Our Passion

image

Kelana Cahaya Tour di Sevilla, Spanyol

Dua tahun terakhir saya mengamati timeline seorang kakak yang menetap di jantung kota Paris bersama suami dan seorang anak.

Beliau bukan perempuan biasa di mata saya.

Beliau salah satu perempuan berkarakter kuat dan tahu apa yang dia inginkan dan tahu langkah apa saja yang harus beliau ambil untuk mewujudkan mimpi.

Sepanjang dua tahun terakhir saya membaca dan melihat foto-foto perjalanan beliau dalam memburu ‘passion‘ dan kecintaannya pada kuliner dan keindahan alam Indonesia.

Dari foto-foto yang dibagi dan diberikan sedikit pengantar, disusul komentar yang bertebaran di kolom reply, saya tahu persis beliau sabar dan kuat menjalani proses bata demi bata impian, yaitu membangun boutique hotel di ketinggian Lombok, tak jauh dari pantai Selong Belanak yang surgawi.

InsyaAllah Juni nanti boutique hotel beliau akan grand opening. Saya sungguh amat berbahagia untuk pencapaian dan kerja keras beliau.

MasyaAllah…
Dari timeline beliau yang kerap di-update tersebut saya merasa disemangati.

Bahwa memburu, bekerja melakukan sesuatu yang sangat kita sukai, membutuhkan proses panjang, diiringi kesabaran dan keuletan nyaris tanpa akhir!

Hingga berhasil!

APA SIH PASSION SAYA?

Butuh puluhan tahun bagi saya untuk menemukan ‘passion‘ (gairah terhadap sesuatu yang tiada putus) yang benar-benar saya gilai. Benar-benar saya sukai.

Tak ada nilai materi di sana pun tak mengapa. Tapi saya bahagia melakukannya.

Sejak usia remaja, berganti-ganti kesukaan saya. Mulai public speaking, lalu writing, kemudian organizing hingga cooking.

Tapi selalu ada rasa bosan dan jenuh di tengah atau ujung perjalanan.

Tahu-tahu saya mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tentu saja setelah melamar ke banyak lembaga pemberi beasiswa. Saya mulai kuliah kembali di Inggris sana pada pertengahan 2004.

Setiap summer berlangsung, para mahasiswa menggendong ransel tinggi besar dalam gegas dan langkah-langkah panjang,

“Where are you going?”

“I’m going to Spain.”

“Wait, Spain is really far from here. How could? We’re students with limited scholarship!”

“I’m going there by backpacking.”

Yang bersangkutan berlalu dan saya gegas menuntun sepeda merah ke perpustakaan dan langsung googling.

image

Saat Aa menyandang backpack, menuju kapal cruise Silja Line yang akan berlayar ke Helsinki, Finlandia

Apa itu backpacking?

Gaya hidup atau apa?

Atau sejenis alat transportasi?

Apaan sih?

Bukannya backpack itu ransel yang selalu saya sandang di punggung saban berangkat kuliah dan mengayuh sepeda ke supermarket kala belanja kebutuhan sehari-hari?

Setahun kemudian, summer 2005 saya mulai backpacking pertama menjelajah Eropa daratan seorang diri saja!

Tiga minggu saya tak merasa lelah mendatangi delapan negara dan menyambangi puluhan kota menggunakan kereta api.

Saat itu usia saya menjelang 24 tahun. Karenanya berhak membeli tiket kereta terusan Eurorail dengan harga di bawah 200 €! Puas turun naik kereta api ke mana saja saya hendak menuju sampai bosan atau pingsan kelelahan! 🙂

Sejak itu, tak terasa sudah 35 negara saya datangi dengan gaya backpacking murah meriah seru. Backpacking semacam anggur memabukkan bagi saya.

Mendatangi tempat asing sungguh memantik api jiwa.

Mengembara, terlebih bersama pasangan jiwa sungguh membuat saya kaya.

image

Keindahan pegunungan dan danau di Swiss

Sebelas tahun berlalu dan saya masih mencintai aktifitas backpacking hingga detik ini.

Belakangan, saya bahkan mendirikan komunitas ‘Muslimah Backpacker’.

Dengan niat mengajak lebih banyak anak muda belajar kehidupan melalui aktifitas yang menyehatkan fisik karena banyak berjalan dan menyehatkan jiwa karena membuka wawasan.

Tak pernah saya duga. Saya pun bertemu suami yang menyenangi aktifitas alam.

Basic Aa adalah kecintaan pada aktifitas sporty dan mendaki gunung.

Dari gunung turun ke lautan hati saya. Hihihi. Bisa ajah si Ima! 🙂

Sebelas tahun berlalu dan kami sampai di titik ini.

http://www.honeymoonbackpacker.com yang bertumbuh kemudian melahirkan #kelanacahayatour dan rutin membuat aneka budget trip. Dalam dan luar negeri. Minimal setahun sekali.

Sepanjang 2013 terhitung 6 kali trip diselenggarakan.

Yang paling banyak mendapat sorotan media bahkan beberapa kali diliput media nasional adalah Jelajah 53 anggota Muslimah Backpacker ke Bromo, Malang dan Batu Jawa Timur.

Lalu disusul pengelanaan terjauh ala backpacker ke Mesir selama 11 hari.

Mendatangi Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria hingga mendaki puncak Gunung Sinai. Perjalanan bersama komunitas yang sangat membanggakan!

Setelahnya perlahan tapi pasti fokus kami beralih ke bisnis mengorganisasi perjalanan grup kecil-kecilan. Dimulai dengan modal nol sama sekali. Hanya bermodal kepercayaan klien saja.

Kata banyak pengusaha senior, bisnis yang tumbuh mengakar dan menghunjam kuat adalah bisnis sesuatu yang kamu cintai. Dan kini dengan lantang saya akui, saya mencintai dunia perjalanan sepenuh hati.

Tak terasa, sudah tiga tahun saya dan suami bahu-membahu menumbuhkan lini bisnis #kelanacahayatour di antara jadual kuliah Aa yang berkejaran.

Kami berbagi tugas. Saya melakukan kerja marketing, finance dan management.

Aa sepenuhnya menjadi guide atau tour leader yang bekerja sepenuh hati. Kalem, tulus dan sangat amanah menjaga para tamu sepanjang perjalanan. Memenangkan hati klien dan tamu kami. Alhamdulillaah.

Tiga tahun yang menguji kesabaran, keteguhan dan keikhlasan hati.
Jatuh bangun kami lalui.

Jangan tanya soal menghadapi keinginan klien yang beraneka ragam.
Apalagi yang sekadar tanya-tanya itinerary dan land arrangement, lalu setelah dapat itinerarysays good bye‘.

Sudah biasa. Namanya juga bisnis jasa.
Harus berhati seluas samudera.

Awal-awal memulai, kami bahkan tak untung sama sekali.

Sekarang kami belajar menghargai diri dan kerja keras berbulan-bulan menyiapkan sebuah trip, terutama trip ke luar Indonesia. Termasuk di dalamnya proses promosi yang menghabiskan pulsa internet, ratusan jam proses marketing, lalu closing klien hingga sabar mengingatkan tagihan cicilan biaya trip.

Ya, selain menyelenggarakan budget trip (trip dengan biaya ringan) kami juga mengizinkan klien kami menyicil biaya trip hingga jelang keberangkatan. Boleh dibilang nekad. Tapi inilah tantangannya.

Kenapa jalan susah yang kami ambil? Karena #kelanacahayatour adalah bayi di galaksi bisnis perjalanan tanah air.

Ya, dalam bisnis travel and tour ini, kami adalah ‘pemain liliput’ di antara pemilik modal raksasa dan korporasi gurita.

Tapi kami tak gentar. Karena kami mencintai proses ini. Dan kami berbisnis melibatkan hati. Mengutamakan empati.

Demi empati dan mengutamakan studi yang sedang ditempuh si Aa, kadang kala kami harus mati suri sejenak, seperti bunga liar yang hibernasi di musim dingin, kemudian mekar menyala secantik matahari di musim panas.

Ada keindahan dalam kesabaran.

Ada keyakinan dalam proses belajar.

Dan saya makin menyadari. Saya telah menemukan hasrat terdalam diri ini. Yaitu kecintaan pada aktifitas pengembaraan dan membagikan spirit ini melalui beragam paket perjalanan yang kami tawarkan bersama Kelana Cahaya Tour.

Sehingga kata bekerja menjadi lenyap. Berganti kata, cinta!

***

Ps.

Open Trip yang saat ini dibuka adalah Maroko Trip pada tanggal 3-11 November 2016.

Saat ini budget open trip ada di posisi 16 juta all in. (tergantung ketersediaan dan harga tiket pesawat)

Tertarik?

Please contact us here, +62 819 5290 4075.

Advertisements

A Good Man

A Good Man  

Siang itu (14/11/13) saya memutuskan untuk kembali ke penginapan saja. Tidak jadi ikut mengantar para dosen menjelajah kota tua Fez; mesjid bersejarah Al-Qarawiyyin, pabrik dan penyamakan kulit, ziarah makan Ibnu Al-Arabi–penulis kitab tafsir Ahkaam Alquran, dan beberapa tempat jelajah lain di sekitarnya.

Disamping sudah tidak kuat ingin ke toilet, saya punya janji menyelesaikan rancangan powerpoint untuk istri dan mengirimkannya via email hari itu juga, karena akan dipresentasikan besok pagi waktu Indonesia.

Kami harus bekerjasama secara ketat soal file dan data ini, sebab saya yang memegang laptop si doi. Ingin hati bukan hanya laptopnya yang menemaninya saya, tapi situasinya belum memungkinkan.

“Saya pamit ya pak,” Ucap saya pada Pak Taufik. Leader rombongan.

“Syukran ya Hadi, mohon maaf belum bisa ikut menemani antum”, ujar saya pada Hadi, mahasiswa Indonesia di Fez.

Sesampai penginapan, saya hanya bertahan setengah jam di depan laptop. Kurang lebih setengah jam kemudian, tiba-tiba leher serasa kepelintir. Pinggang sebelah kiri terasa sakit. Sementara jari tangan masih di atas keyboard laptop. Ternyata saya tadi tertidur dengan posisi tidak jelas saking mengantuk. He he

Sekitar dua jam saya selesaikan urusan, perut melilit kelaparan. Agaknya sarapan roti plus syai bil halib traktiran rombongan dosen jam 8 pagi tadi tidak cukup kuat menahan keinginan perut untuk ‘diisi ulang’ sampai sore.

Saya segera tunaikan shalat jamak. Lalu siap-siap hunting makan. Tiada teman selain bayang-bayang istri. Allah, miss her so much!

Saya gendong ransel hijau berisi laptop dan barang penting lain. Kendati penginapan dirasa aman, tetap saja kita mesti waspada. Jangan meninggalkan laptop dan barang berharga di kamar. Demikian pesan Istri suatu ketika.

Meskipun di dekat penginapan tersedia banyak warung makan khas Maroko, namun saya lebih memilih berjalan agak menjauh sedikit dari jejeran warung itu, kurang lebih 200 meter ke sebelah timur. Biasanya kalau agak jauh dari keramaian, harganya tidak terlalu mahal.

Alhamdulillah akhirnya saya temukan warung sederhana. Aneka daging bakar. Satu porsinya tertulis 15 dirham. Saya perhatikan tulisan itu baik-baik.

“Satu paha ayam bakar ini 15 dirham kan?” Tanya saya memastikan.

“Betul.”

Sekalian saya menunjuk dan menanyakan satu persatu menu yang tersedia berikut harganya. Tidak apa-apa banyak bertanya untuk meminta kejelasan. Bertanya lebih baik daripada menerima begitu saja dalam keraguan atau ketidakpastian.

“Baiklah, saya pesan satu paha bakar ya.”

Letak warung ini berhadapan langsung dengan warung daging bakar serupa yang lebih besar, Namanya Gunto. Saya tidak memilih warung Gunto, tampak terlalu mewah.

Saya mengakrabkan diri lewat senyum, salam, menanyakan kabar, dan mendoakan keberkahan untuk usaha yang dia jalani. Tentu dengan bahasa Arab.

Dia terlihat senang dan saya dipersilahkan duduk. Meski sederhana, tapi tempat duduknya enak dan suasananya nyaman.

Tiba-tiba seorang lelaki menghentikan motor sepedanya di depan warung.

Derum..Derum…cekiiit.

“Assalamu’alaikum.” Dia menyapa penjual.

Rupanya dia mau makan juga di tempat ini.

“wa’alaikom salam.” Saya turut membalas salamnya.

Dia hanya melirik saya singkat. Kemudian dia mengobrol ke sana kemari dengan penjual. Saya bangkit dari kursi, melihat-lihat bagian dalam warung. Saya melihat ada jejeran gelas berisi daun mint siap seduh, ada tumpukan teh seduh, dan lain-lain.

“Ini dagangan kamu juga?”

“Iya, itu juga milik saya. Cuma yang memegang tugasnya si teteh itu.”

Si Teteh Maroko melirik dari dalam dan tersenyum. Saya membalas senyumnya. Saya tidak tahu ternyata ada orang di dalam hehe.

Saya kembali ke tempat duduk saya yang kini posisinya bersebelahan dengan kursi bapak pengendara motor tadi.

Assalamu’alaikum.” Saya duluan tersenyum dan menyapa.

Wa’alaikom salam.” Jawabnya, sedikit cuek.

Saya juga tidak peduli jika dia cuek. Bukan urusan saya. Toh saya disini hanya mau makan kok.

Saya menyender lebih santai di atas kursi. Merenggangkan otot yang tadi sempat sakit. Mencoba memancing ide dan inspirasi. Ah, nikmat sekali.

Ayam bakar sudah terhidang. Tapi Si pelayan meletakkan hidangannya di antara dua meja, saya dan si bapak. Dia terlihat buru-buru dan tidak menyebutkan untuk siapa.

Karena saya merasa memesan terlebih dahulu, saya geserkan piring berisi ayam itu seraya bertanya,

“A hadza laka am liyya. Apakah ayam ini untukmu ataukah untukku?”

Mengetahui saya bisa bahasa Arab, dia mulai tersenyum dan menjawab,

“Hadza diyalak, mayakunsy diyally..Itu punyamu, bukan punyaku.”

Wakha. Oke.” Saya buru-buru menarik piring lebih dekat.

“Mari makan.” ajak saya.

“Silahkan, selamat menikmati.”

Tak lama kemudian, si pelayan datang menghidangkan pesanan si bapak.

“Syukran, hadza rajulun thayyeb. A good man.” Dia berujar pada pelayan sembari menunjuk diriku. Kenapa dia menyimpulkan saya orang baik, padahal baru saja bertemu. Aneh sekali.

Anta athyabu wa ahsan.” Saya langsung membalas ucapannya segera. Biasanya mereka berbasa-basi atau berupaya mengakrabkan diri dengan cara itu.

“Anda darimana, Mister?” Dia mulai membuka pembicaraan.

“Indonesia, negeri di Asia Tenggara sana.”

“Do you speak English?” Tanya dia.

“Yes, just a little. And you?” ujar saya.

“I do, but I learnt it 20 years ago. So I forget some words.”

Kami mengobrol campur aduk antara bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa darijah dan amiyyah. Malah sesekali saya masukkan bahasa sunda saat menyebut kondisi bagian bawah ayam ini gosong.

“It’s so tutung wa gosong ya basya..”

Herannya, dia manggut-manggut seperti mengerti. Ha ha ha. Kelakuannya mirip saya saat dia ngomong darijah dan saya manggut-manggut, “oo…, na’am…”

Saya bercerita banyak hal tentang Indonesia, terutama sejarah hubungan diplomatik Indonesia-Maroko awal-awal kemerdekaan yang dibangun oleh presiden Soekarno dan Raja Muhammad V. Salah satu hasil yang masih dinikmati sampai sekarang, yaitu berupa bebas visa entry selama tiga bulan untuk masing-masing warga negara.

“Hm..Apakah disini ada tukang ikan bakar terdekat, kami sangat doyan ikan. Negeri kami dikelilingi banyak lautan lho?” Saya bertanya karena teringat rombongan bapak ibu dosen ingin makan malam dengan menu ikan bakar.

La. Disini jarang. Bukan daerah pantai.”

Dia menjelaskan.

“O ya, kamu beli saja di pasar, nanti minta dibakar di sini.”

Dia langsung memanggil tukang ayam bakar, menanyakan mungkinkah nebeng bakar ikan.

Hebat sekali ini bapak, usulan dan aksi konkrit! Tapi sayang, tukang ikan keberatan.

Kami asik makan dan ngobrol, dia terlihat lahap sekali. Bahkan sampai nambah satu porsi lagi. Mungkin sedang lapar-laparnya dan lagi dapat rezeki kali ya.

Dia menghabiskan dua porsi, sementara saya masih berkutat dengan makanan saya. Dia mendekati tukang ayam itu, mengobrol ke sana kemari, seraya mengambil satu bungkus plastik. Adapun saya kembali menghabiskan sisa roti.

Tiba-tiba dia mengagetkan saya,

“Hakeem, selamat menikmati, khalish.”

“Maksudnya?”

“Kau tidak usah bayar, saya sudah membayarkannya untukmu.”

“lho, tidak usah. Saya bayar sendiri.”

“Sudah saya bayar, karena kamu Rajul Thayyib. Kamu tamu saya sekarang!” Dia tersenyum sambil ngeloyor pergi menuju sepeda motornya, memasang helm, dan beranjak pergi.

Saya masih melongo.

Jazakallah khairan. Bal Anta aidhan rajulun thayyib. Anda memang a good man. Bahkan athyabu. Lebih dari yang saya kira.”

Catatan dari Fez

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

Alhambra, Sebuah Cerita Pembuka

 

Our Steps in Alhambra :)

Jejak kaki kami berdua di Alhambra

 

Alhamdulillah…

One of my dreams finally came true yesterday, I’ve finally stepped Alhambra  in Granada with my beloved one!

Thank you my dear husband, Risyan Nurhakim, for accompanying me realizing my dream to see Granada after our second years of marriage life 🙂

 

***

Kemarin, pagi-pagi sekali kami berjuang untuk bangun, setelah sehari sebelumnya tiba di Granada bus station sekitar pukul 17:30 waktu setempat.

Khawatir kemalaman, Aa gegas membaca peta yang kami dapatkan gratis di salah satu tour operator dalam terminal bus, untuk segera ‘membaca’ kota Granada 🙂

Sesuai petunjuk Polaroid Siesta Hostel yang dikirimkan via email, kami harus naik bis no 3 atau 33 (jika mau mengirit budget) persis setelah keluar terminal bus.

Kami langkahkan kaki keluar dan halte yang dimaksud segera kami temukan. Rupanya backpackers lainnya sudah siap-siap menaiki bis 33.

Saat bersiap membayar uang tiket, sang supir berujar, “One twenty!”

Wow, murah sekali transportasi publik di Granada dan Malaga -dua kota yang sudah kami kunjungi di Spanyol Selatan ini, dibandingkan dengan harga bis di kota-kota turis lainnya di daratan Eropa, Padahal bisnya bagus, nyaman dan bersih 🙂

Sebagai perbandingan lebih jauh, bis ATVO dari Venice Mestre ke Ryanair Airport di Venice Treviso yang berjarak hanya 30 menitan saja (jika tidak macet) kami harus membayar 10 E / orang.

Sedang bis bandara Malaga Airport ke Malaga Alameda (City Centre) dengan jarak tempuh tidak jauh berbeda, hanya menarik biaya 3 E / orang.

Hmmm, dari sisi budgetting, jelas kami jatuh hati pada Spanyol Selatan ketimbang Italia bagian utara 🙂

Dari sisi orang-orangnya apalagi.

Sejak awal tiba di Italia, saya sadar sepenuhnya, orang-orang Italia di area wisata tidak terlalu ramah pada turis, apalagi mungkin karena saya menggunakan jilbab? Entahlah…

Kami mengalami kejadian menyebalkan dengan seorang masinis kereta api di Florence yang saya tegur karena kereta tak jua kunjung berangkat padahal sudah delayed 30 menitan. Sikap masinis tak bertanggung jawab itu semakin menyublimkan citra Italia yang berantakan di mata kami berdua.

Sedang di Spanyol Selatan (sejauh ini Malaga dan Granada) kami menikmati keramahan dan kehangatan hati orang-orang Spanyol.

Mulai dari penduduk lokal, supir bis, masinis kereta api, petugas di Metro hingga resepsionis di hostel (alias para pelaku bisnis jasa) semuanya ramah-ramah 😉

Entah karena orang-orang Spanyol memutuskan bersikap ramah karena sadar pariwisata atau memang karakter asli orang Spanyol Selatan memang seperti itu?

Kami kurang tahu, yang jelas kami merasa betah menjelajah di Spanyol Selatan ini 🙂

Sikap positif penduduk Spanyol Selatan ini melahirkan sikap positif pada turis-turis mancanegara 🙂

Semenjak mini tripod kami ‘tewas’ salah satu kakinya dan tidak bisa digunakan lagi, lalu saya dan Aa berjuang memotret kami berdua dengan salah satu tangan, banyak sekali orang Amerika, Australia bahkan Inggris menawarkan memfotokan kami.

Meski hasil jepretan mereka kadang tak sebagus kerja tripod, hati kami sungguh tersentuh 🙂

Rupanya keanggunan Nasrid Palace di kota tua Alhambra dan sikap positif orang-orang Spanyol Selatan melahirkan kebaikan berantai 🙂

***

Banyak kejadian menarik yang kami temui sepanjang 10 jam berada di “The Monumental Complex of The Alhambra and The General Life”.

Sebuah bangunan pertama kali dibuat di Alhambra (dalam bahasa Arab disebut Alhamra, (artinya istana merah) pada tahun 1237 masehi oleh kekhalifahan Nasrid. Pembangunannya berlanjut hingga 250 tahun kemudian.
Muhammad I Al-Ahmar hingga selesai dibangun oleh Muhammad XII / Boabdil (1429).

Alhambra adalah salah satu simbol jejak kekuasaan kekhalifahan muslim Andalusia terakhir, sebelum direbut pasukan Ferdinand dan Isabella of Castile pada tahun 1492 dan layak diapresiasi jika berkesempatan ke Spanyol!

Saat memasuki pintu pemeriksaan tiket, mata kami langsung dimanjakan oleh hijaunya taman yang melingkupi Alhambra.

Indah dan menyejukkan mata.

Saat waktu kami tiba untuk memasuki Nasrid Palaces (ada 3 istana semuanya), saya dan Aa berkali-kali memegang dada dan berkaca-kaca.

300 tahun lamanya Islam memerintah di kota Granada dan memajukan kota ini dengan cahaya iman, islam dan ilmu pengetahuan.

Sedang sekarang, di luar suasana Alhambra yang agung, kami menyaksikan rusaknya dampak modernisasi di kota turis ini, perempuan Spanyol Selatan senang memerkan tubuh seksi mereka dan merokok tiada henti. 😦

Kami mengantri kala akan memasuki Nasrid Palaces dan mulai terpana-pana kala berada di dalam.

Di setiap dinding Nasrid Palaces terukir keindahan kalimat-kalimat ‘tayyibah’, menggambarkan halusnya akhlak dan sholehnya penguasa kekhalifahan Nasrid kala itu.

Kami hikmati perlahan-lahan indahnya arsitektur istana, air mancur mengalir di setiap ruang istana dan bergulirnya sejarah panjang kejayaan peradaban Islam yang terukir nyaris di setiap dinding Nasrid Palace!

Aa bilang, “Kaligrafi yang mereka ukir adalah kaligrafi tingkat tinggi. Betapa telatennya mereka mengukir dinding istana ini.”

Sebagai misal, kata-kata, “Laa ghaliba illal Llaah” tertatah di setiap penjuru dinding, artinya, “Tiada yang mengalahkan (apapun) kecuali Allah”.

Kata Aa, potongan kalimat di atas terinspirasi dari ayat Al-Qur’an, “Laa ghaaliba lahu illa huwa.”

Tatahan ‘Laa ghaliba illal Llaah’ mengajak kami berdua untuk selalu berzikir, mengingat lemahnya diri ini di hadapanNya yang perkasa.

Tatahan ayat, kalimah tayyibah dan puisi-puisi indah bertaburan di seluruh penjuru istana.

Jatah setiap pengunjung sebetulnya hanya 30 menit saja, tapi saking terpesonanya, saya dan Aa sibuk memotret semua ukiran huruf Arab tersebut dan kami berniat membacanya satu demi satu di kala senggang dan mudahan bisa menuliskannya kembali.

***

Sementara kami sibuk memotret kaligrafi di setiap dinding, di sisi lain, pengunjung mancanegara (terutama dari Cina) banyak yang heboh berfoto di setiap sudut istana dengan pakaian sangat minim, seksi dan seronok. Sambil sesekali berciuman dan berpagut penuh gairah dengan pasangan backpack mereka.

Ada satu pasangan yang bolak-balik melintas tak jauh dari kami, sepertinya mereka pasangan beda negara, berkali-kali berpagut mesra di hadapan pengunjung lainnya.

Sungguh tak tahu diri, “Have a room guys!”

Kecamuk rasa mengalir dalam dada.

Setelah 300 tahun kejayaan pemerintahan Islam, istana agung ini ternyata dinikmati dengan beragam cara oleh para pengunjung.

Kami salut pada pasangan kakek nenek dari Amerika, yang sibuk membaca buku sejarah sambil sesekali mencocokkannya dengan sudut istana yang sedang mereka datangi 🙂

Kakek ini pula yang menawarkan diri untuk memotret kami berdua, kala beliau melihat Aa beberapa kali hanya mengambil gambar saya saja 🙂

Kami akhirnya berkenalan dan memutuskan ‘keep in touch’ sekembali ke negara masing-masing 🙂

***

Ah, tak cukup sehalaman dua halaman untuk mengisahkan jejak sejarah yang ditinggalkan oleh kekhalifahan Nasrid ini.

Sebuah buku sepertinya patut dihasilkan dari kunjungan mengesankan ini, sebagaimana Irving Washington menulis sebuah buku berjudul, “Tales of the Alhambra” pada tahun 1829, saking luar biasa indahnya jejak sejarah yang diwariskan Alhambra pada dunia!

Image

Kereta Kehidupan

Kereta Kehidupan

Bangun tidur pagi ini seluruh badan terasa remuk redam, hehehe… Tidak menyangka, perjalanan menggunakan Quer-durchs-Land-Ticket selama 8 jam-an kemarin meninggalkan lelah berlapis 🙂

Bagaimana tidak, sejak awal itinerary rencana kepulangan kami ke Belgia terus berubah karena banyak hal, akhirnya kami memutuskan go show saja setelah Aa menunaikan kesempatan berceramah di Hamburg sebanyak dua kali, Sabtu sore dan Ahad sore lalu (21-22 September 2013.

Walhasil alternatif transportasi paling murah meriah jika mendadak adalah “Quer-durchs-Land-Ticket” yang sudah pernah kami pakai pada tanggal 😀

Ya sudah, mari memanfaatkan tiket terusan seluruh wilayah Jerman itu lagi. 🙂

***

Rupanya, karena sudah sekali memakai “Quer-durchs-Land-Ticket” dari Nurenberg menuju Hamburg, excitement-nya tidak terasa lagi, hehehe, betapa cepat bosannya manusia dan betapa fananya ‘kesenangan di dunia’! 🙂

Apalagi kereta yang kami naiki berkali-kali tidak sebagus kereta-kereta di hari Sabtu. Jarak tempuhnya juga tidak selama hari Sabtu. Yang terasa adalah, “Kok sebentar-sebentar turun naik kereta ya?!”

Mulai pukul 11. 54 kami turun naik Metronom sebanyak dua kali, S1 sekali, RE tiga kali, Eurogio Bahn sekali, dan diajak naik bis dalam kota dua kali.

Artinya -setelah naik ferry menyeberangi sungai Elbe yang dalam dan luas itu- kami bergonta-ganti moda transportasi sebanyak 9 kali, dengan waktu transfer terpendek hanya 4 menit –saya masih sempat ngeprint jadual perjalanan yang kami pilih menuju Aachen dan membeli tiketnya sekaligus!

Rasanya takjub pada keteraturan dan sinkronisasi jadual kereta api yang ada di Jerman dan Eropa pada umumnya 😉

Di sisi lain, salah satu kereta kami (jurusan Hannover – Minden menggunakan train S1) terlambat 3 menit! Padahal waktu transfer kami hanya lima menit dan harus turun naik tangga (tidak ada lift dan eskalator sama sekali) yang rata-rata menghabiskan 2 menit!

Karena si S1 telat tiba dan mengorupsi waktu transfer kami sebanyak 3 menit lamanya, sedang kereta jurusan Minden – Hamm pergi tepat waktu, 2 menit sisa yang kami miliki akhirnya tidak cukup untuk berlari turun dan naik tangga karena harus berpindah peron lalu gegas masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm tersebut.

Mau tidak mau kami ditinggal si train RE 10626 tersebut, karena waktu transfer kami hanya 2 menit saja dan jelas tidak keburu.

Untung kami tidak sedang akan naik pesawat atau mengejar sebuah janji teramat penting dan harus tepat waktu, seperti Sabtu lalu!

Saat itu saya dan Aa saling berpandangan menyaksikan fenomena ‘mengesankan’ ini.

Betapa waktu di negeri Eropa dihitung dari menit ke menit sedemikian rigid.

Telat 2-3 menit saja artinya siap ketinggalan transportasi berikutnya, mengeluarkan uang lebih banyak atau kehilangan kesempatan meeting ‘raksasa’. Mungkin saja, karena Aa sempat menyaksi dua orang bule yang saling bertangisan kala mereka juga tidak bisa masuk ke dalam perut kereta jurusan Minden – Hamm.

Dalam kereta saya sempat terpekur…

“Bukankah kehidupan di dunia ini sama seperti naik kereta api?

Jurusan yang kita pilih menentukan kebahagiaan yang akan kita kejar atau mau kita raih. Kadang kita harus berganti-ganti kereta api, atau malah mencobanya satu demi satu, karena kekurang-pahaman kita akan tujuan hidup yang ingin kita raih.

Lalu ada saatnya kita harus terhenti beberapa saat karena ketinggalan ‘kereta tujuan hidup’ akibat kurang fokusnya kita.

Tak apa, perjalanan kehidupan memang selalu jatuh-bangun. Akan tetapi ada baiknya segera fokus kembali, untuk mengejar ‘kereta tujuan berikutnya’, agar tak terus-menerus naik ‘kereta’ dan energi habis untuk berpindah-pindah tujuan perjalanan.

Dan sadarkah kita, tujuan hidup kita kerap disetir penghambaan berlebih pada dunia?

Kita kerap naik ‘kereta materialistik’ terus-menerus tanpa henti, dan lupa bahwa kebahagiaan hakiki kerap tak bisa kita kejar dengan menaiki ‘kereta materialistik’ karena bahagia hakiki sejatinya terletak dalam hati, bukan pada benda duniawi.

Saya tertegun berkali-kali, sudahkah saya memilih ‘kereta terbaik’ saya untuk menuju surgaNya yang tidak murah itu?

Sudahkah saya memilih ‘jurusan terbaik’ menuju ridhaNya?”

Cerah Ceria di Praha

Alhamdulillah, we’ve just arrived safely in Nurenberg, after one day fun-trip to beautiful Prague!

6 jam kami selama di Praha beraktifitas apa saja?

– Versi kami artinya seru membaca peta,

– lari-lari karena kaki yang pendek, hahaha,

– bertanya beberapa kali,

– terpana-pana pada cantiknya Praha,

– jepret-jepret,

– jalan cepat,

– ketemu orang Mesir yang menjadi owner sebuah moneychanger 0% commission, lalu sempat kenalan dan akhirnya kami PD menukar uang 10 euro saja dan menghasilkan 257 Kroner Cez, yeay! Tentu saja sepasang backpackers ini senang! Soalnya sempat tanya-tanya mau nukar di sebuah kantor cabang sebuah bank dan ditolak mentah-mentah jika kurang dari 20 euro.

– Asik menemukan sekaligus mengamati ‘fenomena’ orang Mesir yang bekerja / memiliki money changer! Fakta ini kami temukan setelah kami sempat intip-intip banyak money changer lainnya di seantero old town, hehehe… Tampaknya imigran Mesir di Prague kaya-kaya ya 😀

Alhamdulillah Praha bersinar cerah menyambut kami, bukan main nikmatnya berjemur di bawah sinar matahari!

Puas tak puas rasanya menjelajah kota cantik di Eropa Timur ini. 

Puas karena banyak yang dilihat, tapi tak puas karena 6 jam terasa sebentar, padahal matahari bersinar, setelah 9 hari jarang melihat matahari di Jerman sini 😀

Alhamdulillah, Republik Ceko menjadi negara ke 31 yang akhirnya bisa saya kunjungi tahun ini. 

Terima kasih kami haturkan pada Allah dan supporter kami kali ini, yaitu Teh Dewi Firyani Ringgana dan Mas Sis baik hati 

Jazakumullah khairul jazaa! 

~saatnya tetirah, setelah 4 jam + 4 jam naik bis IC DB PP Nurenberg-Prague

Smart Backpacking: Thinking Out of The Box!

Belakangan, banyak sekali orang yang meng-add facebook saya, lalu mengirimi message semacam di bawah ini:

“Mbak Ima kaya banget ya? Kok kerjaannya backpacking melulu? Duitnya berapa banyak? Kerja apa sih, Mbak?”

Dstnya, dstnya dan biasanya saya jawab singkat, seperlunya.

Misal, “Wah, kamu bakalan kaget kalau mengetahui penghasilan bulanan kami berdua. Kecil loh! Lagian, backpack ke Eropa ini kami sempat meminjam uang teman segala, sebagai ‘modal’ membeli tiket pesawat one way!”

Lama-lama tidak saya jawab lagi, sekadar saya intip saja 🙂

Bukan tidak mau menjawab, akan tetapi pertanyaan mereka adalah pertanyaan sangat ‘standar’, padahal saya dan suami bisa backpack keliling dunia dengan cara sangat tidak ‘standar’.

Image

Setelah sekian lama merenung, saya memutuskan untuk berbagi hal-hal tidak ‘standar’ dalam upaya kami mewujudkan perjalanan menjelajah Mesir, Tunisia, Maroko dan sekarang berada di bumi Eropa. Total, sudah hampir 6 bulan kami berkelana menjelajah dunia. 🙂

Baiklah, pertanyaan sejenis di atas akan saya jawab saat ini.

Pertama, berpikirlah ‘out of the box‘!

Bahwa bisa keliling dunia tidak mesti harus menunggu kaya dulu, atau punya tabungan sekian puluh juta dulu, atau menunggu sudah punya rumah dan mobil dahulu, dstnya dstnya!

Kalau menunggu sangat kaya dahulu dan atau punya tabungan sekian puluh juta dulu, umur kita biasanya keburu terlalu tua untuk ‘backpacking‘! Ingat ya, definisi kata backpacking sangat berbeda jauh dengan definisi kata traveling sejauh yang saya pahami selama ini.

Traveling mengandaikan kenyamanan paripurna (sebanyak uang yang kita punyai dan mau kita belanjakan), sedang backpacking justru berjalan sejauh mungkin dengan biaya sehemat mungkin -tentu saja mengurangi beberapa kenyamanan. Kalau sudah terlalu tua, tentu fisik kita sendiri sudah tidak sanggup backpacking dengan cara menghemat sangat ekstrim, misalnya tidur di stasiun lalu dikunci petugas dari luar stasiun, seperti yang kami alami di stasiun Soussa, Tunisia 🙂

Image

Ini foto kala stasiun dibuka kembali, sekitar pukul 3 dinihari.
Saya bisa tidur sekitar 2.5 jam, menunggu semua lampu dimatikan 🙂

Kok bisa keliling dunia dengan biaya sehemat mungkin?
Bukankah tiket pesawat ke luar negeri itu mahal?
Bukankah mata uang rupiah itu ‘nyungsep’ jika dikurs ke mata uang euro atau dolar bahkan poundsterling?

Bukankah backpacking ke luar negeri hanyalah aktifitas si orang kaya?

Waah waaah!
Ini dia yang membuat kamu tidak bisa berjalan lebih jauh!
Pikiran negatifmu memenjara kreatifitasmu!
Akhirnya momen thinking out of the box tidak terbit dari batok kepalamu!
Jadi begini ya, menurut hemat saya betapa tidak fair hidup di dunia ini jika backpacking ke luar negeri hanya mampu dilakukan orang kaya saja! 🙂

Backpacking ke manapun (hingga ujung kutub utara sekalipun, bisa kok dilakukan siapapun asal mau berusaha)!

Ya, kamu bisa!
*aku menunjuk ke dirimu kok!* 🙂

Caranya?

Ada banyak cara.
Ada ribuan cara!
Ada milyaran cara, sebanyak milyaran otak yang  berada dalam batok kepala penduduk bumi ini! 🙂

Bukankah dahulu banyak sekali sahabat Nabi SAW yang backpacking (safar) berjalan sangat jauh melintasi gurun sahara untuk menemukan sepotong hadis!?

Bukankah banyak sekali penjelajah ternama yang bepergian sangat jauh hingga berbulan-bulan bahkan bertahun lamanya untuk menemukan benua baru?

Kenapa mereka bisa bepergian begitu lama dan sangat jauh, padahal pesawat terbang saja belum ditemukan?

Para musafir berabad lampau kerap hanya membawa barang alakadarnya, belum ada kompas, mobile phone, wifi, apalagi google maps, loh! :p

Kenapa mereka bisa bertahan dalam perjalanan yang lama, berat, berbahaya sekaligus bersahaja?

Saya duga karena mereka memburu mimpi mereka!

Mereka melakukan itu semua karena mimpi ingin menemukan kebaikan dan kebaruan di negara asing yang mereka tuju!

Mereka memutuskan tidak membeku dalam situasi stagnan, rutinitas dan jumud!
Mereka ingin terus berjalan, belajar dan jika memungkinkan berbagi!

Barangkali kamu akan menjawab, “Aaah! Itu kan orang-orang jaman dulu! Kita kan hidup di masa kini. Apply visa saja mahal dan susahnya minta ampun! Belum lagi kalau ditolak!”

Oh ya…?
Belum apa-apa engkau tidak mau berpikir positif dan berusaha! 🙂
Soal Schengen visa yang menurutmu susah, silahkan baca kisah kami memperjuangkan untuk mendapatkannya di sini ya. 🙂

Kalau kamu butuh contoh penjelajah tangguh masa kini, seketika saya bisa memberikan contoh nyata!

Apa yang beliau lakukan saat itu sangat murah dan bisa dilakukan siapa saja! Di masa mudanya, Mas Gola Gong pernah backpacking keliling Asia Tenggara dengan bersepeda! 🙂

Saat membaca buku Mas Gola Gong yang berjudul ‘From Jakarta to Himalaya‘ di awal-awal kuliah S1 di sudut kota Jogjakarta, saya tersulut bara seketika.

“One day, I’ll follow his idea to travel cheap with my own style!”

Bara itu menyala sejak bertahun-tahun lalu dan terwujud perlahan kala saya mendapatkan beasiswa S2 di Leeds University di rentang tahun 2004-2007.

Tahap awal, otak sederhana saya hanya memikirkan satu hal, fokus mengejar beasiswa!

Setelah beberapa kali apply beasiswa, akhirnya saya berhasil memeroleh beasiswa Ford Foundation dan terbang gratis menuju Inggris. Sejak liburan summer pertama di Inggris, saya belajar apa itu backpacking dan bagaimana menyiasati perjalanan murah meriah bahkan gratisan. Sepanjang rentang di Inggris pula, saya berhasil menjejak 20 negara. 🙂

Kisah detil bagaimana saya berjuang mendapatkan beasiswa S2 ke Inggris, bisa teman-teman baca di buku antologi yang saya susun dengan judul, “Kuliah Gratis ke Luar Negeri 2, Mau?” diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House. Ebook-nya sudah bisa teman-teman beli online di website MIZAN.

Tahun 2007 Inggris saya tinggalkan dan saya masih menyimpan bara yang sama di dalam dada. Suatu hari nanti saya akan kembali ke Eropa bersama belahan jiwa, bagaimanapun ajaib caranya! 🙂

***

Berpikir out of the box ini tidak susah kok, asal kita mau banyak ‘membaca’! Tidak sekadar membaca buku, tapi juga membaca kesempatan dan peluang.

Seperti yang sudah saya tulis di jurnal terdahulu, saya dan Aa menangkap bola yang dilempar Kak L!

Beliau menawari Aa menjadi da’i selama bulan Ramadhan di Eropa!

Bola itu kami sambut dengan sama-sama mengirimkan CV sefokus dan sebagus mungkin, bahwa komunitas Muslim Indonesia di Belgia tidaklah akan merugi jika mengundang kami ke sana. Aa biasa menjadi khatib, penceramah berbagai acara sekaligus menjadi imam dan guru tahsin al Qur’an yang baik.

Saya bisa berbagi ilmu kepenulisan yang saya miliki atau bahkan berjualan makanan! Sehingga insyaAllah tidak akan terlalu menjadi beban host karena kami bisa mencari uang untuk biaya transportasi kami sehari-hari.

Alhamdulillah CV kami berdua diterima dengan baik dan invitation letter dari KBRI Belgia masuk ke dalam email kami.

Dengan modal nekad dan keberanian terbang ke Eropa tanpa uang euro selembar pun, setelah visa Schengen kami dapatkan dari kedutaan Belanda, kami memutuskan berangkat secepatnya, tepatnya 17 Juli 2013 lalu.

Karena kami tidak memiliki uang yang cukup, kami berdua nekad terbang hanya dengan one way ticket alias tiket pesawat untuk masuk Eropa saja.

Beberapa suara sumbang muncul kala saya menulis status terkait one way ticket ini, akan tetapi doa -yang saya harapkan muncul setelah menulis status minta didoakan agar bisa masuk Eropa dengan one way ticket– dari banyak pihak akhirnya memuluskan kami memasuki bumi Belgia nyaris tanpa masalah, setelah sebelumnya diinterogasi pihak imigrasi Belgia berbelas menit lamanya.

Kisah diinterogasi pihak imigrasi Belgia ini bisa menjadi satu judul tersendiri karena situasinya menegangkan dan memacu adrenalin. Kami harus siap mental jika akhirnya dideportasi kembali ke Indonesia tanpa pernah berhasil keluar dari bandara Brussels Intl. Airport, which is not funny at all!

Sesampai di Eropa -dan tentu saja berhasil melewati pintu imigrasi Belgia- hanya istirahat satu hari saja, Kak L langsung mengajak saya membeli bahan pempek di Aldi Supermarket.

Waktu itu kami mencoba ikan Pangasius -murni karena alasan harga yang murah, sekitar 3 euro sekian- dan segera saya sadari, ikan ini tidak cocok untuk membuat pempek karena rasa ikannya tidak muncul sama sekali. Pempek perdana saya buat dari 700 gram ikan pangasius dan menghasilkan 35 buah kapal selam yang tidak memuaskan hati saya akan tetapi justru ludes seketika disantap ke empat anak Kak L 🙂

They said, “Your pempek is delicious, Tante Ima!”

Perburuan bahan pempek yang mendekati rasa ideal menurut ukuran saya belum berakhir.

Saya dan Kak L meluncur ke Makro, salah satu supermarket terbesar di Belgia. Saya disarankan Kak L untuk membeli ikan Roodbars frozen.

Saya menyetujui dan membeli ikan tersebut.

‘Ada harga-ada rasa’ tetap berlaku dimanapun jua. 🙂

Produksi pempek kedua ini sudah jauh lebih terasa ikannya, akan tetapi jangan pernah membandingkannya dengan si ikan tenggiri atau belida ya, those are resulting an amazing pempek’s taste! 🙂

Singkat cerita, saya masih hunting rasa ikan terbaik dan paling cocok dijadikan bahan pempek.

Setelah perburuan berakhir, pempek made in Imazahra perlahan mulai didengungkan Kak L kemana-mana 🙂 Termasuk ‘diiklankan’ di kalangan ibu-ibu yang mengikuti pengajian mingguan yang diampu Ustadz Risyan Nurhakim Lc. 🙂

Alhamdulillah, lembaran 5 euro perlahan mulai kami kumpulkan dan puncaknya adalah 17 Agustus lalu.

Kak L memiliki ide gila sejak pertama kali kami landed di Brussels International Airport, “Ima ikutan bazaar 17 Agustusan ya!”

“Eh, kalau tidak laku bagaimana, Kak?”

“Ah, pasti laku. Pempek Ima dan masakan lainnya enak-enak kan? Bismillah saja.”

“Tapi kami tidak punya uang euro sama sekali, Kak!”

“Nanti Kakak yang bayar!”

Saya dan Aa saling pandang.
Mata kami mengandung masygul dan kekhawatiran, bagaimana jika pempek kami tidak laku? Bagaimana jika jualan kami tak satupun dilirik pembeli? Bagaimana jika ini dan jika itu!

Kak L sungguh perempuan baik hati sekaligus futuristik. Beliau mendukung saya sejak  mulai berjualan pertama kali dan membantu promosi pempek made in Imazahra dari mulut ke mulut.

Kekuatan rasa dan mouth to mouth advertisement ini rupanya iklan sangat ampuh yang berhasil meludeskan jualan pempek, siomay dan otak-otak ikan roodbars kami kala 17 Agustus lalu!

Sekelar jualan dan tiba di rumah Kak L, saya dan Aa tenggelam dalam sujud syukur sangat panjang, Alhamdulillah!

Ini sedikit catatan kecil yang sempat saya bubuhkan di FB saya:

Kata pertama yang ingin kami ungkap adalah syukur Alhamdulillah, jualan kami sebanyak 85 buah pempek kapal selam, 40-an lenjer (sudah tidak dihitung detil karena sangat mengantuk, dinihari Sabtu pembuatannya), 120-an buah siomay dan 40-an buah otak-otak ikan tenggiri dibalut daun pisang ludes tak bersisa!

Laris manis tanjung kimpul!

InsyaAllah sepasang Honeymoon Backpackers jadi deh main ke Italia dan Spanyol! 😀

Berjualan pempek di negeri Eropa menyisakan banyak catatan dan peristiwa yang patut ditulis dan diabadikan melalui sebuah buku!

Ada kejadian sangat lucu dan pertama kali dalam hidup saya (sebagai penjual pempek) terjadi di arena bazaar, hehehe, nanti saja saya tulis di blog saja ya 🙂

Kami mengucapkan banyak terima kasih pada seluruh pembeli yang membeli pempek, siomay dan otak-otak produksi kami.

Terima kasih pula untuk seluruh kontak saya di facebook yang sudah mendoakan agar dagangan kami habis sekaligus menemani saya *secara online dan jarak jauh* kala saya benar-benar deg-degan mengolah semua bahan makanan, hanya dengan dua tangan dan waktu yang saling berkejaran. FYI, saya baru memproduksi semuanya mulai Kamis malam dan harus menjualnya di Sabtu pagi!

Terima kasih tak terhingga atas ide kreatif Kak L sebagai host utama kami 🙂

Beliau memercayai kemampuan saya padahal belum pernah mencicipi pempek saya, hanya percaya berdasarkan testimoni yang berdatangan di fanspage Pempek & Bolu Kukus kami. 

Terima kasih atas seluruh support moril dan materiil -beliau yang membayarkan sewa tenda kami dan sungguh tidak murah!- yang sudah diberikan kepada kami. Karena beliaulah, kami sempat nekad meminjam sebagian uang pada salah satu teman untuk terbang all the way ke negeri Belgia ini.

What a journey after all! 

Sangat layak untuk kami kenang seumur hidup kami dan mudahan bisa direkam dalam buku kami.  🙂

Sekali lagi, terima kasih tak terhingga untuk semua yang sudah mendukung ide Honeymoon Backpackers mencari dana backpacking melalui jualan pempek, at the end, it worked nicely.

Segala puji milik Allah!

Kedua, bangun jaringan silaturahmi internasional!

Saya menjadi blogger dimulai di tahun 2005, di sebuah fasilitas blog dengan konsep berjejaring, namanya Multiply dan sudah ‘tewas’ sejak awal tahun ini.

Di Multiply ini saya rutin mengisi blog. Awal mulanya sekedar ingin membaca tulisan-tulisan Mbak Helvy Tiana Rosa, lama-kelamaan terbawa ingin berbagi kehidupan di Inggris -kaya saya menempuh pendidikan S2- hingga akhirnya saya memberanikan diri alih profesi menjadi penulis amatir sekaligus backpacker 🙂

Di Multiply saya bertemu dengan banyak perempuan smart, sholehah sekaligus senang bersilaturahim.

Pertengahan 2005 saya melempar ide ingin Solo Backpack -untuk pertama kalinya menjelajah Eropa- di blog Multiply saya, satu persatu teman-teman Multiply di Eropa menawarkan diri menjadi host saya, alias berkenan menyediakan ruang tamu atau salah satu kamar mereka menjadi rumah sementara saya untuk beberapa hari. 🙂

Dari solo backpack 2005 tersebut saya menyadari, backpacking nyaman bisa diusahakan, sepanjang jejaring silaturahmi kita kuat dan sosok kita dipercaya sebagai pribadi yang amanah, mampu menjaga kebersihan dan siap membantu-bantu tuan / nyonya rumah jika diperlukan. 🙂

Justru dari aksi ‘tumpang-menumpang’ di rumah host inilah saya menemukan banyak sekali kakak ketemu gedhe! Rasanya bahagia sekali, mengingat saya adalah anak pertama dan memiliki 7 adik. Jika akhirnya dianggap adik oleh seseorang, rasanya senang luar biasa. It’s a priceless honour for me! 🙂

Sudah dulu ya, nanti di kesempatan lain saya akan menulis kembali, tips trick smart backpacking ala honeymoon backpackers! 🙂