KEB Membangunkan Si Mati Suri!

KEB Membangunkan Si Mati Suri!    Jika dikenang kembali, saya pernah sangat bersemangat ngeblog dan rajin berjejaring (termasuk blogwalking) selama bertahun-tahun. Konsisten mengisi blog rentang 2005-2010. Lima tahun bahagia ngeblog! Boleh dibilang saat itu adalah masa-masa keemasan saya menjadi fun fearless female blogger! 🙂

Masa-masa keemasan ini dimulai saat saya berkenalan dengan blogging sekaligus social media bernama Multiply.
Masih saya ingat, awal 2005 saya hanyalah pengunjung setia blog Multiply milik Mbak Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia dan teman-teman dari berbagai belahan dunia.

Ya, saat itu saya sudah jatuh hati pada aktifitas berjejaring! 🙂

Pada saat itu saya belum PD menulis!
Tidak pernah terbayangkan akhirnya bisa menulis puluhan lembar . Hingga sudah 6 buah buku diterbitkan (sebagian dalam bentuk antologi).

Saat itu saya senang blogwalking berjam-jam dan hanyut dalam tulisan para sahabat Multiply 🙂

Empat tahun berlalu dan saya tetap aktif ngeblog di Multiply. Tahu-tahu saya telah menerbitkan salah satu tulisan dalam blog sederhana saya karena ditawari Mbak Helvy Tiana Rosa. Momen WOW dalam hidup saya! 🙂 Continue reading

Advertisements

Pesan Jumat

Pesan Jum’at

Salah satu ‘keunikan’ Jumatan di Maroko adalah adzan dikumandangkan sampai tiga kali putaran, sambung-menyambung tanpa diselingi ritual apapun.

Kalau di Tunisia lain lagi, justru shalat jumat dibagi menjadi tiga waktu. Awal, tengah, atau akhir. Makanya ada mesjid yang menyelenggarakan shalat jumat awal waktu, ada yang tengah waktu, dan ada pula yang memilih akhir waktu menjelang Ashar tiba. Kabar-kabarnya, Mesjid Az-Zaitouna (731 M) di Kota Tunis dan Mesjid Kairouan (670 M) di Kota Kairouan memilih waktu terakhir.

Saya belum mempelajari detail alasannya secara mendalam. Mudah-mudahan ada yang bisa membantu. Namun jika ingin jawaban ringkas, demikianlah hasil ijtihad dalam madzhab Maliki. Seperti itu kira-kira.

Yang menarik, di beberapa mesjid Maroko yang saya hadiri, khutbahnya ringkas mirip kultum (kuliah tujuh menit) Kalau yang seperti ini saya pernah mendengar hadis, “Ciri khatib/imam Faqih adalah khutbahnya ringkas, shalatnya panjang.”

Kendati di mesjid terdekat yang kerap saya hadiri–mesjid Al-Itqan (didirikan tahun 1963)–bukan hanya khutbahnya yang ringkas, shalatnya pun turut ringkas dengan bacaan surat yang pendek-pendek seukuran surat An-nashr.

Mungkin karena masih awal-awal tahun baru hijriyyah 1435 H, tema yang diangkat khatib adalah masalah WAKTU. Surat yang disitir QS Al-‘Ashar.

Firman Allah, “Demi waktu! Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat kebenaran, dan saling berwasiat kesabaran.” 

Kita sama-sama mengerti, jika Allah bersumpah dengan sesuatu, sedemikian pentingnya ia. Karenanya, semestinya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bukan malah menyia-nyiakannya terbuang percuma. Kemudian mengisinya dengan ragam kebaikan, ibadah, kegiatan ilmu, dan segala hal bermanfaat.

Orang yang jalinan hari-harinya dihiasi dengan perbaikan diri dan amal, dipuji Nabi Saw. sebagai orang terbaik. “Sebaik-baik orang ialah yang usianya panjang dan amalnya baik.” (HR Tirmidzi)

Khatib kemudian menyitir dialog Nabi dengan para sahabat, bahwa setiap orang kelak akan menyesal, orang baik (muhsin) maupun orang jahat (musi’) Ada yang bertanya, orang jahat menyesal, kami memaklumi. Kalau orang baik menyesal, maksudnya bagaimana?

“Orang jahat menyesal, karena dahulu tidak menjadi orang baik. Orang baik menyesal, karena ia tidak berbuat kebaikan lebih banyak lagi dari yang sudah dia lakukan sebelumnya.”

Oleh karena itu, mari simak cuplikan doa Nabi Saw. nan indah,

“Ya Allah, jadikan hidup kami sebagai ajang menambah kebaikan.

Ya Rabb, jadikan kematian sebagai ajang istirahat dari berbuat keburukan.”

Aquulu qauli hadza wa astagfirullaha lii wa lakum
Wallahu a’lam bishshawab!

Catatan jumat lalu, Maroko.

08/11/2013

Hikmah Semangkuk Harirah

Hikmah Semangkuk Harirah

Assalaamu’alaikum blogger semua 🙂

Saat ini saya dan istri berpisah untuk sementara karena pertimbangan ekonomis dan hal-hal teknis lainnya.

Singkat cerita, saya harus keluar dari Brussels karena Schengen Visa kami berdua sudah habis dan memutuskan saya mesti bertahan di Maroko (negara non visa bagi orang Indonesia 3 bulan lamanya), hingga keluarnya kepastian status studi saya di Tunisia.

Sedang istri saya tercinta kembali ke Indonesia, karena akan memproses aplikasi ‘visa dependent’ dari sana.

***

Cerita Semangkuk Harirah

Saat ini saya tinggal di ibukota Maroko, Rabat.

Kemarin Rabat mulai menggigil. Suhu turun ke angka 10 derajat Celsius. Menjelang magrib, angkanya terus turun hingga shalat magrib usai ditunaikan. Dingiiin bukan main!

Biasanya, saya tak beranjak meninggalkan mesjid sebelum ikut menyimak tadarusan Quran khas Maroko (qiraat warasy) rutin ba’da magrib atau subuh.

Mumpung masih berada di mesjid, kenapa tidak sekalian satu paket.

Terkadang agak malas-malasan membaca sendiri, apalagi kalau sudah kembali ke rumah. Toh tadarusnya hanya berlangsung sekitar 15-20 menitan. Tidak lama bukan?!

Tapi magrib kemarin dingin sekali.

Dingin yang menusuk kulit. Padahal sudah memakai baju kaos dua lapis ditambahi sweater, masih dilengkapi kaos kaki tapi tipis. Ternyata belum mampu menghalau dingin. Brrr!

Saya langsung terpikir memilih keluar mesjid, menuju kios harirah terdekat. Kenapa memilih harirah? Sebab baru sup panas jenis harirah-lah yang saya akrabi. Kalau sudah kedinginan dan menghangatkan perut, biasanya sup ini yang saya ingat. He he he. Harga semangkuknya sama dengan satu bungkus Indomie. Tapi kandungan sup harirah jelas lebih sehat.

harira400

Aah…, nikmatnya!
Alhamdulillah.
Dua sendok sup sudah saya seruput. Setidaknya hawa dingin dari dalam mulai tergusur, menyingkir perlahan. Sementara saya  tekun membuka kulit telur rebus, tiba-tiba seorang kakek tua mendekat. Dia selesai menyantap dan membayar supnya.

“Di Indonesia, ma yakuun? Tidak ada ya sup seperti ini Indonesia?”
“Tidak ada.”
“Kenapa kamu tidak mencari tahu cara membuatnya, lalu nanti dibuat di sana?”
“Bahan-bahannya tidak semuanya ada. Terutama kacang hums, karafs, adas. Kalau tepung, garam, gula, insya Allah ada…” he he he…, saya ajak dia bercanda.
“Baiklah, selamat menikmati.” Ujarnya sambil pamit pergi. Terlihat ekspresi kenyang dari wajahnya, he he he…

Tak lama setelah itu, muncul bapak tua yang lain. Beliau berpakaian lusuh, bertopi, berjubah tebal. Tapi dia lumpuh, tangan kirinya dibalut kain tertutup. Yang mengkhawatirkan, dia berkursi roda dan menggeret kursi rodanya sendirian. Ya Allah. Di belakang kursi tergantung tas gendong yang juga lusuh dan agak robek.

Dia mendekat ke meja bundar saya. Terdiam. Nafasnya tersengal- sengal.

Saya memandangnya, mencoba melempar senyum. Tapi tak ada respon. Agaknya dia sangat lelah. Tidak memperhatikan selain kondisi dirinya.

Tiba-tiba ibu kantin datang membawa sepiring besar milwi dan semangkuk harirah. Tafadhdhal! Ternyata, dia satu meja dengan saya. Dekat sekali.

8115512708_cfe648c35a_b

ilustrasi: semangkok  harira sumber foto: internet 

Hm. Kasihan sekali si bapak tua ini. Dia hanya bisa menggunakan satu tangan saja untuk menyobek rotinya. Lambat sekali. Tapi saya perhatikan makannya lahap sekali. Terlihat sangat nikmat. Seperti tidak menemukan makanan seharian.

Sementara konsumen lain asik bercanda, mengobrol ke sana kemari di jejeran meja samping, bapak tua ini fokus melahap makanannya.

Saya berniat membayarkan bapak ini, cuma sayang sekali saya cuma membawa uang pas. Dan uangnya sudah saya bayarkan terlebih dahulu. Duh, ya Allah! Berikanlah kekuatan dan kesehatan kepada bapak ini. Engkau Maha Pemurah, Maha Pengasih. Gumam saya.

Ah, saya ajak ngobrol nanti ah. Mumpung dekat. Mudah-mudahan dia memahami bahasa Arab saya. Sebab biasanya orang sepuh di sini hanya faham bahasa Darijah, atau Perancis. Tidak nyambung kalau diajak bicara dengan bahasa Arab fusha (bahasa Arab sesuai grammar/akademis) atau bahasa Inggris.

Saya menunggu saat yang tepat, sambil sesekali menoleh ke arah makanan dan wajahnya. Tapi tetap saja, bapak itu lempeng fokus menikmati makanannya. Saya juga tidak berani juga menodong langsung dengan pertanyaan.

Lambat sekali makannya. Saya sudah mulai kedinginan lagi. Ya sudah, saya memutuskan menunggu di meja dekat oven roti milwi saja. Biar hangat he he. Tiga orang ibu-ibu penjaga kantin mulai curiga dan membicarakan saya. Rupaya saya jadi pusat perhatian mereka..*artis kali…, hihihi

“Aha, dia sudah selesai makan!”

Baru saja saya tuangkan air satu gelas, sengaja saya niatkan untuk dia. Ternyata dia mulai bergerak menjauh, memutar roda kursi roda, dengan satu tangannya yang bebas. Menjauh meninggalkan meja. Tanpa kata, tanpa sapa. Sejak datang, duduk, bahkan pergi.

Saya terheran-heran.

Beberapa saat, dua konsumen lain datang memesan sup. Mereka duduk dekat meja tadi. Ibu penjaga kantin siaga menghidangkan pesanannya. Aku mengikuti ibu itu.

Saat si ibu mengambil mangkok bapak tua tadi, dan mulai membersihkan meja, saya mendekatinya,

“Hm, madam, hal huwa dafa’al fulus?” Saya eja sembari menjelaskan maksud pertanyaan saya lewat gerakan tubuh.

“hm..madza..?”

Waduh, benar saja pertanyaanku belum dia pahami.

“Orang tua tadi, orang sakit tadi, selesai makan, tidak membayar ke ibu?”

Saya memperagakan sekali lagi.

“Ooo…, ya ya…”

Fyuuuh, saya harus belajar bahasa Perancis atau Darijah (Arab lokal) untuk bisa berkomunikasi dengan masyarakat lokal, seperti pedagang-pedagang kecil atau yang sudah sepuh.

Fi sabilillah…Kami meniatkan untuk sedekah di jalan Allah.”

Saya tertegun…

Subhanallah.

Di satu sisi, si bapak tua datang tanpa perlu berkata-kata, tanpa merengek, memaksa, atau mengemis kasih sayang. Si ibu kantin pun memberi tulus tanpa mengata-ngatai, basa-basi, menghina, mencaci, atau menampakkan sikap tak ikhlas.

“Barakallahu fik, Semoga Allah memberkahimu. “ Doa saya pada ibu kantin. Sembari pamit pergi.

Dada saya tersedak haru kala menembus dinginnya malam di kota Rabat.

Mata saya berkaca-kaca, mengingat kembali upaya keras bapak tua itu untuk tidak memaksa mengemis, sekaligus tergetar atas kelapangan hati dan kepedulian si ibu kantin. Padahal kantinya tampak kumuh dan sederhana.

Alhamdulillah, bertambah lagi satu hikmah yang bisa saya petik dari kantin sup harirah!

Jum’ah Mubarakah!

Taqabbalallahu shaliha a’malina wa niyyatina. Semoga Allah menerima amal dan niat baik kita. Amin

Setelah Terjatuh, Ayo Bangkit Lagi!

Awalnya saya hanya ingin menulis sebuah status pendek di facebook (dan mengetiknya melalui hape jadul saya), isi status tersebut menceritakan inti ‘backpack‘ kami hari ini; kami baru saja mendatangi kantor imigrasi Mesir yang dijaga ketat, kamera mungilku bahkan ditahan sejak pintu masuk 😉

Kantor ‘mogamma‘ ini posisinya berseberangan dengan Museum of Egypt berwarna merah agak oranye, terletak tidak jauh dari bundaran Tahrir, tempat bersejarah kala para demonstran meneriakkan kata-kata revolusi dan yel-yel menghujat diktator Husni Mubarak dua tahun lampau.

Eh, tahu-tahu ngetiknya keterusan, menghasilkan tulisan sangat panjang. Ide jelang Isya tadi rupanya mengalir lancar sederas air bah!

Saat detik-detik akan mengakhirinya, salah satu jemari salah pencet tombol di hape (maklum hurufnya serba mungil, hehe). Tentu tulisan di status ini lenyap seketika, tinggal halaman putih tanpa huruf.

Saya kehilangan kata-kata…!
Tercenung dan ini bukan yang pertama!
*Mulai mengkhayal menjedotkan kepala ke tembok khayalan juga, hahaha* 😀

Dalam hidup, barangkali kita kerap mengalami hal serupa ini.

Saat sedang semangat-semangatnya mengejar mimpi dan rasanya sudah hampir meraihnya, tahu-tahu sesuatu yang ‘buruk’ terjadi! Kita terhenti seketika, bahkan kadang ambruk! Akhirnya impian yang nyaris digapai lenyap begitu saja!

Lalu apa yang ingin saya lakukan di halaman putih ini?

Awalnya gemas dan curhat pada si Aa yang sedang ‘timbul tenggelam’ dalam tidur ayamnya, kelelahan berurusan di ‘mogamma’ seharian tadi. 🙂

Setelah merasa puas curhat, saya memutuskan menuliskan kejadian barusan, tentu saja di halaman putih ini kembali. Tak terasa sudah sepanjang ini, hehe 🙂

Apa yang ingin tangan saya sampaikan?

Ya, benar-benar tangan saya, saya menulis saja tanpa banyak berpikir. Saya hanya mengikuti tangan saya, bukan ide di kepala saya. Jujur saya masih merasa sedih kehilangan tulisan sangat panjang dan menurut saya isinya bermanfaat dan bagus. Hehe, boleh ya memuji tulisan sendiri sekali-kali 🙂

Jadi apa pesan tangan saya?

Teruslah mengetik, meski tulisanmu ‘lenyap’ berkali-kali.

Ide tetap ada di kepalamu!

Meski rasa bahasa yang diketik akan berbeda, tak mengapa, toh ide tetap saja sama.

Begitu juga dalam mengejar mimpi, tidak apa caranya berbeda -mungkin akan jauh lebih efektif dan efisien karena kamu sudah punya sedikit pengalaman- yang jelas kamu pernah menapaki jalan -yang sama- menuju mimpimu, insyaAllah tapak berikutnya akan terasa jauh lebih mudah karena kamu sudah agak ‘mengenalinya”.

Intinya, jangan takut gagal, digagalkan, dihalangi, atau bahkan dijatuhkan, mimpi dan usahamu adalah kemerdekaan dirimu!

Kejar (kembali) mimpimu! 🙂

PS.

Bahkan tadi saya tidak menyadari, mengetik status panjang ini justru ‘menumpang’ di statusnya Desi Puspitasari, kala saya mengunjungi rumah FBnya 😉

Hihihi, ya, ide bisa menyambar di mana saja!
Dan kita kerap lupa, bahwa kita menulis di rumah yang salah, hehehe.

Saya langsung buru-buru ke depan PCnya neng Al-hamasah Fillah, membuka akun saya. Segera memosting tulisan saya di laman Desi, lalu segera meng-copy pastenya ke laman saya sendiri. Lalu kembali menghapus tulisan saya di laman Desi.

Duh, faktor U, benar-benar tidak bisa dipungkiri, hehehe ;D