KEBETULAN?

Saya menatap masa depan di Masjid Hasan II yang berdiri gagah di tepi laut Atlantik, Casablanca, Maroko.

KEBETULAN?

Tanggal 4 – 5 Desember kemarin kami kedatangan tamu dari kota tetangga.

Adik mahasiswa program master yang sedang galau dengan program kuliahnya yang belum jua dimulai -karena memang urusan administrasi di Maroko memang lamban bukan main-dan beberapa kemungkinan masa depannya.

Karena si adik terbuka menceritakan masalahnya, kami pun nyaman sharing pengalaman hidup kami berdua. Terutama fragmen-fragmen saat menuntut ilmu.

Semoga bisa diambil sebagai pelajaran dan bahan pertimbangan si Adik tuk memutuskan langkah-langkah masa depannya.

Andai masa depan bukanlah sebuah rahasia, tentu manusia bisa bergerak sesuai gambaran masa depannya.

Semua ‘diprogram’ ibarat robot yang sudah jelas diciptakan manusia untuk melakukan kerja tertentu.

Tapi manusia bukanlah robot.

Manusia makhluk cerdas yang dibekali otak dan hati. Namun tak dititipi kemampuan menerawang masa depan.

Manusia harus berusaha (ikhtiar) dan melibatkan doa pada penguasa langit dan bumi.

Karena masa depan yang tak bisa diprediksi juga, manusia bergerak optimis, diliputi harap dan setitik cemas.

Karena inilah manusia menjadi sangat manusiawi bukan?

Diliputi impian, segudang harapan dan kesadaran ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Yaitu Sang Penentu Masa Depan. Allah penyipta umat manusia.

Dengan ketidak-tahuan akan masa depan, manusia menyadari ‘lemahnya’ diri.

“Manusia boleh berencana, namun Allah jua yang menentukan!”

Keyakinan akan keniscayaan ini membuat setiap orang yang beriman semakin rajin menegakkan ikhtiar.

Semakin bersemangat mengejar mimpi.

Dan di saat bersamaan semakin menyadari, betapa masa depan adalah kumpulan kerja keras, fokus pada mimpi dan doa tak putus padaNya.

Kembali ke kisah adik tadi.

Saya banyak berbagi potongan kisah saat menuntut ilmu di Inggris. Khususnya di kota Leeds.

Pergulatan batin dan masalah demi masalah yang harus dipecahkan satu persatu hingga akhirnya kenangan saya tersentak pada kata, Seville Road 37.

Alamat rumah yang saya sewa sepanjang tinggal di sana.

MasyaAllah!

12 tahun kemudian saya dan Aa ternyata sudah dua kali bolak-balik mengunjungi Sevilla di Spanyol!

Kata, Sevilla sangat mirip dengan kata, Seville bukan?!

Luar biasa…

Sungguh tak ada KEBETULAN di dunia ini!

Ada grand scenario dari Sang Maha.

Hanya kita manusia kerap tak sabar membaca tanda-tanda.

Di kasus saya, butuh 12 tahun kemudian saya menyadari ‘kebetulan’ yang ternyata bukanlah sebuah kebetulan belaka!

Mana pernah saya bayangkan sebelumnya, visa schengen yang kami dapat saat #dakwahbackpacking di Ramadhan 2015 dan berlaku tiga tahun ke depan memungkinkan kami bersilaturahmi mengunjungi kenalan kami di kota Sevilla.

Mengunjungi mereka sepanjang tahun 2016 di bulan Maret dan bulan September lalu.

Entah tahun depan.

Barangkali dengan ‘kebetulan’ kemiripan nama ini kami ada kesempatan menjejak tanah Inggris kembali?

Begitu juga dengan perjalanan lahir, merangkak dan tumbuhnya Kelana Cahaya Tour yang kami lahirkan berdua.

Bukanlah sebuah kebetulan. Ada grand scenario dariNya. 

InsyaAllah pelan tapi pasti mengarah sebagai social entrepreneurship di masa depan.

Tujuan detil silahkan intip di ‘Mimpi Kelana‘.

35 peserta Maroko Trip by Kelana Cahaya Tour foto bersama dengan saya dan Aa 🙂

Mungkin bersama program #KelanaCahayaTour atau kemungkinan kerjasama dengan pihak lainnya?

We will see! 🙂

Maha Suci Ia yang merahasiakan masa depan manusia.

Sehingga sampai detik ini saya dan Aa selalu bersemangat meniti hari, mengeja mimpi, menempa diri.

Tentu saja tak lupa memohon kasih sayangNya menyertai usaha dan mimpi sepanjang usia hingga menutup mata nanti.

Amin.

~~~~~

Ps.

Ada yang tertarik ikutan Maroko + Spanyol Trip bersama Kelana Cahaya Tour?

Kontak saya di wa: +212 628 564 059

Advertisements

Kiblat dan Respek

Kiblat dan Respek

Salah satu aplikasi yang kubiarkan terpasang di handphone adalah kompas. Dia yang akan memandu arahku melangkah menapaki jengkal demi jengkal tanah destinasi yang baru aku kunjungi. Di sisi lain, dan ini yang paling penting, memudahkanku mencari arah kiblat ketika akan menunaikan shalat. Cukup mengetahui arah utara, maka akan diketahui arah lain, barat, timur, dan selatan. Dari situ bisa aku perkirakan arah kiblat dengan mudah. Saat berada di benua biru, misalnya, arah kiblat kurang lebih ada di tenggara. Lebih akurat lagi sih aplikasi www.muslimpro.com atau www.islamicfinder.org

Tak seperti biasanya, malam itu aplikasi kompas tak aku pasang karena space-nya penuh. Ketika terbangun pagi dan lantas ke dapur umum hostel untuk mengambil air minum, seorang petugas berbadan subur sedang menyiapkan segala rupa untuk sarapan beberapa saat lagi. Kami saling menyapa dan menyunggingkan senyum.

“Hai, good morning” Sapaku.

“Good morning.” Responnya ramah.

Kendati harganya relatif murah, hostel di kota Lisbon yang satu ini tampak modern dan homy. Dibuat senyaman mungkin. Dari mulai fasilitas yang lengkap hingga keramahan petugasnya. Wajar jika reviews di booking.com mencapai nilai tinggi. Sembilan koma satu.

Pagi itu belum tampak banyak orang. Rupanya mereka lelap dalam istirahat. Subuh memang waktu paling enak untuk tidur ya. He he.

“Excuse me, please madam, could you help me. Pintaku sebelum mengungkapkan maksud.

“Yes.”

“Where is the north from here?”

Sebenarnya aku mau bertanya arah kiblat, tapi tidak tahu apa arti kiblat dalam bahasa Inggris. Ditambah, untuk memudahkan dia menjawab, aku cukup bertanya arah Utara atau Barat.

Kiblat adalah arah posisi Ka’bah berada, yaitu di kota Mekkah, di tengah-tengah mesjidil haram. Memang kiblat tak mesti di arah Barat. Tergantung kita sedang berdomisili di negara mana saat itu. Untuk orang yang sedang berada di Indonesia, arah kiblat berada di sebelah Barat, sedikit bergeser ke kanan (mendekati Barat Laut). Sementara bagi penduduk benua Afrika seperti Maroko, Mesir, atau benua Eropa, kiblat justru berada kurang lebih di arah sebaliknya, yaitu arah tenggara. Lain lagi orang yang sedang berada di mesjidil haram. Justru kiblat bisa dari segala arah. Bahkan orang shalat sama-sama menghadap kiblat tapi saling berhadapan, sebab Ka’bah ada ditengah-tengah.

“Hm.. I think..there..hm. But I’m not sure. I think there.” Ia tergagap menjelaskan. Entah karena benar-benar tidak tahu, entah karena pertanyaan ini dianggap iseng.

Kemudian ia kembali menyusun gelas dan piring di meja dapur.

Beberapa menit kemudian, ia kembali memanggilku. Rupanya ia kembali berpikir kenapa kok pagi-pagi bertanya soal arah. Terasa sangat aneh.

“Excuse me, what for do you ask me that?” Dia kembali bertanya.

“I have to pray. So I have to know where is the right direction for us.” Jawabku meyakinkan.

Ekspresi wajahnya kemudian tersentak kaget. Agaknya dia merasa betapa urusan ibadah dan berdoa bukan masalah sepele.

Oh, okay, wait me please. Sorry ya. I think you are just asking. I have to take my mobile phone and check it first, please.”

Aku juga merasa kaget dengan respon kedua yang terlihat lebih antusias mencari tahu daripada respon yang pertama tadi.

Saat merasa dianggap pertanyaan iseng, aku tak ngotot memaksa dia memberitahuku. Toh aku bisa berijtihad menentukan arah semampuku. Bukankah dalam Al-Quran pun diungkapkan, “Fa ainamâ tuwallû fa tsamma wajhu Allah.” Kemana saja kamu hadapkan wajahmu, di situlah wajah Allah. Jika sudah berusaha mencari arah kiblat namun tak mendapatkan hasil yang pasti, shalat saja kemanapun mengarah.

Dia lalu berjalan menuju information desk. Aku disuruh mengikutinya. Ia membuka hp dan mendownload aplikasi kompas yang ternyata belum terpasang.

“Do you have to pray now?”

“Yes of course.”

“So how many times you have to pray?”

 “We have to pray five times within 24 hours.”

“Really?”

Yes.”

“When?”

Masya Allah, bismillah inilah saatnya aku menyampaikan (tabligh) pada orang yang belum mengetahui. Sederhana tapi mendasar dan sangat penting.

“Subuh will be done at dawn to sunrise, should be performed at least 10-15 minutes before sunrise. And we pray zuhur after true noon until afternoon (Ashar). The we pray again afternoon. We pray magrib after sunset until dusk. The last is Isya. We could perform it from dusk until midnight or dawn. We could do it flexibel as long as within the time.”

Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, Isya

Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, Isya

“How many hours do you spend for each pray?”

“Only five or ten minutes.”

 “You have to do it even you are travelling like now?”

“O, No. When we are travelling (safar) we may do it only three times.”

“How do you do that?”

“I mean, zuhur and ashar in one time, magrib and isya in one time. And subuh like now, in one time.”

Dia mengangguk-ngangguk.

“So, I’m sure the north is there. See it!”

Dengan penuh semangat dia mendekatkan hp-nya dan menunjukkan jarum kompas.

“Right.” Jawabku puas.

Dia tersenyum bahagia setelah tuntas membantuku menemukan arah yang aku cari. Sebagaimana kepuasan dan kebahagiaan yang aku rasakan setelah aku bisa menyampaikan sesuatu yang dia belum ketahui. Ditambah rasa salut atas sikap respeknya terhadap orang yang ingin menunaikan ibadah sesuai dengan keyakinan penganutnya. Terlepas dari motif dan alasan dia membantuku. Apakah murni membantu atau demi memuaskan konsumen. Yang pasti tak ada rasa bete, acuh, atau benci.

Akhirnya pagi itu ada dialog keagamaan dengan seorang petugas hostel di jantung kota Lisbon. Temanya ringan namun agak berat bagiku sebab bahasa Inggris-ku yang masih terbatas. Kendati demikian, alhamdulillah pertanyaan demi pertanyaan dapat aku jawab. Semoga saja dialog semacam ini memacuku untuk terus belajar menyampaikan ilmu dengan baik. Tugas kita adalah menyampaikan, bukan memaksakan.

Aku pun jadi berpikir, jika orang lain beranggapan negatif terhadap Islam, mungkin karena mereka belum mengetahui kemuliaan ajaran Islam secara benar dan detail. Bisa jadi hanya karena menyaksikan media yang menampilkan secara sepihak perilaku negatif sebagian umat Islam, mereka membuat kesimpulan yang salah bahwa Islam mengajarkan hal yang tidak baik.

“Ok, thank you, madam.”

Saya mengakhiri pembicaraan karena langit perlahan benderang.

“You are welcome.”

Responnya sembari membetulkan posisi kacamata tebalnya.

Aku pamit dan bergegas menuju kamar bed-dormitory 501.4 yang berisi delapan orang. Dari kamar berukuran 4×4 meter yang masih senyap, aku melipir ke balkon dan menggelar matras biru. Allahu Akbar! Wahai Allah, Engkau Dzat yang Mahabesar.

Catatan dari Lisbon, 24 September 2016

Keutamaan Al-Quran

Keutamaan Al-Quran

Sehabis mengecek berkas di rektorat (riyasah), saya jumatan di Mesjid Asrama Kampus (Hayy Jami’i) Soussi Rabat untuk kedua kalinya selama tinggal di sini. Setelah sebulan lamanya mengendap di Ta’lim Aly, Alhamdulillah berkas sampai di rektorat dengan lengkap. Beberapa teman mengalami peristiwa sebagian berkas hilang, sampai harus dikirim ulang sisanya. La haula wa la quwwata illa billah.

Beberapa minggu lalu, saat menyimak ceramah sang khatib untuk pertama kali, saya langsung terpukau. Isinya berbobot dan menyentuh. Bahasa Arabnya fasih. Intonasinya tepat. Yang terpenting, beliau mampu menerjemahkan pesan-pesan Al-Quran dan hadis Rasulullah Saw. ke dalam fenomena sosial masa kini. Pantas saja, beliau adalah Dr. Jamal Saidi, ketua jurusan studi Islam di Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Mohamed V.

Dulu ceramah beliau bertema kemerdekaan. Sebab berdekatan dengan peringatan hari kemerdekaan Maroko. Intinya, beliau menegaskan bahwa adakalanya musuh menjajah bukan karena mereka kuat, melainkan karena kita sendiri menyia-nyiakan kekuatan dan harga diri kita.

Sementara ceramah beliau kemarin bertema Al-Quran. Ujarnya, Allah Swt. memuliakan Rasulullah Saw. dan umat Islam dengan Al-Quran. Melalui Al-Quran, umat Islam diangkat derajatnya. Untuk itu, selayaknya kemuliaan tersebut dipelihara dengan baik.

Caranya adalah dengan membaca (tilawah), menyimak (istima’), menelaah (tadabbur), memahami (fahm) dan mengamalkan isinya.

Jika belum bisa membaca dengan baik, minimal sering-sering mendengar dan menyimak lantunan ayat-ayat-Nya saat dibacakan.

Fenomena yang tampak di sebagian kita justru sebaliknya. Menyimaknya saja cenderung enggan, acuh, cuek, abai, malas, mengantuk, takut dicap konservatif, dan sebagainya. Terlebih di beberapa tempat, Al-Quran hanya dibaca pada acara-acara seremonial. Sedangkan Al-Quran bukan pembuka seremonial belaka. Ia mesti dibaca di saat senang-sedih, suka-duka, dan segala suasana. Ia selayaknya disemarakkan di dalam mobil, rumah, café. Dilantunkan lewat hp, radio, televisi, dan sebagainya. Bukan justru dijejali alunan yang melenakan.

Sepanjang pengalaman kami #honeymoonbackpacker di Maroko, dari dalam taksi kerap terdengar lantunan ayat-ayat Al-Quran dari radio Al-Quran yang disetel supir taksi. Terutama di waktu dhuha.

Di wilayah tempat tinggal, saya pernah menyaksikan bapak paruh baya menggumamkan akhir surat Az-Zumar saat berjalan menuju halte bus, kala berangkat ke tempat kerja di pagi buta. MasyaAllah

Dari kejauhan, saya kira orang mabok, astagfirullah. Su’uzhan.

Agaknya mereka terinspirasi hadis yang menyatakan bahwa Al-Quran akan menjadi penolong (syafi’an) bagi ashhabul Quran (orang yang membaca, menyimak, hafal, dsb)

عن أبي أمامة الباهلي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعاً لأصحابه

حديث صحيح رواه مسلم 

Dari Abu Umamah Al-Bahili ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Bacalah Al-Quran, sebab kelak ia akan datang pada hari kiamat sebagai penolong bagi orang yang membacanya.” (HSR Muslim)

Bagaimana Al-Quran akan mengulurkan pertolongannya kelak, kalau kita sendiri saat ini tak betah bermesraan dengannya. Sepertinya demikian yang muncul di benak kita.

Di dunia saja, tiada manusia yang dapat lepas dari pertolongan sesamanya. Kendati tak semua orang mau menolong sesama.

Tidak berinteraksi dengan Al-Quran menyebabkan manusia lalai, lengah, dan lupa pada Allah dan kehidupan akhirat. Berjibaku dengan urusan dunia tanpa merasa puas. Tangannya menggenggam gemerlap dunia, tapi jiwanya kosong, hampa, rapuh tak mengenal hakikat bahagia karena jauh dari Al-Quran. Sementara bahagia bermula dari Al-Quran.

Orang yang di rongga dadanya tiada secuil pun Al-Quran, ibarat rumah kosong tak berpenghuni. Rumah tak berpenghuni cenderung rusak. Udara tidak lagi segar. Suram. Kotor. Tak terawat. Sejumlah binatang sejenis rayap pun betah berkerumun di sana. Itulah gambaran jiwa yang kosong dari Al-Quran. Na’udzubillah

Laiknya istigfar, Al-Quran akan menjadi dzikir pengingat diri. Orang baik bukan yang tak pernah jatuh pada lembah kesalahan, namun yang segera sadar lalu beristigfar dan cepat kembali pada jalan yang benar. Jangan pernah meninggalkan istigfar jika segenap kesalahan kita ingin diampuni.

Rasulullah Saw. manusia yang gemar istigfar, kendati dosanya telah Allah Swt. ampuni. Ironisnya, kita berharap besar Allah mencurahkan ampunan-Nya pada kita. Namun menggerakkan bibir untuk mengucap istigfar saja kita enggan dan merasa berat.

Orang yang gemar berkumpul untuk tilawah dan mengkaji Al-Quran, namanya akan disebut-sebut di kalangan penghuni langit, walau di dunia tak dikenal banyak orang.

Menyimak paparan khatib tentang Al-Quran tersebut, sekonyong-konyong diri ini merasa kecil. Sembari hati bertanya, sudah sejauh mana interaksi kita dengan Al-Quran?! Saya hela nafas, lalu memanjatkan harap.

Rabb, jadikan Al-Quran sebagai penolong kami. Dunia dan akhirat kami. Bimbing kami menuju ahlul Quran wa ashhabuh. Amin

Dari pojok Rumah Kelana

Rabat, 19 Rabi’ At-Tsani 1437 H/ 30 Januari 2016