stockholm sana.

Sungguh ingin saya hadiri Sepetang Bersama Blogger 2015 yang diharapkan akan mempertemukan banyak blogger Malaysia, Brunei dan Indonesia. Saya ingin belajar pada blogger negeri serumpun! Saya ingin membangun networking dengan mereka!

Kabarnya SBB tahun ini akan digelar di Taman Cabaran Presint 5 Putrajaya dengan serangkaian acara menarik. Diantara yang saya baca di blog SBB adalah sharing session, treasure hunt (yang model begini saya belum pernah ikuti) dan lucky draw!

Terbayang serunya silaturahmi dan belajar bersama banyak blogger dari Malaysia, Brunei dan Indonesia dalam suasana relaks dan santai! Pasti hangat, akrab sekaligus seru!

Alasan ketiga, blog ini lahir karena saya sangat senang berbagi. Ya, saya selalu berbahagia jika diminta berbagi. Saya amat bahagia saat berbagi! 

Hadist Nabi SAW, “Khairun naas anfa’uhum linnaas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk sesama,” setia menjadi spirit penulisan petualangan saya dan suami menjelajah belahan dunia.

“Dibayar atau tidak,” suami saya selalu bilang, “Kalau sudah diminta bicara di depan forum berbagi, kamu selalu all out! Sehingga semua tersihir mantra kata-katamu.”

Saya kerap tertawa kala suami berujar seperti itu. Beliau senang memuji istrinya. Tapi jujur, entah kenapa saya selalu merasa bertenaga kala berbagi. Apapun wujud berbagi itu. Dalam hentakan kata-kata di atas podium, dalam kelas diskusi ataupun kata-kata yang ditulis sepenuh hati di blog ini.

Jika saya terpilih mengikuti Sepetang Bersama Blogger 2015, akan saya tunjukkan pada teman-teman blogger Malaysia dan Brunei, bahwa blogger Indonesia senang berteman, silaturahmi dan tak pelit berbagi ilmu yang dimiliki. Pada saat saya mendampingi Dik Anaz, bisa saya pastikan mulai detik itu saya adalah duta blogger Indonesia. Duta terbaik Indonesia!

Sepulang dari Putrajaya, saya tentu tak akan lupa membagi pengalaman seru selama di sana. Tentu saja salah satunya di rumah maya ini!

Dan…, harapan baik ini dituliskan pada tanggal 6 Juni 2015, tepat 37 tahun jatah usia saya di dunia dikurangi. Semoga niat baik ini diridhai Allah dan menjadi pembuka banyak pintu kebaikan yang lebih besar!

Jika saya dipilih, kesempatan mengikuti SBB 2015 akan menjadi salah satu hadiah milad terindah yang akan saya terima.

InsyaAllah! 🙂

Wefie: Rayakan Sembuh di Brugge

 

Wefie rayakan sembuh di Brugge! :)

Wefie rayakan sembuh di Brugge! Saking susah foto dengan tangan sendiri, si Aa nyengir kuda! 🙂

Rayakan Sehat di Brugge!

Tak pernah terbayangkan, jika #DakwahBackpacking dan #HoneymoonBackpacking di tahun 2014 dipenuhi sederet ‘drama’ dan musibah.

Salah satunya adalah ambruknya saya sampai akhirnya dilarikan ke Luisen Hospital di Aachen, Jerman.

Penyebabnya?

Continue reading

Kopdar Akbar Guru Blogger Nasional: Guruku Cahayaku!

Alhamdulillah, pasangan Honeymoon Backpacker jauh-jauh datang dari Bandung demi Kopdar Guru Blogger Nasional di Jakarta!

Alhamdulillah, pasangan Honeymoon Backpacker jauh-jauh datang dari Bandung demi Kopdar Guru Blogger Nasional di Jakarta!

Pagi ini aku mengusap bening yang membasahi pipi. Sangat terharu berada ditengah-tengah ratusan guru bersahaja. Meski sudah menjadi guru mereka selalu haus ilmu. Sikap yang patut ditiru!

Continue reading

Kisah Backpacker Yang Jatuh Hati Dengan Buah Lokal!

Semenjak jatuh hati pada rawfood sekaligus menjadi pelaku food combining (abal-abal) dua tahun terakhir, saya dan suami berjumpa buah segar setiap hari. Yup, buah-buahan berair adalah menu wajib sarapan di pagi hari hingga menjelang makan siang nanti.

Melon dan Belimbing manis berair yang menggoda :)

Melon dan Belimbing manis berair yang menggoda 🙂

Setiap bangun tidur, saya tidak perlu pusing menyusun menu sarapan. Pilihannya adalah petik pepaya di kebun Mama mertua, ambil buah jambu di kulkas lalu diblender dengan strawberry atau beli dua ikat rambutan yang sedang ranum-ranumnya di warung tetangga. Amboi mudahnya!

Juice Strawberry Pisang dituangi Extra Virgin Olive Oil, yummy!

Juice Strawberry Pisang dituangi Extra Virgin Olive Oil, yummy!

Buah-buahan yang saya beli tentu saja buah lokal. Alasannya sangat sederhana. Buah lokal jauh lebih segar dibandingkan buah impor karena tidak melalui perjalanan panjang menuju konsumen. Buah lokal (kemungkinan besar) tidak memakai pengawet karena rantai distribusi yang pendek dan segera sampai ke konsumen. Sebab pendeknya rantai distribusi, otomatis buah lokal jauh lebih murah dibandingkan buah impor. Ibu-ibu rumah tangga seperti saya jelas bahagia dan makin cinta dengan buah lokal karena fakta-fakta tadi! 🙂

Continue reading

Liburan Musim Dingin Romantis di Jepang ala Honeymoon Backpacker

Serial OSHIN Pintu Perkenalan dengan Jepang

Sewaktu masih duduk di bangku SD, seminggu sekali menjelang sore hari, saya setia menunggu serial OSHIN diputar di layar tivi.

Serial OSHIN  adalah pintu pembuka keingintahuan saya tentang Jepang. Begitu tangguh, sabar dan kuatnya karakter tokoh OSHIN di mata kanak-kanak saya, membuat saya jatuh hati pada gambaran karakter ideal perempuan Jepang. Saat rajin menonton serial OSHIN, saya kerap bermimpi bertemu tokoh OSHIN saking sukanya pada sosok perempuan Jepang satu itu. 🙂

 

 

Sampai hari ini, saya terus bermimpi ingin pergi ke Jepang suatu masa. Pun suami saya, ingin mengunjungi Jepang juga. Sungguh kami ingin menjelajahi Jepang bersama-sama.

Kata si Aa, Jepang bukan hanya dikenal sebagai negara dengan penduduk ‘gila baca’, Jepang juga dikenal luas karena kebangkitan teknologi, kuatnya tradisi ilmu pengetahuan dan stabilnya ekonomi, justeru setelah dua kota besarnya pernah diluluh-lantakkan dengan bom pada tahun 45-an.

Pada sisi lain, Jepang menyisakan kota-kota tua dengan nuansa romantis yang ingin kami nikmati berdua.

Jujur saya pernah ke Jepang, tapi sayangnya hanya transit di bandara saja. Gak asik banget dan belum bisa dikatakan pergi ke Jepang kan. 🙂

Continue reading

Lomba Blog Pegipegi Antarkan Saya Menemui Orang Utan di Tanjung Puting

Lomba Blog Pegipegi, Antarkan Saya Menemui Orang Utan di Tanjung Puting

“Teman-teman pernah mendengar nama Tanjung Puting di pedalaman Kalimantan Tengah?”

Eh, pertanyaannya saya ganti saja, “Tahukah teman-teman di mana ‘rumah’ orang utan terbesar di dunia?”

Saya pernah mendengar, tapi jujur samar-samar dalam ingatan.

Jika dibandingkan dengan Taman  Nasional Bunaken di Manado, Raja Ampat di Papua, Pulau Komodo di Labuan Bajo, bahkan Derawan di propinsi tetangga, Tanjung Puting yang tak jauh dari Pangkalan Bun Kalimantan Tengah hampir tak dikenal alias ‘tenggelam’ dalam lautan berita.

Sepanjang pengetahuan saya, Taman Nasional Tanjung Puting (selanjutnya saya singkat TNTP) belum menjadi destinasi wisata utama di kalangan pecinta eksplorasi tanah pertiwi. Padahal rute penerbangan menuju kota Pangkalan Bun bukan tidak ada. Saat ini sudah tersedia rute penerbangan langsung dari Jakarta, Surabaya atau Semarang menuju Pangkalan Bun dengan membeli tiket pesawat Trigana Air.

Sepertinya promosi TNTP kalah agresif dibandingkan tujuan wisata alam lainnya. Sebagai blogger, saya tertantang mengunjungi obyek yang masih jarang dikunjungi. Semakin ‘perawan’ semakin menggoda. Less is more!

Continue reading