Leaving Eva’s House :)

image

Sunnatullah…,
Setiap perjumpaan melahirkan perpisahan…

Begitu pula perjumpaanku dengan Eva,
adik baru yang menerimaku dengan hati lapang di rumah mungilnya selama 1.5 bulan 🙂

Eva perempuan sholehah luar biasa.
Rendah hati, pandai mengelola saung, bersuara lembut pada suami dan anak-anaknya, juga sangat memuliakan tamunya dengan keramahan dan sedapnya olahan tangannya 🙂

Eva juga perempuan tangguh serba bisa,
ia pandai membantu Abang, mengepulkan dapur mereka dengan membuat abon sapi, es mambo, kerupuk kulit dan aneka jajanan lainnya.
Jujur aku selalu terpesona pada perempuan berjiwa enterpreneur!

Dear Eva,
Aku tahu, tentu tidak mudah hidup bersama selama 1.5 bulan itu, apalagi bersama aku yang cerewet dan senang membuat ‘keributan’ di dapur mungilmu, hehe 🙂

Hatimu seluas samudera!
Kamu tak sekalipun bermuka masam kepada kami, senyummu secerah matahari di negeri seribu menara ini 🙂

Dear Eva,
Terima kasih banyak untuk segalanya ya, Sayang.
Maafkan segala salah dan khilaf kami,
mudahan Allah selalu merahmati keluarga mungilmu, selalu.

Aku berdoa,
Allah wujudkan mimpi-mimpi terdalammu,
dengan caraNya yang paling rahasia,
InsyaAllah!

I love you, Dik 🙂
Mudahan Allah pertemukan kita kembali!

Ps.
Ah, aku menangis menuliskan ini, kala taksi melaju membelah Nasr City, meninggalkan senyummu yang cahaya dalam ruang benakku…

Mudahan Eva sehat-sehat dan bahagia selalu 🙂

*peluk sayang*

Advertisements

Serba-Serbi Tukang Panci

Ingin tahu cara termudah mengenali karakter masyarakat lokal sebuah negara? Kunjungi saja pasar tradisional mereka. Di sana akan kita temukan seribu cerita ragam warna 🙂

Sore itu kami berjalan kaki menuju pasar bernama ‘Madrasah’. Terletak di wilayah 10th District, Nasr City. Tujuan kami adalah membeli beberapa perlengkapan dapur.

Tukang Panci 1
“assalamu’alaikum, ‘indak shuhun? Ada piring?”

“wa’alaikum salam. Maugud, syuf guwwah. Ada, silahkan lihat di dalam.”

Sementara dia duduk asik memencet-mencet kalkulator, kami beringsut masuk ke dalam dan melihat-lihat. Cukup lama kami menyisir isi toko, rupanya barang yang kami cari tidak ada.

“musy ‘indak shuhun mi zugaag? Tidak punya piring kaca ya?”

La, enggak ada, semua dari plastik dan aluminium.”

Waduh. Kami masuk lagi ke dalam, mencari alat lain. Panci. Tapi yang kami inginkan tidak kunjung kami temukan. Kami menyerah.

Lau samahta, tahu toko yang jual piring dari kaca yang dekat sini gak?

Tak kami sangka, ia bangkit dan benar-benar menunjukkan tokonya dari jauh.

“Coba lihat di toko situ, di samping tukang ikan bakar.”

Subhanallah, terharu. Dia tak berat menunjukkan toko lain. Betapa lapang dan mulia hatinya membuka jalan rezeki orang. Saya jadi teringat ucapan Imam Hasan Al-Bashri, bahwa beliau tidak pernah merasa khawatir rezekinya disambar orang lain, karena rezeki masing-masing orang telah ditetapkan oleh Allah dan tidak akan pernah tertukar.

“Syukran. Terima kasih kami berpamitan.

Tukang Panci 2
Saat masuk ke tokonya, kami langsung melihat piring kaca. Warnanya coklat muda, ada strip coklat tua melingkari ujungnya.

“Kok mirip piring mamah di Banjar? Jangan-jangan made in Indonesia.” istriku menduga.

Kami mendekat dan membalikkan piring itu. Bener juga. Piring Indonesia bisa sampai sini juga ya.

“wahdah bi kam. Berapa satunya?”

“khamsa geneh. 5 le.”

Kemahalan.

“wahid bi itsnain wa nush mumkin? alasyan dah min baladina. Satu buah 2,5 le aja ya, kan ini produk negara kami.”

Dia mengambil kalkulator. Cukup lama menghitung, lalu dia menjawab,

“La. Khamsah geneh wahid.”

“Ma fisy khashm? Ga ada diskon?”

“ayiz kam wahid? Mau beli berapa buah?”

“ayiz asyrah. Kami mau ambil sepuluh.”

Dia kembali memainkan kalkulatornya. Setelah beberapa saat, dia berujar,

“masyi, arba’ah. Okelah, 4 le per buah.”

Wah, turunnya masih belum signifikan.

Asyrah bi tsalatsin, masyi? 30 Le aj ya, 10 buah.”

Dia berpikir. Lalu melihat kalkulator seperti menghitung-hitung. Entah Bagaimana cara dia menghitung, karena tiba-tiba dia bertanya,

“Hm, kalau 30 le, berarti satu buahnya berapa?”

Glek. Hi hi. Kami tertawa kecil sambil saling pandang. Ternyata dia memikirkan itu. Kami pikir dia bisa menghitung.

Sambil senyum aku paparkan, “30 aja dibagi sepuluh, jadi berapa?”

Wajahnya menyiratkan ekspresi kebingungan. Kami heran. Belum lancar berhitung tapi kok berani berdagang. Urusannya kan hitung-hitungan.

Saat tahu ditawar 3 le, dia menolak. Namun kami tetap bersikukuh pada harga tawaran dari kami. Karena 3 Le menurut kami adalah harga yang wajar. Dia pun bertahan di angka 4 le. Tak ada titik temu, kami pun perlahan beranjak meninggalkan toko sembari menawar. Kalau dia mau, pasti dia akan kembali memanggil kami.

Ta’al. Sini.”

Tuh ‘kan. Baru saja beberapa meter kami melangkah, si  Amu  sudah memanggil. Yes!

Kami kembali ke toko dan memilih-milih sepuluh piring terbaik, hahaha. 🙂 Beres memilih, tak sengaja kami melihat panci besar yang kami inginkan.

Bi kam. Berapa harganya yang ini?”

“55 Le.”

Kami berdiskusi sejenak.

“60 Le aja dengan piring tadi ya?” Kami mulai menawar.

Disodori tawaran kami dia kembali bete dengan hitungan. Ha ha. Gegas mengambil kalkulator lagi dan seperti biasa, wajahnya mengekspresikan kebingungan. Setelah cukup lama menghitung, akhirnya dia menyodorkan hasil hitungannya di kalkulator. Tanpa kata-kata.

“Hah? semua 95 Le?” Kok jadi tambah mahal. Mana piring tadi jadi tak ada diskon sama sekali.

Melihat gelagatnya yang sudah ‘tidak bersahabat’ tidak sudi ditawar, kami sudahi saja transaksi kami dengan membeli piring tanpa panci. Beli pancinya nanti saja di toko lain.

Tukang Panci 3

Dia tidak memiliki toko. Panci yang dia tawarkan hanya diletakkan di emperan. Tapi modelnya bagus, seperti di toko panci sebelumnya, bahkan lebih besar ukurannya.

“Berapa harganya?”

“60 Le.”

“40 aja ya?”

“Gak bisa. Ini model baru.”

Kami menego harga. Hingga akhirnya mentok di 45 Le. Tidak apa-apa, kami pikir. Ukurannya lebih besar dibanding toko kedua tadi. Tapi di tengah transaksi, kami dikagetkan oleh tutup panci yang tidak berbaut. Dia mencarinya kesana kemari namun tetap tidak menemukannya.

“Kamu beli sendiri aja ya bautnya. Tuh di toko listrik sana. Dekat kok. Bilang aja baut untuk tutup panci ini.”

Lha, ini yang jual dia, kok kami yang disuruh beli baut sendiri.

“Kamu aja beli dulu, biar kami tunggu di sini.” Pinta kami.

“Gak bisa. Ini barang daganganku gimana?’

“Biar kami tunggu barangmu di sini, sampai kamu kembali.”

“Kamu saja yang beli. Dekat situ kok.”

Lha kalau dekat, kenapa tidak dia saja yang beli. Wah. Mulai nampak gelagat tidak beres. Siapa yang mau beli barang cacat. Kami juga tidak dapat memastikan apakah baut yang nanti kami beli itu cocok dengan lubang tutup panci ini atau tidak.

Cukup lama kami ‘berdebat’, akhirnya dia nyeletuk sambil meletakkan pancinya. Agak sewot.

“Kalian ini memang gak niat mau beli ya?”

“Lha, kami mau beli, makanya kami nawar.”

“Ya sudah, kamu ambil ini, nanti bautnya beli sendiri di toko.”

Agak kesal, kami bilang, “Kami mau beli panci ini, asal lengkap dengan bautnya. Kalau belum lengkap, kami gak mau beli.”

“khalash, ma’assalamah! Sudahlah kalau begitu, selamat tinggal Pungkas dia ketus.

Masya Allah! Aneh sekali penjual ini.

Istri ikutan kesal, “Amit-amit deh itu penjual. Enak aja beli panci ‘rusak’! Apa susahnya sih dia beli dan mencari baut yang pas!”

Kami menjauh sambil ikutan misuh-misuh, haha 🙂

Tukang Panci 4

Sejumlah toko peralatan dapur sudah kami datangi. Namun panci belum juga kami temukan. Kami sempat berpikir, apa kami kembali saja ke tukang panci ke 2, walaupun harga pancinya agak mahal. Namun agaknya tidak mungkin kembali lagi, karena Kami sudah berjalan terlalu jauh.

Kami sempat putus asa dan memilih untuk pulang saja. Namun kami penasaran dengan lorong pasar sebelah timur. Kami susuri lorong tersebut hingga terhenti di satu toko peralatan dapur yang menarik.

Kami masuk dan melihat barang-barang yang cukup bagus. Petugasnya juga rapi, berjenggot tebal, berjubah, berkacamata, dan terlihat terpelajar. Sepertinya orang ini baik. Tutur katanya lembut dan menyapa kami dengan sopan. Bahasanya fusha. Seperti yang sering saya temui di halaqah majlis ilmu.

Ternyata dia orang asli Luxor, sudah lama membuka toko itu. Anaknya empat. Saat pertama kali diajak mengobrol, dia spontan bercerita soal teman-temannya yang orang Indonesia, Malaysia dan Thailand dan sering bertemu ngaji di mesjid Al-Fatah.

“Hum thayyibun. Mereka orang-orang baik.” Komentar dia soal teman-teman Melayunya.

Yang asik, dia benar-benar mengajak kami mengobrol dengan bahasa Arab fusha. Istriku pun senang, karena ikut memahami obrolan kami.

“Bikam hadza assikkin. Pisau ini berapa harganya?” Si istri mulai bertanya.

“Bi itsanain junaih wannishf. 2,5 le.”

Wah, murah. Made in Japan dan Stainless pula. Si istri langsung beli. Bukan hanya itu, kami membeli beberapa peralatan tambahan lain.

Hal ‘inddaka hallah. jual panci kah?” Kami menjelaskan bentuk dan jenis panci yang kami inginkan. Tapi jawabannya cukup mengecewakan.

“Kalau modelnya seperti itu, ada. Tapi baru datang hari Kamis.”

Wah, dua hari lagi. Hm. Kami berdiskusi dan memutuskan untuk kembali lagi dua hari kemudian.

Alhamdulillah. Kami pun berpamitan sembari mencatat memori tentang si tukang panci yang berhasil memikat konsumen dengan harga miring, kualitas  bagus, dan pelayanan ramah. Akhirnya, di toko inilah pepatah “Pembeli adalah raja” kami rasakan 🙂

Toko dan jenis barang yang dijajakan boleh sama, tapi keterampilan memikat pembeli dengan sikap dan keramahan penjual, tergantung pada tingkat pendidikan dan pergaulan di masyarakat.(!)

Kairo, senja April 2013

Oase Siwa, Oase Hati di Gurun Sahara

Oase Siwa, Oase Hati di Gurun Sahara

Kota kuno bernama Siwa ini menjadi highlight 1.5 bulan pengembaraan pengantin kelana di Mesir. Kami terpesona dengan keheningan gurun pasir keemasan yang terbentang sejauh mata memandang. Kami juga terkagum-kagum dengan keramahan penduduknya.

Rencananya, kami akan menceritakan beragam kisah perjumpaan dengan penduduk lokal di Siwa. Sebuah kota kecil yang dibangun 12 abad lampau, berbatasan langsung dengan negara Libya.

Untuk kisah pertama, kami akan menceritakan sosok tukang rumput bernama Mahmud.

Mahmud Siwi; Tukang Rumput Soleh

(17/4/2013) Dia kami temui kala sinar matahari laksana permadani membentang di atas kepala. Saat itu kami menuruni lereng Gunung Dakrur yang terbakar matahari dan asik berfoto di atasnya. Dakrur adalah nama salah satu gunung mati (serupa dengan Jabal Mauta) yang terletak beberapa kilometer dari terminal utama bis antar-kota, Siwa—salah satu wilayah terjauh dan berbatasan dengan Libya, sekaligus merupakan bagian dari Propinsi Mathruh. Jaraknya 592 km dari Alexandria.

berdua di jabal dakrur

Tiada kehidupan sama sekali di gunung Dakrur. Kendati banyak rumah dibangun di sekitar gunung tersebut, namun hanya ramai dihuni 3 hari selama satu tahun. Tepatnya bulan Oktober, saat penduduk Siwa merayakan perdamaian antar kabilah. Gunung ini menjadi saksi bisu sejarah pertumpahan darah antar kabilah di Siwa bertahun-tahun lamanya hingga dibuatnya kesepakatan perdamaian. Di luar hari perayaan perdamaian tersebut, Dakrur sepi tak berpenghuni. Gunung mati!

dakrur-death

alone

from up

Ketika suara motor terdengar menggerung dari kejauhan, kami gegas menghambur ke pinggir jalan. Menunggu pengendara ini lewat di hadapan kami. Kami hanya ingin menumpang sampai pasar. Tempat kami pertama kali datang dari Kairo.

Sembari menunggu dia mendekat, kami menyiapkan uang. Menurut perhitungan kami, sepuluh pond cukup untuk jarak tempuh yang telah kami lalui saat datang ke Dakrur ini.

Deru motor kian nyaring dan mendekat.

Waduh. Sepertinya motor roda tiga. Supirnya bergamis abu-abu. Terlihat sangat lusuh. Perawakannya kurus. Wajahnya mengukir gurat kelelahan. Yang paling mengejutkan, bak motor belakangnya dipenuhi tumpukan rumput sejenis alang-alang. Tumpukannya tinggi menjulang. Ini sayuran khas Siwa kah?

‘Assalamu’alaikum.” Saya menyapa setengah berteriak.

‘Wa’alaikum salam warahmatullah.”

Bapak yang akhirnya kuketahui bernama Mahmud Siwi (35 th, beranak empat) mengiringi salam dengan senyuman tulus. Dia menyetop motornya. Menyambut sapaan kami dengan sangat ramah. Laiknya semua penduduk asli Siwa yang kutemui selama perjalanan di kota kecil tersebut.

Setelah mengobrol sedikit, saya langsung ‘nodong’,

“Lau samahta, mumkin narkab ma’ak?” Bolehkah kami menumpang?

“Kemana?”

Kemana ya? Ha ha. Kami juga tidak tahu tempatnya dimana dan arahnya kemana. Saya terdiam beberapa jenak. 

“Hadhratak tamsyi fen?” Memangnya Tuan mau kemana?

“Saya mau ke pasar, jual rumput ini.”

“Hm, dekat terminal gak?”

“Lumayan.”

“Ya sudah, kami nebeng ke pasar aja bareng Tuan.”

Heu heu heu.  Benar-benar kami sedang berada di tempat antah berantah dan tidak tahu mau ke antah berantah yang mana lagi J

Ia mengangguk dan tetap menyunggingkan senyuman. Kemudian turun dari motornya. Ekspresi wajahnya tampak kebingungan, mau disimpan di mana kami berdua ini. Bak sudah penuh. Di depan hanya ada satu jok, yaitu tempat dia duduk itu.

“Ihna wa’qifin wara bas. Mafisy  masyakil. Kida.”Kami berdiri begini saja di belakang, tidak apa-apa!

“La la…” Jangan!

Dilarang berdiri, atau dilarang ikut ya? Saya mulai khawatir kami tidak diangkut 🙂

Pas saya mencoba berdiri di belakang bak, ternyata hal itu tidak mungkin dilakukan.

Di sela kebingungan kami, dia menyodorkan karpet biru kecil. Cukup untuk dua orang. Jadi, kami diizinkan menumpang nih?!

Alhamdulillah.

motor

Meski kami harus duduk di atas tumpukan rumput menjulang, tidak apa… Wuih! Tentu menegangkan, tapi daripada jalan kaki berkilo-kilo jauhnya di bawah sengatan matahari pukul 12 siang, mending kami ikut saja.

Anggap saja sedang syuting film pengantin India sedang honeymoon di desa, hahaha 😀

“Yalla, irkab.” Yok, naik!

Gimana caranya? Apa kami nanti akan terjungkal? He he, si petualang mulai mencemaskan diri sendiri.

“Aa naik duluan, nanti tarik aku. Percaya saja sama dia, pasti dia sudah memperhitungkan keamanannya.” Ujar istri saya meyakinkan.

“Siap!” Jawab saya kian mantap.

Segera saya injakkan kaki ke beberapa rangkaian besi motor. Tiga langkah saja saya sudah berada di atas tumpukan rumput menjulang yang kini dilapisi karpet kain kecil milik Mahmud Siwi.

Hap hap hap!
Kini giliran sang istri saya tarik perlahan. Cukup berat, karena meski menumpuk, beban rumput terlalu ringan dan tidak padat.

Yes…, akhirnya kami berhasil duduk manis di atas bak penuh tumpukan rumput.

“Musta’id?” Siap?

“Yalla, ihna musta’iddun.” Yuk, kami sudah siap.

Motor pun menggerung dan siap melaju.

“Bismillah.”

Yiihaaaaah. Setengah berteriak, saya membuka kantong kamera. Bersiap merekam jejak berkesan ini. Kendati akhirnya saya tidak maksimal memotret, karena goncangan keras kerap terjadi.

mahmud s

Teriakan kami kian seru. Campur aduk antara takut terpelanting karena beberapa kali melewati jalan bergelombang—maklum bukan jalan aspal—namun senang karena mengalami kejadian tak terduga dan tak  terbayangkan sebelumnya. Seperti saat ini.

Sesekali saya tatap wajah istri. Wajahnya bersinar-sinar, memancarkan raut senang 🙂

Backpack seperti inilah yang aku inginkan, A. Merasakan sendiri hal-hal unik di sepanjang perjalanan, mengalami hal-hal tak terduga, dan menikmati kehidupan penduduk lokal dari dekat. Perjalanan kita menjadi tak biasa dan sangat hidup! Live up our life!

Sepakat!
Saya mengangguk-angguk! 🙂

***

Obrolan Di Atas Guncangan

Meski motor bergoncang tanpa henti, namun saya tetap menanyakan sejumlah hal ke Mahmud. Tentu dengan sedikit berteriak, karena suara kami bercampur dengan gerungan suara motor besar merk Cina! Ya, barang-barang Cina juga menyerbu hingga pelosok Siwa.

Posisi Mahmud sebagai pengemudi berada di depan. Tepat di bawah kaki kami yang menjuntai. ‘Kelakuan’ kami tidak sopan sekali ya. Sudah dikasih tumpangan, tapi kaki-kaki kami menjuntai tepat di atas kepala Mahmud. Maafkan kami! Soalnya untuk menjaga keseimbangan kami yang terguncang-guncang ini, khawatir terjungkal! He he he 🙂

love in siwa

Mahmud mulai membuka diri, “Ana kuntu fi Su’udiyyah, sanatain. Alasyan Syughl.” Saya pernah bekerja di Saudi, selama dua tahun.

Hm, iseng saya bertanya, bekerja apa.

“Ya, serabutan aja. Kalau enggak mengemudi, buruh. Tapi saya senang, karena saya bisa menunaikan dua kali ibadah haji selama dua tahun itu. Umroh pun beberapa kali. Dua hal itu sudah cukup menyenangkan bagi saya. Saya pun bisa sedikit menabung untuk kebutuhan hidup keluarga.”

Alhamdulillah. Saya dan istri saling pandang. Kami senang mendengar uraiannya saat menjelaskan dirinya bisa menunaikan ibadah dengan baik, tapi tidak lupa mencukupi kebutuhan keluarganya. Mencukupi kebutuhan keluarga juga termasuk ibadah yang tidak pantas diabaikan.

Obrolan kami sesekali terhenti saat melewati beberapa orang yang tengah duduk di beranda rumah penduduk dan Mahmud Siwi menyapa mereka. Kami tak ketinggalan melambaikan tangan, melempar senyuman, dan setengah berteriak, “Assalamu’alaikum!”

Rupanya Mahmud ini sudah cukup dikenal. Atau karena penduduk Siwa sangat sedikit ya? 🙂

Beberapa orang sempat mengobrol singkat dengannya, menanyakan pesanan rumput, bahkan beberapa orang lagi bergurau, apa kami ini dijual juga? Alamak! Hahaha 😀

Sembari menjawab salam kami, senyuman orang-orang pun kian melebar. Entah, apa karena merasa lucu melihat sepasang makhluk aneh didudukkan di atas tumpukan rumput, seakan-akan mau dijual bersama rumput di pasar, atau memang senang karena disapa dengan sapaan khas Islam. Ah kami tidak peduli. Yang penting kami senang.

Kami sempat membayangkan bagaimana Nabi Yusuf kecil dijajakan untuk dijual di Mesir setelah ditemukan di salah satu sumur oleh penjual. Apakah adegannya seperti kami ini? 🙂

Di atas motor, kami mengobrol beberapa hal; tentang pohon kurma yang banyak tumbuh di daerah padang pasir seperti Siwa dan akan berbuah di bulan Agustus-an; keadaan cuaca Indonesia yang selalu sejuk karena sering hujan dan tidak ada musim dingin atau panas; tentang Siwa yang terberkahi meski tidak dilewati aliran sungai Nil, namun produksi air mineral yang bersih justru banyak dikemas dari Siwa, di sini ditemukan banyak sumber mata air oase (wahah).

kebun kurma

bukan nil

Ciittt!

Mahmud menghentikan motornya.

“Nanzil huna?” turun di sini?” Saya spontan bertanya.

“Jangan, tetap di tempat. Saya mau melayani pelanggan yang beli rumput saya dulu.”

Dia menarik satu ikat rumput dari bagian tumpukan belakang. Dudukan kami ikut bergoyang seolah akan melorot ke belakang. Tapi dia lagi-lagi menenangkan kami.

“Tenang, cuma satu ikat yang ditarik.” Satu ikat, tapi besar! Pikir saya cemas!

Mahmud kembali menjalankan motornya.

“Inta tigi hina alasyan leh? Syughl wala siyahah?” Kalian datang kesini untuk apa? Bekerja atau berkunjung?

Dia mulai menyelidiki tujuan kami datang ke Mesir. Mulailah saya bercerita,

“Ana Kuntu Thalib fil Azhar fil qahirah qabla tsalats tsanawat. Dulu saya mahasiswa Al-Azhar.”

Begitu mendengar kata Al-Azhar, dia terlihat sangat menyambut dan senang. Persis seperti ekspresi H. Umar, kuncen Mesjid Tsabah yang terletak di belakang Ma’had Al-Azhar  saat kami mengatakan hal sama ketika hendak shalat zuhur di mesjid itu. [cerita serunya diundang jamuan makan siang dengan Hajj Umar, menyusul ya]

“Saya ke sini berkunjung, sekaligus mau bulan madu dengan menjelajah kota yang belum pernah kami datangi. Istri saya hobi menjelajah.”

Istri saya menyahut, “Ka mitsli Ibnu Batutah!”

“Aaa, Ibnu Batutah!” Mahmud mengangguk-angguk tanda mengerti 🙂

Sepertinya mendukung pilihan perjalanan ala kami, hehehe, saya merasa PD menduga seperti itu 🙂

 Kami sempat menjelaskan bergantian, kami kagum sekaligus terinspirasi oleh semangat sejumlah ulama besar yang tidak pernah lama menetap di satu tempat, sepanjang hidup mereka berkelana untuk mencari pengalaman, ilmu, maupun hadis-hadis dari manapun—Meskipun kami baru bisa meniru berjalan dan memetik secuil ilmu dari perjalanan saja.

“Bukankah Imam Syafi’i gemar mencari ilmu kemana-mana. Beliau bahkan pernah bersyair, “Ma fil Muqaami lidzi ilmin fa dzi adabin min raahatin, fa da’ al-authana waghtaribi.  Wa safir fa saufa tajid iwadhan amman tufariquhu.” Bagi yang memiliki budaya luhur dan ilmu tinggi, berdiam diri itu tidak nyaman. Tinggalkan sejenak negeri dan berkelanalah. Merantaulah, engkau akan memperoleh ganti dari apa yang engkau tinggalkan.

Aku melanjutkan, “Imam Syafi’i di Mesir masyhur ya?”

“Sangat.” Jawab dia tegas.

“Madzhabnya menjadi satu madzhab yang dipelajari di Al-Azhar.” Tambahnya.

Tak terasa kami berhenti untuk kedua kalinya.

“Turun di sini?” Tanya kami.

“Jangan. Tunggu sebentar.” Dia agak berlari meninggalkan kami. Masuk ke lorong rumah-rumah tua dari tanah dan batu.

***

“Maaf, tadi saya ganti baju dulu. Ini baju khusus untuk ke pasar. Baju tadi khusus untuk ke kebun.”

Pantas saja tampak lusuh dan kotor. Penampilan keduanya ini terlihat meyakinkan. Gamis putih ditemani sorban merah khas Saudi dililitkan di kepalanya.

“Hayya namsyi!” Mari kita teruskan perjalanan.

Sejenak kemudian saya langsung iseng bertanya,

“Hafizhtal Quran?” Kamu hafal Al-Quran?

 “Alhamdulillah.

“Semua? 30 Juz? “ Tambahku penasaran.

“Iya, semuanya.”

Wow!

“Sejak kapan mulai menghafal Al-Quran?”

“Sejak usia saya 20 tahun, saya mulai fokus menghafal. Alhamdulillah, di usia saya sekarang, 30 juz sudah berhasil saya hafal.”

Saya dan istri saling pandang. Kagum.

“Wa Anta hafizhtal Quran?”

Jreng. Pertanyaan mulai menohok batin saya 🙂

“Alhamdulillah.”

Dia langsung menyahut, “Masya Allah.”

“Tapi belum semua,” Segera kususul jawabanku tadi.

Tawa kami menghambur di udara.

Istriku menyahut dan membaca ayat andalannya, “Saya hafal ayat ini, Ya ayyuhannasu inna khalaqnaakum min dzakarin wa untsaa wa ja’alnaakum syu’uuban wa qabaa’ila li ta’aarafuu. Inna akramakum ‘indallahi atqaakum…(QS Al-Hujurat [49]: 13)

“Benar sekali. Yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling takwa. Tanpa peduli apa dia orang Arab, non Arab, kabilah terpandang ataupun tidak. Semua sama, kecuali dengan takwa.”

Rupanya dia benar-benar menghayati ayat tersebut. Kami diliputi haru, bertemu Mahmud si Siwi sekaligus penghafal al-Qur’an.

***

“Aha, hadzal huwal makan alladzi nanthaliqu minhu.” Nah, ini tempat kami pertama berangkat tadi, Mahmud! Berarti kita sudah sampai! Seketika saya berucap kala mengenali lokasi saat kami pertama kali sampai di kota kecil ini.

“Mau saya antar sampai terminal?”

“Ga usah, saya mau shalat zuhur dulu.”

“Waktu Zuhur belum tiba.” Tukasnya.

“Enggak apa-apa, kami ingin wudlu, istirahat sejenak, dan shalat di mesjid.”

Kami diantarkan ke mesjid Al-Faruq. Kami lihat bagian depannya hitam pekat karena terbakar. Saya pikir karena pernah dibakar massa. Ternyata  katanya mesjid tersebut terbakar karena berseberangan dengan pom bensin yang pernah meledak.

Ooo.

“Mesjidnya masih tutup. Kita cari mesjid lain aja ya?”

“Masyi.” Oke.

Menara mesjid yang lain mulai terlihat. Aku merasa makin mengenali tempat sekitarnya. Ma’had Al-Azhar tingkat SD-SMP-SMA. Ya, ini dia tempat yang sempat saya lihat pas tiba pertama kali di Siwa. Berarti udah dekat terminal juga. Hi hi. Kecil juga ya kota Siwa ini. Mungkin bisa dikelilingi hanya dalam setengah hari.

“Khalash, washalna.” Sudah sampai, teriakku.

Mahmud menghentikan motornya.

“Kami akan shalat di mesjid itu saja.” Tangan saya menunjuk masjid yang saya kenali sejak sampai di kota ini.

Saya turun duluan, ingin segera meloncat dan memotret! Di awal, saya belum sempat memotret seperti apa ‘penampakan’ kami kala berada di atas tumpukan rumput ini. Saya sempat ingin meminta tolong Mahmud memotretkan kami, tapi masih merasa sungkan. Biar saya sajalah memotret wujud istri di atas gunungan rumput.

Saya segera memotret istri. Dan inilah hasilnya. [foto1]

Istri akhirnya mengusulkan agar Mahmud memotret kami berdua, meskipun saya sudah turun dari gunungan rumput 🙂

Inilah hasilnya. [foto2]

Setiap pertemuan, selalu berujung pada perpisahan. Meski masih enggan untuk berpisah dan masih ingin menggali banyak hal pada sosok Mahmud yang santun, kami memutuskan untuk berpamitan. Khawatir nanti Mahmud merasa direpotkan dengan kehadiran kami yang ‘menginthil’ ini, hehehe…

Saya rogoh saku celana dan menyodorkan uang 10 pound untuknya. Mudah-mudahan jumlahnya dianggap tidak terlalu kecil.

“Tafadhdhal.” Silahkan.

Tangan Mahmud gegas menolak.

Saya kaget, kenapa dia menolak dengan tegas?
Sikap Mahmud adalah kebalikan sikap orang-orang Mesir di Cairo, hampir semua tidak pernah menolak pemberian, bahkan cenderung materialistik.

Saya memutuskan memaksa. Saya masukkan uang itu ke saku bajunya. Dia mengeluarkan lagi dan mengembalikannya kepada saya. Saya pun memasukkannya lagi ke sakunya. Begitu seterusnya, berulang-ulang sambil saling merayu, hehehe 🙂

Akhirnya dia menerima uang tersebut.
Saya lega.
Eh, ternyata lagi-lagi Mahmud memasukkan uang itu ke dalam tas istriku yang berada tepat di sampingnya.  

Hm, susah juga nih.  Apa artinya Mahmud benar-benar tidak mau menerima uang dari kami? Apa berarti dia murni menolong?!

“Ini buat anakmu.” Aku paksa untuk terakhir kali.

“Tidak!”

Akhirnya kami tidak kuasa memaksa lagi.

Rupanya, penduduk di sini rata-rata ramah, penolong dan menganggap kami sebagai tamu agung bagi tanahnya. Apalagi kami selalu lebih dahulu menyapa dengan sapaan Islam, berbincang soal Al-Quran dan Hadis. Dua kali kami naik motor bak, dua kali naik mobil omprengan bersama Ahmad Kohla di pagi hari dan H. Umar di siang hari juga sama sekali tidak ditagih ongkos.

Kesan Hati

Kami berpamitan dan saling bertukar nomor HP. Berkali-kali kami mengucapkan terima kasih kepadanya. Terucap doa, Jazakallahu khairal jaza’ atas keramahan dan kehangatannya.

Hati kami mencatat kesan mendalam atas akhlak Mahmud Siwi, tukang rumput yang soleh dan hafal Quran. Dia bukan hanya hafal Al-Quran, tapi juga menghayati dan mengaplikasikan spirit Al-Quran dalam hidupnya. Dia menjaga shalat, mengagungkan tamu, menebar salam, bekerja keras untuk menghidupi keluarga, ramah, dan benar-benar ikhlas membantu dan berbagi.

Barakallahu fik wa fi Ahlik wa auladik! Semoga Allah selalu memberkahi kehidupanmu beserta keluarga dan anak-anakmu.

Shaqr Quraisy, jelang Magrib 19 April 2013

de sky

de up

Curhat Asmara Si Mahmud

Curhat di Cafe Husein

Pagi itu adalah kali pertama aku duduk  dan minum syai bi ni’na’  bersama belahan jiwa di salah sebuah café. Persis di samping pelataran mesjid Husein, Darrasah. Sembari menunggu teman-teman Muslimah Backpacker yang asyik berbelanja di pasar Khan Khalili, kami berdua mau menyantap nasi uduk bekal sarapan kami yang tertunda.

Melihat sejumlah kursi yang masih kosong melompong, kami pun merapat ke kursi salah satu café dan memesan minuman hangat. Karena harga satu gelas teh menurut dompet backpacker seperti kami sangat tinggi, yaitu 15 Le., maka kami memutuskan memesan satu gelas saja untuk berdua. Tak apalah, sesekali. Itung-itung menyewa tempat dan membeli suasana.

‘Gembolan’ makanan segera kami buka dan tumpahkan ke atas meja. Hehehe. Dua kotak nasi uduk, sebotol air minum, dan sisa pizza el-rayek menu makan malam kemarin.

nenk cantik

Sang pramusaji mendekat.

“Welcome,” sapanya.

Segera kujawab dengan bahasa Arab, ‘Shabaahul ful, ya rayyis…, Izzayyak hadhratak?” Selamat pagi wahai tuan, apa kabarmu?

Dengan ekspresi wajah berubah ramah dia menjawab, “Shabaahan nuur, kuwaisy… Selamat pagi bercahaya, kabarku baik.”

Setelah kupesan segelas teh, dia mendekat dan duduk di kursi yang tak jauh dari meja kami. Ternyata teh yang kami terima bukan satu gelas. Tapi satu teko. Ukuran teko cukup untuk dua buah gelas besar. Pantas saja dihargai 15 Le. Sambil menyesap teh, kami mulai menyapa. Menanyakan nama dan asal daerahnya. Ternyata tidak jauh dari café, yaitu di Jamaliyyah. Setau saya, untuk menuju tempat tersebut dari terminal darrasah cuma satu kali naik angkot khas Mesir, el-trumco.

Kisah Asmara Mahmud

Agak sungkan dia menanyakan perempuan manis yang duduk bersamaku. Aku tersenyum dan menjelaskan statusnya. Ya, she’s my lovely wife dan sudah dua tahun aku menikahinya. Dia tersenyum. Namun setelah dia kutanya balik, raut wajahnya berubah. Dia sudah melamar calonnya, namun akhirnya gagal melanjutkan ke jenjang pernikahan, karena keluarganya yang tidak setuju. Salah satu alasannya adalah kondisi ekonomi dan status sosial dia. Dia bercerita bahwa mereka sudah sama-sama mencintai apa adanya.

Saat kami mau melanjutkan obrolan, pemilik café lewat dan terlihat tidak suka dengan keakraban kami. Kami faham. Dia segera kupersilahkan kembali bekerja melayani pembeli lainnya.

Setelah tugas dia tunaikan, dia kembali mendekat dan melanjutkan pertanyaan, “Kamu menikahi dia dengan mahar apa? Emas ya?”

“Ya. Sama saja dengan di sini.”

“Berapa modal mahar kamu?”

’Ya standar saja, 5 atau 10 gram emas juga sudah bisa akad kok. Dan akadnya akan sah jika sarat dan rukunnya lengkap.”

“Itulah masalah saya di sini. Biayanya besar sekali. Bukan calon saya yang matre, tapi desakan keluarganya. Minta emas sekian gram, rumah, alat-alat rumah tangga dan sebagainya. Akhirnya kami harus berpisah.”

‘Kenapa cinta harus dikorbankan hanya dengan hitungan emas yang tidak sesuai standar keluarga?

Pertama kali menikah, saya belum punya pekerjaan tetap, rumah masih ngontrak, kendaraan belum punya. Tapi kami yakin dengan langkah kami.

Kami datangi kedua orangtua dan meyakinkan mereka, bahwa tekad kami sudah bulat. Cukuplah restu dan doa keberkahan rumah tangga yang kami pinta dari mereka.

Layaknya hidup yang semestinya dijalani secara bertahap, rumah tangga pun demikian. Ikatannya akan menguat dan membesar bertahap. Al-‘Aisyu syai’an fa syai’an, syuwaiyah syuwaiyah.”

“Itu dia yang aku pengin dari keluarga calonku.’ Jawabnya. ‘Tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu.”

Ia pun menjauh untuk kembali menunaikan tugas. Menyapa pelanggan dan mempersilahkan mereka duduk di café bosnya.

Aku tak ingin melewatkan momen duduk minum teh di café ini. Kamera kukeluarkan dan kuambil gambar istriku yang tengah duduk di kursi ukir yang unik. Sesekali berpindah duduk dengan background lampu fanus khas Mesir yang bergelantungan dan jejeran alat hisap syisya.

curhat mahmud-cafe husein ima fanous

[foto1: Mahmud melirik-lirik kami. fato2: Ima di antara perabot khas Mesir]

Melihat kami sedang asik memotret, Mahmud mendekat dan menawarkan diri memotret kami berdua. Rupanya dia sudah terbiasa memotret para pelanggan yang ingin difoto di café tersebut.

jepretan ala mahmud

[foto, hasil foto Mahmud]

Hari kian menyala. Kami harus kembali mencari makan siang untuk 18 orang peserta Muslimah Backpacker’s Egypt Trip yang kami kelola.

Saat mau pamit, Mahmud bertanya, “sudah punya momongan belum?”

Kami tersenyum sembari menggelengkan kepala. “Allahu yarza’kum athfal. Semoga Allah segera memberi anugerah keturunan buat kalian.”

“Ingat ya, nanti anakmu dikasih nama yang bagus, namaku ini dikasih orangtua karena mereka bilang nama ini paling bagus. Mahmud, Ahmad, Muhammad, Hamdan, dan nama-nama bagus lain.”

He he, Mahmud Mahmud…, sudah berapa belas Mahmud yang aku ajak mengobrol selama sembilan hari ini, belum termasuk Mahmud yang ini.

Kami beranjak dari café. Mesjid Husein menjadi saksi percakapan kami, doa, dan curhat asmara Mahmud.

Allahumma istajib du’ana wa da’watal muslimin jami’an…amin.

Semoga dengan banyak mendoakan dan didoakan banyak orang, kami benar-benar segera diberikan momongan. Sebab kita tidak pernah tahu, dari mulut mana doa orang-orang yang akan Allah kabulkan!

Saqr Quraisy, 03 April 2013