PENGANTIN KELANA

Catatan ‘Honeymoon Backpacker‘ ini ditulis bergantian oleh Imazahra dan Risyan Nurhakim.

Sebut kami sepasang pengantin kelana yang ‘gila! πŸ™‚

Aa berani keluar dari comfort zone-nya sebagai dosen di Ma’had al Imarat, bandung. Tidak bisa cuti karena memang tidak boleh cuti lebih dari 2 hari berturut-turut, tidak ada jalan lain, selain mengundurkan diri dengan terhormat!

Sampai detik ini, Aa sudah tidak bekerja formal enam bulan lamanya πŸ™‚

Sedang saya memang sudah merindukan mengelana di jalanan kembali, semenjak terakhir menikmatiΒ backpack (selama 2.5 bulan) menjelajah Mesir, Jordan dan Maroko di tahun 2010 lampau.

Akhirnya, mimpi kami terwujud mulai 21 Maret lalu. Memulai pengelanaan -meninggalkan ‘kenyamanan’ tanah air- dan mulai hidup di ‘jalanan’, literally ‘menumpang’ di beberapa rumah kawan baik kami, atau bahkan menumpang menginap di rumah kenalan baru, baik orang Indonesia atau penduduk lokal negara yang sedang kami kunjungi.

Harta terbesar kami hanyalah tubuh kami, dua buah ransel berukuran sedang dan teman-teman (atau orang penduduk asli) yang menerima kami di setiap negara yang kami singgahi.

Sejauh ini, kami sudah diterima di:
– rumah Adinda Eva (al-Hamasah fil-Laah (menginap nyaris 1.3 bulan di Saqr Quraisy, Cairo),
– Mbak Ellys Purwandari (menginap di rumahnya di Ma’adi),

– Pipit Kartini (menginap satu malam di apartemennya di Dokki, Cairo),

– Nashir (satu malam di rumahnya di Hubairah),

– adik-adik PPI Tunisia (2 minggu di asrama mahasiswa),

– Baba Agoud (menginap tiga malam di rumahnya di Casablanca),

– Mama Sa’Γ­dah (menginap beberapa malam di Fez),

– Adinda Leyla (saya menginap beberapa malam di kamar kosnya) dan Aa menginap di kos Dik Hamdi,

– Kak Lely dan Kak tiar (saya dan Aa diundang khusus untuk menghidupkan Ramadhan di Brussels). Di rumah beliau berdua kami bahkan difasilitasi untuk memproduksi pempek untuk dijual. Keuntungannya akhirnya mengantarkan kami berjalan lebih jauh lagi, backpack menjelajah Eropa daratan.

– Mbak Novita Ghysen sekeluarga (Aa diundang mengisi pengajian di Limburg, Tongeren),

– Mbak Elly Romdliana dan Mas Achmad (Aa diundang mengisi pengajian di Leuven),

– Ibu Mahmudah dan Pak Gerritz (Aa diundang mengisi pengajian di Antwerpan),

– Kang Deden dan Mbak Deeyah (menginap semalam di rumah mereka di Schidam),

– dan saat ini kami berada di rumah Pak Babang dan Ibu Ida (sudah dua malam di rumah mereka di Kikkenstein, Amsterdam),

Di rumah hangat teman-teman di atas, kami belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya di negara tersebut.

Sesekali saya memeragakan cara mengolah ikan mackarel, white fish dan sejenisnya menjadi pempek ala Palembang, juga Sup Buntut, Soto Banjar, Rawon, dll πŸ™‚

Ya, kami pasangan pengelana pemuja masakan Indonesia! πŸ™‚

Anda -salah satu pembaca blog ini- juga bersedia menjadi tuan rumah sepasang pengantin kelana ini?

Asal ada ruang tamu dan sofa, kami tidak keberatan sama sekali. Kami insyaAllah sepasang pengelana mandiri dan tidak suka merepotkan tuan rumah. Kebutuhan sehari-hari akan kami beli sendiri πŸ˜€

Mohon sapa kami di sini, atau di twitter saya (@imazahraa) atau di FB: honeymoon backpacker, insyaAllah dengan senang hati kami berkenan bertamu ke rumah anda πŸ˜‰

Salam dari Amsterdam,
Imazahra dan Risyan

Advertisements

47 thoughts on “PENGANTIN KELANA

    • Hehehe, ngiri positif boleh kok! Kejar mimpimu juga ya! πŸ™‚

      Terima kasih sudah rajin membaca.
      Kisah detilnya nanti beli buku kami saja ya, Mbak πŸ™‚
      Mohon doa bisa segera selesai penulisannya πŸ˜€

    • Waaaa, ada Mas Iwan di sini πŸ™‚
      Makasih sudah mampir ke sini, Mas πŸ™‚

      Apa kabar, Mas?
      Sehat-sehat kan? πŸ˜€

      Alhamdulillah sudah sejak Oktober lalu saya kembali ke Indonesia lagi, dan Oktober nanti akan kembali ke Tunisia, insyaAllah! πŸ˜€

    • Wah, terima kasih sudah mampir dan baca-baca blog sederhana kami, Mbak Dian πŸ™‚

      Salam kenal dari kami berdua. Terima kasih tuk tawaran manisnya πŸ™‚

      Soal nomaden, gak terus-terusan kok, Mbak. Paling lama 6 bulan πŸ™‚

    • Terima kasih sudah mampir baca-baca blog kami, Mas πŸ™‚

      Kalau tidak nekad atau berani kayak gini, gak akan bisa jelajah banyak negeri di usia 30-an Mas. Jadi tawakkal saja meninggalkan ‘comfort zone’ menuju ‘comfort zone’ lainnya πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s