NIAT BAIK BERTEMU PASSION

image

Masih ingat dengan tulisan saya di blog yang judulnya, PASSION?

Saat itu saya menulis mengalir saja.

Meluapkan isi hati sehabis menemukan fakta-fakta diri sendiri setelah puluhan tahun mengembara sejak usia orok.

Yup, usia 5 tahun saya mulai bepergian ‘serius’ dalam arti naik pesawat! Rute terbang pertama saya Mekkah ke Madinah, hihihi.

Kata Abah saya, saya bahkan ngompol saat penerbangan Jeddah menuju Jakarta! MasyaAllah, memalukan Indonesia saja, Ima!

Lalu saya mulai berkelana dengan kapal laut besar untuk pertama kalinya di usia 13 tahun. Meninggalkan Yogya dimana saya ‘mesantren’ menuju kampung halaman di Kalimantan Selatan sana.

Semenjak itu, mulailah saya berputar mengelilingi bumi sebagaimana bumi berputar mengitari orbitnya, sang matahari!

Perlahan tapi benderang, perjalanan menjadi matahari saya.

Saat susah saat gundah, berjalan menyamankan hati.

Saat senang saat suka, berjalan memperkaya rasa.

Perjalanan juga mengajarkan saya untuk bersikap berani.

Memulai belajar bisnis berdasarkan ‘passion’.

Meski bukan siapa-siapa dan tanpa modal, saya dan Aa terus tumbuh dan belajar di dunia bisnis traveling.

Tak usah mengejar untung besar, yang penting rutin dan berkah.

Definisi rutin kami pun ajaib. Minimal rutin membawa tamu setahun sekali. Hehe. Sungguh tak ambisius ya!

Dimulai 2013 ke Mesir. Membawa 18 tamu dengan budget 13.5 juta all in (termasuk tiket pesawat Jakarta Cairo PP) jelajah Mesir mulai Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel di perbatasan Sudan hingga mendaki Gunung Sinai.

Alhamdulillaah jadi milestone pertama kami dan belajar banyak dari trip perdana ke luar negeri tersebut.

Sepanjang 2012-2014 juga fokus jelajah Indonesia bersama Muslimah Backpacker.

2015 pertama kali kami membuka rute umrah. MasyaAllah ajaib rasanya bisa memberangkatkan Mama mertua sekaligus. Alhamdulillaah!

2016 ini InsyaAllah kami mulai panen kepercayaan para pembaca blog http://www.honeymoonbackpacker.com

Alhamdulilah Maroko Trip Super Promo di bulan November 2016 nanti sudah terisi 25 seat. Awalnya hanya menargetkan maksimal 15 orang saja. Ternyata jumlah tamu terus bertambah.
Kita lihat akan sampai angka berapa? πŸ™‚

Yang semula direncanakan akan kombinasi ‘ngeteng’ dan sewa bis, kemungkinan besar akan berubah menjadi full sewa bis! Karena sharing budget biaya sewa bisa dibagi banyak kepala. Kalau bisa lebih nyaman kenapa harus ngeteng mengejar-ngejar public transportation? πŸ™‚

Penginapan yang semula direncanakan non bintang semua, hem, we will see!

Intinya, kami makin excited dengan perkembangan jumlah peserta yang terus berdatangan dan langsung DP biaya paket trip.

Kami percaya, ini semua terjadi karena izin Allah semata.

Barangkali niat baik ingin menabungkan keuntungan Maroko Trip untuk membeli batu bata pesantren enterpreneurship kami diizinkanNya untuk mulai diwujudkan.

“Jangan boros Ima! Tetap sahaja dan fokus. Allah bersama orang-orang yang bersungguh-sungguh dan bekerja!”

Semoga kombinasi niat baik + passion kami dimudahkanNya.

image

Ps.

Yuk, masih ada beberapa seat tersisa untuk Maroko Trip Super Promo di bulan November 2016 nanti.

Detil silahkan sapa kami di whatsapp: +62819 5290 4075

Our Passion

image

Kelana Cahaya Tour di Sevilla, Spanyol

Dua tahun terakhir saya mengamati timeline seorang kakak yang menetap di jantung kota Paris bersama suami dan seorang anak.

Beliau bukan perempuan biasa di mata saya.

Beliau salah satu perempuan berkarakter kuat dan tahu apa yang dia inginkan dan tahu langkah apa saja yang harus beliau ambil untuk mewujudkan mimpi.

Sepanjang dua tahun terakhir saya membaca dan melihat foto-foto perjalanan beliau dalam memburu ‘passion‘ dan kecintaannya pada kuliner dan keindahan alam Indonesia.

Dari foto-foto yang dibagi dan diberikan sedikit pengantar, disusul komentar yang bertebaran di kolom reply, saya tahu persis beliau sabar dan kuat menjalani proses bata demi bata impian, yaitu membangun boutique hotel di ketinggian Lombok, tak jauh dari pantai Selong Belanak yang surgawi.

InsyaAllah Juni nanti boutique hotel beliau akan grand opening. Saya sungguh amat berbahagia untuk pencapaian dan kerja keras beliau.

MasyaAllah…
Dari timeline beliau yang kerap di-update tersebut saya merasa disemangati.

Bahwa memburu, bekerja melakukan sesuatu yang sangat kita sukai, membutuhkan proses panjang, diiringi kesabaran dan keuletan nyaris tanpa akhir!

Hingga berhasil!

APA SIH PASSION SAYA?

Butuh puluhan tahun bagi saya untuk menemukan ‘passion‘ (gairah terhadap sesuatu yang tiada putus) yang benar-benar saya gilai. Benar-benar saya sukai.

Tak ada nilai materi di sana pun tak mengapa. Tapi saya bahagia melakukannya.

Sejak usia remaja, berganti-ganti kesukaan saya. Mulai public speaking, lalu writing, kemudian organizing hingga cooking.

Tapi selalu ada rasa bosan dan jenuh di tengah atau ujung perjalanan.

Tahu-tahu saya mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Tentu saja setelah melamar ke banyak lembaga pemberi beasiswa. Saya mulai kuliah kembali di Inggris sana pada pertengahan 2004.

Setiap summer berlangsung, para mahasiswa menggendong ransel tinggi besar dalam gegas dan langkah-langkah panjang,

“Where are you going?”

“I’m going to Spain.”

“Wait, Spain is really far from here. How could? We’re students with limited scholarship!”

“I’m going there by backpacking.”

Yang bersangkutan berlalu dan saya gegas menuntun sepeda merah ke perpustakaan dan langsung googling.

image

Saat Aa menyandang backpack, menuju kapal cruise Silja Line yang akan berlayar ke Helsinki, Finlandia

Apa itu backpacking?

Gaya hidup atau apa?

Atau sejenis alat transportasi?

Apaan sih?

Bukannya backpack itu ransel yang selalu saya sandang di punggung saban berangkat kuliah dan mengayuh sepeda ke supermarket kala belanja kebutuhan sehari-hari?

Setahun kemudian, summer 2005 saya mulai backpacking pertama menjelajah Eropa daratan seorang diri saja!

Tiga minggu saya tak merasa lelah mendatangi delapan negara dan menyambangi puluhan kota menggunakan kereta api.

Saat itu usia saya menjelang 24 tahun. Karenanya berhak membeli tiket kereta terusan Eurorail dengan harga di bawah 200 €! Puas turun naik kereta api ke mana saja saya hendak menuju sampai bosan atau pingsan kelelahan! πŸ™‚

Sejak itu, tak terasa sudah 35 negara saya datangi dengan gaya backpacking murah meriah seru. Backpacking semacam anggur memabukkan bagi saya.

Mendatangi tempat asing sungguh memantik api jiwa.

Mengembara, terlebih bersama pasangan jiwa sungguh membuat saya kaya.

image

Keindahan pegunungan dan danau di Swiss

Sebelas tahun berlalu dan saya masih mencintai aktifitas backpacking hingga detik ini.

Belakangan, saya bahkan mendirikan komunitas ‘Muslimah Backpacker’.

Dengan niat mengajak lebih banyak anak muda belajar kehidupan melalui aktifitas yang menyehatkan fisik karena banyak berjalan dan menyehatkan jiwa karena membuka wawasan.

Tak pernah saya duga. Saya pun bertemu suami yang menyenangi aktifitas alam.

Basic Aa adalah kecintaan pada aktifitas sporty dan mendaki gunung.

Dari gunung turun ke lautan hati saya. Hihihi. Bisa ajah si Ima! πŸ™‚

Sebelas tahun berlalu dan kami sampai di titik ini.

http://www.honeymoonbackpacker.com yang bertumbuh kemudian melahirkan #kelanacahayatour dan rutin membuat aneka budget trip. Dalam dan luar negeri. Minimal setahun sekali.

Sepanjang 2013 terhitung 6 kali trip diselenggarakan.

Yang paling banyak mendapat sorotan media bahkan beberapa kali diliput media nasional adalah Jelajah 53 anggota Muslimah Backpacker ke Bromo, Malang dan Batu Jawa Timur.

Lalu disusul pengelanaan terjauh ala backpacker ke Mesir selama 11 hari.

Mendatangi Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria hingga mendaki puncak Gunung Sinai. Perjalanan bersama komunitas yang sangat membanggakan!

Setelahnya perlahan tapi pasti fokus kami beralih ke bisnis mengorganisasi perjalanan grup kecil-kecilan. Dimulai dengan modal nol sama sekali. Hanya bermodal kepercayaan klien saja.

Kata banyak pengusaha senior, bisnis yang tumbuh mengakar dan menghunjam kuat adalah bisnis sesuatu yang kamu cintai. Dan kini dengan lantang saya akui, saya mencintai dunia perjalanan sepenuh hati.

Tak terasa, sudah tiga tahun saya dan suami bahu-membahu menumbuhkan lini bisnis #kelanacahayatour di antara jadual kuliah Aa yang berkejaran.

Kami berbagi tugas. Saya melakukan kerja marketing, finance dan management.

Aa sepenuhnya menjadi guide atau tour leader yang bekerja sepenuh hati. Kalem, tulus dan sangat amanah menjaga para tamu sepanjang perjalanan. Memenangkan hati klien dan tamu kami. Alhamdulillaah.

Tiga tahun yang menguji kesabaran, keteguhan dan keikhlasan hati.
Jatuh bangun kami lalui.

Jangan tanya soal menghadapi keinginan klien yang beraneka ragam.
Apalagi yang sekadar tanya-tanya itinerary dan land arrangement, lalu setelah dapat itinerarysays good bye‘.

Sudah biasa. Namanya juga bisnis jasa.
Harus berhati seluas samudera.

Awal-awal memulai, kami bahkan tak untung sama sekali.

Sekarang kami belajar menghargai diri dan kerja keras berbulan-bulan menyiapkan sebuah trip, terutama trip ke luar Indonesia. Termasuk di dalamnya proses promosi yang menghabiskan pulsa internet, ratusan jam proses marketing, lalu closing klien hingga sabar mengingatkan tagihan cicilan biaya trip.

Ya, selain menyelenggarakan budget trip (trip dengan biaya ringan) kami juga mengizinkan klien kami menyicil biaya trip hingga jelang keberangkatan. Boleh dibilang nekad. Tapi inilah tantangannya.

Kenapa jalan susah yang kami ambil? Karena #kelanacahayatour adalah bayi di galaksi bisnis perjalanan tanah air.

Ya, dalam bisnis travel and tour ini, kami adalah ‘pemain liliput’ di antara pemilik modal raksasa dan korporasi gurita.

Tapi kami tak gentar. Karena kami mencintai proses ini. Dan kami berbisnis melibatkan hati. Mengutamakan empati.

Demi empati dan mengutamakan studi yang sedang ditempuh si Aa, kadang kala kami harus mati suri sejenak, seperti bunga liar yang hibernasi di musim dingin, kemudian mekar menyala secantik matahari di musim panas.

Ada keindahan dalam kesabaran.

Ada keyakinan dalam proses belajar.

Dan saya makin menyadari. Saya telah menemukan hasrat terdalam diri ini. Yaitu kecintaan pada aktifitas pengembaraan dan membagikan spirit ini melalui beragam paket perjalanan yang kami tawarkan bersama Kelana Cahaya Tour.

Sehingga kata bekerja menjadi lenyap. Berganti kata, cinta!

***

Ps.

Open Trip yang saat ini dibuka adalah Maroko Trip pada tanggal 3-11 November 2016.

Saat ini budget open trip ada di posisi 16 juta all in. (tergantung ketersediaan dan harga tiket pesawat)

Tertarik?

Please contact us here, +62 819 5290 4075.

Kelana Cahaya Tour, Bermula Dari Mimpi

Rasanya masih mimpi, bisa sampai di titik ini.

We’re totally living our dream!

Sejak berani berjualan kue-kue basah di pesantren saat usia saya menginjak 15 tahun (karena kekurangan dana untuk membayar SPP dan uang asrama), sejak itu saya bermimpi ingin memiliki bisnis sendiri. Suatu ketika, saya akan utuh berdiri di atas kaki sendiri.

Butuh 37 tahun jatuh bangun menjalani hidup dan hampir seperempat usia saya habiskan dengan berkelana seorang diri.

Alhamdulillaah sekarang tak sendiri. Ada Aa yang mendampingi. Mengembara bersama sepenuh hati.

Belajar Bisnis Travel and Tour: Kelana Cahaya Tour!

Secara alami, kami sekarang mengelola bisnis travel kecil-kecilan bersama suami tercinta yang sedang fokus menuntut ilmu.

Jika ada libur atau jadual kuliah sedang senggang, sesekali Aa ‘kabur sejenak’ dari tugas kuliah, menemani istri mengantar tamu kesana kemari jelajah Maroko dan Eropa.

Semua dimulai dari mimpi

2011 kami menikah. Modal harta nol. Hanya dimodali niat baik, ingin berjalan bersama, bergenggam tangan arungi bahtera kehidupan dalam suka dan duka.

Awal pernikahan kami mulai dengan berjualan brownies kukus, bolu mekar gula jawa dkknya.
Keuntungan harian sekitar 15 ribu perak. Sungguh kecil tapi bisa memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Tentu kebutuhan paling dasar, semacam beli tahu tempe, sedikit sayur dan beras. Jika diingat-ingat, dengan omzet harian semungil itu, Alhamdulilah kami bisa bertahan hidup dan tetap tertawa bahagia. Asal ada cinta tulus dari si dia. πŸ™‚

Aa juga fokus menerima orderan menerjemah. Satu kitab tebal diselesaikan dalam dua – tiga bulan.

“Pegal punggungku, Yang.”

Keluh Aa yang duduk berjam-jam di depan komputer. Lalu saya pijiti segenap sayang.

Jelang Ramadhan kami memberanikan diri mulai menerima order jualan pempek sehat ala Imazahra. Tetap dipasarkan secara online.

Pempek kami pempek istimewa. Diolah dengan hati dari dapur sendiri. Non MSG non kimiawi apapun.

Alhamdulillaah omzet meledak buat ukuran home industry pemula. Kalau tidak salah pendapatan sebulan kala itu sekitar 5 juta.

Mungkin kecil di matamu, Kawan, tapi sungguh besar bagi kami yang biasa jualan kue dengan omzet sebesar 40 ribu perak / hari.

2011 pertengahan Aa mulai mengajar di lembaga bahasa Arab Al Imarat Bandung. Otomatis menerima gaji bulanan. Tak besar tapi Alhamdulilah cukup dengan berhemat dan apik mengelola uang. Total gaji bulanan Aa saat itu tak lebih dari satu setengah juta rupiah.

Sumbangan Besar Muslimah Backpacker

2011 akhir saya membentuk komunitas Muslimah Backpacker. Langsung melejit dengan keinginan anggota untuk trip jelajah Indonesia.

2012 Muslimah Backpacker jelajah Garut Selatan, disusul jelajah Kalimantan Selatan, dilanjutkan jelajah Bromo dan Malang.

2013 pecah telur. Muslimah Backpacker memberanikan diri bawa rombongan 16 perempuan 2 laki-laki ke Mesir.

Jelajah Cairo, Luxor, Aswan, Abu Simbel, Alexandria hingga mendaki gunung Sinai.

image

MB dan Kelana Cahaya Tour Jelajah Mesir

Subhanallah, 11 hari yang menantang dan membuat kami belajar banyak tentang bisnis jasa ‘bersenang-senang sambil traveling’ ini.

Tanpa lahirnya komunitas Muslimah Backpacker, saya yakin seratus persen, saya tidak akan pernah punya keberanian untuk memulai bisnis bernama Kelana Cahaya Tour. Saya berhutang banyak pada Komunitas Muslimah Backpacker sebagai pendidik saya.

Belajar Fokus

Semenjak Mesir Trip, saya mulai berpikir tentang menumbuhkan bisnis baru ini dengan serius dan tentu saja fokus.

Pelan-pelan saja. Semampu saya dan Aa. Sebab jelas belum memungkinkan untuk buka kantor atau memiliki rumah dua tingkat dan kantor travel diletakkan di lantai dasar sepanjang kami masih berkelana seperti saat ini.

Satu buah rumah pun belum resmi kami miliki. Masih menyicil pada seorang sahabat. Alhamdulillaah tanpa bunga, tanpa riba.

Muslimah Backpacker dibiarkan tetap sebagai komunitas dan saya lebih tertantang belajar membangun bisnis travel.

Selangkah demi selangkah. Bata demi bata. Perlahan-lahan.

Dengan pikiran seperti ini, saya memutuskan memisahkan Komunitas Muslimah Backpacker dengan lini bisnis baru, yaitu melahirkan Kelana Cahaya Tour.

Kelana Cahaya Tour adalah saudara kandung Komunitas Muslimah Backpacker. Alhamdulillaah.

2014 awal Kelana Cahaya Tour nekad memberangkatkan 18 jamaah umrah bersama salah satu travel partner yang berkantor di Jakarta.

Partner saya dapat 10 jamaah, sedang kami memeroleh 8 jamaah.

Alhamdulillaah ada sedikit keuntungan.

Keuntungannya (plus ditambah uang pribadi sekian juta) Alhamdulilah bisa memberangkatkan Mama mertua. Guru ngaji bersahaja yang diliputi cahaya syukur karena diberangkatkan anaknya sendiri. Alhamdulillaah.

Saya tidak akan berhenti. Meski saat ini posisi kami sedang di Maroko, tidak ada halangan untuk terus melanjutkan proses belajar.

Tanggal 27 Maret hingga 4 April lalu kami baru saja mendampingi 39 tamu jelajah Eropa Timur yang cantik. Yaitu Innsbruck, Salzburg, Wina, Hallstatt, Bratislava, Budapest dan Praha. Bukan main menantang mengingat kami harus mengelola banyak kepala, keinginan personal dan rupa-rupa kejadian. Seru! πŸ™‚

image

Cantiknya Hallstatt dan tamu-tamu kami

image

Kelana Cahaya Tour jelajah Eropa Timur

image

Kegiatan tour leaders dan dua bus drivers, mengecek lokasi berikutnya

Bisnis travel dan tour leader adalah bisnis yang sangat luwes dan cair. Bisa dikerjakan di mana saja. Asal ada internet, peluang waktu, calon klien dan destinasi, InsyaAllah bisa dikerjakan.

Menurut hemat saya, bisnis travel khususnya tour leader adalah bisnis yang menuntut keseriusan tingkat tinggi saat kita sedang bersama klien. Meski tampak asik bisa jalan-jalan ‘gratis’ kesana kemari, tapi sungguh tidak mudah.

Kita dituntut terus-menerus berjalan bersama klien dalam kurun waktu yang telah disepakati bersama. Tidak boleh mengeluh meski berpeluh.

Profesionalitas kerja diukur dari tangan yang banyak bekerja dalam diam dan ketenangan sikap. Untuk ini saya masih harus belajar banyak pada Aa.

Ada komitmen moral untuk melakukan yang terbaik karena pada akhirnya bisnis travel and tour adalah bisnis jasa.

Kekuatan marketing bisnis jasa sesungguhnya terletak pada kepuasan klien. Kalau klien puas, siap siaplah pada efek ‘iklan dari mulut ke mulut’ yang aduhai dampak viralnya!

Ada bebatan emosi yang harus dijaga agar tidak pecah di tengah perjalanan. Butuh partner berjalan dengan hati seluas samudera. Dan Alhamdulilah partner terbaik saya adalah Aa. πŸ™‚

Selama Kelana Cahaya Tour dilahirkan, saya dan Aa sudah dipercaya lima klien untuk terbang ke luar Indonesia. Menjelajah dunia. Satu kali umrah. Tiga kali jelajah Maroko dan satu kali jelajah Eropa Timur.

Semoga kami berdua terus dipercaya. Karena kami butuh banyak jam terbang dan ruang untuk belajar.

Apalagi ada cita-cita besar yang ingin kami wujudkan dari bisnis ini, menjadi income generator bagi pesantren dhu’afa yang kelak ingin kami dirikan!

Ya, kami ingin membesarkan bisnis travel ini menjadi gerakan social entrepreneurship.

Keuntungan terbesar niatnya akan digunakan untuk membangun bata demi bata Rumah Kelana dan Pesantren Kelana.

Semoga Allah mampukan. InsyaAllah, janji Allah pasti untuk hamba yang mau bekerja keras!

Mohon support doanya ya, Kawan! πŸ™‚

***

Bagi teman-teman yang ingin merasakan jasa pengelolaan perjalanan, umrah berkualitas, atau pun tour leader penuh semangat mengawal klien travel anda, silahkan kontak kami di:

Email: imazahra@gmail.com
Whatsapp: +62819 5290 4075

Serba-Serbi Tukang Panci

Ingin tahu cara termudah mengenali karakter masyarakat lokal sebuah negara? Kunjungi saja pasar tradisional mereka. Di sana akan kita temukan seribu cerita ragam warna πŸ™‚

Sore itu kami berjalan kaki menuju pasar bernama ‘Madrasah’. Terletak di wilayah 10th District, Nasr City. Tujuan kami adalah membeli beberapa perlengkapan dapur.

Tukang Panci 1
“assalamu’alaikum, ‘indak shuhun? Ada piring?”

“wa’alaikum salam. Maugud, syuf guwwah. Ada, silahkan lihat di dalam.”

Sementara dia duduk asik memencet-mencet kalkulator, kami beringsut masuk ke dalam dan melihat-lihat. Cukup lama kami menyisir isi toko, rupanya barang yang kami cari tidak ada.

“musy ‘indak shuhun mi zugaag? Tidak punya piring kaca ya?”

La, enggak ada, semua dari plastik dan aluminium.”

Waduh. Kami masuk lagi ke dalam, mencari alat lain. Panci. Tapi yang kami inginkan tidak kunjung kami temukan. Kami menyerah.

Lau samahta, tahu toko yang jual piring dari kaca yang dekat sini gak?

Tak kami sangka, ia bangkit dan benar-benar menunjukkan tokonya dari jauh.

“Coba lihat di toko situ, di samping tukang ikan bakar.”

Subhanallah, terharu. Dia tak berat menunjukkan toko lain. Betapa lapang dan mulia hatinya membuka jalan rezeki orang. Saya jadi teringat ucapan Imam Hasan Al-Bashri, bahwa beliau tidak pernah merasa khawatir rezekinya disambar orang lain, karena rezeki masing-masing orang telah ditetapkan oleh Allah dan tidak akan pernah tertukar.

“Syukran. Terima kasih kami berpamitan.

Tukang Panci 2
Saat masuk ke tokonya, kami langsung melihat piring kaca. Warnanya coklat muda, ada strip coklat tua melingkari ujungnya.

“Kok mirip piring mamah di Banjar? Jangan-jangan made in Indonesia.” istriku menduga.

Kami mendekat dan membalikkan piring itu. Bener juga. Piring Indonesia bisa sampai sini juga ya.

“wahdah bi kam. Berapa satunya?”

“khamsa geneh. 5 le.”

Kemahalan.

“wahid bi itsnain wa nush mumkin? alasyan dah min baladina. Satu buah 2,5 le aja ya, kan ini produk negara kami.”

Dia mengambil kalkulator. Cukup lama menghitung, lalu dia menjawab,

“La. Khamsah geneh wahid.”

“Ma fisy khashm? Ga ada diskon?”

“ayiz kam wahid? Mau beli berapa buah?”

“ayiz asyrah. Kami mau ambil sepuluh.”

Dia kembali memainkan kalkulatornya. Setelah beberapa saat, dia berujar,

“masyi, arba’ah. Okelah, 4 le per buah.”

Wah, turunnya masih belum signifikan.

Asyrah bi tsalatsin, masyi? 30 Le aj ya, 10 buah.”

Dia berpikir. Lalu melihat kalkulator seperti menghitung-hitung. Entah Bagaimana cara dia menghitung, karena tiba-tiba dia bertanya,

“Hm, kalau 30 le, berarti satu buahnya berapa?”

Glek. Hi hi. Kami tertawa kecil sambil saling pandang. Ternyata dia memikirkan itu. Kami pikir dia bisa menghitung.

Sambil senyum aku paparkan, “30 aja dibagi sepuluh, jadi berapa?”

Wajahnya menyiratkan ekspresi kebingungan. Kami heran. Belum lancar berhitung tapi kok berani berdagang. Urusannya kan hitung-hitungan.

Saat tahu ditawar 3 le, dia menolak. Namun kami tetap bersikukuh pada harga tawaran dari kami. Karena 3 Le menurut kami adalah harga yang wajar. Dia pun bertahan di angka 4 le. Tak ada titik temu, kami pun perlahan beranjak meninggalkan toko sembari menawar. Kalau dia mau, pasti dia akan kembali memanggil kami.

Ta’al. Sini.”

Tuh ‘kan. Baru saja beberapa meter kami melangkah, siΒ  AmuΒ  sudah memanggil. Yes!

Kami kembali ke toko dan memilih-milih sepuluh piring terbaik, hahaha. πŸ™‚ Beres memilih, tak sengaja kami melihat panci besar yang kami inginkan.

Bi kam. Berapa harganya yang ini?”

“55 Le.”

Kami berdiskusi sejenak.

“60 Le aja dengan piring tadi ya?” Kami mulai menawar.

Disodori tawaran kami dia kembali bete dengan hitungan. Ha ha. Gegas mengambil kalkulator lagi dan seperti biasa, wajahnya mengekspresikan kebingungan. Setelah cukup lama menghitung, akhirnya dia menyodorkan hasil hitungannya di kalkulator. Tanpa kata-kata.

“Hah? semua 95 Le?” Kok jadi tambah mahal. Mana piring tadi jadi tak ada diskon sama sekali.

Melihat gelagatnya yang sudah ‘tidak bersahabat’ tidak sudi ditawar, kami sudahi saja transaksi kami dengan membeli piring tanpa panci. Beli pancinya nanti saja di toko lain.

Tukang Panci 3

Dia tidak memiliki toko. Panci yang dia tawarkan hanya diletakkan di emperan. Tapi modelnya bagus, seperti di toko panci sebelumnya, bahkan lebih besar ukurannya.

“Berapa harganya?”

“60 Le.”

“40 aja ya?”

“Gak bisa. Ini model baru.”

Kami menego harga. Hingga akhirnya mentok di 45 Le. Tidak apa-apa, kami pikir. Ukurannya lebih besar dibanding toko kedua tadi. Tapi di tengah transaksi, kami dikagetkan oleh tutup panci yang tidak berbaut. Dia mencarinya kesana kemari namun tetap tidak menemukannya.

“Kamu beli sendiri aja ya bautnya. Tuh di toko listrik sana. Dekat kok. Bilang aja baut untuk tutup panci ini.”

Lha, ini yang jual dia, kok kami yang disuruh beli baut sendiri.

“Kamu aja beli dulu, biar kami tunggu di sini.” Pinta kami.

“Gak bisa. Ini barang daganganku gimana?’

“Biar kami tunggu barangmu di sini, sampai kamu kembali.”

“Kamu saja yang beli. Dekat situ kok.”

Lha kalau dekat, kenapa tidak dia saja yang beli. Wah. Mulai nampak gelagat tidak beres. Siapa yang mau beli barang cacat. Kami juga tidak dapat memastikan apakah baut yang nanti kami beli itu cocok dengan lubang tutup panci ini atau tidak.

Cukup lama kami ‘berdebat’, akhirnya dia nyeletuk sambil meletakkan pancinya. Agak sewot.

“Kalian ini memang gak niat mau beli ya?”

“Lha, kami mau beli, makanya kami nawar.”

“Ya sudah, kamu ambil ini, nanti bautnya beli sendiri di toko.”

Agak kesal, kami bilang, “Kami mau beli panci ini, asal lengkap dengan bautnya. Kalau belum lengkap, kami gak mau beli.”

“khalash, ma’assalamah! Sudahlah kalau begitu, selamat tinggal Pungkas dia ketus.

Masya Allah! Aneh sekali penjual ini.

Istri ikutan kesal, “Amit-amit deh itu penjual. Enak aja beli panci ‘rusak’! Apa susahnya sih dia beli dan mencari baut yang pas!”

Kami menjauh sambil ikutan misuh-misuh, haha πŸ™‚

Tukang Panci 4

Sejumlah toko peralatan dapur sudah kami datangi. Namun panci belum juga kami temukan. Kami sempat berpikir, apa kami kembali saja ke tukang panci ke 2, walaupun harga pancinya agak mahal. Namun agaknya tidak mungkin kembali lagi, karena Kami sudah berjalan terlalu jauh.

Kami sempat putus asa dan memilih untuk pulang saja. Namun kami penasaran dengan lorong pasar sebelah timur. Kami susuri lorong tersebut hingga terhenti di satu toko peralatan dapur yang menarik.

Kami masuk dan melihat barang-barang yang cukup bagus. Petugasnya juga rapi, berjenggot tebal, berjubah, berkacamata, dan terlihat terpelajar. Sepertinya orang ini baik. Tutur katanya lembut dan menyapa kami dengan sopan. Bahasanya fusha. Seperti yang sering saya temui di halaqah majlis ilmu.

Ternyata dia orang asli Luxor, sudah lama membuka toko itu. Anaknya empat. Saat pertama kali diajak mengobrol, dia spontan bercerita soal teman-temannya yang orang Indonesia, Malaysia dan Thailand dan sering bertemu ngaji di mesjid Al-Fatah.

“Hum thayyibun. Mereka orang-orang baik.” Komentar dia soal teman-teman Melayunya.

Yang asik, dia benar-benar mengajak kami mengobrol dengan bahasa Arab fusha. Istriku pun senang, karena ikut memahami obrolan kami.

“Bikam hadza assikkin. Pisau ini berapa harganya?” Si istri mulai bertanya.

“Bi itsanain junaih wannishf. 2,5 le.”

Wah, murah. Made in Japan dan Stainless pula. Si istri langsung beli. Bukan hanya itu, kami membeli beberapa peralatan tambahan lain.

Hal ‘inddaka hallah. jual panci kah?” Kami menjelaskan bentuk dan jenis panci yang kami inginkan. Tapi jawabannya cukup mengecewakan.

“Kalau modelnya seperti itu, ada. Tapi baru datang hari Kamis.”

Wah, dua hari lagi. Hm. Kami berdiskusi dan memutuskan untuk kembali lagi dua hari kemudian.

Alhamdulillah. Kami pun berpamitan sembari mencatat memori tentang si tukang panci yang berhasil memikat konsumen dengan harga miring, kualitasΒ  bagus, dan pelayanan ramah. Akhirnya, di toko inilah pepatah “Pembeli adalah raja” kami rasakan πŸ™‚

Toko dan jenis barang yang dijajakan boleh sama, tapi keterampilan memikat pembeli dengan sikap dan keramahan penjual, tergantung pada tingkat pendidikan dan pergaulan di masyarakat.(!)

Kairo, senja April 2013