Hikmah Semangkuk Harirah

Hikmah Semangkuk Harirah

Assalaamu’alaikum blogger semua ūüôā

Saat ini saya dan istri berpisah untuk sementara karena pertimbangan ekonomis dan hal-hal teknis lainnya.

Singkat cerita, saya harus keluar dari Brussels karena Schengen Visa kami berdua sudah habis dan memutuskan saya mesti bertahan di Maroko (negara non visa bagi orang Indonesia 3 bulan lamanya), hingga keluarnya kepastian status studi saya di Tunisia.

Sedang istri saya tercinta kembali ke Indonesia, karena akan memproses aplikasi ‘visa dependent’ dari sana.

***

Cerita Semangkuk Harirah

Saat ini saya tinggal di ibukota Maroko, Rabat.

Kemarin Rabat mulai menggigil. Suhu turun ke angka 10 derajat Celsius. Menjelang magrib, angkanya terus turun hingga shalat magrib usai ditunaikan. Dingiiin bukan main!

Biasanya, saya tak beranjak meninggalkan mesjid sebelum ikut menyimak tadarusan¬†Quran khas Maroko (qiraat warasy) rutin ba’da magrib atau subuh.

Mumpung masih berada di mesjid, kenapa tidak sekalian satu paket.

Terkadang agak malas-malasan membaca sendiri, apalagi kalau sudah kembali ke rumah. Toh tadarusnya hanya berlangsung sekitar 15-20 menitan. Tidak lama bukan?!

Tapi magrib kemarin dingin sekali.

Dingin yang menusuk kulit. Padahal sudah memakai baju kaos dua lapis ditambahi sweater, masih dilengkapi kaos kaki tapi tipis. Ternyata belum mampu menghalau dingin. Brrr!

Saya langsung terpikir memilih keluar mesjid, menuju kios harirah terdekat. Kenapa memilih harirah? Sebab baru sup panas jenis harirah-lah yang saya akrabi. Kalau sudah kedinginan dan menghangatkan perut, biasanya sup ini yang saya ingat. He he he. Harga semangkuknya sama dengan satu bungkus Indomie. Tapi kandungan sup harirah jelas lebih sehat.

harira400

Aah…, nikmatnya!
Alhamdulillah.
Dua sendok sup sudah saya seruput. Setidaknya hawa dingin dari dalam mulai tergusur, menyingkir perlahan. Sementara saya  tekun membuka kulit telur rebus, tiba-tiba seorang kakek tua mendekat. Dia selesai menyantap dan membayar supnya.

“Di Indonesia, ma yakuun? Tidak ada ya sup seperti ini Indonesia?”
“Tidak ada.”
“Kenapa kamu tidak mencari tahu cara membuatnya, lalu nanti dibuat di sana?”
“Bahan-bahannya tidak semuanya ada. Terutama kacang hums, karafs, adas.¬†Kalau tepung, garam, gula, insya Allah ada…” he he he…, saya ajak dia bercanda.
“Baiklah, selamat menikmati.” Ujarnya sambil pamit pergi. Terlihat ekspresi kenyang dari¬†wajahnya, he he he…

Tak lama setelah itu, muncul bapak tua yang lain. Beliau berpakaian lusuh, bertopi, berjubah tebal. Tapi dia lumpuh, tangan kirinya dibalut kain tertutup. Yang mengkhawatirkan, dia berkursi roda dan menggeret kursi rodanya sendirian. Ya Allah. Di belakang kursi tergantung tas gendong yang juga lusuh dan agak robek.

Dia mendekat ke meja bundar saya. Terdiam. Nafasnya tersengal- sengal.

Saya memandangnya, mencoba melempar senyum. Tapi tak ada respon. Agaknya dia sangat lelah. Tidak memperhatikan selain kondisi dirinya.

Tiba-tiba ibu kantin datang membawa sepiring besar milwi dan semangkuk harirah. Tafadhdhal! Ternyata, dia satu meja dengan saya. Dekat sekali.

8115512708_cfe648c35a_b

ilustrasi: semangkok  harira sumber foto: internet 

Hm. Kasihan sekali si bapak tua ini. Dia hanya bisa menggunakan satu tangan saja untuk menyobek rotinya. Lambat sekali. Tapi saya perhatikan makannya lahap sekali. Terlihat sangat nikmat. Seperti tidak menemukan makanan seharian.

Sementara konsumen lain asik bercanda, mengobrol ke sana kemari di jejeran meja samping, bapak tua ini fokus melahap makanannya.

Saya berniat membayarkan bapak ini, cuma sayang sekali saya cuma membawa uang pas. Dan uangnya sudah saya bayarkan terlebih dahulu. Duh, ya Allah! Berikanlah kekuatan dan kesehatan kepada bapak ini. Engkau Maha Pemurah, Maha Pengasih. Gumam saya.

Ah, saya ajak ngobrol nanti ah. Mumpung dekat. Mudah-mudahan dia memahami bahasa Arab saya. Sebab biasanya orang sepuh di sini hanya faham bahasa Darijah, atau Perancis. Tidak nyambung kalau diajak bicara dengan bahasa Arab fusha (bahasa Arab sesuai grammar/akademis) atau bahasa Inggris.

Saya menunggu saat yang tepat, sambil sesekali menoleh ke arah makanan dan wajahnya. Tapi tetap saja, bapak itu lempeng fokus menikmati makanannya. Saya juga tidak berani juga menodong langsung dengan pertanyaan.

Lambat sekali makannya. Saya sudah mulai kedinginan lagi. Ya sudah, saya¬†memutuskan menunggu di meja dekat oven roti milwi saja. Biar hangat he he. Tiga orang ibu-ibu penjaga kantin mulai¬†curiga dan membicarakan saya. Rupaya saya jadi pusat perhatian mereka..*artis¬†kali…, hihihi

“Aha, dia sudah selesai makan!”

Baru saja saya tuangkan air satu gelas, sengaja saya niatkan untuk dia. Ternyata dia mulai bergerak menjauh, memutar roda kursi roda, dengan satu tangannya yang bebas. Menjauh meninggalkan meja. Tanpa kata, tanpa sapa. Sejak datang, duduk, bahkan pergi.

Saya terheran-heran.

Beberapa saat, dua konsumen lain datang memesan sup. Mereka duduk dekat meja tadi. Ibu penjaga kantin siaga menghidangkan pesanannya. Aku mengikuti ibu itu.

Saat si ibu mengambil mangkok bapak tua tadi, dan mulai membersihkan meja, saya mendekatinya,

“Hm, madam, hal huwa dafa’al fulus?” Saya eja sembari menjelaskan maksud¬†pertanyaan saya lewat gerakan tubuh.

“hm..madza..?”

Waduh, benar saja pertanyaanku belum dia pahami.

“Orang tua tadi, orang sakit tadi, selesai makan, tidak membayar ke ibu?”

Saya memperagakan sekali lagi.

“Ooo…, ya ya…”

Fyuuuh, saya harus belajar bahasa Perancis atau Darijah (Arab lokal) untuk bisa berkomunikasi dengan masyarakat lokal, seperti pedagang-pedagang kecil atau yang sudah sepuh.

Fi sabilillah…Kami meniatkan untuk sedekah di jalan Allah.”

Saya tertegun…

Subhanallah.

Di satu sisi, si bapak tua datang tanpa perlu berkata-kata, tanpa merengek, memaksa, atau mengemis kasih sayang. Si ibu kantin pun memberi tulus tanpa mengata-ngatai, basa-basi, menghina, mencaci, atau menampakkan sikap tak ikhlas.

“Barakallahu fik, Semoga Allah memberkahimu. “ Doa saya pada ibu kantin. Sembari pamit pergi.

Dada saya tersedak haru kala menembus dinginnya malam di kota Rabat.

Mata saya berkaca-kaca, mengingat kembali upaya keras bapak tua itu untuk tidak memaksa mengemis, sekaligus tergetar atas kelapangan hati dan kepedulian si ibu kantin. Padahal kantinya tampak kumuh dan sederhana.

Alhamdulillah, bertambah lagi satu hikmah yang bisa saya petik dari kantin sup harirah!

Jum’ah Mubarakah!

Taqabbalallahu shaliha a’malina wa niyyatina. Semoga Allah menerima amal dan niat baik kita. Amin

Advertisements

Bahasa (Asing)mu, Kompas Duniamu!

Ingatkah anda pepatah lama, “Mulutmu, harimaumu!”

Pepatah ini dipakai teman-teman panitia seminar bahasa untuk memantik ide sebuah tema acara.¬†Lahirlah seminar bahasa berjudul,¬†“Bahasa (Asing)mu, Kompas Duniamu!”

***

Kami Dikawinkan Lagi!

Saya pernah ke Mesir tahun 2010. Masih benderang dalam ingatan, aktifis mahasiswa berduyun menghubungi ‘manajer pribadi’ saya selama di Mesir, yaitu saudara Rashid Satari ūüôā

Rashid kemudian mengatur berbagai tema dan kegiatan yang bisa saya isi, di sela-sela backpack kami menjelajah Mesir sebulan lamanya.

Kali ini saya tidak datang seorang diri, saya¬†backpack¬†bersama suami tercinta. InsyaAllah diniatkan sebagai¬†‘Honeymoon Backpacker’.

Alhamdulillah profesi kami beririsan, saya senang menulis, memotivasi dan berbagi, Aa senang mengajar bahasa Arab, menerjemah kitab dan berbagi.

Sang ketua panitia seminar bahasa terpikir ‘mengawinkan’ kami berdua, agar tandem menjadi pembicara pengantin untuk diskusi,¬†“Bahasa (Asing)mu, Kompas Duniamu!”

Dua tahun kami menikah, namun ini pertama kalinya kami dikawinkan dalam sebuah forum diskusi.

Jangan tanya perasaan kami berdua, terharuuu. ūüôā

Sejak menikah, saya terbiasa menyiapkan baju Aa untuk mengisi ceramah, mendengarkan ia latihan menyampaikan materi khutbah nikah atau mempertanyakan ulang logika bahan ceramah yang sudah ditulisnya ūüôā

Aa sendiri terbiasa menerima telepon permintaan sebuah kepanitiaan -ya, beliau manajer pribadi saya- lalu memijit punggung saya kala saya duduk berjam-jam mengetik sebuah naskah di depan komputer, atau menyeduhkan teh hangat dengan sedikit gula (I don’t like sweet tea) atau bahkan mencuci pakaian kotor yang menggunung dalam keranjang cucian, sementara saya heboh mengejar¬†deadline¬†sebuah tulisan. ūüôā

Kami terbiasa saling mendukung pekerjaan dan karir kami. Saling membantu, saling memudahkan, tapi belum sekalipun kami ‘dikawinkan’ alias diundang bersama untuk mengisi sebuah acara ūüôā

For us, the invitation from PII (Pelajar Islam Indonesia) Mesir to share our knowledge together was a romantic moment, it’s really engaged with the honeymoon backpacker’s spirit, syukran!

 

Bahasamu, Kompas duniamu

Candid shot by DulZon

***

“Bahasa (Asing)Mu, Kompas Duniamu!

Saya membuka materi menggunakan bahasa Inggris. Bukan sok canggih berbahasa asing, hanya ingin mengetahui, seberapa dalam kemampuan bahasa Inggris adik-adik mahasiswa/i, siapa tahu jauh lebih mumpuni dibandingkan saya ūüôā

Sebagian mahasiswa memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik, sebagian lagi masih harus belajar lebih gigih.

Saya kemudian berbagi kisah hidup saya pribadi.

Imazahra kecil (usia 13 tahun) sangat benci bahasa Inggris (sekaligus jatuh cinta pada bahasa Arab). Saking bencinya, ia lulus dengan nilai bahasa Inggris memalukan untuk ujian akhir nasional tingkat SMA. Nilainya hanya tiga koma sekian. Memalukan dan jangan ditiru ya! ūüôā

Menjelang lulus pendidikan S1, Imazahra berpikir untuk mencari beasiswa ke luar negeri. Ia berharap bisa kuliah S2 gratis, mengingat ia adalah anak pertama dari 8 bersaudara. Ekonomi keluarga yang sedang morat-marit dihantam badai krisis moneter dan keinginan untuk terus merantau (karena alasan sangat personal) membuat ia menggila kala hunting beasiswa.

Saban malam Imazahra menjelajah dunia maya.
Pada masa itu, belum ada website beasiswa berbahasa Indonesia seperti sekarang. Segala informasi tentang studi ke luar negeri (terutama Eropa dan Amerika) selalu ditulis dalam bahasa Inggris.

Sejak saat itu, kesadaran diri akan pentingnya kemampuan bahasa asing (termasuk Inggris) mencuat. Dengan kamus berwarna pink fuchia, Imazahra terbata-bata menerjemah kata demi kata -saat itu juga belum ada¬†google translate!¬†ūüôā

Imazahra belajar bahasa Inggris secara otodidak. Banyak meminjam aneka buku tata bahasa Inggris dari perpustakaan IAIN Sunan Kalijaga, membeli kamus mungil agar mudah ditenteng kemana-mana dan rajin chatting dengan bule di Mirc dan Yahoo messanger ūüôā

Setahun kemudian, Imazahra terbang menuntut ilmu ke negeri Ratu Elizabeth, gratis!
Bahasa (asing) terbukti memutar kompas hidup seorang Imazahra!

Kemampuan berbahasa Inggris yang dimiliki Imazahra membuka karir baru untuknya; interpreter, translator, world backpacker, travel writer and community developer!

Saya menutup sesi dengan sedikit tips belajar bahasa Inggris ala Imazahra ūüôā

3.pii-mabes

Imazahra in action ūüôā

5.pii.Penyerahan

Penyerahan piagam penghargaanoleh ketua PII, Solihin Ma’ruf

***

Bahasa (Arab)mu, Pundi Rizkimu!

Setelah saya, giliran Aa yang berbagi.

Untuk pertama kalinya, saya akhirnya melihat Aa ‘nyerocos’ dalam bahasa Arab yang sangat fasih, mulai sejak memulai sesi hingga sesi berakhir, nyaris terus-menerus menggunakan bahasa Arab fasih (sesuai grammar dan tata bahasa)! Jujur saya terkagum-kagum.¬†I’m so proud of him!

Selama ini, Aa menjadi dosen bahasa Arab di Ma’had al Imarat, Bandung, tapi belum sekalipun saya melihat beliau mengajar, karena Ma’had al Imarat, Bandung di Jl Inhofthank dikhususkan untuk mahasiswa laki-laki. Istri tentu tidak boleh menyelundup menjadi mahasiswi, hehehe ūüôā

Titik tekan materi yang disampaikan Aa adalah pentingnya penguasaan bahasa Arab bagi mahasiswa Al Azhar yang sedang kuliah di Mesir. Amat disayangkan jika mahasiswa Al Azhar asyik bergaul dengan ribuan mahasiswa Indonesia lainnya selama di Mesir, tapi lupa mengasah bahasa Arab fusha dengan aktif di aneka talaqqi (mengaji), dirasah (menghadiri aneka kuliah berbahasa Arab) dan bergiat di Arabic language club!

Setelah kembali ke Indonesia di akhir tahun 2010, Aa menyadari, bahasa Arab semakin diminati penduduk Indonesia di tanah air.

Banyak peluang karir yang terbuka bagi ahli bahasa Arab, mulai menjadi penerjemah kitab-kitab berbahasa Arab -jangan tanya penghasilan mereka, bisa belasan juta per bulan jika tekun menerjemahkan kitab-kitab orderan penerbit, menjadi interpreter di forum-forum internasional, menjadi penerjemah (penyiar) siaran-siaran berbahasa Arab (salah satunya di TV One), menjadi guru / dosen bahasa Arab, ahli filologi dan seterusnya.

***

Pengalaman adalah Guru Terbaik

Aa kemudian bercerita perjalanan karirnya yang dipandu kompas bahasa Arab.

Aa mulai menawarkan naskah / kitab berbahasa Arab ke penerbit di tahun 2006, waktu itu beliau mahasiswa Al Azhar University di Cairo, tingkat 2.

Awal memulai pekerjaan di antara waktu kuliah pun terbilang alami.

Aa senang mendatangi maktabah-maktabah (toko buku) yang ada di Cairo. Beliau menikmati membaca sinopsis di sampul belakang buku (yang mejeng manis di rak-rak toko buku), Aa mencatatnya tanpa membelinya -maklum beasiswa saat itu sangat kecil, hanya 90 LE / bulan. Sampai di kamar asrama, Aa akan menerjemahkan sinopsisnya, lalu iseng menawarkan terjemahan sinopsis tersebut ke salah satu penerbit.

Dari sana, beberapa penerbit tertarik ‘mempekerjakannya’, Aa dikirimi uang untuk membeli beberapa buku lalu diminta menerjemahkan. Sebagian diterbitkan, sebagian lagi tidak karena pertimbangan pasar ūüôā

Sejak saat itu, Aa rutin menerjemah ketika liburan musim panas, atau setelah ujian termin 1. Tanpa merasa terbebani, Aa bahkan sanggup mengirim sedikit uang ke tanah air, untuk orang tua dan saudara yang membutuhkan.

Terakhir, Aa berbagi kunci penguasaan penerjemahan kitab-kitab berbahasa Arab:

– Kuasai tata bahasa arab (minimal hal mendasar seperti nahwu dan sharaf).
– Tuliskan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar hingga kita dan pembaca memahami maksudnya.
– Siapkan catatan untuk kata-kata baru (asing), karena biasanya kata-kata tersebut akan muncul lagi di halaman berikutnya.
– Sering-seringlah membaca koran bahasa arab.
– Rajinlah menonton tv arab.

– Kuasai gaya bahasa Indonesia terkini, dengan rajin membaca buku-buku bertema sejenis dengan kitab yang sedang kita terjemahkan. Keluwesan bahasa Indonesia akan memperhalus terjemahan kita.

Di akhir sesi, Aa membagikan lembar latihan bagi adik-adik mahasiswa. Semua diminta menerjemahkan teks berbahasa Arab ke bahasa Indonesia, lalu beberapa didiskusikan bersama-sama.

4.pii.Sesi Aa

 

Aa in action ūüôā

8.mengerjakan tugas

Peserta tekun mengerjakan tugas terjemah yang naskahnya diambil dari muqarrar tingkat dua, tentang definisi qashash al-quran

1.pii.Aa piaam

Penyerahan piagam penghargaan untuk Aa dari Ketua PII, Solihin Ma’ruf

***

Latihlah Kompas Duniamu!

Pada akhirnya, seminar, diskusi atau teori-teori yang telah dibagi akan tinggal menjadi sebuah teori / wacana, jika kita tidak mulai mempraktikkannya.

Kami berdua sangat berharap, dari sesi berbagi kami tersebut, adik-adik mahasiswa terinspirasi menguasai salah satu bahasa secara mendalam untuk membuka kompas dunia mereka masing-masing!

“Al qudroh ala lughah takuunu bil mumaarasah.”
Bisa berbahasa (asing) karena biasa!

7.pii.mabes.pii

Foto bersama dengan seluruh mahasiswa peserta diskusi ūüôā