Impian Umrahkan Mama Terwujud!

Jalan Impian Makin Terjal

Yogya yang panas terasa makin pengap dan panas!

“Aa, aku coba kirim whatsapp ke travel partner di Jakarta ya. Siapa tahu keberangkatan Mama bisa ditunda. Barangkali diundur saja ke bulan Nopember?”

Aa mengangguk tanda setuju.

Saya gegas mengirimkan pesan melalui whatsapp.

“Punten Mbak, bisakah Mama mertua kami ditunda saja keberangkatannya? Soalnya kami tidak punya cukup uang untuk membayar seluruh biaya umrah beliau.”

“Mohon maaf Mbak Ima, visa sudah selesai diproses di Kedutaan Besar Arab Saudi. Kan waktu itu Mbak Ima gak keberatan dengan harga ekspres karena menyusul (setelah semua berkas jamaah Kelana Cahaya Tour sudah masuk di mu’assasah). Tiket pesawat juga sudah saya talangi dibayar lunas, Mbak.”

“Benar-benar gak bisa diundur ya, Mbak? Khusus Mama saja?”

“Diundur bisa saja. Hanya semua yang sudah jadi tetap harus dibayar. Menurut saya lebih baik dipaksakan berangkat daripada hangus semua.”

Saya berlinang airmata kala membaca whatsapp dari travel partner saya. Benar juga. Semua sudah dia talangi. Berangkat atau tidak, semua tetap harus kami bayar.

Allah!

Adakah jalan lain untuk kami?

Kami sudah tidak punya pilihan untuk mundur.

Semalaman saya tidak bisa tidur. Kombinasi udara sangat lembab panas dan otak yang nyalang memikirkan jalan keluar membuat saya nekad mengambil langkah terakhir.

Malam itu -tanpa sepengetahuan Aa yang sudah terlelap- saya mengirimkan whatsapp ke salah satu anak jamaah kami. Dengan hati-hati setengah hati saya sampaikan hajat diri.

Continue reading

Advertisements

Impian Tertulis: Umrahkan Mama

Sekitar tahun lalu saya menulis impian di facebook (kurang lebih) isinya seperti ini,

“Saya ingin mengumrahkan Mama. Beliau guru mengaji luar biasa. Perempuan shalihah bersahaja. Tak mengapa dibayar tak seberapa (bahkan tak cukup untuk sekadar pengganti transportasi). Beliau hanya mengharap surgaNya. Jika saya membuat umrah budget Kelana Cahaya Tour, kira-kira ada yang tertarik kah? Sapa saya di message ya?”

Saat menuliskan itu, saya belum tahu penyelenggaraan umrah trip itu seperti apa. Ke mana harus membeli tiket pesawat untuk grup, apalagi mengurus visa -yang konon dari mulut ke mulut tersiar kabar sangat rumit njelimet- dan belum tahu jamaah akan diinapkan di mana.

Kalau umrah Alhamdulillah sudah pernah. Saya mendapat umrah gratis dari salah seorang pembaca blog saya. Pengalaman ruhani yang luar biasa! Saya diberangkatkan beliau tahun 2010. Karenanya saya terinspirasi beliau untuk memberangkatkan Mama (mertua). Menduplikasi kalau orang MLM bilang! 🙂

Kenapa Mama mertua?

Karena orang tua saya sudah haji dan (berkali-kali) umrah saat menetap di Mekkah beberapa tahun lamanya. Adik kedua saya juga baru memberangkatkan orang tua untuk umrah (kembali) pada tahun 2012.

Kenapa Mama mertua?

Karena Mama sudah manasik belasan kali. Mengitari ka’bah miniatur ratusan kali di halaman pesantren dekat rumah kami.

Kenapa Mama mertua?

Karena Mama guru mengaji sangat baik hati. Tak pernah berpikir untung rugi duniawi. Bagi Mama, asal muridnya pandai mengaji, beliau sudah merasa cukup rezeki.

Mama pernah berujar saat saya protes kenapa Mama terima saja dibayar sangat murah. Bahkan tak cukup untuk sekadar pengganti bensin, “Biarlah. Mamah sudah senang kalau anak-anak yang belum bisa mengaji sama sekali jadi lancar membaca al Qur’an. Mamah berharap surgaNya.”

Singkat cerita, saya memutuskan menulis di timeline facebook saya agar banyak yang mengaminkan harapan saya. Semoga Allah permudah jalan saya dalam mewujudkan impian meng-umrah-kan Mama dengan cara membuat ‘Umrah Budget’ ala Kelana Cahaya Tour.

Meski jujur saya belum tahu jalan menuju impian tertulis tersebut! 🙂

Continue reading

Istri Paling Beruntung Di Dunia

Bismillahi majreeha wa mursahaa…

Kami sudah dalam kereta express Malabar gerbong I kelas ekonomi sejak pukul 5 sore tadi.

Kereta membelah malam,
dalam irama ritmis rel panjang yang beradu,
mengayun-ayun penumpang lelap memasuki alam mimpi.

Diingat-ingat, terakhir naik kereta api kelas ekonomi pada tahun 2000.

Berdesak-desakan. Dapat kursi hanya jika beruntung. Panas bukan main karena tidak ada AC dan tentu saja berisik riuh rendah pedagang asongan beradu pesona barang dagangan 🙂

Sampai-sampai pernah ada istilah di kalangan teman-teman, “Belum jadi pengelana hebat kalau belum merasakan sengsara naik kereta ekonomi di Indonesia.”

Setelah mengalami masa ‘sengsara’, saya sok sugih memilih naik pesawat atau sesekali kereta eksekutif. Padahal dibayari kantor, haha 🙂

Setelah membaca review nyamannya naik kereta api ekonomi dua tahun terakhir ini, saya memutuskan memesan tempat duduk di kelas ekonomi. Jelas pengiritan karena bayar sendiri. Hehehe 🙂

Continue reading

Honeymoon Diaries: Ban Bocor

Hari Sabtu yang menyenangkan, meski diwarnai kisah ban bocor sebanyak dua kali.

Yang pertama di Buah Batu (lalu ditambal). Yang kedua -untungnya- di Balaikota Bandung dan cuek saja diparkirkan karena mempertimbangkan acara yang sudah dimulai. Kami lalu ngacir ke GAPURA, powered by Google.

Materi dibagi beberapa sesi. Materinya seru-seru. Tinggal mengaplikasikan ilmu yang didapat. Mudahan sebagian materi yang mengesankan juga bisa saya tulis di sini. 🙂

Jam 5 sore acara Google kelar. Tentu saja foto-foto heboh dulu dengan teman-teman blogger Bandung.

I love you, girls! 🙂

“Pulang yuk,” kata si Aa setelah beres memotret istri dan teman-temannya.

Kami melangkah beriringan. Saat tiba di parkiran seketika tersadar. Ban kami kan bocor lagi! Hahaha.

Continue reading

Kalimantan Selatan: Memacu Adrenalin dengan Bamboo Rafting di Sungai Amandit

ADRENALIN ALA BAMBOO RAFTING!

Suatu petang, sebuah perbincangan membentang.

“Sayang, sudah lama tak menjenguk Nini ya. Nini pasti kaganangan wan aku, cucu pertama sidin.[1]
“Ya, kenapa kita tidak menjenguk beliau, sekalian menikmati Honeymoon di Kalimantan?” Suami menyambut ideku.

Malam itu juga kami memutuskan membeli tiket pesawat untuk mudik ke kampung halaman. Keberangkatan insyaAllah minggu depan.
Syamsuddin Noor

Ada rasa khas yang menyelusup dada, kala pesawat mendarat di bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin. Tak bisa diungkap dengan kata-kata. Perasaan nyaman yang sublim. Perasaan kembali pulang.

Setelah menguluk salam pada Abah Mama, kuutarakan maksud hati, ingin mengunjungi Nini di Batang Kulur Kanan, kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tanpa banyak kata, Abah mengizinkan dan berujar setengah memerintah, “Honeymoon kali ini harus berhasil memberikan cucu untuk saya ya!” Saya dan Aa hanya tersenyum dikulum.

Continue reading

Tips Hemat Traveling: Bermotor ke Garut!

Tips Hemat Traveling: Bermotor ke Garut!      Setelah sebelas hari membimbing jama’ah umrah dan membuat laporan tertulis ke perusahaan travel yang mempekerjakan, Aa mengajak refreshing. Ngapain? Bermotor santai lalu berenang di Garut dong!

Saya seketika mengiyakan! 🙂

Saya juga sudah sangat kangen menceburkan diri di air hangat beraroma belerang, khas kolam-kolam renang di kaki gunung Guntur. Terakhir ngojay di Garut pertengahan Juni 2014. Saatnya kembali! 🙂

Tanggal 8 pagi –yup, hari Kamis, bukan weekend- kami putuskan pelesir ke Swiss van Java! Kami selalu memilih backpacking (baca: liburan) di saat orang-orang justeru usai liburan.

Begitu keputusan diambil, Aa mulai bersih-bersih rumah dan saya menyiapkan tempe tepung dan buah-buahan untuk bekal di jalanan.

Jam 12 siang kami sudah siap dengan satu buah ransel dan satu tas selempang. Isinya tentu saja baju renang, kacamata renang, baju ganti dan buah-buahan. Meski sedang di jalan, kami mengupayakan tetap sarapan buah-buahan supaya stamina tetap terjaga!

Tips Backpacking Hemat ala Honeymoon Backpacker

Sepanjang masih di Indonesia -jika memungkinkan- kami adalah pasangan penyuka motor biking kala menjelajah cantiknya wajah Indonesia. Continue reading

Penulis Idola dan Garuda Indonesia

Izinkan saya berbagi kisah untuk Garuda Balikpapan yang sedang menyelenggarakan lomba menulis blog Garuda Indonesia.

Ini kisah tentang seorang backpacker sederhana yang ‘mendadak’ ditakdirkan bersua dengan penulis ternama tanah air.

Uniknya, perjumpaan perdana kami tidak terjadi di sebuah forum bedah buku, apalagi dalam kelas penulisan!

Perjumpaan pertama kami justeru melayang di udara! Tepatnya dalam pesawat Garuda Indonesia, maskapai terbaik Indonesia!

Betapa beruntungnya saya.  Tiba-tiba saja diundang seorang teman lama. Teman saya ini sedang diamanahi jabatan sebagai wakil bupati Rantau Prapat di Sumatera Utara. Beliau mengirimkan message melalui facebook. Meminta saya secara khusus untuk mengontak sekaligus mendampingi perjalanan seorang penulis kawakan nusantara. Uang tiket pesawat, akomodasi selama di Rantau Prapat dan uang saku akan disiapkan semua.

Wow!
Subhanallah!
Mimpi apa saya semalam? Continue reading