Kiblat dan Respek

Kiblat dan Respek

Salah satu aplikasi yang kubiarkan terpasang di handphone adalah kompas. Dia yang akan memandu arahku melangkah menapaki jengkal demi jengkal tanah destinasi yang baru aku kunjungi. Di sisi lain, dan ini yang paling penting, memudahkanku mencari arah kiblat ketika akan menunaikan shalat. Cukup mengetahui arah utara, maka akan diketahui arah lain, barat, timur, dan selatan. Dari situ bisa aku perkirakan arah kiblat dengan mudah. Saat berada di benua biru, misalnya, arah kiblat kurang lebih ada di tenggara. Lebih akurat lagi sih aplikasi www.muslimpro.com atau www.islamicfinder.org

Tak seperti biasanya, malam itu aplikasi kompas tak aku pasang karena space-nya penuh. Ketika terbangun pagi dan lantas ke dapur umum hostel untuk mengambil air minum, seorang petugas berbadan subur sedang menyiapkan segala rupa untuk sarapan beberapa saat lagi. Kami saling menyapa dan menyunggingkan senyum.

“Hai, good morning” Sapaku.

“Good morning.” Responnya ramah.

Kendati harganya relatif murah, hostel di kota Lisbon yang satu ini tampak modern dan homy. Dibuat senyaman mungkin. Dari mulai fasilitas yang lengkap hingga keramahan petugasnya. Wajar jika reviews di booking.com mencapai nilai tinggi. Sembilan koma satu.

Pagi itu belum tampak banyak orang. Rupanya mereka lelap dalam istirahat. Subuh memang waktu paling enak untuk tidur ya. He he.

“Excuse me, please madam, could you help me. Pintaku sebelum mengungkapkan maksud.

“Yes.”

“Where is the north from here?”

Sebenarnya aku mau bertanya arah kiblat, tapi tidak tahu apa arti kiblat dalam bahasa Inggris. Ditambah, untuk memudahkan dia menjawab, aku cukup bertanya arah Utara atau Barat.

Kiblat adalah arah posisi Ka’bah berada, yaitu di kota Mekkah, di tengah-tengah mesjidil haram. Memang kiblat tak mesti di arah Barat. Tergantung kita sedang berdomisili di negara mana saat itu. Untuk orang yang sedang berada di Indonesia, arah kiblat berada di sebelah Barat, sedikit bergeser ke kanan (mendekati Barat Laut). Sementara bagi penduduk benua Afrika seperti Maroko, Mesir, atau benua Eropa, kiblat justru berada kurang lebih di arah sebaliknya, yaitu arah tenggara. Lain lagi orang yang sedang berada di mesjidil haram. Justru kiblat bisa dari segala arah. Bahkan orang shalat sama-sama menghadap kiblat tapi saling berhadapan, sebab Ka’bah ada ditengah-tengah.

“Hm.. I think..there..hm. But I’m not sure. I think there.” Ia tergagap menjelaskan. Entah karena benar-benar tidak tahu, entah karena pertanyaan ini dianggap iseng.

Kemudian ia kembali menyusun gelas dan piring di meja dapur.

Beberapa menit kemudian, ia kembali memanggilku. Rupanya ia kembali berpikir kenapa kok pagi-pagi bertanya soal arah. Terasa sangat aneh.

“Excuse me, what for do you ask me that?” Dia kembali bertanya.

“I have to pray. So I have to know where is the right direction for us.” Jawabku meyakinkan.

Ekspresi wajahnya kemudian tersentak kaget. Agaknya dia merasa betapa urusan ibadah dan berdoa bukan masalah sepele.

Oh, okay, wait me please. Sorry ya. I think you are just asking. I have to take my mobile phone and check it first, please.”

Aku juga merasa kaget dengan respon kedua yang terlihat lebih antusias mencari tahu daripada respon yang pertama tadi.

Saat merasa dianggap pertanyaan iseng, aku tak ngotot memaksa dia memberitahuku. Toh aku bisa berijtihad menentukan arah semampuku. Bukankah dalam Al-Quran pun diungkapkan, “Fa ainamâ tuwallû fa tsamma wajhu Allah.” Kemana saja kamu hadapkan wajahmu, di situlah wajah Allah. Jika sudah berusaha mencari arah kiblat namun tak mendapatkan hasil yang pasti, shalat saja kemanapun mengarah.

Dia lalu berjalan menuju information desk. Aku disuruh mengikutinya. Ia membuka hp dan mendownload aplikasi kompas yang ternyata belum terpasang.

“Do you have to pray now?”

“Yes of course.”

“So how many times you have to pray?”

 “We have to pray five times within 24 hours.”

“Really?”

Yes.”

“When?”

Masya Allah, bismillah inilah saatnya aku menyampaikan (tabligh) pada orang yang belum mengetahui. Sederhana tapi mendasar dan sangat penting.

“Subuh will be done at dawn to sunrise, should be performed at least 10-15 minutes before sunrise. And we pray zuhur after true noon until afternoon (Ashar). The we pray again afternoon. We pray magrib after sunset until dusk. The last is Isya. We could perform it from dusk until midnight or dawn. We could do it flexibel as long as within the time.”

Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, Isya

Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, Isya

“How many hours do you spend for each pray?”

“Only five or ten minutes.”

 “You have to do it even you are travelling like now?”

“O, No. When we are travelling (safar) we may do it only three times.”

“How do you do that?”

“I mean, zuhur and ashar in one time, magrib and isya in one time. And subuh like now, in one time.”

Dia mengangguk-ngangguk.

“So, I’m sure the north is there. See it!”

Dengan penuh semangat dia mendekatkan hp-nya dan menunjukkan jarum kompas.

“Right.” Jawabku puas.

Dia tersenyum bahagia setelah tuntas membantuku menemukan arah yang aku cari. Sebagaimana kepuasan dan kebahagiaan yang aku rasakan setelah aku bisa menyampaikan sesuatu yang dia belum ketahui. Ditambah rasa salut atas sikap respeknya terhadap orang yang ingin menunaikan ibadah sesuai dengan keyakinan penganutnya. Terlepas dari motif dan alasan dia membantuku. Apakah murni membantu atau demi memuaskan konsumen. Yang pasti tak ada rasa bete, acuh, atau benci.

Akhirnya pagi itu ada dialog keagamaan dengan seorang petugas hostel di jantung kota Lisbon. Temanya ringan namun agak berat bagiku sebab bahasa Inggris-ku yang masih terbatas. Kendati demikian, alhamdulillah pertanyaan demi pertanyaan dapat aku jawab. Semoga saja dialog semacam ini memacuku untuk terus belajar menyampaikan ilmu dengan baik. Tugas kita adalah menyampaikan, bukan memaksakan.

Aku pun jadi berpikir, jika orang lain beranggapan negatif terhadap Islam, mungkin karena mereka belum mengetahui kemuliaan ajaran Islam secara benar dan detail. Bisa jadi hanya karena menyaksikan media yang menampilkan secara sepihak perilaku negatif sebagian umat Islam, mereka membuat kesimpulan yang salah bahwa Islam mengajarkan hal yang tidak baik.

“Ok, thank you, madam.”

Saya mengakhiri pembicaraan karena langit perlahan benderang.

“You are welcome.”

Responnya sembari membetulkan posisi kacamata tebalnya.

Aku pamit dan bergegas menuju kamar bed-dormitory 501.4 yang berisi delapan orang. Dari kamar berukuran 4×4 meter yang masih senyap, aku melipir ke balkon dan menggelar matras biru. Allahu Akbar! Wahai Allah, Engkau Dzat yang Mahabesar.

Catatan dari Lisbon, 24 September 2016

Advertisements

Sangkuriang dan Koper

Proyek sangkuriang akhirnya mulai dikerjakan pukul 00.30.

Kenapa saya katakan sangkuriang?
Karena biasanya proyek kasih sayang melalui perut ini dilakukan bersama si Aa 🙂

Sempat enggan mengerjakan karena tak ada partner yang akan memotong-motong si ikan fillet menjadi ukuran kecil sebelum dimasukkan food processor.

Tapi ternyata Mbak Erni berkenan membantu memotong.

Dan saat saya mulai start menghaluskan dilanjutkan membentuk pempek, Kak L berkenan jadi asisten.

Alhamdulilah, si pempek berhasil tuntas diproduksi pukul 04.30 pagi setelah diselingi istirahat sambil sahur smoothie karya Kak L dan menikmati pempek goreng crunchy di luar lembut di dalam!
Alhamdulilah bisa makan pempek kesayangan saat sahur.

Habis shalat Subuh tidur sejenak
Kurang lebih 3.5 jam.

Masih mengantuk, tapi entah kenapa hati merasa kurang nyaman.

Rasanya ada yang salah dengan tidak membawa bagasi kali ini.
Sudah berkali-kali saya timbang, koper kecil beratnya kurang lebih 10 kg.
Ransel besar pinjaman Kak Lely rasanya terisi barang kurang lebih 5 kg.
Tapi masalahnya ada hand bag mungil si Eiger women series kesayangan dan 1 tas tipis berisi laptop.
Sementara peraturan Ryanair hanya boleh membawa 1 koper kabin dan 1 tas tangan for free.
Kalau ada 3 tentengan begini rasanya kok meragukan ya?

Kalau nanti ransel besar yang saya panggul minta ditimbang oleh mereka, sungguh berabe jadinya. Meski selama ini belum pernah kejadian, karena saya selalu haqqul yaqin dengan packing yang compact. Namun sayangnya kali ini saya lupa tidak membawa tas lipat polkadot kesayangan yang pas diletakkan di atas koper kabin. Sementara ukuran besar si ransel yang dipinjami Kak L ukurannya cukup besar tuk ukuran tubuh saya. Tampak kurang proporsional saat saya pakai. Bisa-bisa tidak akan dianggap hand bag oleh mereka.
Hem…
Tampaknya saya harus konsultasi dengan Kak L.

Hati sungguh meragu kali ini. Apalagi tak ada si Aa sebagai partner diskusi.

“Kak, tampaknya saya beli bagasi saja. Supaya tenang hati. 3 tas rasanya unacceptable by the rule.

Saya sudah coba browsing dari hape. Tapi entah kenapa sedang tak bisa diakses melalui mobile phone.

Kalau koper dan ransel dianggap over baggage, maka saya harus membayar 50€. Sungguh angka tak sedikit untuk saya, Kak.
Lebih baik saya beli sekarang saja, Bismillah.

Bisa tolong dibantu sekalian dibelikan bagasi, Kak?”

“Ok. Langsung saja kita beli.”

Kak L dan Kak T langsung turun tangan. Duduk depan laptop dan mulai menjelajah website Ryanair.

Saya deg-degan.
Alhamdulilah, setelah 10 menitan berlalu, bagasi ditambahkan. 15 kg saja.

Pyuh, lebih dari lega.

Tahu-tahu Kak L langsung mengusulkan bongkar barang.
Eh?
“Ima Kan sudah nambah bagasi 15 kg. Pindah semua yang berat ke koper 15 kg. Nanti Kakak ambilkan koper di gudang.

Lalu, tahu dkk yang kamu tinggal di kulkas bawa saja semua. Pokoknya kita maksimalkan.

Do it quick!”

Kak Lely langsung ke attic mengambil koper ukuran lebih besar dari milik saya.

Lalu mengambil beberapa kotak tahu. Juga mengambil keju dkknya.

Saya gugup packing. Mengingat schedule berangkat kami dari rumah jam 11 siang.
Yang akan berangkat terbang naik pesawat tidak hanya saya. Mbak Erni dan suaminya juga akan menuju Iceland. Meski pesawat mereka masih nanti malam, tapi mereka sudah membeli tiket kereta Thalys menuju Paris pukul 15.13 nanti.
Tanpa diminta, Mbak Erni tamu dari Canada ikut turun tangan membantu.

Setelah selesai, Kak T langsung menimbang koper lebih besar. Disisakan 1 kg free untuk jaga-jaga.

Koper kecil segera ditimbang juga. Ternyata masih ada space 4-5 kg.

Kak Lely langsung memasukkan bahan makanan tambahan. Beliau berhitung sangat cepat.

Everything is set in only 10 minutes. Amazing!

Beriringan kami menuju mobil.
Kurang lebih 1 jam perjalanan menuju Charleroi Airport.
Saya terus menggumamkan, “Allahumma yassir wa la tu’assir.”

Berharap dipermudah segala urusan oleh Allah azza wa jalla.

Saat tiba di Charleroi Airport, antrian mengular di arriving hall. Merintangi jalan kami menuju Departing hall.

Kak L yang semula memutuskan hanya drop berubah pikiran. Beliau memutuskan ikut masuk. Meski penjagaan sangat ketat, tapi pengantar boleh masuk. Alhamdulillaah.

Saat koper bagasi ditimbang, pas 15 kg. Pyuh!
Saat cabin baggage ditimbang, tepat 10 kg juga.
MasyaAllah!
Dan ajaibnya, sang petugas check in menanyakan apakah saya mau kalau koper kabin saya dimasukkan bagasi sekalian for free?

Eh?

“OK. We take it!” Kak Lely manyahut.

Enak kan Ima, bisa melenggang kangkung tanpa koper satu pun. Rizki Ramadhan-mu.

Alhamdulilah.

Saya speechless. Terharu. Langsung memeluk Kak L. Berkali-kali.

“Sudah ya, masih ada yang harus Kakak antar ke stasiun Brussels.”

“Iya, Kak. Jazakallah khairan katsira. Uhibbuki fil Laah.”

Bismillah, finally going home, home is where your heart is.

Aa, your wife is coming! 🙂

Tips Hunting Tiket Pesawat

image

Salah satu tips hunting tiket pesawat murah adalah dengan mengombinasikan harga dan tanggal penerbangan dari beragam website

Semenjak travel Bandung menghubungi kami pada 9 Maret lampau, yaitu menawarkan kerjasama mendampingi mereka menjelajah East Europe (Jerman Selatan, Austria, Bratislava, Slovakia dan Czech Republic) mulai tanggal 27 Maret hingga 4 April nanti, sejak itu pula saya menyicil browsing tiket pesawat Maroko – Eropa PP.

Tak terhitung total akumulasi saya duduk di depan laptop atau browsing apps semacam Skyscanner, Ryanair, Vueling, Jetairfly, Maroc Air, EasyJet, dkk.

Karena proyek satu ini, Xiomi mendadak saya penuh dengan aplikasi ragam moda transportasi, hahaha.

Meski sudah cek banyak sekali website yang mengaku ‘low budget flight’, tetap saja harganya bikin kepala mumet.

Walau margin tiket masih memenuhi pagu yang didanai travel, tapi ada rasa gemas kalau tidak bisa dapat harga promo (best fare)!

Apa daya liburan Paskah yang menjelang dan hunting mepet hari H menjadi kombinasi menyulitkan untuk mendapatkan harga terbaik.

Telat eksekusi maka harga akan terus melambung. Apalagi tidak ada penerbangan langsung dari Maroko menuju kota tujuan pertama yang masuk budget!

Gemas saat melihat harga tiket pesawat dari Casablanca Airport ke Munich International Airport dibanderol € 1000 / orang.

Adedeuuuh.

Jadilah siang malam begadang hunting tiket yang masuk budget yang diberikan travel.

Sudah sangat bersyukur dibiayai dari Maroko to Munich and Praha to Maroko kembali.

Tidak ada alasan tidak mendapat harga terbaik diantara mahalnya harga tiket saat ‘holiday season’ selama dua minggu ke depan.

Beberapa hari lalu, saat saya mulai keliyengan, batuk pilek srot srooot, Aa memaksa saya untuk tidur.

Aa ternyata mengerjakan kewajiban saya disambi-sambi baca diktat kuliah dalam laptop.

Hasilnya adalah tulisan tangan beliau ini. Rapi dan memudahkan proses pencarian harga terbaik.

Duh!
Asli terharu biru.

Ini yang namanya cinta dalam sepotong kertas.

Benar ya, bukti cinta tak melulu perhatian verbal. Justru yang ‘kecil-kecil’ tapi manis seperti ini membuat hati meleleh. Berujung pada rasa syukur.

Allah telah mengirimkan pasangan tepat untuk istri penyuka backpacking ini.

Alhamdulillaah.

I love you more, Aa!

***

Tips Hunting Tiket Pesawat ala Honeymoon Backpackers

Jadi, kalau kami ditanya apa saja tips hunting tiket pesawat murah meriah ala kami?

Simpel saja. Ini diantaranya:

1. Pesan tiket jauh-jauh hari. Gunakan aplikasi Skyscanner dan yang sejenisnya.

2. Sediakan waktu.

Untuk buka mata, buka telinga, buka debit card saat menemukan harga murah. Sikat tanpa ragu.

Kadang-kadang kami juga membeli tiket sangat murah meski belum yakin akan bepergian ke tempat tersebut. Tahu-tahu ada saja undangan berbagi untuk Aa atau saya yang pas dengan tiket yang sudah kami beli. Alhamdulillaah, pucuk dicinta ulampun tiba!

Tiket pesawat kami ke Madrid tanggal 8 Maret lampau hanya dibanderol € 13 including tax. Kurang lebih 188 ribu rupiah sudah pindah negara. Sedaaap ya!

Bandingkan dengan rute darat + laut saat kami kembali ke Maroko.

Kami harus menyiapkan ongkos ongkos naik bis Seville to Tarifa Port (Spanyol paling Selatan) lalu disambung naik kapal ferry menyeberangi Selat Gibraltar, dan masih harus diteruskan naik bis Tangier to Rabat.

Rute darat + laut bernama ‘membeli pengalaman’ ini menyedot sekitar total € 60.

3. Coba utak-atik tanggal dan rute.

Seringkali kami temukan rute ‘super murah’ di jalur tak biasa alias jalur sepi peminat. Dari sana kami meneruskan perjalanan ke negara tujuan.

Contoh paling hits adalah harga tiket pesawat kami dari Kuala Lumpur menuju Paris Charles de Gaule tahun 2014 yang kami dapat. ‘Hanya’ 5 juta rupiah untuk berdua. Amboi tak! 🙂

Silahkan coba tiga komposisi ini, saya berani jamin teman-teman juga bisa dapat harga tiket pesawat murah meriah seperti kami.

Salam backpacking dari sudut kota Rabat!

Tunanetra Berhati Surga

Tunanetra Berhati Surga

Awal Perkenalan

Kedekatan saya dengan penghafal Al-Quran berdarah asli Sale-Rabat ini bermula tak sengaja. Ketika itu ia berdiri mematung di dekat meja resepsionis sebuah acara seminar sehari tentang hari Bahasa Arab se-dunia (18/12) Sementara ratusan peserta—mayoritas mahasiswa Jurusan Studi Islam Fakultas Adab dan Humaniora dari jenjang s1 hingga s3—berseliweran dan bergantian mengisi daftar hadir.  Acara ini dihitung kuliah umum wajib.

“Assalamu’alaikum, ya akhi Muhammad.” Saya menyapanya terlebih dahulu. Mendekatkan suara pada telinganya.

“Wa’alaikum salam. Ahlan wa marhaban bik ya akhi.” Jawabnya ramah dan tegas.

“Labaas..?

“Labaas, alhamdulillah.”

“Man hadza. Siapa ini?” Tanyanya kemudian. Pertanyaan yang kerap saya dengar jika bertemu orang baru atau belum lama dikenalnya. Memang sejak lebih dari sepuluh tahun, dia hanya mengandalkan pendengaran.

Dia satu kelas dengan saya, namun tidak pernah mengobrol. Bertemu hanya saat sama-sama mendengarkan kuliah atau shalat berjamaah di mushalla.

“Ana Risyan Nurhakim, Anduuniisi.”

“Kenapa masih berdiri di sini?” Tanya saya.

“Teman-temanku tidak kembali menjemputku. Mereka bilang mau mengisi daftar hadir dan ke toilet. Tapi sudah 10 menit belum balik-balik.” Ujarnya.

“Mereka jahat sekali padaku. Huh! Habis membubuhkan tanda tangan di daftar hadir, satu persatu mereka meninggalkanku.” Lanjutnya dengan nada setengah bercanda, setengah tertawa.    

“Ha ha ha…” Saya ikut tertawa.

“Mari ikut saya kalau begitu. Kita masuk ke aula.” Saya menggandeng tangannya sembari tertawa renyah.

Aula Al-Idrissy

Depan Aula Al-Idriisiy

Fakultas Adab dan Humaniora Muhammad V ini memiliki beberapa aula. Ada aula Ibnu Khaldun untuk kuliah umum bagi Mahasiswa. Aula Hajji untuk sidang tesis atau disertasi. Aula ‘Abid Al-Jabiri untuk pertemuan para dosen dan dekanat. Sementara aula Al-Idriisy, aula antik dan besar ini khusus untuk acara seminar besar. Seperti seminar bahasa Arab waktu itu.

“Tunggu.” Cegah dia.

“Ada apa?”

“Kamu jangan pegang aku seperti itu. Cukup kamu berjalan di depanku saja namun agak samping. Nanti satu tanganku memegang pundakmu.” Paparnya menjelaskan cara menuntun tunanetra yang benar.

Aula sudah penuh dengan peserta. Bahkan banyak yang berdiri berdesakan di pintu masuk. Sementara di jejeran kursi terdepan masih tampak beberapa yang kosong. Namun sudah booked untuk para dosen dan pejabat kampus, kata panitia. Saya memutar pandangan sampai mentok di pojok kanan. Di situ ada dua kursi tambahan.

“Cari tempat duduk paling depan saja.” Pintanya.

Shaafii. Baiklah.”

Saya melangkah perlahan menerobos ke dalam aula. Hampir semua pandangan mata peserta yang tengah duduk tertuju pada Muhammad ini. Saya yang menuntunnya pun jadi objek sorot mata mereka. Mirip bintang yang berjalan di atas karpet merah dan disaksikan ratusan pasang mata. Tap tap tap…!

“Hati-hati ya, jalannya menurun dengan beberapa tangga pendek di depan kita.” Pesan saya.

“Saya tahu.” Ia menanggapi sambil senyum.

“Hah, tahu darimana?” Tanya saya penasaran.

“Dari pundakmu yang saya pegang. Ketika saya merasakan badanmu sedikit turun, berarti kamu melangkah turun menapaki tangga.” Urainya.

“O ya ya, ini ilmu baru bagi saya.” Gumam saya dalam hati.

Berdasarkan data statistik tahun 2011, dari 39 juta jiwa tunanetra dunia ini (www.npbc.org.sa/numbers.htm), 90% di antaranya adalah warga negara berkembang (www.skynewsarabia.com/web/article/312318). 12% dari mereka penduduk timur tengah dan Maroko.

Kala jalan-jalan ke pusat kota (Medina), beberapa kali saya menemukan banyak tunanetra mengemis. Walau masih muda, mereka duduk mematung dan menengadahkan tangan memegang kardus atau plastik sumbangan. Terutama di dekat Bank Magrib yang sampai kini masih renovasi. Tak jauh dari bunderan Rue Soekarno-Rabat Mereka duduk terpencar hampir tiap seratus meter. Bahkan Rabu silam (6/1) saat berlari ke Medina, sekitar seratusan tunanetra berkumpul untuk berdemo di depan Gedung Parlemen Maroko. Entah apa yang mereka suarakan kepada pemerintah. Saya tidak begitu memperhatikan dengan baik, karena sedang ada misi pengejaran copet bis kota.

Jika mereka mengemis, teman saya ini sama sekali tidak.

***

Alhamdulillah, meski di pojok, akhirnya kami duduk berdampingan di jejeran kursi terdepan. Beberapa dosen jurusan Islamic Studies duduk di samping kami.

Karena acara belum dimulai, saya mulai mengobrol dengan Muhammad El-Wadhdhah. Kalau di kampungnya biasa dipanggil Al-Habib.

“Aina taskunu ya Nour Hakim?”

“Saya tinggal di Nahdha 2th. Wa inta?”

“Saya di Sale (baca: Sela) kamu tahu Sela?

“Ya, terakhir kami ke Sale-Rabat Airport, awal Desember lalu. Rumahmu dekat dari situ?”

“Dekat atuh (kalau kata, atuh, itu dari saya ya he he). Kurang lebih 2-3 km.”

“Dari Medina ke rumah saya naik Tram line-2.” Dia melanjutkan.

“Caranya, dari Bab Rewah Station dekat kampus ini naik tram Line-1 sampai Bab Joulan Station, turun di situ. Lalu pindah ke Bab Joulan 2, naik Tram line-2. Atau turun di La Marisa, lalu pindah ke Tram Line-2. Pokoknya kata kuncinya, Line-2 Tramway, turun di station terakhir. Pergantian line tidak perlu bayar lagi kok.”

“Kalau kamu mau ke bandara lagi, naik tram Line-2 itu saja. Nanti turun di station paling akhir (Hassan II). Dari situ kontak saya, nanti teman saya akan mengantarkan sampai bandara pakai mobil.”

Hah? baru saja ngobrol sebentar sudah menawarkan segala rupa. Saya tidak begitu menanggapi terlalu serius, karena beberapa kali saya berinteraksi dan mendapat tawaran baik dari orang Maroko, tapi rupanya hanya basa-basi.

Teringat di awal menemukan rumah kontrakan di Nahdha 2, teman Umar (anak tuan rumah) berjanji mengantar kami ke Taqaddum (nama pasar besar tradisional terdekat) untuk belanja kebutuhan kamar, seperti kasur, dan lain-lain. Kami saling tukar nomor hp, bersepakat berangkat sama-sama ke taqaddum jam 10 pagi besoknya. Start dari depan rumah tuan rumah kami.

“Kamu harus bareng dia, lalu biarkan dia yang beli dan menawar. Karena kalau pedagang tahu orang asing yang beli, harganya akan dinaikin.” Terang Umar.

Apa yang terjadi besoknya? Boro-boro jam sepuluh. Bahkan jam sebelas siang kami telpon, berkali-kali tidak diangkatnya. Baru diangkat setelah tiga kali kami bolak-balik telpon.

Hisyam? Kaifa haluk? Aina anta?

“Hm…hoam. Ana fil gurfah. Kalian mau jalan?”

La haula wa la quwwata illa billah!

Ternyata dia baru bangun. Padahal kami sudah siap segala rupa. Kami lupa, bahwa kini kami ada di tanah Arab. Secara umum, ngaret adalah hal lumrah.

Itu pengalaman pertama setelah dua bulan cukup terbiasa (atau terpaksa) hidup di Eropa yang strict dengan masalah waktu.

***

“Sudah menikah?” Tanya Muhammad melanjutkan obrolan menjelang dimulai acara.

“Alhamdulillah, lima tahun silam.”

“Wah sudah lama. Sudah punya anak?”

Ah, pertanyaannya kok privasi banget.

“Belum ditakdirkan. Saya mohon doanya ya. Mudahan segera dipercaya oleh Allah. ”

Kalau menjawab pertanyaan demikian, saya selalu sekalian memohon doa. Kita tidak tahu dari mulut orang saleh mana doa terkabul.

“Oh, sama. Saya juga belum punya anak. Bahkan saya sudah tujuh tahun menikah belum dikaruniai keturunan.”

O ow. Saya perhatikan wajah dia lebih serius, lalu melanjutkan obrolan. Apa saja yang diobrolkan? Sssst. Ini urusan laki-laki ya ha, ha, ha.

Dia menyarankan minum madu, habbah sauda (jinten hitam), terapi sengat lebah, bekam, dan sejumlah terapi alternatif lain. Saya balik menyarankan dia menerapkan foodcombining dan olahraga rutin biar segala hormon normal. Sebenarnya lucu, di acara seminar ini kami malah mengobrolkan masalah terapi alternatif. Lucunya lagi, masing-masing dari kami menawarkan terapi yang sudah dijalani.

Paparan berikutnya ini yang membuat saya tercenung haru.

“Tapi saya punya Kuttab Qurani (Sekolah Al-Quran) Muridnya sekarang 120 anak didik. Beberapa generasi sudah ada yang hafal Al-Quran. Bukan mesjid, tapi rumah yang saya jadikan langgar Al-Quran. Sudah lebih dari sepuluh tahun berdiri. Tiap jam 2 sore anak-anak datang sampai magrib. Gelombang kedua, dari magrib sampai kira-kira jam 9 atau jam 10. Pada setiap pertemuan, mereka harus menghafal satu halaman ayat yang mereka tulis sendiri di lauhah (kayu tulis khusus). Ini metode tradisional ala Maroko dalam menghafal Al-Quran.”

Dia menjelaskan panjang lebar tentang langgarnya.

“Kapan kamu ada waktu untuk berkunjung ke langgar saya? Tentukan saja harinya. Sabtu, Ahad, atau Senin, pas tidak ada jadual kuliah. Biar kamu lihat aktifitas kami.”

Saya yang terpesona dengan paparan dia langsung terperanjat mendengar ajakannya. Ini ajakan orang saleh. Berkali-kali dia mengajak.

“Kalau hari Sabtu ba’da magrib, ada Syaikh yang menyampaikan pelajaran kaidah tajwid.”

“Bawa istri kamu sekalian. Dia bisa bahasa Arab ‘kan?”

“Bisa.”

“Nah, biarkan dia nanti ngobrol sama istri saya.” Tegasnya.

Tadinya berburuk sangka (astagfirullah), sekarang tidak. Dari ceritanya saya merasakan kejernihan dan ketulusan hatinya. Benar kata Umar bin Abdul Aziz bahwa ucapan yang terungkap dari hati akan meresap sampai ke hati.

Jika satu dari 4 lantai rumah dia wakafkan untuk langgar anak-anak menghafal Al-Quran dengan tanpa bayaran, apalagi langgar itu didirikan di lingkungan yang katanya dikenal zona hitam, maka dia bukan orang biasa-biasa di mata para penghuni langit. Dia berhati surga walau tunanetra.

“Saya ingin mengubah kampung ini dengan cahaya Al-Quran.” Ucapnya ketika kami berkunjung ke sana. (Ceritanya akan ada di seri berikut) 

Terharu rasanya.

Ceritanya itu menguatkan kembali cita-cita kami berdua sepulang merantau nanti, yaitu mendirikan Rumah PINTAR (pusat belajar Al-Quran, baca gratis, kelas bahasa asing, homestay musafir, dan sebagainya)

Mendengar untaian kata yang mencerminkan ketulusan hati, kebersihan niat, dan kebeningan nuraninya, saya teringat sosok Abdullah bin Umi Maktum. Seorang tunanetra sahabat Nabi Saw. yang diangkat menjadi salah seorang muadzdzin (petugas adzan) Rasulullah Saw.

Dia semangat mencari ilmu, mengais nasehat, dan menyerap petuah beliau Saw. Saking semangatnya, Abdullah bin Umi Maktum datang kepada Rasulullah Saw. dan memohon nasehat beliau ketika sedang mendakwahi pembesar-pembesar Quraisy. Pantas saja oleh Nabi Saw. diabaikan. Tapi beliau Saw. ditegur oleh Allah lewat surat Abasa (QS Abasa [80]: 1-10)

1. “He frowned and turned away,”
2. “Because there came to him the blind man.”
3. “And what would make you know that he might (spiritually) purify himself,”
4 “Or become reminded so that the reminder might profit him?”
5. “As to one who regards himself self‑sufficient,”
6. “To him do you address yourself!”
7. “Though it is no blame on you if he would not (spiritually) purify himself.”
8. “But as to him who comes to you striving hard,”
9. “And he fears (Allah in his heart),”
10. “Of him wast thou unmindful.”

Ya Rabb, bersihkan niat kami, kabulkan cita-cita kami mewujudkan rumah Pintar untuk mencetak generasi Qurani. Restui langkah kami seperti langkah sosok tunanetra berhati Surga ini.

Amin ya mujibassa’ilin.

Rabat, 29 Rabi’ul Awwal 1437 H/10 Januari 2016

Pintu Pertama: Kabar Baik dari KBRI Rabat

Angin bertiup kencang membawa ruap dan aroma laut atlantik.

Daun jendela kamar yang berat dan tebal terbanting berkali-kali. Dengan mudahnya diterjang angin berkesiut, mengabarkan musim dingin yang merapat di dermaga.

Saya terduduk karena kaget.

Saya putuskan beranjak memeriksa jendela.

Matahari di luar bersinar garang di pertengahan bulan Oktober yang mulai dingin. Suasana kontras yang menarik untuk saya lukiskan di halaman ini.

Sejak minggu lalu, kaus kaki tak pernah lepas dari telapak hingga tungkai kami berdua.

Usia tak kuasa menahan hembus keras bayu yang masuk melewati pori-pori kulit. Lebih baik dipakai jika tak hendak masuk angin. Apalagi persediaan antangin yang jauh-jauh dibawa dari tanah air sudah habis sejak dua bulan lalu.

Alhamdulillaah, meski angin menabuhkan orkestra alam menakutkan bersama debur ombak lautan atlantik di luar rumah susun kami, saya mengucap Alhamdulilah berulang kali untuk kabar baik yang saya terima kemarin sore.

Alhamdulillaah, semua semata kasih sayang Allah padamu suamiku sayang 🙂

Dimulai dari mudahnya mendapatkan ‘qabul mabdai’ dari Doktor Ahmad Filaly hingga tembusnya ‘qabul mabdai’ dari universitas terbaik di negeri Afrika Utara ini, yaitu Universitas Muhammad Khamis!

Saya terharu menyimak kisah yang diurai Aa.

Saya tatap matanya yang dipenuhi binar-binar bahagia.

“Aa pergi tadi siang tanpa membawa sekeranjang harapan. Aa berangkat dengan niat silaturahim pada Doktor Abder Razzak. Nothing to loose!

Tidak disangka-sangka. Perjumpaan pertama yang berbuah manis.”

Saya peluk Aa. Kami tunaikan sujud syukur pada Sang Perencana.

Jalan masih panjang, tetap semangat A!

Terima kasih untuk Pensosbud KBRI Rabat yang berkenan mengeluarkan surat pengantar untuk memasukkan berkas pendaftaran.

Setelah dari KBRI Rabat mengambil surat pengantar untuk ke AMCI (kedua kalinya) tadi siang, Aa akan menuju AMCI (lembaga yang dibentuk Kemenlu Maroko mengurusi mahasiswa asing).

Tujuannya untuk memasukkan berkas pendaftaran kuliah yang sudah dilengkapi dan diperiksa oleh petugas AMCI.

AMCI kemudian akan meneruskan ke Ta’lim ‘Ali (setara Dikti di tanah air).

Dikti Maroko akan meneruskan berkas (kembali) ke kampus yang telah mengeluarkan ‘ letter of acceptance’, dalam hal ini Muhammad Khamis University.

Dari universitas berkas akan diperiksa dan disetujui.

Lalu dikirim kembali ke dua lembaga pertama. Tentu saja diiringi langit doa dan lautan sabar.

Jangan bayangkan prosesnya semudah di tanah air apalagi di Eropa. Di sini dibutuhkan kesabaran berpuluh lipat dibandingkan kesabaran di tanah air.

Berkelana ke banyak negeri membuat kami menyadari, dalam hal administrasi Indonesia jauh lebih tangkas dan efektif dibandingkan negara-negara Arab!

Apalagi administrasi universitas ternama di tanah air, juara jika dibandingkan dengan di sini.

Tak usah membandingkan dengan administrasi pendaftaran kuliah di Eropa. Tidak apple to apple dan hanya akan membuatmu mengaduh iri!

Di Leeds University saja, Berdasar pengalaman saya kuliah rentang tahun 2004-2007, semua berkas pendaftaran yang saya kirimkan via email diproses sangat cepat, efektif dan efisien satu pintu, yaitu bagian administrasi kampus yang kita pilih.

Begitu keluar acceptance letter dari Leeds University, saya melenggang kangkung diuruskan visa oleh British Council di Jakarta dan siap terbang menuju Inggris.

Di Maroko sungguh berbeda!
Siapkan hati!
Siapkan materi!

Di sini kami harus rajin mendatangi masing-masing lembaga saban tiga-empat hari sekali, agar berkas tidak diam di tempat atau justeru tertimpa berkas calon mahasiswa lainnya.

Mungkin semua proses harus dijalani bilangan minggu. Sebagian bilangan bulan. Bahkan seorang dosen perempuan dari tanah air yang hendak mengambil S3 di Maroko menjalani proses dalam bilangan tahun. MasyaAllah!

Beberapa mahasiswa Indonesia menceritakan kasus ketelingsutnya berkas mereka di salah satu lembaga dan membuat hati kebat-kebit dikejar waktu yang terus melibas dan tahu-tahu sudah harus ujian di kampus.

Bukan main kalau diceritakan sabarnya mahasiswa Indonesia di Maroko dalam menghadapi birokrasi berbelit tipikal tanah Arab.

Kata-kata ‘bukrah’ dan ‘ghadan’ yang artinya besok adalah hal biasa di negeri Arab. 🙂

Panjang, masih panjang proses yang harus ditempuh Aa dalam tujuan menuntut ilmu di negeri ini.

Jika tak lurus niat ingin menuntut ilmu, tentu sudah putus harap dan menyerah kalah sebab panjangnya birokrasi sebelum terjun dalam lautan akademi.

25 Agustus kami tiba di negeri Maghrib dan catatan berjuang mendaftar kuliah di Maghrib akan terus saya tabalkan di halaman ini.

Mohon doa sahabat semua. Agar tuntas hajat suami saya. Amin.

“Man salaka thariqan yaltamisu fiihi ‘ilman sahhalal laahu thariqan ilal jannah.”

Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju surga.”

Cerah Ceria di Praha

Alhamdulillah, we’ve just arrived safely in Nurenberg, after one day fun-trip to beautiful Prague!

6 jam kami selama di Praha beraktifitas apa saja?

– Versi kami artinya seru membaca peta,

– lari-lari karena kaki yang pendek, hahaha,

– bertanya beberapa kali,

– terpana-pana pada cantiknya Praha,

– jepret-jepret,

– jalan cepat,

– ketemu orang Mesir yang menjadi owner sebuah moneychanger 0% commission, lalu sempat kenalan dan akhirnya kami PD menukar uang 10 euro saja dan menghasilkan 257 Kroner Cez, yeay! Tentu saja sepasang backpackers ini senang! Soalnya sempat tanya-tanya mau nukar di sebuah kantor cabang sebuah bank dan ditolak mentah-mentah jika kurang dari 20 euro.

– Asik menemukan sekaligus mengamati ‘fenomena’ orang Mesir yang bekerja / memiliki money changer! Fakta ini kami temukan setelah kami sempat intip-intip banyak money changer lainnya di seantero old town, hehehe… Tampaknya imigran Mesir di Prague kaya-kaya ya 😀

Alhamdulillah Praha bersinar cerah menyambut kami, bukan main nikmatnya berjemur di bawah sinar matahari!

Puas tak puas rasanya menjelajah kota cantik di Eropa Timur ini. 

Puas karena banyak yang dilihat, tapi tak puas karena 6 jam terasa sebentar, padahal matahari bersinar, setelah 9 hari jarang melihat matahari di Jerman sini 😀

Alhamdulillah, Republik Ceko menjadi negara ke 31 yang akhirnya bisa saya kunjungi tahun ini. 

Terima kasih kami haturkan pada Allah dan supporter kami kali ini, yaitu Teh Dewi Firyani Ringgana dan Mas Sis baik hati 

Jazakumullah khairul jazaa! 

~saatnya tetirah, setelah 4 jam + 4 jam naik bis IC DB PP Nurenberg-Prague

Diminta Bicara di Frankfurt International Book Fair?

Saya harus menarik napas dalam.
Berpikir berulang kali.
Apakah akan menuliskan bagian ini?

Setelah saya timbang-timbang, rasanya peristiwa yang baru saja terjadi kemarin sangat patut dimasukkan dalam blog ini, mengingat betapa ‘ajaib’nya apa yang sudah terjadi.

Bukankah dramatisnya sebuah peristiwa layak dicatat dalam sejarah kehidupan kita?
Bismillah, saya memutuskan menuliskan ringkasannya di sini 🙂

Tiga hari lalu saya mendadak dihubungi salah satu penerbit raksasa di tanah air.

Panjang lebar mereka menjelaskan, intinya saya diminta menjadi narasumber di Frankfurt International Book Fair, karena tahun ini penerbit tersebut akan mewakili Indonesia membuka stand di sana.

Saya sendiri diminta berbagi tentang trend ‘travel writing’ dan ‘travel books’ yang menjamur dan laku keras di tanah air, sekaligus sedikit bercerita tentang perjalanan panjang www.honeymoonbackpacker.wordpress.com.

Asumsi penerbit ini adalah, kami akan bersedia menyerahkan naskah #HoneymoonBackpackers kepada mereka, karena kami sudah diundang di forum internasional nan cool itu.

Jangan tanya lagi perasaan kami, tentu bungah hati ini 🙂
Kami hanyalah sepasang pengelana biasa, tapi ternyata diminta mewakili mereka -karena saat ini sedang berada di Eropa.

Tentu saja saya dan Aa menyambut gembira tawaran mereka. 

Berhari-hari hujan dan angin kencang menari di kota Duren dimana kami tinggal saat ini, namun kelabunya Duren tak mampu menggelapi hati kami yang berbunga. 

Setelah dua kali dikirimi message dan negosiasi dana transportasi -tentu saja tidak besar yang kami minta, hanya meminta diganti uang kereta api pulang pergi Brussels -> Frankfut sebesar 200 euro saja- eh kemarin perwakilan penerbit besar tersebut menyatakan membatalkan meminta kami menjadi pembicara mewakili mereka.

Hehehe…
Tidak apa.
Artinya belum rizki kami tampil sebagai pembicara di Frankfurt International Book Fair yang bergengsi itu.

Toh, sudah lama saya tidak menyerahkan naskah baru ke penerbit mayor tersebut, terakhir saya menyerahkan naskah adalah tahun 2010. 

Ada beberapa hal yang masih kami timbang dan timang kenapa belum memutuskan menyerahkan naskah #HoneymoonBackpackers ke penerbit tersebut, tidak perlu saya jelaskan di sini, karena bagaimanapun, dua buku saya pernah mereka terbitkan berturut-turut. 🙂

Kecewa tentu saja menyala.
Sakit hati insyaAllah diupayakan untuk tidak berkobar.
Mudahan Allah mengganti dengan yang lebih baik, insyaAllah!

“Bismillah, one day we will speak in front of international book forum ya, A. That time will come InsyaAllah!”