MIMPI KELANA

Foto were taken by Retha at Merzouga desert, Morocco

MIMPI KELANA

Seseorang pernah bertanya,

“Ima, kamu kenapa sih aktif terus. Bergerak terus. Memangnya gak capek ya?”

Aiiih…

Kata siapa saya bergerak terus?

Kata siapa saya bergiat terus?

Saya sama seperti yang lainnya juga.

Makan dan tidur.

Kadang diterjang malas.

Kadang gak ngapa-ngapain berhari-hari (meski tetap masak bersih-bersih).

“Oh ya? Tapi kok saya lihat aktif terus. Padahal lagi di luar negeri. Jauh dari tanah air.”

Oh, maksudnya menjalankan bisnis baru bernama Kelana Cahaya Tour ya?

Teman saya buru-buru mengangguk.

Baik.

Saya jawab apa adanya ya 🙂

Saya senang memelihara mimpi.

Jika kamu pernah membaca tulisan panjang saya pada tahun 2013 awal di blog www.honeymoonbackpacker.com maka kamu akan mengerti kenapa saya senang bermimpi.

Mimpi adalah gairah.

Mimpi adalah semangat.

Mimpi adalah cambuk.

Mimpi adalah kerja keras!

2013 awal saya bermimpi mengajak suami berkelana sekaligus #dakwahbackpacking sepanjang Ramadhan di benua lain.

Alhamdulillah telah terwujud 3 tahun berturut-turut. Beyond our dream that time!

Meski harus membuat pempek siang malam di rumah host kami di Belgia, kemudian menjualnya dari satu pengajian ke pengajian lain -tentu saja setelah Aa selesai ceramah, saya bangga bisa mewujudkan mimpi.

Suami saya awalnya sangsi dengan mimpi dakwahbackpacking. 

Apa mungkin?

Eropa kan mahal.

Aku hanya guru pesantren.

Tapi mimpi saya yang akhirnya menjadi mimpi berdua berhasil menepis ketidakmungkinan menjadi kata ‘kerja’.

 Yaitu kerja keras dan berdoa.

Alhamdulillah terwujud.

Jika sudah begini, kenapa kami harus berhenti bermimpi?

Teman saya menatap takjub.

“Lalu apa mimpi kalian sekarang?”

Baik.

Ini pertanyaan makin menjurus ya.

Saya dan si Aa sepakat menumbuhkan Kelana Cahaya Tour sebagai income generator!

“Income generator alias mesin uang bagi kalian? Wow, mantap tuh!”

Saya menggeleng. Lalu menjawab tegas.

Bukan mesin uang untuk kami. Kami sudah cukup makan. Cukup pakaian. Bisa tinggal di rumah sederhana. Kami sudah merasa kaya. Kami selesai dengan dunia material.

Kelana Cahaya Tour dilahirkan insyaAllah sebagai alat kami mewujudkan mimpi yang lebih besar!

Mungkin terdengar utopia bagimu, Kawan.

Tapi sekali lagi saya tegaskan, ini mimpi besar kami.

Kami ingin membangun lembaga pendidikan -apapun namanya dan jenisnya nanti- untuk anak-anak dhuafa berprestasi yang ingin belajar. Agar kelak berkelana memaknai dunia dengan lebih baik.

Untuk mewujudkan mimpi ini kami harus menyiapkan diri.

Aa sedang menempuh pendidikan lanjut. 

Sedang saya fokus bekerja untuk Kelana Cahaya Tour.

Harapan kami, semua keuntungan finansial Kelana Cahaya Tour bisa kami tabung sebaik-baiknya.

Simpan dan kelola lalu segera dibelikan tanah begitu ada lahan yang cocok. Syukur-syukur bisa bertemu orang yang mau mewakafkan tanah miliknya. Jadi keuntungan bisnis Kelana Cahaya Tour fokus untuk membangun infratruktur calon Pesantren Kelana.

Mohon doakan Kelana Cahaya Tour bisa membesar dan mempekerjakan orang lain.

Saat pendidikan Aa telah tuntas dan tabungan sudah mencukupi, kami akan membangun bata pertama Pesantren Kelana dan Rumah Kelana.

Doakan kamI istiqomah menghidupi mimpi ini ya, Kawan!

“Wow. Serius sekali mimpimu, Ima.”

Ya. Kami serius.

Semoga Allah mudahkan.

Dan ssst, kalau pakai jasa Kelana Cahaya Tour jangan ditawar lagi ya. 🙂

Kalau kamu ikhlas menggunakan jasa kami, ada tabungan amal jariyahmu di situ.

InsyaAllah!

PS.

Akhir Desember 2016 Kelana Cahaya Tour akan membuka backpacking trip santai ke Eropa Timur, antara lain ke Austria, Praha dan Budapest. 

Maksimal 14 peserta saja.

Yang berminat bergabung segera sapa saya di WhatsApp: +62 819 5290 4075.

Advertisements

Our Passion

image

Kelana Cahaya Tour di Sevilla, Spanyol

Dua tahun terakhir saya mengamati timeline seorang kakak yang menetap di jantung kota Paris bersama suami dan seorang anak.

Beliau bukan perempuan biasa di mata saya.

Beliau salah satu perempuan berkarakter kuat dan tahu apa yang dia inginkan dan tahu langkah apa saja yang harus beliau ambil untuk mewujudkan mimpi.

Sepanjang dua tahun terakhir saya membaca dan melihat foto-foto perjalanan beliau dalam memburu ‘passion‘ dan kecintaannya pada kuliner dan keindahan alam Indonesia.

Dari foto-foto yang dibagi dan diberikan sedikit pengantar, disusul komentar yang bertebaran di kolom reply, saya tahu persis beliau sabar dan kuat menjalani proses bata demi bata impian, yaitu membangun boutique hotel di ketinggian Lombok, tak jauh dari pantai Selong Belanak yang surgawi.

InsyaAllah Juni nanti boutique hotel beliau akan grand opening. Saya sungguh amat berbahagia untuk pencapaian dan kerja keras beliau.

MasyaAllah…
Dari timeline beliau yang kerap di-update tersebut saya merasa disemangati.

Bahwa memburu, bekerja melakukan sesuatu yang sangat kita sukai, membutuhkan proses panjang, diiringi kesabaran dan keuletan nyaris tanpa akhir!

Hingga berhasil!

APA SIH PASSION SAYA?

Butuh puluhan tahun bagi saya untuk menemukan ‘passion‘ (gairah terhadap sesuatu yang tiada putus) yang benar-benar saya gilai. Benar-benar saya sukai.

Tak ada nilai materi di sana pun tak mengapa. Tapi saya bahagia melakukannya.

Sejak usia remaja, berganti-ganti kesukaan saya. Mulai public speaking, lalu writing, kemudian organizing hingga cooking.

Tapi selalu ada rasa bosan dan jenuh di tengah atau ujung perjalanan.

Tahu-tahu saya mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tentu saja setelah melamar ke banyak lembaga pemberi beasiswa. Saya mulai kuliah kembali di Inggris sana pada pertengahan 2004.

Setiap summer berlangsung, para mahasiswa menggendong ransel tinggi besar dalam gegas dan langkah-langkah panjang,

“Where are you going?”

“I’m going to Spain.”

“Wait, Spain is really far from here. How could? We’re students with limited scholarship!”

“I’m going there by backpacking.”

Yang bersangkutan berlalu dan saya gegas menuntun sepeda merah ke perpustakaan dan langsung googling.

image

Saat Aa menyandang backpack, menuju kapal cruise Silja Line yang akan berlayar ke Helsinki, Finlandia

Apa itu backpacking?

Gaya hidup atau apa?

Atau sejenis alat transportasi?

Apaan sih?

Bukannya backpack itu ransel yang selalu saya sandang di punggung saban berangkat kuliah dan mengayuh sepeda ke supermarket kala belanja kebutuhan sehari-hari?

Setahun kemudian, summer 2005 saya mulai backpacking pertama menjelajah Eropa daratan seorang diri saja!

Tiga minggu saya tak merasa lelah mendatangi delapan negara dan menyambangi puluhan kota menggunakan kereta api.

Saat itu usia saya menjelang 24 tahun. Karenanya berhak membeli tiket kereta terusan Eurorail dengan harga di bawah 200 €! Puas turun naik kereta api ke mana saja saya hendak menuju sampai bosan atau pingsan kelelahan! 🙂

Sejak itu, tak terasa sudah 35 negara saya datangi dengan gaya backpacking murah meriah seru. Backpacking semacam anggur memabukkan bagi saya.

Mendatangi tempat asing sungguh memantik api jiwa.

Mengembara, terlebih bersama pasangan jiwa sungguh membuat saya kaya.

image

Keindahan pegunungan dan danau di Swiss

Sebelas tahun berlalu dan saya masih mencintai aktifitas backpacking hingga detik ini.

Belakangan, saya bahkan mendirikan komunitas ‘Muslimah Backpacker’.

Dengan niat mengajak lebih banyak anak muda belajar kehidupan melalui aktifitas yang menyehatkan fisik karena banyak berjalan dan menyehatkan jiwa karena membuka wawasan.

Tak pernah saya duga. Saya pun bertemu suami yang menyenangi aktifitas alam.

Basic Aa adalah kecintaan pada aktifitas sporty dan mendaki gunung.

Dari gunung turun ke lautan hati saya. Hihihi. Bisa ajah si Ima! 🙂

Sebelas tahun berlalu dan kami sampai di titik ini.

http://www.honeymoonbackpacker.com yang bertumbuh kemudian melahirkan #kelanacahayatour dan rutin membuat aneka budget trip. Dalam dan luar negeri. Minimal setahun sekali.

Sepanjang 2013 terhitung 6 kali trip diselenggarakan.

Yang paling banyak mendapat sorotan media bahkan beberapa kali diliput media nasional adalah Jelajah 53 anggota Muslimah Backpacker ke Bromo, Malang dan Batu Jawa Timur.

Lalu disusul pengelanaan terjauh ala backpacker ke Mesir selama 11 hari.

Mendatangi Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria hingga mendaki puncak Gunung Sinai. Perjalanan bersama komunitas yang sangat membanggakan!

Setelahnya perlahan tapi pasti fokus kami beralih ke bisnis mengorganisasi perjalanan grup kecil-kecilan. Dimulai dengan modal nol sama sekali. Hanya bermodal kepercayaan klien saja.

Kata banyak pengusaha senior, bisnis yang tumbuh mengakar dan menghunjam kuat adalah bisnis sesuatu yang kamu cintai. Dan kini dengan lantang saya akui, saya mencintai dunia perjalanan sepenuh hati.

Tak terasa, sudah tiga tahun saya dan suami bahu-membahu menumbuhkan lini bisnis #kelanacahayatour di antara jadual kuliah Aa yang berkejaran.

Kami berbagi tugas. Saya melakukan kerja marketing, finance dan management.

Aa sepenuhnya menjadi guide atau tour leader yang bekerja sepenuh hati. Kalem, tulus dan sangat amanah menjaga para tamu sepanjang perjalanan. Memenangkan hati klien dan tamu kami. Alhamdulillaah.

Tiga tahun yang menguji kesabaran, keteguhan dan keikhlasan hati.
Jatuh bangun kami lalui.

Jangan tanya soal menghadapi keinginan klien yang beraneka ragam.
Apalagi yang sekadar tanya-tanya itinerary dan land arrangement, lalu setelah dapat itinerarysays good bye‘.

Sudah biasa. Namanya juga bisnis jasa.
Harus berhati seluas samudera.

Awal-awal memulai, kami bahkan tak untung sama sekali.

Sekarang kami belajar menghargai diri dan kerja keras berbulan-bulan menyiapkan sebuah trip, terutama trip ke luar Indonesia. Termasuk di dalamnya proses promosi yang menghabiskan pulsa internet, ratusan jam proses marketing, lalu closing klien hingga sabar mengingatkan tagihan cicilan biaya trip.

Ya, selain menyelenggarakan budget trip (trip dengan biaya ringan) kami juga mengizinkan klien kami menyicil biaya trip hingga jelang keberangkatan. Boleh dibilang nekad. Tapi inilah tantangannya.

Kenapa jalan susah yang kami ambil? Karena #kelanacahayatour adalah bayi di galaksi bisnis perjalanan tanah air.

Ya, dalam bisnis travel and tour ini, kami adalah ‘pemain liliput’ di antara pemilik modal raksasa dan korporasi gurita.

Tapi kami tak gentar. Karena kami mencintai proses ini. Dan kami berbisnis melibatkan hati. Mengutamakan empati.

Demi empati dan mengutamakan studi yang sedang ditempuh si Aa, kadang kala kami harus mati suri sejenak, seperti bunga liar yang hibernasi di musim dingin, kemudian mekar menyala secantik matahari di musim panas.

Ada keindahan dalam kesabaran.

Ada keyakinan dalam proses belajar.

Dan saya makin menyadari. Saya telah menemukan hasrat terdalam diri ini. Yaitu kecintaan pada aktifitas pengembaraan dan membagikan spirit ini melalui beragam paket perjalanan yang kami tawarkan bersama Kelana Cahaya Tour.

Sehingga kata bekerja menjadi lenyap. Berganti kata, cinta!

***

Ps.

Open Trip yang saat ini dibuka adalah Maroko Trip pada tanggal 3-11 November 2016.

Saat ini budget open trip ada di posisi 16 juta all in. (tergantung ketersediaan dan harga tiket pesawat)

Tertarik?

Please contact us here, +62 819 5290 4075.

Kelana Cahaya Tour, Bermula Dari Mimpi

Rasanya masih mimpi, bisa sampai di titik ini.

We’re totally living our dream!

Sejak berani berjualan kue-kue basah di pesantren saat usia saya menginjak 15 tahun (karena kekurangan dana untuk membayar SPP dan uang asrama), sejak itu saya bermimpi ingin memiliki bisnis sendiri. Suatu ketika, saya akan utuh berdiri di atas kaki sendiri.

Butuh 37 tahun jatuh bangun menjalani hidup dan hampir seperempat usia saya habiskan dengan berkelana seorang diri.

Alhamdulillaah sekarang tak sendiri. Ada Aa yang mendampingi. Mengembara bersama sepenuh hati.

Belajar Bisnis Travel and Tour: Kelana Cahaya Tour!

Secara alami, kami sekarang mengelola bisnis travel kecil-kecilan bersama suami tercinta yang sedang fokus menuntut ilmu.

Jika ada libur atau jadual kuliah sedang senggang, sesekali Aa ‘kabur sejenak’ dari tugas kuliah, menemani istri mengantar tamu kesana kemari jelajah Maroko dan Eropa.

Semua dimulai dari mimpi

2011 kami menikah. Modal harta nol. Hanya dimodali niat baik, ingin berjalan bersama, bergenggam tangan arungi bahtera kehidupan dalam suka dan duka.

Awal pernikahan kami mulai dengan berjualan brownies kukus, bolu mekar gula jawa dkknya.
Keuntungan harian sekitar 15 ribu perak. Sungguh kecil tapi bisa memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Tentu kebutuhan paling dasar, semacam beli tahu tempe, sedikit sayur dan beras. Jika diingat-ingat, dengan omzet harian semungil itu, Alhamdulilah kami bisa bertahan hidup dan tetap tertawa bahagia. Asal ada cinta tulus dari si dia. 🙂

Aa juga fokus menerima orderan menerjemah. Satu kitab tebal diselesaikan dalam dua – tiga bulan.

“Pegal punggungku, Yang.”

Keluh Aa yang duduk berjam-jam di depan komputer. Lalu saya pijiti segenap sayang.

Jelang Ramadhan kami memberanikan diri mulai menerima order jualan pempek sehat ala Imazahra. Tetap dipasarkan secara online.

Pempek kami pempek istimewa. Diolah dengan hati dari dapur sendiri. Non MSG non kimiawi apapun.

Alhamdulillaah omzet meledak buat ukuran home industry pemula. Kalau tidak salah pendapatan sebulan kala itu sekitar 5 juta.

Mungkin kecil di matamu, Kawan, tapi sungguh besar bagi kami yang biasa jualan kue dengan omzet sebesar 40 ribu perak / hari.

2011 pertengahan Aa mulai mengajar di lembaga bahasa Arab Al Imarat Bandung. Otomatis menerima gaji bulanan. Tak besar tapi Alhamdulilah cukup dengan berhemat dan apik mengelola uang. Total gaji bulanan Aa saat itu tak lebih dari satu setengah juta rupiah.

Sumbangan Besar Muslimah Backpacker

2011 akhir saya membentuk komunitas Muslimah Backpacker. Langsung melejit dengan keinginan anggota untuk trip jelajah Indonesia.

2012 Muslimah Backpacker jelajah Garut Selatan, disusul jelajah Kalimantan Selatan, dilanjutkan jelajah Bromo dan Malang.

2013 pecah telur. Muslimah Backpacker memberanikan diri bawa rombongan 16 perempuan 2 laki-laki ke Mesir.

Jelajah Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria hingga mendaki gunung Sinai.

image

MB dan Kelana Cahaya Tour Jelajah Mesir

Subhanallah, 11 hari yang menantang dan membuat kami belajar banyak tentang bisnis jasa ‘bersenang-senang sambil traveling’ ini.

Tanpa lahirnya komunitas Muslimah Backpacker, saya yakin seratus persen, saya tidak akan pernah punya keberanian untuk memulai bisnis bernama Kelana Cahaya Tour. Saya berhutang banyak pada Komunitas Muslimah Backpacker sebagai pendidik saya.

Belajar Fokus

Semenjak Mesir Trip, saya mulai berpikir tentang menumbuhkan bisnis baru ini dengan serius dan tentu saja fokus.

Pelan-pelan saja. Semampu saya dan Aa. Sebab jelas belum memungkinkan untuk buka kantor atau memiliki rumah dua tingkat dan kantor travel diletakkan di lantai dasar sepanjang kami masih berkelana seperti saat ini.

Satu buah rumah pun belum resmi kami miliki. Masih menyicil pada seorang sahabat. Alhamdulillaah tanpa bunga, tanpa riba.

Muslimah Backpacker dibiarkan tetap sebagai komunitas dan saya lebih tertantang belajar membangun bisnis travel.

Selangkah demi selangkah. Bata demi bata. Perlahan-lahan.

Dengan pikiran seperti ini, saya memutuskan memisahkan Komunitas Muslimah Backpacker dengan lini bisnis baru, yaitu melahirkan Kelana Cahaya Tour.

Kelana Cahaya Tour adalah saudara kandung Komunitas Muslimah Backpacker. Alhamdulillaah.

2014 awal Kelana Cahaya Tour nekad memberangkatkan 18 jamaah umrah bersama salah satu travel partner yang berkantor di Jakarta.

Partner saya dapat 10 jamaah, sedang kami memeroleh 8 jamaah.

Alhamdulillaah ada sedikit keuntungan.

Keuntungannya (plus ditambah uang pribadi sekian juta) Alhamdulilah bisa memberangkatkan Mama mertua. Guru ngaji bersahaja yang diliputi cahaya syukur karena diberangkatkan anaknya sendiri. Alhamdulillaah.

Saya tidak akan berhenti. Meski saat ini posisi kami sedang di Maroko, tidak ada halangan untuk terus melanjutkan proses belajar.

Tanggal 27 Maret hingga 4 April lalu kami baru saja mendampingi 39 tamu jelajah Eropa Timur yang cantik. Yaitu Innsbruck, Salzburg, Wina, Hallstatt, Bratislava, Budapest dan Praha. Bukan main menantang mengingat kami harus mengelola banyak kepala, keinginan personal dan rupa-rupa kejadian. Seru! 🙂

image

Cantiknya Hallstatt dan tamu-tamu kami

image

Kelana Cahaya Tour jelajah Eropa Timur

image

Kegiatan tour leaders dan dua bus drivers, mengecek lokasi berikutnya

Bisnis travel dan tour leader adalah bisnis yang sangat luwes dan cair. Bisa dikerjakan di mana saja. Asal ada internet, peluang waktu, calon klien dan destinasi, InsyaAllah bisa dikerjakan.

Menurut hemat saya, bisnis travel khususnya tour leader adalah bisnis yang menuntut keseriusan tingkat tinggi saat kita sedang bersama klien. Meski tampak asik bisa jalan-jalan ‘gratis’ kesana kemari, tapi sungguh tidak mudah.

Kita dituntut terus-menerus berjalan bersama klien dalam kurun waktu yang telah disepakati bersama. Tidak boleh mengeluh meski berpeluh.

Profesionalitas kerja diukur dari tangan yang banyak bekerja dalam diam dan ketenangan sikap. Untuk ini saya masih harus belajar banyak pada Aa.

Ada komitmen moral untuk melakukan yang terbaik karena pada akhirnya bisnis travel and tour adalah bisnis jasa.

Kekuatan marketing bisnis jasa sesungguhnya terletak pada kepuasan klien. Kalau klien puas, siap siaplah pada efek ‘iklan dari mulut ke mulut’ yang aduhai dampak viralnya!

Ada bebatan emosi yang harus dijaga agar tidak pecah di tengah perjalanan. Butuh partner berjalan dengan hati seluas samudera. Dan Alhamdulilah partner terbaik saya adalah Aa. 🙂

Selama Kelana Cahaya Tour dilahirkan, saya dan Aa sudah dipercaya lima klien untuk terbang ke luar Indonesia. Menjelajah dunia. Satu kali umrah. Tiga kali jelajah Maroko dan satu kali jelajah Eropa Timur.

Semoga kami berdua terus dipercaya. Karena kami butuh banyak jam terbang dan ruang untuk belajar.

Apalagi ada cita-cita besar yang ingin kami wujudkan dari bisnis ini, menjadi income generator bagi pesantren dhu’afa yang kelak ingin kami dirikan!

Ya, kami ingin membesarkan bisnis travel ini menjadi gerakan social entrepreneurship.

Keuntungan terbesar niatnya akan digunakan untuk membangun bata demi bata Rumah Kelana dan Pesantren Kelana.

Semoga Allah mampukan. InsyaAllah, janji Allah pasti untuk hamba yang mau bekerja keras!

Mohon support doanya ya, Kawan! 🙂

***

Bagi teman-teman yang ingin merasakan jasa pengelolaan perjalanan, umrah berkualitas, atau pun tour leader penuh semangat mengawal klien travel anda, silahkan kontak kami di:

Email: imazahra@gmail.com
Whatsapp: +62819 5290 4075

Jalan Rejeki

image

Assalaamu’alaikum pembaca setia,

Sudah dua minggu tak menulis di sini, karena kami berdua disibukkan persiapan menerima enam backpacker dari utara Belanda, tepatnya rombongan mahasiswa master dari kota Groningen.

Kesibukan suami juga bertambah. Beliau mulai kuliah sejak minggu lalu.

Ketua jurusan meminta Aa mulai kuliah meskipun berkas pendaftaran kuliah Aa masih tertahan di AMCI.

Semoga dengan semangat kuliah serius yang ditunjukkan Aa meluluhkan hati pihak AMCI.

Sampai hari ini Aa sudah tujuh kali bolak-balik ke AMCI dan dihapal oleh satpam dan beberapa karyawan terkait.
Tanggal 6 Nopember lalu Aa menuju Fez, sementara saya sibuk membersihkan kamar kami satu-satunya untuk mereka tempati selama dua malam.

image

Dapur juga saya sabuni dan sikat bersih-bersih. Rencananya dijadikan kamar sementara kami setelah beres mencuci piring makan malam.

image

Alhamdulillaah, setelah 4 hari 3 malam kami temani menjelajah jantung keindahan di negeri Maghribi, 9 Nopember jelang senja rombongan backpacker Groningen ini terbang kembali menuju rumah mereka di Belanda dengan menggunakan pesawat Ryanair yang lepas landas di Fez Sais Airport.

Sebelum teman-teman Groningen meninggalkan Maroko, saya sempat meminta kesan-kesan mereka berjalan didampingi pasangan #honeymoonbackpacker selama 4 hari. Seru-seru celoteh dan komennya. Khas anak muda 🙂

Ingin segera diupload di sini, tapi sayang kuota internet saya di hape sungguh terbatas, hehe.

Kami harus mencari cafe yang ada wifi-nya. Mungkin harus ke area kelas menengah atas di Agdal 🙂

Sayangnya si Aa mulai Rabu minggu lalu selalu masuk kuliah sejak pagi sampai Maghrib! Belum bisa segera ngafe!

Yup, kuliah di sini jadualnya ajib. Bisa sambung-menyambung sejak pagi hingga matahari terbenam bahkan sampai Isya.

Mau shalat pun harus izin dengan dosen yang sedang mengajar. Entah karena perbedaan mazhab, di sini dosen mengajar ‘santai’ saja memberikan kuliah dan tidak berhenti kala masuk waktu shalat. Nanti saya tanyakan Aa alasan dosen tersebut ya.

Besok Jum’at Aa juga kuliah sampai Maghrib. Pokoknya full mulai Rabu-Jum’at dan kosong mulai Sabtu-Selasa. Seakan-akan diatur Allah supaya kami bisa leluasa mendampingi tamu mulai Sabtu-Ahad-Senin hingga Selasa.

Sementara proses di AMCI masih jalan di tempat 😦

Otomatis beasiswa suami juga belum cair sama sekali.

Alhamdulillaah, Allah memberikan jalan lain untuk membiayai perjalanan memburu cahaya ilmu agama di negeri Senja dengan cara yang ‘kami banget’, yaitu menjual jasa sebagai ‘arsitek perjalanan’ bagi yang membutuhkan. Agar efektif karena tak nyasar-nyasar. Agar nyaman karena guide bisa berbahasa Arab fusha dan darijah, agar mendapatkan spot terbaik untuk dijelajahi, agar jatuh hati karena masuk ke jantung peradaban penduduk lokal.

Betapa cantiknya Allah mengatur jalan rizki kami 🙂

InsyaAllah, kami akan terus bersabar menunggu takdir terbaik untuk Aa.

Meski tadi malam Aa sempat berujar,  “Kuliah di Muhammad Khamis University adalah impian Aa. Tapi proses jalan di tempat dari AMCI membuat hati ink tak tenang.

Kita terus ikhtiar mengupayakan agar Aa bisa kuliah resmi di Muhammad Khamis University, tapi kita juga harus siap menerima takdir apapun dari Allah, Yang.”

Saya tercenung.
Saya yang telah jatuh hati pada kota Rabat mendadak merasa gamang.

Enggan jika harus meninggalkan ibu kota yang nyaman ini. Baru sejenak pengembaraan kami di kota cantik ini.

Mudahan Allah berikan takdir terbaik untuk kami.

Sebagaimana Ia bukakan jalan rizki melalui passion kami.

Ya Rabb!