Kata-Kata Cinta di Pantai Matrouh Ageeba

Image

SIWA MATROUH IN LOVE!
Jabal Dakrur-Siwa,
Hanya berdua,
Tiada bunyi, tiada gema,
Selain belahan jiwa
Membisik cinta…

Angin tak sekadar terasa,
bahkan berkesiut suara
membisiki telinga
tentang anugrah cinta
akan selalu ada
jika dipelihara
segenap rasa

RN
17 April 2013

***

Image

Kata-Kata Cinta di Pantai Matrouh Ageeba

Pantai Ageeba sungguh ajaib sesuai namanya. Sepi, senyap, kosong tak berpenghuni.

Sepanjang musim dingin keindahan pantai ini ternyata tak berhasil menarik minat turis lokal dan mancanegara untuk bertandang. Berbeda kala musim panas memanggang bumi Mesir, Ageeba beach tumpah-ruah dikerumuni, laksana sepotong gula merah dikerubungi semut-semut kelaparan.

Saat kami tiba di sana (18 April 2013), angin siang itu bergulung kencang. Menyelusup masuk hingga seluruh sendi terasa linu. Gerimis yang mengiringi sejak pagi hari di Marsa Matrouh terus merintik-menetes, semakin mengusir selera dan rencana Aa, meloncat ke dalam turqoise-nya warna laut yang bening mengundang.

Supir angkot yang membawa kami dari Matrouh  menuju Ageeba beach bercerita, “Sepanjang Januari hingga April tahun ini, di sini sepi tak ada kehidupan, ibarat kota mati saja, makanya saya tidak membawa angkot sampai ke sini. Hari ini khusus untuk kalian berdua saja. Keadaan seperti ini sangat berbeda 180 derajat jika dibandingkan dengan musim panas. Ribuan manusia datang ke sini saban hari,” ujarnya bersemangat sambil mengurai senyum hangat.

Kami saling berpandangan. Saling melempar senyuman.

Betapa baiknya supir asli Matrouh ini.
Betapa bersekongkolnya penghuni langit, memberikan kita kesempatan, menikmati pantai Ageeba seakan pantai indah ini hanya milik kita pribadi.
Resort ‘pribadi’ hadiah dariNya.

Sungguh, semesta merestui ‘honeymoon backpacking’ kita ya, A. 🙂

Sang supir angkot menurunkan kami di tepi gerbang menuju Ageeba beach, kami menyepakati janji, akan dijemput setengah jam lagi.

Saat deru mobil semakin menjauh, kita saling mengaitkan jemari, melangkah perlahan menuju keindahan yang membentang.

Di depan kami, sejauh mata memandang, horison biru bertemu langit biru muda. Mereka berdansa begitu sempurna! Sedang biru turquise-nya pantai Ageeba menyaksi kemesraan mereka. Subhanallah, indahnya lukisan Sang Maha Cinta!

Sesekali, udara tak bersahabat menyapa, meniupkan dingin menggigit, aku kerap menciut dalam balutan jaket hitam tebalku, di pertengahan April yang masih sangat gigil.

Kala kita hanya berdua, aku yang gemeletuk di antara demam sisa semalam engkau hangatkan dalam pelukan. Engkau mengajakku menikmati suasana bening, hening dan sesekali memecahnya dengan canda, mengundang sungging di bibirku 🙂

“Aa, ada tripod mungil kita kan?”

“Iya yah, kenapa tak kita abadikan saja?”

Aku tersenyum melihat engkau meloncat-loncat riang, serupa anak kijang kala berlomba mendahului kecepatan cahaya, agar sempat diabadikan oleh kamera mungil kita 🙂

“Aa, I love you, more and more, insyaAllah for the rest of our life!”

“Me too my dear,” sahutmu lembut.

Dan genggaman tangan kita, diabadikan cahaya!

Biru dan anggunnya pantai Ageeba-Matrouh, menjadi saksi perasaan terdalam kita. Mudahan abadi hingga surga!

***

IZ, 24 April 2013

Naik Taksi di Mesir, Supir adalah Raja!

Naik Taksi di Mesir, Supir adalah Raja!

Ini cerita kecil tentang kemarin. Tepat sebelum saya dan Aa berangkat menuju masjid Hussein, meeting point yang kami sepakati untuk bertemu para peserta pelatihan ‘Tips and Tricks to be A Travel Writer’ sekaligus Bengkel Karya,  follow up kegiatan Gamajatim yang telah dilaksanakan dua hari sebelumnya dan mengundang saya sebagai pembicara, berbagi sedikit yang saya punya.

Sekitar pukul 9 pagi kami sudah keluar rumah. Gegas saya dan Aa menuruni tangga flat yang kami huni di daerah Saqr Quraisy.

“A, kita harus naik taksi nih, tidak enak dengan teman-teman peserta yang barangkali sudah sampai duluan di masjid Hussein sedang kita justru datang belakangan, padahal aku sudah menulis di status facebook-ku 2 hari lalu, don’t be late!”

“Ok, naik taksi saja supaya keburu, cari yang pakai argo.”

Aa mulai menyetop taksi, menjelaskan tujuan kami dan supir taksi berlalu meninggalkan kami 🙂

Aa kembali menyetop sebuah taksi, menjelaskan rute kembali dan supir taksi inipun melengos, kembali menjauh.

Supir taksi di Mesir ‘sombong-sombong’ ya. 😀

Oh iya, selama backpack (atau menetap di Mesir sekalipun) please jangan lupa rumus ‘hidup’ di Mesir (sekaligus anekdot Masisir -Masyarakat Indonesia di Mesir- yang ditujukan pada para pelaku bisnis di Mesir) supaya kita tidak sakit hati sepanjang hidup di sini, “Penjual adalah raja!”

Jangan mengingat pepatah tua kita, “Pembeli adalah raja”, karena kamu akan berkali-kali kecewa, hehehe.

Siapkan diri, jangan lupa anekdot,”Penjual adalah raja” jika kamu berniat backpack-an ke Mesir ya!  😀

Aa kembali menyetop taksi -jika yang ketiga ini menolak juga mengantarkan kami ke masjid Hussein, kami memutuskan naik el-trumco saja berkali-kali, supaya bisa menghemat waktu!- dan akhirnya yang ketiga ini berkenan mengantar kami ke mesjid Hussein!

PYUUUH! 😀

***
Taksi Di Mesir Ada ‘Rutenya’!

Unpredictable Egypt Things yang harus siap kamu hadapi adalah, taksi-taksi yang bersilewaran di daerah ‘Asyir hingga Sabi’ kerap enggan membawa penumpang jika tidak sejalur ‘rute’ mereka.

Heh?
Sejak kapan taksi pakai rute?

Ya sejak di Mesir sini 😀

Jadi jangan heran ya, ‘menemukan’ taksi yang satu arah dengan rute perjalanan kita juga bukan perkara mudah, hehehe 🙂

Sehari sebelumnya, pada tanggal 11 April pagi, kami juga sangat membutuhkan taksi secepatnya, supaya segera meluncur ke Kedutaan Tunisia di Zamalek sepagi mungkin, karena Kedutaan Tunis hanya menerima aplikasi visa sampai pukul 11 siang. Pada akhirnya, kami harus berkali-kali menyetop taksi, menjelaskan rute kami, ditolak supir taksi dengan alasan jauhnya Zamalek, rute tidak searah tujuan mereka -entah mau kemana- dan melakukan hal yang sama hingga taksi kesekian kali!

Di sisi lain, saya menyukai kejujuran para supir taksi di Mesir sini, tidak semua bermental ‘scammer‘!

Mereka jujur mengatakan, bahwa daerah Zamalek itu jauh dan mereka mengakui tidak tahu rute menuju ke sana. 🙂

Apa karena kami menggunakan bahasa Arab ‘Ammiyah (bahasa Arab dialek lokal), sehingga para supir itu yakin bahwa kami memang sudah lama tinggal di Cairo dan tidak mungkin ditipu?
Wallahu a’laam! 😀

Tentu anda bisa bayangkan, bagaimana jadinya jika backpack sendirian, tidak bisa bahasa Arab (dan sangaaat jarang supir taksi bisa bahasa Inggris -kecuali di daerah touristic area semacam Giza, Zamalek dan sekitarnya), saya jamin perjalanan backpack anda akan banyak terhambat (termasuk habis waktu untuk urusan beginian, dan ini diakui oleh Mas Ale -salah satu teman dekat saya yang pernah nekad backpack seorang diri, satu minggu di Mesir akhirnya hanya berhasil menjelajah Cairo dan Alexandria saja), makanya saya sangat tidak menyarankan para backpackers (apalagi perempuan) backpack ke Mesir seorang diri (tanpa didampingi salah satu guide / mahasiswa Al Azhar yang fasih berbahasa Arab ‘Ammiyah!).

Masalah taksi hanya satu ‘masalah kecil’, belum urusan lainnya (terkait scammer di berbagai obyek wisata, memesan hostel, sewa mobil, dstnya), apalagi jika masa backpack di Mesir sangat pendek (kurang dari sebulan) dan yang ingin dijelajahi sangat banyak, saya sangat menganjurkan anda untuk mengenal salah satu mahasiswa Al Azhar terlebih dahulu (dan memintanya menjadi guide anda -tentu harus dibayar ya!) sebelum anda menjejak kaki ke Mesir. 🙂

Selamat menjelajah Mesir (minimal) berdua dengan guide anda, jika anda belum bisa bahasa Arab (terutama ‘ammiyah)!

Atau, kalau anda perempuan, tidak mau direpotkan dengan urusan semacam yang saya ceritakan di atas, yuk ikut saja Muslimah Backpacker’s Egypt Trip tahun depan, insyaAllah akan diadakan kembali jika calon peserta terkumpul minimal 10 orang.

Welcome to unpredictable Egypt things, guys! 🙂

PS.
Photo salah satu supir taksi baik hati yang membawa kami meluncur ke Kedutaan Tunis menyusul ya 🙂

Curhat Asmara Si Mahmud

Curhat di Cafe Husein

Pagi itu adalah kali pertama aku duduk  dan minum syai bi ni’na’  bersama belahan jiwa di salah sebuah café. Persis di samping pelataran mesjid Husein, Darrasah. Sembari menunggu teman-teman Muslimah Backpacker yang asyik berbelanja di pasar Khan Khalili, kami berdua mau menyantap nasi uduk bekal sarapan kami yang tertunda.

Melihat sejumlah kursi yang masih kosong melompong, kami pun merapat ke kursi salah satu café dan memesan minuman hangat. Karena harga satu gelas teh menurut dompet backpacker seperti kami sangat tinggi, yaitu 15 Le., maka kami memutuskan memesan satu gelas saja untuk berdua. Tak apalah, sesekali. Itung-itung menyewa tempat dan membeli suasana.

‘Gembolan’ makanan segera kami buka dan tumpahkan ke atas meja. Hehehe. Dua kotak nasi uduk, sebotol air minum, dan sisa pizza el-rayek menu makan malam kemarin.

nenk cantik

Sang pramusaji mendekat.

“Welcome,” sapanya.

Segera kujawab dengan bahasa Arab, ‘Shabaahul ful, ya rayyis…, Izzayyak hadhratak?” Selamat pagi wahai tuan, apa kabarmu?

Dengan ekspresi wajah berubah ramah dia menjawab, “Shabaahan nuur, kuwaisy… Selamat pagi bercahaya, kabarku baik.”

Setelah kupesan segelas teh, dia mendekat dan duduk di kursi yang tak jauh dari meja kami. Ternyata teh yang kami terima bukan satu gelas. Tapi satu teko. Ukuran teko cukup untuk dua buah gelas besar. Pantas saja dihargai 15 Le. Sambil menyesap teh, kami mulai menyapa. Menanyakan nama dan asal daerahnya. Ternyata tidak jauh dari café, yaitu di Jamaliyyah. Setau saya, untuk menuju tempat tersebut dari terminal darrasah cuma satu kali naik angkot khas Mesir, el-trumco.

Kisah Asmara Mahmud

Agak sungkan dia menanyakan perempuan manis yang duduk bersamaku. Aku tersenyum dan menjelaskan statusnya. Ya, she’s my lovely wife dan sudah dua tahun aku menikahinya. Dia tersenyum. Namun setelah dia kutanya balik, raut wajahnya berubah. Dia sudah melamar calonnya, namun akhirnya gagal melanjutkan ke jenjang pernikahan, karena keluarganya yang tidak setuju. Salah satu alasannya adalah kondisi ekonomi dan status sosial dia. Dia bercerita bahwa mereka sudah sama-sama mencintai apa adanya.

Saat kami mau melanjutkan obrolan, pemilik café lewat dan terlihat tidak suka dengan keakraban kami. Kami faham. Dia segera kupersilahkan kembali bekerja melayani pembeli lainnya.

Setelah tugas dia tunaikan, dia kembali mendekat dan melanjutkan pertanyaan, “Kamu menikahi dia dengan mahar apa? Emas ya?”

“Ya. Sama saja dengan di sini.”

“Berapa modal mahar kamu?”

’Ya standar saja, 5 atau 10 gram emas juga sudah bisa akad kok. Dan akadnya akan sah jika sarat dan rukunnya lengkap.”

“Itulah masalah saya di sini. Biayanya besar sekali. Bukan calon saya yang matre, tapi desakan keluarganya. Minta emas sekian gram, rumah, alat-alat rumah tangga dan sebagainya. Akhirnya kami harus berpisah.”

‘Kenapa cinta harus dikorbankan hanya dengan hitungan emas yang tidak sesuai standar keluarga?

Pertama kali menikah, saya belum punya pekerjaan tetap, rumah masih ngontrak, kendaraan belum punya. Tapi kami yakin dengan langkah kami.

Kami datangi kedua orangtua dan meyakinkan mereka, bahwa tekad kami sudah bulat. Cukuplah restu dan doa keberkahan rumah tangga yang kami pinta dari mereka.

Layaknya hidup yang semestinya dijalani secara bertahap, rumah tangga pun demikian. Ikatannya akan menguat dan membesar bertahap. Al-‘Aisyu syai’an fa syai’an, syuwaiyah syuwaiyah.”

“Itu dia yang aku pengin dari keluarga calonku.’ Jawabnya. ‘Tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu.”

Ia pun menjauh untuk kembali menunaikan tugas. Menyapa pelanggan dan mempersilahkan mereka duduk di café bosnya.

Aku tak ingin melewatkan momen duduk minum teh di café ini. Kamera kukeluarkan dan kuambil gambar istriku yang tengah duduk di kursi ukir yang unik. Sesekali berpindah duduk dengan background lampu fanus khas Mesir yang bergelantungan dan jejeran alat hisap syisya.

curhat mahmud-cafe husein ima fanous

[foto1: Mahmud melirik-lirik kami. fato2: Ima di antara perabot khas Mesir]

Melihat kami sedang asik memotret, Mahmud mendekat dan menawarkan diri memotret kami berdua. Rupanya dia sudah terbiasa memotret para pelanggan yang ingin difoto di café tersebut.

jepretan ala mahmud

[foto, hasil foto Mahmud]

Hari kian menyala. Kami harus kembali mencari makan siang untuk 18 orang peserta Muslimah Backpacker’s Egypt Trip yang kami kelola.

Saat mau pamit, Mahmud bertanya, “sudah punya momongan belum?”

Kami tersenyum sembari menggelengkan kepala. “Allahu yarza’kum athfal. Semoga Allah segera memberi anugerah keturunan buat kalian.”

“Ingat ya, nanti anakmu dikasih nama yang bagus, namaku ini dikasih orangtua karena mereka bilang nama ini paling bagus. Mahmud, Ahmad, Muhammad, Hamdan, dan nama-nama bagus lain.”

He he, Mahmud Mahmud…, sudah berapa belas Mahmud yang aku ajak mengobrol selama sembilan hari ini, belum termasuk Mahmud yang ini.

Kami beranjak dari café. Mesjid Husein menjadi saksi percakapan kami, doa, dan curhat asmara Mahmud.

Allahumma istajib du’ana wa da’watal muslimin jami’an…amin.

Semoga dengan banyak mendoakan dan didoakan banyak orang, kami benar-benar segera diberikan momongan. Sebab kita tidak pernah tahu, dari mulut mana doa orang-orang yang akan Allah kabulkan!

Saqr Quraisy, 03 April 2013

Honeymoon Backpacker Begins!

KENAPA ‘HONEYMOON BACKPACKER’?

Bismillaahir rahmaaanir rahiim.

Akhirnya blog ini kami lahirkan 🙂

Honeymoon Backpacker adalah mimpi kami berdua.

Sejak awal menikah, kami bersemangat menghidupi mimpi ini. Ide perjalanan ini bahkan ‘dilamar’ sebuah penerbit (lalu ditunda bertahun-tahun lamanya,) hingga bisa terwujud saat ini. Semua diawali dari lahirnya Komunitas Muslimah Backpacker dari batok kepala sejak setahun lalu.

Terselenggaranya MB EGYPT Trip 21-31 Maret lalu mengantarkan kami berdua ke bumi para Nabi ini.

2-karnak

MB di Abu Simbel, 26 Maret 2013

5-sinai

MB di puncak gunung Sinai, 30 Maret 2013

aswan-nice

MB di Aswan, 26 Maret 2013

with muslimahbackpacker on pyramid

MB di Piramid Giza, 23 Maret 2013

Ya Rabb! Maha Suci Ia yang telah memperjalankan kami!

Sungguh, betapa berliku perwujudan sebuah mimpi dan betapa hebat Aa Risyan Nurhakim, Lc bersedia mendukung penuh mimpi-mimpi kami.

Bukti support paling hebat beliau adalah, Aa berkenan berhenti bekerja dari al-Imarat untuk 3 bulan ke depan (meski insyaAllah) jika tak ada aral melintang Aa akan kembali ke sana jika backpack telah berakhir dan Imarat Bandung masih berkenan menerima beliau, anyway, we’ve decided to take that risk! 🙂

Saat kami tiba di Cairo International Airport pertama kali, perasaan haru meliputi kami berdua.

P1290313 - Copy

Dulu, di awal 2004 Aa tiba di bandara yang sama seorang diri, begitu juga dengan aku yang mendarat sendirian di tahun 2010. Kami bahkan belum saling mengenal secara mendalam 🙂

Tapi sekarang, kami menjejakkan kaki kembali di bandara yang sama dan berstatus suami istri, memutuskan saling menghormati, saling mendukung dan saling menikmati perjalanan panjang menggembel ala ‘Honeymoon Backpacker‘ ini, bismillah 🙂

Jika selama ini definisi ‘honeymoon‘ menurut orang Indonesia identik dengan destinasi-destinasi cantik, mewah, anggun sekaligus mahal seperti Paris, Venice, Bali, London, New York, Tajmahal dan lain-lain, kami berdua ingin membuktikan, bahwa ‘honeymoon‘ pun bisa dilakukan dengan biaya murah di destinasi-destinasi murah. Afrika dan sebagian Timur Tengah akhirnya menjadi tujuan kami, menumpang menginap di beberapa kerabat, sahabat atau bahkan di penduduk lokal asli menjadi cara menghemat kami 🙂

Sebulan terakhir sebelum ke Mesir, saya ‘ditakuti-takuti’ oleh beberapa orang (yang akhirnya saya batalkan tidak menjadi tim kepanitiaan MB EGYPT Trip), mereka menyampaikan bahwa segala sesuatu di Mesir saat ini serba MAHAL! Konon katanya, harga-harga melambung tinggi!

Sampai detik ini, sudah 13 hari kami di Mesir, secara umum harga bahan makanan, transportasi dkknya ternyata masih normal, bahkan buah-buahan dan sayur-sayuran (termasuk bawang putih!) sungguh berlipat-lipat lebih murah dibandingkan di Indonesia!

Mulutmu harimaumu, Kawan!
Be careful!

***

MB EGYPT TRIP Ended and HONEYMOON BACKPACKER Begins!

Alhamdulillah, meski ada kekurangan di sana sini, secara umum kami merasa berhasil menjadi pengawal ‘Muslimah Backpacker’s EGYPT Journey’ selama 10 hari, khususnya jelajah Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria, Sinai Mountain dan Sharm el Sheikh. Setelah kami pastikan seluruh peserta sudah kembali ke tanah air tercinta, kami putuskan beristirahat nyaris dua hari dua malam di rumah salah satu teman baik Aa, tepatnya di Build. 38 Flat 1 No 1, Distrik Saqr Quraisy, Nasr City, Cairo.

Sempat terpikir ingin menginap satu malam saja di salah satu hotel berbintang, tapi kami teringat kembali, perjalanan kami baru saja dimulai. Setiap rupiah yang kami tabung 3 tahun terakhir (semenjak menikah) sangat berharga untuk perjalanan ‘Honeymoon Backpacker’ 3 bulan ke depan, InsyaAllah! 🙂

Di sisi lain, tuan dan nyonya rumah kami amat pandai memuliakan tamu. Kami bak dilayani hotel bintang lima, Allah Maha Baik, insyaAllah Allah yang akan membalas budi baik mereka, Allahu Rabb!

Malam pertama tiba di rumah mereka, kami dijamu ayam dimasak rendang, tahu bacem, nasi putih pulen, rebusan sayur Gargir (sayur hijau khas Mesir, kombinasi sayur katuk dan bayam), buah pisang dan lain-lain. Menu sangat Indonesia, lovely and delicious dinner! 😀

Tubuh dan mental kami yang kuyup kelelahan karena kawal peserta ‘MB EGYPT Trip’ 10 hari terakhir seakan ‘dibasuh sekaligus dikeringkan’ oleh sambutan Teh Eva dan Abang Rohmat, syukran ‘ala husni istidhafah 🙂

Setelah itu, kami berdua meminta izin langsung masuk kamar yang telah mereka siapkan. Jujur mata kami terasa amat berat, apalagi perut terasa menghangat 🙂

Saya dan Aa beriringan masuk kamar padahal masih pukul 22.00 CLT (Cairo Local Time). Lalu lelap pulas hingga pukul 6 pagi, ups! 😀

Hari kedua, tanggal 1 April 2013, aktifitas kami hanya makan, tidur, makan dan tidur kembali (jangan ditiru, hehehe).

Rasanya lelaaaah sekali, seperti tidak tidur satu tahun lamanya 😀

Ternyata, backpack membawa 16 peserta ‘MB EGYPT Trip’ amat berbeda dengan backpack seorang diri 🙂

Ada tanggung jawab sangat besar yang harus kami sandang, sejak berbulan-bulan (sebelum tiba di Mesir) hingga 10 hari berjalan di bumi para Nabi 🙂

Setiba di Mesir, nyaris setiap hari, saya dan tim baru bisa menghampiri kasur ‘budget flat / hostel’ pukul 3 dinihari. Kami harus rapat dadakan saban malam.

Kenapa harus seperti itu?

Karena adik-adik al Azhar yang akhirnya memutuskan membantu ‘MB EGYPT Trip’ baru terbentuk anggotanya persis 3 hari sebelum kedatangan 18 backpackers ini!

Kepanitiaan yang semula saya bentuk sejak di tanah air ternyata harus saya bongkar kembali hingga tiga kali. The stories (related to EO) behind the scene of this journey were so unpredictable and drawn my energy! 🙂

InsyaAllah, saya, Aa dan adik-adik al Azhar belajar banyak hal sekaligus sepanjang mengelola trip ini!
Seluruh hal yang sudah terjadi di sepanjang trip sungguh tidak bisa dinilai dengan uang sebesar apapun, pada akhirnya, Pengalaman memang mahal harganya, dan pada akhirnya rizki tidak semata berbentuk uang bukan? 🙂

***

Tanggal 2 April kemarin, saya dan Aa merasa pulih kembali. Kami memutuskan keluar dari sarang nyaman kami 🙂

Honeymoon Backpacker kami buka dengan meminta surat pengantar dari KBRI untuk apply visa ke Tunisia.

Pasca revolusi, apply visa ke Tunisia untuk orang Indonesia diperketat. Ada banyak syarat yang harus kami lengkapi. Tak mengapa, kami masih 3 minggu di bumi kinanah ini, masih cukup waktu 🙂

Kelar lapor diri dan mengajukan permohonan surat jalan untuk apply visa Tunisia sebesar $15 per orang ($30 untuk kami berdua), kami mampir ke toko sebelah (tidak jauh dari konsuler KBRI), Aa membeli sandal made in China (25 Le saja) dan sempat mampir ke toko Ranin, khusus menjual alat-alat rumah tangga. Rasanya kami membutuhkan ‘ricecooker‘ untuk menanak nasi 🙂

Beres dari Ranin (dan saya belum memutuskan untuk membeli ricecooker) kami meluncur ke Madrasah, salah satu pasar tradisional terbesar di distrik Nasr City.

What a vibrant traditional market!

Saya dan Aa betah berlama-lama menawar panci, wajan, centong, sutil dkk, hehehe 😀
Ya, kami berencana memasak Soto Banjar untuk menjamu tim sukses ‘MB EGYPT Trip’, insyaAllah acara silaturahmi dan makan bersama akan kami adakan di flat Teh Eva dan BanG Rohmat tanggal 6 besok (jika tak ada halangan) 😀

***

Hari ini kami mau ke mana?

InsyaAllah akan jelajah aneka ‘maktabah‘ (toko buku), mudahan bisa dijadikan bahan ide dan naskah untuk ‘Travel Leisure Republika’ atau rubrik sejenis di majalah / koran lainnya 🙂

Tunggu update hasil jelajah kami ya 🙂

***