Wefie: Rayakan Sembuh di Brugge

 

Wefie rayakan sembuh di Brugge! :)

Wefie rayakan sembuh di Brugge! Saking susah foto dengan tangan sendiri, si Aa nyengir kuda! 🙂

Rayakan Sehat di Brugge!

Tak pernah terbayangkan, jika #DakwahBackpacking dan #HoneymoonBackpacking di tahun 2014 dipenuhi sederet ‘drama’ dan musibah.

Salah satunya adalah ambruknya saya sampai akhirnya dilarikan ke Luisen Hospital di Aachen, Jerman.

Penyebabnya?

Continue reading

Jumat Wada’ di Brussels

Jumat Wada’ di Brussels

Rangkaian perjalanan sepuluh hari silam bagi kami tentu sarat cerita dan kesan.

Sebut saja di Itali, kami mendapat delayed beruntun. Pasalnya, masinis kereta lokal terlambat datang. Akibatnya, semua jadual kereta harus mundur satu jam. Ditambah delayed bis ke bandara Treviso 1 jam. Sehingga kami nyaris ketinggalan pesawat.

Lain Itali lain Malaga. Di Malaga kami justru ‘dimanjakan’ di bandara. ‘Menumpang tidur gratis’ di salah satu restoran yang sudah tutup, terletak tak jauh dari gate-gate keberangkatan dalam Malaga Airport. Ada fasilitas kursi panjang empuk milik restoran. Tak hanya itu, kami dijamu air panas gratis, dan tentu saja toilet yang nyaman.

Di Granada lain cerita, kami menghabiskan waktu jelajah Al-Hambra seharian penuh. Lupa masih ada satu obyek belum kami datangi. Saat mau masuk istana ‘General Life’, kami ditolak petugas karena tternyata validitas tiket masuk istana ‘General Life’ telah habis. Kami sungguh tidak menyadari batasan waktu tersebut, saking terpesona pada keindahan dan keanggunan Nasrid Palaces!

Terutama di Alhambra, hati kami sempat bergemuruh menyaksikan kalimat tauhid tertempel kuat di segenap dinding istana peninggalan Dinasti Nasried yang memerintah selama kurang lebih 300-an tahun. Kami pun diliput haru kala menilik dan membaca, Al-Qudratu lillah (Kekuasaan hanya milik Allah), Al-Izzatu Lillah (Kejayaan hanya milik Allah), La Ghaliba illallah (Tiada penakluk selain Allah) Wa ma bikum min ni’matin faminallah (Nikmat kalian apa saja, semua dari Allah), Alhamdulillah ‘ala ni’matil Islam (Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam), dan sebagainya. La haula wa la quwwata illa billah. Memang tiada daya dan upaya melainkan hanya dari Allah Swt.

Belum lagi cerita di Cordoba, Madrid, dan Paris.

***

Setelah perjalanan usai, Jumat pagi ini lelah tubuh belum pulih. Rasa capek masih bersisa. Namun agaknya jadual khutbah jumat (wada’) di KBRI Brussel harus tetap saya penuhi.

“Supaya menjadi kesempatan berpamitan dengan jama’ah, khususnya jama’ah KPMI Belgia.” Dorong istri.

Bismillah.
Saya ditemani Atif kecil berangkat berkereta menuju Brussels.

Saya tak ragu membawakan tema seputar petikan hikmah dari Haji dan ibadah Qurban. Sebab kurang lebih 2 hari lagi, jamaah haji di Mekkah akan memulai tarwiyah, berwukuf di Arafah, kemudian manasik haji yang lain. Bagi mereka, rangkaian manasik adalah kesempatan emas untuk menghambakan diri kepada Allah sepenuh hati, jiwa, dan raga. Saudara-saudara kita, para hujjaj di sana akan berupaya meraup taburan kasih sayang dan ampunan Allah Swt.

Betapa Maha Rahman Maha Rahim Allah, sehingga Dia membuka banyak kesempatan untuk menyucikan diri dari alpa, lupa, dan dosa.

Dua bulan lalu, kita dianugerahi bulan ramadhan nan penuh berkah. Disusul bulan syawal dengan shaum 6 hari. Dilanjut bulan Dzulqa’dah (seperti bulan-bulan lain) dengan shaum sunnah Senin Kamis atau Ayyamul Bidh-nya. Lalu disusul bulan Dzulhijjah, bulan haji.

Semua pintu kesempatan untuk menebus lumuran noda jiwa, Allah hamparkan tanpa henti.

Para hujjaj yang mabrur, dijanjikan Nabi akan diberikan surga Allah. Sementara kita yang tidak sedang berhaji, diberikan kabar gembira akan diampuni dosa selama dua tahun, dengan cara menunaikan shaum sunnah Arafah 9 Dzulhijjah. Saat para hujjaj berwukuf di sana.

Jika sudah demikian Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Ia, pantaskah kita menyia-nyiakannya?! Atau malah kita tidak peduli dengan kekotoran hati kita. Na’udzu billah.

Ibadah haji dan Qurban adalah simbol pengorbanan. Ia adalah upaya membuktikan pengakuan cinta dan loyalitas kepada Allah dan Rasul.

Usai jumatan, saya berpamitan kepada jamaah KPMI terkhusus Pak Iman, staf KBRI sekaligus ketua KPMI. Seraya memohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan selama saya dan istri menunaikan amanah di sini. Tiada gading yang tak retak. Demikian pepatah masyhur menyebutkan. Kami pun bersalaman, bermaafan, berpelukan, dan saling mendoakan kebaikan bagi segala rencana dan cita-cita kejayaan Islam dan Umatnya.

Saya semakin terharu, saat Pak Iman mengantar saya dan athif langsung ke Metro Roodebek untuk kembali ke rumah di Bambrugge.

Sepanjang kaki saya menapaki pedestrian, saya merasa tanah Brussels seakan menatap sembari melambai, mengucap perpisahan untuk kembali berjumpa di waktu yang hanya Allah yang Mahatahu.

Dinginnya udara Brussels memeluk erat, semakin menguarkan rasa ngelangut dalam dada, karena saya akan meninggalkan kehangatan persaudaraan Islam di ibukota Belgia ini.

Hingga sampailah saya di loket penjualan tiket metro.

Seorang pelayan loket berwajah ramah dan bercahaya menyunggingkan senyum. Wajahnya campuran Arab-Eropa Muslim. Saya pun tidak ragu menyampaikan salam.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah” Dia menjawab lebih fasih dariku.

Wah, agaknya akan lebih asyik mengobrol. Setelah menanyakan kabar layaknya tradisi bersapa di tanah Maroko sana, saya berujar,

“Uriidu tadzkirah li rihlah waahidah (one voyage). Kam Ats-tsaman?” Saya ingin membeli satu tiket untuk satu perjalanan. Berapa harganya?”

“Thayyib, maktub fi lauhah, itsnan euro.” Baiklah, seperti tertulis di papan, 2 euro/ one voyage”

Tertulis pula di situ, untuk pembelian 2 euro, minimal uang pembelian adalah 5 euro.

Segera saya menjelaskan kondisi saya.

“Masyi, lakin lil asaf asy-syadid, ‘indi khamsun euro laisat fakkah. Tafadhhal.” Baik, tapi maaf sekali, saya ada 50 euro bukan pecahan. Silahkan.

“Wah, kamu tidak punya uang pas saja?”

“Hm, saya tidak punya.”

Mudah-mudahan di sini tidak sekejam di Madrid dan Paris. Gumam hati saya.

Di dua negara tersebut kami sempat harus merelakan perjalanan tertunda bahkan hingga 3 jam, hanya gara-gara petugas tidak mau melayani transaksi pembelian tiket kereta, hanya karena kami tidak memakai uang pas. Malah menyuruh kami keliling membeli sesuatu di toko mana saja untuk mencari uang pecahan. Dan menemukan toko yang mau memberi uang recehan juga tidak mudah menjelang midnight dan semua toko sudah tutup.

“Khalash, laisa fihi musykilah.” Ya sudah, tidak apa-apa.

Alhamdulillah.

Sambil transaksi, saya sempatkan mengobrol.

Nama petugas itu Abdurrahim.

Setelah menanyakan nama saya, dia berujar, “Nahnu Ikhwah. Al-Muslimun Kulluhum Kal Wahid.” Kita ini saudara. Seluruh umat Islam ibarat satu (tubuh). Seraya membacakan ragam doa untuk saya. Apalagi setelah dia tahu saya mau melanjutkan studi di Tunis.

Terlontar dari bibir beliau, barakallahu fik, wa zadakallahu ‘ilman nafi’an, wa wassa’allahu laka rizqak. Semoga Allah memberkahimu, menambahkan ilmu yang bermanfaat, dan meluaskan rezekimu.

Saya jawab, “Wa iyyak ya akhil kariim” Demikian pula untukmu, saudaraku.

Tak terasa transaksi usai dan antrian mulai memanjang. Saya pun berpamitan.

“Syukran ya Akhi Abdurrahim, barakallahu fi syughlik wa wassa’allahu rizqak. Ilalliqa” Terima kasih, saudaraku. Semoga pekerjaanmu diberkahi dan rezekimu pun diluaskan-Nya. Sampai ketemu lagi.

Alhamdulillah, petugas loket karcis di Metro Roodebek berusia kira-kira 50 tahunan baik hati itu menutup rangkaian perjalanan kami selama kami di Eropa. Setelah sebelumnya berkali-kali bertemu sosok petugas berwajah bengis, sinis, bahkan bau bir saat melayani kami, yang kami temui kala 10 hari menjelajah eropa mulai Jerman, Swedia, Finlandia, Belanda, Ceko, Italia, Spanyol dan Perancis.

Alhamdulillah, semoga engkau mampu menampilkan wajah Islam yang ramah. Ilalliqa’ ya Abdurrahim!

Ilalliqa ya Brussels! Ilalliqa’ ya Uruba!

Sampai jumpa Brussels! sampai jumpa lagi Eropa!

Bambrugge, Jumat senja, 11 Oktober 2013