Kiblat dan Respek

Kiblat dan Respek

Salah satu aplikasi yang kubiarkan terpasang di handphone adalah kompas. Dia yang akan memandu arahku melangkah menapaki jengkal demi jengkal tanah destinasi yang baru aku kunjungi. Di sisi lain, dan ini yang paling penting, memudahkanku mencari arah kiblat ketika akan menunaikan shalat. Cukup mengetahui arah utara, maka akan diketahui arah lain, barat, timur, dan selatan. Dari situ bisa aku perkirakan arah kiblat dengan mudah. Saat berada di benua biru, misalnya, arah kiblat kurang lebih ada di tenggara. Lebih akurat lagi sih aplikasi www.muslimpro.com atau www.islamicfinder.org

Tak seperti biasanya, malam itu aplikasi kompas tak aku pasang karena space-nya penuh. Ketika terbangun pagi dan lantas ke dapur umum hostel untuk mengambil air minum, seorang petugas berbadan subur sedang menyiapkan segala rupa untuk sarapan beberapa saat lagi. Kami saling menyapa dan menyunggingkan senyum.

“Hai, good morning” Sapaku.

“Good morning.” Responnya ramah.

Kendati harganya relatif murah, hostel di kota Lisbon yang satu ini tampak modern dan homy. Dibuat senyaman mungkin. Dari mulai fasilitas yang lengkap hingga keramahan petugasnya. Wajar jika reviews di booking.com mencapai nilai tinggi. Sembilan koma satu.

Pagi itu belum tampak banyak orang. Rupanya mereka lelap dalam istirahat. Subuh memang waktu paling enak untuk tidur ya. He he.

“Excuse me, please madam, could you help me. Pintaku sebelum mengungkapkan maksud.

“Yes.”

“Where is the north from here?”

Sebenarnya aku mau bertanya arah kiblat, tapi tidak tahu apa arti kiblat dalam bahasa Inggris. Ditambah, untuk memudahkan dia menjawab, aku cukup bertanya arah Utara atau Barat.

Kiblat adalah arah posisi Ka’bah berada, yaitu di kota Mekkah, di tengah-tengah mesjidil haram. Memang kiblat tak mesti di arah Barat. Tergantung kita sedang berdomisili di negara mana saat itu. Untuk orang yang sedang berada di Indonesia, arah kiblat berada di sebelah Barat, sedikit bergeser ke kanan (mendekati Barat Laut). Sementara bagi penduduk benua Afrika seperti Maroko, Mesir, atau benua Eropa, kiblat justru berada kurang lebih di arah sebaliknya, yaitu arah tenggara. Lain lagi orang yang sedang berada di mesjidil haram. Justru kiblat bisa dari segala arah. Bahkan orang shalat sama-sama menghadap kiblat tapi saling berhadapan, sebab Ka’bah ada ditengah-tengah.

“Hm.. I think..there..hm. But I’m not sure. I think there.” Ia tergagap menjelaskan. Entah karena benar-benar tidak tahu, entah karena pertanyaan ini dianggap iseng.

Kemudian ia kembali menyusun gelas dan piring di meja dapur.

Beberapa menit kemudian, ia kembali memanggilku. Rupanya ia kembali berpikir kenapa kok pagi-pagi bertanya soal arah. Terasa sangat aneh.

“Excuse me, what for do you ask me that?” Dia kembali bertanya.

“I have to pray. So I have to know where is the right direction for us.” Jawabku meyakinkan.

Ekspresi wajahnya kemudian tersentak kaget. Agaknya dia merasa betapa urusan ibadah dan berdoa bukan masalah sepele.

Oh, okay, wait me please. Sorry ya. I think you are just asking. I have to take my mobile phone and check it first, please.”

Aku juga merasa kaget dengan respon kedua yang terlihat lebih antusias mencari tahu daripada respon yang pertama tadi.

Saat merasa dianggap pertanyaan iseng, aku tak ngotot memaksa dia memberitahuku. Toh aku bisa berijtihad menentukan arah semampuku. Bukankah dalam Al-Quran pun diungkapkan, “Fa ainamâ tuwallû fa tsamma wajhu Allah.” Kemana saja kamu hadapkan wajahmu, di situlah wajah Allah. Jika sudah berusaha mencari arah kiblat namun tak mendapatkan hasil yang pasti, shalat saja kemanapun mengarah.

Dia lalu berjalan menuju information desk. Aku disuruh mengikutinya. Ia membuka hp dan mendownload aplikasi kompas yang ternyata belum terpasang.

“Do you have to pray now?”

“Yes of course.”

“So how many times you have to pray?”

 “We have to pray five times within 24 hours.”

“Really?”

Yes.”

“When?”

Masya Allah, bismillah inilah saatnya aku menyampaikan (tabligh) pada orang yang belum mengetahui. Sederhana tapi mendasar dan sangat penting.

“Subuh will be done at dawn to sunrise, should be performed at least 10-15 minutes before sunrise. And we pray zuhur after true noon until afternoon (Ashar). The we pray again afternoon. We pray magrib after sunset until dusk. The last is Isya. We could perform it from dusk until midnight or dawn. We could do it flexibel as long as within the time.”

Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, Isya

Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, Isya

“How many hours do you spend for each pray?”

“Only five or ten minutes.”

 “You have to do it even you are travelling like now?”

“O, No. When we are travelling (safar) we may do it only three times.”

“How do you do that?”

“I mean, zuhur and ashar in one time, magrib and isya in one time. And subuh like now, in one time.”

Dia mengangguk-ngangguk.

“So, I’m sure the north is there. See it!”

Dengan penuh semangat dia mendekatkan hp-nya dan menunjukkan jarum kompas.

“Right.” Jawabku puas.

Dia tersenyum bahagia setelah tuntas membantuku menemukan arah yang aku cari. Sebagaimana kepuasan dan kebahagiaan yang aku rasakan setelah aku bisa menyampaikan sesuatu yang dia belum ketahui. Ditambah rasa salut atas sikap respeknya terhadap orang yang ingin menunaikan ibadah sesuai dengan keyakinan penganutnya. Terlepas dari motif dan alasan dia membantuku. Apakah murni membantu atau demi memuaskan konsumen. Yang pasti tak ada rasa bete, acuh, atau benci.

Akhirnya pagi itu ada dialog keagamaan dengan seorang petugas hostel di jantung kota Lisbon. Temanya ringan namun agak berat bagiku sebab bahasa Inggris-ku yang masih terbatas. Kendati demikian, alhamdulillah pertanyaan demi pertanyaan dapat aku jawab. Semoga saja dialog semacam ini memacuku untuk terus belajar menyampaikan ilmu dengan baik. Tugas kita adalah menyampaikan, bukan memaksakan.

Aku pun jadi berpikir, jika orang lain beranggapan negatif terhadap Islam, mungkin karena mereka belum mengetahui kemuliaan ajaran Islam secara benar dan detail. Bisa jadi hanya karena menyaksikan media yang menampilkan secara sepihak perilaku negatif sebagian umat Islam, mereka membuat kesimpulan yang salah bahwa Islam mengajarkan hal yang tidak baik.

“Ok, thank you, madam.”

Saya mengakhiri pembicaraan karena langit perlahan benderang.

“You are welcome.”

Responnya sembari membetulkan posisi kacamata tebalnya.

Aku pamit dan bergegas menuju kamar bed-dormitory 501.4 yang berisi delapan orang. Dari kamar berukuran 4×4 meter yang masih senyap, aku melipir ke balkon dan menggelar matras biru. Allahu Akbar! Wahai Allah, Engkau Dzat yang Mahabesar.

Catatan dari Lisbon, 24 September 2016

Advertisements