Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

 

Our Steps in Alhambra :)

Jejak kaki kami berdua di Alhambra

 

Alhamdulillah…

One of my dreams finally came true yesterday, I’ve finally stepped Alhambra Β in Granada with my beloved one!

Thank you my dear husband, Risyan Nurhakim, for accompanying me realizing my dream to see Granada after our second years of marriage life πŸ™‚

 

***

Kemarin, pagi-pagi sekali kami berjuang untuk bangun, setelah sehari sebelumnya tiba di Granada bus station sekitar pukul 17:30 waktu setempat.

Khawatir kemalaman, Aa gegas membaca peta yang kami dapatkan gratis di salah satu tour operator dalam terminal bus, untuk segera ‘membaca’ kota Granada πŸ™‚

Sesuai petunjuk Polaroid Siesta Hostel yang dikirimkan via email, kami harus naik bis no 3 atau 33 (jika mau mengirit budget) persis setelah keluar terminal bus.

Kami langkahkan kaki keluar dan halte yang dimaksud segera kami temukan. Rupanya backpackers lainnya sudah siap-siap menaiki bis 33.

Saat bersiap membayar uang tiket, sang supir berujar, “One twenty!”

Wow, murah sekali transportasi publik di Granada dan Malaga -dua kota yang sudah kami kunjungi di Spanyol Selatan ini, dibandingkan dengan harga bis di kota-kota turis lainnya di daratan Eropa,Β Padahal bisnya bagus, nyaman dan bersih πŸ™‚

Sebagai perbandingan lebih jauh, bis ATVO dari Venice Mestre ke Ryanair Airport di Venice Treviso yang berjarak hanya 30 menitan saja (jika tidak macet) kami harus membayar 10 E / orang.

Sedang bis bandara Malaga Airport ke Malaga Alameda (City Centre) dengan jarak tempuh tidak jauh berbeda, hanya menarik biaya 3 E / orang.

Hmmm, dari sisi budgetting, jelas kami jatuh hati pada Spanyol Selatan ketimbang Italia bagian utara πŸ™‚

Dari sisi orang-orangnya apalagi.

Sejak awal tiba di Italia, saya sadar sepenuhnya, orang-orang Italia di area wisata tidak terlalu ramah pada turis, apalagi mungkin karena saya menggunakan jilbab? Entahlah…

Kami mengalami kejadian menyebalkan dengan seorang masinis kereta api di Florence yang saya tegur karena kereta tak jua kunjung berangkat padahal sudah delayed 30 menitan. Sikap masinis tak bertanggung jawab itu semakin menyublimkan citra Italia yang berantakan di mata kami berdua.

Sedang di Spanyol Selatan (sejauh ini Malaga dan Granada) kami menikmati keramahan dan kehangatan hati orang-orang Spanyol.

Mulai dari penduduk lokal, supir bis, masinis kereta api, petugas di Metro hingga resepsionis di hostel (alias para pelaku bisnis jasa) semuanya ramah-ramah πŸ˜‰

Entah karena orang-orang Spanyol memutuskan bersikap ramah karena sadar pariwisata atau memang karakter asli orang Spanyol Selatan memang seperti itu?

Kami kurang tahu, yang jelas kami merasa betah menjelajah di Spanyol Selatan ini πŸ™‚

Sikap positif penduduk Spanyol Selatan ini melahirkan sikap positif pada turis-turis mancanegara πŸ™‚

Semenjak mini tripod kami ‘tewas’ salah satu kakinya dan tidak bisa digunakan lagi, lalu saya dan Aa berjuang memotret kami berdua dengan salah satu tangan, banyak sekali orang Amerika, Australia bahkan Inggris menawarkan memfotokan kami.

Meski hasil jepretan mereka kadang tak sebagus kerja tripod, hati kami sungguh tersentuh πŸ™‚

Rupanya keanggunan Nasrid Palace di kota tua Alhambra dan sikap positif orang-orang Spanyol Selatan melahirkan kebaikan berantai πŸ™‚

***

Banyak kejadian menarik yang kami temui sepanjang 10 jam berada di “The Monumental Complex of The Alhambra and The General Life”.

Sebuah bangunan pertama kali dibuat di Alhambra (dalam bahasa Arab disebut Alhamra, (artinya istana merah) pada tahun 1237 masehi oleh kekhalifahan Nasrid. Pembangunannya berlanjut hingga 250 tahun kemudian.
Muhammad I Al-Ahmar hingga selesai dibangun oleh Muhammad XII / Boabdil (1429).

Alhambra adalah salah satu simbol jejak kekuasaan kekhalifahan muslim Andalusia terakhir, sebelum direbut pasukan Ferdinand dan Isabella of Castile pada tahun 1492 dan layak diapresiasi jika berkesempatan ke Spanyol!

Saat memasuki pintu pemeriksaan tiket, mata kami langsung dimanjakan oleh hijaunya taman yang melingkupi Alhambra.

Indah dan menyejukkan mata.

Saat waktu kami tiba untuk memasuki Nasrid Palaces (ada 3 istana semuanya), saya dan Aa berkali-kali memegang dada dan berkaca-kaca.

300 tahun lamanya Islam memerintah di kota Granada dan memajukan kota ini dengan cahaya iman, islam dan ilmu pengetahuan.

Sedang sekarang, di luar suasana Alhambra yang agung, kami menyaksikan rusaknya dampak modernisasi di kota turis ini, perempuan Spanyol Selatan senang memerkan tubuh seksi mereka dan merokok tiada henti. 😦

Kami mengantri kala akan memasuki Nasrid PalacesΒ dan mulai terpana-pana kala berada di dalam.

Di setiap dinding Nasrid Palaces terukir keindahan kalimat-kalimat ‘tayyibah’, menggambarkan halusnya akhlak dan sholehnya penguasa kekhalifahan Nasrid kala itu.

Kami hikmati perlahan-lahan indahnya arsitektur istana, air mancur mengalir di setiap ruang istana dan bergulirnya sejarah panjang kejayaan peradaban Islam yang terukir nyaris di setiap dinding Nasrid Palace!

Aa bilang, “Kaligrafi yang mereka ukir adalah kaligrafi tingkat tinggi. Betapa telatennya mereka mengukir dinding istana ini.”

Sebagai misal, kata-kata, “Laa ghaliba illal Llaah” tertatah di setiap penjuru dinding, artinya, “Tiada yang mengalahkan (apapun) kecuali Allah”.

Kata Aa, potongan kalimat di atas terinspirasi dari ayat Al-Qur’an, “Laa ghaaliba lahu illa huwa.”

Tatahan ‘Laa ghaliba illal Llaah’ mengajak kami berdua untuk selalu berzikir, mengingat lemahnya diri ini di hadapanNya yang perkasa.

Tatahan ayat, kalimah tayyibah dan puisi-puisi indah bertaburan di seluruh penjuru istana.

Jatah setiap pengunjung sebetulnya hanya 30 menit saja, tapi saking terpesonanya, saya dan Aa sibuk memotret semua ukiran huruf Arab tersebut dan kami berniat membacanya satu demi satu di kala senggang dan mudahan bisa menuliskannya kembali.

***

Sementara kami sibuk memotret kaligrafi di setiap dinding, di sisi lain, pengunjung mancanegara (terutama dari Cina) banyak yang heboh berfoto di setiap sudut istana dengan pakaian sangat minim, seksi dan seronok. Sambil sesekali berciuman dan berpagut penuh gairah dengan pasangan backpack mereka.

Ada satu pasangan yang bolak-balik melintas tak jauh dari kami, sepertinya mereka pasangan beda negara, berkali-kali berpagut mesra di hadapan pengunjung lainnya.

Sungguh tak tahu diri, “Have a room guys!”

Kecamuk rasa mengalir dalam dada.

Setelah 300 tahun kejayaan pemerintahan Islam, istana agung ini ternyata dinikmati dengan beragam cara oleh para pengunjung.

Kami salut pada pasangan kakek nenek dari Amerika, yang sibuk membaca buku sejarah sambil sesekali mencocokkannya dengan sudut istana yang sedang mereka datangi πŸ™‚

Kakek ini pula yang menawarkan diri untuk memotret kami berdua, kala beliau melihat Aa beberapa kali hanya mengambil gambar saya saja πŸ™‚

Kami akhirnya berkenalan dan memutuskan ‘keep in touch’ sekembali ke negara masing-masing πŸ™‚

***

Ah, tak cukup sehalaman dua halaman untuk mengisahkan jejak sejarah yang ditinggalkan oleh kekhalifahan Nasrid ini.

Sebuah buku sepertinya patut dihasilkan dari kunjungan mengesankan ini, sebagaimana Irving Washington menulis sebuah buku berjudul, “Tales of the Alhambra” pada tahun 1829, saking luar biasa indahnya jejak sejarah yang diwariskan Alhambra pada dunia!

Image

Advertisements