Leaving Eva’s House :)

image

Sunnatullah…,
Setiap perjumpaan melahirkan perpisahan…

Begitu pula perjumpaanku dengan Eva,
adik baru yang menerimaku dengan hati lapang di rumah mungilnya selama 1.5 bulan 🙂

Eva perempuan sholehah luar biasa.
Rendah hati, pandai mengelola saung, bersuara lembut pada suami dan anak-anaknya, juga sangat memuliakan tamunya dengan keramahan dan sedapnya olahan tangannya 🙂

Eva juga perempuan tangguh serba bisa,
ia pandai membantu Abang, mengepulkan dapur mereka dengan membuat abon sapi, es mambo, kerupuk kulit dan aneka jajanan lainnya.
Jujur aku selalu terpesona pada perempuan berjiwa enterpreneur!

Dear Eva,
Aku tahu, tentu tidak mudah hidup bersama selama 1.5 bulan itu, apalagi bersama aku yang cerewet dan senang membuat ‘keributan’ di dapur mungilmu, hehe 🙂

Hatimu seluas samudera!
Kamu tak sekalipun bermuka masam kepada kami, senyummu secerah matahari di negeri seribu menara ini 🙂

Dear Eva,
Terima kasih banyak untuk segalanya ya, Sayang.
Maafkan segala salah dan khilaf kami,
mudahan Allah selalu merahmati keluarga mungilmu, selalu.

Aku berdoa,
Allah wujudkan mimpi-mimpi terdalammu,
dengan caraNya yang paling rahasia,
InsyaAllah!

I love you, Dik 🙂
Mudahan Allah pertemukan kita kembali!

Ps.
Ah, aku menangis menuliskan ini, kala taksi melaju membelah Nasr City, meninggalkan senyummu yang cahaya dalam ruang benakku…

Mudahan Eva sehat-sehat dan bahagia selalu 🙂

*peluk sayang*

Advertisements

[PhotoBlog] Silaturahmi ke el-Buhuts

image

Kali ini mengaku salah, kami berangkat menuju ‘mogamma’ kesiangan, meski sudah terburu-buru mengejar waktu, tetap saja ditolak untuk memproses ‘taslim’ (bagian dari aplikasi perpanjangan visa Mesir kami).

Sudahlah, kembali lagi saja Sabtu esok lusa 🙂

Sekarang mari kunjungi teman lama kala aku di Inggris dahulu. Dia sekarang hidup berbahagia dengan suaminya yang sholeh di el Buhuts 🙂

Aku berpose di petunjuk stop-an metro; Anwar Sadat sta – Opera – Dokki – lalu sampai ke tujuan kami.

Satu perhentian lagi, yuuk 🙂

Serba-Serbi Tukang Panci

Ingin tahu cara termudah mengenali karakter masyarakat lokal sebuah negara? Kunjungi saja pasar tradisional mereka. Di sana akan kita temukan seribu cerita ragam warna 🙂

Sore itu kami berjalan kaki menuju pasar bernama ‘Madrasah’. Terletak di wilayah 10th District, Nasr City. Tujuan kami adalah membeli beberapa perlengkapan dapur.

Tukang Panci 1
“assalamu’alaikum, ‘indak shuhun? Ada piring?”

“wa’alaikum salam. Maugud, syuf guwwah. Ada, silahkan lihat di dalam.”

Sementara dia duduk asik memencet-mencet kalkulator, kami beringsut masuk ke dalam dan melihat-lihat. Cukup lama kami menyisir isi toko, rupanya barang yang kami cari tidak ada.

“musy ‘indak shuhun mi zugaag? Tidak punya piring kaca ya?”

La, enggak ada, semua dari plastik dan aluminium.”

Waduh. Kami masuk lagi ke dalam, mencari alat lain. Panci. Tapi yang kami inginkan tidak kunjung kami temukan. Kami menyerah.

Lau samahta, tahu toko yang jual piring dari kaca yang dekat sini gak?

Tak kami sangka, ia bangkit dan benar-benar menunjukkan tokonya dari jauh.

“Coba lihat di toko situ, di samping tukang ikan bakar.”

Subhanallah, terharu. Dia tak berat menunjukkan toko lain. Betapa lapang dan mulia hatinya membuka jalan rezeki orang. Saya jadi teringat ucapan Imam Hasan Al-Bashri, bahwa beliau tidak pernah merasa khawatir rezekinya disambar orang lain, karena rezeki masing-masing orang telah ditetapkan oleh Allah dan tidak akan pernah tertukar.

“Syukran. Terima kasih kami berpamitan.

Tukang Panci 2
Saat masuk ke tokonya, kami langsung melihat piring kaca. Warnanya coklat muda, ada strip coklat tua melingkari ujungnya.

“Kok mirip piring mamah di Banjar? Jangan-jangan made in Indonesia.” istriku menduga.

Kami mendekat dan membalikkan piring itu. Bener juga. Piring Indonesia bisa sampai sini juga ya.

“wahdah bi kam. Berapa satunya?”

“khamsa geneh. 5 le.”

Kemahalan.

“wahid bi itsnain wa nush mumkin? alasyan dah min baladina. Satu buah 2,5 le aja ya, kan ini produk negara kami.”

Dia mengambil kalkulator. Cukup lama menghitung, lalu dia menjawab,

“La. Khamsah geneh wahid.”

“Ma fisy khashm? Ga ada diskon?”

“ayiz kam wahid? Mau beli berapa buah?”

“ayiz asyrah. Kami mau ambil sepuluh.”

Dia kembali memainkan kalkulatornya. Setelah beberapa saat, dia berujar,

“masyi, arba’ah. Okelah, 4 le per buah.”

Wah, turunnya masih belum signifikan.

Asyrah bi tsalatsin, masyi? 30 Le aj ya, 10 buah.”

Dia berpikir. Lalu melihat kalkulator seperti menghitung-hitung. Entah Bagaimana cara dia menghitung, karena tiba-tiba dia bertanya,

“Hm, kalau 30 le, berarti satu buahnya berapa?”

Glek. Hi hi. Kami tertawa kecil sambil saling pandang. Ternyata dia memikirkan itu. Kami pikir dia bisa menghitung.

Sambil senyum aku paparkan, “30 aja dibagi sepuluh, jadi berapa?”

Wajahnya menyiratkan ekspresi kebingungan. Kami heran. Belum lancar berhitung tapi kok berani berdagang. Urusannya kan hitung-hitungan.

Saat tahu ditawar 3 le, dia menolak. Namun kami tetap bersikukuh pada harga tawaran dari kami. Karena 3 Le menurut kami adalah harga yang wajar. Dia pun bertahan di angka 4 le. Tak ada titik temu, kami pun perlahan beranjak meninggalkan toko sembari menawar. Kalau dia mau, pasti dia akan kembali memanggil kami.

Ta’al. Sini.”

Tuh ‘kan. Baru saja beberapa meter kami melangkah, si  Amu  sudah memanggil. Yes!

Kami kembali ke toko dan memilih-milih sepuluh piring terbaik, hahaha. 🙂 Beres memilih, tak sengaja kami melihat panci besar yang kami inginkan.

Bi kam. Berapa harganya yang ini?”

“55 Le.”

Kami berdiskusi sejenak.

“60 Le aja dengan piring tadi ya?” Kami mulai menawar.

Disodori tawaran kami dia kembali bete dengan hitungan. Ha ha. Gegas mengambil kalkulator lagi dan seperti biasa, wajahnya mengekspresikan kebingungan. Setelah cukup lama menghitung, akhirnya dia menyodorkan hasil hitungannya di kalkulator. Tanpa kata-kata.

“Hah? semua 95 Le?” Kok jadi tambah mahal. Mana piring tadi jadi tak ada diskon sama sekali.

Melihat gelagatnya yang sudah ‘tidak bersahabat’ tidak sudi ditawar, kami sudahi saja transaksi kami dengan membeli piring tanpa panci. Beli pancinya nanti saja di toko lain.

Tukang Panci 3

Dia tidak memiliki toko. Panci yang dia tawarkan hanya diletakkan di emperan. Tapi modelnya bagus, seperti di toko panci sebelumnya, bahkan lebih besar ukurannya.

“Berapa harganya?”

“60 Le.”

“40 aja ya?”

“Gak bisa. Ini model baru.”

Kami menego harga. Hingga akhirnya mentok di 45 Le. Tidak apa-apa, kami pikir. Ukurannya lebih besar dibanding toko kedua tadi. Tapi di tengah transaksi, kami dikagetkan oleh tutup panci yang tidak berbaut. Dia mencarinya kesana kemari namun tetap tidak menemukannya.

“Kamu beli sendiri aja ya bautnya. Tuh di toko listrik sana. Dekat kok. Bilang aja baut untuk tutup panci ini.”

Lha, ini yang jual dia, kok kami yang disuruh beli baut sendiri.

“Kamu aja beli dulu, biar kami tunggu di sini.” Pinta kami.

“Gak bisa. Ini barang daganganku gimana?’

“Biar kami tunggu barangmu di sini, sampai kamu kembali.”

“Kamu saja yang beli. Dekat situ kok.”

Lha kalau dekat, kenapa tidak dia saja yang beli. Wah. Mulai nampak gelagat tidak beres. Siapa yang mau beli barang cacat. Kami juga tidak dapat memastikan apakah baut yang nanti kami beli itu cocok dengan lubang tutup panci ini atau tidak.

Cukup lama kami ‘berdebat’, akhirnya dia nyeletuk sambil meletakkan pancinya. Agak sewot.

“Kalian ini memang gak niat mau beli ya?”

“Lha, kami mau beli, makanya kami nawar.”

“Ya sudah, kamu ambil ini, nanti bautnya beli sendiri di toko.”

Agak kesal, kami bilang, “Kami mau beli panci ini, asal lengkap dengan bautnya. Kalau belum lengkap, kami gak mau beli.”

“khalash, ma’assalamah! Sudahlah kalau begitu, selamat tinggal Pungkas dia ketus.

Masya Allah! Aneh sekali penjual ini.

Istri ikutan kesal, “Amit-amit deh itu penjual. Enak aja beli panci ‘rusak’! Apa susahnya sih dia beli dan mencari baut yang pas!”

Kami menjauh sambil ikutan misuh-misuh, haha 🙂

Tukang Panci 4

Sejumlah toko peralatan dapur sudah kami datangi. Namun panci belum juga kami temukan. Kami sempat berpikir, apa kami kembali saja ke tukang panci ke 2, walaupun harga pancinya agak mahal. Namun agaknya tidak mungkin kembali lagi, karena Kami sudah berjalan terlalu jauh.

Kami sempat putus asa dan memilih untuk pulang saja. Namun kami penasaran dengan lorong pasar sebelah timur. Kami susuri lorong tersebut hingga terhenti di satu toko peralatan dapur yang menarik.

Kami masuk dan melihat barang-barang yang cukup bagus. Petugasnya juga rapi, berjenggot tebal, berjubah, berkacamata, dan terlihat terpelajar. Sepertinya orang ini baik. Tutur katanya lembut dan menyapa kami dengan sopan. Bahasanya fusha. Seperti yang sering saya temui di halaqah majlis ilmu.

Ternyata dia orang asli Luxor, sudah lama membuka toko itu. Anaknya empat. Saat pertama kali diajak mengobrol, dia spontan bercerita soal teman-temannya yang orang Indonesia, Malaysia dan Thailand dan sering bertemu ngaji di mesjid Al-Fatah.

“Hum thayyibun. Mereka orang-orang baik.” Komentar dia soal teman-teman Melayunya.

Yang asik, dia benar-benar mengajak kami mengobrol dengan bahasa Arab fusha. Istriku pun senang, karena ikut memahami obrolan kami.

“Bikam hadza assikkin. Pisau ini berapa harganya?” Si istri mulai bertanya.

“Bi itsanain junaih wannishf. 2,5 le.”

Wah, murah. Made in Japan dan Stainless pula. Si istri langsung beli. Bukan hanya itu, kami membeli beberapa peralatan tambahan lain.

Hal ‘inddaka hallah. jual panci kah?” Kami menjelaskan bentuk dan jenis panci yang kami inginkan. Tapi jawabannya cukup mengecewakan.

“Kalau modelnya seperti itu, ada. Tapi baru datang hari Kamis.”

Wah, dua hari lagi. Hm. Kami berdiskusi dan memutuskan untuk kembali lagi dua hari kemudian.

Alhamdulillah. Kami pun berpamitan sembari mencatat memori tentang si tukang panci yang berhasil memikat konsumen dengan harga miring, kualitas  bagus, dan pelayanan ramah. Akhirnya, di toko inilah pepatah “Pembeli adalah raja” kami rasakan 🙂

Toko dan jenis barang yang dijajakan boleh sama, tapi keterampilan memikat pembeli dengan sikap dan keramahan penjual, tergantung pada tingkat pendidikan dan pergaulan di masyarakat.(!)

Kairo, senja April 2013

Naik Taksi di Mesir, Supir adalah Raja!

Naik Taksi di Mesir, Supir adalah Raja!

Ini cerita kecil tentang kemarin. Tepat sebelum saya dan Aa berangkat menuju masjid Hussein, meeting point yang kami sepakati untuk bertemu para peserta pelatihan ‘Tips and Tricks to be A Travel Writer’ sekaligus Bengkel Karya,  follow up kegiatan Gamajatim yang telah dilaksanakan dua hari sebelumnya dan mengundang saya sebagai pembicara, berbagi sedikit yang saya punya.

Sekitar pukul 9 pagi kami sudah keluar rumah. Gegas saya dan Aa menuruni tangga flat yang kami huni di daerah Saqr Quraisy.

“A, kita harus naik taksi nih, tidak enak dengan teman-teman peserta yang barangkali sudah sampai duluan di masjid Hussein sedang kita justru datang belakangan, padahal aku sudah menulis di status facebook-ku 2 hari lalu, don’t be late!”

“Ok, naik taksi saja supaya keburu, cari yang pakai argo.”

Aa mulai menyetop taksi, menjelaskan tujuan kami dan supir taksi berlalu meninggalkan kami 🙂

Aa kembali menyetop sebuah taksi, menjelaskan rute kembali dan supir taksi inipun melengos, kembali menjauh.

Supir taksi di Mesir ‘sombong-sombong’ ya. 😀

Oh iya, selama backpack (atau menetap di Mesir sekalipun) please jangan lupa rumus ‘hidup’ di Mesir (sekaligus anekdot Masisir -Masyarakat Indonesia di Mesir- yang ditujukan pada para pelaku bisnis di Mesir) supaya kita tidak sakit hati sepanjang hidup di sini, “Penjual adalah raja!”

Jangan mengingat pepatah tua kita, “Pembeli adalah raja”, karena kamu akan berkali-kali kecewa, hehehe.

Siapkan diri, jangan lupa anekdot,”Penjual adalah raja” jika kamu berniat backpack-an ke Mesir ya!  😀

Aa kembali menyetop taksi -jika yang ketiga ini menolak juga mengantarkan kami ke masjid Hussein, kami memutuskan naik el-trumco saja berkali-kali, supaya bisa menghemat waktu!- dan akhirnya yang ketiga ini berkenan mengantar kami ke mesjid Hussein!

PYUUUH! 😀

***
Taksi Di Mesir Ada ‘Rutenya’!

Unpredictable Egypt Things yang harus siap kamu hadapi adalah, taksi-taksi yang bersilewaran di daerah ‘Asyir hingga Sabi’ kerap enggan membawa penumpang jika tidak sejalur ‘rute’ mereka.

Heh?
Sejak kapan taksi pakai rute?

Ya sejak di Mesir sini 😀

Jadi jangan heran ya, ‘menemukan’ taksi yang satu arah dengan rute perjalanan kita juga bukan perkara mudah, hehehe 🙂

Sehari sebelumnya, pada tanggal 11 April pagi, kami juga sangat membutuhkan taksi secepatnya, supaya segera meluncur ke Kedutaan Tunisia di Zamalek sepagi mungkin, karena Kedutaan Tunis hanya menerima aplikasi visa sampai pukul 11 siang. Pada akhirnya, kami harus berkali-kali menyetop taksi, menjelaskan rute kami, ditolak supir taksi dengan alasan jauhnya Zamalek, rute tidak searah tujuan mereka -entah mau kemana- dan melakukan hal yang sama hingga taksi kesekian kali!

Di sisi lain, saya menyukai kejujuran para supir taksi di Mesir sini, tidak semua bermental ‘scammer‘!

Mereka jujur mengatakan, bahwa daerah Zamalek itu jauh dan mereka mengakui tidak tahu rute menuju ke sana. 🙂

Apa karena kami menggunakan bahasa Arab ‘Ammiyah (bahasa Arab dialek lokal), sehingga para supir itu yakin bahwa kami memang sudah lama tinggal di Cairo dan tidak mungkin ditipu?
Wallahu a’laam! 😀

Tentu anda bisa bayangkan, bagaimana jadinya jika backpack sendirian, tidak bisa bahasa Arab (dan sangaaat jarang supir taksi bisa bahasa Inggris -kecuali di daerah touristic area semacam Giza, Zamalek dan sekitarnya), saya jamin perjalanan backpack anda akan banyak terhambat (termasuk habis waktu untuk urusan beginian, dan ini diakui oleh Mas Ale -salah satu teman dekat saya yang pernah nekad backpack seorang diri, satu minggu di Mesir akhirnya hanya berhasil menjelajah Cairo dan Alexandria saja), makanya saya sangat tidak menyarankan para backpackers (apalagi perempuan) backpack ke Mesir seorang diri (tanpa didampingi salah satu guide / mahasiswa Al Azhar yang fasih berbahasa Arab ‘Ammiyah!).

Masalah taksi hanya satu ‘masalah kecil’, belum urusan lainnya (terkait scammer di berbagai obyek wisata, memesan hostel, sewa mobil, dstnya), apalagi jika masa backpack di Mesir sangat pendek (kurang dari sebulan) dan yang ingin dijelajahi sangat banyak, saya sangat menganjurkan anda untuk mengenal salah satu mahasiswa Al Azhar terlebih dahulu (dan memintanya menjadi guide anda -tentu harus dibayar ya!) sebelum anda menjejak kaki ke Mesir. 🙂

Selamat menjelajah Mesir (minimal) berdua dengan guide anda, jika anda belum bisa bahasa Arab (terutama ‘ammiyah)!

Atau, kalau anda perempuan, tidak mau direpotkan dengan urusan semacam yang saya ceritakan di atas, yuk ikut saja Muslimah Backpacker’s Egypt Trip tahun depan, insyaAllah akan diadakan kembali jika calon peserta terkumpul minimal 10 orang.

Welcome to unpredictable Egypt things, guys! 🙂

PS.
Photo salah satu supir taksi baik hati yang membawa kami meluncur ke Kedutaan Tunis menyusul ya 🙂

Egypt Trip by Muslimah Backpacker: Mission Possible!

Egypt Trip Muslimah Backpacker: Mission Possible? 

Mulanya, saya tertegun mengintip jadual perjalanan Egypt Trip ala Muslimah Backpacker yang dirancang istri saya beberapa bulan silam. Masya Allah. Rute perjalanannya sangat panjang. Bayangkan saja, Cairo-Luxor-Aswan-Abu Simbel-Aleksandria-Cairo-Sinai dan terakhir kembali ke Kairo direncanakan akan dijelajah hanya dalam 9 hari efektif!

Betapa tidak, jarak dari Kairo-Luxor saja sekitar 648 km (9 jam-an), lalu Luxor-Aswan kurang lebih 222 km (3 jam), dilanjutkan Aswan-Abu Simbel 289 km (5 jam-an), dan yang paling lama, Abu Simbel-Aleksandria 1.356 km (19 jam-an). Belum ditambah perjalanan Cairo-Sinai 441 km. Jika ditotal, kurang lebih 50 jam. Tak ayal, bak digerogoti angin sahara, usia perlahan berkurang di jalanan selama 2 hari 2 jam 16 menit.

Setelah menyimak sejumlah penjelasan dari sang istri, khususnya soal keterbatasan cuti dan hasrat anggota trip ingin menjelajah Mesir sebanyak-banyaknya,, saya memaklumi. Insya Allah bisa! Dengan catatan, persiapkan fisik dan mental (keyakinan) ditanam ke lubuk sanubari sejak dini. Karena perjalanan sejauh itu–dengan kondisi pergantian musim– tentu akan banyak menguras stamina, fikiran, emosi, dan sebagainya.

***

Mission Possible!

Akhirnya, setelah mendampingi istri mengawal MB Egypt Trip mulai 21-31 Maret lalu, saya menyimpulkan, rute panjang dengan waktu sangat singkat menyisakan pelajaran yang sangat berarti.

Betapa perjalanan sejauh apapun, akan terasa dekat. Selama apapun akan terasa singkat. Setinggi apapun, akan terasa rendah. Sedalam apapun, akan terasa dangkal. Sesulit apapun akan terasa mudah. Seberat apapun akan terasa ringan. Syaratnya sederhana (mudah diucap, berat dilakoni); tempuh perlahan, tekun, yakin, dan hadapi ragam kenyataan perjalanan dengan lapang dada. Laiknya kita menghabiskan kepingan jatah usia kita di dunia.

kereta dr luxor

Fa idza ‘azamta fa tawakkal ‘alallah. Jika sudah bertekad kuat (tempuhlah, lalu) pasrahkan segalanya kepada Allah. Insya Allah, tujuan itu akan tercapai jua akhirnya.

Wallahu A’lam bishshawab

Pengantin Kelana Berbagi

Tiga hari yang lalu kami diminta oleh Furqan, aktifis PII Cabang Kairo untuk mengisi acara mereka dengan tema pentingnya penguasaan bahasa asing.

Setelah berdiskusi dengan istri, kami sepakat memasukkan unsur penerjemahan buku (salah satu profesi saya) dan pentingnya bahasa Arab dan Inggris untuk mempermudah backpack keliling dunia (sesuai spirit honeymoon backpacker saat ini: sharing, contemplating, enriching people)

Kalau kamu ada di seputaran Kairo, see you at:

Vanue: Sekretariat PII Kairo, Gami Station.

Time: 14.00 CLT

Theme: Bahasamu, Kompas Duniamu.

Speaker: Risyan Nurhakim, Lc. dan Fatimah Chairi, M. Phil.

***

Curhat Asmara Si Mahmud

Curhat di Cafe Husein

Pagi itu adalah kali pertama aku duduk  dan minum syai bi ni’na’  bersama belahan jiwa di salah sebuah café. Persis di samping pelataran mesjid Husein, Darrasah. Sembari menunggu teman-teman Muslimah Backpacker yang asyik berbelanja di pasar Khan Khalili, kami berdua mau menyantap nasi uduk bekal sarapan kami yang tertunda.

Melihat sejumlah kursi yang masih kosong melompong, kami pun merapat ke kursi salah satu café dan memesan minuman hangat. Karena harga satu gelas teh menurut dompet backpacker seperti kami sangat tinggi, yaitu 15 Le., maka kami memutuskan memesan satu gelas saja untuk berdua. Tak apalah, sesekali. Itung-itung menyewa tempat dan membeli suasana.

‘Gembolan’ makanan segera kami buka dan tumpahkan ke atas meja. Hehehe. Dua kotak nasi uduk, sebotol air minum, dan sisa pizza el-rayek menu makan malam kemarin.

nenk cantik

Sang pramusaji mendekat.

“Welcome,” sapanya.

Segera kujawab dengan bahasa Arab, ‘Shabaahul ful, ya rayyis…, Izzayyak hadhratak?” Selamat pagi wahai tuan, apa kabarmu?

Dengan ekspresi wajah berubah ramah dia menjawab, “Shabaahan nuur, kuwaisy… Selamat pagi bercahaya, kabarku baik.”

Setelah kupesan segelas teh, dia mendekat dan duduk di kursi yang tak jauh dari meja kami. Ternyata teh yang kami terima bukan satu gelas. Tapi satu teko. Ukuran teko cukup untuk dua buah gelas besar. Pantas saja dihargai 15 Le. Sambil menyesap teh, kami mulai menyapa. Menanyakan nama dan asal daerahnya. Ternyata tidak jauh dari café, yaitu di Jamaliyyah. Setau saya, untuk menuju tempat tersebut dari terminal darrasah cuma satu kali naik angkot khas Mesir, el-trumco.

Kisah Asmara Mahmud

Agak sungkan dia menanyakan perempuan manis yang duduk bersamaku. Aku tersenyum dan menjelaskan statusnya. Ya, she’s my lovely wife dan sudah dua tahun aku menikahinya. Dia tersenyum. Namun setelah dia kutanya balik, raut wajahnya berubah. Dia sudah melamar calonnya, namun akhirnya gagal melanjutkan ke jenjang pernikahan, karena keluarganya yang tidak setuju. Salah satu alasannya adalah kondisi ekonomi dan status sosial dia. Dia bercerita bahwa mereka sudah sama-sama mencintai apa adanya.

Saat kami mau melanjutkan obrolan, pemilik café lewat dan terlihat tidak suka dengan keakraban kami. Kami faham. Dia segera kupersilahkan kembali bekerja melayani pembeli lainnya.

Setelah tugas dia tunaikan, dia kembali mendekat dan melanjutkan pertanyaan, “Kamu menikahi dia dengan mahar apa? Emas ya?”

“Ya. Sama saja dengan di sini.”

“Berapa modal mahar kamu?”

’Ya standar saja, 5 atau 10 gram emas juga sudah bisa akad kok. Dan akadnya akan sah jika sarat dan rukunnya lengkap.”

“Itulah masalah saya di sini. Biayanya besar sekali. Bukan calon saya yang matre, tapi desakan keluarganya. Minta emas sekian gram, rumah, alat-alat rumah tangga dan sebagainya. Akhirnya kami harus berpisah.”

‘Kenapa cinta harus dikorbankan hanya dengan hitungan emas yang tidak sesuai standar keluarga?

Pertama kali menikah, saya belum punya pekerjaan tetap, rumah masih ngontrak, kendaraan belum punya. Tapi kami yakin dengan langkah kami.

Kami datangi kedua orangtua dan meyakinkan mereka, bahwa tekad kami sudah bulat. Cukuplah restu dan doa keberkahan rumah tangga yang kami pinta dari mereka.

Layaknya hidup yang semestinya dijalani secara bertahap, rumah tangga pun demikian. Ikatannya akan menguat dan membesar bertahap. Al-‘Aisyu syai’an fa syai’an, syuwaiyah syuwaiyah.”

“Itu dia yang aku pengin dari keluarga calonku.’ Jawabnya. ‘Tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu.”

Ia pun menjauh untuk kembali menunaikan tugas. Menyapa pelanggan dan mempersilahkan mereka duduk di café bosnya.

Aku tak ingin melewatkan momen duduk minum teh di café ini. Kamera kukeluarkan dan kuambil gambar istriku yang tengah duduk di kursi ukir yang unik. Sesekali berpindah duduk dengan background lampu fanus khas Mesir yang bergelantungan dan jejeran alat hisap syisya.

curhat mahmud-cafe husein ima fanous

[foto1: Mahmud melirik-lirik kami. fato2: Ima di antara perabot khas Mesir]

Melihat kami sedang asik memotret, Mahmud mendekat dan menawarkan diri memotret kami berdua. Rupanya dia sudah terbiasa memotret para pelanggan yang ingin difoto di café tersebut.

jepretan ala mahmud

[foto, hasil foto Mahmud]

Hari kian menyala. Kami harus kembali mencari makan siang untuk 18 orang peserta Muslimah Backpacker’s Egypt Trip yang kami kelola.

Saat mau pamit, Mahmud bertanya, “sudah punya momongan belum?”

Kami tersenyum sembari menggelengkan kepala. “Allahu yarza’kum athfal. Semoga Allah segera memberi anugerah keturunan buat kalian.”

“Ingat ya, nanti anakmu dikasih nama yang bagus, namaku ini dikasih orangtua karena mereka bilang nama ini paling bagus. Mahmud, Ahmad, Muhammad, Hamdan, dan nama-nama bagus lain.”

He he, Mahmud Mahmud…, sudah berapa belas Mahmud yang aku ajak mengobrol selama sembilan hari ini, belum termasuk Mahmud yang ini.

Kami beranjak dari café. Mesjid Husein menjadi saksi percakapan kami, doa, dan curhat asmara Mahmud.

Allahumma istajib du’ana wa da’watal muslimin jami’an…amin.

Semoga dengan banyak mendoakan dan didoakan banyak orang, kami benar-benar segera diberikan momongan. Sebab kita tidak pernah tahu, dari mulut mana doa orang-orang yang akan Allah kabulkan!

Saqr Quraisy, 03 April 2013