Meninggalkan Maroko, Menuju Tunisia

BERTEMAN

Dalam pesawat Tunisair jenis airbus yang mengantarkan saya bersama 180-an penumpang lain dari Casablanca menuju Tunis Cartagena, seorang anak muda dari Temara, Rabat membacakan sebuah ungkapan yang menarik perhatian saya. Dia bilang ungkapan ini bersumber dari Abdul Qadir Jaelani, tapi seingat saya, sumbernya berasal dari Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah As-Sakandari.

Begini ungkapannya,

اصحب من يُنهضك حاله، ويدلك على الله مقاله.

“Berkawanlah dengan orang yang sikapnya (membantu) kita untuk bangkit -(dari keterpurukan), membuat (kita) lebih bersemangat meniti kehidupan bermartabat, lebih memotivasi merenda hidup yang lebih baik, lebih terdorong menanam manfaat lebih banyak bagi semesta, lebih giat mengais rezeki, lebih rajin mencari ilmu, dan sebagainya- dan ucapannya selalu menunjukkan kita pada Allah Swt.”

Saya lalu mencatat pesan tersebut di buku agenda 2014 berwarna coklat muda yang sengaja saya beli di Maktabah Alfiyah, Medina-Rabat Senin silam, persis sebelum menghadiri ceramah umum Dr. Aidh Al-Qarni bertema, La Tansa Dzikrallah, JANGAN LUPA DZIKRULLAH! di Kampus Fakultas Sains, tak jauh dari kampus Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Muhammad V, tempat saya menumpang kuliah selama di Rabat.

Menghadiri secara langsung ceramah memukau dan menggetarkan dari seorang ulama, dai, intelektual muda, dan penulis buku best seller internasional LA TAHZAN (don’t be Sad, Jangan bersedih!) adalah salah satu pengalaman berkesan jelang meninggalkan Maroko (8/01) Continue reading

Leaving Tunis for Casablanca!

image

image

Beberapa foto ini menggambarkan kamar tamu yang disulap menjadi kamar tidur kami, juga sesekali menjadi ruang makan bersama dan yang terakhir adalah wujud kamar kami dari luar selama di Tunis 🙂

Sebelum tiba di Tunisia, melalui komunikasi via sms dan message di Facebook, saya dan Aa ditawari menginap di rumah beberapa mahasiswa.

Kami tentu saja sangat senang.
Alhamdulilah!
Artinya kami bisa menghemat budget backpack selama di Tunisia, minimal kala berada di kota Tunis.

Sejak awal, kami tidak pernah berharap terlalu banyak. Bagaimanapun Kang Dede sudah menjelaskan, rumah yang akan kami huni adalah rumah tua. Rumah yang dibangun di ‘old medina’ atau kota tua.

“Don’t expect to much” adalah salah satu pengingat terbaik kami kala backpack ‘menggelandang’ seperti ini 🙂

Ingin gratisan?

Jangan berharap disediakan kamar yang mewah, kasur yang empuk dan wangi, kamar mandi yang harum dan alat-alat rumah tangga yang lengkap!

Ingat Ima, kalian tidak tidur beratap langit beralas sleeping bag seperti backpacker-backpacker bule ‘gendheng’ itu saja sudah sangat patut disyukuri!

Don’t expect too much itu obat meringankan hati!

Setelah sampai di rumah ‘tua’ ini, kami khususnya saya, takjub!

Rumah ini tidak setua yang saya bayangkan!

Kamar tidur kami adalah kamar tamu luas dan bersih yang disulap; ada kasur empuk besar cukup untuk guling-gulingan, ada dua bantal di kamar yang wangi plus heater untuk menghangatkan diri. Meski akhirnya hanya kami nyalakan dua hari saja, karena gas heaternya habis, hehe 😀

Ah, ini lebih dari cukup!

Kami merasa terharu, diberi kamar tidur yang luas dan nyaman. Terima kasih adik-adik mahasiswa S1 Zaituna University.

Kamar mandi -meski sharing untuk 7 orang- juga bersih dan dilengkapi air panas. Saya memang sempat menggigil kedinginan kala mandi pagi di suatu masa, tapi adik-adik langsung memanggil tukang gas dan memperbaiki kerusakan aliran air panasnya.

Dapurnya apalagi, jangan tanya!
Saya langsung riang berkarya!
Pempek, batagor, nasi Hadramaut dan donat sudah tercipta di dapur ini 🙂

Jangan tanya pelangi kebersamaan yang tercipta di antara kami 🙂

Hari demi hari saya mengenal sosok Zulfikar, Ridho, Deden, Irham, Taufiq, Cece, Hasan, Syihab, Zain dan Faiz.

Masing-masing sholeh dan memiliki keunikan karakter, membuat saya belajar. Ya, kami belajar pada keguyuban mereka;
– Memasak bergiliran,
– Belanja bergiliran,
– Makan dalam satu nampan besar, biasanya dibagi per 3 atau 4 orang,

Saya mengenal Ridho dan Taufiq yang jago membuat tauge, tahu dan tempe!

Bahkan mereka senang mengerubungi saya, membantu mencuci alat memasak, atau sekadar memotong sayur-mayur.

Belum lagi sosok Syihab yang ceria nyaris ceriwis, membuat dapur meriah di antara wangi bumbu berlimpah! 🙂

Saya juga mengagumi penghafal al-Qur’an bernama Zain, adik satu ini santun sekali kala membantu saya di dapur, rendah hati dan bertutur penuh cahaya! 🙂

Saya juga sempat berbincang tentang kehidupan dengan Cece. Kamu hebat, Dik!
Aku belajar banyak pada keteguhanmu menjaga diri dari barang-barang haram kala peer group-mu sebegitu bengalnya menikmati!

Ah, belasan hari di rumah Makalzaim yang hangat membuat saya belajar arti persaudaraan, kelapangan hati dan ketulusan!

Harta yang teramat mahal di Indonesia saat ini, kutemukan di Makalzaim yang riang bercahaya.

Saya dan Aa sangat yakin, kami akan merindukan Makalzaim, bahkan saat jurnal ini dituliskan, saya ingin menangis mengingat kebaikan adik-adik semua 😦

We love you all! 🙂

[PhotoBlog] Jum’atan di Masjid sekaligus Makam Sahabat Nabi

image

image

image

image

image

Batu prasasti yang ditempelkan di tembok yang mengeliling masjid menjelaskan bahwa salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW (sekaligus pencukur rambut beliau) bernama Abi Zam’ar dimakamkan di masjid ini.

Saya terharu membaca catatan ringkas ini.

Lebih terharu lagi kala memasuki masjid.
Masjid yang tua, sarat sejarah dan dipenuhi saudara-saudara muslim saya yang khusyu’ mendengarkan khutbah siang ini.

Saya memoto Aa sebentar dan berpisah.

Saya harus ke ruangan perempuan. Aa meminta saya mengikuti perempuan berjilbab di depan saya.

Saya sempat berhenti sebentar, tahu-tahu perempuan yang saya ikuti ini lenyap begitu saja.
Ke mana ia?

Seorang laki-laki yang duduk mendengarkan khutbah berdiri kala melihat ekspresi kebingungan dan salting saya, kala berdiri di belakang para lelaki yang khusyu’ mendengarkan khutbah. Ia kemudian menunjukkan lokasi untuk perempuan.

Ternyata ruang perempuan ‘tersembunyi’ di sudut salah satu mesjid. Ditutupi sebuah pintu coklat.

Saya segera mendorong pintu dan menyaksikan ratusan perempuan berjilbab khusyu’ mendengarkan khutbah.

Beberapa bahkan meneteskan airmata, kala sang khatib mengingatkan, “Sebagai muslim yang baik, kita harus peduli pada muslim di Syria. Mereka di sana diobok-obok Amerika melalui media dan antek-antek mereka. Di mana letak kepedulian kita sebagai sesama muslim?”

“Muslim sekarang lemah karena banyak menyembah berhala dunia… Kita harusnya menjadi sepemberani Musa AS. yang berani melawan ketakaburran dan kesesatan ayah angkatnya, Fir’aun!”

Ah, khutbah yang sangat berapi-api. Bahasa Arab fusha yang puitik dan penuh gelora, masjid anggun berarsitektur indah, dinding-dinding masjid yang menyejarah, melampaui abad dan generasi yang mulai melupakan kisah dan sejarah.

Khatib kemudian mengutip beberapa ayat dan beberapa perempuan makin terisak.

Saya semakin dibalut haru.
Sesak memenuhi jiwa.

Rasanya luar biasa dianugerahi kesempatan berjalan sejauh ini, sarat kontemplasi dan persahabatan dengan al-Qur’an yang dibacakan.

Rasanya ajaib!
Akhirnya kami bisa merasakan Jum’at yang khusyu’ di Africa Utara.
Di dekat makam salah satu sahabat Nabi SAW.

“Allah, ampuni hari-hari kami yang telah berlalu dalam dosa dan alpa.

Ya Allah, kuatkan hati seluruh umat muslim yang ditindas oleh thaghout dan tirani.

Engkau Maha Pembalas dan Hakim paling adil!”

Nama Saya Ridha

Menuju Le Bardo

Beberapa hari lalu (21/05), agenda kami adalah berkunjung  ke museum Le Bardo.

Menurut catatan Wikipedia, museum nasional sarat sejarah ini sudah ada sejak tahun 1882. Le Bardo diambil dari bahasa Spanyol yang artinya taman. Kata beberapa mahasiswa Indonesia yang kami tanyai, mereka tidak terlalu tahu di mana museum tua ini berada. Apalagi jarak apartemen kami ke Le Bardo, tak satupun yang tahu.

Untungnya Kang Dede Ahmad Permana berbaik hati menelepon temannya yang kerap keliling Tunis menggunakan bis. Akhirnya diketahui, bahwa Le Bardo tidak terlalu jauh dari kota. 🙂

Untuk menuju ke sana, kami disarankan naik bis dari halte dekat Perpustakaan Nasional Tunis, sejalur perempatan Universitas Tunis. Hanya beberapa meter dari toko buku mungil, Libraries Medical.

Karena cuaca masih dingin, kami keluar dari rumah agak siang. Berbekal coret-coretan peta digambar tangan karya Kang Dede, kami berjalan mengambil jalur terdekat, melewati beberapa warung pizza, piastre dan croissant. Penasaran dengan makanan khas Tunis, kami mampir dan membeli roti croissant dan malawi dekat kampus Universitas Zaitouna.

Berdasarkan informasi dari kawan mahasiswa, museum tutup jam 6 sore. Kami pun berjalan pelan, berfoto sana-sini, menikmati udara taman seputaran kampus. Makanan yang tadi dibeli pun kami santap di taman.

Kisah di Sebuah Halte

Usai makan dan perut terasa kenyang, kami kembali berjalan kaki sampai halte yang ditunjukkan Kang Dede. Pesan beliau, tradisi di sini, bus akan berhenti menaikkan atau menurunkan penumpang hanya di halte. Di luar halte, jangan harap bis akan berhenti.

Sesampai halte yang berdampingan dengan kios kuning tempat menjual tiket, kami celingak-celinguk mencari petugas. Kenapa tidak ada petugas di dalam kios ini? Kami ingin memastikan rute bis terlebih dahulu. Petugasnya ternyata sedang duduk dan mengobrol dengan anak muda si calon penumpang dekat kursi halte.

“Assalamu’alaikum.” Sembari kusodorkan tangan untuk bersalaman.

“Wa’alaikum salam.”

“Samihni, nahnu nuriidu an nadzhaba ila mathaf le bardo. Hal al-hafilah maujudah min huna?” Maaf, kami ingin pergi ke museum le bardo. Adakah bis dari sini?

Segera dia menjelaskan rute dan nomor bis dengan cepat. Tapi dengan bahasa Prancis. Entah kenapa, sapa dan obrolan pertama saat bertemu orang asing, orang Tunis kerap menggunakan bahasa Prancis. Bonjour! Oui!

Nu siga kitu tea lah… 🙂

“Intadzhir, mumkin billughatil ‘arabiyyah? Li anni lam astathi’ al-kalam bil-faransiyyah!”

Dia tertawa melihat wajah bingung kami. Anak muda di sampingnya ikut tersenyum. Mendengar mereka tertawa, pandangan calon penumpang lain yang berada dekat halte pun sontak tertuju pada kami.

“Irkab al-hafilah raqm mi’ah wa sittata ‘asyar, aw tsalatsah wa tsalatsiin, aw mi’ah wa arba’ah.

Aku mencatat nomor-nomor tersebut dengan angka arab di selembar kertas. 116, 33, dan 104. Lalu memperlihatkannya kepadanya. Dia tersenyum. Anak muda tadi pun ikut tersenyum dan berkomentar,

“Tepat sekali. Dia orang Indonesia sepertinya. Saya sering melihat beberapa mahasiswa mirip orang ini di dekat kampus. Mereka Indonesia.”

Rupaya dia mahasiswa Universitas Tunis. Kampusnya kan tidak jauh dari Zaitouna.

“Bikam tadzkirah?” Harga karcisnya berapa.

“Alf wa tsalatsu mi’ah milim li tadzkiratain.” 2 karcis, 1 dinar 300 milim.

Kami bertransaksi. Lalu karcisnya kupegang untuk kami foto. Bukan hanya memakai kamera digital, namun juga kamera hp. Aksi kami rupanya menarik perhatian orang. Pandangan banyak pasang mata calon penumpang pun tertuju kepada aksi kami ini. Namun kami cuek bebek. He he.

image

Sambil menunggu, aku ajak petugas itu ngobrol.

“Museumnya jauhkah dari sini?”

“Tidak terlalu jauh, jaraknya kurang lebih 5 km. Kalau sore begini, paling-paling sampai sana 20 menit-an.”

“Oh. Ok. Tapi, ngomong-ngomong, museum biasanya tutup jam berapa ya?”

“Jam 4 sore.”

“Iya, jam 4 sore sudah tutup,” timpal calon penumpang.

Kami melirik jam.
Hah? Sekarang sudah jam 15.40. Keburu enggak ya?
Kami saling pandang. Mencoba menghitung jarak dan waktu. Khawatir tidak kesampaian masuk museum. Percuma saja kalau datang ke sana sekadar melihat museum ditutup.

Petugas melihat kami berbincang cukup serius.

Saya mendekatinya.

“Hm, karcis ini berlaku hanya untuk hari ini atau bisa dipakai besok lusa? Soalnya kami berniat mengunjungi museum. Tapi kalau berangkat sekarang, sepertinya museum keburu tutup.”

“Karcis berlaku hanya untuk hari ini saja!”

Waduh, bagaimana ini. Karcis sudah kita beli, tapi tidak terpakai. Apa kita tetap berjalan saja. Kita ikuti arus bus saja. Kemana bus melaju, ke sana kita pergi. Tapi kalau berjalan tanpa tujuan, sayang waktu.

Kami saling pandang. Apakah karcisnya bisa ditukar kembali. Lama kami menebak dan berdiskusi antara bisa ditukar kembali atau tidak. Tiba-tiba petugas berujar,

“Mau di-cancel saja karcisnya? Kalau mau di-cancel, silahkan.” Tiba-tiba dia menyarankan.

Wah, ternyata bisa.

Dia meminta karcis kami. Sementara itu dia masuk mengambil uang di loket dan benar-benar mengembalikan uang kami.

Subhanallah! Petugas baik hati ini tidak basa-basi.

Alhamdulillah karcis kami bisa ditukar dengan uang. Berbeda sama sekali dengan petugas Mesir saat kami ingin menukar karcis untuk mengganti rute karena salah informasi. Padahal transaksi saat itu baru selesai beberapa menit. Si petugas Mesir dengan tegas menolak, “Tidak bisa ditukar!” Walaupun kami berkali-kali menjelaskan salah rute.

Tapi petugas di Tunis ini lain. Dia benar-benar baik.

Dia lalu bertanya, “Kamu shalat enggak?”

Mendengar pertanyaan tersebut, saya teringat paparan Kang Dede Ahmad Permana, bahwa sebelum revolusi Tunis 2 tahun silam, dia kerap ditanyai, ‘Anda muslim yang shalat atau tidak?’ Seakan-akan ada pengotakan antara muslim shalat dan muslim tak shalat. Saat ini pertanyaan yang Kang Dede paparkan itu ternyata masih berlaku dan saya rasakan sendiri.

Calon penumpang yang berusia kira-kira 65 tahunan mendekati kami dan menepis pertanyaan petugas itu.

“Indonesia itu berpenduduk muslim mayoritas, hingga 75% dari total penduduk. Dan mereka pasti menunaikan shalat, shaum, belajar Al-Quran, hadis, dan sebagainya. Tidak usah lagi bertanya shalat apa tidak.”

Setahu saya muslim Indonesia 85%. Saya bergumam.

“Bukan begitu. Maksud saya, saya hanya bertanya, mau shalat Ashar di mesjid atau tidak? Kalau mau, saya akan tunjukkan mesjid jami’ dekat sini. Sekalian saya pun akan shalat. Waktu Ashar hampir tiba.” Petugas itu meluruskan pertanyaannya.

Subhanallah. Kami kembali lirih bertasbih. Betapa ketaatannya menjalankan shalat berbuah manis pada kebaikan hatinya dalam interaksi dengan sesama. Terutama sikapnya sebagai petugas karcis yang humanis.

Saat temannya datang menggantikan shiftnya, dia pun pamit untuk berangkat ke mesjid. Sembari menjawab pertanyaanku soal nama, “Nama saya Ridha.”

Jazakallahu khairan ya Ridha!

image

Salam Romantis dari Tunis.
Rue Ras Darb – Tunis, 23 Mei 2013