Kiblat dan Respek

Kiblat dan Respek

Salah satu aplikasi yang kubiarkan terpasang di handphone adalah kompas. Dia yang akan memandu arahku melangkah menapaki jengkal demi jengkal tanah destinasi yang baru aku kunjungi. Di sisi lain, dan ini yang paling penting, memudahkanku mencari arah kiblat ketika akan menunaikan shalat. Cukup mengetahui arah utara, maka akan diketahui arah lain, barat, timur, dan selatan. Dari situ bisa aku perkirakan arah kiblat dengan mudah. Saat berada di benua biru, misalnya, arah kiblat kurang lebih ada di tenggara. Lebih akurat lagi sih aplikasi www.muslimpro.com atau www.islamicfinder.org

Tak seperti biasanya, malam itu aplikasi kompas tak aku pasang karena space-nya penuh. Ketika terbangun pagi dan lantas ke dapur umum hostel untuk mengambil air minum, seorang petugas berbadan subur sedang menyiapkan segala rupa untuk sarapan beberapa saat lagi. Kami saling menyapa dan menyunggingkan senyum.

“Hai, good morning” Sapaku.

“Good morning.” Responnya ramah.

Kendati harganya relatif murah, hostel di kota Lisbon yang satu ini tampak modern dan homy. Dibuat senyaman mungkin. Dari mulai fasilitas yang lengkap hingga keramahan petugasnya. Wajar jika reviews di booking.com mencapai nilai tinggi. Sembilan koma satu.

Pagi itu belum tampak banyak orang. Rupanya mereka lelap dalam istirahat. Subuh memang waktu paling enak untuk tidur ya. He he.

“Excuse me, please madam, could you help me. Pintaku sebelum mengungkapkan maksud.

“Yes.”

“Where is the north from here?”

Sebenarnya aku mau bertanya arah kiblat, tapi tidak tahu apa arti kiblat dalam bahasa Inggris. Ditambah, untuk memudahkan dia menjawab, aku cukup bertanya arah Utara atau Barat.

Kiblat adalah arah posisi Ka’bah berada, yaitu di kota Mekkah, di tengah-tengah mesjidil haram. Memang kiblat tak mesti di arah Barat. Tergantung kita sedang berdomisili di negara mana saat itu. Untuk orang yang sedang berada di Indonesia, arah kiblat berada di sebelah Barat, sedikit bergeser ke kanan (mendekati Barat Laut). Sementara bagi penduduk benua Afrika seperti Maroko, Mesir, atau benua Eropa, kiblat justru berada kurang lebih di arah sebaliknya, yaitu arah tenggara. Lain lagi orang yang sedang berada di mesjidil haram. Justru kiblat bisa dari segala arah. Bahkan orang shalat sama-sama menghadap kiblat tapi saling berhadapan, sebab Ka’bah ada ditengah-tengah.

“Hm.. I think..there..hm. But I’m not sure. I think there.” Ia tergagap menjelaskan. Entah karena benar-benar tidak tahu, entah karena pertanyaan ini dianggap iseng.

Kemudian ia kembali menyusun gelas dan piring di meja dapur.

Beberapa menit kemudian, ia kembali memanggilku. Rupanya ia kembali berpikir kenapa kok pagi-pagi bertanya soal arah. Terasa sangat aneh.

“Excuse me, what for do you ask me that?” Dia kembali bertanya.

“I have to pray. So I have to know where is the right direction for us.” Jawabku meyakinkan.

Ekspresi wajahnya kemudian tersentak kaget. Agaknya dia merasa betapa urusan ibadah dan berdoa bukan masalah sepele.

Oh, okay, wait me please. Sorry ya. I think you are just asking. I have to take my mobile phone and check it first, please.”

Aku juga merasa kaget dengan respon kedua yang terlihat lebih antusias mencari tahu daripada respon yang pertama tadi.

Saat merasa dianggap pertanyaan iseng, aku tak ngotot memaksa dia memberitahuku. Toh aku bisa berijtihad menentukan arah semampuku. Bukankah dalam Al-Quran pun diungkapkan, “Fa ainamâ tuwallû fa tsamma wajhu Allah.” Kemana saja kamu hadapkan wajahmu, di situlah wajah Allah. Jika sudah berusaha mencari arah kiblat namun tak mendapatkan hasil yang pasti, shalat saja kemanapun mengarah.

Dia lalu berjalan menuju information desk. Aku disuruh mengikutinya. Ia membuka hp dan mendownload aplikasi kompas yang ternyata belum terpasang.

“Do you have to pray now?”

“Yes of course.”

“So how many times you have to pray?”

 “We have to pray five times within 24 hours.”

“Really?”

Yes.”

“When?”

Masya Allah, bismillah inilah saatnya aku menyampaikan (tabligh) pada orang yang belum mengetahui. Sederhana tapi mendasar dan sangat penting.

“Subuh will be done at dawn to sunrise, should be performed at least 10-15 minutes before sunrise. And we pray zuhur after true noon until afternoon (Ashar). The we pray again afternoon. We pray magrib after sunset until dusk. The last is Isya. We could perform it from dusk until midnight or dawn. We could do it flexibel as long as within the time.”

Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, Isya

Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, Isya

“How many hours do you spend for each pray?”

“Only five or ten minutes.”

 “You have to do it even you are travelling like now?”

“O, No. When we are travelling (safar) we may do it only three times.”

“How do you do that?”

“I mean, zuhur and ashar in one time, magrib and isya in one time. And subuh like now, in one time.”

Dia mengangguk-ngangguk.

“So, I’m sure the north is there. See it!”

Dengan penuh semangat dia mendekatkan hp-nya dan menunjukkan jarum kompas.

“Right.” Jawabku puas.

Dia tersenyum bahagia setelah tuntas membantuku menemukan arah yang aku cari. Sebagaimana kepuasan dan kebahagiaan yang aku rasakan setelah aku bisa menyampaikan sesuatu yang dia belum ketahui. Ditambah rasa salut atas sikap respeknya terhadap orang yang ingin menunaikan ibadah sesuai dengan keyakinan penganutnya. Terlepas dari motif dan alasan dia membantuku. Apakah murni membantu atau demi memuaskan konsumen. Yang pasti tak ada rasa bete, acuh, atau benci.

Akhirnya pagi itu ada dialog keagamaan dengan seorang petugas hostel di jantung kota Lisbon. Temanya ringan namun agak berat bagiku sebab bahasa Inggris-ku yang masih terbatas. Kendati demikian, alhamdulillah pertanyaan demi pertanyaan dapat aku jawab. Semoga saja dialog semacam ini memacuku untuk terus belajar menyampaikan ilmu dengan baik. Tugas kita adalah menyampaikan, bukan memaksakan.

Aku pun jadi berpikir, jika orang lain beranggapan negatif terhadap Islam, mungkin karena mereka belum mengetahui kemuliaan ajaran Islam secara benar dan detail. Bisa jadi hanya karena menyaksikan media yang menampilkan secara sepihak perilaku negatif sebagian umat Islam, mereka membuat kesimpulan yang salah bahwa Islam mengajarkan hal yang tidak baik.

“Ok, thank you, madam.”

Saya mengakhiri pembicaraan karena langit perlahan benderang.

“You are welcome.”

Responnya sembari membetulkan posisi kacamata tebalnya.

Aku pamit dan bergegas menuju kamar bed-dormitory 501.4 yang berisi delapan orang. Dari kamar berukuran 4×4 meter yang masih senyap, aku melipir ke balkon dan menggelar matras biru. Allahu Akbar! Wahai Allah, Engkau Dzat yang Mahabesar.

Catatan dari Lisbon, 24 September 2016

Advertisements

Wefie: Rayakan Sembuh di Brugge

 

Wefie rayakan sembuh di Brugge! :)

Wefie rayakan sembuh di Brugge! Saking susah foto dengan tangan sendiri, si Aa nyengir kuda! 🙂

Rayakan Sehat di Brugge!

Tak pernah terbayangkan, jika #DakwahBackpacking dan #HoneymoonBackpacking di tahun 2014 dipenuhi sederet ‘drama’ dan musibah.

Salah satunya adalah ambruknya saya sampai akhirnya dilarikan ke Luisen Hospital di Aachen, Jerman.

Penyebabnya?

Continue reading

Liburan Seru Dengan Sepeda Impian Ala Honeymoon Backpacker

Liburan Seru Honeymoon Backpacker Dengan Sepeda Impian

Jika diingat-ingat kembali, liburan paling seru yang kami alami selalu berhubungan dengan sepeda! Tidak hanya kala backpack di Eropa, tapi juga saat liburan tanah air dan negara tetangga. 

Sejak kapan kami jatuh hati pada aktifitas bersepeda?

Saya mengingat-ngingat. Jawabannya sangat mudah! Sejak kami mencicipi naik sepeda keliling kota Stockholm tahun 2013 lampau.

Saya dan suami dipinjami dua sepeda milik Mbak Mieke dan Mas Tio, host kami saat itu. Alasannya sederhana, local transport semacam bis umum sangat mahal untuk kantung backpacker seperti kami. Sekali naik bis harus bayar sekitar 100 SEK (Swedish Krona) untuk berdua. Kurang lebih setara 150 ribu rupiah! Kebayang bangkrut kalau kemana-mana naik bis atau taksi kan!

Awalnya saya kagok karena harus membawa sepeda di sebelah kanan. Berkali-kali menjerit karena nyaris mengambil jalur kiri saat harus membelok, padahal mesti tetap meluncur di sisi kanan tubuh. Rasanya gugup sekaligus excited!

Setelah beberapa saat menyesuaikan diri, feeling dan irama kaki makin serasi mengayuh pedal sepeda! Selanjutnya ketagihan!

Hembusan udara musim panas yang hampir berakhir menyelusup lembut ke dalam jilbab dan meninggalkan rasa sejuk dalam kepala. Kayuhan sepeda yang meluncur sempurna di jalanan beraspal memacu keluarnya hormon endorphin! Saya merasa bahagia di atas sepeda!

liburan dengan sepeda di stockholm 5-9-2013

 

Wah, backpack menggunakan sepeda di Eropa ternyata bukan main seru! 🙂

Continue reading

Jumat Wada’ di Brussels

Jumat Wada’ di Brussels

Rangkaian perjalanan sepuluh hari silam bagi kami tentu sarat cerita dan kesan.

Sebut saja di Itali, kami mendapat delayed beruntun. Pasalnya, masinis kereta lokal terlambat datang. Akibatnya, semua jadual kereta harus mundur satu jam. Ditambah delayed bis ke bandara Treviso 1 jam. Sehingga kami nyaris ketinggalan pesawat.

Lain Itali lain Malaga. Di Malaga kami justru ‘dimanjakan’ di bandara. ‘Menumpang tidur gratis’ di salah satu restoran yang sudah tutup, terletak tak jauh dari gate-gate keberangkatan dalam Malaga Airport. Ada fasilitas kursi panjang empuk milik restoran. Tak hanya itu, kami dijamu air panas gratis, dan tentu saja toilet yang nyaman.

Di Granada lain cerita, kami menghabiskan waktu jelajah Al-Hambra seharian penuh. Lupa masih ada satu obyek belum kami datangi. Saat mau masuk istana ‘General Life’, kami ditolak petugas karena tternyata validitas tiket masuk istana ‘General Life’ telah habis. Kami sungguh tidak menyadari batasan waktu tersebut, saking terpesona pada keindahan dan keanggunan Nasrid Palaces!

Terutama di Alhambra, hati kami sempat bergemuruh menyaksikan kalimat tauhid tertempel kuat di segenap dinding istana peninggalan Dinasti Nasried yang memerintah selama kurang lebih 300-an tahun. Kami pun diliput haru kala menilik dan membaca, Al-Qudratu lillah (Kekuasaan hanya milik Allah), Al-Izzatu Lillah (Kejayaan hanya milik Allah), La Ghaliba illallah (Tiada penakluk selain Allah) Wa ma bikum min ni’matin faminallah (Nikmat kalian apa saja, semua dari Allah), Alhamdulillah ‘ala ni’matil Islam (Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam), dan sebagainya. La haula wa la quwwata illa billah. Memang tiada daya dan upaya melainkan hanya dari Allah Swt.

Belum lagi cerita di Cordoba, Madrid, dan Paris.

***

Setelah perjalanan usai, Jumat pagi ini lelah tubuh belum pulih. Rasa capek masih bersisa. Namun agaknya jadual khutbah jumat (wada’) di KBRI Brussel harus tetap saya penuhi.

“Supaya menjadi kesempatan berpamitan dengan jama’ah, khususnya jama’ah KPMI Belgia.” Dorong istri.

Bismillah.
Saya ditemani Atif kecil berangkat berkereta menuju Brussels.

Saya tak ragu membawakan tema seputar petikan hikmah dari Haji dan ibadah Qurban. Sebab kurang lebih 2 hari lagi, jamaah haji di Mekkah akan memulai tarwiyah, berwukuf di Arafah, kemudian manasik haji yang lain. Bagi mereka, rangkaian manasik adalah kesempatan emas untuk menghambakan diri kepada Allah sepenuh hati, jiwa, dan raga. Saudara-saudara kita, para hujjaj di sana akan berupaya meraup taburan kasih sayang dan ampunan Allah Swt.

Betapa Maha Rahman Maha Rahim Allah, sehingga Dia membuka banyak kesempatan untuk menyucikan diri dari alpa, lupa, dan dosa.

Dua bulan lalu, kita dianugerahi bulan ramadhan nan penuh berkah. Disusul bulan syawal dengan shaum 6 hari. Dilanjut bulan Dzulqa’dah (seperti bulan-bulan lain) dengan shaum sunnah Senin Kamis atau Ayyamul Bidh-nya. Lalu disusul bulan Dzulhijjah, bulan haji.

Semua pintu kesempatan untuk menebus lumuran noda jiwa, Allah hamparkan tanpa henti.

Para hujjaj yang mabrur, dijanjikan Nabi akan diberikan surga Allah. Sementara kita yang tidak sedang berhaji, diberikan kabar gembira akan diampuni dosa selama dua tahun, dengan cara menunaikan shaum sunnah Arafah 9 Dzulhijjah. Saat para hujjaj berwukuf di sana.

Jika sudah demikian Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Ia, pantaskah kita menyia-nyiakannya?! Atau malah kita tidak peduli dengan kekotoran hati kita. Na’udzu billah.

Ibadah haji dan Qurban adalah simbol pengorbanan. Ia adalah upaya membuktikan pengakuan cinta dan loyalitas kepada Allah dan Rasul.

Usai jumatan, saya berpamitan kepada jamaah KPMI terkhusus Pak Iman, staf KBRI sekaligus ketua KPMI. Seraya memohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan selama saya dan istri menunaikan amanah di sini. Tiada gading yang tak retak. Demikian pepatah masyhur menyebutkan. Kami pun bersalaman, bermaafan, berpelukan, dan saling mendoakan kebaikan bagi segala rencana dan cita-cita kejayaan Islam dan Umatnya.

Saya semakin terharu, saat Pak Iman mengantar saya dan athif langsung ke Metro Roodebek untuk kembali ke rumah di Bambrugge.

Sepanjang kaki saya menapaki pedestrian, saya merasa tanah Brussels seakan menatap sembari melambai, mengucap perpisahan untuk kembali berjumpa di waktu yang hanya Allah yang Mahatahu.

Dinginnya udara Brussels memeluk erat, semakin menguarkan rasa ngelangut dalam dada, karena saya akan meninggalkan kehangatan persaudaraan Islam di ibukota Belgia ini.

Hingga sampailah saya di loket penjualan tiket metro.

Seorang pelayan loket berwajah ramah dan bercahaya menyunggingkan senyum. Wajahnya campuran Arab-Eropa Muslim. Saya pun tidak ragu menyampaikan salam.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah” Dia menjawab lebih fasih dariku.

Wah, agaknya akan lebih asyik mengobrol. Setelah menanyakan kabar layaknya tradisi bersapa di tanah Maroko sana, saya berujar,

“Uriidu tadzkirah li rihlah waahidah (one voyage). Kam Ats-tsaman?” Saya ingin membeli satu tiket untuk satu perjalanan. Berapa harganya?”

“Thayyib, maktub fi lauhah, itsnan euro.” Baiklah, seperti tertulis di papan, 2 euro/ one voyage”

Tertulis pula di situ, untuk pembelian 2 euro, minimal uang pembelian adalah 5 euro.

Segera saya menjelaskan kondisi saya.

“Masyi, lakin lil asaf asy-syadid, ‘indi khamsun euro laisat fakkah. Tafadhhal.” Baik, tapi maaf sekali, saya ada 50 euro bukan pecahan. Silahkan.

“Wah, kamu tidak punya uang pas saja?”

“Hm, saya tidak punya.”

Mudah-mudahan di sini tidak sekejam di Madrid dan Paris. Gumam hati saya.

Di dua negara tersebut kami sempat harus merelakan perjalanan tertunda bahkan hingga 3 jam, hanya gara-gara petugas tidak mau melayani transaksi pembelian tiket kereta, hanya karena kami tidak memakai uang pas. Malah menyuruh kami keliling membeli sesuatu di toko mana saja untuk mencari uang pecahan. Dan menemukan toko yang mau memberi uang recehan juga tidak mudah menjelang midnight dan semua toko sudah tutup.

“Khalash, laisa fihi musykilah.” Ya sudah, tidak apa-apa.

Alhamdulillah.

Sambil transaksi, saya sempatkan mengobrol.

Nama petugas itu Abdurrahim.

Setelah menanyakan nama saya, dia berujar, “Nahnu Ikhwah. Al-Muslimun Kulluhum Kal Wahid.” Kita ini saudara. Seluruh umat Islam ibarat satu (tubuh). Seraya membacakan ragam doa untuk saya. Apalagi setelah dia tahu saya mau melanjutkan studi di Tunis.

Terlontar dari bibir beliau, barakallahu fik, wa zadakallahu ‘ilman nafi’an, wa wassa’allahu laka rizqak. Semoga Allah memberkahimu, menambahkan ilmu yang bermanfaat, dan meluaskan rezekimu.

Saya jawab, “Wa iyyak ya akhil kariim” Demikian pula untukmu, saudaraku.

Tak terasa transaksi usai dan antrian mulai memanjang. Saya pun berpamitan.

“Syukran ya Akhi Abdurrahim, barakallahu fi syughlik wa wassa’allahu rizqak. Ilalliqa” Terima kasih, saudaraku. Semoga pekerjaanmu diberkahi dan rezekimu pun diluaskan-Nya. Sampai ketemu lagi.

Alhamdulillah, petugas loket karcis di Metro Roodebek berusia kira-kira 50 tahunan baik hati itu menutup rangkaian perjalanan kami selama kami di Eropa. Setelah sebelumnya berkali-kali bertemu sosok petugas berwajah bengis, sinis, bahkan bau bir saat melayani kami, yang kami temui kala 10 hari menjelajah eropa mulai Jerman, Swedia, Finlandia, Belanda, Ceko, Italia, Spanyol dan Perancis.

Alhamdulillah, semoga engkau mampu menampilkan wajah Islam yang ramah. Ilalliqa’ ya Abdurrahim!

Ilalliqa ya Brussels! Ilalliqa’ ya Uruba!

Sampai jumpa Brussels! sampai jumpa lagi Eropa!

Bambrugge, Jumat senja, 11 Oktober 2013

 

 

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

 

Our Steps in Alhambra :)

Jejak kaki kami berdua di Alhambra

 

Alhamdulillah…

One of my dreams finally came true yesterday, I’ve finally stepped Alhambra  in Granada with my beloved one!

Thank you my dear husband, Risyan Nurhakim, for accompanying me realizing my dream to see Granada after our second years of marriage life 🙂

 

***

Kemarin, pagi-pagi sekali kami berjuang untuk bangun, setelah sehari sebelumnya tiba di Granada bus station sekitar pukul 17:30 waktu setempat.

Khawatir kemalaman, Aa gegas membaca peta yang kami dapatkan gratis di salah satu tour operator dalam terminal bus, untuk segera ‘membaca’ kota Granada 🙂

Sesuai petunjuk Polaroid Siesta Hostel yang dikirimkan via email, kami harus naik bis no 3 atau 33 (jika mau mengirit budget) persis setelah keluar terminal bus.

Kami langkahkan kaki keluar dan halte yang dimaksud segera kami temukan. Rupanya backpackers lainnya sudah siap-siap menaiki bis 33.

Saat bersiap membayar uang tiket, sang supir berujar, “One twenty!”

Wow, murah sekali transportasi publik di Granada dan Malaga -dua kota yang sudah kami kunjungi di Spanyol Selatan ini, dibandingkan dengan harga bis di kota-kota turis lainnya di daratan Eropa, Padahal bisnya bagus, nyaman dan bersih 🙂

Sebagai perbandingan lebih jauh, bis ATVO dari Venice Mestre ke Ryanair Airport di Venice Treviso yang berjarak hanya 30 menitan saja (jika tidak macet) kami harus membayar 10 E / orang.

Sedang bis bandara Malaga Airport ke Malaga Alameda (City Centre) dengan jarak tempuh tidak jauh berbeda, hanya menarik biaya 3 E / orang.

Hmmm, dari sisi budgetting, jelas kami jatuh hati pada Spanyol Selatan ketimbang Italia bagian utara 🙂

Dari sisi orang-orangnya apalagi.

Sejak awal tiba di Italia, saya sadar sepenuhnya, orang-orang Italia di area wisata tidak terlalu ramah pada turis, apalagi mungkin karena saya menggunakan jilbab? Entahlah…

Kami mengalami kejadian menyebalkan dengan seorang masinis kereta api di Florence yang saya tegur karena kereta tak jua kunjung berangkat padahal sudah delayed 30 menitan. Sikap masinis tak bertanggung jawab itu semakin menyublimkan citra Italia yang berantakan di mata kami berdua.

Sedang di Spanyol Selatan (sejauh ini Malaga dan Granada) kami menikmati keramahan dan kehangatan hati orang-orang Spanyol.

Mulai dari penduduk lokal, supir bis, masinis kereta api, petugas di Metro hingga resepsionis di hostel (alias para pelaku bisnis jasa) semuanya ramah-ramah 😉

Entah karena orang-orang Spanyol memutuskan bersikap ramah karena sadar pariwisata atau memang karakter asli orang Spanyol Selatan memang seperti itu?

Kami kurang tahu, yang jelas kami merasa betah menjelajah di Spanyol Selatan ini 🙂

Sikap positif penduduk Spanyol Selatan ini melahirkan sikap positif pada turis-turis mancanegara 🙂

Semenjak mini tripod kami ‘tewas’ salah satu kakinya dan tidak bisa digunakan lagi, lalu saya dan Aa berjuang memotret kami berdua dengan salah satu tangan, banyak sekali orang Amerika, Australia bahkan Inggris menawarkan memfotokan kami.

Meski hasil jepretan mereka kadang tak sebagus kerja tripod, hati kami sungguh tersentuh 🙂

Rupanya keanggunan Nasrid Palace di kota tua Alhambra dan sikap positif orang-orang Spanyol Selatan melahirkan kebaikan berantai 🙂

***

Banyak kejadian menarik yang kami temui sepanjang 10 jam berada di “The Monumental Complex of The Alhambra and The General Life”.

Sebuah bangunan pertama kali dibuat di Alhambra (dalam bahasa Arab disebut Alhamra, (artinya istana merah) pada tahun 1237 masehi oleh kekhalifahan Nasrid. Pembangunannya berlanjut hingga 250 tahun kemudian.
Muhammad I Al-Ahmar hingga selesai dibangun oleh Muhammad XII / Boabdil (1429).

Alhambra adalah salah satu simbol jejak kekuasaan kekhalifahan muslim Andalusia terakhir, sebelum direbut pasukan Ferdinand dan Isabella of Castile pada tahun 1492 dan layak diapresiasi jika berkesempatan ke Spanyol!

Saat memasuki pintu pemeriksaan tiket, mata kami langsung dimanjakan oleh hijaunya taman yang melingkupi Alhambra.

Indah dan menyejukkan mata.

Saat waktu kami tiba untuk memasuki Nasrid Palaces (ada 3 istana semuanya), saya dan Aa berkali-kali memegang dada dan berkaca-kaca.

300 tahun lamanya Islam memerintah di kota Granada dan memajukan kota ini dengan cahaya iman, islam dan ilmu pengetahuan.

Sedang sekarang, di luar suasana Alhambra yang agung, kami menyaksikan rusaknya dampak modernisasi di kota turis ini, perempuan Spanyol Selatan senang memerkan tubuh seksi mereka dan merokok tiada henti. 😦

Kami mengantri kala akan memasuki Nasrid Palaces dan mulai terpana-pana kala berada di dalam.

Di setiap dinding Nasrid Palaces terukir keindahan kalimat-kalimat ‘tayyibah’, menggambarkan halusnya akhlak dan sholehnya penguasa kekhalifahan Nasrid kala itu.

Kami hikmati perlahan-lahan indahnya arsitektur istana, air mancur mengalir di setiap ruang istana dan bergulirnya sejarah panjang kejayaan peradaban Islam yang terukir nyaris di setiap dinding Nasrid Palace!

Aa bilang, “Kaligrafi yang mereka ukir adalah kaligrafi tingkat tinggi. Betapa telatennya mereka mengukir dinding istana ini.”

Sebagai misal, kata-kata, “Laa ghaliba illal Llaah” tertatah di setiap penjuru dinding, artinya, “Tiada yang mengalahkan (apapun) kecuali Allah”.

Kata Aa, potongan kalimat di atas terinspirasi dari ayat Al-Qur’an, “Laa ghaaliba lahu illa huwa.”

Tatahan ‘Laa ghaliba illal Llaah’ mengajak kami berdua untuk selalu berzikir, mengingat lemahnya diri ini di hadapanNya yang perkasa.

Tatahan ayat, kalimah tayyibah dan puisi-puisi indah bertaburan di seluruh penjuru istana.

Jatah setiap pengunjung sebetulnya hanya 30 menit saja, tapi saking terpesonanya, saya dan Aa sibuk memotret semua ukiran huruf Arab tersebut dan kami berniat membacanya satu demi satu di kala senggang dan mudahan bisa menuliskannya kembali.

***

Sementara kami sibuk memotret kaligrafi di setiap dinding, di sisi lain, pengunjung mancanegara (terutama dari Cina) banyak yang heboh berfoto di setiap sudut istana dengan pakaian sangat minim, seksi dan seronok. Sambil sesekali berciuman dan berpagut penuh gairah dengan pasangan backpack mereka.

Ada satu pasangan yang bolak-balik melintas tak jauh dari kami, sepertinya mereka pasangan beda negara, berkali-kali berpagut mesra di hadapan pengunjung lainnya.

Sungguh tak tahu diri, “Have a room guys!”

Kecamuk rasa mengalir dalam dada.

Setelah 300 tahun kejayaan pemerintahan Islam, istana agung ini ternyata dinikmati dengan beragam cara oleh para pengunjung.

Kami salut pada pasangan kakek nenek dari Amerika, yang sibuk membaca buku sejarah sambil sesekali mencocokkannya dengan sudut istana yang sedang mereka datangi 🙂

Kakek ini pula yang menawarkan diri untuk memotret kami berdua, kala beliau melihat Aa beberapa kali hanya mengambil gambar saya saja 🙂

Kami akhirnya berkenalan dan memutuskan ‘keep in touch’ sekembali ke negara masing-masing 🙂

***

Ah, tak cukup sehalaman dua halaman untuk mengisahkan jejak sejarah yang ditinggalkan oleh kekhalifahan Nasrid ini.

Sebuah buku sepertinya patut dihasilkan dari kunjungan mengesankan ini, sebagaimana Irving Washington menulis sebuah buku berjudul, “Tales of the Alhambra” pada tahun 1829, saking luar biasa indahnya jejak sejarah yang diwariskan Alhambra pada dunia!

Image

Kereta Kehidupan

Kereta Kehidupan

Bangun tidur pagi ini seluruh badan terasa remuk redam, hehehe… Tidak menyangka, perjalanan menggunakan Quer-durchs-Land-Ticket selama 8 jam-an kemarin meninggalkan lelah berlapis 🙂

Bagaimana tidak, sejak awal itinerary rencana kepulangan kami ke Belgia terus berubah karena banyak hal, akhirnya kami memutuskan go show saja setelah Aa menunaikan kesempatan berceramah di Hamburg sebanyak dua kali, Sabtu sore dan Ahad sore lalu (21-22 September 2013.

Walhasil alternatif transportasi paling murah meriah jika mendadak adalah “Quer-durchs-Land-Ticket” yang sudah pernah kami pakai pada tanggal 😀

Ya sudah, mari memanfaatkan tiket terusan seluruh wilayah Jerman itu lagi. 🙂

***

Rupanya, karena sudah sekali memakai “Quer-durchs-Land-Ticket” dari Nurenberg menuju Hamburg, excitement-nya tidak terasa lagi, hehehe, betapa cepat bosannya manusia dan betapa fananya ‘kesenangan di dunia’! 🙂

Apalagi kereta yang kami naiki berkali-kali tidak sebagus kereta-kereta di hari Sabtu. Jarak tempuhnya juga tidak selama hari Sabtu. Yang terasa adalah, “Kok sebentar-sebentar turun naik kereta ya?!”

Mulai pukul 11. 54 kami turun naik Metronom sebanyak dua kali, S1 sekali, RE tiga kali, Eurogio Bahn sekali, dan diajak naik bis dalam kota dua kali.

Artinya -setelah naik ferry menyeberangi sungai Elbe yang dalam dan luas itu- kami bergonta-ganti moda transportasi sebanyak 9 kali, dengan waktu transfer terpendek hanya 4 menit –saya masih sempat ngeprint jadual perjalanan yang kami pilih menuju Aachen dan membeli tiketnya sekaligus!

Rasanya takjub pada keteraturan dan sinkronisasi jadual kereta api yang ada di Jerman dan Eropa pada umumnya 😉

Di sisi lain, salah satu kereta kami (jurusan Hannover – Minden menggunakan train S1) terlambat 3 menit! Padahal waktu transfer kami hanya lima menit dan harus turun naik tangga (tidak ada lift dan eskalator sama sekali) yang rata-rata menghabiskan 2 menit!

Karena si S1 telat tiba dan mengorupsi waktu transfer kami sebanyak 3 menit lamanya, sedang kereta jurusan Minden – Hamm pergi tepat waktu, 2 menit sisa yang kami miliki akhirnya tidak cukup untuk berlari turun dan naik tangga karena harus berpindah peron lalu gegas masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm tersebut.

Mau tidak mau kami ditinggal si train RE 10626 tersebut, karena waktu transfer kami hanya 2 menit saja dan jelas tidak keburu.

Untung kami tidak sedang akan naik pesawat atau mengejar sebuah janji teramat penting dan harus tepat waktu, seperti Sabtu lalu!

Saat itu saya dan Aa saling berpandangan menyaksikan fenomena ‘mengesankan’ ini.

Betapa waktu di negeri Eropa dihitung dari menit ke menit sedemikian rigid.

Telat 2-3 menit saja artinya siap ketinggalan transportasi berikutnya, mengeluarkan uang lebih banyak atau kehilangan kesempatan meeting ‘raksasa’. Mungkin saja, karena Aa sempat menyaksi dua orang bule yang saling bertangisan kala mereka juga tidak bisa masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm.

Dalam kereta saya sempat terpekur…

“Bukankah kehidupan di dunia ini sama seperti naik kereta api?

Jurusan yang kita pilih menentukan kebahagiaan yang akan kita kejar atau mau kita raih. Kadang kita harus berganti-ganti kereta api, atau malah mencobanya satu demi satu, karena kekurang-pahaman kita akan tujuan hidup yang ingin kita raih.

Lalu ada saatnya kita harus terhenti beberapa saat karena ketinggalan ‘kereta tujuan hidup’ akibat kurang fokusnya kita.

Tak apa, perjalanan kehidupan memang selalu jatuh-bangun. Akan tetapi ada baiknya segera fokus kembali, untuk mengejar ‘kereta tujuan berikutnya’, agar tak terus-menerus naik ‘kereta’ dan energi habis untuk berpindah-pindah tujuan perjalanan.

Dan sadarkah kita, tujuan hidup kita kerap disetir penghambaan berlebih pada dunia?

Kita kerap naik ‘kereta materialistik’ terus-menerus tanpa henti, dan lupa bahwa kebahagiaan hakiki kerap tak bisa kita kejar dengan menaiki ‘kereta materialistik’ karena bahagia hakiki sejatinya terletak dalam hati, bukan pada benda duniawi.

Saya tertegun berkali-kali, sudahkah saya memilih ‘kereta terbaik’ saya untuk menuju surgaNya yang tidak murah itu?

Sudahkah saya memilih ‘jurusan terbaik’ menuju ridhaNya?”